• Tidak ada hasil yang ditemukan

Soegijapranata : mengabdi gereja dan negara 1940-1949.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Soegijapranata : mengabdi gereja dan negara 1940-1949."

Copied!
148
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

SOEGIJAPRANATA :

MENGABDI GEREJA DAN NEGARA

1940-1949

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Sejarah

Oleh:

YULITA HETY SUJAYA

NIM: 111314018

P R O G R A M S T U D I P E N D I D I K A N S E J A R A H

J U R U S A N P E N D I D I K A N I L M U P E N G E T A H U A N S O S I A L

F A K U L T A S K E G U R U A N D A N I L M U P E N D I D I K A N

U N I V E R S I T A S S A N A T A D H A R M A

Y O G Y A K A R T A

(4)
(5)
(6)
(7)

v MOTTO

 Jika tangan tidak menggerakkan tongkat, tongkat tidak akan

menggerakkan apa pun (Thomas Aquinas)

“Cogito ergo sum” Saya berpikir, maka saya ada (Rene Descartes)

 Ketika kita berpikir, kita sudah berbuat, Tuhan benar-benar berbuat

(8)
(9)
(10)

viii

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tiga permasalahan pokok, yaitu: (1) latar belakang Soegijapranata mengabdi Gereja dan negara; (2) prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi Gereja; (3) prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi negara.

Penelitian ini disusun berdasarkan metode penelitian historis faktual dengan tahapan: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verfikasi, interpretasi, dan historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosial dan pendekatan politik dengan model penulisannya bersifat deskriptif analitis.

(11)
(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasihNya

yang melimpah kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Soegijapranata Mengabdi Gereja dan Negara 1940-1949”. Skripsi ini

disusun untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Pendidikan di

Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan

Ilmu Pendidikan Sosial, Program Pendidikan Sejarah.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan

dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan

ucapan terimakasih kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

2. Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma yang

memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,

3. Dr. Anton Haryono, M. Hum selaku dosen pembimbing yang telah sabar

membimbing, membantu, dan memberikan banyak pengarahan, saran serta

masukan selama penyusunan skripsi.

4. Drs. B. Musidi, M. Pd. Selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah

membimbing, membantu, dan memberikan banyak pengarahan kepada

(13)

xi

5. Seluruh dosen dan sekretariat program studi pendidikan sejarah yang telah

memberikan dukungan dan bantuan selama penulis menyelesaikan studi di

Universitas Sanata Dharma.

6. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Walterius Jema’un dan Ibu Maria

Dilut yang telah menghabiskan banyak biaya dan tenaga untuk

mendukung saya dalam menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.

7. Kakak Melania Anita Jelita, Hendikus Masur, Coriana Sumarni, dan Willy

Brodus Harum yang telah memberikan banyak batuan baik berupa

material maupun moril sepanjang saya mengenyam pendidikan di priodi

Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma.

8. Bapak Jeremias Lemek S.H. dan Bapak Ben Galus S.H yang telah

memberikan bantuan baik berupa material maupun moril sehingga penulis

dapat menyelesaikan studi di Univesitas Sanata Dharma.

9. Sahabat-sahabat saya, Suci Budiati, Ening Mawarniati, Veronika, Nona

Grace, Bernadeta Yulia, Marlinda Dwi Ratnani, Ririn Nabiada, Erin

Tamatur, Deslin Tokan, Meta Rambung, Yati Darma, Risman Salo,

Primaden, Ema, dan Mbak Marta yang telah memberikan dukungan,

bantuan, serta inspirasi dalam menyelesaikan skripsi.

10.Teman-teman Alumni SMA Fransiskus Xaverius Ruteng, Atno, Deni, Van

Apri, Rivan yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam

(14)
(15)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penulisan ... 7

D. Manfaat Penulisan ... 8

E. Tinjuan Kepustakaan ... 9

F. Landasan Teori ... 12

G. Metodologi Penelitian dan Pendekatan ... 24

(16)

xiv

BAB II LATAR BELAKANG SOEGIJAPRANATA MENGABDI

GEREJA DAN NEGARA

A. Masa Kecil Soegijapranata ... 29

B. Soegijapranata Sekolah di Muntilan ... 32

C. Soegijapranata Masuk Serikat Jesuit ... 39

D. Soegijapranata Menjadi Imam ... 44

E. Soegijapranat Sebagai Vikaris Apostolik Semarang ... 46

BAB III SOEGIJAPRANATA MENGABDI GEREJA A. Mengatasi Persoalan-Persoalan Gereja ... 50

1. Berdiplomasi dengan Pihak Penguasa Jepang ... 51

2. Menetapkan Penggunaan Bahasa Latin dan Bahasa Indonesia ... 54

3. Mempertahakan Fasilitas Misi ... 55

4. Penguatan Kebutuhan Jasmani dan Rohani Para Misionaris di Kamp Internir ... 58

5. Memperbaiki Keuangan Misi ... 61

6. Mempertahankan Posisi Gereja ... 64

B.Tugas Penggembalaan ... 66

1. Pelayanan Sakramental ... 66

2. Memberikan Katakese ... 68

3. Mendidik Calon Imam ... 69

4. Memberikan Bimbingan bagi Keluarga Katolik ... 71

5. Membina Organisasi atau Perkumpulan ... 73

C.Pembinaan Imam Bumiputra ... 74

BAB IV SOEGIJAPRANATA MENGABDI NEGARA A. Terlibat dalam Revolusi Nasional ... 80

B. Menolong Rakyat Miskin ... 89

(17)

xv

BAB V KESIMPULAN ... 101

DAFTAR PUSTAKA ... 104

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Kemunculan seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya tidak

terjadi begitu saja. Untuk itu, diperlukan berbagai persyaratan yang seharusnya

terdapat di dalam diri seseorang yang akan menjadi pemimpin, antara lain ialah

kejujuran dan keberanian moral. Hal itu berkaitan dengan berbagai hal lain,

seperti kesungguhan yang meyakinkan, kesadaran yang dalam atas prinsip,

keterusterangan dan tekad. Juga tidaklah dapat dilupakan bahwa seorang

pemimpin seharusnya seseorang yang cerdas, yang mampu memperhitungkan

berbagai kejadiaan yang sedang dihadapi dengan kecerdasan itu.

Keterangan di atas dimaksudkan untuk mengawali uraian-uraian selanjutnya

yang berkaitan dengan biografi seorang pahlawan nasional, Soegijapranata, yang

sekaligus adalah putra Indonesia pertama yang diangkat oleh Paus, pemimpin

tertinggi Gereja Katolik Roma, sebagai Vikaris Apostolik,1 dengan gelar Uskup.

