3
Penelitian kombinasi (mixed methods) merupakan pendekatan penelitian yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Pendekatan ini melibatkan asumsi-asumsi filosofis, aplikasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta pencampuran kedua pendekatan tersebut dalam satu penelitian. Penelitian ini lebih kompleks dari sekadar mengumpulkan dan menganalisis dua jenis data karena melibatkan juga fungsi dari dua pendekatan secara kolektif sehingga kekuatan penelitian ini secara keseluruhan lebih besar jika dibandingkan dengan penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif (Creswell, 2014).
Sugiyono (2014) juga menyatakan bahwa metode penelitian kombinasi adalah suatu metode penelitian yang mengkombinasikan atau menggabungkan antara metode kuantitatif dan kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan obyektif. Dalam pelaksanaannya metode kualitatif dan kuantitatif yang digunakan tersebut dapat digunakan secara bergantian. Pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif, sehingga ditemukan hipotesis, selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuantitatif. Kedua metode penelitian tidak dapat digabungkan dalam waktu bersamaan, tetapi hanya teknik pengumpulan data yang dapat digabungkan.
Adapun tujuan dari metode penelitian kombinasi yaitu berisi tujuan penelitian secara keseluruhan, informasi mengenai unsur penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif, dan alasan atau rasionalisasi mencampur dua unsur tersebut guna meneliti suatu isu atau masalah penelitian. Secara umum terdapat empat tujuan dari penggunaan metode penelitian campuran, yaitu sebagai berikut:
1. Untuk lebih memahami isu atau masalah penelitian dengan mengtriangulasikan data kualitatif yang berupa perincian-perincian deskiriptif dengan data kuantitatif yang berupa angka-angka.
2. Untuk mendapatkan hasil-hasil statistik kuantitatif dari suatu sampel tertentu, kemudian menindaklanjutinya dengan mengobservasi atau mewawancarai sejumlah individu guna memperoleh penjelasan lebih mendalam tentang hasil statistik yang sudah didapatkan.
3. Untuk mengeksplorasi suatu pandangan partisipan (kualitatif) untuk selanjutnya dianalisis berdasarkan sampel yang luas (kuantitatif).
4. Untuk mengungkap hak-hak dan kecenderungan-kecenderungan dari suatu kelompok atau individu-individu yang tertindas.
Terdapat dua desain dalam penelitian kombinasi, yaitu sequential design dan
concurrent design. Sequential design terdiri dari tiga macam, yaitu sequential explanatory design, sequential exploratory design, dan sequential transformative design. Sedangkan concurrent design terdiri dari concurrent triangulation design, concurrent embedded design, dan concurrent transformative design.
1) Model Sequential
Metode ini dikatakan sequential, karena penggunaan metode dikombinasikan secara berurutan. Bila urutan pertama menggunakan metode kuantitatif dan urutan kedua menggunakan kualitatif, maka metode tersebut dinamakan kombinasi model sequential explanatory dan bila urutan pertama menggunakan metode kualitatif dan urutan kedua menggunakan metode kuantitatif, maka metode tersebut dinamakan metode penelitian kombinasi model sequential exploratory.
a. Sequential Explanatory Design
Metode penelitian kombinasi model sequential explanatory, dicirikan dengan pengumpulan data dan analisis data kuantitatif pada tahap pertama, dan diikuti dengan pengumpulan data dan analisis data kualitatif pada tahap ke dua, guna memperkuat hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tahap pertama. Berikut langkah-langkah penelitian desain sequential
Gambar 1. Tahapan penelitian desain sequential explanatory b. Sequential Exploratory Design
Metode ini sama dengan metode sequential explanatory, hanya dibalik, dimana pada metode ini pada tahap awal menggunakan metode kualitatif dan tahap berikutnya menggunakan metode kuantitatif. Bobot metode lebih pada metode tahap pertama yaitu metode kualitatif dan selanjutnya dilengkapi dengan metode kuantitatif. Kombinasi data kedua metode bersifat connecting (menyambung) hasil penelitian tahap pertama ( hasil penelitian kualitatif) dan tahap berikutnya ( hasil penelitian kuantitatif). Kelemahan dari metode ini adalah bahwa penelitian memerlukan waktu, tenaga, dan biaya lebih besar. Berikut langkah-langkah penelitian desain sequential exploratory.
