• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kondisi Lingkungan terhadap Peri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Profil Kondisi Lingkungan terhadap Peri"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 1

“Profil

Kondisi Lingkungan terhadap Perilaku Penghuni

Menurut Teori Ekologi

(Studi Kasus di Pemukiman Kumuh Daerah Pacar Keling,

Surabaya)

Oleh:

Chusnul Khotimah, Trias Novita Ellsadayna Universitas Trunojoyo Madura

Abstrak

Tuntutan hidup yang semakin tinggi di kota Surabaya membuat sejumlah masyarakat memilih untuk tetap tinggal di pinggiran kota metropolitan tersebut. Kepadatan dan kesesakan akibat banyaknya penduduk di kota Surabaya akhirnya memunculkan hunian-hunian liar di sepanjang bantaran sungai di kota Surabaya. Banyaknya hunian tersebut memunculkan pemukiman yang kumuh dan tidak terawat. Menariknya, dalam kondisi tersebut banyak perilaku penghuni yang dapat dikaji menurut teori ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kondisi lingkungan terhadap perilaku penghuni menurut teori ekologi. Menggunakan pendekatan kualitatif yaitu mewawancarai secara mendalam pengalaman 3 orang subjek. Ketiga partisipan terpilih secara random yaitu bersedia menjadi responden, kategori usia dewasa berjenjang yaitu awal, madya dan akhir, dan bertempat tinggal di pemukiman kumuh. Hasil penelitian dari ketiga aspek yang diangkat yakni perilaku terhadap lingkungan fisik, hubungan sosial dan stress lingkungan menunjukkan bahwa dari ketiga subyek yang telah diwawancarai menyatakan pernyataan yang hampir sama. Mereka menerima dengan legowo kondisi fisik lingkungannya, hubungan sosial tergolong rendah karena muncul perilaku ingin lebih tinggi daripada yang lain dan tidak mengalami stress lingkungan yang berarti bagi kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu hal menarik ini perlu dikaji lebih lanjut mengenai perilaku apa saja yang muncul jika ditinjau dari teori ekologi pada masyarakat yang berekonomi rendah tersebut.

Kata Kunci: Lingkungan kumuh, perilaku, teori ekologi

Abstact

(2)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 2 aims to determine the profile of environmental conditions on the behavior of occupants in ecological theory. Using a qualitative approach is interviewed in depth experience of 3 subjects. These three randomly selected participants are willing to become respondents, tiered adult age categories, namely early, middle and end, and reside in slums. The results of the three aspect raised the behavior of the physical environment, social relations and environmental stress showed that of the three subjects who were interviewed expressed a similar statement. They accept the physical condition environment, social relations are low because it appears the behavior you want higher than the others and did not experience significant stress environment for daily life. Therefore it is necessary to study more interesting about any behavior that appears if the terms of ecological theory in the low berekonomi community.

Keyword: Seedy neighborhood, behavioral, ecological theory

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Persoalan permukiman merupakan masalah yang serius karena

dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya kantong-kantong kemiskinan

yang fatal dan kemudian menyebabkan lahirnya berbagai persoalan sosial

di luar kontrol atau kemampuan pemerintah kota untuk menangani dan

mengawasinya. Permukiman kumuh merupakan salah satu masalah sosial

di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Kota yang mempunyai

hampir semua fasilitas untuk meningkat taraf dan kualitas hidup

penghuninya, namun masih saja terdapat kelompok masyarakat yang

hidup dalam keadaan menyedihkan atau tidak sesuai dengan standar hidup

yang layak.

Sunartiningsih, (Orientasi Nilai Budaya Penghuni Pemukiman

Kumuh : 2000) mengatakan bahwa kota sendiri belum mampu untuk

memberikan lapangan kerja kepada pendatang-pendatang baru tersebut,

yang biasanya terdiri dari orang-orang yang rendah pendidikannya, kurang

mempunyai keterampilan dan kurang modal. Dengan demikian mereka

sulit untuk mendapatkan pekerjaan memadai di kota. Pada akhirnya

mereka mengerjakan pekerjaan apa saja asal dapat mempertahankan

kelangsungan hidup mereka. Penghasilan mereka rendah dan penuh

(3)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 3 Pemukiman kumuh identik dengan kemiskinan. Karakteristik dan

kriteria yang digunakan untuk mengenali penduduk miskin bervariasi,

tetapi umumnya yang dijadikan acuan adalah penguasaan tanah, jenis

pekerjaan atau tingkat pendapatan, kondisi kehidupan sehari-hari, dan

hubungan dengan anggota masyarakat lainnya. Hasil studi konsolidasi

memperlihatkan bahwa karakteristik penduduk miskin yang paling banyak

dijadikan acuan adalah kondisi fisik rumah, pendidikan anak, jenis

pekerjaan atau upah, dan pemenuhan kebutuhan pangan.

Manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka mulai

dari sandang, pangan dan tempat tinggal yang layak, untuk mendapatkan

itu semua harus dilakukan usaha yang ekstra. Mendapatkan kehidupan

yang lebih baik adalah hak asasi setiap manusia, oleh karena itu usaha atau

kegiatan manusia mencari kehidupan yang lebih baik tidak dapat

dipisahkan dari sekitar kita. Maka muncul keinginan warga desa untuk

melakukan migrasi ke kota yang dibarengi pola pikir bahwa kota

merupakan tempat untuk mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Namun tidak sedikit warga desa yang tersingkir akibat kurang

mampunya melakukan persaingan di kota demi meningkatkan taraf

kehidupan. Karena tersingkirnya persaingan kehidupan kota maka

segelintir kaum yang bersaing memilih alternatif yang salah, akibat

kurangnya pengertian akan hidup yang layak dan kurannya modal yang

cukup yaitu pekerjaan yang tetap sebagai pegangan untuk dapat bertahan

hidup di tengah-tengah kehidupan kota. Sementara kota sendiri tidak dapat

memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka pendatang baru yang dimana

kurang memiliki keterampilan dan rendah pendidikan.

Maka penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi apa saja

yang menjadi motif bagi penghuni pemukiman kumuh bertahan dalam

kondisi kumuh demi mempertahankan kelangsungan hidupnya. Fenomena

pemukiman kumuh yang ada di sepanjang bantaran sungai di Pacar

Keling, Surabaya merupakan salah satu fenomena kemiskinan yang perlu

(4)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 4 kebudayaan kemiskinan, struktur sosial atau kemiskinan yang bersifat

kondisional. Kemiskinan memiliki pemaknaan yang berbeda-beda pada

setiap individu. Untuk itu perlu diketahui sifat dari kemiskinan yang ada di

kawasan bantaran sungai di Pacar Keling tersebut. Setelah mengetahui

sifat kemiskinan yang ada di kawasan kumuh sepanjang bantaran sungai

tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui apa saja

perilaku-perilaku yang ditimbulkan pada penghuni kumuh terhadap lingkungan

fisik, terhadap hubungan sosial dan apabila mengalami stress lingkungan.

Maka dari itu kami mengangkat fenomena tersebut untuk dikaji dengan

judul Profil Lingkungan Kumuh terhadap Perilaku Penghuni Menurut

Teori Ekologi, Studi Kasus di Daerah Pacar Keling, Surabaya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perilaku yang muncul pada penghuni pemukiman kumuh

terhadap lingkungan fisik?

2. Bagaimana perilaku yang muncul pada penghuni pemukiman kumuh

terhadap hubungan sosial?

3. Bagaimana perilaku yang muncul pada penghuni pemukiman kumuh

saat mengalami stress lingkungan?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui perilaku yang muncul pada penghuni pemukiman

kumuh terhadap lingkungan fisik

2. Untuk mengetahui perilaku yang muncul pada penghuni pemukiman

kumuh terhadap hubungan sosial

3. Untuk mengetahui perilaku yang muncul pada penghuni pemukiman

kumuh saat mengalami stress lingkungan

D. Manfaat

Adapun manfaat dari penelitian yang kami lakukan yaitu:

(5)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 5 Adapun manfaat teoritis yang ingin dicapai adalah dapat

memberikan wawasan sekaligus gambaran mengenai profil lingkungan

kumuh dan perilaku yang muncul pada penghuni pemukuman kumuh di

daerah Pacar Keling Surabaya serta memperkaya ranah pengetahuan

dibidang psikologi lingkungan.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk Masyarakat

Agar masyarakat mengerti dan memahami profil lingkungan

kumuh yang mereka huni dan mengetahui bagaimana perilaku yang

muncul pada kehidupan sehari-hari merekaserta bisa menjaga kebersihan

rumah dan lingkungan disekitar mereka.

b. Untuk Pemerintah

Agar pemerintah lebih peka lagi bahwa masih banyak permukiman

yang tidak layak huni yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dan

segera memberikan tindak lanjut berupa pembangunan pemukiman yang

layak bagi masyarakat.

c. Untuk Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dari hasil penelitian ini, bermanfaat bagi semua

pembaca dan juga bermanfaat bagi peneliti untuk menjadi sumber

informasi berikutnyaserta peneliti selanjutnya agar lebih menggali aspek

lain yang berpengaruh pada kesejahteraan dan kesehatan masyarakat di

pemukiman kumuh.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemukiman Kumuh

2.1.1 Pengertian

Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya

pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang

artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya

(6)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 6 ataukumpulan rumah beserta prasarana dan sarana lingkungan.

Perumahan menitikberatkan pada fisikatau benda mati, yaitu houses dan

land settlement.

Pemukiman memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan

pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan,

sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan

bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian

perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat

dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakikatnya saling

melengkapi (Kurniasih, 2007). Kumuh adalah kesan atau gambaran

secara umum tentang sikap dan tingkah laku yang rendah dilihat dari

standar hidup dan penghasilan kelas menengah. Dengan kata lain, kumuh

dapat diartikan sebagai tanda atau cap yang diberikan golongan atas yang

sudah mapan kepada golongan bawah yang belum mapan. Kumuh dapat

ditempatkan sebagai sebab dan dapat pula ditempatkan sebagai akibat.

Ditempatkan di manapun juga, kata kumuh tetap menjurus pada

sesuatu hal yang bersifat negatif.

