MAKALAH
“Peran kader HMI dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT”
(TEMA H) Disusun:
Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) CABANG JOMBANG
Oleh :
Abdul Haris Kurniawan
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) KOMISARIAT TARBIYAH STAIN PONOROGO
CABANG PONOROGO 2014
Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul, Sang Revolusioner sejati, yakni Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman kebodohan menuju kehidupan yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Suatu rahmat yang besar dari Allah SWT yang selanjutnya penulis syukuri sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Peran Kader HMI dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT” ini untuk memenuhi syarat mengikuti Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jombang.
Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada kanda-kanda, ayunda-ayunda, dan kawan-kawan yang telah memberikan dukungan moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Maka dari itu, saran, koreksi, dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari kawan-kawan.
Meskipun makalah ini disusun untuk memenuhi syarat dalam mengikuti Intermediate Training (LK II), semoga makalah ini bermanfaat sebagai penambah wawasan kita tentang peran kita sebagai kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Ponorogo, November 2014 Penulis
JUDUL HALAMAN KATA PENGANTAR……….…....i
DAFTAR ISI………...ii BAB I………. PENDAHULUAN………....
A. Latar Belakang………. B. Rumusan Masalah………. C. Tujuan Penulisan………..
1. Tujuan Umum……….. 2. Tujuan Khusus……… BAB II……… PEMBAHASAN………
A. Peran Kader HMI……… B. Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT……….. C. Tantangan yang Dihadapi HMI………...
1. Lingkungan yang berubah……….. 2. Tantangan Internal……….. 3. Tantangan Eksternal……… D. Peran Kader HMI dalam Mewujudkan
Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT………. BAB III……… PENUTUP……….
A. Kesimpulan……… B. Saran……….. DAFTAR PUSTAKA………..
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hal ini terjadi dikarenakan peran organisasi sebagai organisasi perjuangan yang mampu mencetak kader sebagai kader yang menanamkan didalam dirinya lima kualitas insan cita kini telah memudar. Memudarnya peranan HMI ini disinyalir—salah satunya—karena kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus. Hampir-hampir tidak ada perbedaan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan agama Islam seorang anggota HMI sebelum dan sesudah masuk HMI. Hal ini disebabkan karena minimnya pembinaan maupun program maupun implementasinya yang berkaitan dengan pembinaan jiwa dan semangat beragama di kalangan HMI. Semestinya seorang mahasiswa yang masuk HMI harus mendapatkan nilai tambah atau nilai lebih tentang agama Islam.1
Lain daripada itu, perbuatan jelek yang dilakukan beberapa orang kader, anggota, dan alumni HMI berdampak dan membawa akibat yang negatif pada semua kader termasuk kader yang baik maupun alumni HMI2
serta lingkungan masyarakat pada umumnya.
HMI adalah suatu gerakan pembaharuan untuk membebaskan umat Islam dan bangsa Indonesia dari keterbelakangan. Pemikiran keislaman-keindonesiaan HMI menampilkan Islam yang bercorak khas Indonesia. Pemikiran ini akan mendatangkan perubahan sesuai dengan kebutuhan kontemporer menuju masa depan yang baru yang dicita-citakan seluruh rakyat Indonesia, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun HMI sudah berbalik menjadi tidak mengikuti, hanya menjadi kader olah mengolah pejabat yang mencari keuntungan pribadi tanpa memikirkan apa yang diperbuatnya telah merugikan orang lain.
Dalam setiap organisasi khususnya HMI, kader memiliki peran sentral, dimana kader sebagai agen dalam rangka menerapkan cita perjuangan HMI yang sesuai dengan tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya
1 Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV
Misaka Galiza, 2008), hal 86.
masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT sehingga dibutuhkan kader yang berwawasan keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan dengan kualitas lima insan cita dan bersifat independen, penuh semangat dan militansi yang tinggi dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
B. Rumusan masalah
Dengan bertolak pada landasan masalah diatas, maka penulis mencoba mencoba merumuskan dalam butir-butir masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian kader HMI?
2. Apa pengertian masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT? 3. Bagaimana tantangan yang dihadapi HMI?
4. Bagaimana peran HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT?
C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui pengertian kader HMI.
