• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Pendataan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat tahun 2014, terdapat 15.096 orang penyandang tunarungu/wicara. Data ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menerima berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya.

Andreas Dwijosumanto (1990:1) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Selain itu, Mufti Salim (1984:8) menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan lahir batin yang layak.

Kekurangan akan pemahaman bahasa lisan atau tulisan seringkali menyebabkan anak tunarungu menafsirkan sesuatu secara negatif atau salah dan ini sering menjadi tekanan bagi emosinya. Tekanan pada emosinya itu dapat menghambat perkembangan pribadinya dengan menampakan sikap menutup diri, bertindak agresif, atau sebaliknya menampakkan kebimbangan dan keragu-raguan. Dari segi sosial pada umumnya lingkungan melihat mereka sebagai seseorang yang kurang mampu berkarya. Dengan penilaian lingkungan yang demikian, anak tunarungu merasa benar-benar kurang berharga dan dipandang sebelah mata. Pandangan semacam ini sangat merugikan anak tunarungu. Karena adanya pandangan ini biasanya dapat kita lihat sulitnya anak tunarungu memperoleh lapangan pekerjaan. Kesulitan memperoleh lapangan pekerjaan di

(2)

2

masyarakat menimbulkan kecemasan, baik dari anak itu sendiri maupun keluarganya.

Gangguan pendengaran sering berdampak pada kemampuan verbal seseorang sehingga mereka menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Pada umumnya anak tuarungu mempelajari bahasa isyarat di Sekolah Luar Biasa (SLB). Di Indonesia ada dua jenis bahasa isyarat yang digunakan. Pertama, Sistem Bahasa Isyarat Indonesia atau SIBI. Kedua, Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO. Dalam perkembangannya SIBI tidak dapat digunakan dalam komunikasi sehari- hari penyandang tunarungu karena penerapan kosakata yang tidak sesuai dengan aspirasi dan nurani kaum tunarungu, terlebih penerapan bahasa yang terlalu baku dengan tata bahasa kalimat bahasa Indonesia yang membuat kesulitan kaum tunarungu untuk berkomunikasi. Berbeda dengan BISINDO yang belakangan ini sedang diperjuangkan oleh Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN). BISINDO merupakan bahasa ibu dan bahasa isyarat alami budaya asli Indonesia yang dengan mudah dapat digunakan dalam pergaulan isyarat kaum tunarungu sehari- hari.

Perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasi anak tunarungu terutama yang tergolong tunarungu total tentu tidak mungkin sampai pada penguasaan bahasa melalui pendengarannya, melainkan harus melalui pengelihatannya (visual) dan memanfaatkan sisa pendengarannya. Untuk memaksimalkan perkembangan kemampuan bahasa dan komuniksi anak tunarungu diperlukan media visual yang dapat mempermudah anak untuk belajar. Saat ini sulit sekali menemukan buku pembelajaran bahasa isyarat denga n harga murah dan praktis. Buku yang sering ditemui biasanya kamus bahasa isyarat yang harganya cukup mahal sehingga anak tunarungu dari keluarga yang kurang mampu tidak sanggup membelinya.

Media gambar adalah suatu gambar yang berkaitan dengan materi pela jaran yang berfungsi untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa. Media gambar ini dapat membantu siswa untuk mengungkapkan informasi yang

(3)

3

terkandung dalam masalah sehingga hubungan antar komponen dalam masalah tersebut dapat terlihat dengan lebih jelas. Terdapat banyak bentuk media gambar salasatunya adalah buku ilustasi. Buku ilustrasi dapat digunakaan untuk memaksimalkan kemampuan bahasa dan komunikasi anak pada saat belajar di sekolah ataupun dirumah. Melalui perancangan buku ilustrasi bahasa isyarat Indonesia ini anak tunarungu dapat lebih mudah mempelajari bahasa isyarat yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dari latar belakang diatas, dapat diurai menjadi beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Tingginya angka penyandang tunarungu di Jawa Barat.

