• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat penelitian

a. Sepeda motor.

Dalam penelitian ini, mesin yang digunakan untuk pengujian adalah motor bensin 4-langkah 110 cc. Adapun spesifikasi mesin uji yang digunakan adalah sebagai berikut :

Merek : Honda Absolute Revo

Tipe mesin : 4 langkah, SOHC

Sistem pendingin : Pendingin udara

Jumlah silinder : 1 (satu)

Diameter silinder : 50 mm Langkah piston : 55,6 mm Kapasitas silinder : 110 cc Perbandingan kompresi : 9,0 : 1 Daya maksimum : 8,46 PS / 7500 rpm Torsi maksimum : 0,86 kgf.m / 5500 rpm

(2)

Gigi transmisi : 4 kecepatan /bertautan tetap Kapasitas tangki bahan bakar : 3,7 liter

Tahun Pembuatan : 2010

Gambar 5. Sepeda Motor yang Digunakan

b. Stopwatch

Stopwatch digunakan untuk mengukur waktu pada saat pengujian.

Gambar 6. Stopwatch

c. Gelas ukur 100 ml

Gelas ukur 100 ml digunakan untuk mengukur volume air yang akan digunakan sebagai campuran komposisi pembuatan pelet Fly Ash.

(3)

Gambar 7. Gelas ukur 100 ml d. Tachometer

Tachometer yang dipakai dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui putaran mesin (rpm).

Gambar 8. Tachometer

e. Termometer air raksa

Termometer air raksa ini digunakan untuk mengetahui temperatur lingkungan saat pengujian.

(4)

f. Cetakan

Gambar 10. Cetakan

Cetakan digunakan sebagai alat untuk mencetak hasil campuran fly ash, aquades dan tapioka yang sebelumnya diaduk.

g. Perangkat analog

Dalam penelitian ini, Speedometer, odometer, sudah berada dalam satu unit panel analog motor pada dashboard. Speedometer dengan ketelitian 10 km / jam, odometer dengan ketelitian 100 m.

Gambar 11. Perangkat analog

(5)

h. Tangki bahan bakar buatan 250 ml

Gambar 12. Tangki bahan bakar buatan 250 ml

Digunakan sebagai wadah bahan bakar ketika proses pengambilan data. Sehingga tidak menggunakan tangki bahan bakar motor agar lebih mudah dalam proses pengukuran konsumsi bahan bakar.

i. Oven

Gambar 13. Oven

Digunakan untuk mengeringkan fly ash yang telah dibentuk pelet dan digunakan untuk aktivasi fisik.

(6)

j. Timbangan digital

Timbangan digital digunakan untuk mengukur berat fly ash sebelum dilakukan pencampuran dalam pembuatan fly ash pelet.

Gambar 14. Timbangan Digital k. Kompor

Digunakan untuk memasak atau memanaskan campuran tepung tapioka dan aquades.

Gambar 15. Kompor

l. Kemasan fly ash

Fly ash pelet dikemas dengan menggunakan kawat yang besarnya disesuaikan dengan ruangan pada rumah saringan udara.

(7)

Gambar 16. Kemasan Fly ash

2. Bahan penelitian

 Fly ash

Fly ash yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PLTU Tarahan yang mengandung komposisi kimia SiO2, Al2O3,MgO, CaO dan Fe2O3.

 Air

Air ini dipakai untuk mencampur fly ash agar mudah dibentuk menjadi fly ash pelet. Pada penelitian ini menggunakan 2 jenis air, yaitu air biasa dengan penyaringan zeolit, air aquades.

 Tepung Tapioka

Tepung tapioka yang digunakan adalah tepung tapioka yang dijual di pasaran Bandar Lampung yang berfungsi sebagai bahan perekat.

