• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PENILAIAN KESIAPAN TEKNOLOGI UNTUK DIMANFAATKAN MASYARAKAT SECARA BERKELANJUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PENILAIAN KESIAPAN TEKNOLOGI UNTUK DIMANFAATKAN MASYARAKAT SECARA BERKELANJUTAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

160

Elias Wijaya Panggabean

Puslitbang Sosial Ekonomi dan Lingkungan

Jl. Sapta Taruna Raya No. 26 Komplek PU Pasar Jumat – Jaksel Email: [email protected]

Tanggal diterima: 3 November 2011 ; Tanggal disetujui 17: November 2011 ABSTRACT

Low utilization of research and development’s product in development of public work infrastructure indicates that technology is unprepared to use by community. In R & D cycle, full-scale tested’s phase is the most crucial phase because of problems often arise to generate discontinuation of technology utilization. It indicates that design of technology is not ready to be applied. One effort to improve the technology’s readiness is by establishing the instrument for asessing the readiness of technology’s that could guide the researcher in preparing technology prior utilization by community. This study used a qualitative approach and the data is collected through interviews and literature studies. This instrument has been developed from the BPPT’s model and is combined using the theory of conseption-adoption technology. The evaluation consist of nine levels and divided into three stages of research ie : the basic research, the applied research and the development research. The testing of instrument to the product of the research and development of the Public Work for the fiscal budgets 2011 concluded that there are some requirements technology parameters that has not been fulfiled, in particularly the social, economic and environmetal parameters.

Keyword: technology’s readiness, evaluating instruments, community, full-scale tested, sustain ABSTRAK

Rendahnya pemanfaatan produk hasil litbang dalam pembangunan infrastruktur PU mengindikasikan belum siapnya teknologi untuk dimanfaatkan masyarakat. Dalam siklus litbang, fase ujicoba skala penuh merupakan fase paling krusial karena pada fase ini seringkali muncul permasalahan yang berakibat tidak optimalnya keberberlanjutan pemanfaatan teknologi. Hal ini mengindikasikan bahwa teknologi yang dirancang belum siap untuk diterapkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesiapan teknologi adalah dengan menyusun instrumen penilaian kesiapan teknologi yang dapat memandu periset mematangkan teknologi sebelum dimanfaatkan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan datanya dikumpulkan melalui wawancara dan studi literatur. Instrumen tersebut dikembangkan dari model BPPT yang dikombinasikan dengan teori konsepsi-adopsi teknologi. Penilaian terdiri dari sembilan tingkatan dan terbagi dalam tiga tahapan riset yaitu riset dasar, riset terapan dan riset pengembangan. Hasil uji coba instrumen pada hasil penelitian dan pengembangan PU tahun anggaran 2011 menyimpulkan bahwa kesiapan teknologi pada setiap tahapan riset belum maksimal, karena ada beberapa parameter yang belum dicapai secara optimal, khususnya parameter sosial, ekonomi dan lingkungan.

Kata Kunci: kesiapan teknologi, instrumen penilaian, masyarakat, ujicoba skala penuh, berkelanjutan PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi sudah berperan besar membantu dan mempermudah pekerjaan manusia. Kualitas infrastruktur mengalami peningkatan dengan kehadiran teknologi, dan oleh karena itu dengan sendirinya juga telah mampu mendorong peningkatan kualitas hidup manusia. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan

kebutuhan, kelangsungan, dan peningkatan mutu kehidupan manusia (UU 18/2002).

Infrastruktur pekerjaan umum adalah satu dari sekian banyak teknologi yang diperoleh dari aktivitas penelitian dan pengembangan, yang bertujuan memecahkan permasalahan dan kebutuhan masyarakat di bidang sumber daya air, permukiman dan jalan-jembatan. Karena perannya yang vital dalam kehidupan manusia, maka sudah menjadi keharusan bahwa teknologi harus memenuhi syarat-syarat mendasar seperti kehandalan, keamanan, keselamatan, kesehatan

(2)

161

dan kelesetarian lingkungan hidup (PP

102/2000)

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) bertugas melaksanakan penelitian dan pengembangan. Terkait dengan tugasnya tersebut, saat ini sedang berkembang isu mengenai rendahnya pemanfaatan teknologi hasil litbang dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur PU. Menurut kajian yang pernah dilakukan Kasoema (2010), sejak tahun 2005-2009, Badan Litbang PU telah menghasilkan 628 karya iptek: 31% bidang Sumber Daya Air; 19% bidang Jalan dan Jembatan; 23% bidang permukiman; dan 27% bidang sosial-ekonomi-budaya. Namun hanya 60,02% dari karya iptek tersebut yang telah diterapkan oleh stakeholders. Demikian halnya dengan kajian yang dilakukan oleh Pamekas (2011) mengenai pemanfaatan Norma, Standar, Pedoman, Manual (NSPM), studi yang dilakukan pada lima propinsi, rata-rata teknologi yang tersedia adalah 60,7% sedangkan pemanfaatannya hanya sebesar 66,4% atau efektif 40,33%.

Melihat fakta di atas, apakah dapat disimpulkan bahwa teknologi kurang berkualitas? Hal ini perlu disikapi secara bijak, karena ada juga fakta yang memperlihatkan bahwa beberapa produk unggulan litbang sudah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. RISHA, C-plus, aplikasi bambu laminasi, N-Panel, PLATO, atau teknologi irigasi springkler adalah beberapa produk litbang yang cukup sukses dan dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur PU. Walaupun demikian perlu dipikirkan apa penyebab pemanfaatan produk-produk litbang kurang optimal dan dipikirkan bagaimana upaya penyiapan teknologi yang lebih acceptable, dapat dimanfaatkan masyarakat secara lebih berkelanjutan.

Pentingnya optimalisasi pemanfaatan hasil litbang sudah disadari betul oleh pemerintah dengan lahirnya UU No. 18 tahun 2002 dan PP No. 20 tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Litbang oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang. Demikian halnya dalam Review Rencana Strategis (Renstra PU) 2010-2014, kebijakan penerapan dan pemanfaatan teknologi ini sudah dijabarkan dalam isu strategis aspek litbang yaitu optimalisasi pemanfaatan pilihan IPTEK oleh stakeholders serta dalam indikator kinerja utama litbang yaitu: 1) peningkatan kesiapan IPTEK untuk diterapkan stakeholders dan 2)

pemberlakukan SPMK dan teknologi oleh stakeholders). Pemanfaatan teknologi yang optimal dan berkelanjutan sangat dipengaruhi kesiapan dan kematangan dari teknologi itu sendiri. Membahas kesiapan teknologi tidak hanya mencakup pada kesiapan fisik teknologi atau telah berkerjanya elemen-elemen teknologi dengan baik. Kesiapan teknologi juga dipengaruhi oleh kesiapan dari sisi pengguna teknologi tersebut.

Permasalahannya adalah bagaimana meningkatkan kesiapan teknologi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan? Bagaimana model penilaian kesiapan teknologi disusun dan apa saja unsur-unsur yang dinilai? bagaimana menggunakan instrumen tersebut untuk meningkatkan kualitas perencanaan penelitian?

Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan kajian untuk membangun instrumen penilaian kesiapan pemanfaatan teknologi oleh masyarakat secara berkesinambungan. Makalah ini membahas hasil penelitian dan pengembangan tersebut, khususnya proses pengembangan instrumen penilaian kesiapan teknologi dan uji coba penerapannya pada produk penelitian dan pengembangan tahun anggaran 2011.

KAJIAN PUSTAKA

a) Tingkat Kesiapan Teknologi

Tingkat kesiapan teknologi (technology readiness level) pada dasarnya dapat diartikan sebagai keadaan atau kondisi pemanfaatan oleh penggunanya. Sementara itu, untuk menilai kondisi tersebut diperlukan suatu instrumen atau alat ukur yang disebut “indikator”. Oleh karena itu, alat atau instrumen yang menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan dan diadopsi oleh pengguna/calon pengguna teknologi dapat disebut indikator kesiapan teknologi. Kesiapan teknologi dapat dikembangkan setidaknya dari dua perspektif yang berbeda namun saling berkaitan yaitu: 1. Perspektif Obyektif

Seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan sesuai dengan fungsi yang ditujukannya (rancangan kegunaannya). Indikator yang menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi untuk diterapkan dalam dunia nyata dan diadopsi oleh calon pengguna.

2. Perspektif Subyektif

Seberapa siap pengguna (masyarakat) menerima dan mengadopsi suatu teknologi (baru) untuk diterapkan sesuai dengan fungsi

(3)

162

yang ditujukannya. Indikator yang

menyangkut pengetahuan, kemampuan dan/atau persepsi risiko calon pengguna tentang teknologi baru.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menyusun konsep Tingkat Kesiapan Teknologi (Technology Readiness Level) yang diadopsi dan dikembangkan dari model Tingkat Kesiapan Teknologi NASA. Tingkat kesiapan teknologi tersebut dinilai dari sembilan level yang terbagi lagi menjadi 3 tiga) kategori atau bagian tahapan riset (Gambar-1) yaitu: riset dasar (level 1-3), riset terapan (level 4-6) dan riset pengembangan (level 7-9).

Level-1: tingkat terendah dari kesiapan teknologi. Pada level ini prinsip-prinsip dasar suatu teknologi mulai diteliti dan dilaporkan (technology's basic properties). Level-2: formulasi konsep dan penggalian aplikasi praktis teknologi. Level-3: pembuktian konsep (proof-of-concept) fungsi dan/atau karakteristik penting secara analitis dan eksperimental (pengujian lab). Level-4: validasi kode, komponen dan/atau breadboard validation dalam lingkungan laboratorium. Komponen-kompoenen teknologi yang mendasar diintegrasikan untuk memastikan agar bagian-bagian tersebut secara bersama dapat bekerja/berfungsi. Level-5: validasi kode, komponen dan/atau breadboard validation dalam suatu lingkungan simulasi. Komponen-komponen teknologi yang mendasar diintegrasikan dengan elemen-elemen pendukung yang cukup realistis sehingga teknologi yang bersangkutan dapat diuji dalam suatu lingkungan tiruan/simulasi. Level-6: demonstrasi model atau prototipe sistem/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan. Level-7: demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan/aplikasi sebenarnya. Prototipe mendekati atau sejalan dengan rencana sistem operasionalnya. Level-8: Sistem telah lengkap

dan memenuhi syarat (qualified) melalui pengujian dan demonstrasi dalam lingkungan/ aplikasi sebenarnya. Level-9: Sistem benar-benar teruji/terbukti melalui keberhasilan pengoperasian. Aplikasi teknologi secara nyata dalam bentuk akhirnya dan di bawah kondisi yang dimaksudkan (direncanakan) sebagaimana dalam pengujian dan evaluasi operasional. b) Konsepsi-Adopsi Teknologi

Konsepsi adalah fase dimana insiator program melakukan penanaman konsep pada suatu individu/kelompok untuk mengikuti atau menyetujui konsep yang ditranslasikan. Dalam hal ini akan terjadi pembongkaran konsep-konsep lama dan mengkonstruksi konsep-konsepsi baru sesuai dengan kehendak dari konseptor program. Fase selanjutnya adalah adopsi dalam bentuk implementasi program.

Konsepsi dan adopsi teknologi dibagi dalam empat fase: 1) fase problematisasi; suatu isu/masalah dihadirkan oleh aktor (inisiator), 2) fase penarikan: definisi suatu masalah yang menjadi perhatian bersama atau suatu persyaratan teknis bersama dalam suatu konfigurasi sosio-teknis yang baru, 3) fase pelibatan: para aktor mulai saling mendelegasikan satu terhadap yang lain, saling menjajaki berbagai kompetensi. Objek-objek batas mulai disirkulasikan, berbagai bentuk resistensi dan inkompatibilitas mulai diatasi, 4) fase mobilisasi: berbagai kompetensi yang baru mulai dilaksanakan, objek-objek batas bersirkulasi secara stabil, aktor-aktor saling menjadi juru bicara satu bagi yang lain. Para aktor dan mediator telah sampai pada suatu keadaan konvergen, meski pada hakikatnya heterogen (Sumber: Callon, 1991 dalam Yuliar, 2008).

c) Tinjauan Kajian Pemanfaatan Teknologi Puslitbang Sosekling sudah beberapa kali melakukan kajian mengenai kesiapan masyarakat dalam rangka pemanfaatan teknologi hasil litbang. Beberapa teknologi yang sudah dikaji adalah teknologi jembatan cable stayed (2009-2010), irigasi lahan kering (springkler dan tetes) pada tahun 2006-2010 dan irigasi hemat air (SRI) tahun 2008-2009. Fokus kajian-kajian tersebut meliputi: 1) bagaimana strategi penyiapan, perkuatan dan pendampingan kelompok masyarakat pengguna dalam hal melaksanakan operasi dan pemeliharaan teknologi; 2) memperkuat kesiapan dan komitmen stakeholders khususnya pemerintah daerah dalam operasi dan pemeliharaan teknologi; 3) bagaimana mengembangkan potensi sosial

(Sumber: BPPT, 2006)

Gambar 1. Tingkat Kesiapan Teknologi Menurut Siklus Riset

(4)

163

ekonomi paska beroperasinya teknologi

infrastruktur untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (LAKIP Puslitbang Sebranmas, 2006-2009).

Untuk menjawab permasalahan di atas kegiatan-kegiatan riset yang dilakukan meliputi pemetaan sosial terhadap kondisi faktual sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan dan pemetaan potensi-potensi sosekling masyarakat penerima teknologi. Selanjutnya dilakukan pembentukan kelompok masyarakat pengguna (apabila belum ada) atau perkuatan kelompok masyarakat dan kelembagaannya seperti AD/ART, pendaaan dan iuran warga dalam rangka OP teknologi. Disamping itu juga dilakukan sosialisasi dan perkuatan jaringan kerjasama dengan pemda atau perwakilan ditjen yang ada di daerah.