Permukiman kumuh dipilah atas tiga macam berdasarkan asal atau

proses terjadinya, yaitu (Sutanto, 1995):

a. Kumuh bangunan (created), daerah hunian masyarakat ekonomi

lemah dengan ciri fisik :

1. Bangunan mudah dipindah,

2. Dibangun dengan bahan seadanya,

3. Sebagian besar dibangun sendiri oleh penghuni (kumuh sejak

awal).

b. Kumuh turunan (generated);

1. Rumah-rumah yang semula dibanguan dengan ijin, pada bagian

kota yang lama, kondisinya semakin memburuk sehingga

menjadi rumah kumuh,

2. Desa lama yang terkepung oleh pemekaran kota yang cepat,

(7)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 7 c. Kumuh dalam proyek perumahan (in project housing);

1. Kelompok proyek perumahan yang disediakan oleh badan

pemerintah bagi masyarakat ekonomi lemah,

2. Rumah-rumah diperluas sendiri oleh penghuni dengan

pemeliharaan sangat jelek yang mengakibatkan

kemerosotanjasa prasarana.

2.1.2 Ciri – Ciri Pemukiman Kumuh

Ciri-ciri pemukiman kumuh, seperti yang diungkapkan oleh

Suparlan (1984) adalah:

1. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai.

2. Kondisi hunian rumah dan pemukiman serta penggunaan

ruangannya

mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin.

3. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi

dalam penggunaan ruang-ruang yang ada di pemukiman

kumuh sehingga mencerminkan adanya

kesemrawutan tata ruang dan ketidakberdayaan ekonomi

penghuninya.

4. Pemukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti

yang hidup secara tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan

sosial yang jelas, yaitu terwujud sebagai:

a. Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara,

dan karena itu dapat digolongkan sebagai hunian liar.

b. Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari

sebuah Rukun Tetangga, atau sebuah Rukun warga.

c. Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai

sebuah Rukun Tetangga atau Rukun warga atau bahkan

terwujud sebagai sebuah Kelurahandan bukan hunian liar.

5. Penghuni pemukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak

(8)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 8 kepadatan yang beranekaragam, begitu juga asal muasalnya.

Dalam masyarakat pemukimankumuh juga dikenal adanya

pelapisan sosial berdasarkan atas kemampuan ekonomi mereka

yang berbeda-beda tersebut.

Jadi pemukiman kumuh adalah lingkungan hunian atau tempat

tinggal/rumah beserta lingkungannya, yang berfungsi sebagai rumah

tinggal dan sebagai sarana pembinaan keluarga, tetapi tidak layak huni

ditinjau dari tingkat kepadatan penduduk, sarana dan prasarananya,

fasilitas pendidikan, kesehatan serta sarana dan prasarana sosial

budaya masyarakat.

2.1.3 Faktor Penyebab Pertumbuhan Pemukiman Kumuh

Dalam perkembangannya pertumbuhan permukiman kumuh ini

dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Constantinos A.Doxiadis

(1968), disebutkan bahwa pertumbuhan permukiman kumuh dipengaruhi

oleh beberapa faktor yaitu :

a. Growth of density (pertambahan penduduk)

Dengan adanya pertambahan jumlah penduduk yaitu dari kelahiran

dan adanya pertambahan jumlah keluarga, maka akan membawa

masalah baru. Secara manusiawi mereka ingin menempati rumah

milik mereka sendiri. Dengan demikian semakin bertambahlah

jumlah hunian yang ada di kawasan permukiman tersebut yang

menyebabkan pertumbuhan perumahan permukiman.

b. Urbanization (Urbanisasi)

Dengan adanya daya tarik pusat kota maka akan menyebabkan arus

migrasi desa ke kota maupun dari luar kota ke pusat kota. Kaum

urbanisasi yang bekerja di pusat kota ataupun masyarakat yang

membuka usaha di pusat kota, tentu saja memiliki untuk tinggal di

permukiman di sekitar pusat kota. Hal ini juga akan menyebabkan

(9)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 9 Menurut Khomarudin, 1997 penyebab utama tumbuhnya

permukiman kumuh adalah sebagai berikut :

1. Urbanisasi dan migrasi yang tinggi terutama bagi kelompok

masyarakat berpenghasilan rendah,

2. Sulit mencari pekerjaan,

3. Sulitnya mencicil atau menyewa rumah,

4. Kurang tegasnya pelaksanaan perundang-undangan,

5. Perbaikan lingkungan yang hanya dinikmati oleh para pemilik

rumah serta disiplin warga yang rendah,

6. Semakin sempitnya lahan permukiman dan tingginya harga tanah.

2.2 Perilaku

2.2.1 Pengertian

Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam

pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud

dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku

merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal

dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa

tindakan:berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan

tindakan). Manusia berperilaku atau beraktifitas karena adanya kebutuhan

untuk mencapai suatu tujuan/goal. Dengan adanya kebutuhan akan muncul

motivasi atau penggerak. Sehingga individu itu akan beraktifitas untuk

mencapai tujuan & mengalami kepuasan. Pada umumnya, perilaku dapat

ditinjau secara sosial yaitu :pengaruh hubungan antara organisasi dengan

lingkungannya.

