• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

1 I. BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki sekitar 17.506 pulau dengan dua pertiga diantaranya merupakan wilayah lautan. Berdasarkan UNCLOS (United Nation Convension in the Law of the Sea) 82/ HUKLA (Hukum Laut) 82 yang telah diratifikasi oleh pemerintah menjadi Undang-Undang No. 17 tahun 1985 dengan jelas menyatakan bahwa Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau baik besar maupun wilayah maritim yang melingkupi wilayah kedaulatannya (Bakhtiar, 2013). Luas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah 8.282.466 km2 dengan luas laut teritorial (hingga 12 mil laut dari garis pangkal)

adalah 284.211 km2. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang merupakan zona yurisd iks i

baru dalam UNCLOS 1982 memiliki luas sebesar 2.981.211 km2 dan landas kontinen

sebesar 2.817.149 km2 dimana landas kontinen ini masih di ekstensi pada bagian luar

sepanjang 200 mil laut dari garis pangkal yang berukuran 4.209 km2, berlokasi di

bagian barat Aceh (Arsana, 2016).

Indonesia mengakui dengan resmi sepuluh negara tetangga yang secara geografis berbatasan langsung dengan wilayah maritim Indonesia. Kesepuluh negara tetangga tersebut adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Timor Leste, dan Australia. Beberapa batas maritim Indonesia sampai saat ini masih terdapat tumpang susun (overlap) terhadap batas maritim negara-negara tersebut. Beberapa wilayah maritim seperti wilayah Indonesia dan Vietnam masih belum disepakati secara final karena terdapat tumpang susun antara batas maritim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dan batas maritim Vietnam. Hal tersebut juga terjadi antara Indonesia dan Malaysia dimana masih terdapat tumpang susun antara batas ZEE Indonesia dengan wilayah laut Malaysia. Permasalahan batas maritim antara Indonesia dan Vietnam maupun Indonesia dan Malaysia terjadi di kawasan Laut Tiongkok Selatan yang terletak di utara wilayah Indonesia dimana kawasan tersebut merupakan wilayah tumpang susun antar negara-negara tidak hanya

(2)

2 negara-negara yang berbatasan dengan Indonesia tetapi juga negara-negara lain di sekitar kawasan tersebut seperti Filipina dan Tiongkok.

Pada tahun 2016 Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melakukan klaim sepihak terkait batas wilayah lautnya di kawasan Laut Tiongkok Selatan dengan menyatakan sebagai garis batas nine-dash line. Garis batas maritim yang terdiri dari sembilan titik garis batas di kawasan Laut Tiongkok Selatan tersebut secara sepihak diklaim Tiongkok sebagai bagian dari wilayah kekuasaan maritim tersebut. Adanya garis batas berupa nine dash line tersebut maka terjadi banyak klaim tumpang susun antara negara-negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan seperti Vietnam, Malaysia, Filip ina, Tiongkok dan Indonesia sendiri. Tumpang susun yang terjadi di kawasan Laut Tiongkok Selatan terjadi pada wilayah ZEE Indonesia dengan Tiongkok, Malaysia maupun Vietnam (Putri, 2016). Adanya tumpang susun di kawasan Laut Tiongkok Selatan antara negara dan klaim sepihak oleh Tiongkok tersebut memunculkan adanya suatu bentuk sengketa (dispute) antara Filipina dan Tiongkok dimana pada tahun 2016 Filipina melayangkan tuntutan tidak setuju atas klaim Tiongkok kepada Badan Arbitrase Internasional (ITLOS).

Tuntutan Filipina ke Badan Arbitrase Internasional tersebut mendapat keputusan dengan dikeluarkannya PCA (Permanent Court of Arbitration) Award berupa press release terkait klaim sepihak Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan. Pada hasil putusan arbitrase internasional tersebut dengan jelas menyatakan bahwa nine dash line atau garis batas klaim sepihak Tiongkok di kawasan Laut Tiongkok Selatan tidak berdasar secara legal sehingga tidak diakui oleh Badan Arbitrase Internasio na l sebagai sebuah klaim yang kuat dan sah menurut hukum. Hasil putusan tersebut memenangkan tuntutan dari Filipina atas batas wilayah maritim negara tersebut dengan Tiongkok. Dengan keluarnya putusan tersebut pada tanggal 12 Juli 2016 lalu memberi dampak tidak hanya bilateral antara Tiongkok dan Filipina tetapi juga memberi dampak kepada wilayah-wilayah negara yang tumpang susun di kawasan Laut Tiongkok Selatan salah satunya Indonesia. Dengan tidak diakuinya nine-dash line di kawasan tersebut maka bagi Indonesia sendiri tidak ada batas maritim wilayah Indonesia yang bertumpang susun terhadap wilayah Tiongkok di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Batalnya klaim sepihak Tiongkok terhadap kawasan Laut Tiongkok Selatan pasca putusan arbitrase internasional tersebut membuat kedudukan Indonesia

(3)

3 menjadi berbatasan wilayah maritimnya secara hukum dengan negara Malaysia dan Vietnam saja di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Batas maritim Indonesia dengan kedua negara ditunjukkan dengan adanya tumpang susun pada ZEE antara Indonesia – Malaysia dan Indonesia – Vietnam.

Meskipun belum adanya kasus sengketa yang terjadi antara ketiga negara pada kawasan Laut Tiongkok Selatan tersebut berupa: penangkapan ikan, kasus pelanggaran batas dan kasus-kasus lain yang dianggap menimbulkan konflik. Dibutukan sebuah alternatif berupa visualisasi dari tumpang susun batas maritim antara ketiga negara tersebut baik Indonesia – Malaysia – Vietnam dalam perspektif serta tinjauan geospasial untuk memberi penegasan batas maritim antar negara di wilayah Laut Tiongkok Selatan. Dari adanya visualisasi tersebut maka dapat dilakukan analisa terkait penentuan batas maritim terbaik bagi ketiga negara tersebut, metode yang sering dan banyak digunakan untuk penentuan batas maritim pada wilayah ZEE dan Landas Kontinen adalah metode three-stage approach atau metode tiga tahap dimana garis ekuidistan biasanya ditarik sebagai garis batas sementara dan kemudian garis batas ekuidistan tersebut dimodifikasi berdasarkan pertimbangan yang relevan (Sumaryo dan Arsana, 2016). Visualisasi dan simulasi terkait tumpang susun batas maritim antara Indonesia dan kedua negara baik Malaysia serta Vietnam menggunaka n metode three-stage approach tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif solusi permasalahan dalam menentukan batas maritim antara Indonesia – Vietnam - Malaysia untuk menghindari adanya potensi konflik antara ketiga negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan di masa yang akan datang.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan utama pada penelitian ini adalah belum adanya batas maritim yang disepakati antara negara yang berada di Laut Tiongkok Selatan. Setelah keluarnya putusan arbitrase internasional berupa adanya press release terkait PCA (Permanent Court of Arbitration) Award terhadap tuntutan Filipina atas klaim sepihak Tiongkok maka memberi indikasi bahwa Tiongkok tidak memiliki batas maritim dengan Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia hanya berbatasan maritim dengan negara Malaysia dan Vietnam yang sampai sekarang batas antar ketiga negara belum juga

(4)

4 terdapat kesepakatan. Untuk menentukan batas maritim terkait ZEE dan Landas Kontinen yang ada pada kawasan tersebut salah satu metode yang digunakan sebagai sebuah opsi penentuan delimitasi baru di kawasan tersebut adalah metode three stage approach atau pendekatan tiga tahap. Dimana metode tersebut berguna untuk menentukan batas maritim mempertimbangkan adanya tinjauan geospasial dan legal yang berlaku.

I.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, ada beberapa pertanyaa n yang berkaitan dengan penelitian ini. Adapun pertanyaan penelitian tersebut sebagai berikut:

1. Bagaimana simulasi tumpang susun (overlay) klaim antara Indonesia, Malaysia dan Vietnam yang terjadi sekarang ini setelah keluar putusan Badan Arbitrase Intenasional di kawasan Laut Tiongkok Selatan?

2. Bagaimana opsi delimitasi dan analisis batas maritim Laut Tiongkok Selatan pasca keluarnya putusan arbitrase internasional terhadap tiga negara berbatasan di kawasan tersebut (Indonesia – Malaysia – Vietnam) menggunakan metode three –stage approach?

