Badan Pengelola Perparkiran adalah merupakan suatu lembaga atau unit kerja yang ada di bawah naungan Pemerintah Daerah Kota Medan. 23
Maka sejak didirikannya kantor BPP tersebut pada tahun 1981 dengan menempati sebuah bangunan berukuran 15x20 meter di sekitar terminal bus kota Amplas yang dikelola oleh DLLAJ (Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan) kota Medan dengan dilengkapi beberapa fasilitas. Untuk menjalankan atau mengoperasikan kegiatan kantor BPP tersebut maka Walikota Medan mengangkat seorang pimpinan dengan jabatan sebagai Ketua BPP dengan dibantu oleh 8 orang staf.
Kantor BPP ini berdiri berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 1981 tentang Pembentukan Badan Pengelola Perparkiran Daerah Kota Medan yang ditetapkan yaitu tanggal 7 Mei 1981. Sesuai dengan Perda tersebut maka dalam pelaksanaannya kemudian Pemerintah Kota Medan menunjuk orang-orang yang dianggap dapat melaksanakan tugas-tugas dalam hal pengelolaan perparkiran sebagaimana dimaksud dalam Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 642/67/1981 tanggal 10 Mei 1981 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Kota Medan. Kemudian juklak ini dirubah untuk pertama kalinya dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 642/32/1982 tanggal 14 April 1982. Kemudian dirubah lagi dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 496.541/76/1999 tanggal 15 Maret 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 10 Tahun 1998 tentang Retribusi di Tepi Jalan Umum dan Tempat Khusus Parkir.
Kedudukan jabatan di Kantor BPP ini bukan merupakan jabatan struktural ataupun fungsional, namun khusus untuk jabatan Ketua yaitu Baharuddin Nur, SH dan Bendahara berasal dari Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kota Medan, dan
23
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24184/3/Chapter%2011,diakses tanggal 20 September 2013
dari tugas yang dijalankan yang bersangkutan memperoleh kompensasi dari pemasukan retribusi parkir secara bulanan sebesar 15% yang ditetapkan melalui surat keputusan Walikota Medan. Kantor unit kerja BPP di dalam menjalankan tugasnya bekerja sama dengan beberapa instansi pemerintah yaitu Dispenda, DLLAJ, Polantas, Bagian Tata Pemerintahan, Bagian Hukum dan Bagian Keuangan Pemerintah Kota Medan.
Kemudian melalui Surat Keputusan Walikota Medan ditetapkan untuk masing-masing instansi pemerintah ini dijadikan sebagai Badan Pembina BPP yang diketuai langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Medan, dan badan ini bertugas memberi pembinaan sesuai dengan kepeningan dinas/unit kerjanya masing-masing dan terkoordinasi serta terpadu dalam memberikan masukan atas pelaksanaan perparkiran di Kota Medan dan sebagai kompensasi hasil kerja Badan Pembina ini adalah sebesar 10% dari pemasukan retribusi parkir untuk setiap bulannya.24
Dalam kurun waktu selama dua puluh tujuh tahun sejak didirikannya unit kerja BPP ini (1981-2008), unit kerja ini telah tiga belas kali ganti pimpinan dan berpindah-pindah alamat sebanyak empat kali yaitu di Jl. Candi Mendut , Jl. Brigjend Katamso, Jl. Nibung Raya, dan sekarang beralamat di Jl. Balai Kota No.10 yang dipimpin dengan seorang Kepala bukan lagi Ketua yaitu Mustafa Sutan Nasution, S.Sos dan dibantu oleh sekretaris dan empat seksi.
25
Kantor Badan Pengelola Perparkiran Kota Medan memiliki wilayah kerja yaitu meliputi seluruh Kota Medan. Yang dibagi dalam empat sektor yaitu Sektor Medan bagian Utara, Sektor Medan bagian Selatan, Sektor Medan bagian Timur dan Sektor Medan Bagian Barat. Di dalam masing-masing sektor tersebut termasuk di dalamnya lahan parkir tepi jalan umum, izin parkir tepi jalan, tempat khusus parkir, perizinan pelataran parkir dan parkir insidentil seperti Rumah Sakit, Perkantoran, Kolam renang, Kebun binatang, Pusat Perbelanjaan
24
Ibid.