Sifat penelitian di sini adalah penelitian terapan (applied research), yang hasil penelitian langsung dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menjawab masalah-masalah yang terjadi di lokasi penelitian. Intinya adalah riset ditujukan untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan teknologi pusat-pusat litbang ABC yang telah terbangun. Di sisi lain model penilaian kesiapan teknologi belum pernah dibuat atau dikaji. Untuk itu kajian penting untuk menjadi panduan bagi periset untuk menilai kesiapan teknologi sebelum dimanfaatkan masyarakat.

d) Kerangka Konseptual

Gambar 2 adalah kerangka konseptual penyiapan teknologi yang merupakan pengembangan model BPPT, dan dikembangkan dengan menggunakan pendekatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan teknologi litbang yang berpola partisipatoris, demokratis, relasi dua arah yang setara antara periset (inisiator teknologi) dengan pengguna teknologi,

melibatkan seluruh lapisan stakeholders, serta pengoptimalan seluruh sumber daya yang tersedia. Pengembangan instrumen penilaian kesiapan teknologi bidang Pekerjaan Umum merupakan kombinasi antara teori konsepsi-adopsi teknologi dengan matriks tingkat kesiapan teknologi dari BPPT yang digunakan sebagai landasan dalam membangun instrumen penilaian kesiapan teknologi. Pada tingkat konsepsi terdapat 2 (dua) momentum yang penting yaitu momen problematika dan momen penarikan. Pada proses adopsi terdapat 2 (dua) momentum yang penting pula yaitu momen pelibatan dan momen mobilisasi.

Momen Problematisasi

Sebelum teknologi tertentu diperkenalkan kepada suatu komunitas masyarakat, kondisi tatanan sosial dan relasi sosial masyarakat tersebut sudah mapan, interaksi aktor sosial dan aktor teknis telah berjalan sedemikian rupa dan dibingkai oleh nilai-nilai, persepsi, kepentingan dan tujuan tertentu. Pada fase momen problematisasi seorang periset (inisiator teknologi) penting untuk memahami kondisi eksisting dari tatanan sosial dan nilai-nilai yang sudah berjalan dalam suatu komunitas, dan selanjutnya menggali isu-isu bersama dengan masyarakat sebelum menentukan topik riset dan konfigurasi teknologi yang hendak diperkenalkan. Tentunya dengan kehadiran suatu konsep baru, akan menghadirkan suatu pertandingan nilai-nilai dan konsep yang dilanjutkan dengan terjadinya negosiasi-negosiasi antara semua pelaku teknologi yang bermuara pada suatu konsepsi atas konfigurasi kebutuhan teknologi yang spesifik.

Nilai-nilai yang dibawa oleh inisiator teknologi meliputi teori dan prinsip-prinsip dasar Gambar 2. Kerangka Konseptual

(5)

164

perlunya terobosan teknologi untuk mengatasi

sebuah masalah sosial (mengacu pada level-1). Sedangkan nilai-nilai yang ditranslasikan oleh masyarakat menyangkut perubahan terhadap kondisi tatanan sosial yang sebelumnya sudah mapan, munculnya sikap/persepsi keragu-raguan atau ketidakpastian dengan tawaran kondisi/ alternatif baru. Dalam hal ini pendekatan dialog dan kesetaraan memegang peranan yang sangat krusial. Kesepahaman mengenai problem yang sedang dihadapi akan memudahkan seorang periset dalam menyusun langkah-langkah penelitian dan formulasi konsep teknologi selanjutnya.

Momen Penarikan

Setelah proses negosiasi berlangsung selanjutnya komunitas akan terstimulasi, mungkin saja akan mengikuti inisiasi teknologi dari si periset dalam beragam cara, atau bahkan juga menolak inisiasi tersebut. Apabila masih terjadi penolakan maka sangat penting untuk dilakukan upaya-upaya negosiasi yang lebih intensif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Keterwakilan seluruh komponen sosial, bukan semata-mata hanya sebagai mekanisme legitimasi dari sebuah keputusan, namun yang paling penting adalah bagaimana pelaku-pelaku teknologi (inisiator dan pengguna) terlibat dalam berbagai dialog dan penjajakan. Dengan upaya ini akan terbentuk konfigurasi sosio-teknis baru, yang memungkinkan adaptasi teknologi ke dalam konteks-konteks lokal dapat terwujud. Mengacu pada konfigurasi sosio-teknis yang disepakati, seorang periset menyusun tahapan-tahapan riset, dan pelaksanan ujicoba di lingkungan laboratorium. Juga memetakan siapa saja calon pengguna teknologi, bagaimana konstruksi teknologi akan dilakukan, sumber

pendanaan teknologi, bagaimana peran institusi, spesifikasi-spesifikasi teknis, rancangan regulasi dan standar-standar acuan.

Momen Pelibatan

Momen pelibatan dan selanjutnya momen mobilisasi adalah bagian dari fase adopsi dimana peranan masyarakat pengguna teknologi menjadi sangat strategis. Momen pelibatan dimulai dengan upaya-upaya pendelegasian peran-peran satu terhadap yang lain, saling menjajaki berbagai kompetensi antara pelaku teknologi (siapa melakuan apa, apa yang sebaiknya dilakukan/tidak dilakukan) dan penetapan alokasi sumber daya. Pada momen pelibatan ini sudah masuk pada perancangan artefak-artefak acuan, validasi konsep, pengujian dan simulasi, prototipe teknologi, dan sosialisasi, demonstrasi dalam lingkungan yang relevan, pendanaan, dan pelatihan-pelatihan teknis.

Momen Mobilisasi

Pada tahap terakhir ini pelaku-pelaku teknologi sudah mencapai kondisi tatanan sosial dan relasi yang bersikulasi secara stabil dalam bentuk baru: konfigurasi sosio-teknis baru. Penekanannya adalah pada pelaksanaan konstruksi teknologi dalam skala penuh, pengoperasian, pemeliharaan dan pemantauan kinerja teknologi, kelembagaan pengelola teknologi yang eksis dan terakhir terwujudnya pengelolaan teknologi partisipatif dan berkelanjutan.

METODE PENELITIAN

Fokus penelitian adalah teknologi yang akan/sedang diuji skala penuh pada tahun 2011 di Puslitbang SDA, Puslitbang Permukiman dan Puslitbang Jalan dan Jembatan, termasuk

(6)

165

teknologi yang dilaksanakan oleh balai-balainya.

Oleh karena itu instrumen penilaian yang disusun selanjutnya akan diuji pada teknologi-teknologi tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang diperkuat dengan data-data kuantitatif. Tujuannya adalah untuk menggali sedalam mungkin seluruh aspek yang terkait dengan kriteria-kriteria kesiapan teknologi (Wirartha, 2006).

Dalam rangka menyusun model penilaian kesiapan teknologi, data primer diperoleh dari periset-periset yang menangani pengujian teknologi skala penuh dan dari pejabat struktural khususnya di bidang perencanaan, dengan teknik wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara. Variabel-variabel yang digali dari wawancara dengan responden meliputi kriteria keunggulan sebuah teknologi, faktor-faktor yang menyebabkan kurang-optimalnya pemanfaatan teknologi, segmentasi pengguna teknologi dan pihak-pihak yang terlibat dalam pemanfaatan teknologi.

Sementara itu data sekunder diperoleh dari mengkaji literatur-literatur dan laporan penelitian terkait. Selanjutnya data primer dan sekunder dibahas dengan narasumber dan pakar untuk merumuskan model penilaian kesiapan teknologi dengan merujuk pada kerangka konseptual yang telah disusun di awal.

Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan tahapan sebagai berikut. Tahap-1: identifikasi variabel-variabel kesiapan teknologi menggunakan data-data wawancara dengan responden. Tahap-2: diskusi dengan narasumber dari Balitbang, Ditjen, BPPT dan LIPI untuk menggali parameter-parameter kesiapan teknologi. Tahap-3: menyusun model penilaian kesiapan teknologi, Tahap-4: pengujian model penilaian kesiapan teknologi, dan Tahap-5: menyusun rekomendasi kesiapan teknologi.

Model penilaian kesiapan teknologi berisi parameter-parameter penting yang harus diakomodasi dalam pelaksanaan riset yang disusun secara sistematis mengacu pada tahapan siklus riset. Selanjutnya untuk menilai tingkat kesiapan teknologi dilakukan dengan meminta penanggung jawab teknologi untuk menjawab parameter-parameter apa saja yang sudah dipenuhi/tidak dipenuhi pada setiap tahapan riset. Hasil pengisian parameter yang dipenuhibselanjutnya dikuantifikasikan dan disimpulkan dengan kriteria kesiapan sebagai berikut: sangat siap > 80%; Siap 60-80%; cukup siap 40-60%; tidak siap 20-40%; sangat tidak siap < 20%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

a) Dinamika Penerapan Teknologi Skala Penuh

Pada dasarnya pusat-pusat litbang menilai teknologi yang dihasilkan memiliki kriteria unggul dan strategis untuk memecahkan suatu masalah di lapangan. Kriteria keunggulan yang pada umumnya dipakai adalah teknologi memiliki nilai efisiensi, kemudahannya (workability), dan ketahanan/kekuatan (durability). Faktor kebijakan yang bersifat makro juga terkait dengan keputusan melakukan suatu riset, misalnya kebijakan mendukung ketahanan pangan, pembangunan daerah tertinggal, atau pengembangan kawasan ekonomi kreatif. Teknologi-teknologi juga diarahkan untuk mendukung program tersebut.

Ujicoba skala penuh adalah salah satu tahapan riset yang dilaksanakan pusat-pusat litbang dengan tujuan untuk mengukur respon prototipe terhadap real condition seperti faktor pembebanan dan faktor lingkungan. Pada dasarnya setiap teknologi sudah memiliki dokumen road map yang menguraikan kegiatan riset dan waktu pelaksanaan kegiatan. Demikian halnya uji skala penuh seharusnya sudah didasari hasil riset-riset sebelumnya dan didukung dokumen perencanaan riset (road map) yang jelas.

Namun dalam pelaksanaannya ternyata banyak hal yang luput dari perencanaan atau kurang diakomodasi dalam road map riset. Buktinya adalah seringnya muncul masalah-masalah yang tidak hanya menyangkut masalah-masalah teknis, namun juga disebabkan masalah sosial pada saat dilakukan pengujian skala penuh. Hal ini terjadi karena dokumen perencanaan riset belum mengakomodasi secara komprehensif seluruh aspek-aspek yang terkait dengan teknologi. Kecenderungan concern periset hanya pada aspek-aspek teknis saja, sementara aspek keberterimaan sosial, ekonomi dan lingkungan kurang diakomodasi. Kutipan wawancara dan fakta pengujian teknologi berikut sedikit banyak dapat menunjukkan bagaimana masalah-masalah non-teknis menjadi penghambat ketidak- berlanjutan pemanfaatan teknologi.

Ketika akan ujicoba skala penuh kita kurang memperhatikan aspek-aspek yang akan berbenturan dengan kondisi masyarakat. Memang ada akibatnya, namun itu adalah bagian dari riset kita....Kenyatannya memang kita sering luput melihat reaksi masyarakat setelah teknologi kita pasang. Misalnya alat yang hilang dicuri, bisa jadi karena materialnya yang kurang cocok, karena

(7)

166

menjadi kebutuhan utama masyarakat”

(Gunarta, Samsi 2011

“Sama halnya ketika menghadapi masyarakat tidak bisa sebentar. Mereka ketika ditawari teknologi mau–mau saja tetapi ketika sudah jadi ternyata kurang. Mereka hanya sekedar mau. Yang lebih sulit itu ketika ada pergantian pejabat... Mungkin pendekatan dengan pemanfaat teknologi yang lebih penting. Ketika teknologi sudah ada, mereka yang memanfaatkan. Kedua, dari kualitas teknologi sendiri masih perlu penyempurnaan. Terkait ekonomi, untuk menjalankan perlu biaya besar. Biaya operasional jadi membebani anggaran mereka.” (Kuswara, 2011)

“Pemanfaatan asbuton masih sangat sensitif terhadap kemampuan SDM untuk memahami kondisi fisik asbuton. Sampai tahun 2010 pemanfaatan asbuton hanya sebatas untuk substitusi penggunaan aspel minyak. Keterbatasan pengetahuan tentang tata cara perencanaan Job Mix Formula (JMF), cara pengambilan dan kecukupan sampel, serta

kemampuan personil lapangan berpengaruh

besar terhadap ketidakberhasilan

pemanfaatan asbuton.” (Gunarta, Samsi, 2011) Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kurang-optimalnya pemanfaatan produk teknologi litbang disebabkan hal-hal berikut ini.

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa faktor penghambat tidak optimalnya pemanfaatan teknologi dapat terjadi pada semua fase teknologi (perencanaan, pembangunan dan pengoperasian). Hal ini berarti bahwa implementasi teknologi yang berkelanjutan akan tercapai apabila suatu riset sudah didahului perencanaan riset yang matang, yang meliputi pemetaan pasar pengguna, pemanfaatan sumber daya yang ada dan sudah ada prosedur pengelolaan teknologi yang jelas.

Masalahnya adalah dalam pengelolaan riset di Badan Litbang PU, syarat ideal di atas belum dapat dicapai dengan optimal. Tidak semua riset sudah memiliki master plan atau road map yang jelas, tergantung kepada ketersediaan anggaran riset. Demikian halnya dengan pola pikir periset di Badan Litbang PU belum mampu

No Fase Riset Faktor-faktor Penghambat

1 Perencanaan Teknologi

Prioritas litbang selama ini kurang sesuai dengan harapan penyelenggara infrastruktur Upaya penawaran produk litbang ke ditjen belum maksimal

Produk litbang yang ditawarkan bukan inovasi baru Adanya produk kompetitor dari institusi riset lain

Lokasi ujicoba kurang mendukung (lokasi, sumber daya, akses)

Produk litbang kadang belum utuh, terkait dengan aspek teknis, ekonomi, finansial dan lingkungan 2 Konstruksi Teknologi Kurang melibatkan sumber daya setempat

3 OP Teknologi

Harga teknologi dan biaya OP teknologi relatif mahal dan memberatkan masyarakat Kesulitan dalam pengadaan komponen-komponen teknologi dan bahan baku Masyarakat kurang dilibatkan dalam OP teknologi

Keterbatasan kapasitas adopsi masyarakat dan keterbatasan tenaga pelatih/pendamping

Produk yang ditawarkan sering kurang tepat guna, kurang tepat sasaran dan kurang tepat anggaran Teknologi tidak dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk teknis pelaksanaan dan pengoperasian teknologi