3. Bagaimana simulasi metode three-stage approach terhadap klaim tiga negara tetangga di kawasan Laut Tiongkok Selatan dan opsi terbaik yang didapatkan untuk melakukan delimitasi?

I.4 Pembatasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, penelitian ini memilik i beberapa batasan masalah. Adapun batasan-batasan tersebut sebagai berikut:

1. Negara yang terlibat simulasi tumpang susun (overlay) mengenai klaim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) tersebut adalah negara Indonesia, Vietnam dan Malaysia di kawasan Laut Tiongkok Selatan.

2. Setelah dilakukan simulasi tumpang susun antar batas maritim antara Indonesia, Malaysia dan Vietnam kemudian dilakukan delimitasi batas maritim pada ZEE dengan menggunakan metode three-stage approach

(5)

5 terhadap masing- masing Base Point pada masing- masing negara yang berada di kawasan Laut Tiongkok Selatan.

3. Dalam penelitian ini, dibuat dengan tiga analisis terpisah menggunaka n tiga asumsi yang berbeda. Asumsi pertama, berlakunya nine dash line sebagai bentuk klaim Tiongkok pada Laut Tiongkok Selatan yang masih diakui. Asumsi kedua, tumpang susun Indonesia-Malaysia-Vietnam ZEE pasca putusan arbitrase internasional dimana nine dash line tidak diakui. Asumsi ketiga, dari hasil tersebut kemudian melakukan analisis penentuan batas delimitasi maritim dengan menggunakan metode three-stage approach ditarik dari garis ekuidistan masing- masing negara.

4. Hasil simulasi tumpang susun dan penentuan delimitasi batas maritim disajikan pada peta maritim menggunakan datum WGS 84 dan sistem proyeksi World Mercator.

I.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diajukan, maka tujuan penelit ia n dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Dapat merepresentasikan dan memberi visualisasi dalam bentuk peta simulasi tumpang susun (overlay) pada kawasan Laut Tiongkok Selatan terhadap ketiga negara berbatasan Indonesia, Malaysia dan Vietnam sehingga dapat dilakukan identifikasi area atau wilayah yang bertumpang susun (overlap).

2. Dapat memberi alternatif penentuan batas maritim terhadap batas maritim ketiga negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan tersebut menggunakan metode three-stage approach.

3. Terbentuknya opsi penyelesaian delimitasi batas maritim Laut Tiongkok Selatan pasca keluarnya putusan arbitrase internas ional terhadap tiga negara berbatasan di kawasan tersebut (Indonesia – Malaysia – Vietnam) menggunakan analisis yang multi-background.

(6)

6 I.6 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, manfaat penelitian ini dapat dirumuska n sebagai berikut:

1. Manfaat bidang akademis

a. Munculnya suatu pemahaman yang sistematis, runtut, jelas dan dapat dipertanggungjawabkan terhadap adanya disiplin keilmuan terkait penetapan dan penegasan batas wilayah.

b. Sebagai suatu wadah untuk kembali berpikir kritis sebagai wujud solusi dari pluralnya alternatif solusi penegasan batas wilayah terutama batas maritim.

2. Manfaat bidang praktis

a. Sebagai salah satu alternatif solusi untuk penentuan batas maritim yang ada di kawasan dimana penelitian dilakukan atau untuk kasus batas maritim lain yang terjadi di berbagai kawasan.

b. Sebagai referensi pandangan untuk menjadi bahan perundingan para pengambil kebijakan penetapan dan penegasan batas maritim baik untuk kawasan penelitian atau kawasan batas maritim lain.

I.7 Tinjauan Pustaka

Keluarnya hasil putusan arbitrase internasional berupa PCA Award menjadi bentuk monumentasi ditolaknya klaim Tiongkok berupa nine dash line terhadap Laut Tiongkok Selatan. Putusan arbitrase tersebut menyatakan bahwa Tiongkok tidak memiliki hak untuk melakukan klaim sepihak di kawasan tersebut dikarenakan tidak berdasar sesuai dengan hukum legal yang berlaku di UNCLOS. Aduan terkait klaim sepihak Tiongkok muncul karena Filipina merasa bahwa klaim Tiongkok tidak berdasar dan merugikan negara tersebut.

Sabila (2015) menyatakan bahwa pada umumnya, perjanjian batas maritim antarnegara ditetapkan dengan berbagai perundingan atau negosiasi bilateral. Adapun jika perundingan antar kedua negara tidak bisa menyelesaikan permasalahan batas maritim antara keduanya, maka tahap selanjutnya bisa menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara mediasi ataupun arbitrase.

(7)

7 Mediasi merupakan suatu proses untuk menyelesaikan sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak yang bersengketa dengan bantuan seorang mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Sedangkan, arbitrase menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 199 tentang Arbitrase (UU Arbitrase), yang tercantum pada pasal 1 ayat 1: “Arbitrase merupakan cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa”. Langkah penyelesaian terakhir yang dapat ditempuh oleh pihak-pihak yang bersengketa adalah mengajukan kasus tersebut kepada pengadilan internasio na l yaitu Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) atau ITLOS (International Tribunal for the Law of the Sea).

Kasus sengketa yang terjadi pada tahun 2016 salah satunya adalah adanya aduan dari Filipina terkait adanya klaim sepihak oleh Tiongkok yang direpresentas ika n dengan adanya sembilan segmen garis putus-putus (nine dash line). Aduan dari Filipina tersebut disampaikan kepada ITLOS selaku badan arbitrase internasio na l, permasalahan tersebut dipicu oleh adanya klaim Pulau Spratly oleh Tiongkok sehingga mengakibatkan adanya tumpang susun di daerah kawasan Laut Tiongkok Selatan antara Tiongkok dan Filipina. Hasil aduan tersebut oleh ITLOS dimonument as i dengan keluarnya putusan arbitrase internasional pada tanggal 12 Juli 2016 dan dikenal dengan PCA Award 2016 yang menyatakan bahwa klaim Tiongkok terhadap Laut Tiongkok Selatan tidak diterima dan dengan demikian klaim berupa nine dash line di Laut Tiongkok Selatan tidak diakui secara sah (PCA Award, 2016).

Arsana (2016) menyatakan dalam analisisnya bahwa dengan adanya putusan PCA ini, keraguan ada atau tidaknya tumpang susun perairan (terutama ZEE) antara Indonesia dengan Tiongkok semestinya tidak ada lagi. Dengan begitu, Tiongkok jelas dipastikan bukan tetangga bagi Indonesia dalam batas maritim dan tidak perlu ada negosiasi terkait batas maritim dengan negara tersebut. Oleh karena itu, negara tetangga yang berbatasan dengan Indonesia hanyalah Malaysia dan Vietnam di kawasan tersebut. Antara ketiga negara tersebut juga belum ditemukan adanya keputusan final terkait tumpang susun yang ada di kawasan tersebut sehingga diperlukan adanya penetapan batas maritim atau delimitasi di kawasan tersebut pada daerah Zona Ekonomi Eksklusif.

(8)

8 Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2016) melakukan pendekatan analis is untuk melakukan simulasi tumpang susun (overlay) antara negara-negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan berupa negara Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Tiongkok terhadap adanya klaim nine dash line Tiongkok di kawasan tersebut. Simulasi tersebut memberikan representasi apabila klaim Tiongkok berlaku di kawasan tersebut, dapat dilihat Tiongkok menjadi negara tetangga Indonesia. Namun, pasca keluarnya putusan arbitrase internasional, Tiongkok tidak lagi menjadi negara yang berbatasan dengan Indonesia dan negara-negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan.

Dong (2009) menyinggung mengenai posisi dari Indonesia, Malaysia dan Vietnam terkait adanya tumpang susun batas maritim di negara tersebut. Mulai tahun 1977, Vietnam menegaskan dan menetapkan sistem garis pangkal lurus yang diimplementasikan tahun 1977 dimana garis pangkal lurus tersebut melingk up i sebagian besar kawasan pantai yang menghubungkan pulau-pulau tidak jauh dari daratan utamanya. Sedangkan Malaysia, dalam waktu lama tidak mendeklaras ika n garis pangkal lurus secara formal, meskipun bisa diduga dari peta yang dikeluarkan tahun 1979. Dan posisi Indonesia sendiri di Laut Tiongkok Selatan telah melakukan klaim berupa garis pangkal kepulauan, di wilayah Laut Tiongkok Selatan bagian barat daya, garis pangkal Indonesia menghubungkan titik paling tepi dari pulau terluar dan karang kering, sesuai pasal 47 (1) UNCLOS dan melingkupi Kepulauan Natuna di kawasan tersebut.

