i
SOEGIJAPRANATA :
MENGABDI GEREJA DAN NEGARA
1940-1949
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Sejarah
Oleh:
YULITA HETY SUJAYA
NIM: 111314018
P R O G R A M S T U D I P E N D I D I K A N S E J A R A H
J U R U S A N P E N D I D I K A N I L M U P E N G E T A H U A N S O S I A L
F A K U L T A S K E G U R U A N D A N I L M U P E N D I D I K A N
U N I V E R S I T A S S A N A T A D H A R M A
Y O G Y A K A R T A
v MOTTO
Jika tangan tidak menggerakkan tongkat, tongkat tidak akan
menggerakkan apa pun (Thomas Aquinas)
“Cogito ergo sum” Saya berpikir, maka saya ada (Rene Descartes)
Ketika kita berpikir, kita sudah berbuat, Tuhan benar-benar berbuat
viii
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tiga permasalahan pokok, yaitu: (1) latar belakang Soegijapranata mengabdi Gereja dan negara; (2) prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi Gereja; (3) prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi negara.
Penelitian ini disusun berdasarkan metode penelitian historis faktual dengan tahapan: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verfikasi, interpretasi, dan historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosial dan pendekatan politik dengan model penulisannya bersifat deskriptif analitis.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasihNya
yang melimpah kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Soegijapranata Mengabdi Gereja dan Negara 1940-1949”. Skripsi ini
disusun untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Pendidikan di
Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan
Ilmu Pendidikan Sosial, Program Pendidikan Sejarah.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan
dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
ucapan terimakasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
2. Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma yang
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,
3. Dr. Anton Haryono, M. Hum selaku dosen pembimbing yang telah sabar
membimbing, membantu, dan memberikan banyak pengarahan, saran serta
masukan selama penyusunan skripsi.
4. Drs. B. Musidi, M. Pd. Selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah
membimbing, membantu, dan memberikan banyak pengarahan kepada
xi
5. Seluruh dosen dan sekretariat program studi pendidikan sejarah yang telah
memberikan dukungan dan bantuan selama penulis menyelesaikan studi di
Universitas Sanata Dharma.
6. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Walterius Jema’un dan Ibu Maria
Dilut yang telah menghabiskan banyak biaya dan tenaga untuk
mendukung saya dalam menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.
7. Kakak Melania Anita Jelita, Hendikus Masur, Coriana Sumarni, dan Willy
Brodus Harum yang telah memberikan banyak batuan baik berupa
material maupun moril sepanjang saya mengenyam pendidikan di priodi
Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma.
8. Bapak Jeremias Lemek S.H. dan Bapak Ben Galus S.H yang telah
memberikan bantuan baik berupa material maupun moril sehingga penulis
dapat menyelesaikan studi di Univesitas Sanata Dharma.
9. Sahabat-sahabat saya, Suci Budiati, Ening Mawarniati, Veronika, Nona
Grace, Bernadeta Yulia, Marlinda Dwi Ratnani, Ririn Nabiada, Erin
Tamatur, Deslin Tokan, Meta Rambung, Yati Darma, Risman Salo,
Primaden, Ema, dan Mbak Marta yang telah memberikan dukungan,
bantuan, serta inspirasi dalam menyelesaikan skripsi.
10.Teman-teman Alumni SMA Fransiskus Xaverius Ruteng, Atno, Deni, Van
Apri, Rivan yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penulisan ... 7
D. Manfaat Penulisan ... 8
E. Tinjuan Kepustakaan ... 9
F. Landasan Teori ... 12
G. Metodologi Penelitian dan Pendekatan ... 24
xiv
BAB II LATAR BELAKANG SOEGIJAPRANATA MENGABDI
GEREJA DAN NEGARA
A. Masa Kecil Soegijapranata ... 29
B. Soegijapranata Sekolah di Muntilan ... 32
C. Soegijapranata Masuk Serikat Jesuit ... 39
D. Soegijapranata Menjadi Imam ... 44
E. Soegijapranat Sebagai Vikaris Apostolik Semarang ... 46
BAB III SOEGIJAPRANATA MENGABDI GEREJA A. Mengatasi Persoalan-Persoalan Gereja ... 50
1. Berdiplomasi dengan Pihak Penguasa Jepang ... 51
2. Menetapkan Penggunaan Bahasa Latin dan Bahasa Indonesia ... 54
3. Mempertahakan Fasilitas Misi ... 55
4. Penguatan Kebutuhan Jasmani dan Rohani Para Misionaris di Kamp Internir ... 58
5. Memperbaiki Keuangan Misi ... 61
6. Mempertahankan Posisi Gereja ... 64
B.Tugas Penggembalaan ... 66
1. Pelayanan Sakramental ... 66
2. Memberikan Katakese ... 68
3. Mendidik Calon Imam ... 69
4. Memberikan Bimbingan bagi Keluarga Katolik ... 71
5. Membina Organisasi atau Perkumpulan ... 73
C.Pembinaan Imam Bumiputra ... 74
BAB IV SOEGIJAPRANATA MENGABDI NEGARA A. Terlibat dalam Revolusi Nasional ... 80
B. Menolong Rakyat Miskin ... 89
xv
BAB V KESIMPULAN ... 101
DAFTAR PUSTAKA ... 104
1 BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Kemunculan seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya tidak
terjadi begitu saja. Untuk itu, diperlukan berbagai persyaratan yang seharusnya
terdapat di dalam diri seseorang yang akan menjadi pemimpin, antara lain ialah
kejujuran dan keberanian moral. Hal itu berkaitan dengan berbagai hal lain,
seperti kesungguhan yang meyakinkan, kesadaran yang dalam atas prinsip,
keterusterangan dan tekad. Juga tidaklah dapat dilupakan bahwa seorang
pemimpin seharusnya seseorang yang cerdas, yang mampu memperhitungkan
berbagai kejadiaan yang sedang dihadapi dengan kecerdasan itu.
Keterangan di atas dimaksudkan untuk mengawali uraian-uraian selanjutnya
yang berkaitan dengan biografi seorang pahlawan nasional, Soegijapranata, yang
sekaligus adalah putra Indonesia pertama yang diangkat oleh Paus, pemimpin
tertinggi Gereja Katolik Roma, sebagai Vikaris Apostolik,1 dengan gelar Uskup.
Pengangkatannya terjadi pada tahun 1940 dan dimaksudkan untuk memimpin
sebuah Vikariat Apostolik baru, yakni Vikariat Apostolik Semarang, pecahan dari
1Vikariat Apostolik adalah bentuk otoritas untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang
Vikariat Apostolik Batavia.2 Penunjukan ini terkesan sangat istimewa karena
bukan saja Soegijapranata seorang pribumi pertama yang diangkat sebagai Uskup
tetapi juga seorang nasionalis tulen. Hal inilah dalam perjalanannya kemudian,
Soegijapranata banyak mewarnai perjalanan Gereja Katolik di Indonesia,
mempunyai pijakan yang jelas dalam kehidupan sosial politik berbangsa dan
bernegara.
Pada tahun 1940, Indonesia masih berada di bawah kolonialisme Belanda.
Unsur-unsur Belanda (Eropa) pada Gereja Katolik yang telah terbangun masih
kuat. Akan tetapi, pada waktu itu Paus mempercayakan kepemimpinan Vikariat
Apostolik baru itu justru kepada putera asli Indonesia, bukan kepada salah
seorang misionaris Belanda seniornya yang telah turut memformasi dirinya.
Selaku Uskup baru, Soegijapranata kala itu tidak hanya bertugas
menggembalakan umat Katolik pribumi, tetapi juga orang-orang Katolik
kebangsaan Eropa yang tinggal di Vikariat Apostolik Semarang.
