• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Dasar Dasar Filsafat Ipa .docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Dasar Dasar Filsafat Ipa .docx"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

“DASAR – DASAR FILSAFAT”

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS

MATA KULIAH ETIKA DAN PROFESI

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4

NAMA :

FEMY ASMAYA ( 17 507 050 )

HARTINI RANGGA MITHA ( 17 507 064)

LAMBAS TRESA PASARIBU ( 17 507 0

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini sesuai apa yang direncanakan yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “DASAR-DASAR FILSAFAT”.

Makalah ini berisikan tentang pengetahuan lebih terperinci tentang dasar filsafat, dengan materi-materi yang kami tulis di makalah ini di maksudkan memberi bekal pengetahuan dasar untuk pengertian filsafat

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Kami berharap semoga Makalah ini dapat dijadikan bahan bacaan dan menanbah pengetahuan untuk teman-teman semua.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yesus senantiasa

menyertai dan meridhai segala usaha kita. Amin.

Tondano, 22 Februari 2018

Penulis

Kelompok 7

DAFTAR ISI

(3)

1.1 Latar Belakang...4

1.2 Rumusan Masalah...4

1.3 Tujuan...4

BAB II PEMBAHASAN...5

2.1 Definisi Dan Pengertian Filsafat...5

2.1.1 Arti Filsafat Secara Etimologi...5

2.1.2 Arti Filsafat Secara Terminologi...5

2.2 Mengapa Manusia Berfilsafat...8

2.3 Karakteristik Berfikir Filsafat...9

2.4 Cabang-Cabang Filsafat...9

2.5 Objek Filsafat...16

2.6 Faedah-Faedah Filsafat...17

BAB III PENUTUP...19

3.1 Kesimpulan...19

3.2 Saran... DAFTAR PUSTAKA...21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(4)

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kapastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui apa yang telah kita ketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas ini. Akal adalah potensi rohaniah yang memiliki berbagai kesanggupan seperti kemampuan berfikir, menyadari, menghayati, mengerti dan memahami. Jadi pemikiran kesadaran, penghayatan, pengertian dan pemahaman semuanya merupakan istilah yang berarti bahwa kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelegensi (sifat kecerdasan jiwa). Berpikir di maksudkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui dengan kata lain bahwa kebenaranlah yang menjadi tujuan utamanya, dari proses berpikirnya yang mengatakan pengorganisasian dan pembudian pengalaman-pengalamannya secara empiris dan eksperimen di maksudkan dapat mencapai pengetahuan, tetapi apakah pengetahuan yang diperoleh adalah benar dan apa yang dimaksud kebenaran dalam ilmu pengetahuan? Kebenaran adalah adanya korespondensi, koherensi dan konsistensi antara subjek dan objek secara pragmatis, jadi ada dua kebenaran yang ingin di capai yaitu mutlak dan relative. Dikatakan relative karena kebenaran ini merupakan hasil pemikiran manusia dalam teori pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah selesai terpikirkan, tetapi sesuatu hal yang tidak pernah mutlak sebab ia masih selalu membuka diri untuk pemikiran kembali atau peninjauan ulang.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian Ilmu dan Filsafat ?

2. Apa Pengartian dan Dasar-dasar Pengetahuan ? 3. Bagaimana Sumber Pengetahuan ?

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Pengertian Filsafat 2.1.1 Arti Filsafat Secara Etimologi

Menurut Poedjawijatna bahwa filsafat itu berasal dari kata arab yang berhubungan langsung rapat dengan kata yunani, kata yunani nya hampir sama dengan apa yang di kemukakan oleh Harun Nasution yaitu Philosophia. Philosophia dibagi menjadi dua kata yaitu philo yang arti nya cinta dalam arti yang luas, dan sophia yang berarti kebijaksanaan dalam pengertian yang mendalam. Jadi dapat di simpulkan bahwa kata filsafat adalah untuk mencapai cinta pada kebijakan. Dari segi bahasa filsafat diartikan sebagai keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau yang mendalam untuk menjadi bijak.