25
Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 642/67/1981 tanggal 10 Mei 1981 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Kota Medan
diantaranya Plaza-plaza, Medan Fair, Medan Mall, Carefour, Sun Plaza, Palladium, Ramayana dan lain sebagainya.26
Objek Parkir Pengelola Perparkiran Kota Medan
Sumber : Badan Pengelola Perparkiran Kota Medan
Struktur Organisasi Kantor Pengelola Perparkiran Kota Medan. Susunan struktur organisasi unit kerja BPP ini yaitu:
1. Kepala
2. Sekretaris terdiri dari: a) Bagian Perencanaan b) Bagian Umum
c) Bagian Keuangan 3. Seksi terdiri dari: a) Seksi Pengawasan
b) Seksi Pendapatan
c) Seksi Pelaksana Parkir Harian Tepi Jalan dan Peralatan
26 Ibid Lokasi Milik Pemko Lokasi Milik Pemko Lokasi Non Pemko Tidak dikelola P. Perparkiran Dikelola
P. Perparkiran Tepi Jalan Umum Parkir Harian Izin Parkir Tepi Jalan Langganan Bulanan Tepi Jalan Tempat Khusus Parkir Asset Dipisahkan Dikelola P. Perparkiran
- Medan Fair Plaza - Pusat Pasar - Medan Plaza - Ramayana - PD. Pasar - Kolam Renang - Kebun Binatang Parkir Insidential - Plaza-Plaza - Rumah Sakit - Perkantoran
d) Seksi Pelaksana Parkir Bulanan Khusus.
BAGAN ORGANISASI PENGELOLA PERPARKIRAN KOTA MEDAN
Sumber : Badan Pengelolaan Perparkiran Kota Medan Adapun tugas-tugas yang dijalankan sebagai: 1. Kepala
Kepala diangkat langsung oleh Walikota Medan Yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil dikalangan Pemerintah Kota Medan melalui Surat Keputusan. Tugas-tugas yang harus dijalankan yaitu:
a. Memimpin unit kerja BPP secara langsung dan bertanggung jawab kepada Walikota Medan.
b. Mengadakan rapat kerja dengan seluruh staf yang dipimpin yaitu satu minggu sekali untuk mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan secara intensif.
c. Mengajukan kebutuhan personalia sebagai pembantu/staf kepada Walikota untuk mendapat persetujuan.
Walikota Kepala sekretaris Bagian perencanaan Bagian Umum Bagian Keuangan Seksi Pengawasan Seksi Pendapatan Seksi Pelaksanaan Parkir Harian Tepi Jalan
Dan Pelataran
Seksi Pelaksanaan Parkir
d. Membuat laporan hasil kerja yang telah dicapai kepada Walikota dalam setiap bulannya.
e. Melakukan koordinasi dengan Badan Pembina BPP yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Walikota Medan serta melaporkan bila terdapat hambatan-hambatan di dalam pelaksanaan retribusi perparkiran kepada Walikota.
f. Mengupayakan langkah-langkah ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan pemasukan retribusi perparkiran dengan berkoordinasi dengan Dinas Pendapatan Kota Medan.
2. Sekretaris
Sekretaris merupakan unsur staf dipimpin oleh seorang Sekretaris yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Pengelola Perparkiran. Sekretaris mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok pengelola perparkiran di bidang ketatausahaan yang meliputi perencanaan, pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan, perlengkapan, kerumahtanggaan dan urusan umum lainnya. Untuk melaksanakan tugas, sekretaris mempunyai fungsi:
1. Menyusun rencana kegiatan kerja
2. Memberikan pelayanan teknis administratif kepada seluruh satuan organisasi Pengelola Perparkiran
3. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pengelola Perparkiran sesuai dengan bidang tugasnya.
Tugas dan Fungsi dari masing-masing sekretaris: 27 a. Sekretaris Bagian Perencanaan
Tugas:
Melaksanakan sebagian tugas Sekretaris di bidang perencanaan. Fungsi
a. Melaksanakan kegiatan pendataan dan penelitian/survey yang berhubungan dengan perparkiran
27
b. Melaksanakan pendataan, penelitian dan merencanakan pengembangan wilayah perparkiran dan pengadaan sarana parkir
c. Merencanakan pengaturan dan system perparkiran
d. Merencanakan penggunaan tenaga kerja dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat
e. Menyusun program dan rencana kerja serta melakukan evaluasi pelaksanaan rencana/program kerja
f. Menyusun laporan atas rencana/program kerja yang belum atau yang sudah dilaksanakan
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris Pengelola Perpakiran sesuai dengan bidang tugasnya b. Sekretaris Bagian Umum Tugas
a. Melaksanakan sebagian tugas Sekretaris di bidang pengelolaan surat menyurat, perlengkapan, administrasi kepegawaian, kerumahtanggaan dan urusan umum lainnya.