Peristiwa tahun 1940 semakin monumental bila diingat bahwa dulu
Soegijapranata kecil dikirim oleh orang tuanya ke Kolose Xaverius Muntilan
semata-mata untuk sekolah, bukan untuk menjadi orang Katolik. Karena tidak
ingin menjadi Katolik, tentu pada masa-masa awal di Muntilan tidak terlintas di
benak pikirannya untuk menjadi imam/biarawan Katolik. Akan tetapi, sejarah
yang sarat dengan interaksi sosial dan kultural yang sedemikian dinamis
menentukan lain. Soegijapranata tidak hanya berhasil menyelesaikan sekolah
yang diimpikannya, tetapi lebih dari itu, ia menemukan jalan hidup baru. Pada
2
jalan baru ini pun Soegijapranata tidak hanya menemukan agama baru, menjadi
orang Katolik, tetapi juga terpanggil untuk masuk/bergabung dalam suatu
komunitas biara, menjadi biarawan Yesuit, dan berhasil menjalani tahbisan
imamat pada tahun 1931. Hanya selang Sembilan tahun dari saat tahbisan
imamatnya, Soegijapranata telah dipercaya oleh Paus untuk memimpin sebuah
Vikariat (keuskupan) baru.3
Sebagai imam Katolik, dan kemudian menjadi Uskup, tugas utama
Soegijapranata adalah menggembalakan umat Katolik. Meskipun demikian, dalam
lintasan sejarahnya kiprah kekaryaan Soegijapranata tidak hanya berdimensi
kegerejaan (kekatolikan) tetapi juga sarat dengan dimensi kebangsaan
(keindonesiaan). Dimensi kebangsaan ini sudah tampak ketika ia memutuskan
menjadi imam. Konon, ia tidak menemukan profesi lain yang lebih
memungkinkan bagi dirinya untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk
mengabdi bangsa Indonesia selain menjadi imam.4
Dimensi kebangsaan Soegijapranata ini tidak pernah kendur dan terus
menguat. Hal ini antara lain tampak pada keterlibatannya dalam mengembangkan
majalah Katolik berbahasa Jawa, Swaratama, yang tidak pernah berhenti
menyuarakan aspirasi-aspirasi kebangsaan, dan intruksinya pada awal
kemerdekaan kepada umat Katolik Jawa (Indonesia) gembalaannya untuk terlibat
aktif dalam revolusi nasional, yang secara simbolik ia sendiri berusaha
3
Budi Subanar, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2012, hlm. 2.
4
mewujudkan dengan memindahkan kantor kevikariatannya dari Semarang ke
Yogyakarta seiring dengan kepindahan pemerintah RI ke kota perjuangan itu.5
Bagi Soegijapranata, kekatolikan harus diwujud nyatakan dalam kehidupan
sehari-hari dalam suatu interaksi kebangsaan. Orang Katolik Indonesia harus
berguna tidak hanya bagi Gerejanya, tetapi juga bagi bangsa dan negaranya.
Bahkan, orang Katolik baru berguna bagi Gerejanya bila berguna bagi bangsa dan
negaranya. Mereka harus memiliki keberanian yang tangguh untuk turut mengisi
kemerdekaan yang telah berhasil diperjuangkan oleh bangsa Indonesia.
Terutama bagi umat Katolik, nama Soegijapranata bukan sekedar nama
yang tidak asing, tetapi nama besar yang senantiasa dikenang karena keteguhan
dan konsistensi prakarsanya dalam mengintegrasikan praktik kekatolikan dengan
paham kebangsaan yang harus dijalani/dihidupi oleh umat Katolik Indonesia.6
Sebagaimana diketahui, Soegijapranata telah diangkat oleh Presiden sebagai
salah seorang pahlawan nasional. Hal itu merupakan perwujudan dari pengakuan
akan "ada dan besarnya" jasa beliau kepada bangsa Indonesia selama hidupnya.
Pengakuan atas jasa-jasa yang seperti diperoleh Soegijapranta merupakan
kebiasaan dengan melalui penyaringan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan
yang telah ditetapkan oleh pemerintah.7 Dengan demikian penghargaan semacam
itu tidaklah diberikan kepada setiap pemimpin dan atau kepada setiap orang besar.
Tidak semua pemimpin mampu memenuhi persyaratan-persyaratan yang
ditentukan. Pribadi Soegijapranata cukup dapat memancing perhatian karena
liku-liku hidupnya memang menarik. Kegiatannya sejak memasuki sekolah guru di
5Ibid., hlm. 2-3. 6Ibid., hlm. 3-4. 7
bawah bimbingan pastor F. Van Lith, S.J. sudah menunjukkan keuletannya tetapi
sekaligus juga keterbukaan dan keterusterangan di dalam mengemukakan
pandangan. Juga setelah menduduki bangku pendidikan imam (pastor) dalam
Gereja Katolik, Ia menunjukkan minatnya yang sangat besar, tidak hanya yang
menyangkut pada agama Katolik yang dianutnya akan tetapi juga masalah
pendidikan, budaya, dan seni.
Dalam pandangan Soegijapranata, nasionalisme bukanlah melulu suatu
kesadaran berbangsa, bukan pula ideologi yang menanamkan cinta tanah air
belaka, tetapi di dalam nasionalisme terdapat pula nilai-nilai transendental dan
keterarahan pada hidup abadi. Sikap rendah hati, serta pengakuan penuh syukur
dan hormat terhadap tatanan manusiawi dan adikodrati ataupun terhadap keadaan
dimana penyelenggara ilahi telah melengkapi manusia dengan cakrawala akan
hidup abadi merupakan bagian integral dari nasionalisme.8
Soegijapranata merupakan salah satu contoh pribadi yang mampu
mengintegrasikan hidup menggereja dan bernegara dalam dirinya. Sebagai
pemimpin Gereja, Soegijapranata berkewajiban menjaga dan membela segala
kepentingan Gereja Katolik Indonesia ditengah situasi yang membatasi gerak
agama Katolik di Indonesia pada masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional.
Sebagai warga negara, Ia juga berperan serta dalam usaha perjuangan Indonesia.
Usaha dan semangat Soegijapranata menginspirasi banyak pihak untuk berperan
aktif dalam hidup berbangsa dan bernegara kini.
Usaha-usaha Soegijapranata juga menginspirasi penulis, sebagai mahasiswa
pendidikan sejarah sekaligus sebagai calon guru sejarah, untuk melihat kembali
apa yang melatarbelakangi munculnya semangat kebangsaan itu di dalam diri
Soegijapranata. Semangat dan pemikirannya menjadi sumber inspirasi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Jiwanya selalu hidup diantara kita dan
mampu menciptakan sosok pemimpin yang tegas, adil, jujur dan selalu
menjunjung pluralitas. Penulis berusaha melihat usaha Soegijapranata dalam
membangun Gereja Katolik Indonesia dan mengabdi Indonesia pada masa
kepemimpinannya sebagai vikaris apostolik dimasa pendudukan Jepang dan
revolusi nasional.
B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan skripsi yang akan mengambil skup temporal
1940-1949,penulis akan memfokuskan pada tiga permasalahan:
1. Bagaimana latar belakang Soegijapranata mengabdi Gereja dan negara?
2. Bagaimana prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi
Gereja?
3. Bagaimana prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi
negara?
Pada permasalahan pertama akan dibahas antara lain tentang
Soegijapranata: Masa Kecil hingga menjadi Vikaris Apostolik Semarang.
Pada permasalahan kedua akan dibahas antara lain: Mengatasi
Pembahasan tentang Mengatasi persoalan-persoalan Gereja meliputi:
Berdiplomasi dengan pihak penguasa Jepang, menetapkan penggunaan bahasa
Latin dan bahasa Indonesia, mempertahankan fasilitas misi, pembebasan
misionaris dari kam internir, memperbaiki keuangan misi, mempertahankan posisi
Gereja. Pembahasan tentang tugas penggembalaan meliputi: Pelayanan
Sakramental, memberikan katakese, mendidik calon imam, memberikan
bimbingan bagi keluarga Katolik, membina organisasi atau perkumpulan.
Pembahasan tentang pembinaan imam bumiputra.
Pada permasalahan ketiga akan dibahas antara lain: Terlibat dalam revolusi
nasional, menolong rakyat miskin, menginspirasi orang Katolik.
Yang dimaksud Gereja pada permasalahan di atas adalah Gereja Katolik di
Indonesia khususnya Vikariat Apostolik Semarang. Sementara itu negara yang di
maksud adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan masalah yang dikemukan maka tujuan yang hendak dicapai
dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.Mendeskripsikan latar belakang Soegijapranata mengabdi gereja dan negara.
2.Mengidentifikasi prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi
gereja.
3.Mengidentifikasi prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi penulis
a. Penulisan ini bermanfaat sebagai bekal calon guru sejarah.
b. Menambah wawasan penulis untuk mengetahui sejarah perjuangan
Soegijapranata sebagai Uskup pribumi pertama Indonesia sekaligus pahlawan
nasional.
c. Dapat meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh
2. Bagi Universitas Sanata Dharma
Kiranya penulisan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber refrensi bagi para
mahasiswa. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk contoh dalam penulisan
skripsi bagi mahasiswa berikutnya.