Menurut Harun Nasutio Filsafat berasal dari Yunani yang tersusun dari dua kata Philein dalam arti cinta dan sophos dalam arti hikmah. Orang Yunani memindahkankata tersebut menjadi philoshopia kedalam bahasa mereka. Dalam bahasa indonesia banyak di pakai kata filsafat. Dan ini kelihatannya bukan berasal dari kata bahasa arab yaitu falsafah dan bukan pula dari kata barat philosophy ternyata di ambil dari dua bahasa yaitu barat dan arab, fil dari kata barat dan safah dari kata arab, sehingga tergabunglah dari keduanya dan menimbulkan kata filsafat demikian Harun Nasution menjelaskan.

Sebagai konsekuennya, seorang filosof tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitar nya serta dunia yang ada dalam diri nya, melain kan juga membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri. Ia tidak hanya mengetahui hakekat kenyataan dan ukuran-ukuran untuk melakukan verifikasi terhadap pernyataan mengenai segala sesuatu, melainkan ia berusaha menemukan kaidah-kaidah berfikir itu sendiri. Suatu perenungan kefilsafatan tidak boleh mengandung pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan.

(6)

Istilah filsafat awalnya berasal dari bahasa Yunani yakni ”philosophia”. Seiring perkembangan zaman akhirnya dikenal pula dalam berbagai bahasa, seperti misalnya ”philosophic” yang berasal dari kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan juga Perancis; “philosophy” dalam terjemahan ke bahasa Inggris; “philosophia” dalam terjemahan ke bahasa Latin; dan juga“falsafah” dalam bahasa Arab.

Para filsuf memberikan batasan yang berbeda-beda tentang filsafat, tetapi batasan yang berbeda tersebut tidak mendasar. Selanjutnya, batasan filsafat bisa ditinjau dari dua segi yakni secara etimologi serta secara terminologi.

Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari terjemahan bahasa Arab, yakni falsafah ataupun dari bahasa Yunani yakni philosophia – philien yang artinya cinta dan sophia yang artinya kebijaksanaan. Jadi dapat dipahami bahwa filsafat artinya cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah seorang pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.

Pengertian filsafat secara terminologi amat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Berikut ini akan disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli:

1. Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.

2. Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.

3. Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni“ ( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )

4. Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu, yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.

5. Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .

(7)

7. Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.

8. Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.

9. Harold H. Titus (1979 ): (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.

10. Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.

11. Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.

12. Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.

13. Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-mengenai Ketuhanan,alam semesta, dan manusi sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat sejauh yang dapat dicapai akal manusia. Pencinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan petunjuk tujun hidup nya, atau dengan perkataan lain orang yang mengabdikan diri nya dengan pengetahuan.

(8)

1. Sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan serta alam yang tidak diterima secara keritis.

2. Suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita jujung tinggi.

3. Berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman manusia sehingga menjadi konsisten tentang pandangan alam.

4. Analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.

5. Sekumpulan problema yang langsung dan mendapat perhatian dan dicarikan jawaban dari ahli-ahli filsafat.

Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

2.2Mengapa Manusia Berfilsafat

Menurut Lasiyo dan Yuwono ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat:

1. Keheranan 2. Kesangsian

3. Kesadaran akan keterbatasan  Keheranan

Sebagai filsuf ada nya rasa heran merupakan asal dari berfilsafat. Menurut Immanuel Kant gejala yang paling mengherankan adalah “melihat langit berbintang-bintang diatas”.

Kesangsian

Augustinus dan Rane Descartes berpendapat bahwa kesangsian itu merupakan sumber utama bagi pemikiran manusia. Pada saat itu manusia meliat hal yang baru maka ia akan merasa heran kemudian merasa ragu-ragu dengan hal itu. Rane Descartes pernah mengucapkan “cagito ergo sum” yang arti nya “saya berfiki, maka saya ada” dan kata-kata itulah yang membuat dia terkenal saat itu. Yang dimaksud Rane dengan berfikir ialah menyadari bahwasan nya ia menyaksikan.

