• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata

DEWAN EDITOR

Ketua:

Prof. Dr. Ir. I Ketut Budi Susrusa, M.S.

Anggota:

Prof. Dr. Ir. Dwi Putra Darmawan, M.P. Prof. Dr. Ir. Made Antara, M.S.

Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, S.U. Made Sarjana, SP., M.Sc.

EDITOR PELAKSANA:

Ketua:

Putu Udayani Wijayanti, SP., M.Agb.

Anggota:

A.A.A. Wulandira Sawitri Jelantik, SP, MMA. Ida Ayu Listia Dewi, SP., M.Agb.

Ni Luh Prima Kemala Dewi, SP., M.Agb.

Penerbit:

(3)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata Vol. 6, No. 3, Juli 2017 ISSN: 2301-6523

Daftar Isi

Strategi Pengembangan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) pada Kelompok Wanita Tani Karya Harum di Desa Karang Sidemen, Lombok Tengah

BAIQ RIA ASKINA, I WAYAN WINDIA, I GUSTI AYU AGUNG LIES ANGGRENI

326-335

Analisis Sistem Agribisnis Padi Sawah di Kawasan Ekowisata (Studi Kasus Subak Sembung, Desa Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara)

LISTIANA DEWI, DWI PUTRA DARMAWAN, I KETUT SUAMBA

336-345

Peranan Persepsi Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Pembelian dan Loyalitas Produk Hatten Wines

IDA AYU PUTU CITRA DEWI, I GUSTI AYU OKA SURYAWARDANI, PUTU UDAYANI WIJAYANTI

346-355

Peningkatan Penjualan Produk Brem Bali Dewi Sri pada PT Hatten Bali berdasarkan Strategi

Segmenting Targeting dan Positioning di Bali

PUTU WIDHIANTI LESTARI, MADE ANTARA, DEWA AYU SRI YUDHARI

356-367

Motivasi Anggota Kelompok Tani dalam Membudidayakan Tanaman Cabai (Kasus pada Kelompok Tani Catur Amerta Sari, Banjar Pura, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem)

I GEDE WAHYU WIDIARTHA, I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA, IDA AYU LISTIA DEWI

368-377

Analisis Faktor-Faktor yang Menentukan Kepuasan Kerja dan Loyalitas Karyawan (Studi Kasus di Perusahaan Kopi PT Golden Kirrin Internasional, Kabupaten Badung)

DESMAN ARIANTO SITINJAK, I GUSTI AYU OKA SURYAWARDANI, PUTU UDAYANI WIJAYANTI

378-386

Pemberdayaan Masyarakat Desa dengan Usaha Kuliner Tradisional pada Kelompok Boga Ganesha Kabupaten Buleleng

MADE SUDANA, I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA, NYOMAN PARINING

387-396

Pengembangan Kapasitas Subak Cuculan Sebagai Wahana Belajar Petani di Desa Pemogan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar

NANDA AGITA SAPUTRI, I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA, I MADE SARJANA

397-407

Analisis Risiko Usahatani Salak Organik di Desa Sibetan Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem

I GUSTI AYU AGUNG DEWI MAHAYANI, I KETUT BUDI SUSRUSA, I WAYAN BUDIASA

408-416

Evaluasi Dampak Program Optimalisasi Lahan (OPLA) dalam Budidaya Padi di Subak Selasih Desa Puhu Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar

I MADE PROMETEO SEPTIA CAHYADI, I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA, A.A.A WULANDIRA SDJ

417-424

Realisasi Bantuan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier kepada Subak (Kasus Program UPSUS PAJALE di Subak Margasengkala, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar)

I MADE WIRA ADI KESUMA, I DEWA PUTU OKA SUARDI, PUTU UDAYANI WIJAYANTI

425-432

Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) (Kasus Pengolahan Kacang Kace Canavalia pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung)