3. Bagi masyarakat umum
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi baru kepada
masyarakat tentang perjuangan Soegijapranata selama masa penjajahan Jepang
dan revolusi nasional. Selain itu masyarakat dapat mengetahui bagaimana
semangat Soegijapranata yang menjadi panutan bagi Gereja dan Negara di
E. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini disusun dengan menggunakan sumber buku. Buku-buku
pokok yang menunjang dalam penulisan skripsi ini antara lain:
Buku karya G. Budi Subanar SJ yang berjudul: Soegija, Si Anak Betlehem
Van Java9, Kilasan Kisah Soegijapranata10, Menuju Gereja Mandiri Sejarah
Keuskupan Agung Semarang Di bawah Dua Uskup (1940-1981)11, Soegija
Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusian12. Buku Soegija, Si Anak Betlehem
Van Java menceritakan tentang perjalanan Soegijapranata dari masa kanak-kanak
hingga berperan sebagai Vikaris Apostolik Semarang. Soegijapranata menemukan
inti terdalam dari identitas dirinya sebagai orang Jawa yang mengalami
perjumpaan dengan kekristenan yang kemudian mewujudkan cita-citanya sebagai
imam untuk dapat mengabdi kepada bangsanya dan kepada Tuhan. Identitas itulah
yang menjadi fondasi dasar bagi proses perjalanan hidup seterusnya. Buku ini,
tidak hanya menampilkan surat dan tulisan Mgr. Soegijapranata, namun juga
perjalanan hidupnya.
Buku Kilasan Kisah Soegijapranata berisi tentang kiprah kekaryaan
Soegijapranata yang sarat dengan dimensi kebangsaan (keindonesiaan), tidak
hanya berdimensi kegerejaan (kekatolikan). Menurut buku ini, dimensi
kebangsaan sudah tampak ketika ia memutuskan untuk menjadi imam.Konon, ia
9
Budi Subanar, Soegija Si Anak Betlehem Van Java, Yogyakarta: Kanisius 2013.
10
Budi Subanar, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2012.
11
Budi Subanar, Menuju Gereja Mandiri Sejarah Keuskupan Agung Semarang di bawah Dua
Uskup ( 1940-1981),Yogyakarata: Universitas Sanata Dharma, 2005.
12
tidak menemukan profesi lain yang lebih memungkinkan bagi dirinya untuk
memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk mengabdi bangsa.
Buku Menuju Gereja Mandiri Sejarah Keuskupan Agung Semarang Di
bawah Dua Uskup (1940-1981) berisi tentang situasi sosial budaya masyarakat
dan Gereja di Vikariat Apostolik Semarang pada masa pendudukan Jepang dan
revolusi nasional. Dalam buku ini juga dibahas tentang keterlibatan
Soegijapranata dalam mengatasi masalah di Vikariatnya pada masa pendudukan
Jepang serta peran beliau dalam revolusi nasional. Selain itu, buku ini juga
menceritakan Soegijapranata aktif dalam tugas penggembalaan seperti pelayanan
sakramen, katekese, pendidikan keluarga, dan organisasi atau perkumpulan.
Selain itu, buku yang berjudul Soegija Catatan Harian Seorang Pejuang
Kemanusian berisi tentang berbagai kegiatan pemerintahan gerejawi dalam
pengungsian diYogyakarta. Terdapat sejumlah peristiwa menarik di dalamnya
antara lain:
a. Soegijapranata yang mengucapkan pidato gencatan senjata setelah pesawat
Indonesia ditembak jatuh Belanda di Maguwo, 27 Juli 1947, sehingga
menewaskan Adisucipto dan Abdulrahman Saleh, dua pahlawan nasional dari
Angkatan Udara.
b. Soegijapranata yang mencatat secara detail suasana 19 Desember 1948, saat
Belanda menyerbu Yogyakarta yang pada waktu itu merupakan pusat
c. Kumpulan surat-surat kegembalaan Soegijapranata dari tahun-ketahun,
naskah-naskah pidato Soegijapranata yang disampaikan di dalam berbagai
kesempatan.
d. Menjelaskan sejumlah hal, antara lain sejarah asal mula ungkapan
Soegijapranata “100% Katolik dan 100% Indonesia”, hubungan
Soegijapranata dengan Presiden Soekarno, hubungan Soegijapranata, dengan
Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta berbagai hubungan lain: dengan kaum
awam, dengan anggota-anggota religius.
Buku Karangan Anhar Goggong yang berjudul Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ. Antara Gereja dan Negara13 berisi tentang kepribadian
Soegijapranata, memberikan latar belakang historis yang terjadi di sekitar masa
episkopat Soegijapranta, baik di dalam kerangka sejarah pergerakan Indonesia,
maupun dalam sejarah dunia secara mondial terlebih-lebih masa Perang Dunia
dan Perang Pasifik di Asia. Selin itu, Buku ini juga menceritakan rintangan yang
dialami Soegijapranata, baik rintangan yang bersumber dari dalam diri sendiri
maupun dari luar pada masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional.
Buku lain yang mirip dengan kisah pribadi Soegijapranata dari kecil hingga
dewasa adalah karya F.X Heryatno Wono Wulung SJ yang berjudul Rohani,
Menyongsong Tahun Vatikan14. Buku ini juga membahas tentang perjuangan
Soegijapranata dalam membela rakyat miskin dan menderita serta keterlibatan
Gereja di tengah hidup masyarakat, dan bagimana Gereja dapat ambil bagian
secara nyata di dalam meningkatkan kesejateraan umum.
13
AnharGonggong, MGR AlbertusSoegijapranata, Jakarta: PT Grasindo, 1943.
14
Buku karya Sr. Henricia Moeryantini, CB yang berjudul: Mgr. Albertus
Soegijapranata SJ15 menjelaskan kaitan antara Soegijapranata dengan pembinaan
hidup keagamaan umat seperti pembinaan klerus dan kehidupan membiara
pribumi, pembinaan rohani umat di Vikariatnya. Di dalam buku ini juga
diceritakan tentang Soegijapranata dengan kehidupan sosial, ekonomi, seperti
pembinaan ekonomi organisasi-organisasi sosial serta menyadarkan masyarakat
mengenai hakekat manusia sebagai makhluk sosial, mengatasi beberapa
persoalan khusus dalam kehidupan ekonomi keluarga atau ekonomi rumah tangga,
Selain itu, buku ini juga menceritakan tentang usaha Soegijapranata dalam
menanggapi persoalan pendidikan, serta kaitan antara Soegijapranata dengan
politik .
F. Landasan Teori
1. Gereja
Yang dimaksud Gereja pada landasan teori ini adalah Gereja Katolik.
Kata “Gereja” berasal dari kata Portugis igreya, yang jika mengingat akan cara
pemakaiannya sekarang ini, adalah terjemahan dari kata Yunani kyriake, yang
berarti menjadi milik Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan milik Tuhan adalah
orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Jadi
yang dimaksud dengan Gereja adalah persekutuan para orang beriman.16
Yang dimaksud dengan Gereja sebagai persekutuan adalah Gereja
orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis (Umat Beriman Kristiani).
15
Henrica Moer Yantini CB, Mgr. Albertus Soegijapranata S.J, Ende Flores: Nusa Indah, 1975.
16
Sementara itu, persekutuan dapat diartikan sebagai sebuah situasi akrab dan
bersahabat dalam sebuah ikatan tertentu. Jadi, Gereja sebagai persekutuan artinya
orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis yang terikat dan
berinteraksi satu sama lain dalam ikatan kasih Kristus.
Di dalam Perjanjian Baru kata yang dipakai untuk menyebutkan
persekutuan para orang beriman adalah ekklesia, yang berarti rapat atau
perkumpulan yang terdiri dari orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul.
Mereka berkumpul karena dipanggil atau dikumpulkan. Yang disebut anak Allah
pertama-tama adalah seluruh persekutuan orang beriman.17 Jadi sebagai
persekutuan orang beriman Gereja hadir di dunia ini bukan untuk dirinya sendiri
melainkan untuk dunia. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan
orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita,
merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dari murid-murid
Yesus (Gereja). Singkatnya, Gereja hendaknya menjadi sakramen keselamatan
bagi dunia. Berikut ini akan dijelaskan mengenai Gereja Katolik dan perananan
Gereja dalam Gerakan pembebasan.
a. Gereja Katolik
Katolik berarti universal, seperti Allah juga universal. Katolik berarti:
Mengakui dan menghargai seluruh umat manusia sebagai ciptaan Allah, yang
terpanggil kepada kehidupan abadi bersama Allah, sesudah kebangkitan.18 Dalam
Konsili Vatikan II Gereja tidak lagi memusatkan sebagai kelompok manusia yang
terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen Roh Kristus. Gereja berarti
17 Komisi Kateketik KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus,Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 172. 18
bahwa pengaruh dan daya pengudus Roh tidak terbatas pada para anggota Gereja
Katolik saja, melainkan juga terarah kepada seluruh umat manusia di dunia.