Pusat Litbang Teknologi Stakeholders

Puslitbang Jalan dan Jembatan

Teknologi Material Bina Marga, Pemda, Kontraktor, Industri, Perguruan Tinggi Teknologi konstruksi jalan-jembatan Bina Marga, Pemda, Kontraktor, Industri, Perguruan Tinggi

Sistem Operasional Jalan Bina Marga, Pemda, Kontraktor, Industri, Pengguna jalan, Perguruan Tinggi Teknologi peralatan Bina Marga, Pemda, Kontraktor, Industri, Perguruan Tinggi

Puslitbang Sumber Daya Air

Pengendali daya rusak air SDA, Pemda, Kontraktor, Industri, Perguruan Tinggi

Konservasi sumber daya air SDA, Pemda, Kontraktor, Industri, masyarakat, Perguruan Tinggi Pendayagunaan sumber daya air SDA, Pemda, Kontraktor, Industri, masyarakat, Perguruan Tinggi

Puslitbang Permukiman

Bahan Bangunan Cipta Karya, Pemda, Kontraktor, Industri, Masyarakat, Perguruan Tinggi Teknologi utilitas Cipta Karya, Pemda, Kontraktor, Industri, Masyarakat, Perguruan Tinggi Teknologi rumah sederhana/ tradisional Cipta Karya, Pemda, Kontraktor, Industri, Masyarakat, Perguruan Tinggi Teknologi elemen bangunan Cipta Karya, Pemda, Kontraktor, Industri, Perguruan Tinggi

Teknologi persampahan Cipta Karya, Pemda, Industri, Masyarakat, Perguruan Tinggi

Teknologi pengolahan air Cipta Karya, Pemda, Kontraktor, Industri, Masyarakat, Perguruan Tinggi Teknologi penataan kawasan/mitigasi Cipta Karya, Pemda, Kontraktor, Industri, Masyarakat, Perguruan Tinggi

Tabel 1. Faktor Kurang Optimalnya Pemanfaatan Teknologi

(8)

167

mengakomodasi seperti apa kebutuhan nyata

dari pasar, cenderung lebih mengutamakan aspek teknis saja, dan cenderung mengesampingkan aspek-aspek lainnya. Akibatnya adalah teknologi yang ditawarkan kurang tepat sasaran, kurang ekonomis atau kurang inovatif.

Di samping sudah teridentifikasinya beberapa kendala pemanfaatan teknologi, juga dapat diidentifikasi stakeholders yang terlibat dalam pengadaan dan pemanfaatan teknologi, yang ternyata di masing-masing pusat litbang mempunyai tipologi yang berbeda-beda (Tabel-2). Teknologi bidang jalan dan jembatan relatif ‘single client’ antara Puslitbang Jalan dan Jembatan dengan Ditjen Bina Marga. Teknologi bidang SDA relatif bervariasi, baik dengan Ditjen SDA maupun dengan masyarakat. Sedangkan bidang permukiman pada umumnya keterlibatan masyarakat (individu maupun komunitas) sangat dominan. Artinya semakin heterogen pengguna teknologi, maka tingkat kesulitan penerapan teknologi akan semakin tinggi juga.

b) Penyusunan Kriteria Kesiapan Teknologi 1. Nilai-nilai Kesiapan Teknologi

Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu keterbatasan kapasitas manusia dan mempermudah aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini berarti teknologi seharusnya hadir untuk mendukung kesejahteraan

masyarakat. Konsep penyediaan suatu teknologi dapat dianalogikan seperti konsep supply dan demand. Di satu sisi ada permintaan atau kebutuhan akan teknologi dan di sisi lain ada penyediaan teknologi. Kebutuhan akan teknologi akan dapat dipenuhi apabila teknologi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mengandung nilai-nilai keunggulan seperti efisiensi, efektitivitas, ekonomis, handal dan mudah dipergunakan.

Dari hasil identifikasi kendala-kendala pemanfaatan teknologi sebelumnya, dapat dirumuskan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat dalam memanfaatkan teknologi. Dari aspek teknis, keunggulan dalam hal kinerja, kemudahan mengoperasikan, kehandalan, kekuatan dan daya tahan serta petunjuk-petunjuk teknis yang mudah dipahami menjadi pertimbangan utama. Aspek sosial meliputi nilai-nilai kesesuaian teknologi dengan kaidah-kaidah normatif masyarakat dan kesesuaian dengan kemampuan adopsi masyarakat. Aspek ekonomi meliputi keterjangkauan, keunggulan nilai ekonomis, dan memiliki nilai investasi yang menguntungkan. Dan terakhir aspek lingkungan mengandung nilai-nilai keberlanjutan ekologis atau tidak merusak lingkungan serta optimalisasi sumber daya alam setempat.

LEVEL TAHAPAN / KRITERIA BOBOT (%)

PARAMETER YANG DINILAI (Teknis, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan)

(1) (2) (3) (4)

I RISET DASAR

1 Prinsip dasar teknologi diteliti

dan dilaporkan 5

1 Ada kejelasan mengenai landasan teori yang digunakan 2 Ada Inovasi baru dari studi literatur

3 Ada kejelasan mengenai formulasi hipotesis penelitian 4 Kajian awal kondisi sosial masyarakat mulai dilakukan

5 Sudah dilakukan penyamaan persepsi mengenai problem yang sedang dihadapi antara periset dengan pengguna teknologi

2 Formulasi konsep dan/atau aplikasi teknologi 5

1 Kajian awal lokasi penerapan teknologi telah dilakukan 2 Kejelasan Konsep Disain Inovasi Teknologi

3 Tahapan perencanaan penelitian sudah tersusun baik 4 Peralatan dan standar acuan yang dipakai sudah jelas 5 Konsep telah dikomunikasikan dengan Ditjen/user 6 Telah dilakukan pemetaan awal calon pemakai teknologi 7 Telah dilakukan pemetaan awal stakeholder yang akan terlibat 8 Telah dirancang konsep peran lembaga yang terlibat 9 Perkiraan biaya pelaksanaan ujicoba di lokasi

10 Kajian awal ketersediaan material lokal mendukung teknologi telah dilakukan

3

Pembuktian konsep, fungsi dan/atau karakteristik penting

secara analitis dan eksperimental

5

1 Percobaan laboratorium untuk menguji kelayakan teknis telah dilakukan

2 Kajian kebutuhan biaya membuat model

SUB TOTAL 15

(9)

168

Rancangan Model Penilaian Kesiapan

Teknologi

Model penilaian kesiapan teknologi disusun dari hasil identifikasi komponen-komponen kesiapan yang diperoleh dari wawancara, perumusan dan pembahasan konsep dengan pihak-pihak yang kredibel, dan menyusun model penilaian kesiapan teknologi sesuai dengan kerangka konseptual yang disusun sebelumnya. Model penilaian kesiapan teknologi mengakomodasi empat aspek, teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan sesuai dengan konsep keberlanjutan di mana keempat pilar ini harus bersinergis dan saling mendukung sehingga pemanfaatan teknologi dapat berkelanjutan dan memberi efek positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mengacu kepada kerangka konseptual yang telah disusun sebelumnya, dilakukan perumusan parameter-parameter kesiapan teknologi. Parameter-parameter tersebut disusun berdasarkan tahapan-tahapan riset, dan mengakomodasi seluruh faktor yang akan berpotensi mempengaruhi berhasil atau tidaknya pemanfaatan teknologi oleh masyarakat.