Beckman (2013) dalam Putri (2016) menganalisis bahwa jika semua negara yang berbatasan dengan Laut Tiongkok Selatan akan membawa klaim maritim mereka sesuai dengan ketentuan dalam UNCLOS, hal tersebut akan memperjelas daerah tumpang susun klaim maritim. Yang pada akhirnya akan membutuhkan sarana untuk melakukan negosiasi antara negara penuntut yang bersangkutan dalam perjanjian kerjasama lainnya di bidang tumpang susun klaim maritim.

I.8 Landasan Teori I.8.1. Zona-Zona Maritim

Klaim suatu negara atas pantai dan lautnya secara hukum dibagi oleh beberapa zona-zona maritim. Pada tahun 1982, United Nations Convention on the Law of the

(9)

9 Sea (UNCLOS) telah menetapkan, mengatur serta memberikan kerangka untuk penguasaan atas laut yang meliputi hak-hak seperti hak navigasi, eksploitasi sumber daya laut, yurisdiksi ekonomi dan berbagai permasalahan maritim lainnya. Salah satu tugas utama dari UNCLOS adalah untuk membantu negara-negara pantai dalam menetapkan batas maritim di negara-negara tersebut. Menurut UNCLOS, sebuah negara pantai bisa melakukan klaim atas wilayah maritim dengan syarat serta ketentuan yang telah diatur dalam UNCLOS. Zona-zona maritim tersebut meliput i beberapa bagian yaitu: Perairan pedalaman, Laut Teritorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dan Landas Kontinen. Di samping itu, wilayah maritim internasional terdiri dari wilayah Laut Bebas dan Dasar Laut Dalam (Arsana 2007 dalam Sabila 2015).

I.8.1.1. Perairan Pedalaman (Internal Waters) Perairan Pedalaman atau bisa disebut dengan Perairan Nasional adalah suatu wilayah perairan yang berada pada sisi dalam garis pangkal yang diukur ke arah daratan. Negara pantai memiliki kedaulatan yang bersifat penuh terhadap wilayah Perairan Pedalaman dengan catatan bahwa hak lintas damai tetap berlaku bagi kapal asing yang melalui kawasan yang tidak dikatergorika n sebagai Perairan Pedalaman sebelum ditentukan adanya garis pangkal lurus (Pasal 8 ayat (2) UNCLOS) dan tertuang dalam Pasal 8 UNCLOS.

I.8.1.2. Laut Teritorial (Territorial Sea) Laut Teritorial adalah wilayah laut dengan lebar 12 mil ditarik dari garis pangkal suatu negara pantai. Laut Teritorial dilihat dalam Pasal 2 dan 3 UNCLOS. Suatu negara pantai memiliki kedaulatan (sovereign) penuh atas wilayah Laut Teritorialnya dengan berlaku hak lintas damai bagi kapal-kapal asing yang melewati wilayah tersebut (Arsana 2007 dalam Sabila 2015). Kapal-kapal asing yang melintasi wilayah Laut Teritorial suatu negara pantai wajib mematuhi semua peraturan dan undang-undang dari negara yang wilayah Laut Teritoria lnya dilalui maupun mematuhi segala peraturan-peraturan internasional yang terkait dengan adanya kecelakan laut seperti tabrakan laut seperti terkutip dalam Pasal 21 UNCLOS. Laut teritorial termasuk kedalam kedaulatan negara yang harus diperhatikan secara penuh. Negara pantai memiliki hak dan.atau kewenangan terkait hukum dan peraturan beberapa hal tetapi dengan tetap memberi kebebasan kepada negara lain diantaranya mengenai hak lintas damai (innocent passage).

(10)

10 I.8.1.3. Zona Tambahan (Contiguous Zone) Zona tambahan adalah zona yang berbatasan langsung dengan laut teritorial suatu negara pantai. Zona ini diukur tidak lebih dari 24 mil laut dari garis pangkal negara bersangkutan. Negara pantai memilik i hak berdaulat (sovereignity rights) pada wilayah Zona Tambahan. Selain itu, pada zona ini, suatu negara pantai dapat melakukan berbagai kegiatan untuk menjaga wilayah tersebut dengan melaksanakan pengawasan untuk hal-hal tidak terduga yang meliputi pelanggaran peraturan perundang-undangan mengenai fiskal, bea cukai, fiskal, imigrasi atau saniter di dalam wilayah dan/atau laut teritorial serta menegakkan hukuman/sanksi/denda atas peraturan perundang-undangan yang dilakukan pada wilayah Zona Tambahan dan/atau Laut Teritoria l negara pantai bersangkutan. Zona Tambahan ini dapat ditegaskan dan ditentukan berdasarkan adanya keputusan-keputusan terkait yang telah ditetapkan dalam UNCLOS.

I.8.1.4. Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone) Pasal 57 UNCLOS menyatakan bahwa Zona Ekonomi Eksklucif (ZEE) adalah suatu zona maritim sejauh maksimal 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal suatu negara. Hak eksklusif yang didapatkan suatu negara pantai di zona ini adalah negara pantai berhak untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pelestarian, dan pengelolaan sumber daya alam (hayati dan non-hayati) di dasar, di bawah, dan di atas, serta kegiatan lain seperti produksi-produksi energi dari air, arus dan angin seperti tercantum pada Pasal 56 UNCLOS. Untuk peraturan lanjutan pada UNCLOS tercantum pada pasal 55 hingga pasal 75 UNCLOS.

I.8.1.5. Landas Kontinen (Continental Shelf) Landas Kontinen adalah suatu wilayah laut negara pantai yang mencakup suatu kawasan dasar laut dan tanah di bawahnya dari daerah di bawah permukaan laut yang terletak di luar Laut Teritorial dengan panjang kelanjutan alamiah daratan hingga pinggiran luar tepi kontinen atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis pangkal (dalam hal ini tepian kontinen tidak mencapai jarak tersebut).

I.8.1.6. Laut Bebas (High Sea) Laut Bebas menurut pasal 86 UNLOS dijelaskan bahwa Laut Bebas adalah bagian laut yang tidak termasuk dalam zona maritim perairan pedalaman, laut teritorial, zona tambahan maupun ZEE (Husna, 2017).

Berikut merupakan kebebasan laut bebas yaitu antara lain: 1. Kebebasan berlayar;

(11)

11 2. Kebebasan penerbangan;

3. Kebebasan untuk pemasangan kabel dan pipa bawah laut;

4. Kebebasan dalam membangun pulau buatan dan instalasi lain berdasarkan hukum internasional;

5. Kebebasan menangkap ikan; dan 6. Kebebasan melakukan riset ilmiah.

Gambar I.1 Pembagian zona maritim (TALOS, 2016) I.8.2. Klaim Atas Zona Maritim

Terhadap zona maritim yang berada di wilayah suatu negara, negara pantai memiliki klaim atas wilayah tersebut didasarkan pada zona yang dimilikinya. Klaim tersebut diatur dan ditetapkan dalam UNCLOS dan terkait dengan kewenangan yang menyertai wilayah maritim negara pantai bersangkutan. Klaim suatu negara pantai dibagi menjadi dua secara garis besar (Husna, 2017), yaitu:

a. Kedaulatan (sovereignity)

Kedaulatan merupakan suatu kewenangan penuh yang bersifat absolut oleh suatu negara untuk menjalankan kekuasaan terhadap suatu wilayah atau masyarakat. Untuk melaksanakan kehendak dan tujuannya, suatu negara tidak perlu untuk meminta pertimbangan dari negara lain di wilayah negara tersebut. Wilayah maritim yang termasuk dalam wilayah kedaulatan suatu negara adalah Perairan Pedalaman (internal waters), Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters), dan Laut Teritorial (Territorial Sea). Kedaulatan ini

(12)

12 meliputi ruang udara di atas laut serta dasar laut dan lapisan tanah di bawahnya (Putri, 2016).

b. Hak Berdaulat (Sovereign Right)

Hak berdaulat merupakan kewenangan suatu negara terhadap wilayah tertentu dimana di dalam pelaksanaannya harus tunduk pada peraturan maupun hukum yang dianut oleh masyarakat internasional. Hak berdaulat dapat diartikan sebagai suatu hak untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada pada kawasan tertentu. Wilayah maritim yang termasuk dalam hak berdaulat adalah Zona Tambahan (Contiguous Zone), Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone), dan Landas Kontinen (Continental Shelf). Hak berdaulat meliputi wilayah di atas dasar laut, dasar laut dan tanah di bawahnya (Putri, 2016).