Pengangkatannya terjadi pada tahun 1940 dan dimaksudkan untuk memimpin

sebuah Vikariat Apostolik baru, yakni Vikariat Apostolik Semarang, pecahan dari

1Vikariat Apostolik adalah bentuk otoritas untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang

(19)

Vikariat Apostolik Batavia.2 Penunjukan ini terkesan sangat istimewa karena

bukan saja Soegijapranata seorang pribumi pertama yang diangkat sebagai Uskup

tetapi juga seorang nasionalis tulen. Hal inilah dalam perjalanannya kemudian,

Soegijapranata banyak mewarnai perjalanan Gereja Katolik di Indonesia,

mempunyai pijakan yang jelas dalam kehidupan sosial politik berbangsa dan

bernegara.

Pada tahun 1940, Indonesia masih berada di bawah kolonialisme Belanda.

Unsur-unsur Belanda (Eropa) pada Gereja Katolik yang telah terbangun masih

kuat. Akan tetapi, pada waktu itu Paus mempercayakan kepemimpinan Vikariat

Apostolik baru itu justru kepada putera asli Indonesia, bukan kepada salah

seorang misionaris Belanda seniornya yang telah turut memformasi dirinya.

Selaku Uskup baru, Soegijapranata kala itu tidak hanya bertugas

menggembalakan umat Katolik pribumi, tetapi juga orang-orang Katolik

kebangsaan Eropa yang tinggal di Vikariat Apostolik Semarang.

Peristiwa tahun 1940 semakin monumental bila diingat bahwa dulu

Soegijapranata kecil dikirim oleh orang tuanya ke Kolose Xaverius Muntilan

semata-mata untuk sekolah, bukan untuk menjadi orang Katolik. Karena tidak

ingin menjadi Katolik, tentu pada masa-masa awal di Muntilan tidak terlintas di

benak pikirannya untuk menjadi imam/biarawan Katolik. Akan tetapi, sejarah

yang sarat dengan interaksi sosial dan kultural yang sedemikian dinamis

menentukan lain. Soegijapranata tidak hanya berhasil menyelesaikan sekolah

yang diimpikannya, tetapi lebih dari itu, ia menemukan jalan hidup baru. Pada

2

(20)

jalan baru ini pun Soegijapranata tidak hanya menemukan agama baru, menjadi

orang Katolik, tetapi juga terpanggil untuk masuk/bergabung dalam suatu

komunitas biara, menjadi biarawan Yesuit, dan berhasil menjalani tahbisan

imamat pada tahun 1931. Hanya selang Sembilan tahun dari saat tahbisan

imamatnya, Soegijapranata telah dipercaya oleh Paus untuk memimpin sebuah

Vikariat (keuskupan) baru.3

Sebagai imam Katolik, dan kemudian menjadi Uskup, tugas utama

Soegijapranata adalah menggembalakan umat Katolik. Meskipun demikian, dalam

lintasan sejarahnya kiprah kekaryaan Soegijapranata tidak hanya berdimensi

kegerejaan (kekatolikan) tetapi juga sarat dengan dimensi kebangsaan

(keindonesiaan). Dimensi kebangsaan ini sudah tampak ketika ia memutuskan

menjadi imam. Konon, ia tidak menemukan profesi lain yang lebih

memungkinkan bagi dirinya untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk

mengabdi bangsa Indonesia selain menjadi imam.4

Dimensi kebangsaan Soegijapranata ini tidak pernah kendur dan terus

menguat. Hal ini antara lain tampak pada keterlibatannya dalam mengembangkan

majalah Katolik berbahasa Jawa, Swaratama, yang tidak pernah berhenti

menyuarakan aspirasi-aspirasi kebangsaan, dan intruksinya pada awal

kemerdekaan kepada umat Katolik Jawa (Indonesia) gembalaannya untuk terlibat

aktif dalam revolusi nasional, yang secara simbolik ia sendiri berusaha

3

Budi Subanar, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2012, hlm. 2.

4

(21)

mewujudkan dengan memindahkan kantor kevikariatannya dari Semarang ke

Yogyakarta seiring dengan kepindahan pemerintah RI ke kota perjuangan itu.5

Bagi Soegijapranata, kekatolikan harus diwujud nyatakan dalam kehidupan

sehari-hari dalam suatu interaksi kebangsaan. Orang Katolik Indonesia harus

berguna tidak hanya bagi Gerejanya, tetapi juga bagi bangsa dan negaranya.

Bahkan, orang Katolik baru berguna bagi Gerejanya bila berguna bagi bangsa dan

negaranya. Mereka harus memiliki keberanian yang tangguh untuk turut mengisi

kemerdekaan yang telah berhasil diperjuangkan oleh bangsa Indonesia.

Terutama bagi umat Katolik, nama Soegijapranata bukan sekedar nama

yang tidak asing, tetapi nama besar yang senantiasa dikenang karena keteguhan

dan konsistensi prakarsanya dalam mengintegrasikan praktik kekatolikan dengan

paham kebangsaan yang harus dijalani/dihidupi oleh umat Katolik Indonesia.6

Sebagaimana diketahui, Soegijapranata telah diangkat oleh Presiden sebagai

salah seorang pahlawan nasional. Hal itu merupakan perwujudan dari pengakuan

akan "ada dan besarnya" jasa beliau kepada bangsa Indonesia selama hidupnya.

Pengakuan atas jasa-jasa yang seperti diperoleh Soegijapranta merupakan

kebiasaan dengan melalui penyaringan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan

yang telah ditetapkan oleh pemerintah.7 Dengan demikian penghargaan semacam

itu tidaklah diberikan kepada setiap pemimpin dan atau kepada setiap orang besar.

Tidak semua pemimpin mampu memenuhi persyaratan-persyaratan yang

ditentukan. Pribadi Soegijapranata cukup dapat memancing perhatian karena

liku-liku hidupnya memang menarik. Kegiatannya sejak memasuki sekolah guru di

5Ibid., hlm. 2-3. 6Ibid., hlm. 3-4. 7

(22)

bawah bimbingan pastor F. Van Lith, S.J. sudah menunjukkan keuletannya tetapi

sekaligus juga keterbukaan dan keterusterangan di dalam mengemukakan

pandangan. Juga setelah menduduki bangku pendidikan imam (pastor) dalam

Gereja Katolik, Ia menunjukkan minatnya yang sangat besar, tidak hanya yang

menyangkut pada agama Katolik yang dianutnya akan tetapi juga masalah

pendidikan, budaya, dan seni.

Dalam pandangan Soegijapranata, nasionalisme bukanlah melulu suatu

kesadaran berbangsa, bukan pula ideologi yang menanamkan cinta tanah air

belaka, tetapi di dalam nasionalisme terdapat pula nilai-nilai transendental dan

keterarahan pada hidup abadi. Sikap rendah hati, serta pengakuan penuh syukur

dan hormat terhadap tatanan manusiawi dan adikodrati ataupun terhadap keadaan

dimana penyelenggara ilahi telah melengkapi manusia dengan cakrawala akan

hidup abadi merupakan bagian integral dari nasionalisme.8

Soegijapranata merupakan salah satu contoh pribadi yang mampu

mengintegrasikan hidup menggereja dan bernegara dalam dirinya. Sebagai

pemimpin Gereja, Soegijapranata berkewajiban menjaga dan membela segala

kepentingan Gereja Katolik Indonesia ditengah situasi yang membatasi gerak

agama Katolik di Indonesia pada masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional.