Pemberian bobot pada setiap tahapan disusun berdasarkan tingkat signifikansinya suatu kegiatan riset terhadap output akhirnya. Riset dasar dinilai memiliki tingkat kematangan paling rendah sehingga bobot kesiapan teknologi diasumsikan sebesar 15%. Riset terapan adalah pengujian kelayakan enjinering dan sosekling. Resiko kegagalan teknologi sudah harus diantisipasi dalam fase ini. Sehingga pemberian bobot kesiapan teknologi diasumsikan paling besar yaitu 45%. Sedangkan riset pengembangan adalah fase terakhir yang menyatakan teknologi sudah siap dan layak dimanfaatkan (proven in service). Bobot penilaian kesiapan adalah 40%.

Sedangkan bobot parameter dalam satu tahapan diasumsikan adalah sama, dengan total bobot parameter dalam satu tahapan adalah 1. Parameter-parameter selanjutnya didefinisikan lebih detail dengan menyusun pertanyaan yang bersifat tertutup (ya/tidak). Hal ini dilakukan agar tidak terjadi mis-interpretasi mengenai parameter yang disusun. Bobot setiap pertanyaan adalah sama.

LEVEL TAHAPAN / KRITERIA BOBOT (%)

PARAMETER YANG DINILAI (Teknis, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan)

(1) (2) (3) (4)

II RISET TERAPAN (KELAYAKAN TEKNOLOGI)

4 Validasi Konsep Inovasi

Teknologi di laboratorium 10

1 Penyesuaian komponen-komponen model sesuai dengan perencanaan 2 Model skala laboratorium sudah terbangun

3 Kajian awal kesesuaian teknologi dengan kebutuhan masyarakat telah dimulai 4 Kajian awal modal dan potensi sosial masyarakat telah dimulai

5 Kajian mengenai produk kompetitor telah dilakukan

6 Pemetaan awal calon rantai pengadaan komponen teknologi telah dilakukan 7 Kajian awal dampak lingkungan penerapan teknologi sudah dilakukan

5

Validasi konsep Inovasi Teknologi pada kondisi lapangan Via Simulasi di

Laboratorium

15

1 Finalisiasi kesiapan kondisi Lapangan untuk penerapan teknologi 2 Penyesuaian model dengan kondisi lapangan

3 Validasi model teknologi telah selesai

4 Sosialisasi kepada masyarakat mengenai rencana pengujian dalam lingkungan yang relevan

5 Kemudahan operasional model yang melibatkan masyarakat telah dikaji 6 Menjaring masukan dari masyarakat terkait dengan penyempurnaan teknologi 7 Kajian keberterimaan pasar telah dilakukan (Market Research)

8 Kajian manfaat terhadap lingkungan telah dilakukan

6

Demonstrasi model atau prototipe sistem/sub sistem

dalam lingkungan yang relevan

20

1 Dokumen pendukung kelayakan uji skala penuh sudah valid 2 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan masyarakat sudah valid 3 Sudah ada komitmen dari Pemda

4 Kaji ulang Ketersediaan material lokal

SUB TOTAL 45

(10)

169

c) Penilaian Kesiapan Teknologi Pusat-pusat

Litbang

Sebagai contoh perhitungan tingkat kesiapan teknologi dapat dilihat pada uraian berikut ini.

Level 1 dan Parameter 1:

Nilai tingkat kesiapan pada Tabel-6, diinput ke dalam Tabel-7 (kolom 6). Selanjutnya level kesiapan teknologi adalah:

Selanjutnya untuk mengukur tingkat kesiapan teknologi adalah ∑ level kesiapan teknologi. Skala kesiapan teknologi yang disusun sebagai kriteria kesiapan teknologi adalah: Sangat Siap > 80%; Siap 60-80%; cukup siap 40-60%; tidak siap 20-40%; sangat tidak siap < 20%. d) Analisis Tingkat Kesiapan Teknologi

Hasil penilaian kesiapan teknologi yang dilakukan terhadap teknologi pusat litbang ABC tahun 2011 dirangkum pada Tabel-8. Telah dijelaskan bahwa penilaian kesiapan teknologi difokuskan pada level-7. Hal ini berarti bahwa prototipe teknologi yang menjadi fokus kajian di sini diasumsikan sudah melalui kriteria-kriteria kesiapan teknologi dari level 1-7. Namun apakah faktanya demikian, ternyata belum tentu juga. Dari hasil identifikasi, wawancara dan penilaian kesiapan teknologi di pusat-pusat litbang A-B-C dapat dipetakan bahwa kegiatan-kegiatan riset

skala penuh di masing-masing pusat litbang A-B-C memiliki nilai kesiapan yang relatif berbeda-beda. Hal ini terjadi karena progres masing-masing kegiatan berbeda-beda, ada kegiatan yang sudah melaksanakan uji coba skala penuh, namun ada juga yang masih tahap persiapan.

Dari Tabel 8, terlihat gambaran tingkat kesiapan teknologi hasil litbang terbagi dalam tiga kategori tidak siap, cukup siap dan siap. Namun terdapat kejanggalan dalam penilaian tersebut, bahwa pada level 7-9 yang seharusnya belum dilakukan sudah ada beberapa parameter-parameter kesiapan teknologi yang sudah dicapai/dilakukan oleh pusat-pusat litbang A-B-C. Namun di sisi lain pada level 1-6 (riset dasar dan riset terapan), ternyata masih ada beberapa parameter kesiapan teknologi yang tidak dilakukan oleh periset. Hal ini mungkin disebabkan kealpaan periset, atau parameter tersebut dianggap kurang relevan terhadap tujuan riset atau mungkin tidak ada waktu dan sumber daya untuk melakukannya. Namun dari penilaian tersebut dapat disimpulkan bahwa perencanaan riset di Badan Litbang PU belum matang dan komprehensif. Riset yang sudah memiliki road map ternyata belum secara komprehensif mengakomodasi aspek-aspek yang relevan untuk mendukung pemanfaatan teknologi yang berkelanjutan. Disamping itu periset kurang aware terhadap aspek-aspek keberlanjutan teknologi. Apabila terjadi masalah di lapangan, penyelesaian masalah cenderung bersifat pragmatis dan instan.

Parameter Kejelasan landasan teorinya Total Bobot

pertanyaan Jawaban Tingkat Kesiapan (ya / total) ya tidak Pertanyaan

Apakah landasan teori yang digunakan valid

1 v

2/3 Apakah sudah dikaji dengan penelitian-penelitian yang terkait v

Apakah landasan teori sudah pernah diterapkan pada penelitian lain v

Level Kriteria Bobot

(%) Parameter Bobot setiap parameter Tingkat Kesiapan Level Kesiapan (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) = (6) x (5) x (3) 1 Prinsip dasar teknologi diteliti dan dilaporkan 5

Jelas landasan teorinya

1/3

2/3 1,11

Ada Inovasi baru dari Studi literatur 2/4 0,83

Jelas formulasi hipotesis Penelitian 2/3 1,11

JUMLAH 3,06

Level Kesiapan = (tingkat kesiapan)x (bobot parameter)x(bobot level)

Tabel 5. Tingkat Kesiapan Teknologi pada Riset Pengembangan

Tabel 6. Contoh Perhitungan Parameter Kesiapan Teknologi Tabel 6. Contoh Perhitungan Parameter Kesiapan Teknologi

(11)

170

Secara umum variasi kesiapan teknologi

pada semua pusat litbang relatif tidak jauh berbeda. Pada level 1-3 misalnya, beberapa parameter yang kurang/ tidak dicapai adalah: belum dilakukan penyamaan persepsi mengenai problem yang sedang dihadapi antara periset dengan pengguna teknologi, belum dipetakan calon pengguna, stakeholders yang akan dilibatkan dan belum ada konsep kelembagaan pengelola teknologi yang dirancang.