2. Untuk mengetahui pengertian masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
3. Untuk mengetahui tantangan yang dihadapi HMI.
4. Untuk mengetahui peran kader HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
2. Tujuan Khusus
BAB II PEMBAHASAN
A. Peran Kader HMI
benteng organisasi. Secara kualitatif, kader mempunyai mutu, kesanggupan bekerja dan berkorban yang lebih besar daripada anggota biasa. Kader itu adalah anggota inti. Kader merupakan benteng dari “serangan” dari luar serta penyelewengan dari dalam. Ke dalam tubuh organisasi, kader merupakan pembina yang tidak berfungsi pemimpin. Kader adalah tenaga penggerak organisasi, yang memahami sepenuhnya dasar dan ideologi perjuangan. Ia mampu melaksanakan program perjuangan secara konsisten di setiap waktu, situasi, dan tempat. Terbawa oleh fungsinya itu, untuk menjadi kader organisasi yang berkualitas, anggota harus menjalani pendidikan, latihan, dan praktikum. Pendidikan kader harus dilaksanakan secara terus menerus dan teratur, rapi dan berencana, yang diatur dalam pedoman perkaderan. Kongres ke-8 HMI tahun 1966 merumuskan pengertian kader adalah tulang punggung organisasi, pelopor, penggerak, pelaksana, penyelamat cita-cita HMI masa kini dan yang akan datang dimanapun berada, tetap berorientasi kepada asas dan syariat islam.3
Definisi dan pengertian diatas, setidaknya terdapat tiga ciri yang terintegrasi dalam diri seorang kader. Pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi. Kader mengenal aturan permainan organisasi sesuai dengan ketentuan yang ada, seperti NDP dalam pemahaman yang integralistik dengan Pancasila dan UUD 1945. Dari segi operasionalisasi organisasi, kader selau berpegang dan mematuhi AD/ART HMI, pedoman perkaderan, dan ketentuan lain. Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang tinggi secara terus menerus, konsisten dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. Ketiga, seorang kader mempunyai bakat dan kualitas sebagai tulang punggung yang mampu menyangga kesatuan kumpulan manusia yang lebih besar. Jadi, fokus seorang kader terletak pada kualitas. Kader HMI adalah anggota HMI yang telah menjalani proses perkaderan sehingga memiliki ciri kader, yang integritas kepribadian yang utuh, beriman, berilmu, dan beramal shaleh sehingga siap mengemban tugas
3 Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV
dan amanah dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.4
Mengingat fungsi HMI sebagai organisasi kader, maka seluruh aktivitasnya harus dapat memberi kesempatan berkembang bagi kualitas-kualitas pribadi anggota-anggotanya. Sifat kekaderan HMI dipertegas dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI yaitu Terbinanya insane kademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Tujuan HMI ini telah memberi tuntunan kemana perkaderan HMI diarahkan. Anggota HMI yang merupakan human material yang dihadapi HMI untuk dibina dan dikembangkan menjadi kader HMI, adalah mereka yang memiliki kualitas-kualitas sebagai: a) mahasiswa, yaitu mereka yang telah mencapai tingkat pendidikan intelektual tertentu, calon sarjana, dan potensial menjadi intelegensia, b) kader yaitu mereka yang memiliki kesediaan untuk berlatih dan mengembangkan kualitas pribadinya guna menyongsong tugas masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia, c) pejuang, yaitu mereka yang ikhlas, bersedia berbuat dan berkorban guna mencapai cita-cita umat Islam dan bangsa Indonesia pada waktu sekarang dan yang akan datang.5 Pada
hakekatnya, tugas pokok HMI adalah tugas perkaderan yang mana semua kegiatannya hendaklah menggambarkan fungsi kekaderannya sehingga membentuk profil kader yang ideal, yaitu Muslim intelektual profesioanl.