2. Anak tunarungu kesulitan berkomunikasi sehingga masyarakat berpandangan negatif terhadap anak tunarungu.

3. Anak tunarungu tidak percaya diri dalam bersosialisasi.

4. Masyarakat sebagai komunikan tidak mengerti pesan yang disampaikan oleh anak tunarungu.

5. Minimnya buku pembelajaran bahasa isyarat.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasar pada latar belakang masalah diatas, dibuatlah rumusan masalah yaitu bagaimana merancang buku ilustrasi bahasa isyarat Indonesia untuk anak-anak penyandang tunarungu ?

1.4 Batasan Masalah

Batasan masalah pada topik tugas akhir ini mencak up tentang pengenalan dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang digunakan oleh penyandang tunarungu pada lingkungan suku sunda.

(4)

4

Penelitian dilakukan di Jawa Barat meliputi Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung dari bulan Januari hingga April 2017. Perancangan akan dilakukan dari bulan Mei hingga Juli 2017.

1.5 Tujuan Perancangan

Tujuan penelitian dan perancangan dari tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Anak penyandang tunarungu dapat lebih mudah mempelajari bahasa isyarat Indonesia.

2. Penyandang tunarungu dapat lebih percaya diri dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan masyarakat.

3. Mengembalikan eksistensi bahasa isyarat Indonesia (BISINDO).

1.6 Metode Penelitian

Dalam proses pembuatan tugas akhir ini, penulis menggunakan beberapa metode yang dapat membantu dan mempermudah pengerjaan laporan tugas akhir. Penggunaan metode digunakan untuk pengambilan data dan analisis karya. Adapun metode yang digunakan adalah :

1. Studi Pustaka

Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur- literatur, catatan-catatan, dan laporan- laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 1988:111).

Penulis melakukan studi pustaka terhadap beberapa buk u ilustrasi bahasa isyarat yang biasa digunakan sebagai rujukan pembelajaran di SLB, buku psikologi tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus, buku-buku teori ilustrasi terkait topik penelitian serta buku-buku-buku-buku sejenis yang sudah ada.

(5)

5

2. Observasi

Dalam buku metode penelitian kualitatif oleh (Jonathan Sarwono, 2006:224). Observasi merupakan kegiatan pencatatan sistematik kejadian-kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal- hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan.

Penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap cara berkomunikasi penyandang tunarungu di berbagai SLB yang ada di Jawa Barat dengan latar belakang suku sunda.

3. Wawancara

Dalam buku metode penelitian kualitatif oleh (Jonathan Sarwono, 2006:224). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi, yang tidak dapat diperoleh melalui pembicaraan secara umum terarah (general

interview guide approach). Wawancara merupakan percakapan dengan

maksud- maksud tertentu untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan memperoleh data yang diperlukan (Moleong, 2000: 135).

Wawancara akan dilakukan terhadap orang-orang dan organisasi yang memiliki informasi tentang objek penelitian, diantaranya Gerakan Kesesjahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), para guru pengajar SLB, psikolog dan intansi pemerintahan terkait yaitu Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

4. Kuisioner

Kuesioner merupakan sebuah set pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian dan tiap pertanyaan merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dalam menguji hipotesis. (Nazir, 2009: 203).

Dalam hal ini kuisioner akan dibagikan kepada dua jenis responden yaitu anak tunarungu dan orang dengar.

(6)

6

5. Analisis Matrix

Analisi matrix adalah juxtaposition atau membandingkan dengan cara menjajarkan data visual sejenis untuk dinilai menggunakan satu tolak ukur yang sama untuk mencari perbedaan. Matrix menjadi salah satu metode analisis yang sangat bermanfaat dan sering d igunakan untuk menyampaikan sejumlah besar informasi dalam bentuk ruang yang padat. Matrix merupakan alat yang rapi baik bagi pengolahan informasi maupun analisis (Soewardikoen, 2013:50-51)

Analisis Matrix dipakai untuk membandingkan beberapa data visual berupa buku bahasa isyarat dengan menggunakan teori yang relevan.