Gambar 2. Tahapan penelitian desain sequential exploratory Masalah, Rumusan Masalah Landasan Teori dan Hipotesis Pengumpulan data dan analisis data kualitatif Hasil Pengujian Hipotesis Penentuan sumber data penelitian Pengumpulan dan analisis data Analisis data kuantitatif dan kualitatif Kesimpulan dan Saran Masalah dan
potensi Kajian teori
Pengumpulan dan analisis data Temuan hipotesis Populasi dan sampel Pengumpulan
data Analisis data
Kesimpulan dan saran Metode kualitatif: menemukan hipotesis
Metode kuantitatif : menguji hipotesis Metode kuantitatif, menguji hipotesis
Metode kualitatif, untuk membuktikan, memperdalam dan memperluas data kuantitatif
(Sugiyono, 2014)
c. Sequential Transformative Design
Model ini dilakukan dalam dua tahap dengan dipandu oleh teori lensa pada setiap prosedur penelitiannya. Tahap pertama bisa menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif dan dilanjutkan pada tahap berikutnya dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Teori lensa dikemukakan pada bagian pendahuluan proposal penelitian untuk memandu dirumuskannya pertanyaan penelitian untuk menggali masalah. Berikut langkah-langkah penelitian desain sequential transformattive.
Gambar 3. Tahapan penelitian desain sequential transformattive
2) Model Concurrent
Pada tipe concurrent (campuran) penggabungan dengan cara dicampur dalam waktu yang sama. Dalam hal ini metode kuantitatif/kualitatif digunakan untuk menjawab satu jenis rumusan masalah atau satu jenis pertanyaan penelitian. a. Concurrent Triangulation Strategy
Strategi ini merupakan stretegi yang paling familiar diantara model yang lain dalam metode kuantitatif/kualitatif/mixed methods. Dalam model ini, peneliti menggunakan metode kuantitatif dan kualiatif secara bersama-sama, baik dalam pengumpulan data maupun analisisnya, kemudian membandingkan data yang diperoleh, untuk kemudian dapat ditemukan mana data yang dapat digabungkan dan dibedakan.
Dalam model ini, penelitian dilakukan dalam satu tahap tetapi dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersama-sama. Bobot antara metode kuantitatif dan kualitatif yang digunakan dalam penelitian mestinya seimbang, namun dalam praktiknya bisa metode yang satu bobotnya
KUAL kuan
Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan-dunia advokasi KUAN kual
Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan-dunia advokasi (Creswell, 2014)
lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Penggabungan data dilakukan pada penyajian data, interpretasi data dan pembahasan.
Gambar 4. Tahapan Penelitian concurrent triangulation strategy b. Concurrent Embedded Strategy
Metode penelitian yang mengkombinasikan penggunaan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif secara simultan/bersama-sama (atau sebaliknya), tetapi bobot metodenya berbeda. Pada model ini, ada yang metode primer dan ada yang metode sekunder. Metode primer digunakan untuk memperoleh data yang utama, dan metode sekunder digunakan untuk memperoleh data guna mendukung data yang diperoleh dari metode primer.
Masalah kuantitatif Landasan teori Rumusan hipotesis Pengumpulan data kuantitatif Analisis data kuantitatif Masalah kualitatif Memperkuat peneliti sebagai human instrument Pengumpulan data kualitatif Analisis data kualitatif Masalah sejenis Sumber data Meta analisis Kesimpulan memperkuat, memperlemah, bertentangan (Sugiyono, 2014)
Gambar 5. Metode penelitian kombinasi concurrent embedded, model metode kuantitatif sebagai metode primer
Gambar 6. Metode penelitian kombinasi concurrent embedded, model metode kualitatif sebagai metode primer
Masalah dan rumusan masalah
Landasan teori dan hipotesis
Pengumpulan dan analisis data KUANTITATIF Pengumpulan dan analisis data
kualitatif
Analisis data KUAN dan kual Penyajian data hasil penelitian Kesimpulan dan Saran Fokus dan rumusan masalah Kajian Teori Pengumpulan dan analisis data KUALITATIF Pengumpulan dan analisis data kuantitatif Analisis data KUAL dan kuan Penyajian data hasil penelitian Kesimpulan dan Saran (Sugiyono, 2014) (Sugiyono, 2014)
c. Concurrent Transformative Strategy
Metode concurrent transformative merupakan gabungan antara model
triangulation dan embedded. Dua metode pengumpulan data dilakukan pada
satu tahap/fase penelitian dan pada waktu yang sama. Bobot metode bisa sama dan bisa tidak sama. Penggabungan data dapat dilakukan dengan
merging, connecting, atau embedding ( mencampur dengan bobot sama,
menyambung, dan mencampur dengan bobot tidak sama).