Sebagai warga negara, Ia juga berperan serta dalam usaha perjuangan Indonesia.

Usaha dan semangat Soegijapranata menginspirasi banyak pihak untuk berperan

aktif dalam hidup berbangsa dan bernegara kini.

(23)

Usaha-usaha Soegijapranata juga menginspirasi penulis, sebagai mahasiswa

pendidikan sejarah sekaligus sebagai calon guru sejarah, untuk melihat kembali

apa yang melatarbelakangi munculnya semangat kebangsaan itu di dalam diri

Soegijapranata. Semangat dan pemikirannya menjadi sumber inspirasi dalam

kehidupan berbangsa dan bernegara. Jiwanya selalu hidup diantara kita dan

mampu menciptakan sosok pemimpin yang tegas, adil, jujur dan selalu

menjunjung pluralitas. Penulis berusaha melihat usaha Soegijapranata dalam

membangun Gereja Katolik Indonesia dan mengabdi Indonesia pada masa

kepemimpinannya sebagai vikaris apostolik dimasa pendudukan Jepang dan

revolusi nasional.

B. Rumusan Masalah

Dalam penulisan skripsi yang akan mengambil skup temporal

1940-1949,penulis akan memfokuskan pada tiga permasalahan:

1. Bagaimana latar belakang Soegijapranata mengabdi Gereja dan negara?

2. Bagaimana prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi

Gereja?

3. Bagaimana prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi

negara?

Pada permasalahan pertama akan dibahas antara lain tentang

Soegijapranata: Masa Kecil hingga menjadi Vikaris Apostolik Semarang.

Pada permasalahan kedua akan dibahas antara lain: Mengatasi

(24)

Pembahasan tentang Mengatasi persoalan-persoalan Gereja meliputi:

Berdiplomasi dengan pihak penguasa Jepang, menetapkan penggunaan bahasa

Latin dan bahasa Indonesia, mempertahankan fasilitas misi, pembebasan

misionaris dari kam internir, memperbaiki keuangan misi, mempertahankan posisi

Gereja. Pembahasan tentang tugas penggembalaan meliputi: Pelayanan

Sakramental, memberikan katakese, mendidik calon imam, memberikan

bimbingan bagi keluarga Katolik, membina organisasi atau perkumpulan.

Pembahasan tentang pembinaan imam bumiputra.

Pada permasalahan ketiga akan dibahas antara lain: Terlibat dalam revolusi

nasional, menolong rakyat miskin, menginspirasi orang Katolik.

Yang dimaksud Gereja pada permasalahan di atas adalah Gereja Katolik di

Indonesia khususnya Vikariat Apostolik Semarang. Sementara itu negara yang di

maksud adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan masalah yang dikemukan maka tujuan yang hendak dicapai

dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1.Mendeskripsikan latar belakang Soegijapranata mengabdi gereja dan negara.

2.Mengidentifikasi prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi

gereja.

3.Mengidentifikasi prakarsa dan langkah-langkah Soegijapranata mengabdi

(25)

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi penulis

a. Penulisan ini bermanfaat sebagai bekal calon guru sejarah.

b. Menambah wawasan penulis untuk mengetahui sejarah perjuangan

Soegijapranata sebagai Uskup pribumi pertama Indonesia sekaligus pahlawan

nasional.

c. Dapat meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Kiranya penulisan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber refrensi bagi para

mahasiswa. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk contoh dalam penulisan

skripsi bagi mahasiswa berikutnya.

3. Bagi masyarakat umum

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi baru kepada

masyarakat tentang perjuangan Soegijapranata selama masa penjajahan Jepang

dan revolusi nasional. Selain itu masyarakat dapat mengetahui bagaimana

semangat Soegijapranata yang menjadi panutan bagi Gereja dan Negara di

(26)

E. Tinjauan Pustaka

Penelitian ini disusun dengan menggunakan sumber buku. Buku-buku

pokok yang menunjang dalam penulisan skripsi ini antara lain:

Buku karya G. Budi Subanar SJ yang berjudul: Soegija, Si Anak Betlehem

Van Java9, Kilasan Kisah Soegijapranata10, Menuju Gereja Mandiri Sejarah

Keuskupan Agung Semarang Di bawah Dua Uskup (1940-1981)11, Soegija

Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusian12. Buku Soegija, Si Anak Betlehem

Van Java menceritakan tentang perjalanan Soegijapranata dari masa kanak-kanak

hingga berperan sebagai Vikaris Apostolik Semarang. Soegijapranata menemukan

inti terdalam dari identitas dirinya sebagai orang Jawa yang mengalami

perjumpaan dengan kekristenan yang kemudian mewujudkan cita-citanya sebagai

imam untuk dapat mengabdi kepada bangsanya dan kepada Tuhan. Identitas itulah

yang menjadi fondasi dasar bagi proses perjalanan hidup seterusnya. Buku ini,

tidak hanya menampilkan surat dan tulisan Mgr. Soegijapranata, namun juga

perjalanan hidupnya.

Buku Kilasan Kisah Soegijapranata berisi tentang kiprah kekaryaan

Soegijapranata yang sarat dengan dimensi kebangsaan (keindonesiaan), tidak

hanya berdimensi kegerejaan (kekatolikan). Menurut buku ini, dimensi

kebangsaan sudah tampak ketika ia memutuskan untuk menjadi imam.Konon, ia

9

Budi Subanar, Soegija Si Anak Betlehem Van Java, Yogyakarta: Kanisius 2013.

10

Budi Subanar, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2012.

11

Budi Subanar, Menuju Gereja Mandiri Sejarah Keuskupan Agung Semarang di bawah Dua

Uskup ( 1940-1981),Yogyakarata: Universitas Sanata Dharma, 2005.

12

(27)

tidak menemukan profesi lain yang lebih memungkinkan bagi dirinya untuk

memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk mengabdi bangsa.

Buku Menuju Gereja Mandiri Sejarah Keuskupan Agung Semarang Di

bawah Dua Uskup (1940-1981) berisi tentang situasi sosial budaya masyarakat

dan Gereja di Vikariat Apostolik Semarang pada masa pendudukan Jepang dan

revolusi nasional. Dalam buku ini juga dibahas tentang keterlibatan

Soegijapranata dalam mengatasi masalah di Vikariatnya pada masa pendudukan

Jepang serta peran beliau dalam revolusi nasional. Selain itu, buku ini juga

menceritakan Soegijapranata aktif dalam tugas penggembalaan seperti pelayanan

sakramen, katekese, pendidikan keluarga, dan organisasi atau perkumpulan.