Pada level 4-6: pemetaan awal calon rantai pengadaan komponen teknologi belum dilakukan, kajian keberterimaan pasar belum dilakukan, kesesuaian teknologi dengan kebutuhan masyarakat belum tervalidasi, dan masukan dari masyarakat terkait dengan penyempurnaan teknologi belum dilakukan.

Pada level 7-9: hampir semua parameter masih belum dicapai. Hal ini cukup masuk akal karena level tersebut adalah level pengembangan, dimana fokus kajian sudah mengarah pada kelayakan teknologi masuk ke dunia manufaktur dan industri. Namun sebagian kecil parameter pada level ini sudah dilakukan seperti desain DED skala penuh sudah ada,

proses lelang sudah selesai, pelaksanaan konstruksi sudah selesai, konsep SOP operasi dan pemeliharaan sudah ada, pelatihan-pelatihan teknis sudah berlangsung, produksi sudah mulai berjalan. Hal ini memang dapat dipahami karena progres masing-masing kegiatan berbeda-beda, termasuk ada beberapa kegiatan yang sudah melalui pengujian skala penuh, namun ada juga yang masih dalam tahap persiapan.

Dari uraian kesiapan teknologi setiap level, terlihat bahwa pada umumnya kecenderungan kekurangsiapan teknologi disebabkan karena belum tercapainya target-target parameter sosial, ekonomi dan lingkungan. Dalam rangka optimalisasi kesiapan teknologi khususnya untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ketidakberlanjutan pemanfaatan teknologi, maka sangat penting urutan-urutan riset di atas dilalui dan tidak dilompati. Tahapan-tahapan riset dan parameter-parameter yang terkandung di dalamnya menunjukkan tidak ada dikotomi aspek: teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Yang ada adalah sinergisitas seluruh aspek pada setiap tahapan riset. Hal ini juga mengandung LEVEL TAHAPAN / KRITERIA BOBOT

(%)

PARAMETER YANG DINILAI (Teknis, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan)

(1) (2) (3) (4)

III RISET PENGEMBANGAN (PELAYANAN TEKNOLOGI)

7

Demonstrasi prototipe dalam lingkungan yang

sebenarnya

20

1 Disain Prototipe skala 1:1 sudah selesai dibuat 2 Peralatan, proses, metode sudah tersedia

3 Proses pelelangan pengadaan konstruksi telah selesai

4 Pelaksanaan Konstruksi teknologi dalam skala luas/penuh telah selesai 5 Semua tahapan proses ujicoba teknologi skala penuh sudah dilakukan 6 Pembuatan as built drawing dan pengecekan kembali telah dilakukan 7 Rencana pemanfaatan modal dan potensi sosial sudah valid 8 Perkiraan biaya pembangunan ptorotipe sudah dibuat 9 Validasi dampak dan manfaat teknologi terhadap lingkungan

8

Sistem telah lengkap dan memenuhi syarat melalui

pengujian lapangan

10

1 Bentuk dan fungsi komponen kompatibel dengan sistem operasi 2 Konsep SOP Operasi & Pemeliharaan telah dibuat

3 Kebutuhan pelatihan-pelatihan teknis sudah ditetapkan

4 Bahan/material dan peralatan yang digunakan untuk produksi sudah valid 5 Validasi SOP Operasi dan Pemeliharaan teknologi

6 Pemanfaat teknologi sudah valid

7 Stakeholders yang terlibat sudah valid

8 Kelembagaan pengelolaan teknologi telah terbentuk 9 Role Sharing kelembagaan sudah valid

10 Kaji ulang biaya kebutuhan investasi telah dilakukan 11 Kaji ulang kelayakan teknis-ekonomis

9 Sistem benar-benar teruji/terbukti melalui keberhasilan pengoperasian 10

1 Dokumen-dokumen pendukung telah lengkap 2 Produktivitas telah stabil

3 Teknologi teruji dalam skala penuh 4 Biaya investasi dan biaya OP telah valid 5 Rantai pengadaan teknologi sudah valid

6 Pengelolaan teknologi secara partisipatif telah berjalan

SUB TOTAL 40

(12)

171

makna posisi kajian teknis harus bersinergis

dengan kajian sosial.

e) Tindak Lanjut Hasil Penilaian

Selanjutnya apa yang bisa direkomendasikan apabila sudah ada penilaian kesiapan teknologi? Hasil penilaian kesiapan teknologi sudah mengidentifikasi hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh periset selaku inisiator teknologi namun belum/tidak dilakukan. Alasan yang sering disampaikan adalah karena adanya pembatasan pada tugas dan fungsi untuk masuk lebih jauh pada aspek-aspek non-teknis tersebut. Di sisi lain institusi riset yang berwenang pada ranah ini, seperti Puslitbang Sosekling kurang terlibat secara maksimal.

Walaupun uji skala penuh sudah dilakukan saat ini, dengan konsekuensi-konsekuensi yang akan dihadapinya, namun hasil penilaian ini sebenarnya bermanfaat juga untuk mempermudah periset dalam menganalisis potensi permasalahan yang mungkin timbul nantinya, karena akan mudah ditelusuri aspek-aspek apa yang luput dan kurang diakomodasi. Dengan demikian akan mudah dicari solusi

kongkrit untuk memecahkan permasalahan di lapangan.

Walaupun demikian idealnya seorang periset sudah harus memahami tahapan-tahapan riset dan parameter-parameter kesiapan teknologi yang harus dicapai dan dilakukan agar tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik. Untuk itu model penilaian ini sangat tepat diterapkan pada teknologi-teknologi yang belum diuji dan akan diuji pada waktu-waktu mendatang.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI a) Kesimpulan

Kesiapan teknologi hasil litbang sudah menjadi isu yang penting di Kementerian PU mengingat belum optimalnya pemanfaatan teknologi litbang dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan infratruktur PU. Hal ini terjadi karena teknologi yang ditawarkan belum siap atau matang untuk dimanfaatkan masyarakat. Salah satu upaya meningkatkan kesiapan teknologi adalah dengan membuat suatu model penilaian kesiapan teknologi yang dapat dipergunakan untuk menilai kesiapan Penilaian Bobot Maks Penilaian Bobot Maks Penilaian Bobot Maks