Gambar 7. Metode penelitian concurrent transformattive
B. Karakteristik Latar Belakang Penelitian Kombinasi
Karakteristik dari penelitian kombinasi yaitu memprioritaskan salah satu di antara pendekatan kuantitatif atau pendekatan kualitatif yang mencerminkan prioritas dari penelitian tersebut. Pada penelitian kombinasi tidak ada pembatasan masalah yang mendasar. Ruang lingkup masalah yang dikaji dalam penelitian lebih luas karena menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sehingga cenderung tidak ada batasan masalah selain keterbatasan waktu, dana, tenaga, dan teori-teori. Pada penelitian kombinasi, sumber persoalan penelitiannya berdasarkan fakta lapangan serta teori-teori penelitian sebelumnya. Latar belakang pun harus memuat penelitian-penelitian sebelumnya yang juga membahas masalah tersebut, beberapa kekurangan-kekurangan dalam penelitian-penelitian sebelumnya dan satu kekurangan yang membuat peneliti merasa perlu mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan untuk menutupi kekurangan dari masalah tersebut.
KUAN + KUAL Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan dunia
adovokasi
KUAN Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan dunia
adovokasi kual
C. Karakteristik Penulisan Rumusan Masalah Penelitian Kombinasi
Dalam rumusan masalah, pada penelitian kombinasi rumusan masalah kuantitatif dapat memadu untuk memperoleh data kualitatif, dan data kualitatif digunakan untuk menguji, memperdalam, dan memperluas data kuantitatif. Dengan demikian, jumlah rumusan masalah dalam penelitian kombinasi bisa jadi lebih banyak. Perumusan masalah dalam metode campuran, dengan mengingat metode campuran adalah gabungan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif, maka dalam merumuskan masalah mengikuti dan menyesuaikan pada ketentuan ke dua pendekatan tersebut. Beberapa panduan berikut ini, seperti dikemukakan Sarwono (2011) sebagai berikut.
(1) Penelitian metode campuran memerlukan dua jenis rumusan masalah yang mencerminkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Artinya dalam satu kajian diperlukan dua jenis rumusan masalah yang akan menuntun jalannya kedua penelitian tersebut, baik yang dilakukan secara bersamaan maupun berututan. (2) Jika penelitian dilakukan secara berurutan maka sebaiknya rumusan masalah
dibuat sesuai dengan urutannya, misal jika penelitian kuantitatif diikuti penelitian kualitatif, sebaiknya rumusan masalah penelitian kedua digunakan untuk mengelaborasi rumusan masalah yang pertama.
(3) Jika penelitian dilakukan bersamaan, maka sebaiknya rumusan masalah sudah sesuai dengan masing-masing karakteristik penelitian secara terpisah, misal rumusan masalah untuk tahap penelitian kuantitatif dimulai dengan kata: “Berapa besar hubungan antara x dan y” atau “berapa besar pengaruh x terhadap y?’. Sedang untuk rumusan masalah tahap penelitian kualitatif dapat dimulai dengan kata: “Apa, mengapa, dan bagaimana”.
D. Tata Cara Penulisan Bab II Penelitian Kombinasi
Bab II pada penelitian kombinasi terdiri dari kajian teori, kerangka berfikir, dan hipotesis. Dalam melakukan kajian teori, pada penelitian kombinasi teori memiliki fungsi dan peranan yang lebih luas, yaitu :
1) Menjelaskan variabel-variabel yang diteliti melalui pemberian definisi dan ruang lingkup yang diteliti.
2) Memprediksi, yaitu sebagai dasar dalam perumusan hipotesis.
3) Mengendalikan fenomena yang terjadi di lapangan atau situasi sosial.
4) Memberikan penjelasan terhadap hasil penelitian sehingga dapat memadu peneliti untuk memberikan saran agar situasi dan kondisi kebih baik daripada sebelumnya.