(8)

B. Persiapan Fly ash

Fly ash diayak dengan ukuran 100 mesh untuk mendapatkan ukuran partikel yang seragam. Proses pengayakan dilakukan dengan menggunakan ayakan dengan ukuran 100 mesh yang bertujuan untuk menyaring partikel yang lebih besar agar tidak tercampur dengan yang lebih kecil dan menghasilkan ukuran partikel yang semakin halus. Semakin kecil ukuran partikel fly ash maka akan semakin kuat daya rekatnya (Rilham, 2012). Pada penelitian ini menggunakan rangkaian pelet fly ash seberat 40 gram.

C. Pencetakan fly ash Menjadi Pelet

Pertama-tama campuran aquades dengan tapioka dimasak kurang lebih 5 menit hingga campuran tersebut berbentuk seperti lem. Kemudian campuran tersebut diaduk dengan fly ash hingga merata dengan cara memasukkan fly ash sedikit demi sedikit kedalam campuran tersebut. Pencampuran tersebut dilakukan sampai terjadi sebuah campuran yang kalis. Kemudian campuran tersebut diratakan dengan menggunakan ampia hingga mendapatkan permukaan campuran yang sama rata. Setelah merata bisa dilakukan pencetakan fly ash pelet dengan ukuran diameter lebar 10 mm dan tebal 3 mm. Proses pencetakan dilakukan secara manual dengan ukuran yang sama namun tekanan yang diberikan diabaikan. Hasil cetakan fly ash pelet tersebut didiamkan pada pada temperatur ruangan (secara alami) hingga fly ash kering selama 24 jam setelah itu baru dilakukan aktivasi fisik dengan oven pada

(9)

temperatur 150oC selama 1 jam. Proses aktivasi fisik ini berfungsi untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada fly ash pelet. Setelah diaktivasi fisik fly ash pelet tersebut kemudian diletakkan di dalam saringan udara kendaraan bermotor dengan alat tambahan berupa kawat strimin untuk mengemas fly ash tersebut supaya letak fly ash pelet merata pada saringan udara air yang digunakan divariasi (aquades, air mineral, dan air sumur). Selanjutnya melakukan pengujian konsumsi bahan bakar dengan menggunakan pelet fly ash tersebut pada saringan udara.

Setelah diperoleh data pengujian, dengan menggunakan pelet fly ash dengan kondisi aktivasi 150oC dalam waktu aktivasi 1 jam dan variasi jenis air terbaik, maka berikutnya adalah membuat cetakan pelet fly ash dengan menggunakan jenis air terbaik tersebut dan memberikan variasi kondisi aktivasi (temperatur dan waktu aktivasi). Adapun variasi temperatur yang digunakan yaitu 150oC ,175oC, 200oC dan 225oC sedangkan variasi waktu aktivasi yang digunakan yaitu 1 dan 2 jam.

(10)

D. Prosedur Pengujian

1. Menentukan komposisi terbaik

Untuk mendapatkan komposisi terbaik pada campuran pelet fly ash maka diberikan 3 variasi komposisi campuran, yaitu :

80 gram fly ash, 16 ml air, 4 gram tapioka (A16)  72 gram fly ash, 24 ml air, 4 gram tapioka (A24)  64 gram fly ash, 32 ml air, 4 gram tapioka (A32)

Air yang digunakan untuk menentukan komposisi campuran terbaik adalah aquades. Temperatur aktivasi yang digunakan adalah 150oC dan waktu aktivasi 1 jam (Rilham, 2012).

Sedangkan untuk menentukan komposisi terbaik dari campuran dapat dilihat dari hasil pengujian prestasi mesin yang dilakukan. Adapun pengujian prestasi mesin yang dilakukan yaitu :

a. Pengujian berjalan

a.1 Uji konsumsi bahan bakar pada kecepatan rata-rata selama perjalanan (50 km/jam) dengan jarak 5,7 km.

