• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Kewarganegaraan: RANGKUMAN DEMOKRASI DI INDONESIA

N/A
N/A
Ririh Rarasingtyas

Academic year: 2024

Membagikan "Pendidikan Kewarganegaraan: RANGKUMAN DEMOKRASI DI INDONESIA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Bernadetta Ririh Rarasingtyas

NIM : 19205244010

Kelas : PBD A 2019

Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan Dosen : Dr. E. Kus Eddy Sartono, M.Si

1. Jelaskan pengertian dan konsep dasar konstitusi.

Pengertian konstitusi dalam istilah Bahasa Inggris "constitution" atau dalam Bahasa belanda "constitutie" secara etimologi sering di terjemahkan dalam Bahasa Indonesia Undang-undang Dasar. Permasalahannya penggunaan istilah seperti halnya langsung membayangkan suatu naskah tertulis. Padahal istilah konstitusi sendiri memiliki pengertian lebih luas, yaitu peraturan-peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana suatu pemerintahan diseenggarakan dalam suatu pemerintahan.

Pengertian konstitusi dalam praktek ketatanegaraan memiliki dua arti utama, seperti berikut:

 Lebih luas daripada undang-undang dasar

 Sama dengan pengertian Undang-Undang Dasar

Kata konstitusi memiliki arti lebih luas daripada undang-undang dasar, karena pengertian undang-undang dasar hanya meliputi naskah tertulis, sedangkan pengertian konstitusi lebih menyeluruh yaitu adanya naskah tertulis maupun tidak tertulis yang tidak tercakup dalam undang-undang. Para penyusun Undang- Undang Dasar 1945 menganut arti konstitusi lebih luas daripada Undang-Undang Dasar, sebab penjelasan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dikatakan:" Undang- Undang suatu negara ialah hanya sebagian dari hukumnya dasar negara itu.

Undang-undang dasar adalah hukum tertulis, sedang disampingnya Undang- Undang Dasar berlaku uga Hukum Dasar yang tidak tertulis, iatalh aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis". Namun dalam masa Republik Indonesia Serikat 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950, penyusun konstitusi RIS menerjemahkan secara sempit istilah konstitusi sama dengan Undang-Undang Dasar.

2. Buat uraian konstitusi yang pernah diberlakukan di Indonesia.

UUD 1945 Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949

Pada saat Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, negara Republik Indonesia belum memiliki konstitusi atau UUD. Namun sehari kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan sidang pertama yang salah satu keputusannya ialah mengesahkan UUD yang kemudian disebut dengan UUD 1945. Mengapa UUD 1945 tidak ditetapkan oleh MPR sebagaimana diatur dalam pasal 3 UUD 1945? Sebab, pada saat itu, MPR belum terbentuk.

Mengenai bentuk negara diatur dalam pasal 1 ayat (1) UUD 1945 yang mengatakan “negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik”.

Sebagai negara kesatuan, maka di negara Republik Indonesia hanya ada satu kekuasaan pemerintahan negara, yakni di tangan pemerintah pusat. Di sini tidak

(2)

ada pemerintah negara bagian sebagaimana yang berlaku di negara yang berbentuk negara serikat (federasi). Sebagai negara yang berbentuk republik, maka kepada negara dijabar oleh Presiden. Presiden diangkat melalui suatu pemilihan, bukan berdasarkan keturunan.

Lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara menurut UUD 1945( sebelum amandemen) adalah sebagai berikut:

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Presiden, Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA)

Periode Berlakunya Konstitusi RIS 1949

Belanda berusaha memecah belah bangsa Indonesia dengan cara membentuk negara-negara “boneka” seperti Negara Sumatera Timur, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan dan Negara Jawa Timur di dalam negara Republik Indonesia. Bahkan, Belanda kemudian melakukan agresi atau pendudukan terhadap ibu kota Jakarta, yang dikenal dengan Agresi Militer I pada tahun 1947 dan Agresi Militer II atas kota Yogyakarta pada tahun 1948. Untuk menyelesaikan pertikaian Belanda dengan Republik Indonesia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan dengan menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Belanda) pada tanggal 23 Agustus – 2 November 1949. Konferensi ini dihadiri oleh wakil-wakil dari Republik Indonesia, BFO dan Belanda serta sebuah komisi PBB untuk Indonesia.

