POLITIK/KEBIJAKAN PENJAJAH BELANDA PADA PENERAPAN HUKUM ISLAM DI NUSANTARA
Tugas Mata Kuliah Politik Hukum Islam
Dosen Pengampu;
Dr. Dahlam Tamrin, M.Ag
Oleh:
AHKAM RIZA KAFABIH
NIM: 15781025
M. ABDUL HAKIM
NIM: 15781026
PROGRAM MAGISTER AL-AHWAL AL-SYAHSIYYAH
PASCASARJANA
UNIVERISTAS ISLAM NEGRI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai dengan kehadiran Organisasi Dagang Belanda di Hindia Timur, atau yang lebih dikenal dengan VOC. Kedatangan Belanda di Indonesia memberikan dampak yang kurang baik terhadap eksistensi hukum Islam yang telah dirintis dan berkembang sejak era kesultanan di Indonesia
Hukum Islam yang berlangsung cukup lama, di hapus pada pemerintah kolonial Belanda dan menggantinya dengan hukum Belanda. Hukum syari’at hanya dibatasi untuk bidang-bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti, nikah, tala’, ruju’, dan lainnya. Namun, penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka. Akibatnya, VOC pun memberikan kebijakan dan peraturan tertentu terkait penerapan hukum Islam di Nusantara
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana dampak kedatangan VOC di Indonesia?
2. Bagaimana Perkembangan hukum Islam pada masa penjajahan Belanda? 3. Bagaimana latar belakang adanya teori tentang hukum Islam pada masa
penjajahan Belanda?
BAB II PEMBAHASAN
A. Dampak Kedatangan VOC di Indonesia
Kesultanan-kesultanan sebagaimana tercatat dalam sejarah menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang berlaku sepertihalnya kesultanan Malaka, Banjar1 dan lainnya. Penetapan hukum Islam sebagai hukum positif di
setiap kesultanan tersebut tentu saja menguatkan pengamalannya yang memang telah berkembang di tengah masyarakat muslim masa itu. Fakta-fakta ini dibuktikan dengan adanya literatur-literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama nusantara pada sekitar abad 16 dan 17. Dan kondisi terus berlangsung hingga para pedagang Belanda datang ke kawasan Nusantara.
Pada akhir abad ke-16 atau tepatnya tahun 1596 organisasi perusahaan dagang Belanda (VOC) merapatkan kapalnya di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Kedatangan belanda di Indonesia memberikan suatu dampak yang kurang baik. Hukum Islam yang bermazhab Syafi’i yang berlangsung cukup lama, di hapus pada pemerintah kolonial Belanda dan menggantinya dengan hukum belanda. Hukum syari’at hanya dibatasi untuk bidang-bidang keluarga seperti nikah, tala’, ruju’, dan yang sejenisnya. Namun, penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka.2
Pada mulanya kedatangan Belanda (yang beragama Kristen Protestan) ke Hindia Belanda tidak ada kaitannya dengan masalah (hukum) agama, namun pada perkembangan selanjutnya, berkaitan dengan kepentingan penjajahan. pada akhirnya mereka tidak bisa menghindari terjadinya
1 Mufti yang terkenal pada saat itu ialah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kitab fikih karya
Arsyad yang cukup terkenal adalah Sabil al-Muhtadin li Tafaqquh fi Amr ad-Din, yang pada dasarnya merupakan sarah dari kitab Sirathal Mustaqim karay Nuruddin Arraniri. Guna mengefektifkan pelaksanaan hukum Islam di Kesultanan Banjar dan di masyarakat, maka diperlukan adanya lembaga yang khusus mengurusi dan menampung permasalahan pemberlakuan hukum Islam tersebut. Oleh karena itu Syekh Arsyad mengajukan saran untuk dibentuk Mahkamah Syari’ah dan Jabatan Mufti. Lihat, Warkum Sumirto, Perkembangan Hukum Islam Di Tengah Dinamika Sosial Politik Di Indonesia (Malang: Bayumedia, 2005), 29.