Persiapan yang perlu dilakukan adalah botol berkapasitas 250 ml. Kemudian botol tampung disambungkan dengan rapat bersama selang bensin dan diikat ke sisi samping sepeda motor, setelah itu botol tersebut diisi dengan bensin sebanyak 250 ml. Kemudian dilakukan pengujian dengan kondisi motor dengan filter udara tanpa pelet fly ash. Untuk pelet fly ash yang

(11)

digunakan yaitu pelet yang telah teraktivasi fisik pada temperatur 150o C dan waktu aktivasi 1 jam (Rilham, 2012). Jarak tempuh dapat diukur pada odometer. Setelah mencapai jarak 5,7 km, kemudian bensin yang tersisa diukur dengan cara melihat garis ukur pada tangki buatan, selanjutnya jumlah bensin awal dikurangkan dengan jumlah bensin yang tersisa, maka didapatkan jumlah bensin yang terpakai pada kondisi normal. Selanjutnya melakukan pengujian pada kondisi motor dengan filter udara yang menggunakan pelet fly ash. Format pencatatan data mengenai konsumsi bahan bakar dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Data konsumsi bahan bakar

No. Komposisi (%) Pengujian ke- Konsumsi Bahan Bakar (ml) 1 Tanpa 1 2 3 2 A20 1 2 3 3 A30 1 2 3 4 A40 1 2 3

(12)

a.2 Uji Akselerasi (0-80 km/jam)

Pengujian akselerasi menggunakan kondisi filter tanpa pelet fly ash dan menggunakan pelet fly ash. Setelah semua persiapan dilakukan, motor yang telah dinyalakan harus dalam keadaan berhenti (0 km/jam). Ketika gas mulai ditekan, stopwatch mulai diaktifkan. Setelah sampai pada kecepatan yang diinginkan (80 km/jam), stopwatch dinon-aktifkan kemudian dicatat waktu tempuhnya. Untuk mencapai kecepatan yang diinginkan (80 km/jm), pengendara melakukan perpindahan gigi yang teratur dan sesuai setiap pengujian. Format pencatatan data mengenai konsumsi bahan bakar dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Data akselerasi 0-80 km/jam

Pengujian ke- Waktu Tempuh (s) Tanpa A20 A30 A40 1 2 3 b. Pengujian stasioner

 Uji Konsumsi bahan bakar pada putaran mesin 1000 rpm, 3000 rpm, dan 5000 rpm

Pengujian ini dilakukan untuk melihat konsumsi bahan bakar yang digunakan pada kondisi diam (putaran stasioner) dan

(13)

membandingkan karakteristik kendaraan bermotor tanpa pelet fly ash dan dengan pelet fly ash yang dibuat dengan tiga variasi jenis air. Persiapan pertama yang dilakukan adalah memanaskan mesin agar kondisi mesin di saat pengujian sudah optimal. Kemudian putar setelan gas di bagian karburator untuk menentukan putaran mesin yang dipakai dalam pengujian. Putaran mesin yang dipakai pada pengujian ini yaitu 1000, 3000, dan 5000 rpm.

Pengujian dimulai dengan mengisi bahan bakar pada tangki buatan sebanyak 250 ml. Kemudian melakukan pengujian tanpa menggunakan pelet fly ash dan kemudian dicatat pada tabel. Selanjutnya pelet fly ash diletakkan pada saringan udara, setelah itu mesin dihidupkan dengan menghitung waktu pengujian menggunakan stopwatch (10 menit). Setelah waktu pengujian selesai, mesin dimatikan serta stopwatch dinon-aktifkan. kemudian bensin yang tersisa diukur dengan cara melihat garis ukur pada tangki buatan, selanjutnya jumlah bensin awal dikurangkan dengan jumlah bensin yang tersisa. Format pencatatan data mengenai konsumsi bahan bakar dapat dilihat pada tabel 4.