Dengan sifat Katolik dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi
keterbatasannya sendiri karena Roh yang berkarya di dalamnya. Gereja Katolik
terbuka untuk semua orang, Gereja mampu mengatasi keterbatasannya untuk
berkiprah ke segala penjuru dunia dan ajaranNya dapat diwartakan di mana-mana
sejauh itu baik dan luhur. Dengan kata lain, rahmat itu terbuka bagi siapa saja
yang mau menerimanya.
Gereja sebagai persekutuan umat mempunyai struktur kepemimpinan
(Hirarki)19. Untuk menggembalakan dan mengembangkan umat Allah, Kristus
Tuhan dan GerejaNya mengadakan aneka pelayanan yang tujuannya demi
kesejahteraan seluruh umat Allah. Gereja terdiri dari hirarki dan awam, hirarki
memimpin dengan kekuasaan religius absolut dan awam adalah rakyat yang harus
taat secara absolut pula. Ini semua sudah seharusnya begitu, dan dibina dalam
suatu spiritualitas penuh askese. Segalanya demi keselamatan jiwa di dunia dan
akhirat. Namun dengan idealisme yang menyala-nyala, hirarki telah mendorong
pula umat dan awamnya untuk berkarya dan berkorban bagi Gereja di dalam
negerinya maupun di luar negeri, di seluruh dunia. Kepemimpinan dalam Gereja
Katolik pada dasarnya diserahkan kepada hirarki yang berasal dari Kristus sendiri.
Menurut ajaran resmi Gereja mengajarkan bahwa atas penetapan Ilahi, para Uskup
menggantikan para rasul sebagai penggembala Gereja. Kepada mereka itu para
19
Rasul berpesan, agar mereka menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus
mengangkat mereka untuk menggembalakan jemaat Allah. Para pengganti mereka
yakni para Uskup dikehendakiNya menjadi gembala dalam GerejaNya hingga
akhir zaman.20 Dengan demikian, dasar dari kepemimpinan dalam Gereja adalah
berasal dari kehendak Tuhan. Dalam kedudukannya, Uskup sering disebut sebagai
pengganti dari para rasul Kristus. Setiap Uskup, karena tahbisannya, dengan
sendirinya menjadi bagian dari jajaran para Uskup se-dunia di bawah pimpinan
Sri Paus dan bertanggungjawab atas seluruh Gereja Katolik (Paroki) yang berada
di dalam wilayah Keuskupan-nya. Dalam Gereja, kedudukan Uskup bersifat
seumur hidup dan diangkat oleh Tahta Suci di Vatikan, Roma. Gereja
memberikan gelar Monsigneur kepada seseorang yang secara sah diangkat
menjadi Uskup . Tugas pokok Uskup adalah mempersatukan dan mempertemukan
umat. Tugas pemersatu itu dibagi menjadi tiga yakni: tugas pewartaan, perayaan
dan pelayanan. Tugas utama para Uskup adalah pewartaan Injil. Uskup yaitu
memimpin umat dalam kalangan pastoral keuskupan.
b. Perananan Gereja dalam Gerakan Pembebasan
Di dunia, ternyata bukan hanya Gereja yang dipakai Allah untuk
melaksanakan misi pembebasan dalam rangka Misi Eksodus. Gereja harus
menyadari dan mau mengakui munculnya gerakan-gerakan pembebasan yang
sedang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat yang miskin dan
tertindas, serta gerakan yang sedang memperjuangkan kemerdekaan kebangsaan
pada zaman pascakolonialisme ini. Sikap Gereja terhadap gerakan pembebasan ini
20
sering kali tidak jelas. Kecenderungan yang terjadi adalah sikap yang memandang
gerakan-gerakan berada di luar “ Jalur” misi Gereja, atau paling tidak mendukung
secara moral saja. Sikap yang tegas dan jelas dengan melibatkan diri merupakan
sikap baru yang tidak mudah diterima di dalam Gereja itu sendiri. 21
Keterlibatan Gereja dalam gerakan pembebasan tidak berarti Gereja
menerima semua yang dilakukan atas nama pembebasan dan kemerdekaan.
Banyak gerakan pembebasan mengandung benih-benih korupsi dan kehilangan
idealisme yang mulia. Tidak ada gerakan pembebasan yang murni secara absolut.
Gereja bertugas untuk memperlihatkan intervensi Allah sebagai sesuatu yang
esensial dalam gerakan pembebasan.22 Seperti dinyatakan dalam hasil Konsili
Vatikan II (1962-1965) luar biasa. Gereja bukan saja memperoleh penyegaran
jasmani, tetapi pula penyegaran/peremajaan rohani, spiritual, mental dan daya
gerak. Gereja hadir di dunia, hidup bersamanya dan bertindak di dalamnya. Dalam
hal politik dan kekuasaan, Konsili dengan jelas menyatakan bahwa Gereja dan
negara bukan lagi merupakan dua pusat kekuasaan yang terpisah, tetapi dua
organisme yang otonom dalam bidang masing- masing. Pelayanan itu harus
efektif dijalankan oleh keduanya demi kesejateraan umum.
Pembebasan tanpa Allah merupakan gerakan yang buta dan kliru dalam
menghalalkan cara-cara untuk mencapai tujuan. Para pemimpin pembebasan juga
mudah terjebak dalam pemulian diri sendiri dan bukan lagi mengabdi kepada
rakyat. Dalam kerangka seperti inilah, Gereja terlibat dan bahkan juga memahami
serta mendukung revolusi kemerdekaan suatu bangsa. Gereja yang semula amat
21
Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner (Dalam Konteks indonesia), Yogyakarta:Kanisius, 1996, hlm. 141-142.
dipengaruhi oleh iklim penjajahan selama beratus-ratus tahun itu, perlahan-lahan
berkembang menjadi Gereja lokal yang banyak diwarnai ciri-ciri khas bangsa
Indonesia, sambil bahu-membahu dengan golongan masyarakat lainnya berusaha
membangun bangsa baru yang bermartabat. John Titaley dengan tegas
menyatakan bahwa kemerdekaan bangsa ini (Indonesia) adalah anugerah Allah
yang harus dipertahankan dan diperjuangkan oleh Gereja sebagai bagian dari
bangsa Indonesia.23 Oleh karena itu, Gereja Indonesia terlibat dalam Misi Eksodus
dengan ikut serta secara sungguh-sungguh memelihara kemerdekaan bangsa yang
secara formal sudah merdeka, bebas dari penjajahan mengalami juga
kemerdekaan dalam berbagai aspek kehidupan bersama, keadilan, perdamaian,
dan pemanusian. Sikap Gereja dalam pembangunan nasional yang sudah pernah
dirumuskan DGI atau PGI dengan empat istilah, yaitu positif, kreatif, kritis, dan
realistis perlu dikembangkan menjadi keterlibatan untuk bersama-sama golongan
lain sebagai kesatuan bangsa dalam menanggulangi kemiskinan, menyuarakan
kebenaran dan keadilan, serta membela mereka yang tergusur dalam arus
modernisasi dan pembangunan.
2. Negara
Negara adalah suatu organisasi kekuasaan, dan organisasi itu merupakan
tata kerja dari pada alat perlengkapan negara yang merupakan suatu keutuhan,
tata kerja mana melukiskan hubungan serta pembagian tugas dan kewajiban antara
masing-masing alat perlengkapan negara itu untuk mencapai suatu tujuan yang
tertentu.24
Sifat hakikat negara sebagai organisasi kekuasaan, menurut Kranenburg dan
logeman adalah suatu pemahaman bahwa kekuasaan negara merupakan kekuasaan
yang di organisasikan oleh sekelompok orang sebagai bangsa.25 Pergorganisasian
kekuasaan yang dilakukan secara sadar untuk mencapai maksud dan tujuan
tertentu. Ada berbagai macam tujuan yang hendak dicapai seperti untuk
memelihara ketertiban dan keamanan, menolak pihak-pihak lain yang bertujuan
untuk berkuasa dan sebagainya.