NI PUTU WULAN SUWARNINGMAS, I DEWA PUTU OKA SUARDI, I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA

433-440

Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi Sawah di Subak Sembung Desa Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara (Penerapan Analisis Stokastik Frontier)

NI MADE RIANA FITRI, DWI PUTRA DARMAWAN, I KETUT SUAMBA

(4)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata Vol. 6, No. 3, Juli 2017 ISSN: 2301-6523

Peran Modal Sosial dalam Membangun Jejaring Pemasaran Formalin Nabati dari Tanaman Lamtoro Berbasis Kelompok Tani (Kasus di Kelompok Tani Werdi Gopala Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali)

NI KETUT GAYATRI ADE PRATIWI AD, WAYAN SUDARTA, NI WAYAN SRI ASTITI

450-459

Hubungan Faktor Sosial Petani dengan Penerapan Teknologi Budidaya Padi Hibrida di Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo

DESYTA YUVITASARI SAPUTRI, I DEWA PUTU OKA SUARDI, IDA AYU LISTIA DEWI

(5)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

433 https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA

Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok

Wanita Tani (KWT)

(Kasus Pengolahan Kacang Kace Canavalia pada KWT Karang Sari

dan KWT Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan,

Kabupaten Klungkung)

NI PUTU WULAN SUWARNINGMAS, I DEWA PUTU OKA SUARDI, I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman Denpasar 80323

Email : [email protected] [email protected]

Abstract

The Role of Agricultural Extension in the Development of Women Farmers Group (KWT), (A Case on Kace Canavalia Bean Processing on the KWT of

Karang Sari and KWT of Merta Sari in the Village of Nyanglan, Sub-District of Banjarangkan, Regency of Klungkung

Agricultural extension is a non formal education conducted by farmers to change the behavior of farmers, so that farmers become more advanced. Effective communication can support the success of agricultural extension, more importantly is to change the attitude and behavior of agricultural communities so that they learn and want to apply the information provided by Agricultural Extension. The objective of the research was to identify the roles of agricultural extension officers in the promotion of Women Farmers Group, either their role as educator, information dissemination/innovator, facilitator, consultant, supervision, monitoring and evaluation. The research was conducted in the KWT of Karang Sari and Merta Sari, the location of the study was chosen by purposive sampling. Selection of respondents was by saturated sampling method in accordance with the number of members of KWT i.e. as many as 14 people, and by using descriptive qualitative analysis method, i.e. the research aimed to provide description and explanation of the variables studied. The findings of the research showed that the role of agricultural extension in the KWT guidance, especially in the processing of Canavalia bean at KWT Karang Sari and Merta Sari has been able to play well in carrying out their duties. Revenue of KWT member of respondent is still below the Minimum Wage of Regency / City (UMK), which is Rp. 1,839,750.00 per month. This means that the extension workers are expected to foster the group of women farmers in processing Canavalia bean to have a high selling value in order to create independence and creativity of farmers in innovating to develop processed Canavalia bean products.

Keywords: role, extension workers, Women Farmers Group, Processing of Kace Canavalia Beans

(6)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA 434

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pembangunan pertanian di Negara Indonesia masih terkendala oleh banyak faktor yang menyebabkan sulitnya para petani untuk berkembang, dibutuhkan fasilitator yang dilakukan oleh pekerja pengembangan masyarakat antara lain sebagai orang yang mampu membantu masyarakat agar masyarakat mau berpartisipasi dalam kegiatan bertani, orang yang mampu mendengar, memahami aspirasi masyarakat, mampu memberikan dukungan, dan mampu memfasilitasi kepada masyarakat.

Orang yang melakukan penyuluhan adalah petugas penyuluh pertanian. Petugas penyuluh pertanian tersebut merupakan petugas yang memiliki kompetensi di bidang pertanian. Kemampuan komunikasi yang baik oleh petugas penyuluh pertanian juga sangat dibutuhkan sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh petani. Penyuluh pertanian merupakan suatu usaha atau upaya mengubah perilaku petani dan keluarganya agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya. Tujuan penyuluhan tersebut untuk mengubah perilaku (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) petani, sehingga petani menjadi semakin maju dan berkembang.