(14)

Tabel 4. Data Konsumsi Bahan Bakar Pada Pengujian Stasioner

No Komposisi (%)

Pengujian ke-

Konsumsi bahan bakar 1000 rpm 3000 rpm 5000 rpm 1 Tanpa 1 2 3 2 A20 1 2 3 3 A30 1 2 3 4 A40 1 2 3

2. Menentukan air hasil perlakuan perendaman zeolit yang terbaik

Air yang digunakan adalah air sumur yang diberikan perlakuan perendaman zeolit dengan variasi massa zeolit dan waktu perendaman zeolit.

a. Menentukan massa zeolit

Variasi massa zeolit yang dipakai untuk perendaman yaitu 10%, 20% dan 30% dari volume total air dan waktu perendaman awal yang digunakan yaitu 12 jam.

Untuk menentukan massa zeolit terbaik dapat dilihat dari hasil pengujian prestasi mesin yang dilakukan. Adapun pengujian prestasi mesin yang akan dilakukan yaitu pengujian berjalan dan stasioner

(15)

seperti pengujian sebelumnya. Sedangkan komposisi campuran pelet fly ash yang digunakan untuk menentukan massa perendaman zeolit terbaik adalah komposisi terbaik yang diperoleh dari hasil pengujian sebelumnya. Berikut ini adalah tabel data pengujian massa zeolit.

Tabel 5. Data Konsumsi Bahan Bakar (Berjalan) Pada Pengujian Massa Zeolit No. Massa Zeolit (%) Pengujian ke- Konsumsi Bahan Bakar (ml) 1 Tanpa 1 2 3 2 Z10 1 2 3 3 Z20 1 2 3 4 Z30 1 2 3

(16)

Tabel 6. Data Hasil Pengujian Akselerasi Pada Pengujian Massa Zeolit Pengujian ke- Waktu Tempuh (s) Tanpa Z10 Z20 Z30 1 2 3

Tabel 7. Data Konsumsi Bahan Bakar (Stasioner) Pada Pengujian Massa Zeolit No Massa Zeolit (%) Pengujian ke-

Konsumsi bahan bakar 1000 rpm 3000 rpm 5000 rpm 1 Tanpa 1 2 3 2 Z10 1 2 3 3 Z20 1 2 3 4 Z30 1 2 3

b. Menentukan waktu perendaman zeolit

Setelah mendapatkan massa perendaman zeolit terbaik terhadap air sumur, maka selanjutnya adalah menentukan waktu perendaman zeolit terhadap air sumur. Variasi waktu perendaman yang

(17)

digunakan adalah selama 12, 24, dan 36 jam. Namun setelah dilakukan perendaman selama 12, 24 dan 36 jam tidak terjadi perbedaan kadar pH dari air yaitu sebesar 6,8. Hal ini menunjukkan bahwa zeolit telah mencapai titik jenuh pada waktu di atas 12 jam sehingga peneliti mengubah variasi waktu untuk perendaman zeolit menjadi 6 jam (H6) dan 12 jam (H12)

Dalam mencari waktu perendaman zeolit terbaik dapat dilihat dari hasil pengujian prestasi mesin yang dilakukan. Adapun pengujian prestasi mesin yang akan dilakukan yaitu pengujian berjalan dan stasioner seperti pengujian sebelumnya. Komposisi campuran pelet fly ash yang digunakan adalah komposisi terbaik yang diperoleh dari hasil pengujian sebelumnya. Dalam pencampuran bahan, air sumur yang digunakan adalah air perendaman dengan massa zeolit terbaik. Berikut ini adalah tabel data pengujian waktu perendaman zeolit.