Selain itu, buku yang berjudul Soegija Catatan Harian Seorang Pejuang

Kemanusian berisi tentang berbagai kegiatan pemerintahan gerejawi dalam

pengungsian diYogyakarta. Terdapat sejumlah peristiwa menarik di dalamnya

antara lain:

a. Soegijapranata yang mengucapkan pidato gencatan senjata setelah pesawat

Indonesia ditembak jatuh Belanda di Maguwo, 27 Juli 1947, sehingga

menewaskan Adisucipto dan Abdulrahman Saleh, dua pahlawan nasional dari

Angkatan Udara.

b. Soegijapranata yang mencatat secara detail suasana 19 Desember 1948, saat

Belanda menyerbu Yogyakarta yang pada waktu itu merupakan pusat

(28)

c. Kumpulan surat-surat kegembalaan Soegijapranata dari tahun-ketahun,

naskah-naskah pidato Soegijapranata yang disampaikan di dalam berbagai

kesempatan.

d. Menjelaskan sejumlah hal, antara lain sejarah asal mula ungkapan

Soegijapranata “100% Katolik dan 100% Indonesia”, hubungan

Soegijapranata dengan Presiden Soekarno, hubungan Soegijapranata, dengan

Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta berbagai hubungan lain: dengan kaum

awam, dengan anggota-anggota religius.

Buku Karangan Anhar Goggong yang berjudul Mgr. Albertus

Soegijapranata, SJ. Antara Gereja dan Negara13 berisi tentang kepribadian

Soegijapranata, memberikan latar belakang historis yang terjadi di sekitar masa

episkopat Soegijapranta, baik di dalam kerangka sejarah pergerakan Indonesia,

maupun dalam sejarah dunia secara mondial terlebih-lebih masa Perang Dunia

dan Perang Pasifik di Asia. Selin itu, Buku ini juga menceritakan rintangan yang

dialami Soegijapranata, baik rintangan yang bersumber dari dalam diri sendiri

maupun dari luar pada masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional.

Buku lain yang mirip dengan kisah pribadi Soegijapranata dari kecil hingga

dewasa adalah karya F.X Heryatno Wono Wulung SJ yang berjudul Rohani,

Menyongsong Tahun Vatikan14. Buku ini juga membahas tentang perjuangan

Soegijapranata dalam membela rakyat miskin dan menderita serta keterlibatan

Gereja di tengah hidup masyarakat, dan bagimana Gereja dapat ambil bagian

secara nyata di dalam meningkatkan kesejateraan umum.

13

AnharGonggong, MGR AlbertusSoegijapranata, Jakarta: PT Grasindo, 1943.

14

(29)

Buku karya Sr. Henricia Moeryantini, CB yang berjudul: Mgr. Albertus

Soegijapranata SJ15 menjelaskan kaitan antara Soegijapranata dengan pembinaan

hidup keagamaan umat seperti pembinaan klerus dan kehidupan membiara

pribumi, pembinaan rohani umat di Vikariatnya. Di dalam buku ini juga

diceritakan tentang Soegijapranata dengan kehidupan sosial, ekonomi, seperti

pembinaan ekonomi organisasi-organisasi sosial serta menyadarkan masyarakat

mengenai hakekat manusia sebagai makhluk sosial, mengatasi beberapa

persoalan khusus dalam kehidupan ekonomi keluarga atau ekonomi rumah tangga,

Selain itu, buku ini juga menceritakan tentang usaha Soegijapranata dalam

menanggapi persoalan pendidikan, serta kaitan antara Soegijapranata dengan

politik .

F. Landasan Teori

1. Gereja

Yang dimaksud Gereja pada landasan teori ini adalah Gereja Katolik.

Kata “Gereja” berasal dari kata Portugis igreya, yang jika mengingat akan cara

pemakaiannya sekarang ini, adalah terjemahan dari kata Yunani kyriake, yang

berarti menjadi milik Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan milik Tuhan adalah

orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Jadi

yang dimaksud dengan Gereja adalah persekutuan para orang beriman.16

Yang dimaksud dengan Gereja sebagai persekutuan adalah Gereja

orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis (Umat Beriman Kristiani).

15

Henrica Moer Yantini CB, Mgr. Albertus Soegijapranata S.J, Ende Flores: Nusa Indah, 1975.

16

(30)

Sementara itu, persekutuan dapat diartikan sebagai sebuah situasi akrab dan

bersahabat dalam sebuah ikatan tertentu. Jadi, Gereja sebagai persekutuan artinya

orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis yang terikat dan

berinteraksi satu sama lain dalam ikatan kasih Kristus.

Di dalam Perjanjian Baru kata yang dipakai untuk menyebutkan

persekutuan para orang beriman adalah ekklesia, yang berarti rapat atau

perkumpulan yang terdiri dari orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul.

Mereka berkumpul karena dipanggil atau dikumpulkan. Yang disebut anak Allah

pertama-tama adalah seluruh persekutuan orang beriman.17 Jadi sebagai

persekutuan orang beriman Gereja hadir di dunia ini bukan untuk dirinya sendiri

melainkan untuk dunia. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan

orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita,

merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dari murid-murid

Yesus (Gereja). Singkatnya, Gereja hendaknya menjadi sakramen keselamatan

bagi dunia. Berikut ini akan dijelaskan mengenai Gereja Katolik dan perananan

Gereja dalam Gerakan pembebasan.

a. Gereja Katolik

Katolik berarti universal, seperti Allah juga universal. Katolik berarti:

Mengakui dan menghargai seluruh umat manusia sebagai ciptaan Allah, yang

terpanggil kepada kehidupan abadi bersama Allah, sesudah kebangkitan.18 Dalam

Konsili Vatikan II Gereja tidak lagi memusatkan sebagai kelompok manusia yang

terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen Roh Kristus. Gereja berarti

17 Komisi Kateketik KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus,Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 172. 18

(31)

bahwa pengaruh dan daya pengudus Roh tidak terbatas pada para anggota Gereja

Katolik saja, melainkan juga terarah kepada seluruh umat manusia di dunia.

Dengan sifat Katolik dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi

keterbatasannya sendiri karena Roh yang berkarya di dalamnya. Gereja Katolik

terbuka untuk semua orang, Gereja mampu mengatasi keterbatasannya untuk

berkiprah ke segala penjuru dunia dan ajaranNya dapat diwartakan di mana-mana

sejauh itu baik dan luhur. Dengan kata lain, rahmat itu terbuka bagi siapa saja

yang mau menerimanya.

Gereja sebagai persekutuan umat mempunyai struktur kepemimpinan

(Hirarki)19. Untuk menggembalakan dan mengembangkan umat Allah, Kristus

Tuhan dan GerejaNya mengadakan aneka pelayanan yang tujuannya demi

kesejahteraan seluruh umat Allah. Gereja terdiri dari hirarki dan awam, hirarki

memimpin dengan kekuasaan religius absolut dan awam adalah rakyat yang harus

taat secara absolut pula. Ini semua sudah seharusnya begitu, dan dibina dalam

suatu spiritualitas penuh askese. Segalanya demi keselamatan jiwa di dunia dan

akhirat. Namun dengan idealisme yang menyala-nyala, hirarki telah mendorong

pula umat dan awamnya untuk berkarya dan berkorban bagi Gereja di dalam

negerinya maupun di luar negeri, di seluruh dunia. Kepemimpinan dalam Gereja

Katolik pada dasarnya diserahkan kepada hirarki yang berasal dari Kristus sendiri.