I.8.3. Prinsip dan Konsep Delimitasi Batas Maritim

Untuk melakukan penyelesaian terkait tumpang susun kawasan maritim maka negara pantai membutuhkan suatu prinsip bernama delimitasi batas maritim. Hal itu disebabkan karena suatu negara pantaimemiliki hak klaim kawasan maritim yang sama dengan negara lainnya dan seringkali terjadi saling klaim suatu kawasan yang sama oleh dua negara sehingga mengakibatkan adanya suatu sengketa maritim di kawasan yang sama tersebut. Suatu keadaan dimana suatu kawasan yang sama dimiliki oleh lebih dari satu negara pantai disebut dengan tumpang susun atau pertampalan klaim (overlapping claim). Tumpang susun klaim bisa terjadi untuk Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif, dan Landas Kontinen yang masing-masing kawasan tersebut diselesaikan dengan cara berbeda sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (Arsana, 2010).

Pelaksanaan delimitasi zona maritim dilakukan dengan perundingan antara kedua negara bersangkutan. Penyelesaian melalui pihak ketiga juga dapat dilakukan melalui International Court of Justice (ICJ) atau International Tribunal for the Law of the Sea (ITLOS) atau dengan mediasi maupun arbitrase. Tumpang susun klaim antar negara satu dengan negara lainnya seringkali terjadi. Hal tersebut terjadi diakibatkan karena dua atau lebih negara mempunyai hak yang sama dalam klaim kawasan maritim tersebut sehingga klaim maritim tersebut tidak dapat memenuhi aturan yang

(13)

13 seharusnya berlaku terhadap negara yang melakukan klaim kawasan maritim tersebut. Berikut merupakan sebuah simulasi tumpang susun klaim dan dibutuhka nnya delimitasi batas maritim diilustrasikan dengan Gambar I.2.

Gambar I.2 Tumpang susun klaim dan perlunya delimitasi batas maritim

I.8.3.1. Delimitasi laut Teritorial Delimitasi Laut Teritorial sudah diatur dalam UNCLOS dimana dalam Pasal 15 dinyatakan bahwa dua negara yang saling berhadapan atau berdampingan tidak diperkenankan mengklaim laut teritoria l melebihi garis tengah (median line) antara kedua negara tersebut, kecuali jika ada kesepakatan lain antara kedua negara yang bersangkutan, atau dikarenakan adanya hak pertimbangan sejarah atau kondisi khusus yang ada di antara kedua negara dalam delimitasi Laut Teritorial. Kesepakatan lain, hak pertimbangan sejarah atau kondisi khusus yang ada di antara kedua negara dalam delimitasi Laut Teritorial dapat mempengaruhi pemilihan garis batas maritim selain yang umum diterapkan yaitu garis tengah (median line). Pada realisasi di lapangan, tiga faktor yang menjadi pengecualian dalam penggunaan garis tengah (median line) harus diterima oleh kedua negara yang menyelesaikan delimitasi batas maritim seperti misalnya pada saat pemberian bobot tertentu (nol, setengah, penuh) kepada pulau-pulau kecil di sekitar area delimitasi.

I.8.3.2. Delimitasi Zona Tambahan Zona ini memiliki lebar 24 mil laut ditarik dari garis pangkal menuju ke laut bebas. Zona Tambahan merupakan zona maritim yang

(14)

14 berdampingan dengan Laut Teritorial. Tidak ada aturan yang eksplisit mengatur mengenai delimitasi Zona Tambahan dikarenakan Zona Tambahan merupakan bagian dari Zona Ekonomi Eksklusif dan bukanlah merupakan wilayah kedaulatan atau yurisdiksi eksklusif, sehingga tidak ada alasan adanya delimitasi khusus untuk Zona Tambahan (Churcill dan Lowe 1999 dalam Arsana 2007).

I.8.3.3. Delimitasi Zona Ekonomi Eksklusif Delimitasi ini ditetapkan dalam pasal 74 UNCLOS dimana penetapan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) harus dilakukan dengan persetujuan maupun dasar hukum internasional. Hal tersebut juga sesuai dengan ketetapan dari Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional dimana setiap peaetapan harus didasarkan pada hukum internasional yang sedang berlaku. Perundinga n delimitasi batas ZEE baik metode mupun faktor yang mempengaruhi didasarkan atas kesepakatan kedua negara yang bersengketa dan mempertimbangkan keadilan serta hasil perundingan kedua negara. Dalam realisasinya, delimitasi batas maritim ZEE sama dengan delimitasi batas maritim landas Kontinen. Jurisprudensi dan praktik negara dalam dekade terakhir cenderung untuk lebih memberi penekanan terhadap peran fundamental geografi dalam delimitasi batas maritim pada kawasan 200 mil laut dari garis pangkal dibandingkan faktor lainnya. Namun demikian, apapun pertimbangan yang digunakan untuk mencapai kesepakatan garis batas maritim, pihak-pihak terkaitntidak wajib untuk mengumumkan cara dan alasan dicapainya sebuah kesepakatan delimitasi batas maritim. Hal tersebut dikarenakan delimit as i batas maritim, pada kenyataannya adalah suatu proses politis dan berkaitan dengan isu yang sangat sensitif dan berhubungan erat dengan kedaulatan dan hak berdaulat suatu negara (Prescott dan Schofield, 2005).

I.8.3.4. Delimitasi Landas Kontinen Delimitasi ini diatur dalam UNCLOS 1982 pada pasal 83. Delimitasi Landas kontinen dilakukan antar negara-negara dengan posisi pantai yang berseberanga atau berdampingan dipengaruhi oleh perjanjian-perjanj ia n yang didasarkan pada hukum internasional yang termuat pada Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional yaitu untuk mencapai solusi yang adil (Pasal 83 ayat 1). Namun, di pasal tersebut tidak memuat adanya petunjukrinci terkait proses delimit as i batas Landas Kontinen, sama halnya dengan Statuta Mahkamah Internasional yang diacu dalam pasal 83 tidak juga memberi petunjuk tentang delimitasi Landas Kontinen.

(15)

15 Penekanan pada kedua pasal yang mengatur delimitasi Landas Kontinen adalah untuk mencapai solusi yang adil (equitable solution).

Meskipun tidak ada yang menyebutkan secara tegas prinsip delimitasi Landas Kontinen, tetap dalam penyelesaiannya dapat menggunakan prinsip sama jarak sangat ditekankan sebagai alternatif delimitasi dalam Konvensi Landas Kontinen 1958 (Churcill dan lowe 1999 dalam Arsana 2007). Selain itu, tidak ada ketentuan dan konvensi yang benar-benar memberi petunjuk rinci untuk delimitasi Landas Kontinen yang mengindikasikan bahwa negara-negara bersengketa dapat mencapai kesepakatan melalui negosiasi dengan mempertimbangkan faktor yang dianggap mempenga r uhi dan metode yang sesuai (Arsana, 2007). Acuan lain yang digunakan untuk menetapkan batas Landas Kontinen juga bisa dilakukan dengan mempertimbangkan hasil putusan-putusan maupun penyelesaian batas Landas Kontinen terdahulu.

I.8.4. Aspek Teknis dalam Delimitasi Batas Maritim

Pembahasan terkait aspek-aspek teknis terdapat dalam dokumen Technical Aspects on the Law of the Sea (TALOS) yang secara resmi diterbitkan oleh International Hydrographic Bureau (IHB) pada tahun 2014. Beberapa aspek teknis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pulau, elevasi, pasang rendah (low-tide elevation), titik dasar (basepoint) dan garis pangkal (baseline).