Tujuan HMI sebagai tujuan umum yang hendak dicapai oleh HMI menjadi garis arah dan titik sentral seluruh kegiatan dan aktivitas perkaderan HMI. Konsekuensi dari tujuan itu maka dengan sendirinya tujuan merupakan ukuran/norma dari semua kegiatan HMI. Dengan demikan kegiatan-kegiatan HMI benar-benar relevan dengan tujuannya. Bagi anggota, tujuan organisasi merupakan titik pertemuan persamaan kepentingan yang paling pokok dari
4 Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV
Misaka Galiza, 2008), hal 11.
seluruh anggota. Oleh karena itu peranan anggota dalam pencapaian tujuan organisasi adalah sangat besar dan menentukan.6
B. Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT
Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama. Kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera merupakan dambaan dan impian bagi semua orang. Masyarakat yang demikian tidak pernah lepas dari peran civil society
yang berakhlak-ul-karimah. Secara analitis konsep civil society berakar pada suatu bangunan pemikiran--yang nantinya menjadi model--mengenai manusia dan masyarakat. Bangunan tersebut dapat ditelusuri kembali pada benih-benih awal yang dibangun oleh para filsof Stoa (Filsafat Alam). Mereka merupakan jajaran pemikir yang merumuskan manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dan kesederajatan. Oleh alam, menurut mereka, manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan tertentu yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan dan keutamaan. Cicero misalnya, beranggapan bahwa kebaikan dapat direalisasikan oleh semua manusia, karena ia secara inhern telah memiliki potensi tersebut.7
Dengan demikian, konsep civil society harus dipahami dalam kerangka tradisi liberal. Civil Society bukanlah entitas sosial yang terdiri dari kumpulan manusia. Ia juga bukan manifestasi dari sistem komunal yang dikenal luas dalam masyarakat tradisional. Civil society merupakan ruang publik yang berisikan manusia sebagai individu-individu dengan segala atribut intrinsiknya. Oleh karenanya, civil society, memiliki karakteristik yang juga terdapat dalam konsep manusia sebagai individu. Jika individu sebagai ruang pribadi, civil society, merupakan ruang publik. Karena itu, di dalam civil society juga harus terdapat kebebasan, kesederajatan, dan nilai-nilai lain yang terkait seperti otonomi, kesukarelaan atau keseimbangan. Ciri-ciri tersebut
6 Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV
Misaka Galiza, 2008), hal 137.
7 Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk, Islam & Civil Society, (Jakarta: Gramedia
harus terwujud dalam gerak anggota yang ada di dalamnya maupun dalam relasi suatu civil society dengan civil society lain dan bahkan dalam hubungannya dengan negara.8
Kebebasan yang terdapat dalam civil society ini merupakan sebuah prasyarat menuju kebebasan dari segala dominasi dan hegemoni kekuasaan serta kebebasan untuk berpartisipasi dalam berbagai proses kemasyarakatan secara sukarela dan rasional. Dalam kehidupan bernegara, kebebasan tersebut tentu hanya bisa terwujud dalam suatu sistem kekuasaan yang demokratis. Dalam konteks inilah gagasan civil society memiliki signifikansi politik. Penciptaan sistem demokrasi tidak bisa didasarkan semata pada “niat baik” pemegang kekuasaan negara. Upaya tersebut harus dilakukan oleh masyarakat, khususnya melalui penguatan potensi-potensi yang ada, sehingga dapat menjembatani hubungan antara individu dan masyarakat di satu pihak, dan negara serta institusi pemegang kekuasaan lainnya di pihak lain. Karena itu, upaya pemberdayaan potensi-potensi masyarakat hingga menjadi kekuatan
civil society pada dasarnya mengarah kepada penciptaan pola kekuasaan masyarakat demokratis.
Namun berkaitan dengan upaya penguatan civil society, Muslim Indonesia—sebagai mayoritas—menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan. Upaya penguatan civil society di Indonesia tidak bisa mengabaikan pentingnya faktor umat Islam. Bahkan dalam beberapa hal tertentu, bisa dikatakan bahwa keberadaan Muslim merupakan basis perubahan politik dan sosial di Indonesia. Begitu pula dalam upaya penguatan
civil society, Muslim menduduki posisi terdepan yang bisa diharapkan sebagai pengimbang dari kekuatan negara yang cenderung dominatif. Dengan ungkapan lain, Muslim di Indonesia memiliki prasyarat—setidaknya secara kuantitatif—bagi pertumbuhan dan penguatan civil society di Indonesia.9
8 Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk, Islam & Civil Society, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2002), hal 5.