Fungsi
a. Menyelenggarakan kegiatan di bidang surat menyurat, perlengkapan, kerumahanggaan dan urusan umum lainnya
b. Mempersiapkan pelaksanaan kegiatan upacara resmi
c. Menyiapkan surat penetapan dan perizinan pengelolaan perparkiran d. Menyelenggarakan administrasi kepegawaian
e. Menyusun dan menyampaikan laporan kepada atasan sesuai dengan bidang tugasnya
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris Pengelola Perparkiran sesuai dengan bidang tugasnya
c. Sekretaris Bagian Keuangan Tugas:
Melaksanakan sebagian tugas Sekretaris di bidang pengelolaan keuangan dan perbendaharaan serta menyusun rencana laporan keuangan
Fungsi:
a. Menyusun dan menyiapkan anggaran pendaptan dan belanja b. Melaksanakan anggaran belanja sesuai dengan pagu anggaran
c. Menyelenggarakan penyimpanan dan pengaman berkas serta menerima dan menyetorkan hasil penerimaan retribusi parkir dan mengadministrasikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
d. Menyiapkan dokumen penerimaan dan mengurus administrasi permintaan uang untuk dipertanggungjawabkan ke kas daerah
e. Melaksakan pembayaran uang yang berhubungan dengan bidang tugasnya termasuk membayar gaji dan kesejahteraan lainnya
f. Menyusun laporan dan menyampaikan kepada atasan sesuai dengan bidang tugasnya
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris Pengelola Perparkiran sesuai dengan bidang tugasnya 3. Seksi-Seksi
Tugas dan Fungsi dari masing-masing Seksi: a. Seksi Pengawasan
Tugas:
Melaksanakan sebagian tugas Pengelola Perparkiran di bidang pengawasan Fungsi:
a. Menyusun rencana kegiatan kerja
b. Melaksanakan pemerikasaan dan pengawasan teknis penyelenggaraan perparkiran di lapangan
c. Menyusun laporan dan menyampaikan kepada atasan sesuai dengan bidang tugasnya
d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pegelola Perparkiran sesuai dengan bidang tugasnya
b. Seksi Pendapatan Tugas:
Fungsi:
a. Menyusun rencana kegiatan kerja
b. Melaksanakan monitoring, menganalisa dan mengevaluasi penerimaan c. Menyiapkan surat tagihan dan Surat Pengakuan Hutang (SPH) kepada
pelaksana di lapangan
d. Menyusun laporan dan menyampaikan kepada atasan sesuai dengan bidang tugasnya
e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pegelola Perparkian sesuai dengan bidang tugasnya
f. Seksi Pelaksana Parkir Harian Tepi Jalan dan Peralatan Tugas:
a. Melaksanakan sebagian tugas Pengelola Perparkiran di bidang pelaksana parkir harian tepi jalan dan peralatan
Fungsi:
a. Menyusun rencana kegiatan kerja
b. Melaksanakan tertib parkir harian tepi jalan dan peralatan
c. Menerima laporan dari masing-masing penanggung jawab lapangan atas pelaksanaan pengelolaan parkir harian, khusus dan peralatan
d. Menyiapkan perhitungan realisasi pengelolaan parkir harian, parkir khusus dan parkir peralatan
e. Menginventarisasi, menganalisa, mengevaluasi dan melaporkan kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan pemungutan retribusi parkir harian, parkir khusus dan parkir peralatan
f. Menyusun laporan dan menyampaikan kepada atasan sesuai dengan bidang tugasnya
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pengelola Perparkiran sesuai dengan bidang tugasnya
d. Seksi Pelaksana Parkir Bulanan Khusus Tugas:
a. Melaksanakan sebagian tugas Pengelola Perparkiran di bidang pelaksana parkir bulanan khusus
Fungsi:
a. Menyusun rencana kegiatan kerja
b. Melaksanakan tertib parkir bulanan khusus
c. Menerima laporan pelaksanaan pengelolaan izin khusus parkir dan langganan bulanan dari masing-masing penanggung jawab lapngan
d. Menyiapkan perhitungan realisasi pengelolaan izin khusus parkir dan langganan bulanan
e. Menginventarisasi, menganalisa, mengevaluasi dan melaporkan kendala-kendala yang terjadi dalm pelaksanaan parkir khusus dan langganan bulanan
f. Menyusun laporan dan menyampaikan kepada atasan sesuai dengan bidang tugasnya
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya
B. Visi dan Misi Pengelola Perparkiran Kota Medan
1. Visi:
Mewujudkan tertib perparkiran yang nyaman bagi pengguna jasa parkir dalam rangka memperlancar arus lalu lintas serta peningkatan penerimaan PAD dari retribusi parkir.
