\
mI*l:i
Psta
Pendidtlmn
di
PstaDemohasi
UJIAN
Nasional
(UN)
Tahun2014
ini
berbeda dengan,UN pada tahun-tahun sebelumnya.UN
(UA-SBN) untuk
tingkat SD/MI
ditiada-kan dan akan diganti dengan Ujian Sekolah/Iladrasah
yang
diseleng-garakan
oleh
Pemerintah Daerah masing-maSing.Di
tingkat SMA/
SMK, UNjuga mengalami perbedaan yang cukup signifikan terutama
ter-kait soal pelaksanaannya dari empat
hari
menjaditiga.hari
saja dengandua mata pelajaran setiap harinya.
HasilUN
SMA/SMK jugasepenuh-nya dijadikan
pertimbangan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri(PrN).
Selain beberapa perbedaan itu,
UN
kali ini juga
bertepatan denganpenyelenggaraan Pemilu 20 14. Jika di
tdhun-tahun sebelumnya,
teknis penyelenggaraanUN
senantiasa diwarnai dengan kecacatan, maka LINtahun
ini
perlu diwaspadai. Jangansampai
karena terlena
denganperhelatan Pesta Demokasi lima
ta-hunan, maka pelaksanaan
UN
se-makin morat-marit. Tentu masih lekat dalam ingatan masyarakat terutamil para guru mengenai pelaksanaan
UN
Tahun 2013 yang begitu
menunjuk-kan ketidaksibpan pemerintah.
Persoalan
teknis
yang
sangat mengganggu dalamUN
tahun laluterkait
dengan
distribusi
naskahsoal. Prbses pencetakan soal yang
tidak
tepat
waktu
karena materiterlambat masuk membuat distribusi naskah
ke
daerah-daerahjuga
ter-hambat.Kondisi
ini
memaksaUN
201.3
diliksanakan
secara berge-lomba.ng dan tidak serempak. Tentuhal
ini
memengaruhi siswa secarapsikis.
Ditambah
lagi
banyaknya naskah soal dan lembar jawab yangrusak
atau kurang sehingga harusdifotokopi. Lembar jawab yang
di-fotokopi tersebut tidak memiliki
bar-code sehingga mempersulit proses
pemindaian jawaban.
Masalah kejujuran
juga
selalumenjadi sorotan. Pemerintah sudah
lama
menyadarihal
ini
sehingga mengupayakan untuk meminimalisir kecurangan. Caranya pemerintah memperbanyak paket soal UN setiaptahunnya,
dari
yang
awalnya duapaket menjadi
lima
bahkan sejak tahun 2013 lalu disediakan 2Opaketsoal untuk setiap ruangujian. Artinya setiap peserta mengerjakan paket
soal yang berbeda dengan peserta lainnya dalam satu ruangan.
Meski-pun
secarateknis,
hal
ini
cukup merepotkan, namundiyakini
dapatmengurangi angka ketidakjujuran UN.
Berbagai kekurangan
pelaksana-an
UN
di
tahuh 2013 yang
lalumembuat banyak pihak meragukan keabsahan
UN.
PadahalUN
tingkatSMA/SMK saat
itu
telah direncana-kanmenjadi tiketm4sukkePTN. Tenturealisasinya
sulit
karena
banyak ketidakberesan dalam pelaksanaan UN. Ketika itu muncul pula isu bahwa hasilUN
2013 terancam dibatalkan. Untungnyaini
tidak menjadi pilihanpemerintah sebagai
jawaban
ataspelaksanaan
UN
yang tidak k4ruan. Jika sampai te{adi rnaka miliaranuang negara terbuang sia-sia.Tahun
ini
pemerintah
telahmenetapkan bahwa hasil
UN
20i4
untuk SMA/SMK akan menjadi tiket
masuk PTN sepenuhnya. Untuk itu
bukan hanya siswa dan guru yang
dituntut meningkatkan prestasi dan
kuaiitasnya, namun penyelenggara UN j uga harus mampu menunj ukkan
profesionalitasnya.
Tidak
sedikitdana yang digelontorkan untuk
pe--nyelenggaraan
UN.