2.2.2 Proses Pembentukan Perilaku Menurut Para Ahli

a. Skinner (1983)

Menurut Skinner, perilaku adalah respons atau reaksi seseorang

terhadap stimulus. Teori Skinner disebut teori S-O-R

(10)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 10 1. Respondent respon : respon yang ditimbulkan oleh stimulus

tertentu & menimbulkan respons yang relatif tetap.

2. Operant respon : respons yang timbul & berkembang

kemudian diikuti oleh stimuli yang lain.

Berdasarkan teori S-O-R, perilaku manusia dibagi 2 kelompok:

1. Perilaku tertutup, yaitu perilaku yang tidak dapat diamati

oleh orang lain. Contoh : perasaan, persepsi, perhatian.

2. Perilaku terbuka, yaitu perilaku yang dapat diamati oleh

orang lain berupa tindakanatau praktek.

b. Benyamin Bloom (1908)

Menurutnya ada 3 tingkat ranah perilaku :

1. Pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah hasil

penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap

objek melalui indera yang dimiliki.

2. Sikap (attitude). Sikap adalah respons tertutup seseorang

terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah

melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.

3. Tindakan atau praktek. Praktek terpimpin adalah

melakukan sesuatu tetapi masih menggunakan panduan.

Sedangkan praktek secara mekanisme adalah melakukan

sesuatu hal secara otomatis.

4. Adapapun adopsi adalah tindakan tidak hanya rutinitas

tetapi sudah dilakukan modifikasi perilaku yang

berkualitas.

c. Rogers (1974)

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum

orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri

orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari

dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu

(11)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 11 3. Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya

stimulus bagi dirinya).Hal ini brarti sikap responden sudah

lebih baik lagi

4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru

5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

1. Faktor Biologis

Yaitu adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia

dan bukan pengaruh lingkungan atau sitausi. Misalnya bercumbu,

memberi makan, merawat anak danperilaku agresif. Selain itu, adanya

motif biologis yang mendorong perilaku manusia juga menjadi faktor

biologis yang mempengaruhi prilaku manusia.

2. Faktor Sosiopsikologis

Komponen afektif yaitu aspek emosional dari faktor

sosiopikologis. Komponen kognitif yaitu aspek intelektual yang berkaitan

dengan apa yang diketahuimanusia. Komponen konatif yaitu aspek

visional yang berhubungan dengan kebiasaan kemauan bertindak.

Komponen afektif terdiri dari sosiogenis, sikap dan emosi. Motif

sosiogenis (motif sekunder). Menurut David Mc Clelland motif sosiogenis

terdiri dari kebutuhan berprestasi, kebutuhan akan kasih sayang dan

kebutuhan berkuasa.

3. Sikap

Sikap adalah Kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan

merasa dalam menghadapi ide, objek, situasi atau nilai. Sikap mempunyai

daya pendorong ataumotivasi. Sikap relatif lebih menetap. Sikap

mengandung aspek evaluatif dan Sikap timbul dari pengalaman.

4. Emosi

Menunjukkan kegoncangan organisme disertai gejala

(12)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 12 pembangkit energi, pembawa informasiintrapersonal, pembawa pesan

dalam komunikasi interpersonal dan sumber informasi tentang

keberhasilan kita.

5. Lamanya Emosi

Lamanya emosi bisa berlangsung singkat dan bisa berlangsung

lama. Mood lah yang mempengaruhi persepsi pada stimuli yang

merangsang alat indera.

6. Intensitas Emosi

Intensitas emosi meliputi emosi ringan dan kuat. Emosi ringan

adalah meningkatkan perhatian pada situasi yang dihadapi dan disertai

perasaan tegang sedikit.Emosi kuat adalah disertai rangsangan fisiologis

yg kuat, detak jantung, tekanan darah, pernafasan dan ardenalin. Semua itu

terjadi peningkatan.

2.2.4 Perilaku yang Muncul pada Penghuni Pemukiman Kumuh

a.) Perilaku terhadap Lingkungan Fisik

Perilaku ini adalah respons individu terhadap lingkungan fisik.

Lingkup perilaku ini sesuai dengan lingkungan atau tempat yang sering

mereka gunakan, yaitu:

 Perilaku terhadap air bersih, meliputi manfaat dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan.

 Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor atau kotoran.

Disini menyangkut pula hygiene, pemeliharaan, teknik dan

penggunaannya.

 Perilaku sehubungan dengan pembuangan limbah, baik limbah cair

maupun padat. Dalam hal ini termasuk sistem pembuangan sampah

dan air limbah yang sehat dan dampak pembuangan limbah yang

tidak baik.

 Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat. Rumah sehat

(13)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 13

b.) Perilaku terhadap Hubungan Sosial

Perilaku ini adalah respons individu terhadap hubungan sosial:

 Dapat diterima atau ditolak oleh orang lain

Orang yang memiliki sifat dapat diterima oleh orang lain biasanya

tidak berprasangka buruk terhadap orang lain, loyal, dipercaya, pemaaf

dan tulus menghargai kelebihan orang lain. Sementara sifat orang yang

ditolak biasanya suak mencari kesalahan dan tidak mengakui kelebihan

orang lain.