Misi:
1. Merencanakan dan menata kembali sistem perparkiran untuk menunjang kelancaran lalu lintas dan mengoptimalkan fungsi jalan. 2. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) karyawan
pengelola yang berkualitas dan profesional.
3. Memberdayakan juru parkir untuk turut berperan serta memberhasilkan ketertiban, keamanan dan kebersihan.
4. Mengadakan intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan retribusi parkir dalam upaya peningkatan PAD dari retribusi parkir
Perwujudan visi tersebut hanya mungkin terlaksana manakala kondisi fisik ruang dan struktur ruang kota terbentuk sesuai tatanan dan arahan pemanfaatannya.
Konteks visi tersebut mengharuskan Unit Pengelola Perparkiran Kota Medan sebagai suatu instansi yang mengelola dalam bidang perparkiran, untuk berupaya mengimplementasikannya sehingga Kota Medan sebagai Kota Jasa mampu mewujudkan situasi yang genah, merenah, dan tumaninah. Oleh karena itulah Unit Pengelolaan Perparkiran Kota Medan harus mampu menopang sekaligus mengimplementasikan bidang tugasnya sedemikian rupa sehingga setiap Misi yang telah dirumuskan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Berdasarkan tujuan tersebut, maka dikeluarkanlah Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 7 tahun 2002 tentang Retibusi Pelayanan Parkir Ditepi Jalan Umum, Tempat Khusus parkir dan perizinan pelataran parkir. Yang harus diimplementasikan oleh Unit Pengelolaan Perparkiran Kota Medan agar dapat mengelola perparkiran di kota Medan sehingga nyaman, tertib dan aman.
Kebijakan merupakan salah satu faktor penting dalam pengaturan pelaksanan kinerja pegawai, karena dengan adanya suatu kebijakan akan memudahkan pegawai untuk melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Keteraturan dalam pekerjaan akan terlihat dengan adanya suatu struktur hirarki dan aturan-aturan formal yang akan mengikat seluruh pegawai dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Kinerja pegawai merupakan hasil kerja dari para pegawai, baik secara kualitas maupun secara kuantitas dalam melaksanakan tugasnya. Sehubungan dengan itu kinerja pegawai mempunyai arti yang sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan dan pencapaian tujuan organisasi. 28
28
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 7 tahun 2002 tentang Retibusi Pelayanan Parkir Ditepi Jalan Umum, Tempat Khusus parkir dan perizinan pelataran parkir
C. Target dan Realisasi Penerimaan Retribusi Parkir Dari Tahun 2010 S/D Tahun 2012 Beserta Pajak Parkir
Pajak parkir merupakan kutipan parkir yang dilakukan di pelataran parkir milik perseorangan atau usaha yang dilakukan berdasarkan perizinan yang diterbitkan Pengelola Perparkiran. Kutipan pajak parkir sebesar 20% diserahkan ke Dinas Pendapatan Kota Medan yang nampak seperti tabel di bawah ini: Target Dan Realisasi Penerimaan Retribusi Parkir Dari Tahun 2004 S/D Tahun 2012 Beserta Pajak Parkir29
No
Tahun
Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)
Persentase Realisasi (%) Pajak Parkir yang disetor 20% Ke Dispenda 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10. 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 1.114.296.000 1.716.000.000 1.760.500.000 1.900.000.000 3.550.000.000 5.500.000.000 6.000.000.000 6.000.000.000 6.500.000.000 6.750.000.000 999.476.700 1.506.724.500 1.506.265.300 1.961.913.500 3.752.976.600 4.670.151.000 4.833.124.800 4.220.556.080 5.717.820.850 6.816.963.175 87,34 87,40 85,56 103,26 105,72 84,91 80,55 70,34 87,97 91,65 199.895.340 301.344.900 301.253.060 392.382.700 750.595.320 934.030.220 966.624.960 844.111.216 1.143.564.170 1.363.392.635 Sumber :Kantor Badan Pengelola Perparkiran Kota Medan
Penerimaan dan penyetoran dari retribusi parkir harus dicatat dan dibukukan sesuai dengan jumlah yang diterima dan disetor serta dari jumlah pemakaian karcis terakhir. Semua hasil pungutan retribusi parkir tersebut di atas setiap hari harus disetor ke Bank Sumut Medan selambat-lambatnya 1x24 jam setelah penerimaan retribusi dan menyampaikan tembusan bukti setorannya pada Dinas Pendapatan Kota Medan selambat-lambatnya 2x24 jam setelah penyetoran itu dilakukan. Pengelola dalam melaksanakan tugasnya melakukan koordinasi dengan unit kerja atau instansi terkait dan bertanggungjawab kepada Walikota Medan. Pengelola pemungutan retribusi perparkiran berkewajiban dan bertanggungjawab atas ketentuan, keamanan dan ketertiban perparkiran dalm wilayah Kota Medan.