Tabel 8. Data Konsumsi Bahan Bakar (Berjalan) Pada Pengujian Waktu Perendaman Zeolit

No. Waktu Perendaman Zeolit Pengujian ke- Konsumsi Bahan Bakar (ml) 1 Tanpa 1 2 3 2 H6 1 2 3 3 H16 1 2 3

(18)

Tabel 9. Data Hasil Pengujian Akselerasi pada Pengujian Waktu Perendaman Zeolit Pengujian ke- Tanpa h12 h24 Waktu Tempuh (s) 1 2 3

Tabel 10. Data Konsumsi Bahan Bakar (Stasioner) Pada Pengujian Waktu Perendaman Zeolit

No Waktu Perendaman Zeolit Pengujian ke-

Konsumsi bahan bakar 1000 rpm 3000 rpm 5000 rpm 1 Tanpa 1 2 2 h12 1 2 3 h24 1 2 4 h36 1 2

3. Menentukan Jenis Air Terbaik

Komposisi campuran yang dipakai dalam pembuatan pelet fly ash adalah komposisi campuran terbaik yang didapat pada pengujian sebelumnya. Kondisi aktivasi yang diberikan terhadap pelet fly ash yaitu temperatur aktivasi sebesar 1500C dan waktu aktivasi selam 1 jam. Air yang dibandingkan adalah air aquades dengan air sumur hasil perlakuan

(19)

perendaman zeolit terbaik (perendaman pada massa zeolit dan waktu perendaman terbaik).

Tabel 11.Data Hasil Pengujian Berjalan dan Stasioner Untuk Menentukan Jenis Air Terbaik

No. Jenis Air Pengujian ke-

Pengujian Berjalan Pengujian Stasioner Konsumsi Bahan Bakar (ml) Konsumsi Bahan Bakar (ml) Waktu Tempuh Akselerasi (s) 1000 rpm 3000 rpm 5000 rpm 1 Aquades 1 2 3 2 Air Hasil Perendaman Zeolit Terbaik 1 2 3

4. Menentukan kondisi aktivasi terbaik

Setelah mendapatkan komposisi campuran dan air terbaik yang akan digunakan dalam pembuatan campuran pelet fly ash maka pelet fly ash dibuat dengan ukuran diameter 10 mm dan tebal 3 mm. Setelah pelet terbentuk, maka pelet fly ash harus diaktivasi terlebih dahulu. Pada pengujian ini kondisi aktivasi diberi variasi. Kondisi aktivasi yang divariasikan adalah Temperatur dan waktu Aktivasi

a. Menentukan temperatur aktivasi terbaik

Setelah pelet fly ash terbentuk maka langkah selanjutnya yaitu pelet dipanaskan di dalam oven agar dapat teraktivasi secara fisik.

(20)

Temperatur pemanasan divariasikan yaitu 1500C, 1750C,2000C, dan 2250C dengan waktu selama 1 jam.

Pengujian yang dilakukan untuk menentukan temperatur aktivasi Terbaik adalah pengujian berjalan dan stasioner seperti yang dilakukan pada pengujian sebelumnya. Data hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12. Data Konsumsi Bahan Bakar dengan Variasi Temperatur dan Waktu Aktivasi 1 jam pada pengujian berjalan

No. Temperatur (oC) Pengujian ke- Konsumsi Bahan Bakar (ml) 1 150 1 2 3 2 175 1 2 3 3 200 1 2 3 4 225 1 2 3

(21)

Tabel 13. Data Akselerasi 0-80 km/jam dengan Variasi Temperatur dan Waktu Aktivasi 1 jam

Pengujian ke- 150°C 175°C 200°C 225°C Waktu Tempuh (s) 1 2 3

Tabel 14. Data Konsumsi Bahan Bakar dengan Variasi Temperatur dan Waktu Aktivasi 1 jam Pada Pengujian Stasioner

No. Temperatur (oC)

Pengujian ke-

Konsumsi Bahan Bakar 1000 rpm 3000 rpm 5000 rpm 1 150 1 2 3 2 175 1 2 3 3 200 1 2 3 4 225 1 2 3

b. Menentukan waktu aktivasi terbaik

Setelah mendapatkan temperatur aktivasi terbaik, maka dilakukan pembuatan campuran dengan komposisi, jenis air dan temperatur aktivasi terbaik yang telah didapat dari pengujian sebelumnya. Setelah

(22)

pelet fly ash terbentuk maka pelet fly ash diaktivasi fisik dengan temperatur aktivasi terbaik yang didapat dari pengujian sebelumnya. Variasi waktu yang digunakan dalam pengujian ini adalah 1 dan 2 jam. Data hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 15.