Apa yang dikemukan oleh Kranenburg dan logeman selaras dengan
pendapat Hood Philips, Paul Jackson, dan Patricia Leopold, yang mengatakan
bahwa negara adalah masyarakat politik merdeka yang menduduki suatu wilayah
tertentu yang anggotanya bergabung bersama untuk tujuan menolak kekuatan luar
dan untuk pemeliharaan ketertiban internal.26
Sesuai dengan pendapat di atas, pengorganisasian kekuasaan oleh
sekelompok orang yang disebut bangsa secara jelas dimaksudkan untuk mencapai
tujuan dan kepentingan bersama seperti antara lain disebutkan dalam definisi di
atas. Dengan demikian penggunaan kekuasaan negara oleh penguasa di luar tujuan
negara, seperti misalnya demi kepentingan penguasa atau pribadi pejabat negara
adalah tindakan yang mengandung arti sebagai penyalahgunaan kekuasaan negara.
24
Soehino, Ilmu Negara, Yogyakarta: Liberty, cetakan ketujuh, 2005, hlm 149 25 Hotma P. Sibuea, Ilmu Negara, Jakarta:Erlangga, 2014, hlm. 39
Beberapa pendapat mengenai lahirnya Negara adalah sebagai berikut:27
Penulis-penulis tua, membedakan dua macam cara lahirnya negara:
1. Negara karena didirikan, jadi di sini lahirnya negara dalam suasana damai,
yang biasa disebut primairestaatwording. Dalam konteks ini, lahirnya negara,
bukan karena hasil dari usaha melawan penjajah, misalnya melalui perang,
melainkan dilahirkan secara sendirinya dalam masyarakat. Cara kelahiran
inilah yang dianggap kelahiran yang sebenarnya. Lahirnya negara ini tentunya
harus memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai negara. Misalnya, harus
ada wilayah, penduduk, pengakuan dari dunia internasional.
2. Negara yang didapatkan, jadi lahirnya negara di sini dalam suasana perang
atau revolusi. Cara ini disebut Secundaire Staatwording. Banyak negara di
dunia ini yang dilahirkan karena cara seperti ini, misalnya bangsa Indonesia.
Semangat kebangsaan yang membara dalam berkehidupan berbangsa dan
bernegara juga bisa disebut nasionalisme. Tumbuhnya nasionalisme
merupakan suatu bentuk ideologi yang meletakkan kecintaan, kesetiaan dan
komitmen tertinggi pada negara kebangsaan.28 Dengan demikian nasionalisme
menjadi dasar pembentukan negara kebangsaan. Hubungan nasionalisme dan
negara kebangsaan memiliki kaitan yang erat. Negara kebangsaan adalah
negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan/
nasionalisme. Artinya adanya tekad masyarakat untuk membangun masa
depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat
27 Dewa G. Atmatja, Ilmu Negara, Malang: Setara Pers, 2012, hlm. 75.
tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. Rasa nasionalisme
sudah dianggap muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama
untuk mendirikan suatu negara kebangsaan.
Dalam konteks negara Indonesia, tumbuhnya nasionalisme berkaitan erat
dengan sistem politik kolonial yang memposisikan bangsa Indonesia sebagai
bangsa terjajah yang harus dikuasai dan dieksploitasi segala sumberdaya yang
dimilikinya. Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai respon
atas kolonialisme. Kesamaan nasib sebagai sesama kaum terjajah merupakan
suatu ikatan kuat diantara etnik-etnik di Indonesia untuk menjalin ikatan
perjuangan, sedangkan keinginan untuk merajut masa depan yang lebih
gemilang mendorong untuk membuat kesepakatan-kesepakatan sebagai
manifestasi dari nasionalisme. Suatu hal yang luar biasa adalah nasionalisme
ini mencapai tingkatan tertinggi dengan dirumuskannya hal itu secara tegas
dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu berkehendak membangun suatu negara
bangsa (nation-state) yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur dengan cara
demokratis. Dalam konteks negara yang didapatkan, untuk membentuk suatu
negara, setidaknya melewati tiga fase penting, seperti fase pembuahan, fase
perumusan, dan fase pengesahan.29
a. Fase Pembuahan
Pada tahap ini, usaha yang dilakukan adalah mencari ideologi yang menjadi
dasar dari terbentuknya suatu negara. Ideologi secara fungsional dimaknai
sebagai seperangkat gagasan budaya, sosial-politik, hukum yang dianggap
paling ideal atau yang paling baik. Secara fungsional ada dua tipe ideologi yaitu
doktriner dan pragmatism. Ideologi doktriner ciri-cirinya antara lain, ajaranya
dirumuskan secara sistematis dan rinci, diindoktrinasikan kepada masyarakat
dan pelaksanaanya diawasi secara ketat oleh pemerintah dan partai politik.30
Mendirikan suatu negara, harus mempunyai ideologi dan ideologi digali dari
nilai-nilai yang mengakar dari suatu negara karena ideologi menjadi platform
dalam menjalankan roda pemerintahan. Oleh karena itu ideologi menjadi awal
dalam proses terbentuknya suatu negara.
b. Fase Perumusan
Setelah ideologi sudah ditentukan, maka selanjutnya adalah
mengkongkritkan ideologi itu dalam hukum dasar dari suatu negara. Pada tahap
ini yang dilakukan adalah mereposisi dan menyempurnakan ideologi yang dianut
oleh suatu negara melalui konsensus bersama.
Dalam konteks negara Indonesia, ideologi yang dianut baik tersurat maupun
tersirat dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945 adalah kedaulatan rakyat
berdasarkan falsafah negara Pancasila.31 Sukarno menyampaikan kelima prinsip
dasar falsafah atau pandangan dunia yang telah disetujui oleh semua anggota
BPUPKI pada pidatonya tanggal 1 Juni 1945. Kelima prinsip tersebut dalam
padangan Sukarno adalah kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau
perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, Ketuhanan yang
berkebudayaan. Kelima prinsip itu disebut oleh Sukarno dengan Pancasila. Sila
artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara
Indonesia, kekal dan abadi.
Ideologi yang dianut itu, harus tercermin dalam penyusunan hukum dari
suatu negara. Negara yang mempunyai konstitusi seperti AS (Amerika Serikat) ,
nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi yang dianutnya itu harus tercermin
dalam konstitusi dalam proses perumusan konstitusinya.
c. Fase Pengesahan
Setelah melewati konsensus secara luas mengenai dasar kenegaraan dalam
rangka mempersiapkan suatu negara menjadi merdeka, maka selanjutnya adalah
mengesahkan rumusan tersebut sebagai hukum dasar atau konstitusi. Fase ini
sangat penting, sebab konstitusi yang telah dirumuskan itu, merupakan syarat
utama dari suatu negara yang akan memproklamasikan kemerdekaanya, sehingga
mendapat pengakuan dari negara lain.
Dalam mencapai tujuan nasionalnya suatu negara selalu akan menghadapi
berbagai rintangan baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri, bersifat
langsung maupun tidak langsung. Rintangan dan ancaman tersebut harus dihadapi
oleh seluruh rakyatnya, tentu saja sesuai dengan kemampuan dan profesinya
masing-masing.32
Setiap warga negara yang telah membentuk negara, dimana saja dan kapan
saja mempunyai keinginan dan kepentingan untuk melangsungkan hidupnya serta
mencapai tujuan nasionalnya. Untuk keperluan itu setiap bangsa mendambakan
partisipasi aktif dari seluruh warga negaranya. Partisipasi warga negara untuk
tercapainya tujuan nasional serta kelangsungan hidupnya tidak bisa muncul begitu
saja secara optimal, tanpa usaha.
Indonesia menjadi suatu negara yang merdeka yang diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945 tentu melalui proses perjuangan yang sangat lama dan
tidak terbentuk seketika. Perjuangan itu setidaknya telah menguras tenaga, pikiran
sampai kehilangan nyawa.
Perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempersatukan seluruh wilayah
Nusantara telah dimulai sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit. Perjuangan itu
diteruskan hingga mencapai puncak-puncaknya yaitu diikrarkannya Sumpah
Pemuda pada tahun 1928, dan diwujudkannya Negara Kesatuan Republik
Indonesia melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.33 Sejarah
pembelaan negara Indonesia, sejak zaman penjajahan telah banyak memberikan
pengalaman untuk menyusun suatu sistem pembekalan negara yang mampu
menanggulangi setiap ancaman, tantangan, hambatan serta gangguan terhadap
kelangsungan hidup bangsa dan negara berdasarkan Pancasila. Kesadaran untuk
mempertahan negara dan bangsanya itu sesungguhnya telah dimiliki oleh seluruh
rakyat, hal ini dijadikan sebagai modal untuk merumuskan konsepsi bela negara
dari rintangan dan ancaman yang datang dari luar negeri.