29
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 7 tahun 2002 tentang Retibusi Pelayanan Parkir Ditepi Jalan Umum, Tempat Khusus parkir dan perizinan pelataran parkir
ALUR PENYETORAN HASIL RETRIBUSI PARKIR PENGELOLA PERPARKIRAN KOTA MEDAN
Sumber : Kantor Badan Pengelola Perparkiran Kota Meda
Masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat yang menggunakan jasa parkir dalam membayar retribusi menjadi salah satu faktor tidak tercapainya target. Hal ini berdampak terhadap berkurangnya pemasukan retribusi dari perparkiran yang masuk ke kas daerah. Adapun masyarakat yang tidak bersedia membayar atau dipungut retribusinya bukan hanya dari masyarakat biasa akan tetapi dari pegawai instansi pemerintah sendiripun terkadang enggan membayar retribusi parkirnya, begitu juga dengan berbagai pengurus organisasi kepemudaan.
KAS PEMKO MEDAN
Kasir
Pengelolaan Perpakiran
Pengamat Parkir PelaksanaanParkir
Bulanan Khusus Jalan P. Perpakiran Pemegang Izin Parkir Peralatan Perparkira n Langganan Bulanan Retribusi Perizinan peralatan parkir Parkir Insidentil
Hal ini disebabkan kurang adanya penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat dari penerimaan retribusi parkir bagi pembangunan di daerahnya. Permasalahan yang ada yaitu petugas parkir yang bertugas di tempat itu hanya memberikan karcis kepada pemilik atau pengemudi kendaraan bermotor kalau meminta karcis tersebut setelah pemilik atau pengemudi kendaraan tersebut keluar dari lokasi parkir, sementara seharusnya pembayaran retribusi dilakukan pada saat kendaraan memasuki lokasi parkir dan retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah Daerah (SKRD) dalam bentuk kupon atau karcis serta pemilik atau pengemudi kendaraan yang menempatkan kendaraannya di suatu tempat parkir baik di tepi jalan umum maupun tempat khusus wajib menyimpan karcis yang diberikan petugas parkir selama kendaraan tersebut masih di parkiran.
Padahal Pemerintah Kota Medan melihat jumlah hasil dari retribusi perparkiran perparkiran yaitu dari berapakah jumlah kupon/karcis yang habis. Tetapi apabila karcis yang diberikan hanya sedikit maka otomatis akan sedikit uang hasil retribusi parkir yang akan masuk ke kas daerah. Memang kenyataan di lapangan adalah penyelewengan dari uang hasil parkir tersebut yang banyak masuk ke kantong petugas parkir di tempat itu dan diberikan kepada pihak lain yaitu preman. Dan masalah yang lain adalah para petugas parkir tersebut banyak yang tidak memakai seragam parkir ketika bertugas, sehingga pemilik atau pengemudi kendaraan yang memarkirkan kendaraannya tidak dapat membedakan antara petugas parkir atau preman. Dan juga penulis pernah melihat percekcokan antara pemilik atau pengemudi kendaraan dengan petugas parkir di tempat parkir tersebut. Tidak adanya garis atau pembatas suatu petak parkir dan tidak adanya rambu parkir dan marka jalan, hal itu merupakan permasalahan yang penting untuk dicarikan pemecahannya karena dapat mempengaruhi hasil retribusi parkir dari lokasi tersebut yang masuk ke kas daerah.