9 Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk, Islam & Civil Society, (Jakarta: Gramedia
Berdasarkan paparan kalangan intelektual-aktivis Muslim modernis muncul kecenderungan untuk melihat civil society sebagai sebuah konsep yang dihasilkan dari ideologi sekular yang jauh dari kehidupan spiritual. Karena itu, istilah masyarakat madani yang diperkenalkan di Indonesia dianggap bukan merupakan terjemahan dari civil society. Ada perbedaan ideologis antara civil society dan masyarakat madani, sebab diyakini bahwa masyarakat madani memiliki landasan spiritual dan religius karena kembali ke teks-teks agama, dan hal tersebut tidak dapat ditemukan dalam civil society.10
Menurut Nurcholish Madjid, konsepsi civil society ini sudah diterapkan terlebih dahulu ketika zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Nabi manyatukan kalangan Muslim, Nasrani, dan Yahudi dengan satu kesepakatan yang disebut Piagam Madinah yang kemudian diteruskan oleh Sahabat Umar Ibn Khatab sebagai salah satu kelanjutan wujud pelaksanaan cita-cita masyarakat madani yang diteladankan Nabi. Hal ini membuktikan bahwa Islam menunjukkan peradaban yang sudah modern dalam hal sosial-politik serta menjadi referensi bagi umat Islam di zaman sekarang. Pada prinsipnya, fungsi utama daripada hukum Islam adalah untuk menciptakan kebaikan manusia di dunia dan di akhirat, atau dengan kata lain untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia, karena hukum Islam berorientasi pada keadilan dan kesetaraan manusia.11
Tetapi, barangkali cukup safe untuk mengatakan bahwa agama—Islam khususnya--akan dibutuhkan manusia, dan dengan demikian ia tetap berperan. Sebab sebagaimana dikatakan oleh Julian Huxley: “manusia selalu concerned
tentang nasibnya – artinya, tentang kedudukan dan peranannya di dalam alam raya, bagaimana ia mempertahankan kedudukan itu, dan bagaimana pula ia memenuhi peranan tersebut. Semua masyarakat manusia mengembangkan jenis alat-alat tertentu untuk mengatasi masalah ini – alat-alat untuk mengerahkan ide-ide dan emosinya serta untuk membina sikap-sikap batin, pola-pola kepercayaan dan perilaku dalam hubungannya dengan konsepsi
10 Ibid, 163.
mereka tentang nasib mereka. Semua alat sosial yang berkenaan dengan nasib itu, dia kira, dapatlah secara sepenuhnya dimasukkan ke bawah judul agama.12
Tuntunan Al-Quran meletakkan titik berat utama pada kebajikan sosial yang didasarkan pada agama dan moralitas, bertentangan dengan falsafah-falsafah sosial sekuler yang berakarkan keduniawian dan mempunyai pendekatan materialistis yang dibangun dalam kefanaan sebagai dasar sistem-sistem nilainya. Dengan demikian, masyarakat Islam adalah theosentris dan
ethico-religious yang dilestarikan dalam upaya kebajikan.13
Secara garis besar, masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT dapat diartikan sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang berkepercayaan dalam kehidupan sehari-hari yang di dalamnya terdapat hubungan antara sesama manusia, hubungan kepada negara, dan hubungan kepada Tuhan. Sebagai kader sebuah organisasi yang berasaskan Islam yang mana dalam kegiatannya selalu berlandaskan ajaran Islam, kita harus menerapkan dari apa yang telah menjadi tujuan daripada organisasi itu.
C. Tantangan yang Dihadapi HMI 1. Lingkungan yang Berubah
Di penghujung abad ke-20, kita dihadapkan pada perubahan-perubahan multi dimensi yang cepat dan tidak pernah terjadi. Perubahan-perubahan ini seakan-akan merupakan penjungkir balikan tatanan kehidupan sebelumnya. Perubahan itu terjadi pada sistem nilai, termasuk pertimbangan moral yang bersifat imperatif. Sebagai contoh kecil, baru satu dekade yang lalu pemuda-pemuda jika keluar malam hari akan pulang menjelang tengah malam. Pada saat ini menjelang tengah malam mereka baru keluar rumah.
Perubahan multi dimensi itu juga menghinggapi tatanan masyarakat lain di bidang sosial ekonomi, politik, budaya, pendidikan, moral keagamaan. Tidak ada yang tidak berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
12 Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (Bandung:
Penerbit Mizan, 1997), hal 126.