 Suka bergaul dan tidak suka bergaul

Orang yang suka bergaul biasanya memiliki hubungan sosial

yang baik, senang bersama dengan yang lain dan senang bepergian.

Sedangkan orang yang tidak suak bergaul menunjukkan sifat dan

perilaku yang sebaliknya.

 Sifat ramah dan tidak ramah

Orang yang ramah biasanya periang, hangat, terbuka, mudah

didekati orang, dan suka bersosialisasi. Sedang orang yang tidak ramah

cenderung bersifat sebaliknya.  Simpatik atau tidak simpatik

Orang yang memiliki sifat simpatik biasanya peduli terhadap

perasaan dan keinginan orang lain, murah hati dan suka membela orang

tertindas. Sedangkan orang yang tidak simpatik menunjukkna sifat-sifat

yang sebaliknya.

c.) Perilaku terhadap Psikologis (Stress Lingkungan)

Reaksi psikologis terhadap stress dapat meliputi :

a. Kognisi

Stress dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas

kognitif. Stressor berupa kebisingan dapat menyebabkan defisit kognitif

pada anak-anak. Kognisi dapat juga berpengaruh dalam stress (Cohen dkk

dalam sarafini, 1994). Baum (dalam sarafini, 1994) mengatakan bahwa

individu yang terus menerus memikirkan stressor dapat menimbulkan

(14)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 14

b. Emosi

Emosi cenderung terkait dalam stress individu seiring

menggunakan keadaan emosionalnya untuk mengevaluasi stress. Proses

penilaian kognitif dapat mempengaruhi stress dan pengalaman emosional.

Reaksi emosional terhadap stress yaitu rasa takut, phobia, kecemasan,

depresi dan rasa amarah (Sarafino, 1994).

2.3 Teori Ekologi

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik

organisme dengan alam sekitarnya. Istilah ekologi mula-mula dipakai

oleh sarjana Jerman, Ernest Haecel (1869)Ekologi berasal dari kata

Yunani oikos, yangberarti rumah & logos yang berarti ilmu/pengetahuan.

Jadi ekologi mengkaji hubungan timbal-balik organisme dengan

lingkungannya.

Teori ekologi dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917)

yang fokus utamanya adalah pada konteks sosial di mana anak tinggal dan

orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak.Lima sistem

lingkungan teori ekologi Bronfenbrenner terdiri dari lima sistem

lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke

pengaruh kultur yang lebih luas. Bronferbrenner (1995, 2000);

Bronfenbrenner & Morris, makrosistem, dan kronosistem.

Mikrosistem adalah setting dimana individu menghabiskan banyak

waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga,

teman sebaya, sekolah, dan tetangga. Dalam mikrosistem ini, individu

berinteraksi langsung dengan orang tua, guru, teman seusia, dan orang

lain.

Mesosistem adalah kaitan antar-mikrosistem. Contoh adalah hubungan

antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah,

dan antara keluarga dan teman sebaya. Misalnya, salah satu

(15)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 15  Eksosistem terjadi ketika pengalaman di setting lain (dimana murid

tidak berperan aktif) memengaruhi pengalaman murid dan guru dalam

konteks mereka sendiri. Misalnya, ambil contoh dewan sekolah dan

dewan pengawas taman di dalam suatu komunitas.

Makrosistem adalah kultur yang lebih luas. Kultur adalah istilah luas

yang mencakup peran etnis dan faktor sosioekonomi dalam

perkembangan anak.

Kronosistem adalah kondisi sosiihistoris dari perkembangan anak. Misalnya, murid-murid sekarang ini tumbuh sebagai generasi yang

tergolong pertama (Louv, 1990).

Bronferbrenner makin banyak memberi perhatian kepada

kronosistem sebagai sistem lingkungan yang penting. Dia memerhatikan

dua problem penting: (1) banyaknya anak di Amerika yang hidup dalam

kemiskinan, terutama dalam keluarga single-parent; dan (2) penurunan

nilai-nilai (Bronferbrenner dkk., 1996).

Perilaku manusia merupakan bagian dari komplektisitas ekosistem

(Hawley dalam Avin dikutip dari Himman dan Faturochman, 1994), yang

mempunyai beberapa asumsi dasar sebagaai berikut:  Perilaku manusia terkait dengan konteks lingkungan

 Interaksi timbal balik yang menguntungkan antara manusia-lingkungan

 Interaksi manusia-lingkungan bersifat dinamis

 Interaksi manusia-lingkungan terjadi berbagai level dan tergantung

pada fungsi

Komponen yang berpengaruh dalam ekologi manusia:

 Komponen manusia (penduduk)

 Komponen daya dukung alam (lingkungan)

 Komponen ilmu pengetahuan & teknologi

 Komponen organisasi

Tiap komponen akan saling tergantung ataupun akan

(16)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 16

mempengaruhi tersebut dapat membentuk suatu sistem Ecological

Complex/Neo Ecology (Schnore & Duncan, 1958/1959)

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini

berdasarkan pada metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan

naturalistik. Penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena

tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,

motivasi, tindakan, secara holistik dan dengan deskripsi dalam bentuk

kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan

memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2008).