Jumlah teori yang digunakan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Kerangka berfikir yang baik menurut Sukaran (Sugiyono, 2015) memuat hal-hal berikut ini:
1) Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan
2) Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari. 3) Diskusi harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan antar
variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris, kausal atau interaktif. 4) Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk
diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka pikir yang dikemukakan dalam penelitian.
Setelah menyusun kerangka berpikir, selanjutnya menyusun hipotesis. Hipotesis digunakan jika menggunakan penelitian kuantitatif. Hipotesis yang dikemukakan dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
E. Metodologi Penelitian Kombinasi 1. Teknik Penarikan Sample
Teddlie dan Yu (2007) telah mengembangkan tipologi lima sampling metode campuran, yaitu:
1. Strategi Dasar; teknik sampling kualitatif dan kuantitatif dikombinasikan. 2. Sampling Konkuren; teknik sampling kualitatif dan teknik sampling
kuantitatif dikombinasikam menjadi prosedur-prosedur sampling yang independen atau diterapkan secara bersamaan seperti pada instrumen survey dengan respons tertutup maupun respons terbuka.
3. Sampling Sekuensial; sampel pada tahap kedua diambil untuk digunakan melengkapi sampel pada tahap pertama.
4. Sampling Multilevel; suatu sampling yang diterapkan pada 2 atau lebih unit analisis.
5. Sampling yang menerapkan bentuk kombinasi berdasarkan pada jenis metode campuran.
Onwuegbuzie dan Collins (Sarwono, 2011) mengemukakan bahwa dalam menentukan teknik penarikan sample mempertimbangkan (1) orientasi waktu kapan penelitian dilakukan (bersamaan atau berurutan), (2) hubungan sampel yang bersifat identik, paralel, bercabang, dan bertingkat. Setelah dua pertimbangan ditentukan, kemudian teknik penarikan sampel ditentukan, yaitu dengan menentukan desain dan ukuran sampel sesuai dengan hubungan sampel yang ditentukan. Berdasar pertimbangan dan teknik penarikan sampel tersebut, muncul model penarikan sampel seperti gambar berikut ini.
Orientasi Waktu Hubungan Sampel SkemaSampel
Sumber: Sarwono (2011) Gambar 8. Model Penarikan Sampel Onwuegbuzie dan Collins
Gambar 8. menunjukkan bahwa dalam menentukan teknik sampling penelitian metode campuran, langkah pertama harus dilihat bagaimana penelitian
Bersamaan waktunya Berurutan Paralel Identik Bercabang Bertingkat Paralel Identik Bercabang Bertingkat Memilih desain sampel dan ukuran sampel untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif
metode campuran tersebut akan dilakukan dalam kajian yang sama. Dasar yang harus diperhatikan adalah orientasi waktu dan pembobotan akan mendominasi salah satu pendekatan. Berdasarkan pertimbangan waktu akan menentukan, penelitian dilakukan secara bersamaam atau secara berurutan. Kemudian pertimbangan lainnya ialah relasi atau hubungan sampel. Onwuegbuzie dan Collins dalam Sarwono (2011) mengemukakan empat hubungan sebagai berikut.
(1) Relasi identik, menunjuk pada sampel yang sama digunakan untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam model ini peneliti menggunakan sampel yang sama saat yang bersangkutan menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam kajian yang sama.
(2) Relasi paralel, dimana sampel untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda tapi berasal dari populasi yang mempunyai kesamaan kepentingan. Dalam model ini peneliti mengambil sampel yang berbeda tetapi berasal dari populasi yang sama
(3) Relasi bercabang, dimana anggota yang sama yang dipilih sebagai sampel dalam penelitian pertama mewakili, dalam relasi ini anggota yang sama yang dipilih sebagai sampel dalam penelitian fase pertama mewakili subset dari orang-orang yang menjadi sampel yang dipilih untuk penelitian lainnya. (4) Relasi bertingkat, menggunakan dua atau lebih seperangkat sampel yang
ditarik dari berbagai penelitian yang berbeda dan berasal dari populasi yang berbeda.