Tabel 15. Data Konsumsi Bahan Bakar dengan Temperatur (terbaik) dan Waktu Aktivasi 2 jam pada Pengujian Berjalan

No. Waktu Aktivasi Pengujian ke- Konsumsi Bahan Bakar (ml) 1 1 jam 1 2 3 2 2 jam 1 2 3

Tabel 16. Data Akselerasi 0-80 km/jam dengan Temperatur (terbaik) dan Waktu Aktivasi 2 jam

Pengujian ke- 1 jam 2 jam

Waktu Tempuh (s)

1

2

(23)

Tabel 17. Konsumsi Bahan Bakar dengan Temperatur (terbaik) dan Waktu Aktivasi 2 jam Pada Pengujian Stasioner

No. Waktu Aktivasi

Pengujian ke-

Konsumsi Bahan Bakar 1000 rpm 3000 rpm 5000 rpm 1 1 jam 1 2 3 2 2 jam 1 2 3

5. Uji Emisi Gas Buang

Uji emisi gas buang ini akan dilakukan di Bengkel Mitsubishi Teluk Betung. Pada pengujian ini, sepeda motor akan dioperasikan pada putaran mesin 1000 dan 3000 rpm. Pengujian emisi akan dilakukan pada kondisi stasioner dengan mengikuti prosedur sebagai berikut:

a. Pemanasan mesin

Tujuan dilakukannya pemanasan mesin adalah untuk mempersiapkan mesin pada kondisi kerja.

b. Kalibrasi gas analyzer

Setelah mesin berada pada kondisi kerja, kemudian dilakukan kalibrasi gas analyzer. Kalibrasi ini dilakukan secara otomatis.

c. Pengujian tanpa menggunakan pelet fly ash

Data yang didapatkan dari hasil pengukuran ini digunakan sebagai pembanding dengan data pada pengukuran menggunakan pelet fly ash. Langkah-langkah pengukuran sebagai berikut:

(24)

 Mesin dalam keadaan hidup dengan kondisi idle 1000 rpm dan probe sensor sudah dimasukkan ke dalam knalpot.

 Nilai yang terbaca pada fuel gas analyzer diprint out datanya setelah 5 menit sepeda motor dihidupkan.

 Kemudian dengan langkah yang sama pula, pengukuran dilakukan kembali untuk putaran mesin yang berbeda yaitu 3000 rpm.

d. Pengujian menggunakan pelet fly ash terbaik hasil pengujian

Pelet fly ash yang akan digunakan dalam uji emisi ini adalah yang mampu menaikkan prestasi mesin terbaik. Setelah pengukuran pertama selesai maka pengukuran kedua dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

 Setelah mesin dimatikan kemudian pelet fly ash terbaik dipasang di Filter udara

 Setelah pelet fly ash terpasang, mesin dihidupkan kembali lalu pengukuran diulang kembali sesuai urutan pengukuran tanpa menggunakan fly ash tadi.

Pengulangan pengambilan data yang dilakukan sebanyak dua kali. Data Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 18.

(25)

Tabel 18. Data Pengujian Emisi Gas Buang No Perlakuan Putaran Mesin (rpm) Pengulangan ke- Kadar CO (%) Kadar HC (ppm) Kadar CO2 (%)

1 Tanpa Pelet Fly Ash 1000 1 2 3000 1 2 2 Dengan Pelet Fly Ash Terbaik 1000 1 2 3000 1 2 E. Lokasi Pengujian

Adapun lokasi pengujian berjalan (Road Test) dengan menggunakan motor bensin 4 langkah dilakukan di tiga (3) jalur alternatif, yaitu:

1. Rute Jalur dua KORPRI 2. Rute PKOR (Way Halim), dan

(26)