Maka
jangan sampai pelaksanaanUN
tidak
se-banding dengan
jumlah
anggaranyang dikeluarkan. Masih ditambah bahaya kleptokrasi yang tampaknya
sudah
terinternalisasi
ke
dalamsetiap sendi kehidupan
pemerin-tahan saat
ini
sehinggatidak
bisa lagi menafikan apabila terj adi praktik penyelewengan dana.Logika
jungkir balik
Carut-marutnya
pelaksanaanUN
seakan menjadi habitustahun-an. Semacam logika
jungkir
balikdengan kemauan pemerintah agar
siswa berlaku profesional
dalam mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi UN. Femerintahmenuntut
pelaksanaanUN
yangbenar-benar menjunjung azas
ke-jujuran
dan capaian prestasi yanggemilang.
Akan tetapi
pemerintah sendiri belum pernah menunjukkan prestasi dan keprofesionalan dalam penyelenggaraanUN
selama ini.Pesta Pendidikan yang
berba-rehgan dengan
perhelatan Pesta Demokrasi tahunini
membutuhkanperhatian yang serius.
Jangansampai
terulang
persoalan teknisseperti
keterlhmbatan distribusi
soal,
rusaknya naskah,hasil
UNyang
tidak valid,
hingga
dugaan penyimpangan danaUN
akibat ten-der-tender yang tidak jelas. Langkah Kementerian Pendidikan dan Kebu-dayaan tahunini
yanglebih
awaldalarn
mendata pesertaUN
dan memasukkan naskah ke percetakanperlu diapresiasi. K.esungguhan
ini
masih
diuji
sampai
UN
selesai digelar. Apabila ketidakberesan UNkembali
terulang tahunini,
maka akan menjadi blunder bagi penye-lenggaraan UN di tahun-tahun men-datang.Kondisi
ini
akan semakin memperbesar tuntutaopenghapus-an
UN.
:Keberhasilan pendidikan Sistem pendidikar?
kita
sudah lama menggunakanujian
akhirse-bagai
alat ukur
output pendidikan di sekolah. Tak heran apabilakeme-riahan
UN
setiap tahunnya semakinterasa
berlebihan.
Untuk
meng-hadapi pertarunganini
tidak hanyasiswa yang
merasagalau
namun guru dan orangtuajuga ikut
kelim-pungan.
Banyak
orangtua
yang sampai berpuasa dan bernazar demi keberhasilan andknya. Semua gurudi
setiap spkolah berjibaku dengan.berbagai cara menggembleng para siswanya agar dapat mencapai
tar-get yang ditentukan.
Tidak
tang-gung-tanggung beberapa sekolah
juga
menggelar rangkaian"ritual"
menjelang UN dari berdoa bersama, sungkeman, hingga merajah alat tulis
yang
akan digunakan. Singkatnya berbagai upaya dari yang logis hing-ga magis dilakukan demi suksesnyaIjN.
Jika kita meyakini bahwa belajar sepanjang
hayat (long
life
educa-t i o n) bermakna belaj ar hidup menj adi
manusia seutuhnya dalam masya. rakat, maka sebenarnya keberhasilan pendidikan
tidak
hanya diukurme-lalui
evaluasi sesaat. Keberhasilanpardidikan
secarajangka
panjang dapat dirasakan ketika peserta didikmenjadi "marmsia" yang
sesungguh-nya saat terjun dalam masyarakat.
IJU
Sisdiknas Tahun 2003 me-rumuskan tujuanpendidikan'nasio-nal yaitu untuk
mengembangkan potensi pesertadidik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.
kepada
Tuhan Yang Maha
Esa,berakhlak
mulia,
sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang dernokratis serta
bertanggung jawab. Maka
UN
yang selamaini
diklaim sebagai alat ukurkeberhasilan pqndidikan
harusmampu mewujudkan tujuan tersebut dan tidak sekedar menjadi tontonan
dagelan
pendidikan
setiaptahun-nya. Selaniat berpesta!
**x
Hendra
Kurniawan
MPd,, DosenPendidikan
Sejarah
(Jnive rs i rasSanata
Dharma
Yogyakarta.