2 Daud Rasyid dkk, Penerapan syariat Islam di Indonesia antara peluang dan tantangan (Jakarta:
persentuhan dengan masalah hukum yang berlaku bagi penduduk pribumi. Sehubungan dengan berlakunya hukum adat bagi bangsa Indonesia dan hukum agama bagi masing-masing pemeluknya.3
Maksud kedatangan Belanda di Indonesia semula untuk berdagang, namun kemudian halauannya berubah untuk menguasai kepulauan Indonesia. Untuk mencapai maksud tersebut, pemerintah Belanda memberi kekuasaan kepada VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk mendirikan benteng-benteng dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja di Nusantara. Karena hak yang diperolehnya itu, VOC mempunyai dua fungsi, pertama sebagai pedagang dan kedua sebagai badan pemerintahan. Untuk memantapkan pelaksanaan kedua fungsi itu, VOC mempergunakan hukum Belanda yang dibawanya. Untuk daerah-daerah yang dikuasainya. VOC membentuk badan-badan peradilan untuk bangsa Indonesia kala itu .Namun, oleh karena susunan badan peradilan yang disandarkan pada hukum Belanda itu tidak dapat berjalan dalam praktik, maka VOC membiarkan lembaga-lembaga asli yang ada dalam masyarakat berjalan terus seperti keadaan sebelumnya. VOC terpaksa harus memperhatikan hukum yang hidup dan diikuti oleh rakyat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam statuta Jakarta tahun 1642 disebutkan bahwa mengenai kewarisan warga Indonesia yang beragama Islam harus dipergunakan hukum Islam yakni hukum yang dipakai oleh rakyat sehari-hari.4
Perkembangan hukum Islam di Indonesia pada masa penjajahan Belanda dapat dilihat ke dalam dua bentuk. Pertama adanya toleransi pihak belanda melalui VOC yang memberikan ruang yang cukup luas bagi perkembangan hukum Islam. Kedua adanya intervensi Belanda terhadap hukum Islam dengan menghadapkannya pada hukum adat.
Organisasi VOC karena mengalami kebangkrutan, pada tanggal 31 Desember 1799 dibubarkan. Setelah kekuasaan VOC berakhir dan digantikan oleh Belanda, maka seperti yang terlihat kemudian, sikap Belanda
berubah-3 Daud Rasyid dkk, Penerapan syariat Islam di Indonesia antara peluang dan tantangan (Jakarta:
Globalmedia, 2004), 55.
ubah terhadap hukum Islam. Setidaknya perubahan sikap Belanda itu dapat dilihat dari tiga sisi:
1. Menguasai Indonesia sebagai wilayah yang memiliki sumber daya alam yang cukup kaya.
2. Menghilangkan pengaruh Islam dari sebagian besar orang Islam dengan proyek Kristenisasi.
3. Keinginan Belanda untuk menerapkan apa yang disebut dengan politik hukum yang sadar terhadap Indonesia. Maksudnya, Belanda ingin menata dan mengubah kehidupan hukum di Indonesia dengan hukum Belanda.
Menurut H.J Benda,5 pada akhir abad ke-19 banyak orang Belanda
berharap untuk dapat menghilangkan pengaruh Islam dari sebagian besar warga Indonesia dengan berbagai cara, dan diantaranya melalui proses Kristenisasi. Harapan itu didasarkan pada anggapan tentang superioritas agama Kristen terhadap agama Islam, dan sebagian lagi berdasarkan kepercayaan bahwa sifat sinkretik agama Islam di pedesaan Jawa akan sangat berpengaruh terhadap lancarnya proses kristenisasi di Indonesia, jika dibandingkan dengan mereka yang berada di negara-negara muslim lainnya. Banyak orang Belanda yang berpendapat bahwa pertukaran agama penduduk indonesia akan menguntungkan negeri Belanda, karena penduduk pribumi yang mengetahui eratnya hubungan agama mereka dengan agama pemerintahnya, setelah mereka masuk Kristen akan menjadi warga negara yang loyal lahir dan batin. Pendapat ini didukung oleh teori yang berlaku pada waktu itu yang menyatakan bahwa hukum mengikuti agama yang dipeluk seseorang. Kalau ia beragama Kristen, maka hukum Kristenlah yang berlaku baginnya, dan seterusnya.
B. Penerapan Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda
Pada tanggal 25 Mei 1760, Belanda menerbitkan peraturan Resolutie der Indische Regeering yang kemudian dikenal dengan Compendium Freijer. Melalui peraturan ini, dalam peraturan tersebut Belanda hanya mengakui berla-kunya hukum Islam dalam bidang kekeluargaan (perkawinan dan kewarisan)
saja dan menggantikan kewenangan lembaga-lembaga peradilan Islam yang dibentuk oleh para raja atau sultan dengan peradilan buatan Belanda dengan hakim-hakim Belanda dibantu oleh para penghulu qadhi Islam.