(9)

Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya itu sangat kecil dan lemah jika dibandingkan dengan alam sekitar nya. Dengan kesadaran akan keterbatasan ini manusia mulai berfilsafat ia memikirkan bahwa diluar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas

2.3 Karakteristik Berfikir Filsafat

Beberapa ciri berfikir kefilsafatan dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Radikal, artinya berfikir sampai keakar-akar nya sehingga sampai pada hakikat atau permasalahan yang dipirkan hingga selesai.

b. Bertanggung jawab, artinya seorang yang berfilsafat harus berfikir sekaligus bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran nya itu sendiri dan terhadap hati nurani nya sendiri.

c. Universal artinya, pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. d. Koheren dan konsisten, artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir logis

serta tidak mengandung kontradiksi.

e. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus berkoneksitas secara teratur dan terkandung adanya maksud dan tujuan tertentu.

f. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas. Pemikiran filsafat itu boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, akni bebas dari prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius.

g. Konprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan merupakan untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.

Menurut Muntansyir dan Misnal Munir bahwasan nya ciri berfikir kefilsaatan tersebut menjadi cenderung berbeda dengan ciri berfikir ilmu-ilmu lain nya, sekaligus menetapkan kedudukn filsafat sebagai bidang keilmuan yang netral.

2.4 Cabang-Cabang Filsafat

(10)

a. Logika b. Metodologi

c. Metafisika: Ontologi, Kosmologi d. . Epistemologi

e. Filsafat Biologi f. Filsafat Psikologi g. Filsafat Antropologi h. Filsafat Sosiologi i. Etika

j. Estetika

k. Filsafat Agama

2. Ir.Poedjatwijatna membagi filsafat menjadi:

a. Ontologi b. Theodicea c. Antropologia d. Metaphysica e. Ethica f. Logica g. Aesthetica

3. The Liang Gie dalam buku nya membagi filsafat menjadi:

a. Metafisika (filsafat tentang hal ada) b. Epistemologi (teori pengetahuan) c. Metodologi (teori tentang metode) d. Logika (teori tentang penyimpulan)

e. Etika (filsafat tentang pertimbangan moral) f. Estetika (filsafat tentang keindahan)

g. Sejarah filsafat

a. Metafisika

(11)

pengetahuan yang membicarakan tentang hakikat yang terdalam atau cabang filsafat yang membicarakan atau menyelidiki prinsip pertama.

Spekulasi metafisis adalah usaha-usaha untuk menemukan kebenaran mengenai alam semesta dengan pemikiran murni daripada dengan metode ilmiah dengan pengamatan dan eksperimen yang terkontrol. Metode yang dipakai adalah deduktif bukan empiris. Terdapat macam-macam ada yang itu semuanya ditangkap dalam adanya bermacam-macam dan ada yang umum. Karna yang ada sangant luas maka dapad di golongkan menjadi dua hal:

1. Ada secara ontologis : yaitu membicarakan teori mengenai sifat dasar dan ragam-ragam kenyataan, misalnya usaha filosof dalam mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan: apakah hakikat ada itu? Apakah klasifikasi dari yang ada itu? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain nya.

2. Ada secara kosmologi: Kosmologi menyelidiki jenis tata tertib yang paling fundamental dalam kenyataan, yaitu apakah untuk segala sesuatu yang menjadi ada, selalu ada sesuatu sebab yang menemtukan menjadi apa adanya dan bukan sebalik nya.

Lasiyo dan Yuwono menyebutkan kosmologi sebagai filsafat alam yang membicarakan tentang alam semesta dengan segala isinya yang dipandang sebagai ada nya yang harus tidak ada. Sehingga harus dikaji atau diselidiki isi inti alam itu.

b. Epistemologi

Epistemologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau kebenaran. Sedangkan logos kata,pikiran atau ilmu. Jadi Epistemologi berarti pemikiran-pemikiran tentang pengetahuan atau kebenaran.