13 Dr. Muhammad Faiz-Ur-Rahman Ansari, Konsepsi Masyarakat Islam Modern
Berarti perubahan itu, maupun proses globalisasi adalah sesuatu yang tidak terelakkan.
Memasuki millennium baru ini, akan tumbuh masyarakat dunia baru dengan ciri yang berbeda dengan ciri-ciri masyarakat lama. Dalam konteks ini, bangsa Indonesia sedang membangun sebuah masyarakat baru yang mana tidak bisa terelakkan tidak mengandung dua dimensi. Dimensi tersebut adalah dimensi ideal dan dimensi pragmatis. Idealisme ini penting untuk memberikan arah serta menjaga agar bangsa kita tidak kehilangan sense of being dan sense of purpose. Singkatnya, jati diri atau khittah sebagai bangsa, kita juga harus pragmatis mengingat upaya untuk mewujudkan yang ideal bisa memerlukan waktu yang lama, bahkan merupakan upaya yang tidak ada hentinya.
Semua tantangan ini menuntut diperlukannya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kualitas yang diperlukan ini terutama SDM yang memiliki tingkat kecerdasan dan keterampilan yang tinggi, mantap dalam wawasan dan semangat kebangsaannya, sehat dan kuat kondisi jasmani dan rohaninya, serta memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur.14
Berdasarkan paparan dia atas, HMI sebagai organisasi perjuangan yang mana harus memperjuangkan pribadinya agar mencapai nilai kualitas yang sudah ditentukan, merupakan sebuah kesiapan serta memiliki kemampuan dengan beragam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai dengan predikat yang disandangnya, HMI harus mampu menampilkan sikap dan perilaku yang positif, kreatif dan konstruktif, sesuai dengan ciri khas kemahasiswaannya, keislamannya, dan keindonesiaannya, yang senantiasa melibat dan tertanam kuat pada dirinya.
2. Tantangan Internal
Berdasarkan perannya, HMI sebagai organisasi perjuangan, setiap saat HMI dihadapkan kepada berbagai tantangan yang datang silih berganti. Tantangan itupun akan selalu muncul terlebih-lebih di masa depan, yang
14 Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV
bentuk dan wujudnya jauh lebih besar dan berat. Berdasarkan uraian Agussalim Sitompul, tantangan yang dihadapi HMI dari internal meliputi:
a. Masalah eksistensi dan keberadaan HMI. Walaupun HMI ada tetapi seolah-olah tidak ada karena tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranannya sebagaimana mestinya.
b. Masalah relevansi pemikiran-pemikiran HMI, untuk melakukan perbaikan dan perubahan yang mendasar terhadap berbagai masalah yang muncul yang dihadapi bangsa Indonesia.
c. Masalah peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang sanggup tampil dalam barisan terdepan sebagai avant garde, kader pelopor bangsa dalam mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai perubahan yang sangat dibutuhkan masyarakat.
d. Masalah efektifitas HMI untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa, karena banyak organisasi yang sejenis maupun yang lain dapat tampil lebih efektif dan dapat mengambil inisiatif terdepan untuk memberi solusi terhadap problem yang dihadapi bangsa Indonesia.
Sebagai jawabannya, menuntut pemecahan yang bersifat teoritis dan
praktis, akan tetapi semuanya bersifat konseptual, integratif, dan
inklusif. Sebab pendekatan yang tidak konseptual, parsial, dan eksklusif
tidak akan melahirkan jawaban yang efektif. Untuk itu dibutuhkan ide dan pemikiran dari anggota aktivis, kader, dan pengurus HMI di seluruh jenjang organisasi.15
3. Tantangan Eksternal
Berbagai tantangan eksternal juga dihadapkan kepada HMI yang tidak kalah besar dan rumitnya dari tantangan internal, antara lain:
a. Tantangan menghadapi perubahan zaman yang jauh berbeda dari abad ke-20 dan yang muncul pada abad ke-21 saat ini.