Untuk membatasi ruang gerak ulama dalam mengembangkan hukum Islam, dikeluarkan Keputusan Raja tanggal 4 Februari 1859 No, 78 yang menugaskan kepada Gubernur Jendral untuk mencampuri masalah agama. Bahkan, harus mengawasi gerak-gerik para ulama bila dipandang perlu demi kepentingan ketertiban keamanan. Untuk melaksanakan tugas itu pemerintah Belanda membentuk suatu komisi di bawah ketua Mr. Scholten van Dad Haarlem.6
Pada tahun 1882 terbentuklah peradilan Agama yang menjadi sebuah institusi yang mengurusi masalah di bidang perkawinan, kewarisan, hibah, sedekah dan wakaf. Sebelum menjadi sebuah institusi, peradilan agama masih berbentuk perorangan yang hakimnya dipegang oleh para penghulu atau ahli agama. Dengan di bentuk peradilan Agama menjadi sebuah institusi, jelaslah bahwa pemerintah Belanda mengakui bahwa hukum Islam (godsdiengtige Wetten) berlaku bagi orang Indonesia yang beragama Islam.7
Politik hukum pemerintah kolonial Belanda membagi lima buah tatanan peradilan pada waktu itu:8
1. Tatanan peradilan gubernemen, yang meliputi seluruh daerah Hindia Belanda;
2. Di bagian-bagian Hindia Belanda, dimana rakyatnya dibiarkan menyelenggarakan peradilannya sendiri, di samping hakim-hakim gubernemen terdapat juga hakim-hakim peribumi, yang mengadili menurut tatanan peradilan pribumi;
3. Di dalam kebanyakan daerah swapraja di samping tatanan peradilan gubernemen terdapat juga tatanan peradilan swapraja itu sendiri (Zelfbestuurrechtspraak);
6 Warkum Sumirto, Perkembangan Hukum Islam Di Tengah Dinamika Sosial Politik Di Indonesia
(Malang: Bayumedia, 2005), 38.
7 Sumirto, Dinamika Sosial Politik Di Indonesia., 40.
8 R Soepomo, Sistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia II ( Pradnya Paramita, 2002),
4. Selanjutnya terdapat tatanan peradilan agama. Pengadilan agama terdapat, baik di bagian-bagian Hindia Belanda di mana semata-mata ada peradilan gubernemen maupun di daerah-daerah di mana peradilan agama merupakan bagian dari peradilan pribumi atau di dalam daerah-daerah swapraja sebagai bagian dari peradilan swapraja itu;
5. Akhirnya dalam kebanyakan daerah terdapat juga peradilan desa di dalam masyarakat desa.
C. Latar Belakang Munculnya Teori
Islam telah diterima oleh bangsa Indonesia jauh sebelum penjajah datang ke Indonesia. Waktu penjajah Belanda dating ke Indonesia, (Hindia Belanda), bangsa Indonesia telah menyaksikan kenyataan bahwa di Hindia Belanda telah menganut sistem hukum, yaitu agama yang dianut di Hindia Belanda, seperti hukum Islam, Hindu Budha, dan Nasrani serta hukum adat bangsa Indonesia. Berlakunya hukum islam bagi sebagian besar penduduk Hindia Belanda, berkaitan dengan mnculnya kerajaan-kerajaan Islam setelah runtuhnya Majapahit pada sekitar tahun 1581. Menurut C. Snouck Hurgonje, pada abad ke-16 di Hindia Belanda (nusantara) sudah muncul kerajaan Islam, seperti Mataram, Banten dan Cirebon, yang berangsur angsur mengisalamkan seluruh penduduknya.9
Pada mulanya kedatangan Belanda yang notabene beragama Kristen Protestan ke Indonesia tidak ada kitannya dengan masalah hukum (agama), namun pada perkembangan selanjutnya, berkaitan dengan kepentingan penjajah, akhirnya mereka tidak bisa menghindari persentuhan masalah hukum dengan penduduk pribumi. Berhubungan dengan masalah hukum adat di Indonesia serta hukum agama bagi masing-masing pemeluknya,munculah beberapa teori-teori hukum diantaranya ialah teori receptio in complexu dan teori receptie yang muncul pada masa kolonialisme Hindia Belanda.