Lasiyo dan Yuwono menyatakan bahwa Epistemologi merupakan penyelidikan filsafat terhadap pengetahuan khususnya tentang kemungkinan asal mulanya, batas, sifat dasar, dan aspek-aspek pengetahuan lain nya yang berkaitan. Lasiyo dan Yuwono mengemukakan bahwa alat-alat yang menyebabkan terjadi nya sumber dari pengetahuan adalah:

 Pengalaman indera  Nalar

(12)

 Intuisi  Wahyu  Keyakinan

c. Metodologi

Secara bahasa metodologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata “metodos” dan “logos”. Metodos berarti cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan, sedangkan logos bearti pikiran atau ilmu. Jadi Metodologi berarti ilmu yang membicarakan cara atau jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Didalam pembahasan ini yang dimaksud kan metodologi adalah cabang filsafat yang mempelajari metode pada umumnya baik metode ilmiah maupun non ilmiah. Metode ini dimaksudkan sebagai suatu teknik atau cara yang dirancang sedemikian rupa dan dipai dalam proses untuk memperoleh pengetahuan, apakah pengetahuan akal sehat, pengetahuan humanistik, historis, kefilsafatan maupun ilmiah.

d. Logika

Logika berasal dari bahasa latin yaitu “logos” yang berarti perkataan atau sabda. Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan serupa: alasan tidak logis, kabar itu tidak logis dan lain-lain. Yang dimaksud dengan logis adalah masuk akal dan mudah di mengerti oleh seseorang yang mendengarnya, dan tudah logis adalah sebalik nya.

Irving M. Copi menyatakan logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang bentuk penalaran yang salah.

Kata Logika pertama kali dipergunakan oleh Zeno dari Citium Kaum Sofis, Socrates, dan Plato harus dicatat sebagai lahir nya logika. Theoprostus mengembangkan logika Aristoteles ini, sedangkan Kaum Stoa mengajukan bentuk-bentuk berfikir secara sistematis.

e. Etika

(13)

berbicara baik buruk, oleh karna nya sering disebut filsafat praktis. Etika membicarakan tentang seluruh pribadi manusia baik hati nurani, ucapan maupun tingkah laku seseorang.

Menurut Lasiyo dan Yuwono yang agak mudah untuk dinilai adalah tingkah laku dan perbuatan manusia. Sehingga etika sering disebut sebagai filsafat tingkah laku, kemudian berkembang menjadi kesusilaan dan filsafat moral.

f. Estetika

Apabila etika dilukiskan sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang nilai baikburuk nya. Maka estetika dilukiskan sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang nilai indah dan tidak indah. Tiga cabang filsafat terakhir ini dapat disebut satu gugus yaitu: logika, etika dan estetika, karna ketiga-tiganya membicarakan tentang nilai. Logika berbicara tentang nilai benar atau salah, etika berbicara tentang nilai baik buruk dan estetika berbicara tentang nilai keindahan dan tidak indah. Lebih jelas lagibahwa logika bersangkutan dengan nilai akal atau rasio, etika bersangkutan dengan nilai moral, dan estetika berkoneksitas perasaan manusia yaitu nilai estetis.

g. Sejarah Filsafat

Adalah analisis yang teliti terhadaap sistem-sistem filsafat, penafsiran yang kritis dari pemikiran para filsuf terhadap persoalan-persoalan filsafat dan cerita yang benar mengenai perkembangan filsafatdari masa paling awal sampai sekarang.

Menurut Lasiyo dan Yuwono, disamping bidang-bidang filsafat sistematis, masih ada lagi bidang filsafat khusus, filsafat khusus ini sering disebut juga filsafat tentang suatu pokok persoalan yang khusus. Filsafat khusus lahir karna ilmu yang bersangkutan tidak mampu menjabarkan persoalan yang menjurus ke pertanyaan-pertanyaan filsafat.