Pembinaan usahatani melalui kelompok tani tidak lain adalah sebagai upaya percepatan sasaran. Petani yang banyak jumlahnya dan tersebar di pedesaan yang luas, sehingga dalam pembinaan kelompok diharapkan timbulnya cakrawala dan wawasan kebersamaan memecahkan dan merubah citra usahatani sekarang menjadi usahatani masa depan yang cerah dan tetap tegar. Kegiatan pembangunan pertanian di Indonesia banyak ditekankan melalui pemberdayaan sumberdaya manusia, upaya ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan pertanian yang antara lain dilakukan melalui pendekatan kelompok.

1.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi berbagai pihak, sebagai berikut.

1. Pemerintah sebagai salah satu masukan dan informasi pendukung atau pelengkap bagi dinas terkait dan sebagai rujukan pengambilan sikap untuk memutuskan suatu kebijakan dalam mengembangkan sektor pertanian dalam pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) khususnya dalam pengolahan kacang kace. 2. Penyuluh diharapkan dapat sebagai acuan dalam melaksanakan tugasnya pada

masa yang akan datang.

3. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah kelompok tani dalam rangka pembinaan dan pengembangan kelompok tani dipedesaan.

(7)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

435 https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA

1.3 Tujuan

1. Mengetahui peran penyuluh pertanian dalam pembinaan kelompok Wanita Tani dalam pengolahan kacang kace di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

2. Mengetahui pendapatan KWT dalam pengolahan kacang kace di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

2. Metode Penelitian

2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Kelompok Wanita Tani yang berada di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, pada bulan Mei hingga November 2016. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan yaitu (1) KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung merupakan kelompok tani binaan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Klungkung yang masih menjalankan program home industry dan (2) KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari di Desa Nyanglan Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung ini merupakan Kelompok Wanita Tani yang aktif dalam proses pengolahan kacang kace dan selalu menghasilkan produk olahan kacang yang baik dan memiliki kualitas yang tinggi sehingga sampai menembus pasaran dan memiliki nilai jual yang tinggi.

2.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif, sedangkan sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder.

2.3 Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu teknik wawancara, wawancara mendalam, dan dokumentasi.

2.4 Populasi, Responden, dan Informan Kunci

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung yang berjumlah 14 orang. Pengambilan responden menggunakan metode sampling jenuh dimana penetapan semua populasi ditetapkan sebagai responden.

2.5 Konsep Variabel , Indikator, Parameter, dan Skala Pengukuran

Konsep variabel penelitian ini memiliki beberapa indikator (edukasi, diseminasi informasi/inovasi, fasilitasi, konsultasi, supervisi, monitoring, dan evaluasi) yang kemudian diukur dengan parameter tertentu yang dapat menunjukan peran penyuluh pertanian dalam pembinaan Kelompok Wanita Tani.

(8)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA 436

2.6 Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun serta sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, kuesioner, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif (sugiyono, 2010). Jumlah variabel pada penelitian ini adalah 23 variabel dan terdiri dari tujuh indikator. Indikator-indikator tersebut diuraikan dalam bentuk pernyataan positif atau negatif, kemudian diberikan skor berdasarkan tanggapan responden terhadap pernyataan tersebut.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT)

Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam pengolahan kacang kace pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari. Mengetahui peranan penyuluhan tersebut digunakan beberapa indikator yaitu, peran penyuluh pertanian sebagai edukator, peran penyuluh pertanian sebagai diseminasi informasi/inovator, peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator, peran penyuluh pertanian sebagai konsultan, peran penyuluh pertanian sebagai supervisior, peran penyuluh pertanian sebagai monitoring, dan peran penyuluh pertanian sebagai evaluator. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran penyuluh pertanian termasuk kategori baik dengan pencapaian skor 3,90 dan pencapaian skor untuk masing-masing indikator seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1.

Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam Pengolahan Kacang Kace

No Indikator Pencapaian skor Kategori

1 Edukasi 3,96 Baik

2 Diseminasi Informasi/Inovasi 4,02 Baik

3 Fasilitasi 4,11 Baik

4 Konsultasi 4,04 Baik

5 Supervisi 4,17 Baik

6 Monitoring 3,39 Baik

7 Evaluasi 3,64 Baik

Peran Penyuluh 3,90 Baik

1. Peran penyuluh pertanian sebagai edukator

Edukasi, yaitu untuk memfasilitasi proses belajar yang dilakukan oleh para penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) atau stakeholders pembangunan yang lainnya. Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai edukator termasuk kategori baik dengan pencapaian skor 3,96. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai edukator, yang ditunjukkan oleh kemampuan menjelaskan mengenai proses pengolahan kacang kace, kemampuan menjelaskan

(9)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

437 https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA

mengenai proses pengemasan kacang kace, dan kemampuan menjelaskan mengenai proses pemasaran kacang kace.

2. Peran penyuluh pertanian sebagai diseminasi informasi/inovator

Diseminasi informasi/inovasi, yaitu penyebaran informasi/inovasi dari pihak luar. Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai diseminasi informasi/inovator termasuk kategori baik dengan pencapaian skor 4,02. Hal ini menunjukan bahwa penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai diseminasi informasi/inovator yang ditunjukkan oleh kemampuan dalam memberikan informasi mengenai proses pengolahan kacang kace, kemampuan dalam memberikan informasi mengenai cara pengemasan kacang kace, dan kemampuan dalam memberikan informasi mengenai proses pemasaran kacang kace.

3. Peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator

Fasilitasi atau pendampingan, yang lebih bersifat melayani kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh klien-nya. Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator termasuk kategori baik dengan pencapaian skor 4,11. penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai fasilitator dilihat dari segi memfasilitasi KWT dalam memasarkan produk olahan kacang kace, memfasilitasi KWT dalam hal peminjaman modal, memfasilitasi KWT dalam ketersediaan media alat bantu komunikasi, dan memberikan kesempatan berdiskusi dan bertatap muka. 4. Peran penyuluh pertanian sebagai konsultan

Konsultasi, yaitu membantu memcahkan masalah atau sekedar memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai konsultan termasuk kedalam kategori baik dengan pencapaian skor 4,04. Hal ini menunjukan bahwa penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai konsultan, yang ditunjukkan oleh kemampuan penyuluh dalam memberikan masukan serta saran mengenai proses pengolahan kacang kace, kemampuan penyuluh dalam memberikan masukan serta saran mengenai proses pengemasan kacang kace, dan kemampuan penyuluh dalam memberikan masukan serta saran mengenai proses pemasaran kacang kace.

5. Peran penyuluh pertanian sebagai supervisor

Supervisi atau pembinaan, yaitu upaya untuk bersama-sama client melakukan penilaian (self assesment), untuk kemudian memberikan saran alternatif perbaikan atau pemecahan masalah yang dihadapi. Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai supervisor termasuk kedalam kategori baik dengan pencapaian skor 4,17. Hal ini menunjukan bahwa penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai supervisor, dilihat dari segi memberikan penjelasan teknis tentang proses pengolahan kacang kace, memberikan penjelasan teknis tentang proses pengemasan kacang kace, dan memberikan penjelasan teknis tentang proses pemasaran kacang kace.

(10)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA 438

6. Peran penyuluh pertanian sebagai monitoring

Monitoring, yaitu aktifitas yang ditunjukkan untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kebijakan yang sedang dilaksanakan. Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai monitoring termasuk kategori baik dengan pencapaian skor 3,39. Hal ini menunjukan bahwa penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai monitoring dilihat dari segi kinerja kelompok wanita tani, proses pengolahan kacang kace, kualitas pengemasan kacang kace, menilai tingkat pemasaran dari produksi kacang kace.