1. Teori Receptio in Complexu
9 C. Snouck Hurgronje, De Islam In Nederlands Indi, terj. S. Gunawan, Islam di Hindia Belanda
Teori Receptio in Complexu ini, dipelopori oleh Lodewijk Willem Christian van den Berg tahun 1845-1925.10 Teori receptio in Complexu menyatakan bahwa bagi setiap penduduk berlaku hukum agamanya masing-masing. Bagi orang Islam berlaku penuh hukum Islam sebab ia telah memeluk agama Islam. Teori Receptio in Complexu ini telah diberlakukan di zaman VOC sebagaimana terbukti dengan dibuatnya berbagai kumpulan hukum untuk pedoman pejabat dalam menyeleaikan urusan-urusan hukum rakyat pribumi yang tinggal di dalam wilayah kekuasaan VOC yang kemudian dikenal sebagai Nederlandsch Indie. Cotohnya, Statuta Batavia yang saat ini desebut Jakarta 1642 menyebutkan bahwa sengketa warisan antara pribumi yang beragama Islam harus diselesaikan dengan mempergunakan hukum Islam, yakni hukum yang dipergunakan oleh rakyat sehari-hari. Untuk keperluan ini, D.W Freijer menyusun buku yang memuat hukum perkawinan dan hukum kewarisan Islam dan sebagai pegangan para hakim dalm memutuskan perkara.11
Materi teori in complexu, dimuat dalam pasal 75 RR (regeringreglement) tahun 1855. Pada pasal 75 ayat 3 RR berbunyi: “oleh hakim indoesia itu hendaklah diberlakukan undang-undang agama dan kebiasaan penduduk indonesia. Jadi pada masa teori ini hukum Islam belaku bagi orang Islam. Pada masa ini keluarlah stblt. 1882 no 152 tentang pembentukan peradilan agama (peristerrad) di samping pengadilan Negri
(landraad), yang sebelumnya didahului dengan penyusunan kitab yang berisi
himpunan hukum Islam, pegangan para hakim, seperti mogharer code pada tahun 1747, compendium clootwijk pada tahun 1795, dan compedium frijer tahun 1761.12
2. Teori Receptie
10 Nama aslinya Lodwijk Willem Christian Van Den Berg, seorang ahli hukum Islam, politikus,
dan penasihat pemerintah Hindia Belanda Untuk Bahasa Timur Dan hukum Islam. Sayuti Thalib, Receptio A Contrario (Jakarta: Bina Aksara, 1982), 15.
11 Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007),
1-2.
12 Bustanul Arifin, Budaya Hukum Itu Telah Mati (Jakarta: Kongres Umat Islam Indonesia, 1998),
Dalam menghadapi perkembangan hukum islam di Indonesia, pada mulanya pemeintah kolonial Belanda meneruskan kebijaksanaan yang telah dilaksanakan oleh VOC, mereka tidak menganggap bahwa hukum islam adalah suatu ancaman yang harus ditakuti. Atas usul Van den Berg dengan teori receptie in complexu yang berkembang dan diyakini kebenarannya oleh pakar-pakar hukum pemerintah colonial Belanda maka dibentuklah Peradilan Agama Indonesia. Kondisi sebagaimana tersebut di atas tidak dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang lama karena pemerintah Kolonial Belanda mengubah pendiriannya tentang pemberlakuan hukum islam di Indonesia.13
Perubahan pendirian pemerintah Kolonial Belanda ini akibat usul Snouck Hurgronje dengan teorinya yang terkenal dengan teori receptie. Akibat teori ini perkembangan hukum Islam menjadi terhambat karena pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan baru yang membatasi berlakunya kewenangan peradilan agama.14
Teori Receptie dipelopori oleh Christian Snouck Hurgronje dan Cornelis van Volenhoven pada tahun 1857-1936. Teori ini dijadikan alat oleh Snouck Hurgronye agar orang-orang pribumi jangan sampai kuat memegang ajaran Islam dan hukum Islam. Jika mereka berpegang terhadap ajaran dan hukum Islam, dikhawatirkan mereka akan sulit menerima dan dipengaruhi dengan mudah oleh budaya barat. Teori ini bertentangan dengan Teori Reception in Complexu. Menurut teori recptie, hukum Islam tidak secara otomatis berlaku bagi orang Islam. Hukum Islam berlaku bagi orang Islam jika sudah diterima atau diresepsi oleh hukum adat mereka. Maka karena itu, hukum adatlah yang menentukan berlaku tidaknya hukum Islam.15 Penerapan teori resepsi dimuat dalam pasal 134 ayat 2 IS (indische staatsregeling), stbl. Tahun 1929 sebagai berikut:
Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agam Islam, apabila hukum adat mereka menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan sesuatu ordonasi. Pemikiran Snouck Hurgronje tentang teori resepsi ini, sejalan dengan pendapatnya tentang pemisahan antara agama dan politik. Pandangannya itu sesuai dengan sarannya kepada pemerintah Hindia Belanda tentang politik Islam Hindia Belanda, dia menyarankan agar pemerintah Hindia Belanda bersifar netral terhadap ibadah agama dan bertindak tegas terhadap setiap kemungkinan perlawanan orang Islam fanatik. Islam dipandangnya sebagai ancaman yang harus dikekang dan ditempatkan di bawah pengawasan yang ketat.