KMB tersebut menghasilkan tiga buah persetujuan pokok yaitu:

Didirikannya Negara Republik Indonesia Serikat, Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat, Didirikan uni antara RIS dengan Kerajaaan Belanda, Perubahan bentuk negara dari negara kesatuan menjadi negara serikat mengharuskan adanya penggantian UUD. Oleh karena itu, disusunlah naskah UUD Republik Indonesia Serikat. Rancangan UUD tersebut dibuat oleh delegasi RI dan delegasi BFO pada Konferensi Meja Bundar.

Selama berlakunya Konstitusi RIS 1949, UUD 1945 tetap berlaku tetapi hanya untuk negara bagia Republik Indonesia. Wilayah negara bagian itu meliputi Jawa dan Sumatera dengan ibu kota di Yogyakarta.

Lembaga-lembaga negara menurut Konstitusi RIS ialah sebagai berikut:

Presiden, Menteri, Senat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Mahkamah Agung (MA), Dewan Pengawas Keuangan (DPK)

Periode Berlakunya UUDS 1950

Pada tanggal 15 Agustus 1950 ditetapkanlah Undang-Undang Federal No. 7 tahun 1950 tentang Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950, yang berlaku sejak tanggal 17 Agustus 1950. Dengan demikian, sejak tanggal tersebut Konstitusi RIS 1949 diganti dengan UUDS 1950 dan terbentuklah kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lembaga-lembaga negara menurut UUDS 1950 ialah sebagai berikut: Presiden dan Wakil Presiden, Menteri, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Mahkamah Agung (MA), Dewan Pengawas Keuangan (DPK)

Pada tanggal 22 April 1959 Presiden Soekarno menyampaikan amanat yang berisi anjuran untuk kembali ke UUD 1945. Pada dasarnya, saran untuk kembali kepada UUD 1945 tersebut dapat diterima oleh para anggota Konstituante, tetapi dengan pandangan yang berbeda-beda. Atas dasar hal tersebut, demi untuk

(3)

menyelamatkan bangsa dan negara, pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah Dekrit Presiden yang isinya ialah sebagai berikut:

Menetapkan pembubaran Konstituante, Menetapkan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950, Pembentukan MPRS dan DPAS.

Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959, maka UUD 1945 berlaku kembali sebagai landasan konstitusional dalam menyelenggarakan pemerintah Republik Indonesia.

UUD 1945 Orde Lama dan Orde Baru Periode 5 Juli 1959 – 19 Oktober 1999 Praktik penyelenggaraan negara pada masa berlakunya UUD 1945 sejak 5 Juli 1959-19 Oktober 1999 ternyata mengalami berbagai pergeseran bahkan terjadinya beberapa penyimpanan. Oleh karena itu, pelaksanaan UUD 1945 selama kurun waktu tersebut dapat dipilah menjadi dua periode yaitu periode Orde Lama (1959- 1966) dan periode Orde Baru (1966-1999).

Selain itu muncul pertentangan politik dan konflik lainnya yang berkepanjangan sehingga situasi politik, keamanan dan kehidupan ekonomi semakin memburuk. Puncaknya dari situasi tersebut adalah munculnya pemberontakan G-30-S/PKI yang sangat membahayakan keselamatan bangsa dan negara. Kelemahan tersebut terletak pada UUD 1945 itu sendiri, yang sifatnya singkat dan luwes (fleksibel), sehingga memungkinkan munculnya berbagai penyimpangan. Tuntutan untuk merubah atau menyempurnakan UUD 1945 tidak memperoleh tanggapan, bahkan pemerintahan Orde Baru bertekat untuk mempertahankan dan tidak merubah UUD 1945.

UUD 1945 Periode 19 Oktober 1999 – Sekarang (Diamandemen)

Seiring dengan tuntuan reformasi dan setelah lengsernya Presiden Soeharto sebagai penguasa Orde Baru, maka sejak tahun 1999 dilakukan perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. Sampai saat ini, UUD 1945 sudah mengalami empat tahap perubahan, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001 dan 2002. Penyebutan UUD setelah perubahan menjadi lebih lengkap, yaitu : Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Setelah melalui serangkaian perubahan (amandemen), terdapat lembaga-lembaga negara baru yang dibentuk. Sebaliknya terdapat lembaga negara yang dihapus, yaitu Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Lembaga-lembaga negara menurut UUD 1945 sesudah amandemen adalah sebagai berikut:

Presiden dan Wakil Presiden, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Yudisial.