7. Peran penyuluh pertanian sebagai evaluator

Evaluasi, yaitu kegiatan pengukuran dan penilaian yang dapat dilakukan pada sebelum (formatif), selama (on-going, pemantauan) dan setelah kegiatan selesai dilakukan (sumatif, ex-post). Berdasarkan tabel 1, peran penyuluh pertanian sebagai evaluator termasuk kategori baik dengan pencapaian skor 3,64. Hal ini menunjukan bahwa penyuluh mampu berperan dengan baik sebagai evaluator yang ditunjukan oleh melakukan evaluasi tentang pengolahan kacang kace, melakukan evaluasi tentang pengemasan kacang kace, dan melakukan evaluasi tentang pemasaran kacang kace.

3.2 Tingkat Pendapatan Pengolahan Kacang Kace pada Kelompok Wanita Tani (KWT)

Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta Sari dalam sehari memproduksi 150 kg olahan kacang kace. Hasil olahan dari kacang Kace di KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari dipasarkan ke Pasar Sukawati, Pasar Guwang, Pasar Klungkung, dan pengepul yang memiliki harga jual sebesar Rp 32.000,- per-Kg dan bahan mentah kacang kace atau koro dengan harga jual sebesar Rp 11.000,- per-Kg. Pendapatan yang diperoleh oleh KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari dari hasil penjualan kacang kace kurang lebih sebesar Rp 4.800.000,00 per hari dan angka tersebut tidak bisa dipastikan, karena dalam setiap hari produksi kacang kace tidak menentu karena KWT memproduksi kacang sesuai dengan pesanan.

Pendapatan anggota KWT memberikan kontribusi yang berarti bagi pendapatan keluarga anggota. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar pendapatan anggota KWT masih di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), yaitu Rp 1.839.750,00 per bulan. Pendapatan yang diterima oleh anggota KWT responden adalah berasal dari upah tenaga kerja pada masing-masing usaha kacang kapri/asin, dan kacang kace. Adapun upah tenaga kerja per-hari adalah sebesar Rp 50.000,00, dalam Satu bulan hari kerja rata-rata selama 20 hari, sehingga dalam satu bulan menerima upah kerja sebesar Rp 1.000.000,00.

(11)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

439 https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA

4. Simpulan dan Saran

4.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut.

1. Penyuluh Pertanian mampu berperan dengan baik membinaan Kelompok Wanita Tani dalam pengolahan kacang kace di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, namun dalam kegiatannya mengalami hambatan-hambatan dalam proses pengolahan kacang kace, proses pengemasan kacang kace, dan proses pemasaran kacang kace.

2. Pendapatan yang diperoleh oleh KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari dari hasil penjualan kacang kace kurang lebih yakni sebesar Rp 4.800.000,00 untuk setiap pesanan yang diterima.

4.2 Saran

Adapun saran yang dapat disimpilkan yakni.

1. Kelompok Wanita Tani perlu meningkatkan kualitas produk olahannya, sehingga dalam penjualan bisa bersaing di pasaran dengan produk lain sehingga dapat meningkatkan nilai jual dan pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan baik kelompok maupun perorangan.

2. Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta sari juga perlu memperluas jaringan dalam mendistribusikan hasil olahan kacang kace, dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat petani dapat memanfaatkan media sosial yang sudah ada saat ini dalam mempromosikan hasil olahan kacang kace mereka agar lebih dikenal oleh masyarakat luas hingga sampai ke mancanegara.

3. Penyuluh Pertanian agar membina KWT untuk berinovasi mengembangkan produk olahan kacang kace guna menciptakan kreatifitas dan kemandirian anggota KWT dalam pengolahan kacang kace agar hasil olahan kacang kace lebih di kenal di lingkungan masyarakat.

