NOTOSUMAN
DI SEBUAH DESA KECIL YANG BERNAMA DESA MANCINGAN HIDUPLAH SEORANG PEMUDA YANG CERDIK DAN AHLI BELA DIRI. LELAKI ITU BERNAMA NOTOSUMAN.
Notosuman : Ha, ha, ha.. selama ini belum ada yang bisa mengalahkanku. Banyak orang yang mengaku pintar, ternyata hanya isapan jempol belaka. (Tiba-tiba, Notosuman terdiam sejenak dengan duduk bersila).
Notosuman : Tapi, jika nanti ada orang yang lebih pandai dari aku, aku harus bagaimana?
Kuingat nasihat bapakku, (“Di atas langit masih ada langit” diucapkan narator)
Apa itu benar?
TIBA-TIBA, ANGIN BERTIUP KENCANG DAN SEMAKIN KENCANG
Notosuman : Aaah...aaah, ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa anginnya begitu seperti badai. Tubuhku...tubuhku..., aaaahhhh
(Berhentinya angin itu disertai datangnya seorang lelaki dengan wajah tenang mendekati Notosuman).
Notosuman : Hei, siapa kamu? Dari mana kamu? Damar : Aku adalah Damar. Asalku tak bernama.
Notosuman : Kamu aneh. Namamu juga aneh. (berputar-putar mengelingingi lelaki itu dengan muka penuh selidik)
Damar : Bukan aku yang aneh. justru kamu yang aneh. Notosuman : Apa? Kamu menantangku! (muka memerah)
Damar : Aku tidak menantangmu. Tapi, kamu terlalu sombong. (meninggalkan Notosuman)
Notosuman : Kalau begitu, Hadapilah aku. (Berusaha menyerang Damar. Namun, sebelum menjangkau tubuh Damar, tiba-tiba angin bertiup kencang hingga mengempaskan tubuh lelaki itu)
NOTOSUMAN MERINGIS KESAKITAN. DISAAT IA MENCOBA BANGUN ITULAH, ADA KETAKUTAN DALAM DIRINYA . “DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”
(Narator)
Notosuman : Tunggu ... Jangan pergi
Damar : Percuma aku berbincang dengan pemuda angkuh sepertimu (melanjutkan langkahnya)
Notosuman : Tunggu, tunggu... aku mengaku kalah. Ilmu apa yang kamu punya Damar : (Berhenti) Ha, ha, ha. Aku tidak punya ilmu apa-apa.
Notosuman : (bersujud) Kalau begitu, izinkan aku menjadi muridmu? (Damar terdiam tidak menjawab)
Kenapa terdiam? Aku mohon, jadikan aku muridmu. Aku ingin memperdalam ilmuku. (memohon)
Damar : Aku hanya punya ilmu kehidupan. Notosuman : Ilmu kehidupan? Apa maksudnya? Damar : Jangan banyak bertanya.
Notosuman : Lalu, aku harus melakukan apa?
Damar : Ikuti aku. Kita akan mencari ilmu kehidupan di setiap tempat yang kita datangi.
Notosuman : Baiklah.
NOTOSUMAN MENGIKUTI LELAKI ITU YANG BERJALAN MENINGGALKANNYA. MEREKA MENYUSURI JALAN SETAPAK. TIBA-TIBA ADA SEEKOR ULAR YANG
MENGHADANG.
Notosuman : (Melompat dan pasang kuda-kuda) Hei, ada pengganggu rupanya. Damar : Jangan lukai ular itu. Dia masih ingin hidup. Kita menghindar saja. Ayo.. Notosuman : Tapi, Guru ...
Damar : Jangan kotori tanganmu dengan membunuh makhluk yang kecil. Satu lagi, panggil saja aku Damar. (Notosuman terdiam)
MEREKA MELANJUTKAN PERJALANAN. TIBA-TIBA HUJAN TURUN SANGAT LEBAT DAN PETIR MENYAMBAR-NYAMBAR. MEREKA BERDIRI DIPINGGIR JALAN
DENGAN BERTEDUH DI BALIK PEPOHONAN.