Tarif yang telah ditetapkan oleh Perda terhadap setiap kendaraan bermotor untuk jenis roda dua, roda tiga, roda empat/enam dikaitkan dengan kelas jalan dan pemakai waktu parkir dan oleh BPP telah dipersiapkan karcisnya (dicetak)
kemudian selanjutnya diponds oleh Dispenda, dan untuk mendapatkan karcis yang telah diponds tersebut pihak Pengelola Perparkiran membuat formulir kebutuhan karcis dimaksud sejumlah lembaran/blok tertentu, formulir tersebut kemudian ditandatangani oleh Pengelola Perparkiran sebagai penerima, Kasi Pemeriksaan Dispenda dan diketahui oleh Kepala Dispenda. Struktur besarnya tarif retribusi menurut Perda Kota Medan Nomor 7 Tahun 2002 bab XIII Pasal 24 dan Pasal 25: Besarnya tarif parkir untuk setiap kendaraan di tepi jalan umum adalah sebagai berikut:
a) Kendaraan bermotor roda 3 (tiga):
- Untuk sekali parkir 2 (dua) jam pertama... Rp. 300 - Untuk setiap 1 (satu) jam berikutnya... Rp. 100 b) Kendaraan bermotor roda 4 (empat):
- Untuk sekali parkir 2 (dua) jam pertama... Rp. 1.000 - Untuk setiap 1 (satu) jam berikutnya... Rp. 500
c) Kendaraan bermotor jenis mobil barang Pick Up, GVW, ukuran 3 ton ke bawah:
- Untuk sekali parkir 2 (dua) jam pertama... Rp. 1.300 - Untuk setiap 1 (satu) jam berikutnya... Rp. 500 d) Kendaraan bermotor jenis mobil bis ukuran besar atau truck atau mobil tangki
GVW 3 (tiga) ton ke atas:
- Untuk parkir 2 (dua) jam pertama... Rp. 2.000 - Untuk setiap 1 (satu) jam berikutnya... Rp. 1.000 e) Kendaraan bermotor roda 2 (dua):
- Untuk parkir 2 (dua) jam pertama... Rp. 300 - Untuk setiap 1 (satu) jam berikutnya... Rp. 200 f) Untuk berlangganan bulanan:
- Roda tiga dan empat atau mobil penumpang... Rp. 65.000 - Mobil taksi... Rp. 26.000 - Jenis mobil barang atau Pick Up GVW di bawah tiga ton... Rp. 90.000 - Jenis mobil bis atau truck atau tangki GVW di atas tiga ton... Rp.130.000 - Roda dua... Rp. 13.500
g) Perparkiran yang bersifat insidentil (temporer) di tempat-tempat acara hiburan, pertandingan olah raga dan lain-lain untuk satu kali parkir:
- Kendaraan bermotor roda tiga dan empat... Rp. 1.000 - Kendaraan bermotor roda dua... Rp. 500
Besarnya tarif parkir untuk setiap kendaraan di tempat khusus parkir adalah sebagai berikut:
a) Kendaraan bermotor roda dua setiap parkir... Rp. 500 b) Kendaraan bermotor roda tiga dan empat setiap parkir... Rp. 1.000 c) Kendaraan bermotor yang mempunyai roda lebih dari empat.... Rp. 2.000 d) Berlangganan bulanan:
- Kendaraan bermotor roda tiga atau empat...… Rp. 96.000 - Kendaraan bermotor roda dua...… Rp. 39.000 - Kendaraan bermotor yang mempunyai roda lebih dari empat. Rp.162.000
Dari uraian di atas telah dijelaskan bahwa tarif yang diberlakukan untuk masing-masing kendaraan adalah berbeda apakah berdasarkan kelas jalan atau pemakai waktu parkir. Tetapi dari beberapa lokasi parkir yang penulis teliti terlihat bahwa terjadi penyimpangan yaitu petugas parkir mengenakan tarif parkir dengan jumlah yang sama untuk kendaraan yang diparkir lama atau hanya sebentar dengan alasan petugas parkir tersebut sulit untuk menghitung waktu parkir untuk setiap kendaraan yang diparkir dikarenakan banyaknya jumlah kendaraan yang diparkir. Hal itu dapat mempengaruhi pendapatan dari hasil retribusi perparkiran di lokasi tersebut. Padahal prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur besarnya tarif retribusi parkir di tepi jalan umum didasarkan atas tujuan untuk mengendalikan dan penggunaan jasa pelayanan dalam rangka memperlancar lalu lintas jalan dengan tetap memperhatikan biaya penyelenggaraan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan yang meliputi biaya biaya pengadaan marka, biaya pengadaan rambu-rambu, biaya operasional, pemeliharaan, administrasi dan biaya transportasi. Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi tempat khusus parkir, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan
yang pantas diterima oleh pengusaha yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
Dan juga untuk kendaraan roda dua apabila parkir di lokasi tersebut dibebaskan dari pembayaran retribusi parkir. Alasan yang didapat dari key informan dari berbagai lahan parkir yaitu karena banyaknya kendaraan roda dua yang diparkir tidak hanya sekali parkir saja tetapi kadang-kadang sampai beberapa kali. Dikarenakan hal itulah kemudian yang jadi pertimbangan bagi petugas parkir untuk membebaskan parkir bagi setiap kendaraan roda dua yang parkir di lokasi tersebut atas dasar rasa kasihan. Hal ini mungkin menguntungkan bagi salah satu pihak, tetapi merugikan dipihak lain atau dapat menjadi keuntungan bagi setiap pemilik atau pengemudi kendaraan beroda dua yang parkir di tempat tersebut karena dapat parkir sebanyak mungkin karena bebas dari parkir, tetapi dipihak Pemerintah Kota Medan mengalami kerugian karena itu mempengaruhi hasil retribusi perparkiran yang masuk ke kas daerah.
Pemilik atau pengemudi kendaraan yang memarkirkan kendaraan banyak yang sudah merasa aman ketika kendaraannya diparkirkan dikarenakan telah ada petugas parkir di lokasi tersebut. Padahal petugas yang bertugas di lokasi tersebut hanya bertugas untuk menjaga ketertiban kendaraan yang diparkir dengan didasarkan kepada Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 7 Tahun 2002 Pasal 13 ayat 2 yaitu Petugas Parkir dibebaskan dari tuntutan hukum atas kerusakan, kehilangan kendaraan serta barang-barang di dalamnya.
Hal inilah yang menjadi permasalahan utma di dalam perparkiran. Karena pemilik atau pengemudi kendaraan yang ketika kendaraan yang diparkir itu rusak atau hilang, maka ia akan menyalahkan petugas parkir di lokasi tersebut. Dan itulah yang banyak penulis lihat dari berbeberapa lokasi parkir di Kota Medan. Kalau begitu penulis melihat retribusi parkir yang dibayar untuk kendaraan yang diparkir hanya untuk penyediaan pelayanan parkir saja dan tidak ada fasilitas keamanan yang diberikan oleh petugas parkir. Jadi dari hal itu otomatis pemilik atau pengemudi kendaraan harus menambah fasilitas keamanan di kendaraan yang diparkir agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
D. Pengertian Retribusi Perparkiran
Faktor keuangan penting dalam setiap kegiatan pemerintah, karena hampir tidak ada pemerintah yang tidak membutuhkan biaya. Demikian juga bagi Pemerintah Daerah, keuangan merupakan faktor penting dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah. Hal ini didukung pendapat Riwo Kaho yang menyatakan: “ Faktor keuangan merupakan faktor esensial dalam mengatur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya, ini berarti dalam penyelenggaraan urusan rumah tangganya daerah membutuhkan dana”30
Sejalan dengan pendapat tersebut, pendapat lain dikemukakan Machfud Sidik tentang pengertian retribusi:Retribusi Daerah adalah pungutan sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Daerah.31
Pengelolaan keuangan daerah mempunyai pengaruh yang besar bagi kemajuan daerah, sebab itu faktor keuangan menentukan lancar tidaknya roda pemerintahan. Semakin baik pengelolaannya semakin berdaya guna pemakaian uang tersebut bagi masyarakat, sehingga setiap kebijaksanaan yang ditempuh dapat menyebabkan kemakmuran atau sebaliknya apabila pengelolaan keuangan daerah yang tidak teratur dapat memunculkan kerugian yang besar pada proses Pembangunan Daerah yang bersangkutan.