5. Ucapan Terimakasih

Terimakasih kepada Bapak Wayan Wiyasa selaku PPL di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung yang telah membantu peneliti dalam pencarian data penelitian, dan Ibu Made Artini selaku Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana di Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Klungkung yang telah memberikan izin penelitian, serta kepada seluruh pihak yang telah memberikan pengarahan bimbingan dan juga dukungan dalam penyelesaian penelitian dan penulisan e-jurnal ini. Semoga penelitian ini dapat berguna dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Daftar Pustaka

Astiti, N.W.Sri. 2006. Curahan Tenaga Kerja Perempuan pada Usahatani Padi di Subak Guama Kabupaten Tabanan dalam Kembang Rampai Perempuan

(12)

E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 6, No. 3, Juli 2017

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA 440

Bali. Hal. 85. Diedit oleh Luh Aryani, Nyoman Suparwa dan Sudarta. Kerjasama Biro BKPP Setda Bali dan Pusat Studi Wanita UNUD, Denpasar. Hadisapoetro. S. 1970. Pembangunan Pertanian. Yogyakarta. Fakultas Pertanian

UGM.

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Mardikanto, T. 2002. Catatan Kecil Untuk Pedoman Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian. Disampaikan Dalam Diskusi Draft Pedoman Penyuluhan Pertanian di Hotel Salak, Nopember 2002.

Mosher, A.t. 1996. Menggerakan Dan Membangun Pertanian, Syarat-Syarat Mutlat Pembangunan Dan Modernisasi, C.V. Yasaguna. Jakarta.

Padmowihardjo, Soedijanto. 1999. Media Penyuluhan Pertanian. Universitas Terbuka, Jakarta. (Materi Pokok LUHT 4330/3SKS/modul 1-9).

Slamet, M. (ed). 2000 Memantapkan Posisi dan Meningkatkan Peran Penyuluh Pembangunan Dalam Pembangunan. Disampaikan dalam Seminar Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani di Bogor, 25-26 September 2000.

Sugiyono, 2010. Metode penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Van den Ban, A.W dan H.S Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Windia, W. P. 2006. Gugurnya Hak Atas Warisan Menurut Hukum Adat Balidalam Kembang Rampai Perempuan Bali. Hal 154. Diedit oleh Luh Aryani, Nyoman Suparwa dan Sudantra. Kerja sama Biro BKPP Setda Bali dan Pusat Studi Wanita UNUD, Denpasar.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan untuk kadar protein, variabel yang memenuhi standar mutu mie kering mutu II yakni minimal 8% adalah variabel komposisi tepung jagung:tepung terigu =

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Agus Hufron (2008) di Puskesmas Penumping, Surakarta yang menyatakan bahwa ada hubungan yang positif namun

Dapat disimpulkan bahwa rational agent yang sempurna adalah untuk setiap rangkaian persepsi suatu agen yang sempurna dapat melakukan apapun aksi yang diharapkan akan

Dari data hasil penelitian akan dapat diamati pengaruh variasi suhu umpan dan tekanan pada sisi permeat pada setiap parameter yang diuji,yang hasilnya akan digunakan

Prilaku keragu-raguan dari para investor terhadap keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kinerja perusahaan setelah stock split dan juga kurangnya informasi

Fault Tree Analysis (FTA) adalah salah satu contoh metode analisa proses yang digunakan dalam pencarian suatu permasalahan dalam suatu proses, dimana terdapat

Kegiatan yang berusaha mengetahui bagian pohon pisang yang ditanam maupun cara menanam pada dasarnya merupakan NHJLDWDQ \DQJ EHUVLIDW ³NHUMD´ -LND dikaitkan dengan

Hasil identifikasi daerah yang sering mengalami hujan asam tinggi dari hasil overlay peta isopleth pH th 1999-2009 di Wilayah industri Citeureup- Bogor Cibinong