I PUSLITBANG JALAN DAN JEMBATAN

1 Prototipe Intelligent Transport System (Traffic Management Centre) 9.24 19.55 11.67 41.06 Cukup Siap

2 Prototipe Variable Message Sign 13.33 27.51 23.46 64.30 Siap

3 Teknologi Jalan Bervolume Lalu Linta Rendah (Spesifikasi Bahan

Untuk OTTA/Cape Seal) 12.36 30.58 13.83 56.78 Cukup Siap

4

Prototipe Litbang Teknologi Perkerasan Lentur (Teknologi Bahan Perkerasan Dengan Pemanfaatan Bahan Lokal Dan Sub Standard Batu Karang dan Pasir Laut)

13.33

33.23 11.00 57.56 Cukup Siap

II PUSLITBANG PERMUKIMAN

1 Model Fisik Pengolahan Air Limbah Di Kawasan Pesisir 12.78 23.31 9.67 46.35 Cukup Siap

2 Prototipe Teknologi Pengolahan Air Limbah dan Sistem Sambungan

Rumah 11.94 36.46 28.24 76.65 Siap

3 Prototype Pengembangan Teknologi Permukiman Berbasis

Adaptasi Perubahan Iklim 12.08 29.15 22.83 64.06 Siap

4 Prototipe Teknologi Bidang Permukiman 15.00 36.05 28.88 79.93 Siap

5 Pengembangan dan Penerapan Teknologi Bidang Permukiman di

Wilayah Kerja 15.00 32.69 28.33 76.03 Siap

III PUSLITBANG SUMBER DAYA AIR

1 Pengkajian Efisiensi Penggunaan Air Irigasi Air Tanah (Irigasi Mikro) 13.33 26.17 13.17 53.27 Cukup Siap

2 Model Sistem Pengembangan Revetmen Pengaman Pantai 12.15 29.56 20.50 62.22 Siap

3 Model Sistem Renovasi Pantai dengan Teknologi Struktur Penahan

Pasir Isian 11.67 12.69 1.00 25.35 Tidak Siap

4 Teknologi Resevoir Bawah Tanah 11.67 12.69 9.91 34.26 Tidak Siap

5 Pengembangan Teknologi Bangunan Penangkap Sedimen Dan

Lahan Basah Buatan 12.50 35.83 17.17 65.50 Siap

6

Pengembangan Teknosabo Dalam Pengendalian Daya Rusak Air Pada DAS Rawan Aliran Lumpur (Studi Kasus Dataran Tinggi Dieng) 9.24 19.56 11.67 40.46 Cukup Siap 15% 45% 40% TOTAL KESIMPULAN 15% 45% 40% 15% 45% 40%

TINGKAT KESIAPAN TEKNOLOGI RISET DASAR RISET TERAPAN RISET

PENGEMBANGAN

NO KEGIATAN

(13)

172

teknologi sebelum diterapkan. Fakta yang

berkembang selama ini menunjukkan banyak masalah ketidakberlanjutan pemanfaatan yang terjadi pada fase pengujian skala penuh. Sehingga model penilaian kesiapan teknologi ditujukan pada teknologi-teknologi yang akan diuji dalam skala penuh.

Model penilaian kesiapan teknologi dikembangkan dari kombinasi model tingkat kesiapan teknologi BPPT dan teori konsepsi-adopsi teknologi. Model penilaian kesiapan teknologi yang disusun meliputi sembilan level (1-3: riset dasar, 4-6: riset terapan dan 7-9: riset pengembangan) sesuai dengan tingkat signifikansinya terhadap output akhir riset serta dibagi dalam empat fase (momen problematisasi, momen penarikan, momen pelibatan dan momen mobilisasi). Parameter-parameter yang dinilai meliputi parameter teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan, yang integrasikan secara sistematis dalam tahapan-tahapan penelitian.

Gambaran kesiapan teknologi di masing-masing pusat litbang relatif seragam, dimana pada masing-masing level tidak semua parameter dicapai. Beberapa parameter yang tidak tercapai meliputi: belum dilakukan penyamaan persepsi mengenai problem yang sedang dihadapi antara periset dengan pengguna teknologi, belum dipetakan calon pengguna, stakeholders yang akan dilibatkan dan belum ada konsep kelembagaan yang terlibat (level 1-3); pemetaan awal calon rantai pengadaan komponen teknologi belum dilakukan, kajian keberterimaan pasar belum dilakukan, kesesuaian teknologi dengan kebutuhan masyarakat belum tervalidasi, dan masukan dari masyarakat terkait dengan penyempurnaan teknologi belum dilakukan (level 4-6); dan hampir masih semua parameter belum dicapai. Hal ini cukup masuk akal karena level tersebut adalah level pengembangan, dimana fokus kajian sudah mengarah pada kelayakan teknologi untuk diteruskan ke dunia manufaktur dan industri (level 7-9).

b) Rekomendasi

Kajian ini hanya meliputi deskripsi umum mengenai parameter-parameter kesiapan teknologi dan belum menyentuh deskripsi hubungan yang lebih spesifik antar parameter. Oleh karena itu, diperlukan kajian lanjutan untuk melihat lebih mendalam lagi keakuratan

hubungan antar parameter-parameter kesiapan teknologi. Termasuk juga melakukan pengujian validasi parameter-parameter secara statistik serta melakukan cros-chek kepada masing-masing penanggung jawab teknologi tentang validitas instrumen penilaian.

Apabila model penilaian kesiapan teknologi sudah valid maka dapat dipergunakan oleh periset di masing-masing pusat litbang untuk mengukur sejauh apa kesiapan atau kematangan teknologi yang mereka rancang, terutama pada saat teknologi akan diuji dalam skala penuh. Disamping itu juga, model penilaian kesiapan teknologi ini akan bermanfaat sebagai panduan dalam melaksanakan riset yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Tingkat Kesiapan Teknologi. Jakarta, 2006. Gunarta, Samsi, IGW. “Menyingkap Permasalahan

Asbuton dan Upaya Mendorong

Penggunaannya.” Dinamika Riset, 2011. Kasoema, A. Pengembangan Siklus Transformasi

Linear Inovasi Teknologi Dalam Perspektif Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum, Tesis, ITB, Bandung, 2010.

Kementerian Pekerjaan Umum.2011. Review Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum 2011-2014.

Pamekas, R. “Apakah NSPM ke-PU-an Sudah Memadai.” Dinamika Riset, 2011.

Peraturan Menteri PU No. 08/PRT/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum.

Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Litbang oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang

Peraturan Pemerintah No. 102 tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional

Puslitbang Sebranmas. Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah 2006-2009. Jakarta UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional

Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Wirartha, I Made. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Yogyakarta, 2006.

Yuliar, Sonny. Tata Kelola Teknologi - Prespektif Teori Jaringan-Aktor. ITB, Bandung, 2008.

Gambar

Gambar 1. Tingkat Kesiapan Teknologi Menurut  Siklus Riset
Gambar  2  adalah  kerangka  konseptual  penyiapan  teknologi  yang  merupakan  pengembangan  model  BPPT,  dan  dikembangkan  dengan  menggunakan  pendekatan  perencanaan,  pelaksanaan,  dan  pengelolaan  teknologi  litbang  yang  berpola  partisipatoris,
Gambar 3. Kerangka Pikir Penelitian
Tabel 1. Faktor Kurang Optimalnya Pemanfaatan Teknologi
+6

Referensi

Dokumen terkait