Adapun bidang-bidang filsafat khusus Lasiyo dan Yuwono merumuskan beberapa bidang filsafat antara lain dapat di deskripsikan sebagai berikut:

a. Filsafat Seni

(14)

adalah cabang filsafat yang membicarakan semua persoalan mengenai pecipta seni, pengalaman seni, nilai seni, kritik seni, dan koneksitas seni dengan kegiatan dan kepentingan manusia lain nya. Antara filsafat seni dan estetika memiliki hubungan erat. Mereka bisa sama karna keindahan tidak hanya terdapat dalam seni tetapi juga dalam alam.

b. Filsafat Kebudayaan

Menurut Lasiyo dan Yuwono, bahwa filsafat kebudayaan adalah cabang filsafat khusus yang membicarakan nilai-nilai budaya yang di suatu pihak merupakan sistem-sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil-hasil tindakan dan dilain pihak sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi tindakan selanjutnya. Ada anggapan bahwa kebudayaan adalah sebagai aspek intelektual dari kehidupan seperti hal nya ilmu, seni dan agama.

Jadi anggapan di atas dapat diketahui bahwa filsafat kebudayaan adalah cabang filsafat khusus yang mengkolaborasi tentang nilai-nilai budaya yang disatu pihak merupakan sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil tindakan dan dilain pihak sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi tindakan selanjut nya.

c. Filsafat Pendidikan

Pengertian umum dari filsafat pendidikan adalah cabang filsafat khusus yang membicarakan pemikiran filsafat mengenai pendidikan. Menurut Plato Filsafat Pendidikan sebagai sekumpulan pemikiran meliputi suatu teori pendidikan atau pandangan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat. Dari konsepsi tersebut dapat ditangkap makna nya bahwa filsafat pendidikan dapat mempergunakan bermacam kategori konsep dan metode.

d. Filsafat Sejarah

Menurut Lasiyo dan Yuwono filsafat sejarah adalah sebagai usaha menunjukkan suatu rencana yang diwujudkan oleh pristiwa-pristiwa. Sejarah sendiri mempunyai makna ganda sejarah yaitu suatu rangkaian sejarah yang sesungguh nya dari tindakan manusia dimasa lalu biasa disebut filsafat spekulatif, dan sejarah sebagai ceritayang disusun oleh sejarawan yang merupakan rangkaian peristiwa dan biasa disebut sebagai filsafat kritis.

e. Filsafat Bahasa

(15)

hubungan yang sangat erat sebab bahasa merupakan alat yang paling dasar dan paling utama dari filsafat. Filsafat bahasa membicarakan penyelidikan bahasa atau kata-kata itu secara mendalam, baik arti bahasa itu sendiri maupun dalam koneksitas nya dengan semua bahasa.

f. Filsafat Hukum

Filsafat Hukum adalah filsafat yang membicarakan mengenain hukum secara filsafat. Oleh karna itubidang hukum mempunyai persoalan yang khusus yang tidak dijumpai didalam filsafat secara umum. Filsafat yang ikut campur tangan dalam bidang hukum yang paling menonjol adalah logika dan etika, yang senantiasa bertalian dengan soal-soal hukum.

g. Filsafat Budi

Adalah pemikiran filsafat mengenai gejala-gejala mental yang secara eksklusif melibatkan mahluk-mahluk yang mempunyai kesadaran. Filsafat Budi digambarkan oleh para ahli sebagai cabang filsafat khusus yang bersangkutan dengan sifat dasar kesadaran atau mampu mempunyai kesadaran dan dengan semua gejala-gejala itu. Ada yang beranggapan bahwa filsafat budi ini sama dengan etika, walaupun disadari bahwa etika jangkauan nya lebih luas dibandingkan filsafat budi. Tetapi filsafat budi di khusus kan pada kesadaran mental dalam menghadapi apa saja.