Sejalan dengan pendapat di atas, pengertian retribusi daerah menurut Riwo Kaho adalah: “Pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemakain jasa atau karena mendapatkan jasa yang diberikan oleh daerah. “32
a. Pungutan yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat.
Sehingga dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur retribusi terdiri dari :
b. Pungutan adalah sebagai pembayaran jasa atau prestasi yang diberikan secara langsung oleh pemerintah kepada wajib retribusi.
c. Digunakan untuk pembiayaan kegiatan pemerintah atau pelayanan.
30
Kaho, Yosef Riwo.1997. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Pungutan
Retribusi Daerah. Jilid 2 .Garamedia.Jakarta hal 124
31
Sidik, Mahfud.1997.Undang-Undang Pajak daerah dan Retribusi daerah : Implikasinya terhadap Penerimaan Daerah.Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan Jendral pajak. Jakarta.hal 18
32
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan tentang pengertian parkir yakni, kegiatan menghentikan kendaraan dengan beberapa lamanya.33
Pada prinsipnya pungutan dengan nama retribusi sama dengan pajak, yaitu 4 (empat) unsur-unsur dalam pengertian pajak sama dengan retribusi, sedangkan imbalan (kontrak-prestasi) dalam retribusi. Langsung dapat dirasakan oleh pembayar retribusi. Unsur yang melekat pada pengertian retribusi adalah:
Salah satu bentuk dari Retribusi Daerah adalah Retribusi Parkir. Retribusi Parkir dipungut dari orang-orang yang menggunakan jasa parkir. Adapun mengenai pengertian Parkir dalam Peraturan Daerah Kota Medan Tentang Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum adalah: “Keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor yang bersifat sementara”. Peraturan daerah Kota Medan Nomor : 7 tahun 2002 Tentang retibusi pelayanan parkir ditepi jalan umum, tempat Khusus Parkir dan perizinan pelataran parkir.
34
1. Pungutan retribusi harus berdasarkan undang-undang 2. Sifat pungutannya dapat dipaksakan
3. Pemungutannya dilakukan oleh negara
4. Digunakan untuk pengeluaran bagi masyarakat umum
5. Kontra-prestasi (imbalan) langsung dapat dirasakan oleh pembayar retribusi.
“Parkir adalah menghentikan kendaran bermotor untuk beberapa saat lamanya”.35
Dari kedua pengertian di atas dapat di katakan bahwa “Parkir adalah memberhentikan kendaraan untuk sementara pada tempat yang telah di sediakan”. Dari uraian terdahulu jika digabung, pemungutan retribusi parkir disini adalah keseluruhan aktifitas untuk menarik atau memungut retribusi parkir sesuai dengan yang digariskan dalam rangka usaha untuk memperoleh pemasukan balas jasa dari
33
Kamus Besar Bahasa Indonesia.ed.Ketiga 2002.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Balai Pustaka.Jakarta.712
34
Wirawan B. Ilyas, Hukum Pajak, Jakarta: Salemba Empat, 2001. hal 6
35
http://barbie-fantasy.blogspot.com/2011/12/analisis-perhitungan-bunga-kredit-dan.html), diakses tanggal 1 Oktober 2013
sarana atau faisilitas yang telah disediakan oleh pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah daerah kota Medan.
Selanjutnya untuk menjamin kelancaran jalannya pelaksanaan pemungutan retribusi parkir di tepi jalan umum dalam memenuhi anggaran daerah, maka yang ditunjuk instansi yang membantu pemerintah kota Medan khususnya dikecamatan Medan Baru dalam hal pengelolaan, pungutan dan pengawasan retribusi parkir tepi jalan umum tersebut dalam hal ini UPTD parkir kota Medan hal ini berdasarkan peraturan daerah kota Medan nomor 7 tahun 2002.
Pemungutan retribusi daeah yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Medan dalam penyelenggaraan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Undang-undang yang mengatur tentang pajak dan retribusi daerah adalah Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah berisi penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dasar Hukum Pengelolan Perparkiran Kota Medan meliputi:
1. Keputusan Mendagri RI No.43 Tahun 1980 tentang pedoman pengelolaan perparkiran di daerah.
2. Keputusan Mendagri RI No.73 Tahun 1999 tentang pedoman penyelenggaraan perparkiran di daerah.