Metode penelitian kualitatif deskriptif pada penelitian ini digunakan

untuk menggambarkan fakta-fakta yang ada di lapangan terkait dengan

profil lingkungan kumuh pada permukiman kumuh yang berada di Pacar

Keling, Surabaya. Dalam penelitian kualitatif, penentuan fokus (batasan

masalah) diperoleh setelah peneliti melakukan grand tour observation dan

grand tour question atau yang disebut dengan penjelajahan umum.

Dari penjelajahan umum ini peneliti memperoleh gambaran umum

menyeluruh yang masih pada tahap permukaan tentang situasi penelitian.

Dalam hal ini gambaran umum penelitian yang diperoleh adalah perilaku

apa saja yang timbul jika dikaitkan terhadap respon penghuni terhadap

lingkungan fisiknya, terhadap hubungan sosialnya serta sikap apabila

mengalami stress lingkungan serta faktor-faktor yang mempengaruhi

kondisi tersebut pada permukiman kumuh yang di teliti. Untuk mendukung

data-data yang diperoleh di lapangan, dilakukan juga wawancara mendalam

(depth interview) kepada subyek untuk memperoleh hasil akurat.

3.2 Batasan Istilah

Didalam penelitian ini terdapat batasan istilah yang digunakan

peneliti untuk menghindari adanya penyalahartian judul dan menjadikan

(17)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 17 yang digunakan adalah :

1. Perilaku terhadap lingkungan fisik: Perilaku yang muncul dari individu

sebagai reaksi terhadap lingkungan fisik yang ada di sekelilingnya.

2. Perilaku terhadap hubungan sosial: Perilaku yang muncul dari individu

sebagai reaksi terhadap hubungan sosial yang ada di sekelilingnya.

3. Perilaku terhadap stress lingkungan:Perilaku yang muncul dari individu

sebagai reaksi saat mengalami stress lingkungan.

4. Teori Ekologi: Teori yang menguraikan interaksi antara individu dengan

lingkungan.

3.3 Subyek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini sebanyak 3 orang. Penelitian

menggunakan subjek berdasarkan ciri-ciri yang berkaitan dengan masalah

dalam penelitian, dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Subjek adalah individu yang tinggal di pemukiman kumuh Pacar Keling,

Surabaya

2. Bersedia untuk menjadi subjek penelitian perilaku penghuni lingkungan

kumuh

3. Subyek tergolong dalam kriteria dewasa meliputi dewasa awal, dewasa

madya dan dewasa akhir

3.4 Metode Pengumpulan Data

Sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan yaitu

kualitatif, maka jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif yang

diungkapkan dalam bentuk kalimat serta uraian-uraian berdasarkan atas

apa yang terjadi di lapangan, yang dialami, dirasakan, dan dipikirkan oleh

informan maupun responden. Data kualitatif dalam penelitian ini berupa

hasil dari observasi ataupun wawancara mendalam kepada

narasumber/informan di lapangan. Informasi yang diperoleh adalah

mengenai perilaku apa saja yang muncul di permukiman kumuh Pacar

(18)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 18 secara fisik, hubungan sosial, dan setting perilaku saat mengalami stress

lingkungan. Selain itu juga diperoleh jenis data kuantitatif yang

merupakan data-data terukur dan pasti. Pada penelitian ini yang termasuk

ke dalam jenis data kuantitatif yaitu, peta jaringan infrastruktur, luas

permukiman, lebar jalan, lebar saluran drainase terkait dengan kondisi

infrastruktur.

Dalam metode pengumpulan data bisa diperoleh melalui dua

sumber yaitu :

a. Data Primer

Data primer diperoleh secara langsung

melaluiinforman/responden melalui wawancara secara mendalam

ataupun dalam bentuk question list serta observasi lapangan yang

sudah disiapkan, namun pertanyaan ini nantinya bisa berkembang

menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, yaitu bebas terpimpin.

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara

(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara

(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu

(Moleong, 2007:186). Dengan wawancara menurut Stainback

(1988, dalam Sugiyono, 2006: 89) peneliti akan mengetahui hal-hal

yang lebih mendalam tentang pasrtisipan dalam

menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi.

2. Observasi

Pengumpulan data untuk suatu tulisan ilmiah dapat

dilakukan salah satunya melalui observasi. Menurut Moleong

(2006:175) alasan metodologis bagi penggunaan pengamatan

observasi ialah karena cara ini dapat mengomptimalkan

kemampuan peneliti dari segi motif kepercayan, perhatian, perilaku

tak sadar, kebiasaan dan sebagainya.

(19)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 19 pengamatan langsung berperan serta, yaitu peneliti melakukan

sebagai pengamat dalam hal ini menjadi anggota dari yang

diamatinya. Adapun yang menjadi obyek pengamatan dalam

penelitian ini adalah segala bentuk perilaku atau sikap dari

penghuni pemukiman kumuh di daerah Pacar Keling Surabaya

pada saat peneliti terjun lapang.

3. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang berupa dokumentasi,

salinan/kutipan data, referensi-referensi. Dalam penelitian ini data

sekunder bersumber dari keterangan pegawai yang berada di

kecamatan maupun tingkat RT/RW, untuk diketahui secara pasti data

akurat tentang informasi di lingkungan kumuh, serta

referensi-referensi untuk landasan teori.

4. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ini

ditunjukkan pada penguraian dan penjelasan melalui sumber-sumber

dokumen. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang

segala informasi tentang kehidupan dan perilaku penghuni

pemukiman kumuh di daerah Pacar keeling Surabaya.

PEMBAHASAN

4.1 Identitas Subyek

Subyek 1 Subyek 2 Subyek 3

Nama Asli Evi Kholilah Miftahur Rohmah Mathollah

Panggilan Evi Mifta Dollah

Umur 35 th 20 th 70 th

Tempat, tanggal

lahir

Surabaya, 26

Juli 1980

Bangkalan, 1994 Bangkalan, 1941

(20)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 20

Pekerjaan Pedagang Ibu rumah tangga Pengangguran

4.2. Kesimpulan pernyataan dari ketiga subyek

4.2.1 Aspek terhadap lingkungan fisik  Perilaku terhadap Air Bersih

Subyek pertama ini memiliki saluran air bersih yaitu PDAM dan

untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, air yang bersih tersebut

digunakan untuk minum dan memasak, sedangkan untuk mandi subyek

lebih ke sumur yang berada didepan rumah mereka, namun dipungut biaya

sebesar kurang lebih rp.5000.

 Perilaku terhadap Pembuangan Air Kotor dan Kotoran

Untuk pembuangan air kotor seperti air bekas mencuci baju dan

piring, di buang melalui saluran dari kamar mandi yang nantinya air itu

mengalir ke sungai dekat rumah penghuni. Sehingga pada saat buang air

besar pun akan langsung terbuang ke sungai tersebut. Untuk pemeliharaan

kamar mandi subyek yang lebih berperan dalam keluarga untuk

membersihkannya. Subyek berusaha tetap menjaga kebersihan kamar

mandinya meskipun kondisi kamar mandi yang tidak terlalu baik.

 Perilaku Terhadap Pembuangan Limbah

Perilaku pembuangan sampah atau limbah rumah tangga oleh

subyek ke tempat penampungan sampah yang berada di dekat pasar yang

nantinya sampah-sampah tersebut akan dibuang dan diangkut oleh dinas

kebersihan pasar sendiri setiap sorenya. Namun kebanyakan mereka sering

(21)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 21 bahwa sampah mereka akan terbawa aliran air sungai dan sampah yang

mereka buang pun juga tidak besar.

 Perilaku terhadap Rumah yang Sehat

Menurut subyek, rumah sehat adalah rumah yang tidak seperti

kondisi rumah mereka, memiliki ventilasi, tidak bercampur atau

berdekatan dengan tempat pemotongan ayam dan kandang ayam. Untuk

menciptakan rumah subyek menjadi rumah sehat, subyek hanya sesekali

saja menyapu halaman dengan alat seadanya, serta membuang sampah

pada tempatnya.

 Perilaku terhadap Pembersihan Sarang-Sarang Vektor

Subyek membersihkan sarang-sarang vektor jika sudah sangat

kotor. Termasuk kaleng dan botol yang berada di sekitar rumahnya.

Subyek akhir-akhir ini juga lebih sering membersihkan rumahnya karena

sampah yang banyak berserakan dan apalagi musim hujan mengakibatkan

sarang nyamuk jika tidak dibersihkan.

4.2.2 Aspek terhadap Hubungan Sosial

 Dapat Diterima Atau Ditolak Orang Lain

Ketika tetangga melakukan kesalahan subyek memaafkan

kesalahan dari tetangganya, karena subyek sudah menganggap biasa pada

perlakuan tetangganya tersebut. Sesama tetangga memang saling

membantu tetapi dalam bentuk perbuatan tidak berupa uang ataupun

materi, karena merekapun juga masih sama-sama membutuhkan.

 Suka bergaul dan tidak suka bergaul

Subyek merupakan orang yang senang bergaul dengan

tetangganya, meskipun sudah memiliki anak namun subyek ini masih

memilki sense sebagai seorang yang muda. Subyek tahu sebenarnya

dalam kondisi lingkungannya namun subyek tetap berusaha baik dan tetap

menyapa. Dengan memberikan senyuman, melontarkan godaan pada

tetangga yang lewat agar tetap terjaga hubungannya dengan baik.

(22)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 22 Respon subyek terhadap orang baru tergolong kurang ramah,

karena pada saat peneliti datang seluruh mata tertuju pada peneliti. Selama

peneliti bersinggah di rumah subyek tetangga sama sekali tidak

memberikan senyum bahkan tidak menoleh. Subyek sendiri menyadari

bahwa hubungan mereka baik tetapi masih ada sikap dibelakang

masing-masing tetangga yang saling menggunjing.