I.8.4.1 Pulau Pulau menjadi penting untuk ditegaskan karena hanya pulau yang berhak untuk mengklaim zona maritim secara lengkap. Meliputi laut teritorial, ZEE dan Landas Kontinen. UNCLOS 1982 mendefinisikan pulau sebagai wilayah tanah (area of land) yang terbentuk secara alami (naturally formed), dikelilingi air (surrounded by water) dan harus berada di permukaan air saat pasut tinggi (above water at high tide).

Pulau juga dapat didefinisikan sebagai batu yang dapat mendukung kehidupan manusia atau kehidupan ekonomi dari makhluk hidup. Pulau harus memenuhi kedua definisi tersebut sehingga pulau bisa digunakan untuk mengklaim wilayah maritim untuk Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen. Apabila keempat syarat sebagai sebuah pulau terpenuhi tetapi fitur maritim tersebut tidak mampu mendukung kehidupan manusia, maka dinamakan dengan karang (rocks). Karang (rocks) hanya bisa mengklaim laut teritorial dan zona tambahan serta tidak

(16)

16 bisa mendukung kehidupan manusia atau kehidupan ekonominya secara mandir i. Pemahaman atas pengertian pulau menjadi penting mengingat keberadaannya dapat mempengaruhi batas maritim (Arsana, 2007).

I.8.4.2. Elevasi pasang rendah (low-tide elevation/LTE) Elevasi seperti dijelaskan dalam pasal 13 UNCLOS 1982 bahwa elevasi merupakan wilayah daratan yang terbentuk secara alami yang dikelilingi dan berada diatas permukaan air laut pada saat air surut tetapi berada dibawah permukaan laut saat air pasang. Garis air surut dapat digunakan sebagai garis pangkal untuk menentukan zona maritim yaitu laut teritorial apabila elevasi paling rendah atau Low-Tide Elevation (LTE) terletak sebagian atau seluruhnya pada jarak dengan tidak melebihi lebar laut teritorial dari suatu pulau. Jika LTE terletak seluruhnya dalam jarak yang melebihi luas laut teritoria l dari suatu pulau, maka LTE tersebut dianggap tidak dapat mengklaim laut teritorialnya.

I.8.4.3. Titik Dasar (Basepoint) Untuk mendapatkan luas wilayah maritim suatu negara pantai yang optimal, maka dilakukan pemilihan titik-titik menonjol pada garis nol kedalaman sebagai titik dasar. Titik dasar adalah titik yang diukur pada muka laut terendah (chart datum) yang diketahui koordinatnya. Titik-titik tersebut kemudian dijadikan acuan untuk menentukn garis pangkal (baseline) untuk melakukan klaim zona maritim.

Untuk digunakan sebagai titik dasar maka diakui bentuk-bentuk geografis yang dianggap mewakili bentuk geografis pada wilayah perairan antara lain pantai landai (pada garis air rendah di tepi pantai landai), elevasi surut (bentukan alamiah yang tampak pada waktu air surut) dan pantai curam (karena sulitnya diperoleh kontur nol kedalaman (Estefania 2016 dalam Husna 2017). Penentuan titik-titik dasar yang digunakan Indonesia terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2008. Pada penelitian ini, titik-titik dasar Malaysia didasarkan pada Laws of Malaysia Act 660 Baselines of Maritime Zones Act 2006 yang dipublikasikan oleh The Comissioner of Law Revision, Malaysia.

Sedangkan, untuk titik-titik dasar Vietnam didasarkan pada perjanjian antara Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Sosialis Vietnam terkait Delimitasi Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen di Teluk Tonkin pada tahun

(17)

17 200 dan resmi berlaku pada tanggal 30 Juni 2004 yang tertuang dalam M.Z.N. 52. 2004 Law of the Sea 9 December 2004.

I.8.4.4. Garis Pangkal (Baseline) Garis pangkal merupakan garis yang disusun oleh titik-titik pangkal sepanjang muka laut terendah, yang menjadi acuan dalam menentukan wilayah maritim suatu negara (IHO 2009 dalam Sabila 2015). Garis pangkal (baseline) adalah garis yang dijadikan referensi dalam penentuan zona-zona maritim suatu negara. Seperti dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, garis pangkal merupakan garis yang terbentuk dari air surut terendah masing-masing wilayah dan akan dijadikan referensi dari peta laut yang dibuat.

Hal yang perlu ditentukan sebelum menentukan garis pangkal suatu negara adalah terlebih dahulu menentukan titik-titik dasar yang digunakan sebagai dasar dalam menentukan garis pangkal yang akan digunakan. Nantinya, garis pangkal yang telah ditentukan oleh suatu negara harus dicantumkan dalam peta skala besar resmi suatu negara pantai atau diberikan dalam bentuk koordinat geografis yang selanjut nya diumumkan secara resmi serta diserahkan salinannya kepada Sekretaris Jenderal PBB. Macam-macam garis pangkal bagi suatu negara pantai dapat dilihat pada Gambar I.3 berikut ini.

Gambar I.3 Macam-macam garis pangkal (Arsana, 2007)

Gambar I.3. merupakan macam-macam garis pangkal yang terdapat dalam aturan UNCLOS. Huruf A pada gambar untuk menyatakan Negara A, sedangkan huruf B untuk menyatakan Negara B. Terdapat dua negara yang memiliki karakteristik garis pantai yang berbeda. Karakteristik garis pantai yang berbeda menyebabkan garis

(18)

18 pangkal yang digunakan Negara A dan Negara B berbeda. Negara A menggunaka n beberapa macam garis pangkal karena memiliki bentuk garis pantai yang tidak beraturan dan juga terdapat teluk, karang, dan sungai yang menuju ke laut, sedangkan Negara B menggunakan garis pangkal kepulauan karena negara tersebut tersusun atas pulau-pulau. Definisi macam-macam garis pangkal dijelaskan sebagai berikut (Davidson & Davidson, 1997) :

a. Garis Pangkal Normal (Normal Baseline)

Garis pangkal normal didefinisikan sebagai garis air rendah (the low-water) sepanjang muka laut yang mengikuti bentuk alami pantai di sekeliling benua, pulau, batas terluar dari pelabuhan permanen, atau batu karang yang muncul,dan terumbu karang sekitar pulau. Garis pangkal normal ini ditetapkan pada peta laut skala besar yang ditetapkan pada negara pantai. Ketentuan tentang garis pangkal normal dapat dilihat pada Pasal 5 UNCLOS. Garis pangkalnya mengikuti bentuk alami garis pantai.

b. Garis Pangkal Lurus (Straight Baseline)

Garis pangkal lurus adalah garis yang terdiri atas segmen-segmen lurus menghubungkan titik-titik tertentu yang memenuhi syarat (TALOS, 2006). Syaratnya antara lain, jika garis pantai benar-benar menikung dan memotong ke dalam atau bergerigi (deeply indented and cut into), atau jika terdapat pulau tepi (fringing island) di sepanjang pantai yang tersebar tepat di sekitar (immediate vicinity) garis pantai, hal ini sesuai dengan aturan Pasal 7 UNCLOS. Garis pangkal ini adalah penyederhanaan dari garis pantai yang tidak beraturan.

c. Garis Pangkal Penutup Sungai (Mouth of Rivers)

Garis pangkal yang menutup mulut sungai dapat dilakukan jika terdapat aliran sungai langsung menuju laut. Ditutup dengan sebuah garis lurus yang merupakan satu kesatuan sistem garis pangkal. Garis pangkal ini bisa memotong garis lurus muara sungai antara titik pada garis air rendah (Pasal 9 UNCLOS). Garis pangkal ini adalah penyederhanaan dari garis pantai yang tidak beraturan.