G. Metode dan Pendekatan Penelitian
1. Metode Penelitian
Penelitian sejarah pada dasarnya memiliki tahapan yaitu: (1) pemilihan
topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi, (4) interpretasi, (5) penulisan.34
Untuk lebih jelas dapat diliat di bawah ini:
a. Pemilihan Topik
Pemilihan topik merupakan langkah pertama dalam penulisan sejarah.
Syarat yang penting dalam pemilihan topik yaitu kedekatan intelektual dan
kedekatan emosional. Kedekatan intelektual yaitu penulis memiliki kemampuan
yang memadai untuk membahas topik yang akan ditulis. Sedangkan kedekatan
emosional adalah ketertarikan penulis pada topik yang diambil. Apabila penulis
memiliki kompetensi yang memadai dan tertarik pada topik tersebut sangat tinggi,
maka penelitian sejarah yang dilakukan akan terasa menyenangkan.
Penulis memiliki kedekatan intelektual dan emosional pada topik
“Soegijapranata: Mengabdi Gereja dan Negara (1940-1949). Penulis memilih
topik biografi dari Mgr. Albertus Soegijapranata, karena penulis merasa tertarik
atas kepribadian sebagai seorang pemimpin Gereja Katolik Indonesia pertama
yang dipilih dari kalangan pribumi dan sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Banyak usaha-usaha yang Soegijapranata lakukan untuk mengabdi gereja dan
negara pada masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional. Penulis merasa
senang pada topik tersebut. Dalam pemilihan topik juga harus memiliki nilai ,
topik yang akan diteliti harus memberikan makna dan kesan tersendiri bagi para
34
pembaca kelak dan harus berdasarkan pengalaman manusia yang dianggap
penting dan dapat membawa perubahan.
b. Pengumpulan Sumber
Setelah pemilihan topik dilakukan, tahap berikutnya adalah pengumpulan
sumber (heuristik). Pengumpulan sumber harus relevan dan sesuai berdasarkan
dengan topik yang akan ditulis. Ada beragam jenis sumber yaitu sumber tertulis,
sumber lisan, benda tinggalan, dan sumber kuantitatif.35 Pada penelitian ini
penulis menggunakan sumber yang berupa buku-buku terkait dengan topik yang
akan dibahas.
c. Kritik Sumber (Verifikasi)
Kritik sumber sejarah adalah upaya untuk mendapatkan otentisitas dan
kredibilitas sumber. Yang maksud dengan kritik adalah kerja intelektual dan
rasional yang mengikuti metodologi sejarah untuk mendapatkan objektivitas suatu
kejadian.36 Umumnya kritik sumber dilakukan terhadap sumber-sumber pertama
Kritik ini meliputi verifikasi sumber, yaitu pengujian mengenai kebenaran atau
ketepatan (akurasi) dari sumber itu. Dalam metode sejarah ada dua jenis kritik
sumber, yaitu kritik eksternal (otentisitas dan integritas) dan kritik internal.37
Yang sering digunakan yaitu kritik internal, karena kritik internal ditujukan
terhadap isi dari suatu sumber sejarah. Apakah isi yang ada dalam sumber itu
memang dapat dipercaya atau tidak. Untuk itu yang harus dilakukan adalah
membandingkan kesaksian antar berbagai sumber.
35
Suhartono W. Pranoto, Teori dan Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010, hlm. 24.
36
Ibid., hlm. 35.
37
Sumber yang dipergunakan pada penelitian ini adalah buku-buku yang membahas
mengenai kehidupan Soegijpranata, buku-buku yang membahas peristiwa ataupun
situasi Indonesia, khususnya Vikariat Apostolik Semarang pada periode
19440-1949 dan buku-buku lain yang dapat membantu dalam penelitian ini. Teknik yang
digunakan peneliti adalah studi teks yang juga didukung dengan studi pustaka.
Sehingga data-data yang dipergunakan untuk penelitian mengenai Soegijapranata
Mengabdi Gereja dan Negara dalam periode 1940-1949 adalah berupa sumber
tertulis. Sumber-sumber tertulis yang dipergunakan ialah tulisan-tulisan dari para
peneliti lain yang juga pernah meneliti mengenai kehidupan Soegijapranata.
Selain untuk sebagai sumber penulisan, teks-teks tersebut juga digunakan untuk
membandingkan penelitian-penelitian mengenai Soegijapranata yang telah ada
sebelumnya, dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Selain menggunakan
sumber-sumber penulisan dari para peneliti lain, penelitian ini juga menggunakan
majalah yang pernah memuat tulisan mengenai Soegijapranata. Data-data yang
telah berhasil diperoleh kemudian akan dibandingkan sesuai dengan konteks
Zaman di masa itu. Data-data tersebut akan ditelaah dan dibandingkan dengan
data-data lainnya yang berkaitan dengan topik dan tema dalam penelitian ini.
d. Interpretasi
Interpretasi juga sering disebut penafsiran data. Data yang telah diperoleh
dari sumber kemudian diinterpretasi. Terdapat dua macam interpretasi yaitu
analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan). Fakta-fakta yang telah
yang dapat diuji kebenarannya. Dengan demikian intrepretasi data tersebut
menjadi kuat karena berdasarkan data yang relevan.
e. Penulisan Sejarah ( Historiografi)
Penulisan sejarah memiliki tiga bagian penting yang harus diperhatikan
yaitu pengantar, hasil penelitian, dan kesimpulan. Dalam pengantar dijelaskan
latar belakang topik yang diteliti, kemudian dalam hasil penelitian akan dijelaskan
hasil penelitian yang diperoleh oleh penulis dan kesimpulan yaitu melakukan
generalisasi dari bab-bab sebelumnya.
2. Pendekatan Penelitian
Sejarah sebagai ilmu sosial tidak bisa berdiri tanpa bantuan ilmu sosial yang
lain. Maka dari itu sejarah meminjam ilmu sosial yang lain agar penelitian sejarah
lebih jelas. Pendekatan menjadi sangat penting, sebab dari pendekatan yang
mengambil sudut pandang tertentu akan menghasilkan kisah kejadian tertentu.38
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan dua pendekatan, yaitu
pendekatan sosial dan pendekatan politik .
a. Pendekatan Sosial
Pendekatan sosial adalah pendekatan yang mempelajari manusia dalam
hubungannya dengan manusia-manusia lainnya. Selain itu, dapat juga diartikan
sebagai pendekatan yang mempelajari perilaku dan aktivitas sosial dalam
kehidupan bersama. Dalam pendekatan ini akan dilihat kembali keakraban dan
loyalitas Soegijapranata dalam membantu rakyat Indonesia masa pendudukan
Jepang dan revolusi nasional.
38
b. Pendekatan politik
Pendekatan politik merupakan pendekatan yang berorientasi pada
kebijakan-kebijakan politik. Pendekatan politik digunakan untuk melihat
kehidupan politik khususnya masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional di
Indonesia. Pendekatan politik juga digunakan untuk melihat kembali perjuangan
Soegijapranata dalam melawan penjajah masa pendudukan Jepang dan revolusi
nasional sebagai Uskup Indonesia pertama.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan Skripsi yang berjudul “Soegijapranata: Mengabdi Gereja dan
Negara (1940-1949)”, mempunyai sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I Berupa pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, permasalahan,
tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan pustaka, landasan teori,
metodologi penelitian dan pendekatan, serta sistematika penulisan.
Bab II Bab ini menyajikan uraian tentang latar belakang Soegijapranata
mengabdi Gereja dan negara
Bab III Bab ini menyajikan uraian tentang Soegijapranata dalam mengabdi
Gereja .
Bab IV Bab ini menyajikan uraian tentang Soegijapranata dalam mengabdi
negara
Bab V Bab ini menyajikan kesimpulan yang berisi tentang jawaban-jawaban
29 BAB II
LATAR BELAKANG SOEGIJAPRANATA
MENGABDI GEREJA DAN NEGARA
A. Masa Kecil Soegijapranata
Soegijapranata dilahirkan di Surakarta pada tanggal 25 November 1896
sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara dari keluarga Karijosoedarma.