F. Diagram Alir

Pengujian tanpa Fly Ash

Perendaman zeolit dalam air sumur untuk pembuatan pelet fly ash Variasi waktu perendaman zeolit ditentukan yaitu 12, 24 dan 36 jam Menggunakan komposisi campuran pelet terbaik dan massa zeolit terbaik

Aktivasi fisik dengan temperature 150oC dalam waktu 1 jam

Data

Uji prestasi mesin

Mulai

Persiapan bahan, alat uji & ukur

Pembuatan pelet fly ash menggunakan air aquades Variasi komposisi ditentukan

80 gram fly ash, 16 ml air, 4 gram tapioka (A20)

72 gram fly ash, 24 ml air, 4 gram tapioka (A30)

64 gram fly ash, 32 ml air, 4 gram tapioka (A40)

Aktivasi fisik dengan tempteratur 150° C dalam waktu 1 jam

Data Pengujian

tanpa Fly Ash Uji prestasi mesin

Perendaman zeolit dalam air sumur untuk pembuatan pelet fly ash Variasi massa zeolit ditentukan yaitu 10%, 20% dan 30% dari total volume air

Menggunakan komposisi campuran pelet fly ash terbaik Aktivasi fisik dengan temperature 150oC dalam waktu 1 jam

Data

Uji prestasi mesin

C

Pengujian tanpa Fly Ash

(27)

Gambar 17. Diagram Alir Penelitian

Menentukan kondisi aktivasi pelet fly ash

Menggunakan komposisi campuran pelet fly ash dan jenis air terbaik Variasi temperature aktivasi ditentukan yaitu 150oC,175oC,200oC dan225oC

waktu aktivasi 1 jam

Data

Uji prestasi mesin

Menentukan jenis air terbaik

membandingkan data aquades dan air sumur hasil perlakuan perendaman zeolit)

Data Pengujian

tanpa Fly Ash

C

Uji prestasi mesin

Pengujian tanpa Fly Ash

Kesimpulan dan saran Hasil dan Pembahasan

Penulisan laporan Selesai

Menentukan kondisi aktivasi pelet fly ash

Menggunakan komposisi campuran pelet fly ash, jenis air dan temperatur aktivasi terbaik Variasi waktu aktivasi ditentukan yaitu 1 dan 2 jam

Data

Uji prestasi mesin

Data

Uji emisi gas buang

Pengujian normal

Pengujian normal

Gambar

Gambar 5. Sepeda Motor yang Digunakan
Gambar 7. Gelas ukur 100 ml  d.  Tachometer
Gambar 11. Perangkat analog
Gambar 13. Oven
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada kasus pernikahan melalui telepon, terpisahnya pihak-pihak yang melakukan akadakan menyebabkan ketimpangan dalam persaksian.Beberapa ulama fikih seperti Hanafiyah berpendapat

82 Tabel 6.38.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengelompokkan Penampilan Petugas Administrasi...82 Tabel 6.39 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Dimensi Tangibles...83

Sejalan dengan itu, dalam hal tingkat pendidikan khususnya bagi nelayan tradisional, untuk bekal kerja mencari ikan dilaut, latar belakang seorang nelayan memang tidak penting

Karena fungsi distribusi dari regresi model logit adalah membentuk distribusi Bernoulli maka dalam mengestimasi parameter β ini dapat didekati dengan estimasi dengan metode

Riview Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul tahun 2011-2015 merupakan penjabaran dari visi, misi, tujuan , strategi, kebijakan, program

Kegiatan penyaluran dana zakat senif ibnu sabil pada program beasiswa penuh tingkat mahasiswa D3/D4 dari keluarga miskin pada Baitul Mal Aceh dilaksanakan dengan

Guru memberikan wawasan kepada semua siswa sebelum pembelajaran dimulai bahwa tujuan dari belajar PAI pada bab Akhlaq dengan tema toleransi dan kerukunan