h. Filsafat Politik

Filsafat Politik adalah cabang filsafat khusus yang bersangkutan dengan kehidupan politik serta hakikat asal mula, dan nilai dari negara. Menurut Lusiyo dan Yuwono filsafat politik ialah cabang filsafat yang bersangkutan dengan kehidupan politik tentang asal mula, hakikat, dan nilai dari suatu Negara. Pengertian secara umum politik ialah mencakup semua hal yang bersangkutan dengan negara, contoh nya: struktur dan fungsi dari pemerintah, pelaksanaan kontrol terhadap negara dan juga kegiatan-kegiatan politis. Menurut nya pengertian diatas dapat dimengerti bahwa bidang politik berhubungan erat dengan etika, ontologi, psikologi, dan sosiologi.

i. Filsafat Agama

(16)

arti nya mengabdi. Amaenurut The Liang Gie filsafat agama adalah suatu pemeriksaan yang reflektif, kritis dan arti kepercayaan yang terlibat dalam agama.

2.5 Objek Filsafat

Menurut Surajiyo objek filsafat adalah suatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentikan pengetahuan. Objek filsafat dibagi menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal.

a. Objek Material Filsafat

Objek material filsafat, yaitu suatu bahan yang menjadi tujuan penelitian atau pembentukan pengetahuan. Boleh juga objek material adalah hal yang di selidiki,dipandang,atau disorot oleh suatu disiplin ilmu.Dalam hal ini surajyo dengan mengutip beberapa pemikir mengemukakan sebagai berikut:

1. Mohamad noor syam berpendapat, “para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dapat di bedakan atas objek materil atau objek materiil filsafat;segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, Baik materil kongkrit, phisis maupun non materil abstrak dan psikis.

2. Poedjawijatna berpendapat, jadi objek material filsafat ialah ada dan yang mungkin ada. Dapat di katakan bahwa objek filsafat yang kami maksud objek materialnya sama dengan objek material dari ilmu keseluruhannya.

3. Oemar Amir Hoesin berpendapat bahwa penyelidikan filsafat adalah karena manusia mempunyai kecenderungan hendak berpikir tentang segala sesuatu dalam alam semesta, terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada.

4. Louis O. Kaattoff berpendapat,”lapangan pekerjaan filsafat itu bukan main luasnya, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala seuatu apa saja yang ingin di ketahui manusia.

(17)

Menurut surajiyo problemsitas dalam kefilsafatan ada beberapa karakteristik, yaitu sebagi berikut:

1. Bersifat sangat umum. Artinya persoalan kefilsafatan dengan objek-objek khusus.

2. Tidak menyatakan fakta. Dengan kata lain persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang di hadapi dapat melampaui pengetahuan ilmiah.

3. Bersangkutan dengan nilai-nilai, artinya persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan pernilaian baik nilai moral,estetis,agama, dan sosial.

4. Bersifat kritis artinya, filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap konsep-konsep dan arti-arti yang biasanya diterima dengan begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis.

5. Bersifat Sinoptik artinya, persoalan filsafat yang mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membut kenyataan menjadi keseluruhan.

6. Bersifat Implikatif artinya, jika sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan muncul pesoalan baru yang saling berhubungan.

b. Objek Formal Filsafat

Menurt Ahmad Tafsir, Objek Filsafat ialah penyelidikan yang mendalam. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Menurut surajiyo objek fprmal ialah sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau dari mana suatu objek material itu disorot. Ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantara nya psikologi, antropologi, sosiologi dan lain-lain. Yang membedakan antara filsafatdengan ilmu lain terletak dalam objek material dan objek formal nya.

2.6 Faedah-Faedah dan Kegunaan Fisafat

(18)

mungkin terhadap masalah filsafat. Jika suatu permasalahan sudah diperiksa akan lebih mudah untuk kita mengadakan pemecahan sendiri. Agar menjadi efektif seorang filosof harus berfikir lebih dari orang lain agar dapat menghadapi muncul nya problem baru.

Faedah kedua dari filsafat adalah untuk menunjukan bahwa ide itu merupakan satu dari hal yang praktis di dunia. Ide-ide filosof mempunyai relevasi yang langsung dengan kejadian-kejadian hari ini.