Berhubungan situasi zaman pada waktu itu, angka kematian bayi masih tinggi,
dari sembilan anak tersebut hanya beberapa saja yang selamat. Soegijapranata
termasuk salah satu diantaranya yang selamat.39 Sebagaimana adat kepercayaan
masa itu agar seorang anak dapat selamat dan tumbuh sehat, seorang bayi yang
baru lahir juga menjalani ritus pembuangan di pawuhan.40 Soegijapranata kecil
pun mengalami hal tersebut. Kisah ritus pembuangan bayi semacam itu dengan
maksud agar kelak dapat menjadi anak yang sehat tanpa gangguan apapun.
Kemudian bayi tersebut diberi nama Soegija yang diambil dari
kata“Soegih”dengan harapan agar kelak dia menjadi orang yang kaya akan
kepintaran dan juga kaya akan harta benda. Itulah yang menjadi dambaan dari
kedua orang tuanya. Maklumlah keluarga Karijosoedarma sebagai abdi dalem
Keraton bukan tergolong keluarga yang dapat hidup dengan serba kecukupan,
bahkan untuk menambah penghasilannya ibu Karijosoedarma berjualan stagen
39Muskens Pr, Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jilid 3, Ende-Flores: Arnoldus, 1974, hlm. 886. 40
dan nila.41 Maka wajar bila bayi kecil Soegijapranata diharapkan kelak dapat
menjadi orang yang kaya, tidak seperti orang tuanya yang agak jauh dari
kekayaan.
Sejak kecil Soegijapranata mendapat didikan dari ayahnya dalam bidang
seni tradisional khususnya berkaitan dengan kebijaksanaan hidup lewat kesenian,
seperti lewat tembang.42 Tembang-tembang dilatihkan setiap malam, dengan
membaca buku tembang, mengajarkan berbagai watak kesatria terhormat dan nilai
luhur yang perlu dimiliki oleh seorang pribadi. Berkaitan dengan pembinaan olah
seni, selain tembang sejak kecil Soegija sudah pandai memukul gamelan dan
mempunyai minat besar terhadap kebudayaan Jawa.
Dari pihak ibunya Soegijapranata mendapat pendidikan keluhuran budi
dengan mengatur rasa dan kehendak serta tahu sopan santun. Hal tersebut
diperoleh melalui pengajaran bahasa Jawa dengan penggunaan kaidah-kaidah
yang memperhatikan tingkatan-tingkatan tertentu dari lawan bicara misalnya
dengan teman sebaya, orang yang lebih tua atau lebih tinggi derajat sosialnya.
Ada satu latihan sikap luhur lain yang diajarkan, yakni sikap memegang janji
terhadap perkataan yang diucapkan.43 Pendidikan di dalam keluarga dan
masyarakat inilah yang memperkaya Soegijapranata sebagai seorang pribadi
santun, lincah bergerak, mudah bergaul, sekaligus memiliki kenakalan dan
kekritisan tertentu. Hal tersebut terekam dalam berbagai kesan dari sejumlah
orang.
41
Henrica Moer Yantini CB, Mgr. Albertus Soegijapranata S.J, Ende Flores: Nusa Indah, 1975, hlm. 13.
42Tembang adalah lirik atau sajak yang mempunyai iramanada sehingga dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai lagu. Kata tembang berasal dari bahasa Jawa yaitu tembang.
Pada tahun 1900 keluarga Karijosodarma pindah ke Yogyakarta, dan tinggal
di daerah Wirogunan. Pihak lain yang mempengaruhi pengalaman keagamaan
Soegija adalah seorang sahabat sekolah, sahabat karibnya yang alim. Teman itu
setiap kali mengajarkan bahasa Arab dan menceritakan tentang kisah Nabi kepada
Soegijapranata serta norma-norma hidup sebagai seorang Muslim. Sikap sahabat
itulah yang membangun sikap simpatinya. Pergaulan tersebut sekaligus
membangun suatu benteng dalam menghadapi lingkungan hidup di Yogyakarta
yang kurang mendukung untuk pembentukan pribadi yang kokoh. Saat itu situasi
Yogyakarta pada masa kecil Soegijapranata dapat digambarkan sebagai berikut:
“Di sini (Yogyakarta) murid-murid usianya antara 8-20 tahun. Maka sekalipun duduk di Sekolah Dasar namun percakapan mereka sudah sangat kotor dan tidak pantas didengar. Lebih-lebih karena keadaan di Kota Yoyakarta pada waktu itu memang sangat buruk. Baik dikalangan bangsawan Keraton maupun maupun di kampung-kampung, penghargaan orang terhadap nilai-nilai susila pada umumnya sangat merosot. Terutama di kalangan masyarakat atas pada waktu itu menjadi mode untuk memelihara selir dan pemuda
rupawan.”44
Di samping berkawan dengan teman yang alim, Soegijapranata juga
berkawan dengan teman-teman yang “bandel”. Saat itu pula Soegija telah
merasakan adanya diskriminasi di antara anak muda. Sinyo-sinyo Belanda merasa
kedudukanya lebih tinggi dari pada anak muda pribumi. Tidak jarang kejengkelan
Soegijapranata tercetus dalam bentuk tantangan berkelahi, baik secara sendirian
maupun secara bersama-sama atau “keroyokan”. Bila dalam perkelahian tersebut
kalah, maka Soegijapranaata mencari cara lain untuk memukul lawannya yaitu
dengan menantang main bola karena dalam permainan ini paling sedikit dia masih
44
dapat memukul lawan-lawannya.45 Di Yogyakarta diantara teman-temannya
Soegijapranata terkenal berani, dan tidak ada seorang anakpun yang luput dari
gangguan dan ejekan bila berani mendekati Soegijapranata.
Dalam jalur pendidikan formal, Soegijapranata menempuh Sekolah
Rakyatnya di dua tempat. Disebut Sekolah Rakyat karena berlangsung antara dua
sampai empat tahun.46 Pada tahun 1906 Soegijapranata menempuh pendidikan di
Sekolah Rakyat Ngabean, sebuah sekolah yang berada di dekat rumahnya, suatu
sekolah yang diselenggarakan pada siang hari. Pada tahun 1960 ketika ada
Sekolah Rakyat di Wirogunan yang diselenggarakan pada pagi hari,
Soegijapranata pindah sekolah ketempat baru. Pendidikan di Sekolah Rakyat
tersebut hanya berlangsung sampai kelas tiga. Ketika di Lempuyangan mulai di
buka Hollandsch Inlandsche School (HIS)47 suatu sekolah tingkat pendidikan
dasar, tetapi mulai diperkenalkan penggunaan bahasa Belanda, Soegijapranata
melanjutkan ke sekolah tersebut pada tahun 1907.
B. Soegijapranata Sekolah di Muntilan
Soegijapranata Sejak kecil telah memiliki sifat-sifat yang berani, jujur dan
tabah disamping berbagai bakat yang ditunjang oleh kecerdasan otaknya.48
Namun demikian, tentulah keberanian, kecerdasan, dan bakat-bakat itu perlu
45 Budi Subanar, op., cit. hlm. 25. 46
Ibid., hlm. 26.
47
Hollandsch Inlandsche School disingkat HIS, sekolah yang diselenggarakan terbatas untuk
anak-anak golongan atas pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia. Sekolah ini pertama kali didirikan pada tahun 1914, sebagai hasil reorganisasi Sekolah kelas 1.Tingkat pendidikan yang diberikan kurang lebih setara dengan pendidikan ELS (Europesche Lagere School)tanpa pelajaran bahasa Prancis.Pendidikan berlansung selama tujuh tahun dengan bahasa pengantar utama bahasa Belanda.
untuk dikembangkan sehingga dapat berguna sebagaimana yang diharapkan.
Untuk mengembangkan diri, seseorang memerlukan bimbingan dari orang lain
yang lebih dewasa. Sehubungan dengan itu, Soegjapranata sebagai anak pribumi
mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang tidak mudah
diperoleh di masa penjajahan waktu itu. Pada tahun 1909 Soegijaprantana
bertemu dan berkenalan dengan seorang pastor yang ketika itu sedang mencari
calon murid-murid untuk dididik di sekolah guru yang sedang didirikannya di
Muntiln. Pastor yang dimaksud ialah Frans Van Lith S.J. Perkenalannya dengan
menyebar agama Katolik di Jawa Tengah itu agaknya telah sangat menentukan
perjalanan hidup Soegijapranata dalam mengabdi Gereja dan Negara.