Penerapan teori resepsi antara lain, pada tahun 1937 dengan stbl. 1937 no. 116, wewenang menyelesaikan hukum waris dicabut dari pengadilan agama dan dialihkan menjadi wewenang pengadilan negri. Alasan pencabutan wewenang pengadilan agama tersebut dengan alasan bahwa hukum waris Islam belum sepenuhnya diterima oleh hukum adat (belum diresepsi).
Upaya real yang dilakukan oleh pemerintah Belanda dalam menghambat pelaksanaan hukum Islam di Indonesia dapat dilihat dari beberapa bukti sebagai berikut:
a. Sama sekali tidak memasukkan hudud dan qishas dalam bidang hukum pidana. Hukum pidana diberlakukan dan diambil langsul dari Wetboek van Strafrect dari Nederland yang diberlakukan sejak januari 1919 (Staatsblad 1915 No. 732).
b. Dalam bidang tata negara, ajaran Islam mengenai hal tersebut dihancurkan sama sekali. Pengkajian terhadap ayat-ayat suci Al-Qur‘an yang memberikan pelajaran agama dan penguraian hadits dalam bidang politik tentang kenegaraan atau ketatanegaraan dilarang.
Islam diusahakan untuk tidak berlaku. Sehubungan dengan hal itu, diambil langkah-langkah;
1) Menanggalkan wewenang Peradilan Agama di Jawa dan Madura, serta Kalimantan Selatan untuk mengadili waris,
2) Memberi wewenang memeriksa perkara waris kepada
landraad,
3) Melarang penyelesaian dengan hukum Islam jika di tempat adanya perkara tidak diketahuai isi Hukum Adat.
D. Pengaruh Kebijakan Kolonial Belanda Terhadap Pendidikan Islam
Selama tiga setengah abad Belanda menjajah wilayah Nusantara, berbagai macam kebijakan dan pendekatan telah dilakukan oleh Belanda dalam wilayah jajahannya, yang umumnya kebijakan mereka merugikan masyarakat secara umum. Menjelang dan awal abad XX ada beberapa kebijakan Belanda di Indonesia yang secara signifikan yaitu:16
a) Politik Etis
Diberlakukan tahun 1901, politik balas budi, sehingga adanya kebijakan politik Belanda kepada Indonesia sebagai jajahannya, dengan kata lain politik ini adalah sistem yang diberlakukan Belanda untuk membangun negara jajahannya
Cikal bakal politik Etis berdasarkan pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Ratu Belanda Wilhelmina menjelang akhir tahun 1901, diantara pokok-pokok pikirannya; de nieuwe koers de koloniale politiek (arah baru yang akan ditempuh oleh politik penjajahan).
Secara konsep politik Etis sangat baik karena adanya keberpihakan kepada kaum pribumi. Namun dalam pelaksanaannya kolonial Belanda bekerjasama dengan kaum liberal (pemegang saham), tetap mengeksplotir daerah jajahannya untuk kepentingan ekonominya.
Dalam menjalankan politik Etis Belanda menerapkan trilogy program,
meliputi: edukasi (pendidikan), irigasi (pengairan)
dan transmigrasi (pemindahan penduduk dari daerah padat ke daerah perkebunan jawa). Disamping trilogi program tersebut, penjajah Belanda menerapkan prinsip assosiasi, asimilasi, dan unifikasi.