(7)

7 1.7 Kerangka Perancangan Ga mbar 1.1 Kerangka Perancangan KONS EP PERANCANGAN 1. Ilustrasi 2.Warna 3. Layout 4. Ti pografi 5. Visual Story Telling KONS EP PERANCANGAN

1. Ilustrasi 2.Warna 3. Layout 4. Ti pografi 5. Visual Story Telling KONS EP PERANCANGAN

1. Ilustrasi 2.Warna 3. Layout 4. Ti pografi 5. Visual Story Telling KONS EP PERANCANGAN

1. Ilustrasi LATAR B ELAKANG

Tingginya angka penyandang tunarungu di Jawa Ba rat dan min imnya buku pembela jaran bahasa isyarat.

IDENTIFIKAS I 1. Kesulitan berko munikasi

2. Tidak percaya diri 3. Misscommunication

4. Ketersedian Bu ku

DATA

1. Ju mlah penyandang tunarungu 2. Psiko logi A BK 3. Pendidikan ABK

4. Ca ra berko munikasi ana k tunarungu 5. Bu ku pela jaran bahasa isyarat

ANALIS IS 1. Studi Pustaka 2. Observasi 3. Wawancara 4. Kuisioner 5. Analisi Matrix KONSEP PERANCANGA N 1. Ilustrasi 2.Warna 3. Layout 4. Tipografi 5. Visual Story Te lling

(8)

8

1.8 Pembabakan

Agar laporan tugas akhir tersusun secara baik dan benar dibuat sistematika pembabakan laporan tugas akhir sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan mengenai fenomena dan latar belakang masalah yang terjadi, identifikasi masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujan penelitian dan metode penelitian yang akan penulis lakukan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab II berisi tentang landasan teori mengenai topik tugas akhir yaitu terkait psikologi anak berkebutuhan khusus, cara dan pola komunikasi anak berkebutuhan khusus serta teori-teori studi visual yang akan diterapkan pada perancangan buku ilustrasi bahasa isyarat indonesia.

BAB III DATA DAN ANALISIS

Pada Bab 3 berisi tentang analisis data dari 3 aspek yaitu aspek imaji, aspek pembuat dan aspek pemisra yang didapatkan melalui metode penelitian. Bab ini berisi data visual, hasil wawancara, data hasil kuisioner dan analisis matrix hingga hasil rangkuman penarikan kesimpulan.

BAB IV KONSEP DAN HASIL PERANCANGAN

Bab ini berisi tentang konsep dan hasil perancangan buku ilustasi sistem isyarat bahasa Indonesia yang dibuat berdasarkan temuan-temuan dan hasil analisis yang didapat pada bab data dan analisis.

BAB V PENUTUP

Pada bab terakhir akan memaparkan kesimpulan dari hasil dari penelitian serta saran bagi buku ilustrasi bahasa isyarat Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

KAJIAN ISI, BAHASA, KETERBACAAN, DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BUKU TEKS BAHASA INDONESIA EKSPRESI DIRI DAN AKADEMIK.. UNTUK KELAS XI SMA/MA/SMK/MAK SEMESTER 1

Dari gambar 4.4 dapat dilihat bahwa pada diameter pulley motor sebesar 7cm dan diameter pulley alternator 7 cm akan didapatkan arus pengisian yang keluar dari

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Fatimah Zahrah, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : Pengaruh Diversifikasi Perusahaan dan Praktik Manajemen Laba terhadap

daerah daerah yang sangat jauh letaknya dari awal agama islam diajarkan, sedangkan dari sisi keburukannya adalah, dalam penaklukan yang dilakukan dinasti umayah,

Nabi Saw mengajarkan supaya memilih kata-kata yang santun ketika berbicara kepada siapa pun, apalagi kepada murid-murid yang mendengarkan penyampaian ilmu dari seorang guru..

Seperti halnya yang terjadi pada proses pengolahan limbah cair dalam IPAL PG Sindanglaut yang sedang berjalan tidak berlangsung dengan baik karena sebagian besar bakteri

Besarnya doping elektron pada bagian basis, kolektor, emiter serta mole fraction (x) germanium pada silikon pada bagian basis serta ukuran dan besamya nilai

Resort hotel di Ambarawa di desain dengan menggunakan penerapan arsitektur kolonial yang berkiblat pada bangunan bersejarah yang ada di Ambarawa yaitu Benteng Fort Willem dan