(19)

19 Teluk adalah bagian laut yang secara jelas teramati menjorok ke daratan yang jarak masuknya dan lebar mulut teluknua memenuhi perbandingan tertentu, bukan hanya lekukan pantai biasa. Suatu lekukan pantai dianggap sebagai teluk, jika luas lekukan tersebut sama atau lebih luas dari setengah lingkara n yang diameternya melintasi mulut lekukan tersebut. Garis pangkal dibuatdengan menarik garis lurus antara titik-titik pada garis air rendah di pintu masuk alamiah (mulut) suatu teluk yang panjangnya tidak lebih dari 24 mil laut. Apabila melebihi 24 mil laut, maka suatu garis lurus yang panjangnya 24 mil laut ditarik sehingga menutup suatu daerah perairan yang maksimal dicapai oleh garis tersebut (Pasal 10 UNCLOS). Namun, hal ini tidak berlaku pada teluk yang disebut sebagai teluk bersejarah (historic bays).

e. Garis Pangkal Kepulauan (Archipelagic Baseline)

Garis pangkal ini, yang hanya bisa dimilki oleh negara kepulaun, dengan menghubungkan titik-titik pulau terluar suatu negara dan karangkepula ua n dengan jarak maksimal tiap segmen garis 100 mil laut kecuali 3% dari total segmen garis pangkal kepulauan yang panjangnya bisa mencapai 125 mil laut. Tidak ada batasan jumlah segmen garis pangkal yang bisa digunakan. Jika panjang suatu segmen garis pangkal lebih dari 100 mil laut maka harus diputuskan untuk mengurangi panjang garis pangkal dengan menambah titik pangkal baru sehingga panjang segmen garis pangkal kurang dari 100 mil laut (Pasal 47 UNCLOS) seperti yang terdapat pada Gambar I.4 berikut.

Gambar I.4 Garis pangkal kepulauan (IHO 2014 dalam Sabila 2015)

(20)

20 1.8.4.5. Garis pangkal Indonesia, Malaysia dan Vietnam Indonesia, Malaysia dan Vietnam adalah tiga negara dari berbagai negara yang memiliki klaim maritim di Laut Tiongkok Selatan. Ketiga negara tersebut merupakan negara yang memiliki kawasan klaim yang sama pada beberapa segmen di Laut Tiongkok Selatan. Titik pangkal ketiga negara terletak di wilayah terluarnya, dapat terletak di pulau terluar atau karang. Untuk negara Indonesia, berlaku garis pangkal kepulauan karena negara tersebut terdiri dari pulau-pulau baik besar dan kecil, sedangkan syarat suatu negara dapat menggunakan garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada pasal 47 UNCLOS. Ilustrasi dilihat pada Gambar I.5, I.6 dan I.7.

Gambar I.5 Persebaran titik pangkal Indonesia di Laut Tiongkok Selatan (basemap Peta BAC 4508)

(21)

21 Gambar I.6 Persebaran titik pangkal Malaysia

(22)

22 1.8.4.6. Sistem Koordinat Menyatakan koordinat suatu titik dengan koordinat 2D (dua dimensi) maupun 3D (tiga dimensi) yang mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat tersebut didefinisikan dengan parameter-parameter yaitu (Sabila, 2015):

a. Lokasi titik nol dari sistem koordinat b. Orientasi dari sumbu-sumbu koordinat

c. Parameter-parameter (kartesian, kurvilinier) yang digunakan untuk mendefinisikan posisi suatu titik dalam sistem koordinat tersebut.

Untuk menentukan sistem referensi koordinat terlebih dahulu harus ditentukan bidang datum yang digunakan. Bidang datum adalah suatu bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik koordinat geografis atau koordinat geodetis (Prihandito 2010 dalam Sabila 2015). Ada setidaknya dua metode untuk menentukan datum dengan cara

I.8.5. Metode Delimitasi Batas Maritim

Metode-metode yang digunakan dalam penentuan delimitasi batas maritim terdapat beberapa macam yaitu: metode garis ekuidistan, metode paralel dan meridia n, metode enklaf, metode tegak lurus (perpendicular), metode garis paralel dan metode batas alami (natural boundary).

I.8.5.1. Metode garis ekuidistan (equidistance line). Merupakan metode penetuan batas maritim yang menggunakan prinsip sama jarak atau garis tengah dengan bantuan dua buah garis yang memiliki jarak sama jika diukur dari garis pangkal. Perbedaan antara metode ini dengan median line adalah pada equidistance line digunakan untuk negaranegara yang berdampingan sedangkan median line digunakan untuk negara -negara yang berseberangan. Meskipun istilah yang digunakan terdapat perbedaan, kedua metode tersebut merujuk kepada geometri matematis yang sama yaitu garis tengah yang diperoleh dengan metode sama jarak (Arsana 2007 dalam Husna 2017).

Metode garis ekuidistan (equidistance line) terbagi menjadi tiga buah metode yaitu:

1. Garis ekuidistan murni (strict equidistance line)

Garis yang didapatkan dari hasil penarikan garis dari titik pangkal terdekat antar kedua negara lalu membaginya sama panjang dan dilakukan

(23)

23 sepanjang bentuk geometri negara (Yuniar 2014 dalam Husna 2017). Metode ini menghasilkan titik-titik belok (turning points) agar garis tersebut tetap bersifat ekuidistan sepanjang garis yang dihasilkan. Garis yang dihasilkan sangat kompleks dikarenakan terdiri dari banyak segmen garis lurus.

Gambar I.8 Garis ekuidistan negara berhadapan (IHO, 2006)

Gambar I.9 Garis ekuidistan negara berdampingan

2. Garis ekuidistan yang disederhanakan (simple equidistance line)

Garis yang dihasilkan dari penyederhanaan prinsip yang sama dengan garis ekuidistan murni. Garis tersebut merupakan modifikasi dengan mengurangi titik belok yang berakibat pada bertambah oanjangnya segmen pembentuk garis batas maritim. Penggunaan metode ini akan mengakibatkan pertukaran atau kompensasi wilayah maritim antara kedua negara yang sama (Arsana 2007 dalam Husna 2017).

(24)

24 Garis yang merupakan hasil dari penggunaan prinsip yang sama dengan garis ekuidistan murni. Modifikasi atau penggeseran garis ekuidistan murni akan memberikan keuntungan pada salah satu pihak yang terlibat dalam penentuan batas maritim. Beberapa pertimbangan dalam penentuan batas maritim dengan menggunakan metode ni adalah unsur-unsur geografis (geographic features) seperti pulau-pulau, karang atau elevasi surut (low-tide elevation). Pengubahan terhadap pemilihan titik pangkal, pemberian efek parsial terhadap unsur tertentu, pertimbangan non-seismik (seperti kepentingan navigasi, ekonomi dan penggunaan titik pankal negara lain) (Legault dan hunkey 1993 dalam Arsana 2007).

I.8.5.2. Efek parsial. Merupakan efek yang diberikan pada garis batas maritim yang telah dibuat konstruksinya dengan garis ekuidistan murni. Efek ini berupa bobot nol (null-effect), bobot setengah penuh (half-effect) dan bobot penuh (full effect) dari sebuah fitur maritim yang dapat mengubah garis garis ekuidistan murni sesuai kesepakatan antara kedua negara yang berangkuran. Ilustrasi pada Gambar I.10.

Gambar I.10 Efek parsial (IHO 2014 dalam Sabila 2015)

I.8.5.3. Enklaf (enclaving). Merupakan suatu metode untuk memberikan sabuk kawasan laut (zona maritim) kepada pulau yang terenklaf sehingga berwujud garis batas berupa busur lingkaran yang diukur dari titik pangkal terluar (United Nations 2000 dalam Husna 2017). Metode ini dapat disebut juga sebagai salah satu bentuk

(25)

25 ekuidistan termodifikasi karena metode ini memberikan efek bobot yang tidak penuh kepada pulau terenklaf yang merupakan bagian kedaulatan salah satu negara yang bersangkutan. Ilustrasi enklaf disajikan dalam garmbar I.11.

Gambar I.11 Enklaf (IHO 2014 dalam Sabila 2015)

Dua metode enklaf yang dipublikasikan oleh PBB adalah metode enklaf penuh (full enclave) dan enklaf sebagian (semi-enclave).

1. Full-enclave

Metode ini diterapkan saat kawasan maritim yang diberikan kepada sebuah pulau terenklaf terpisah secara keseluruhan dengan suatu kawasan maritim yang dimiliki oleh daratan utama negara pantai yang dimiliki pulau tersebut.

2. Semi-enclave

Metode ini diterapkan ketika kawasan maritim yang diberikan sebuah pulau terenklaf yang sebagian terhubung atau berada di kawasan maritim yang masih merupakan yurisdiksi atau kedaulatan negara pemilik pulau tersebut. Metode ini sering digunakan ketika sebuah atau sekelompok pulau berada di lokasi dekat atau tepat di tengah-tengah kawasan maritim yang memerlukan delimitasi (Arsana, 2007).