Pada tahun 1909 pendidikan selanjutnya dijalani di Muntilan. Berkaitan
dengan sekolah di Muntilan yang dirintis oleh Romo Van Lith, Soegijapranata
mengalami dua kontak. Kontak pertama, Ketika Soegijapranata sudah berada pada
kelas tertinggi di Sekolah Rakyat Wirogunan, Soegija bertemu dengan Romo Van
Lith yang berkunjung ke sana. Romo Van Lith memang sering pergi mencari
murid untuk sekolah baru yang dirintisnya lewat kunjungan-kunjungan yang
dilakukannya ke berbagai sekolah di daerah Yogyakarta dan di daerah-daerah lain.
Dalam pertemuan itulah Soegijapranata menyatakan keinginannya untuk
melanjutkan sekolah di Muntilan. Kontak kedua dialami Soegijapranata melalui
cerita tentang sekolah tersebut lewat seorang mantan gurunya. Mantan Gurunya
tersebut menceritakan pengalamannya mengajar di Muntilan melalui beberapa
surat yang dikirimkan kepada para muridnya yang berada di Yogyakarta. Di
tentang tingginya mutu yang diajarkan di Muntilan, dan tidak memaksa agama. 49
Kedua hal itulah yang mulai mengesan pada diri Soegijapranata.
Bapak Karijosoedarma menjadi heran waktu mendengar bahwa Putranya
akan masuk sekolah Kristen, tetapi Soegijapranata menanggapi keheranan orang
tuanya dengan menegaskan bahwa meskipun akan bersekolah di sekolah Kristen
tetapi tidak akan menjadi Kristen, Soegijapranata hanya ingin memperoleh
pengetahuan dan agar kelak dapat menjadi guru untuk memajukan bangsanya.
Sikap yang jelas dari Soegijapranata tersebut dengan tegas sekali ditekankan
waktu dia sampai di Muntilan. Dia menghadap Romo J.A.A. Mertens. Rektor
Kolose Muntilan, dan mengatakan bahwa dia tidak mau dipermandikan serta tidak
mau menjadi Katolik, dan bahwa kedatangannya di Muntilan hanya ingin
melanjutkan sekolah untuk menjadi guru. Soegijapranata ingin melanjutkan
sekolah di bawah asuhan romo-romo Belanda. Dan hal itu ia harus hidup terpisah
dari orang tuanya karena sekolahnya di Muntilan, selain itu Soegijapranata harus
menjalani hidup di asrama.
Kedatangan Soegijapranata di Muntilan pada tahun 1909 akan
mengakibatkan perubahan total dalam pribadinya. Di asrama Muntilan,
Soegijapranata termasuk anak yang disegani teman-temannya. Tidak
mengherankan bahwa sejumlah teman seniornya berusaha mengajak
Soegijapranata untuk menjadi Katolik. Pada permulaan tinggal di asrama
Soegijapranata sangat dekat dengan salah seorang Romo yaitu Romo L. Van
Rickjevorsel. Karena kedekatannya itu, Soegijapranata pernah bertanya berapa
49
gaji yang diterima oleh Romo tersebut. Ternyata jawaban yang diterima
menyatakan bahwa Romo tidak menerima gaji. Para romo merasa senang karena
boleh mempersiapkan anak-anak muda untuk kebaikan dan kebahagian masa
depan mereka, Romo tesebut masih menambah “dengan cara demikian berarti ada
dua hal dilakukan, yakni mengabdi kepada sesama sekaligus merupakan
pengabdian kepada Tuhan.”50
Pengakuan Romo tersebut memberikan suatu pengetahuan lain kepada
Soegijapranata sehingga membawa perubahan dalam dirinya, terlebih sikap dan
perlakuan yang baik dari romo-romo staf terhadap Soegijapranata, termasuk
menerima pernyataan Soegija yang tidak bersedia menjadi Katolik. Hal-hal itu
membuat Soegijapranata merasa aman tinggal di Muntilan. Dalam suasana
tersebut, Soegijapranata mulai menemukan suatu yang baik dalam lingkungan
Katolik yang baru saja dikenalnya.
Kekatolikan yang ditanamkan dan menjiwai Soegijapranata serta
kawan-kawanya tidak dipisahkan dari akar kejawaan dan masa remaja yang tengah
dialami mereka. Justru dalam identitas kejawaan, kekatolikan anak-anak itu
diperkembangkan. Sejalan dengan cara pikir anak-anak Jawa yang banyak
diwarnai oleh cerita wayang yang memenuhi fantasi mereka, Romo Van Lith
bercerita tentang kisah-kisah Rama dan Kresna yang menjadi titisan Visnu.
Dengan fantasi mereka, anak-anak diajak mengembara dengan kisah-kisah
tersebut, bahkan diperkaya dengan fantasi dari cerita benua-benua lain. Sungguh,
akar identitas anak-anak diperdalam sekaligus cakrawalanya dibuka dan
50
diperkembangkan lewat kisah-kisah yang diceritakan oleh Romo Van Lith.
Melalui berbagai hal, anak-anak diperkenalkan pada tradisi dan pemikiran
kristiani. Dalam perayaan Ekaristi, anak-anak diajak mengenali, mencecapi, serta
mengakarkan landasan hidup rohani.
Jiwa nasionlisme Soegijapranata tumbuh berkat didikan Romo Van Lith
dan Pater Van Driessche SJ yang menanamkan rasa cinta tanah air dan patriotisme
di tengah situasi penjajahan. Bersama anak-anak asrama yang lain, Soegijapranata
juga diperkembangkan sesuai dengan jiwa remajanya. Dalam jiwa kemudaaan,
mereka sekaligus dilatih untuk sportif dan berani mengakui kesalahan. Romo Van
Lith menciptakan keakraban yang sehat diantara mereka dan menciptakan
suasana agar anak berusaha untuk saling membela diri sehingga dapat
membangun kesadaran sebagai suatu bangsa yang mempunyai harga diri. Pater
van Lith pernah berkata "selagi orang Jawa mau berteriak, mereka masih bisa
ditolong. Namun, jika mereka tutup mulut, hampir tidak ada obatnya, dan kamu
harus waspada."51 Soegijapranata sangat terkesan dengan nasihat perihal
mekanisme penegakan harga diri orang Jawa ini.Semangat yang mendasari
perjuangan Romo Van Lith dalam merintis karya pendidikan bagi kaum pribumi
tampak dihayati, dimiliki dan dijunjung tinggi oleh Soegijapranata serta
kawan-kawannya. Semangat dan nilai luhur yang diperjuangkan oleh Romo Van Lith
antara lain: rasa toleransi, disiplin pribadi, kejujuran, kesederhanaan, pengabdian
tanpa pamrih, nasionalisme, dan sebagainya. Dalam mendidik para murid,Romo
Van Lith menekankan pentingnya memperjuangkan martabat manusia yang di
51
dalamnya termasuk memperjuangkan kesejajaran antar manusia serta
membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan.
Berbagai kegiatan diikuti Soegijapranata dan kawan-kawannya. Pada pagi
hari ia mengikuti kegiatan belajar di kelas, sore hari ia berkebun dan melakukan
kegiatan seni serta kegiatan lain, malam hari, ia masih melanjutkan kegiatan
belajar dan semuanya berjalan seimbang. Setelah sekian waktu berada di asrama,
suatu saat Soegijapranata menyatakan keinginannya untuk mengikuti pelajaran
agama Katolik. Hal tersebut diungkapkan kepada Romo Mertens selaku pimpinan
asrama Muntilan. Romo Mertens tidak segera mengiyakan keinginan
Soegijapranata, namun untuk mengikuti pelajaran agama Katolik perlu izin dari
orang tua.Alasan Soegijapranata untuk mengikuti pelajaran agama Katolik adalah
karena merupakan bagian dari pembentukan yang ditawarkan Kolese Xaverius.
Alasan itulah yang membuat Romo pimpinan mengizinkan Soegijapranata
bergabung bersama teman-teman Katolik mengikuti pelajaran agama.
Tiga bulan setelah mengikuti pelajaran agama, Soegijapranata menemui lagi
Romo pimpinan asrama. Kali itu Soegijapranata mengungkapkan permintaan
supaya ia diperbolehkan menerima babtisan. Sebuah jawaban seperti sebelumnya
diperoleh Soegijapranata dari Romo rektor Kolese bahwa untuk itu Soegijapranata
perlu mendapatkan izin dari orang tua. Lalu Soegijapranata mengusahakannya,
akan tetapi orang tuanya tidak mengizinkan keinginan Soegijapranata. Suatu
keinginan yang muncul dari dalam diri dan larangan dari orang tua menjadi bahan
permenungannya. Pada hal Romo rektor juga menghendaki adanya izin orang tua.