Menurut ajaran resmi Gereja mengajarkan bahwa atas penetapan Ilahi, para Uskup

menggantikan para rasul sebagai penggembala Gereja. Kepada mereka itu para

19

(32)

Rasul berpesan, agar mereka menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus

mengangkat mereka untuk menggembalakan jemaat Allah. Para pengganti mereka

yakni para Uskup dikehendakiNya menjadi gembala dalam GerejaNya hingga

akhir zaman.20 Dengan demikian, dasar dari kepemimpinan dalam Gereja adalah

berasal dari kehendak Tuhan. Dalam kedudukannya, Uskup sering disebut sebagai

pengganti dari para rasul Kristus. Setiap Uskup, karena tahbisannya, dengan

sendirinya menjadi bagian dari jajaran para Uskup se-dunia di bawah pimpinan

Sri Paus dan bertanggungjawab atas seluruh Gereja Katolik (Paroki) yang berada

di dalam wilayah Keuskupan-nya. Dalam Gereja, kedudukan Uskup bersifat

seumur hidup dan diangkat oleh Tahta Suci di Vatikan, Roma. Gereja

memberikan gelar Monsigneur kepada seseorang yang secara sah diangkat

menjadi Uskup . Tugas pokok Uskup adalah mempersatukan dan mempertemukan

umat. Tugas pemersatu itu dibagi menjadi tiga yakni: tugas pewartaan, perayaan

dan pelayanan. Tugas utama para Uskup adalah pewartaan Injil. Uskup yaitu

memimpin umat dalam kalangan pastoral keuskupan.

b. Perananan Gereja dalam Gerakan Pembebasan

Di dunia, ternyata bukan hanya Gereja yang dipakai Allah untuk

melaksanakan misi pembebasan dalam rangka Misi Eksodus. Gereja harus

menyadari dan mau mengakui munculnya gerakan-gerakan pembebasan yang

sedang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat yang miskin dan

tertindas, serta gerakan yang sedang memperjuangkan kemerdekaan kebangsaan

pada zaman pascakolonialisme ini. Sikap Gereja terhadap gerakan pembebasan ini

20

(33)

sering kali tidak jelas. Kecenderungan yang terjadi adalah sikap yang memandang

gerakan-gerakan berada di luar “ Jalur” misi Gereja, atau paling tidak mendukung

secara moral saja. Sikap yang tegas dan jelas dengan melibatkan diri merupakan

sikap baru yang tidak mudah diterima di dalam Gereja itu sendiri. 21

Keterlibatan Gereja dalam gerakan pembebasan tidak berarti Gereja

menerima semua yang dilakukan atas nama pembebasan dan kemerdekaan.

Banyak gerakan pembebasan mengandung benih-benih korupsi dan kehilangan

idealisme yang mulia. Tidak ada gerakan pembebasan yang murni secara absolut.

Gereja bertugas untuk memperlihatkan intervensi Allah sebagai sesuatu yang

esensial dalam gerakan pembebasan.22 Seperti dinyatakan dalam hasil Konsili

Vatikan II (1962-1965) luar biasa. Gereja bukan saja memperoleh penyegaran

jasmani, tetapi pula penyegaran/peremajaan rohani, spiritual, mental dan daya

gerak. Gereja hadir di dunia, hidup bersamanya dan bertindak di dalamnya. Dalam

hal politik dan kekuasaan, Konsili dengan jelas menyatakan bahwa Gereja dan

negara bukan lagi merupakan dua pusat kekuasaan yang terpisah, tetapi dua

organisme yang otonom dalam bidang masing- masing. Pelayanan itu harus

efektif dijalankan oleh keduanya demi kesejateraan umum.

Pembebasan tanpa Allah merupakan gerakan yang buta dan kliru dalam

menghalalkan cara-cara untuk mencapai tujuan. Para pemimpin pembebasan juga

mudah terjebak dalam pemulian diri sendiri dan bukan lagi mengabdi kepada

rakyat. Dalam kerangka seperti inilah, Gereja terlibat dan bahkan juga memahami

serta mendukung revolusi kemerdekaan suatu bangsa. Gereja yang semula amat

21

Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner (Dalam Konteks indonesia), Yogyakarta:Kanisius, 1996, hlm. 141-142.

(34)

dipengaruhi oleh iklim penjajahan selama beratus-ratus tahun itu, perlahan-lahan

berkembang menjadi Gereja lokal yang banyak diwarnai ciri-ciri khas bangsa

Indonesia, sambil bahu-membahu dengan golongan masyarakat lainnya berusaha

membangun bangsa baru yang bermartabat. John Titaley dengan tegas

menyatakan bahwa kemerdekaan bangsa ini (Indonesia) adalah anugerah Allah

yang harus dipertahankan dan diperjuangkan oleh Gereja sebagai bagian dari

bangsa Indonesia.23 Oleh karena itu, Gereja Indonesia terlibat dalam Misi Eksodus

dengan ikut serta secara sungguh-sungguh memelihara kemerdekaan bangsa yang

secara formal sudah merdeka, bebas dari penjajahan mengalami juga

kemerdekaan dalam berbagai aspek kehidupan bersama, keadilan, perdamaian,

dan pemanusian. Sikap Gereja dalam pembangunan nasional yang sudah pernah

dirumuskan DGI atau PGI dengan empat istilah, yaitu positif, kreatif, kritis, dan

realistis perlu dikembangkan menjadi keterlibatan untuk bersama-sama golongan

lain sebagai kesatuan bangsa dalam menanggulangi kemiskinan, menyuarakan

kebenaran dan keadilan, serta membela mereka yang tergusur dalam arus

modernisasi dan pembangunan.

2. Negara

Negara adalah suatu organisasi kekuasaan, dan organisasi itu merupakan

tata kerja dari pada alat perlengkapan negara yang merupakan suatu keutuhan,

tata kerja mana melukiskan hubungan serta pembagian tugas dan kewajiban antara

(35)

masing-masing alat perlengkapan negara itu untuk mencapai suatu tujuan yang

tertentu.24

Sifat hakikat negara sebagai organisasi kekuasaan, menurut Kranenburg dan

logeman adalah suatu pemahaman bahwa kekuasaan negara merupakan kekuasaan

yang di organisasikan oleh sekelompok orang sebagai bangsa.25 Pergorganisasian

kekuasaan yang dilakukan secara sadar untuk mencapai maksud dan tujuan

tertentu. Ada berbagai macam tujuan yang hendak dicapai seperti untuk

memelihara ketertiban dan keamanan, menolak pihak-pihak lain yang bertujuan

untuk berkuasa dan sebagainya.