Suraya : Ha..ha..ha, ha..ha..ha.., rupanya ada dua manusia yang mengantarkan hartanya untukku. (mendekati dengan senyum beringas)
Notosuman : Beraninya kau (Notosuman memasang kuda-kuda. Tak mau kalah, lelaki kekar itu menyerang Notosuman)
Damar : Cukup. Ah, (Pukulan lelaki itu mengenai tubuh Damar) Notosuman : Kau tidak apa-apa? (panik)
Suraya : Ha, ha,ha, ayo serahkan uang kalian.
Damar : Sebelum kau minta, aku akan memberikan uang ini padamu. Ini, ambillah!
Notosuman : Apa-apan Ini! (Notosuman menahan tangan Damar. Damar pun menampiknya.)
Suraya termenung ketika ingin mengambil uang itu. Terlihat ragu. Damar : Ayo, ambillah?
Suraya : Aku..., aaaahh. Damar : Kenapa tidak jadi?
Suraya : Tidak. Kamu terlalu baik. Kau membuatku malu.
Damar : Tidak usah malu. Jika kamu butuh untuk makan anak dan istrimu, ambillah seperlumu. (Damar memberikan uang itu kepadanya.)
Suraya : Tidaaak.
Damar : Manfaatkan uang ini untuk berdagang. Janganlah kamu merampok lagi. Notosuman : Uang sebanyak itu kamu berikan? Seharusnya, kita hajar saja dia.
DENGAN SEGALA KEKESALAN, NOTOSUMAN MENGIKUTI LANGKAH DAMAR YANG BERLALU DARI TEMPAT ITU TANPA BERKATA-KATA SEDIKITPUN. HINGGA
TIBALAH DI SEBUAH KOTA YANG RAMAI.
Damar : Di sinilah kamu akan dapat ilmu kehidupan. Notosuman : Hah, di sini?
Damar : Jangan banyak bertanya.
Pengemis 1 : (Dua pengemis yang pincang dan buta mendekat)
Kasihanilah saya, Tuan? Sudah dua hari saya tidak makan. Lihatlah saudaraku yang sakit-sakitan ini. (menengadahkan tanggannya ke arah dua pemuda itu)
Notosuman : Ini... ambillah? (Sebelum pengemis mengambil uang dari tangan Notosuman, Damar berkata)
Damar : Apakah bapak benar seorang laki-laki? (nada mengejek)
Pengemis : Sudah pasti, aku seorang laki-laki. Lihat, Badanku masih gagah. (melepaskan tongkatnya, kemudian membusungkan dadanya sambil mondar-mandir)
Damar : Sayang, Bapak buta. Jadi, tidak terlihat begitu gagah. Pengemis 1 : Siapa bilang aku buta. (membuka kaca matanya)
Lihat mataku, tidak kalah dengan matamu bukan?
NOTOSUMAN TERCENGANG, NAMUN DAMAR TETAP TENANG
Damar : Seharusnya, Bapak masih bisa bekerja kan?
(Pengemis baru menyadari telah terlena dengan kata-kata Damar. Mukanya memerah...)
Pengemis 1 : aaakuu
Damar : Jangan menurunkan derajad bapak sendiri dengan menjadi seorang pengemis.
Pengemis 2 : Huk, huk, huk, (pengemis 2 ambruk dan pingsan. Pengemis 1 segera menolongnya. Notosuman ikut panik)
Notosuman : Bangun ... bangun, Pak. Bawa saja ke Tabib! Aku yang bayar. ( Tiba-tiba ditarik oleh Damar)
Notosuman : Ada apa denganmu? (Nada tinggi) Kamu tidak punya perasaan. Dia sekarat!
Damar : Dia hanya pura-pura.
Notosuman : Cukup. Apa ini? Sejahat-jahatnya aku, tapi masih punya hati nurani. Sedangkan kamu tidak punya perasaan.