(26)

26 I.8.5.4. Garis perwakilan (lines of bearing). Metode garis perwakilan tidak menggunakan bentuk pantai sebagai garis batas, tetapi disederhanakan dengan berbagai pertimbangan. Metode ini terdiri dari metode paralel, metode meridian dan metode tegak lurus (perpendicular).

1. Metode Paralel dan Meridian

Merupakan metode yang menggunakan komponen garis paralel dan/atau meridian bujur untuk diterapkan pada kasus negara-negara yang berdampingan sebagai bentuk untuk menghindari efek pemotongan atau “cut-off”.

2. Metode Tegak Lurus (perpendicular)

Merupakan metode yang menggunakan garis tegak lurus dengan arah umum garis pantai (general direction of the coast) untuk diterapkan pada kasus negara yang memiliki bentuk bibir pantai sangat kompleks dan posisi kedua negara berdampingan.

I.8.5.5. Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach). Pendekatan Tiga Tahap adalah metode baru yang dilakukan dalam penyelesaian batas maritim. Metode Pendekatan Tiga Tahap digunakan oleh Mahkamah Internasional (ICJ) dan International Tribunal Law of The Sea (ITLOS) dalam menetapkan batas Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen untuk penyelesaian sengketa-sengketa batas maritim yang ditangani. Secara umum, tiga tahapan yang dilakukan yaitu:

a. Membuat garis ekuidistan sementara

b. Memodifikasi garis ekuidistan sementara dengan sebelumnya menentuka n faktor-faktor yang berpengaruh

c. Uji disproporsionalitas pada hasil yang diperoleh dengan membandingka n panjang pantai relevan dan luas Zona Ekonomi Eksklusif yang diperoleh masing- masing negara dari delimitasi.

Three-Stage Approach digunakan pertama kali pada penyelesaian sengketa antara Rumania dan Ukraina. Secara umum proses delimitasi batas maritim diawali dengan penentuan pantai relevan dan area relevan. Pantai relevan digunakan untuk menentukan titik-titik pangkal yang tepat untuk kemudian digunakan dalam garis pangkal yang akan digunakan dalam pembentukan garis ekuidistan. Area relevan dapat ditentukan setelah diketahui pantai relevan, untuk mengetahui wilayah yang menjadi

(27)

27 area delimitasi batas maritim. Penentuan pantai relevan dan area relevan akan digunakan dalam uji disproporsional pada tahap akhir delimitasi batas maritim.

Metode delimitasi Three-Stage Approach meliputi tiga tahapan, yaitu: 1. Konstruksi garis batas sementara

Penentuan garis batas sementara dilakukan dengan metode bisektor sehingga didapat garis ekuidistan sementara dengan mempertimbangka n titik pangkal masing- masing negara. Metode bisektor adalah konstruksi garis ekuidistan dengan memperhatikan jarak dan sudut yang sama.

2. Modifikasi garis batas sementara

Modifikasi garis batas sementara dilakukan karena terdapat faktor-faktor relevan yang mempengaruhi suatu garis batas. Pada keputusan Mahkamah Internasional yang sudah ditetapkan untuk beberapa kasus sengketa batas maritim, faktor relevan yang berpengaruh dapat berupa keberadaan fitur maritim seperti pulau, panjang pantai dari masing- masing negara, maupun kemudahan transportasi di wilayah tersebut.

3. Uji Disproporsionalitas

Uji disproporsionalitas adalah tahap ketiga dalam metode Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach). Uji disproporsionalitas dapat juga disebut Uji Keadilan atau Tes Keadilan. Pada tahapan ini panjang pantai relevan masing- masing negara dan luas wilayah maritim yang sudah didapatkan dari delimitasi dibandingkan. Uji disproporsionalitas digunakan untuk memastikan bahwa garis batas maritim yang dihasilkan pada tahap-tahap sebelumnya adil dan tidak melanggar asas proporsionalitas, terutama pada perbandingan pantai relevan dan area hasil delimitasi. Uji disproporsionalitas dapat memberi perubahan pada garis batas marit im yang dihasilkan, namun bisa juga tidak memberi pengaruh apapun jika pada kasus tersebut perbandingan pantai relevan dan area hasil delimitasi tidak signifikan.

I.8.5.6. Proporsional. Delimitasi batas maritim antara kedua negara dapat dilakukan dengan melakukan penarikan garis ekuidistan murni, enklaf beberapa pulau, dan juga efek pasial yang dilakukan di suatu fitur maritim. Proporsional adalah proporsi atau

(28)

28 presentasi yang akan diberikan dari ketiganya yang mempengaruhi batas maritim antara kedua negara tersebut.

Ilustrasi dari konsep proporsional dapat dilihat pada Gambar I.12.

Gambar I.12 Proporsional (IHO 2014 dalam Sabila 2015) I.8.6. Klaim Tiongkok atas Laut Tiongkok Selatan

Melalui Note Verbal tahun 2009, Tiongkok memplublikasikan klaim atas maritim atas Laut Tiongkok Selatan. Klaim tersebut ditegaskan dengan penegasan kedaulatan Tiongkok dan hak terkait yurisdiksi di Laut Tiongkok Selatan. Penegasan tersebut didukung oleh bukti-bukti sejarah dan hukum yang cukup menguatka n. Permasalahan menjadi muncul karena klaim Tiongkok tersebut tidak didukung oleh adanya suatu kerangka hukum yang mendukung klaim mereka terhadap Laut Tiongkok Selatan mengesampingkan adanya bukti-bukti sejarah. Selain itu, batas-batas klaim tersebut juga belum terdefinisikan dengan jelas dan legal hingga karena Tiongkok belum dengan tegas mempublikasikan koordinat nine-dash line secara resmi (Putri, 2016).

(29)

29 Agar suatu klaim memiliki payung hukum yang tegas, maka klaim maritim harus didukung dengan adanya peta yang dimasukkan ke dalam perjanjian, dan harus sesuai dengan persyaratan definisi tertentu dalam hal klarifikasi batas-batas dan isi dari klaim tersebut (Miyoshi 2012 dalam Putri 2016). Klaim Tiongkok di wilayah Laut Tiongkok Selatan didasarkan pada sejarah dan penemuan pertama. Kendala utama dari tidak berdasarnya klaim tersebut adalah bahwa tidak ada hukum internasional yang mendukung klaim tersebut sebagai suatu batas maritim yang sah secara legal (Buszynski 2013 dalam Putri 2016). Ilustrasi dari klaim Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan disajikan dalam Gambar I.13.

Gambar I.13 Ilustrasi hasil digitasi nine-dash line (Putri, 2016)

I.8.7. Putusan Permanent Court of Arbitration (PCA Award) 2016 Arbitrase Laut Tiongkok Selatan

Permanent Court of Arbitration (PCA) atau disebut sebagai Badan Arbitrase Nasional adalah sebuah organisasi antar pemerintah yang didirikan pada tahun 1899 oleh Konvensi Haag untuk menjaga perdamaian di kawasan Pasifik terkait sengketa -sengketa internasional batas maritim. PCA sendiri memiliki 121 anggota yang terdiri dari negara-negara maritim di dunia. Kantor PCA berlokasi di Peace Palace Haag, Belanda. Fungsi utama dari badan ini adalah untuk memfasilitasi arbitrase, konsilias i, pengumpulan fakta dan berbagai macam solusi sengketa terhadap kombinasi dari

(30)

30 negara, entitas negara, organisasi-organisasi inter-pemerintah dan pihak-pihak tertentu (PCA, 2016).

Pada tanggal 12 Juli 2016 PCA mengeluarkan Putusan Tribunal terkait Arbitrase Laut Tiongkok Selatan antara Filipina dan Tiongkok. Flipina melayangka n surat protes kepada PCA atas klaim sepihak Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan. Klaim ‘nine-dash line’ yang diakui oleh Tiongkok dalam kenyataannya mengala mi tumpang susun (overlap) di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) wilayah maritim Filipina yang dilayangkan dalam ‘Position Paper of the Government of the People’s Republic of China on the Matter of Jurisdiction in Soutch China Sea Arbitration Initiated by the Republic of the Philippines’ tertanggal 7 Desember 2014. Republik Rakyat Tiongkok sendiri seperti dijelaskan dalam hasil dokumen PCA Award tidak menerima ataupun ikut serta dalam proses arbitrase tersebut (PCA, 2016).