Tetapi betapapun kekhawatiran yang timbul, agaknya kepentingan dan pertimbangan politik lebih mereka utamakan. karena itu pelaksanaan politik Etis secara murni, sedikit banyaknya memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang menyangkut kelanjutan politik kolonialis mereka. Diantara pertimbangan itu adalah pertama, memilih sistem pendidikan yang dapat memenuhi tuntunan moral politik Etis, tapi juga dapat mendukung
kepentingan politik penjajahannya. kedua, berusaha memenuhi bertanggung jawab untuk mendidik dan mencerdaskan rakyat yang mayoritas muslim dan disamping itu juga berusaha meredam kekuatan yang mungkin timbul dari pengaruh fanatisme keagamaan mereka.17
b) Ordonansi Guru/Sekolah Liar
Sehubungan dengan berdirinya madrasah dan sekolah agama yang diselenggarakan oleh kalangan Islam pembaru, agaknya kekhawatiran pemerintah tersebut cukup beralasan. Semula memang pemerintah membiarkan kehidupan islam pada batas-batas tertentu, sepanjang tidak menggangu kehadiran Belanda, sambil mengembangkan sistem persekolahan pada pengetahuan dan keterampilan duniawi, yaitu pendidikan umum; sebagai pencerminan dari sikap pemerintah Belanda untuk tidak mencampuri lebih jauh masalah Islam.
Tetapi setelah melihat perkembangan lebih lanjut, seperti peningkatan jumlah madrasah dan sekolah-sekolah swasta sebagai institusi pendidikan diluar sistem persekolahan pemerintah, kalangan pemerintah semakin hati-hati terhadap sikap netral mereka selama ini. Masalah Islam yang menjadi sumber kekhawatiran pemerintah tersebut agaknya tidak terbatas adanya institiusi pendidikannya saja. Lebih jauh dari itu, mereka memandang kemungkinan infiltrasi pengaruh Islam tersebut di sekolah-sekolah swasta lainnya.
Untuk menjaga dan melestarikan eksistensi hukum Islam di Indonesia, maka adanya lembaga pendidikan hukum Islam di Indonesia adalah hal yang wajib. Mengetahui hal ini, tentu Belanda menerapkan kebiakan-kebijakan terkait pendidikan Islam di Indonesia, dengan tujuan mengatur perkembangan hukum Islam di Indonesia.
Sebagai tindakan pencegahan, dilakukan pengawasan terhadap sekolah-sekolah liar. sejak adanya perubahan sikap tersebut, dalam rangka pengawasan dikeluarkan ordonansi tanggal 28 Maret 1923 Lembaran Negara no 136 dan 260. aslinya berupa pembatasan kebebasan mengajar bagi
guru sekolah swasta.Sistem ini tidak memberi keuntungan bagi perkembangan institusi pendidikan Islam. Bahkan dalam ordonansi yang dikeluarkan tahun 1932, dinyatakan bahwa semua sekolah yang tidak di bangun pemerintah atau tidak memperoleh subsidi dari pemerintah, diharuskan minta izin terlebih dahulu, sebelum sekolah itu didirikan.18
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Kedatangan VOC di Indonesia memiliki dampak yang tidak baik terhadap tatanan hukum Islam di Indonesia, sebab VOC turut ikut campur dalam urusan internal Indonesia, yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam perkembangan hukum Islam di Indonesia.
Pelaksanaan hukum Islam di Indonesia pada masa Penjajahan Belanda dikekang oleh peraturan-peraturan yang dibuat oleh Belanda. Taktik politik Belanda dalam mengendalikan hukum Islam di Indonesia dengan meregulasi pergerakannya dalam suatu lembaga menyebabkan terjadinya kemunduran perkembangan hukum Islam di Indonesia
Dalam perjalanannya mengatur perkembangan hukum Islam, Belanda memakai teori Receptio in Complexu, yang menyatakan bahwa hukum Islam diterima sepenuhnya oleh orang Indonesia. Kemudian teori ini dianggap kurang menguntungkan, lalu berkembanglah teori Receptie, yang meruakan antitesis dari teori Receptio in Complexus.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul. Budaya Hukum Itu Telah Mati. Jakarta: Kongres Umat Islam Indonesia, 1998.
Sumirto, Warkum. Perkembangan Hukum Islam Di Tengah Dinamika Sosial Politik Di Indonesia. Malang: Bayumedia, 2005.
Rasyid, Daud dkk, Penerapan syariat Islam di Indonesia antara peluang dan tantangan. Jakarta: Globalmedia, 2004.
Soepomo, R. Sistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia II. Pradnya Paramita, 2002.
Hurgronje, C. Snouck. De Islam In Nederlands Indi, terj. S. Gunawan, Islam di Hindia Belanda Jakarta: Bhratara, 1983.
Thalib, Sayuti. Receptio A Contrario. Jakarta: Bina Aksara, 1982.
Manan, Abdul. Reformasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007.