Menurut Ahmad Tafsir sekurang-kurang nya ada 4 faedah yang mempelajari filsafat:

1. Agar terlatih berfikir secara serius

2. Agar mampu memahami filsafat secara mendalam 3. Agar mungkin menjadi filosof

4. Agar menjadi warga negara yang baik

Asmoro Achmadi merumuskan kegunaan mempelajari filsafat ialah:

a. Dengan belajar filsafat diharapkan akan dapat menambah ilmu pengetahuan, karna dengan bertambah nya ilmu pengetahuan akan bertambah pula wawasan pemikiran.

b. Dasar semua tindakan adalah ide. Ide-ide yang akan membawa manusia kearah suatu kemampuan untuk merentang kesadaran dalam segala tindakan . c. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kita semakin

ditantang dengan memberikan alternatifnya. Disisi lain apabila kita tidak berani menghadapi ilmu pengetahuan dan teknologi, akhirnya kita akan menjadi manusia terbelakang.

(19)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Poedjawijatna berpendapat bahwa filsafat itu berasal dari kata arab yang berhubungan langsung rapat dengan kata yunani, kata yunani nya hampir sama dengan apa yang di kemukakan oleh Harun Nasution yaitu Philosophia. Philosophia dibagi menjadi dua kata yaitu philo yang arti nya cinta dalam arti yang luas, dan sophia yang berarti kebijaksanaan dalam pengertian yang mendalam. Jadi dapat di simpulkan bahwa kata filsafat adalah untuk mencapai cinta pada kebijakan. Dari segi bahasa filsafat diartikan sebgai keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau yang mendalam untuk menjadi bijak.

Beberapa ciri berfikir kefilsafatan dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Radikal, artinya berfikir sampai keakar-akar nya sehingga sampai pada hakikat atau permasalahan yang dipirkan hingga selesai.

b. Bertanggung jawab, artinya seorang yang berfilsafat harus berfikir sekaligus bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran nya itu sendiri dan terhadap hati nurani nya sendiri.

(20)

d. Koheren dan konsisten, artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir logis serta tidak mengandung kontradiksi.

e. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus berkoneksitas secara teratur dan terkandung adanya maksud dan tujuan tertentu.

f. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas. Pemikiran filsafat itu boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, akni bebas dari prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius.

g. Konprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan merupakan untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Baharudin, Muhammad, 2013, Dasar-Dasar Filsafat, Harakindo Publishing, Bandar Lampung.

Kattsoff, Louis O.. ELEMENT OF PHILOSOPHY, atau PENGANTAR FILSAFAT, Terj. Soemargono, Soejono. Yogyakarta: TIARA WICAKSANA YOGYA. 1987.

Suriasumantri, Jujun S.. 2010. FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data yang dirilis oleh Baznas Kota Pekanbaru menyebutkan bahwa jumlah mustahik zakat yang telah mendapat distribusi dana zakat adalah sebanyak

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, guru sebagai salah satu unsur yang berperan penting dalam proses pembelajaran harus mampu memilih media,

Setelah berjalan lancar dan berkembang pesat sehingga usaha KAFE JOWO tidak bisa dijalankan oleh tim pengusul sendiri, maka akan dilakukan kerjasama

merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi IBA terhadap induksi akar adventif tanaman sambung nyawa menggunakan eksplan daun dalam

Berdasarkan hassil analisis data dengan menggunakan rekonstruksi kromosom dan uji Chi-square (X 2 ) didapatkan hasil bahwa pada persilangan antara Drosophila melanogaster strain ♂m

Penggunaan metode inkuiri sebagai upaya untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan dengan mengacu kepada minat peserta didik dengan mengangkat

Untuk mengumpulkan data penulis menggunakan teknik sebagai berikut :.. Telaah pustaka; yaitu dengan menghimpun sejumlah literatur yang diperlukan untuk penyusunan penelitian