Berdasarkan hasil putusan Tribunal tersebut, klaim Tiongkok terhadap kedaulatan yurisdiksi terhadap klaimnya di Laut Tiongkok Selatan berupa ‘nine-dash line’ kontras terhadap konvensi dan tanpa efek hukum yang jelas bagaimana klaim itu ditetapkan secara geografis dan substantif terhadap wilayah maritim Laut Tiongkok Selatan berdasar UNCLOS (PCA, 2016). Putusan Tribunal secara legal menolak argumen yang dipergunakan Tiongkok dalam Position Paper yang dibuat. Putusan Tribunal menerima bahwa terdapat sengketa antara pihak-pihak yang bersengketa terkait kedaulatan negara di wilayah Laut Tiongkok Selatan. Hingga pada kesimpulannya, Tribunal menyatakan secara eksplisit bahwasengketa terhadap interaksi antara Konvensi dan hukum-hukum yang lain (termasuk ‘hak-hak historis’ Tiongkok) adalah suatu sengketa merujuk pada Konvensi dan Tiongkok tidak secara jelas menyatakan posisinya dan klaim nine-dash line dinyatakan sebagai suatu klaim yang ditolak (PCA, 2016).

I.8.8. Posisi Indonesia di Laut Tiongkok Selatan dan Dasar Hukum Batas Maritim yang Berlaku di Indonesia, Malaysia dan Vietnam

I.8.8.1. Posisi Indonesia di Laut Tiongkok Selatan. Indonesia memilki akses di Laut Tiongkok Selatan karena haknya atas zona maritim yang diukur dari garis pangkal di sekitar Kepulauan Natuna. Meskipun batas kewenangan Indonesia atas kawasan air laut di Laut Tiongkok Selatan belum disepakati dengan negara tetangga, Indonesia

(31)

31 memiliki klaim sepihak (unilateral claim) yang dijadikan dasar bagi batas wilayah pengelolaan perikanan di kawasan tersebut Meskipun Indonesia tidak ikut terlibat dalam sengketa pulau-pulau di Laut Tiongkok Selatan, Indonesia tetap memiliki hak atas kawasan maritim disana termasuk sumber daya di dalamnya.

Dalam pespektif Indonesia, belum jelasnya kedaulatan dan hak berdaulat atas kawasan maritim di Laut Tiongkok Selatan disebabkan oleh setidaknya dua hal yaitu karena kedaulatan atas pulau, karang dan fitur geografis lain di kawasan tersebut masih disengketakan, dan karena belum tuntasnya delimitasi batas ZEE dengan Vietnam dan Malaysia sehingga pembagian kawasan air belum jelas secara legal. Dengan demikian, jika klaim Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan berdasar putusan Tribunal tidak diakui secara sah, maka hanya ada tiga daratan utama yang akan mengalami tumpang susun (overlap) di kawasan tersebut yaitu Indonesia, Malaysia dan Vietnam.

Melalui pernyataan awalnya pada tahun 1977, Vietnam menetapkan sistem garis pangkal lurus yang diimplementasikan pada tahun 1982. Garis pangkal lurus ini melingkupi sebagian besar kawasan pantainya dengan menghubungkan pulau-pula u yang tidak jauh dari daratan utama tetapi juga berjauhan satu sama lain. Malaysia, dalam waktu lama, tidak mendeklarasikan garis pangkal lurus secara formal, meskipun bisa diduga dari peta yang dikeluarkan tahun 1979. Maritime Zone Act Malaysia tahun 2006 juga tidak memuat koordinat garis pangkal lurus Malaysia. Meskipun demikian, dalam pengajuan landas kontinen ekstendi ke PBB (bersama Vietnam), peta Malaysia mengilustrasikan garis pangkal lurus di sepanjang pantai Sarawak dan Sabah di Borneo. Sementara Indonesia mengklaim garis pangkal kepulauan. Untuk kawasan Laut Tiongkok Selatan di barat daya, garis pangkal Indonesia menghubungkan tiap peling tepi dari pulau terluar dan karang kering, sesuai dengan Pasal 47 (1) UNCLOS dan melingkupi Kepulauan Natuna di kawasan tersebut.

I.8.8.2. Dasar Hukum Penentuan Batas Maritim Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Dasar hukum yang mendasari dalam penentuan delimitasi batas maritim antara Indonesia, Malaysia dan Vietnam di Laut Tiongkok Selatan adalah sebagai berikut:

a. Exclusive Economic Zone Act, 1984, Act No. 311 Peraturan terkait Penetapan Zona Ekonomi Eksklusif dan Aspek Teknis Landas Kontinen

b. Laws of Malaysia Act 66- Baselines of Maritime Zones Act 2006 c. Law No. 95/2015/QH13 2015, the Vietnam Maritime Code

(32)

32 d. The Law of the Sea of Vietnam 1992 Constitution amanded Resolution

51/2001/QH10

e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia.

f. United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982) g. Technical Aspects on the Law of the Sea (TALOS)

h. Permanent Court of Arbitration the South China Sea Arbitration (the Republic of the Philippines, the People’s Republic of China) 2016

I.8.9. Peta Laut Dinas Hidro-Oseanografi

Merupakan peta navigasi dan keselamatan pelayaran yang dikeluarkan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan laut Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDRO S) pada tahun 2008. Skala peta ini mencapai 1:100.000 dan 1:200.000 dengan datum World Geodetic System 1984 (WGS 1984) sebagai sistem elipsoidnya dan proyeksi World Mercator. Pada penelitian digunakan peta DISHIDROS yang berasal dari British Nautical Admiralty Chart.

1.8.10. Ekstensi ArcGIS 10.1 Geocap for Maritime Delimitation 10

Merupakan ekstensi dari perangkat lunak ArcGIS yang dikembangkan oleh Geocap Amerika Serikat. Geocap for Maritime Delimitation adalah sebuah ekstensi ArcGIS 10 untuk melakukan delimitasi batas maritim dengan menentukan posisi median-line secara otomatis dengan kontrol sesuai Article 76 UNCLOS. Diaktifka n dengan melakukan instalasi dengan kondisi ArcGIS sudah terinstall. Penggunaa n Geocap for Maritime Delimitation mempermudah pengguna dalam menentuka n median line dengan menggunakan ArcGIS.

Gambar

Gambar  I.1  Pembagian  zona  maritim  (TALOS,  2016)  I.8.2. Klaim  Atas Zona  Maritim
Gambar  I.2 Tumpang  susun  klaim  dan perlunya  delimitasi  batas maritim
Gambar  I.3 Macam-macam  garis  pangkal   (Arsana,  2007)
Gambar  I.4 Garis  pangkal  kepulauan  (IHO 2014 dalam  Sabila  2015)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sejalan dengan hasil uji hubungan, hasil uji regresi pada penelitian ini juga menegaskan pengaruh yang nyata dari tugas perkembangan keluarga yang terpenuhi dengan

 Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan

Pedogenic characteristic of paddy soils and their significance in soil classification (English Summary).. Permeability series of lowland paddy soil ini

 Penetrasi jaringan listrik yang sangat tinggi, sehingga dapat digunakan untuk penyediaan layanan broadband dengan mudah tanpa harus. membangun

Tidak selalu musik yang berkembang disuatu daerah merupakan produk atau kreasi dari masyarakatnya akan tetapi bisa saja mengadopsi pengaruh dari luar secara utuh

Hasil survei kompetensi mahasiwa selama mengikuti skill lab dilakukan bulan Agustus 2012 di AKBID SUKAWATI Lawang Malang, didapatkan bahwa kompetensi mahasiswa

Jadi, yang dimaksud dengan penegakan disiplin persuasif dalam pembiasaan salat Zuhur berjamaah siswa di MTs Al-Ikhwan Banjarmasin dalam penelitian ini adalah

Hubungan kedekatan kehidupan masyarakat dengan sungai Enim tentu harus tetap ditingkatkan di masa depan, karena kalau tidak, keadaan sungai Enim akan sama atau lebih parah