 Simpati dan Tidak Simpati

Rasa simpati subyek kepada tetangga juga cukup tinggi, apabila

ada tetangga yang meninggal subyek juga ikut takziah. Ketika ada

tetangga yag terkena musibah dan membutuhkan pertolongan pun subyek

juga tak segan untuk membantunya. Subyek sering membantu tetangganya

yang membutuhkan bantaun pinjaman barang atau jasa.

4.2.3.3 Aspek apabila muncul Stress Lingkungan (Psikologis)

 Emosi

Meskipun subyek tinggal di lingkungan seperti itu, subyek merasa

tidak pernah malu dengan kondisi yang dialamiya. Karena kondisi dan

kemampuan subyek memang hanya demikian. Keinginan untuk merubah

kehidupan yang lebih layak pasti ada namun mereka melakukannya

bertahap, mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepada subyek.

 Kognisi

Meskipun rumah subyek berdekatan dengan pasar, namun subyek

tidak pernah merasa kebisingan akan tempat tersebut. Subyek juga tidak

pernah merasa risih dengan bau kandang ayam, sampah dan bau sungai

yang sangat menyengat apalagi saat hujan, semua bercampur aduk.

Menurut subyek itu adalah hal yang biasa, karena sekalipun dibersihkan ya

memang seperti itu keadaannya dan tidak mungkin mau marah dengan

(23)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 23 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Setelah kami melakukan oservasi dan wawancara terhadap ketiga

subyek penghuni pemukiman kumuh maka dapat kami simpulkan dari

ketiga indikator yang kami teliti adalah bahwa:

Pada aspek terhadap lingkungan fisik ini terdapat indikator yang

merepresentatifkan apa saja perilaku yang muncul terhadap lingkungan

fisiknya, menurut pernyataan dari ketiga subyek mereka tetap menjaga

lingkungan tetap bersih yaitu dengan membuang limbah atau sampah yang

dikolektifkan bersama limbah pasar yang akan dibuang oleh petugas.

sedangkan tanggapan mereka pada rumah sehat adalah rumah yg bersih

dan memilki ventilasi.

Pada aspek terhadap hubungan sosial ini terdapat perilaku

penghuni terhadap orang baru adalah enggan menyapa. Namun berbeda

dengan tetangga yang sudah dianggap dekat, mereka akan lebih ramah.

Kesenjangan sosial terlihat apabila satu tetangganya memilki barang yang

tidak dimilki oleh yang lainnya. Bentuk simpati lebih banyak dilakukan

dalam bentuk perhatian nyata dan bukan dalam bentuk materi.

Pada aspek kondisi psikologis terhadap stress lingkungan terdapat

indikator yang meliputi kognisi dan emosi. Pada indikator kognisi saat

subyek berada ditempat yang ramai subyek tidak pernah merasa terganggu

ataupun risih dengan kondisi sekitar. Subyek tetap merasakan kenyamanan

di lingkungannya, tetap berkonsentrasi meskipun berada di lingkup seperti

pasar yang begitu riuh pembelit. Hal tersebut sudah biasa dialami subyek,

karena disukai ataupun tidak maka itulah yang menjadi tempat tinggal

subyek untuk hidup dan mencari nafkah untuk keluarganya.

Pada indikator emosi, subyek menyatakan bahwa dalam hal malu

atau merasa cemas ketika tinggal di pemukiman yang kumuh, jelas

awalnya ada sedikit rasa malu. Tinggal di tempat yang buruk dan sama

sekali tidak bersih, apalagi jika harus ada saudara yang datang atau tamu

(24)

Psikologi Lingkungan 2014 || Lingkungan Kumuh Page 24 seiring berjalannya waktu subyek bisa menerima keadaannya benar-benar,

dan subyek berbesar hati untuk tinggal dalam rumah tersebut dan bisa

beradaptasi untuk menerima keadaan.

DAFTAR PUSTAKA

 Adi Prasetyo, 2009, Jurnal Karakteristik Permukiman Kumuh Di

Kampung Krajan Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres Kota

Surakarta, (diakses tanggal 23/01/2011).

 Fuad Amsyari, 1996, Membangun Lingkungan Sehat, Surabaya,

Airlangga University Press.

 Khomarudin, Drs, MA, 1997, Lingkungan Permukiman Kumuh,

Jakarta, Gramedia Pustaka Utama

 Mubyarto, 2003, Tantangan Ilmu Ekonomi dalam Menanggulangi

Kemiskinan. Jurnal Ekonomi Rakyat. Edisi Maret 2003 (diakses dari

http://www.ekonomirakyat)

(http://dahlanforum.wordpress.com/2008/03/26/perencanaan-dan perancangan-1 diakses tanggal 11/12/2014)

(http://id.wikipedia.org/wiki/kawasan-kumuh diakses pada tanggal

18/12/2014)

(http://webcache.googleuserconten.com.Jakartabutuhrevolusibudaya.c

om/2008/04/ 14 kemiskinan dan perkumuhan diakses pada tanggal

21/12/2014)

(http://webcache:masyarakat11.wordpress.com/2014/12/272

kemiskinan dan perkumuhan kumuh diakses tanggal 24/12/2014)

 (http://www.scribd.com/doc.pengelolaan-lingkungan-hidup diakses

Referensi

Dokumen terkait