Apa yang dikemukan oleh Kranenburg dan logeman selaras dengan

pendapat Hood Philips, Paul Jackson, dan Patricia Leopold, yang mengatakan

bahwa negara adalah masyarakat politik merdeka yang menduduki suatu wilayah

tertentu yang anggotanya bergabung bersama untuk tujuan menolak kekuatan luar

dan untuk pemeliharaan ketertiban internal.26

Sesuai dengan pendapat di atas, pengorganisasian kekuasaan oleh

sekelompok orang yang disebut bangsa secara jelas dimaksudkan untuk mencapai

tujuan dan kepentingan bersama seperti antara lain disebutkan dalam definisi di

atas. Dengan demikian penggunaan kekuasaan negara oleh penguasa di luar tujuan

negara, seperti misalnya demi kepentingan penguasa atau pribadi pejabat negara

adalah tindakan yang mengandung arti sebagai penyalahgunaan kekuasaan negara.

24

Soehino, Ilmu Negara, Yogyakarta: Liberty, cetakan ketujuh, 2005, hlm 149 25 Hotma P. Sibuea, Ilmu Negara, Jakarta:Erlangga, 2014, hlm. 39

(36)

Beberapa pendapat mengenai lahirnya Negara adalah sebagai berikut:27

Penulis-penulis tua, membedakan dua macam cara lahirnya negara:

1. Negara karena didirikan, jadi di sini lahirnya negara dalam suasana damai,

yang biasa disebut primairestaatwording. Dalam konteks ini, lahirnya negara,

bukan karena hasil dari usaha melawan penjajah, misalnya melalui perang,

melainkan dilahirkan secara sendirinya dalam masyarakat. Cara kelahiran

inilah yang dianggap kelahiran yang sebenarnya. Lahirnya negara ini tentunya

harus memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai negara. Misalnya, harus

ada wilayah, penduduk, pengakuan dari dunia internasional.

2. Negara yang didapatkan, jadi lahirnya negara di sini dalam suasana perang

atau revolusi. Cara ini disebut Secundaire Staatwording. Banyak negara di

dunia ini yang dilahirkan karena cara seperti ini, misalnya bangsa Indonesia.

Semangat kebangsaan yang membara dalam berkehidupan berbangsa dan

bernegara juga bisa disebut nasionalisme. Tumbuhnya nasionalisme

merupakan suatu bentuk ideologi yang meletakkan kecintaan, kesetiaan dan

komitmen tertinggi pada negara kebangsaan.28 Dengan demikian nasionalisme

menjadi dasar pembentukan negara kebangsaan. Hubungan nasionalisme dan

negara kebangsaan memiliki kaitan yang erat. Negara kebangsaan adalah

negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan/

nasionalisme. Artinya adanya tekad masyarakat untuk membangun masa

depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat

27 Dewa G. Atmatja, Ilmu Negara, Malang: Setara Pers, 2012, hlm. 75.

(37)

tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. Rasa nasionalisme

sudah dianggap muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama

untuk mendirikan suatu negara kebangsaan.

Dalam konteks negara Indonesia, tumbuhnya nasionalisme berkaitan erat

dengan sistem politik kolonial yang memposisikan bangsa Indonesia sebagai

bangsa terjajah yang harus dikuasai dan dieksploitasi segala sumberdaya yang

dimilikinya. Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai respon

atas kolonialisme. Kesamaan nasib sebagai sesama kaum terjajah merupakan

suatu ikatan kuat diantara etnik-etnik di Indonesia untuk menjalin ikatan

perjuangan, sedangkan keinginan untuk merajut masa depan yang lebih

gemilang mendorong untuk membuat kesepakatan-kesepakatan sebagai

manifestasi dari nasionalisme. Suatu hal yang luar biasa adalah nasionalisme

ini mencapai tingkatan tertinggi dengan dirumuskannya hal itu secara tegas

dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu berkehendak membangun suatu negara

bangsa (nation-state) yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur dengan cara

demokratis. Dalam konteks negara yang didapatkan, untuk membentuk suatu

negara, setidaknya melewati tiga fase penting, seperti fase pembuahan, fase

perumusan, dan fase pengesahan.29

a. Fase Pembuahan

Pada tahap ini, usaha yang dilakukan adalah mencari ideologi yang menjadi

dasar dari terbentuknya suatu negara. Ideologi secara fungsional dimaknai

sebagai seperangkat gagasan budaya, sosial-politik, hukum yang dianggap

(38)

paling ideal atau yang paling baik. Secara fungsional ada dua tipe ideologi yaitu

doktriner dan pragmatism. Ideologi doktriner ciri-cirinya antara lain, ajaranya

dirumuskan secara sistematis dan rinci, diindoktrinasikan kepada masyarakat

dan pelaksanaanya diawasi secara ketat oleh pemerintah dan partai politik.30

Mendirikan suatu negara, harus mempunyai ideologi dan ideologi digali dari

nilai-nilai yang mengakar dari suatu negara karena ideologi menjadi platform

dalam menjalankan roda pemerintahan. Oleh karena itu ideologi menjadi awal

dalam proses terbentuknya suatu negara.

b. Fase Perumusan

Setelah ideologi sudah ditentukan, maka selanjutnya adalah

mengkongkritkan ideologi itu dalam hukum dasar dari suatu negara. Pada tahap

ini yang dilakukan adalah mereposisi dan menyempurnakan ideologi yang dianut

oleh suatu negara melalui konsensus bersama.

Dalam konteks negara Indonesia, ideologi yang dianut baik tersurat maupun

tersirat dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945 adalah kedaulatan rakyat

berdasarkan falsafah negara Pancasila.31 Sukarno menyampaikan kelima prinsip

dasar falsafah atau pandangan dunia yang telah disetujui oleh semua anggota

BPUPKI pada pidatonya tanggal 1 Juni 1945. Kelima prinsip tersebut dalam

padangan Sukarno adalah kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau

perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, Ketuhanan yang

berkebudayaan. Kelima prinsip itu disebut oleh Sukarno dengan Pancasila. Sila

(39)

artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara

Indonesia, kekal dan abadi.

Ideologi yang dianut itu, harus tercermin dalam penyusunan hukum dari

suatu negara. Negara yang mempunyai konstitusi seperti AS (Amerika Serikat) ,

nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi yang dianutnya itu harus tercermin

dalam konstitusi dalam proses perumusan konstitusinya.

c. Fase Pengesahan

Setelah melewati konsensus secara luas mengenai dasar kenegaraan dalam

rangka mempersiapkan suatu negara menjadi merdeka, maka selanjutnya adalah

mengesahkan rumusan tersebut sebagai hukum dasar atau konstitusi. Fase ini

sangat penting, sebab konstitusi yang telah dirumuskan itu, merupakan syarat

utama dari suatu negara yang akan memproklamasikan kemerdekaanya, sehingga

mendapat pengakuan dari negara lain.