Penentuan sampel dalam penelitian metode campuran adalah menyesuaikan dengan kaidah yang berlaku pada masing-masing pendekatan dan menyesuaikan dengan tujuan penelitian. Artinya ketika penelitian itu menghendaki data yang diperoleh dari penelitian kualitatif maka ukuran sampelnya berdasarkan kaidah/ketentuan ukuran sampel penelitian pendekatan kualitatif. Begitu juga, kalau data penelitian akan dijaring dengan penelitian kuantitatif maka ukuran sampel mengikuti ketentuan penelitian kuantitatif. Hal tersebut sama, kalau tujuan penelitian untuk generalisasi hasil penelitian ke tingkat populasi maka dipergunakan ukuran sampel yang berlaku dalam penelitian kuantitatif.
Terdapat pertimbangan pokok yang harus diperhatikan yaitu pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif umumnya sampel berukuran besar, karena ada aturan dalam penelitian ini jika sampel diambil semakin besar, maka hasil akan mencerminkan kenyataan (populasi). Sementara itu, dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif umumnya sampel yang digunakan berjumlah kecil. Karena pada penelitian jenis ini bukan jumlah yang diutamakan melainkan kualitas sampel yang memiliki informasi banyak terhadap masalah yang dikaji itu yang diutamakan.
2. Teknik Analisis Data
Pada tahapan analisis data dalam metode kombinasi sangatlah berhubungan dengan strategi yang dipilih. Analisis data bisa dilakukan berdasarkan pada pendekatan kualitatif (deskripsi dan analisis teks atau gambaran secara tematik) dan kuantitatif (analisis angka-angka secara deskriptif dan inferensial), atau antara dua pendekatan ini. Creswell (2012) menyebutkan beberapa analisis data pada
mixed method yaitu:
1. Transformasi data. Dalam strategi-strategi konkuren, peneliti bisa saja menghitung data kuantitatif atau sebaliknya peneliti juga dapat mengalifikasi data kuantitatif.
2. Mengeksplorasi outlier-outlier. Dalam strategi-strategi sekuensial, analisis data kuantitatif pada tahap pertama dapat menghasilkan kasus-kasus ekstrim dan outlier. Setelah analisis penliti dapat menindaklanjuti dengan wawancara kualitatif tentang kasus-kasus outlier tersebut untuk memperoleh penegtahuan tentang mengapa kasus ini berbeda/menyimpang dari sampel kuantitatif.
3. Membuat instrumen. Dengan menerapkan salah satu strategi sekuensial sebelumnya, kumpulkan tema-tema atau statemen tertentu tertentu dari partisipan pada tahap pertama, selanjutnya gunakan statemen tersebut sebagai item-item spesifik dan temanya sebagai skala-skla untuk membuat instrument survey kuantitatif. Pada tahap ketiga, cobalah
menvalidasi instrument tersebut dengan sampel yang representative dari populasi.
4. Menguji level-level ganda. Dengan menerapkan strategi embedded konkuren, lakukan survey (misalnya, pada kelompok-kelompok) untuk mengumpulkan hasil-hasil kuantitatif tentang sampel. Pada waktu bersamaan, lakukan wawancara kualitatif (seperti, pada individu-individu) untuk mengeksplorasi suatu fenomena berdasarkan pandangan individu-individu dalam kelompok-kelompok tersebut.
5. Membuat matriks/tabel. Dengan menerapkan salah satu strategi konkuren yang sudah dijelaskan sebelumnya, kombinasikan informasi-informasi yang diperoleh dari pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif kedalam bentuk matriks atau tabel.
F. Menulis Hasil Penelitian Kombinasi
Penulisan hasil penelitian kombinasi akan berbeda untuk setiap desainnya. Jika urutan pertama merupakan penelitian kuantitatif, maka tahap awal hasil penelitian merupakan hasil dari data-data kuantitatif. Hasil olah statisti ( uji normalitas, homogenitas) berdasar hipotesis ditulis dalam bentuk tabel kemudian disimpulkan apakah hipotesisnya ditolak atau diterima. Dilanjutkan dengan menunjukkan temuan penelitian berupa rumusan masalah serta hasil uji penelitian. Kemudian penulisan hasil penelitian tahap kedua yakni penelitian kualitatif. Memuat hasil analisis dari instrumen hasil tes, analisis yang lebih mendalam dari tes yang dilaksanakan. Jadi pada penelitian kombinasi, hasil penelitiannya yang ditulis pertama berdasar dari jenis penelitian apa yang digunakan pada tahap pertama dan selanjutnya.