3. Jelaskan latar belakang mengapa UUD 1945 perlu diamandemen

Pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan multitafsir), serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.

Lebih jelasnya sebagai berikut : (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 membentuk struktur ketatanegaraan yang bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat, (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

(4)

memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (presiden), (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengandung pasal-pasal yang terlalu “luwes” sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu tafsiran (multitafsir), (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terlalu banyak memberikan kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan undang-undang, (5) Rumusan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang semangat penyelenggara negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan hak asasi manusia (HAM), dan otonomi daerah.

4. Apa tujuan amandemen UUD 1945 ?

 Menyempurnakan aturan dasar bernegara dalam mencapai tujuan nasional.

 Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan pelaksanaan kedaulatan rakyat.

 Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi manusia (HAM).

 Menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan negara secara demokratis dan modern, antara lain melalui pembagian kekuasaan yang lebih tegas diantara lembaga - lembaga negara.

 Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan kewajiban negara dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa, menegakkan etika, moral, dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

5. Apa kesepakatan dalam proses amandemen UUD 1945 serta apa hasil amandemennya ?

Kesepakatan dasar itu terdiri atas lima butir, yaitu:

1. Tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia 3. Mempertegas sistem pemerintahan presidensial;

4. Penjelasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hal-hal normatif akan dimasukkan ke dalam pasal-pasal (batang tubuh);

5. Melakukan perubahan dengan cara adendum.

Hasil Amandemen UUD 1945

Proses amandemen UUD 1945 terjadi secara bertahap selama empat kali, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001 dan 2002. Amandemen pertama yang disahkan pada 19 Agustus 1999, berisi sembilan pasal. Ketentuan yang diubah dalam kesembilan pasal tersebut berkenaan dengan 16 butir. Amandemen kedua UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 2000 berkenaan dengan 59 butir ketentuan yang diatur dalam 25 pasal. Amandemen ketiga UUD 1945 yang disahkan pada 9 November 2001 menyangkut 23 pasal yang berkaitan dengan 68 butir ketentuan.

Amandemen keempat UUD 1945 yang disahkan pada 10 Agustus 2002 menyangkut 18 pasal yang berkenaan dengan 31 butir ketentuan (Jimly Assidiqie, 2007: 101). Keseluruhan amandemen Undang-Undang Dasar 1945 itu pada dasarnya meliputi (i) ketentuan mengenai hak-hak asasi manusia, hak dan

(5)

kewajiban warga negara, serta mekanisme hubungannya dengan negara dan prosedur untukmempertahankannya apabila hak-hak itu dilanggar, (ii)

prinsip-prinsip dasar tentang demokrasi dan rule of law serta mekanisme perwujudannya dan pelaksanaannya, seperti melalui pemilihan umum, dan lain- lain, serta (iii) format kelembagaan negara dan mekanisme hubungan antar organ negara serta sistem pertanggungjawaban para pejabatnya.

Dengan perkataan lain, menurut Jimly Assidiqie (2007:115),apa yang diatur dalam amandemen pertama sampai dengan amandemen keempat Undang-Undang Dasar 1945 mencakup semua hal yang menjadi pokok materi semua undang- undang dasar negara modern di dunia.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut pasal 4 Ayat (1) UUD 1945 baik sebelum maupun setelah amandemen, Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar, pasal 4 Ayat (1)

Kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan untuk menjalankan undang- undang. Kekuasaan ini dipegang oleh presiden dan dibantu oleh wakil presiden bersama dengan para menteri yang

Pasal 7B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) mengatur tentang mekanisme pemakzulan presiden dan/atau wakil presiden yang diusulkan oleh

Pasal 1 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan naskah asli mengandung prinsip bahwa ”Negara Indonesia ialah negara kesatuan, yang berbentuk Republik

Presiden sebagai kepala pemerintahan tercantum dalam Peraturan Undang- Undang Dasar 1945 yaitupadaPasal 4 ayat 1 Presiden Republik Indonesia memegang

Dalam Pasal 4 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 yang berbunyi “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar”, apabila penulis

a) Kekuasaan eksekutif, merupakan kekuasaan negara untuk menjalankan undang-undang dan presiden adalah pemegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD 45. b) Kekuasaan

Kekuasaan eksekutif harus dibatasi terhadap kekuasaan legislasi, sebab Pasal 21 ayat (2) Undang Undang dasar 1945 yang asli, menyatakan Rancangan Undang Undang