Dalam mencapai tujuan nasionalnya suatu negara selalu akan menghadapi

berbagai rintangan baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri, bersifat

langsung maupun tidak langsung. Rintangan dan ancaman tersebut harus dihadapi

oleh seluruh rakyatnya, tentu saja sesuai dengan kemampuan dan profesinya

masing-masing.32

Setiap warga negara yang telah membentuk negara, dimana saja dan kapan

saja mempunyai keinginan dan kepentingan untuk melangsungkan hidupnya serta

mencapai tujuan nasionalnya. Untuk keperluan itu setiap bangsa mendambakan

partisipasi aktif dari seluruh warga negaranya. Partisipasi warga negara untuk

(40)

tercapainya tujuan nasional serta kelangsungan hidupnya tidak bisa muncul begitu

saja secara optimal, tanpa usaha.

Indonesia menjadi suatu negara yang merdeka yang diproklamasikan pada

tanggal 17 Agustus 1945 tentu melalui proses perjuangan yang sangat lama dan

tidak terbentuk seketika. Perjuangan itu setidaknya telah menguras tenaga, pikiran

sampai kehilangan nyawa.

Perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempersatukan seluruh wilayah

Nusantara telah dimulai sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit. Perjuangan itu

diteruskan hingga mencapai puncak-puncaknya yaitu diikrarkannya Sumpah

Pemuda pada tahun 1928, dan diwujudkannya Negara Kesatuan Republik

Indonesia melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.33 Sejarah

pembelaan negara Indonesia, sejak zaman penjajahan telah banyak memberikan

pengalaman untuk menyusun suatu sistem pembekalan negara yang mampu

menanggulangi setiap ancaman, tantangan, hambatan serta gangguan terhadap

kelangsungan hidup bangsa dan negara berdasarkan Pancasila. Kesadaran untuk

mempertahan negara dan bangsanya itu sesungguhnya telah dimiliki oleh seluruh

rakyat, hal ini dijadikan sebagai modal untuk merumuskan konsepsi bela negara

dari rintangan dan ancaman yang datang dari luar negeri.

(41)

G. Metode dan Pendekatan Penelitian

1. Metode Penelitian

Penelitian sejarah pada dasarnya memiliki tahapan yaitu: (1) pemilihan

topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi, (4) interpretasi, (5) penulisan.34

Untuk lebih jelas dapat diliat di bawah ini:

a. Pemilihan Topik

Pemilihan topik merupakan langkah pertama dalam penulisan sejarah.

Syarat yang penting dalam pemilihan topik yaitu kedekatan intelektual dan

kedekatan emosional. Kedekatan intelektual yaitu penulis memiliki kemampuan

yang memadai untuk membahas topik yang akan ditulis. Sedangkan kedekatan

emosional adalah ketertarikan penulis pada topik yang diambil. Apabila penulis

memiliki kompetensi yang memadai dan tertarik pada topik tersebut sangat tinggi,

maka penelitian sejarah yang dilakukan akan terasa menyenangkan.

Penulis memiliki kedekatan intelektual dan emosional pada topik

“Soegijapranata: Mengabdi Gereja dan Negara (1940-1949). Penulis memilih

topik biografi dari Mgr. Albertus Soegijapranata, karena penulis merasa tertarik

atas kepribadian sebagai seorang pemimpin Gereja Katolik Indonesia pertama

yang dipilih dari kalangan pribumi dan sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Banyak usaha-usaha yang Soegijapranata lakukan untuk mengabdi gereja dan

negara pada masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional. Penulis merasa

senang pada topik tersebut. Dalam pemilihan topik juga harus memiliki nilai ,

topik yang akan diteliti harus memberikan makna dan kesan tersendiri bagi para

34

(42)

pembaca kelak dan harus berdasarkan pengalaman manusia yang dianggap

penting dan dapat membawa perubahan.

b. Pengumpulan Sumber

Setelah pemilihan topik dilakukan, tahap berikutnya adalah pengumpulan

sumber (heuristik). Pengumpulan sumber harus relevan dan sesuai berdasarkan

dengan topik yang akan ditulis. Ada beragam jenis sumber yaitu sumber tertulis,

sumber lisan, benda tinggalan, dan sumber kuantitatif.35 Pada penelitian ini

penulis menggunakan sumber yang berupa buku-buku terkait dengan topik yang

akan dibahas.

c. Kritik Sumber (Verifikasi)

Kritik sumber sejarah adalah upaya untuk mendapatkan otentisitas dan

kredibilitas sumber. Yang maksud dengan kritik adalah kerja intelektual dan

rasional yang mengikuti metodologi sejarah untuk mendapatkan objektivitas suatu

kejadian.36 Umumnya kritik sumber dilakukan terhadap sumber-sumber pertama

Kritik ini meliputi verifikasi sumber, yaitu pengujian mengenai kebenaran atau

ketepatan (akurasi) dari sumber itu. Dalam metode sejarah ada dua jenis kritik

sumber, yaitu kritik eksternal (otentisitas dan integritas) dan kritik internal.37

Yang sering digunakan yaitu kritik internal, karena kritik internal ditujukan

terhadap isi dari suatu sumber sejarah. Apakah isi yang ada dalam sumber itu

memang dapat dipercaya atau tidak. Untuk itu yang harus dilakukan adalah

membandingkan kesaksian antar berbagai sumber.

35

Suhartono W. Pranoto, Teori dan Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010, hlm. 24.

36

Ibid., hlm. 35.

37

(43)

Sumber yang dipergunakan pada penelitian ini adalah buku-buku yang membahas

mengenai kehidupan Soegijpranata, buku-buku yang membahas peristiwa ataupun

situasi Indonesia, khususnya Vikariat Apostolik Semarang pada periode

19440-1949 dan buku-buku lain yang dapat membantu dalam penelitian ini. Teknik yang

digunakan peneliti adalah studi teks yang juga didukung dengan studi pustaka.

Sehingga data-data yang dipergunakan untuk penelitian mengenai Soegijapranata

Mengabdi Gereja dan Negara dalam periode 1940-1949 adalah berupa sumber

tertulis. Sumber-sumber tertulis yang dipergunakan ialah tulisan-tulisan dari para

peneliti lain yang juga pernah meneliti mengenai kehidupan Soegijapranata.