DAMAR TIDAK MENJAWAB. DIA PERGI BEGITU SAJA. NOTOSUMAN PUN MENGIKUTINYA.
Damar : Belilah roti pada kakek itu?
(Tanpa menjawab, notosuman segera mendekati lelaki tua yang sedang berjualan beberapa roti.)
Notosuman : Kek, beli dua roti. Kakek : Iya, Nak.
Notosuman : Harganya berapa? Kakek : Satunya dua sen, Nak.
Notosuman : Mahal sekali ini. Roti begini saja harganya dua sen. Ya sudah, dua sen dapat dua ya?
Kakek : Maaf, Nak. Kalau dua sen, belum dapat.
Notosuman : Apa? Ya sudah kalau tidak boleh. Aku tidak jadi beli. (berbalik ) Kakek : Tunggu, Nak. (terdiam sejenak) Ya sudah, ambillah.
Notosuman : Nah, gitu dong. Ini uangnya.(Menyerahkan uang seribu rupiah)
Kakek : Ini kembaliannya, Nak. (Damar mengambil uang kembalian dari tangan Notosuman)
Damar : Uang ini kami berikan untuk kakek. Semoga bermanfaat. (Notosuman terkejut)
Kakek : Tidak, Nak. Ini bukan hak kakek. Uang dua sen inilah rezeki kakek. Bukan uang itu. (menolak)
Damar : Kalau begitu, gantilah uang ini dengan dagangan kakek? Notosuman : Kau...(terlihat tambah kesal)
Kakek : ...(bingung)
Damar : Tolong ambilkan, Kek?
Kakek : Ini, Nak. Terima kasih (muka bahagia)
Damar : Sekarang, roti ini sudah menjadi milik kami. Bolehkah aku minta tolong, Kek?
Kakek : (memandang bingung) Kalau kakek bisa, kakek akan membantu kamu? Apa itu, Nak?
Damar : Tolong sampaikan amanah ini. Berikan roti-roti ini untuk anak dan cucu kakek di rumah. (memberikan bungkusan itu kepada kakek)
Kakek : Tapi...
Damar : Bawalah, kek...
NOTOSUMAN TIDAK BERGERAK SEDIKITPUN. OTAKNYA SEMAKIN PANAS SELARAS DENGAN KEKESALANNYA
Notosuman : Tunggu, aku mau bicara.
Damar : Ada apa?
Notosuman : Kau bilang ada apa. Kamu ini orang macam apa? Damar : Hei, apa yang salah?
Notosuman : Kamu masih tanya? Kenapa kamu malah menolong kakek itu?
Damar : Karena kakek itu membutuhkan uang. Inilah kunci ilmu hidup yang kita cari.
Notosuman : Ilmu apa? Aku tanya sekali lagi. Ilmu apaaa? Pura-pura bodoh ketika ada orang yang sekarat. Orang sehat malah ditolong.
Damar : Kamu salah.
Notosuman : Kalau begitu, tunjukkan kebenaran seperti apa yang kamu maksud? Ular, perampok, pengemis, dan kakek itu? Jangan-jangan, kamu menipuku?
Damar : Istighfar, sesali ucapanmu!
Notosuman : Sekarang berlagak saleh, tadi sangat kejam, pengecut, dan bermuka dua.
Damar : Ternyata hatimu masih kosong. Emosi telah membutakan hati dan penglihatanmu.
Ingatkah kamu kejadian yang telah kita lewati?
Soal ular, kita tidak boleh membunuh makhluk kecil seperti itu.
Sementara, pengemis-pengemis itu adalah pembohong, mereka bermuka topeng.
Notosuman, Justru kakek itulah yang butuh bantuan. dia miskin, tapi tidak mau dikasihani. Tak kau lihatkah cekungan di perut kurusnya?
Tapi, sayang. Itu tak terlihat olehmu. Emosimu telah menutup semua kebenaran itu.
Itulah yang ingin aku ajarkan, tentang kesabaran, kete..liti..an, kehati-hati...an, dan ke... ikh...la...san.
(Bruk)