15 Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV
b. Tantangan terhadap peralihan generasi yang hidup dalam zaman dan situasi yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan khususnya yang dijalani generasi muda bangsa.
c. Tantangan untuk mempersiapkan kader-kader dan alumni HMI yang akan menggantikan alumni-alumni HMI yang saat ini menduduki di berbagai posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena regenerasi atau pergantian pejabat-pejabat, suka tidak suka, mau tidak mau pasti berlangsung.
d. Tantangan menghadapi golongan lain yang mempunyai missi lain dari umat Islam dan bangsa Indonesia.
e. Tantangan menghadapi perubahan dan pembaharuan di segala aspek kehidupan manusia yang terus berlangsung sesuai dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena itu menghadapi tantangan itu HMI dengan segenap aparatnya harus mampu menghadapinya dengan penuh semangat dan militansi yang tinggi. Apakan HMI mampu menghadapai tantangan itu, sangat ditentukan oleh pemegang kendali organisasi sejak dari PB HMI, Pengurus Badko, Cabang, Komisaria, Korkom, dan lembaga-lembaga kekaryaan, serta segenap anggota-anggota HMI, maupun alumninya yang tergabung dalam KAHMI sebagai penerus, pelanjut serta penyempurna mission sacre HMI. Peralihan zaman dan peralihan generasi saat ini sangat menentukan bagi eksistensi HMI di masa-masa mendatang.
D. Peran Kader HMI dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT
dan mandiri serta mempunyai moral yang baik. Sebagai bagian dari pemuda, kader HMI sangatlah potensial dalam mewujudkan perubahan tersebut.
Implementasi mission HMI untuk menjawab tantangan yang dihadapi bangsa, dapat dilakukan dengan menerapkan pemikiran keislaman-keindonesiaan HMI. Pemikiran HMI yang berkembang dalam kurun waktu 58 tahun, menampakkan relevansinya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada saat ini akan ditelusuri bagaimana partisipasi dan peran yang diambil HMI dalam ikut membentuk kepribadian, identitas bangsa Indonesia di tengah realitas sosial budaya dengan ciri pertumbuhan, perkembangan, dan kemajemukan. Atas konsep independensinya, peran HMI akan dicoba diungkapkan dalam upaya persatuan dan kesatuan nasional dari seluruh komponen bangsa, maupun latar belakang sosial budaya, politik, dan keagamaan. Pancasila sebagai konvergensi nasional dijadikan sebagai platform untuk menuju integritas nasional yang harmonis.
Dengan berasaskan Islam, HMI diharapkan mampu mencetak kader-kader yang mempunyai semangat perjuangan sebagai pemimpin yang dapat mengamalkan nilai-nilai keislamannya di kehidupan masyarakat. Karena di dalam nilai-nilai tersebut merupakan suatu prasyarat untuk menuju civil society yang berkepercayaan dan berakhlak-ul-karimah sesuai dengan yang telah diajarkan di dalam agama Islam sehingga nantinya akan mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Kader HMI sebagai bagian dari pemuda mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membangun umat dan bangsa. Dia mempunyai kesempatan dan peluang yang lebih dikarenakan semua tingkah polah yang dilakukan kader HMI selalu menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan berlandaskan Islam.
ajaran-ajaran Islam setiap anggotanya. Karena masyarakat yang diidam-idamkan sebagai civil society yang berakhlak-ul-karimah membutuhkan manusia-manusia yang berkualitas dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kepercayaan sebagai pemimpin di dalamnya.
Manusia diciptakan sebagai khalifah fi-l-ardh di muka bumi. Oleh karena itu kita sebagai kader HMI yang secara akademisi mempunyai intelektual yang lebih serta mengemban amanah organisasi yang luhur diharapkan mampu menghayati dan menerapkan ajaran-ajaran di dalamnya. Sehingga cita-cita masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT dapat dicapai. B. Saran
Kita sebagai kader HMI mengemban missi keumatan dan misi kebangsaan untuk kembali membangun tradisi HMI dengan gerakan intelektualnya, karena HMI adalah organisasi kader. Peran HMI sebagai organisasi perjuangan harus selalu kita laksanakan, berjuang untuk membela kaum mustadh’afin.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ansari, Muhammad Faiz-Ur-Rahman. Konsepsi Masyarakat Islam Modern. Bandung: Risalah, 1983.
3. Prasetyo, Hendro. Munhanif, Ali. dkk, Islam & Civil Society. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
4. Sitompul, Agussalim. 44 INDIKATOR KEMUNDURAN HMI. Jakarta: CV Misaka Galiza, 2005.