G. Aplikasi Mixed Methods Research dalam Penelitian Pendidikan Matematika
Berikut beberapa contoh penerapan penelitian kombinasi pada pendidikan Matematika yaitu:
1. “Kemampuan Konstruksi Bukti dan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa pada Perkuliahan Struktur Aljabar Melalui Guided Discovery Learning Pendekatan Motivation to Reasoning and Proving Tasks”.
Penelitian ini menggunakan model sequential explanatory. Penelitian kuantitatif tahap pertama diarahkan untuk mengungkap adanya pengaruh faktor pembelajaran terhadap kemampuan siswa dalam konstruksi bukti, pemahaman bukti, dan berpikir kritis matematis. Temuan atas jawaban dari hipotesis penelitian tahap pertama merupakan modal awal bagi penelitian tahap kedua. Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mengungkap lebih mendalam dukungan
Guided Discovery Learning melalui Pendekatan Motivation to Reasoning and Proving Tasks terhadap aspek yang diamati. Adapun tahapan pelaksanaan
Dalam menentukan sampel, digunakan teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu tes, perangkat pembelajaran, angket, dan lembar observasi.
Pada pelaksanaan analisis data, data kuantitatif diperoleh melalui pekerjaan mahasiswa pada tes akhir. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas dosen dengan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran, serta angket yang disebarkan ke mahasiswa serta hasil wawancara antar dosen dan mahasiswa yang terpilih. Analisis data kuantitatif diarahkan untuk mengalisis kemampuan mahasiswa dalam tiga aspek yang diukur yakni kemampuan konstruksi bukti, pemahaman bukti dan berpikir kritis matematis. Data kuantitatif yang telah dikelompokkan berdasarkan model pembelajaran dan jenjang kemampuan awal mahasiswa, dilakukan pengujian persyaratan analisis statistik parametrik sebagai dasar dalam penggunaan jenis uji hipotesis. Bagian akhir dari analisis data kuantitatif diarahkan untuk mengetahui pengaruh interaksi secara bersama-sama antara model pembelajaran dan kemampuan awal mahasiswa.
Penelitian tahap kedua menggunakan metode kualitatif yang merupakan tindak lanjut dari penelitian tahap pertama. Kajian pendalaman (pemadatan) dilakukan melalui wawancara peneliti dengan sampel (partisipan) yang dipilih secara teoritis
(theoretical sampling), yakni pengambilan sampel bertujuan, berdasarkan kebutuhan data pendukung terhadap teori yang dikembangkan. Hasil penelitian kuantitatif dituliskan terlebih dahulu dilanjutkan pembahasan dari penelitian kuantitatif, kemudian menunjukkan hasil penelitian kualitatif serta pembahasannya. Karena penelitian ini menggunakan desain sequential
explanatory.
2. “Efektivitas Metode Problem Posing terhadap Self-Regulated Learning dan
Pemahaman Konsep Matematika Siswa SMP”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan metode problem posing dengan materi relasi dan fungsi efektif. Populasi penelitian ini adalah peserta didik di SMK Teknika Cisaat. Sampel diambil dengan teknik purposif, yaitu kelas X Otomotif -7 sebagai kelas eksperimen dan
kelas X Mesin -3 sebagai kelas kontrol. Variabel penelitian ini adalah aktivitas metode problem posing, pemahaman konsep dan Self-regulated learning. Metode penelitian yang diguanakan adalah mixed method dengan desain penelitiannya adalah tipe penyisip (The Embedded Design). Instrumen penelitiannya terdiri dari instrumen tes, yaitu tes pemahaman konsep dan non tes yaitu observasi, wawancara, Skala Likert Self-Regulated Learning. Data diolah dengan bantuan
software SPSS 16.0 dan Excel 2007. Analisis data menggunakan ANOVA dua
jalur dan uji regresi. Hasil penelitian aktivitas belajar dengan metode problem
posing menunjukkan kriteria baik. Pemahaman konsep matematika peserta didik
yang menggunakan metode problem posing lebih baik daripada metode ekspositori. Self-Regulated Learning peserta didik yang menggunakan metode
problem posing lebih baik dari metode ekspositori. Begitu pula dengan uji regresi
menunjukan adanya pengaruh positif antara metode problem posing terhadap pemahaman konsep begitu pula ada pengaruh positif antara SLR dengan pemahaman konsep. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan pembelajaran matematika dengan metode problem posing terhadap self-regulated learning dan pemahaman konsep merupakan pembelajaran yang efektif.