Selain untuk sebagai sumber penulisan, teks-teks tersebut juga digunakan untuk

membandingkan penelitian-penelitian mengenai Soegijapranata yang telah ada

sebelumnya, dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Selain menggunakan

sumber-sumber penulisan dari para peneliti lain, penelitian ini juga menggunakan

majalah yang pernah memuat tulisan mengenai Soegijapranata. Data-data yang

telah berhasil diperoleh kemudian akan dibandingkan sesuai dengan konteks

Zaman di masa itu. Data-data tersebut akan ditelaah dan dibandingkan dengan

data-data lainnya yang berkaitan dengan topik dan tema dalam penelitian ini.

d. Interpretasi

Interpretasi juga sering disebut penafsiran data. Data yang telah diperoleh

dari sumber kemudian diinterpretasi. Terdapat dua macam interpretasi yaitu

analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan). Fakta-fakta yang telah

(44)

yang dapat diuji kebenarannya. Dengan demikian intrepretasi data tersebut

menjadi kuat karena berdasarkan data yang relevan.

e. Penulisan Sejarah ( Historiografi)

Penulisan sejarah memiliki tiga bagian penting yang harus diperhatikan

yaitu pengantar, hasil penelitian, dan kesimpulan. Dalam pengantar dijelaskan

latar belakang topik yang diteliti, kemudian dalam hasil penelitian akan dijelaskan

hasil penelitian yang diperoleh oleh penulis dan kesimpulan yaitu melakukan

generalisasi dari bab-bab sebelumnya.

2. Pendekatan Penelitian

Sejarah sebagai ilmu sosial tidak bisa berdiri tanpa bantuan ilmu sosial yang

lain. Maka dari itu sejarah meminjam ilmu sosial yang lain agar penelitian sejarah

lebih jelas. Pendekatan menjadi sangat penting, sebab dari pendekatan yang

mengambil sudut pandang tertentu akan menghasilkan kisah kejadian tertentu.38

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan dua pendekatan, yaitu

pendekatan sosial dan pendekatan politik .

a. Pendekatan Sosial

Pendekatan sosial adalah pendekatan yang mempelajari manusia dalam

hubungannya dengan manusia-manusia lainnya. Selain itu, dapat juga diartikan

sebagai pendekatan yang mempelajari perilaku dan aktivitas sosial dalam

kehidupan bersama. Dalam pendekatan ini akan dilihat kembali keakraban dan

loyalitas Soegijapranata dalam membantu rakyat Indonesia masa pendudukan

Jepang dan revolusi nasional.

38

(45)

b. Pendekatan politik

Pendekatan politik merupakan pendekatan yang berorientasi pada

kebijakan-kebijakan politik. Pendekatan politik digunakan untuk melihat

kehidupan politik khususnya masa pendudukan Jepang dan revolusi nasional di

Indonesia. Pendekatan politik juga digunakan untuk melihat kembali perjuangan

Soegijapranata dalam melawan penjajah masa pendudukan Jepang dan revolusi

nasional sebagai Uskup Indonesia pertama.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan Skripsi yang berjudul “Soegijapranata: Mengabdi Gereja dan

Negara (1940-1949)”, mempunyai sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I Berupa pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, permasalahan,

tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan pustaka, landasan teori,

metodologi penelitian dan pendekatan, serta sistematika penulisan.

Bab II Bab ini menyajikan uraian tentang latar belakang Soegijapranata

mengabdi Gereja dan negara

Bab III Bab ini menyajikan uraian tentang Soegijapranata dalam mengabdi

Gereja .

Bab IV Bab ini menyajikan uraian tentang Soegijapranata dalam mengabdi

negara

Bab V Bab ini menyajikan kesimpulan yang berisi tentang jawaban-jawaban

(46)

29 BAB II

LATAR BELAKANG SOEGIJAPRANATA

MENGABDI GEREJA DAN NEGARA

A. Masa Kecil Soegijapranata

Soegijapranata dilahirkan di Surakarta pada tanggal 25 November 1896

sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara dari keluarga Karijosoedarma.

Berhubungan situasi zaman pada waktu itu, angka kematian bayi masih tinggi,

dari sembilan anak tersebut hanya beberapa saja yang selamat. Soegijapranata

termasuk salah satu diantaranya yang selamat.39 Sebagaimana adat kepercayaan

masa itu agar seorang anak dapat selamat dan tumbuh sehat, seorang bayi yang

baru lahir juga menjalani ritus pembuangan di pawuhan.40 Soegijapranata kecil

pun mengalami hal tersebut. Kisah ritus pembuangan bayi semacam itu dengan

maksud agar kelak dapat menjadi anak yang sehat tanpa gangguan apapun.

Kemudian bayi tersebut diberi nama Soegija yang diambil dari

kata“Soegih”dengan harapan agar kelak dia menjadi orang yang kaya akan

kepintaran dan juga kaya akan harta benda. Itulah yang menjadi dambaan dari

kedua orang tuanya. Maklumlah keluarga Karijosoedarma sebagai abdi dalem

Keraton bukan tergolong keluarga yang dapat hidup dengan serba kecukupan,

bahkan untuk menambah penghasilannya ibu Karijosoedarma berjualan stagen

39Muskens Pr, Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jilid 3, Ende-Flores: Arnoldus, 1974, hlm. 886. 40

(47)

dan nila.41 Maka wajar bila bayi kecil Soegijapranata diharapkan kelak dapat

menjadi orang yang kaya, tidak seperti orang tuanya yang agak jauh dari

kekayaan.

Sejak kecil Soegijapranata mendapat didikan dari ayahnya dalam bidang

seni tradisional khususnya berkaitan dengan kebijaksanaan hidup lewat kesenian,

seperti lewat tembang.42 Tembang-tembang dilatihkan setiap malam, dengan

membaca buku tembang, mengajarkan berbagai watak kesatria terhormat dan nilai

luhur yang perlu dimiliki oleh seorang pribadi. Berkaitan dengan pembinaan olah

seni, selain tembang sejak kecil Soegija sudah pandai memukul gamelan dan

mempunyai minat besar terhadap kebudayaan Jawa.

Dari pihak ibunya Soegijapranata mendapat pendidikan keluhuran budi

dengan mengatur rasa dan kehendak serta tahu sopan santun. Hal tersebut

diperoleh melalui pengajaran bahasa Jawa dengan penggunaan kaidah-kaidah

yang memperhatikan tingkatan-tingkatan tertentu dari lawan bicara misalnya

dengan teman sebaya, orang yang lebih tua atau lebih tinggi derajat sosialnya.

Ada satu latihan sikap luhur lain yang diajarkan, yakni sikap memegang janji

terhadap perkataan yang diucapkan.43 Pendidikan di dalam keluarga dan

masyarakat inilah yang memperkaya Soegijapranata sebagai seorang pribadi

santun, lincah bergerak, mudah bergaul, sekaligus memiliki kenakalan dan

kekritisan tertentu. Hal tersebut terekam dalam berbagai kesan dari sejumlah

orang.

41

Henrica Moer Yantini CB, Mgr. Albertus Soegijapranata S.J, Ende Flores: Nusa Indah, 1975, hlm. 13.

42Tembang adalah lirik atau sajak yang mempunyai iramanada sehingga dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai lagu. Kata tembang berasal dari bahasa Jawa yaitu tembang.

(48)

Pada tahun 1900 keluarga Karijosodarma pindah ke Yogyakarta, dan tinggal

di daerah Wirogunan. Pihak lain yang mempengaruhi pengalaman keagamaan

Soegija adalah seorang sahabat sekolah, sahabat karibnya yang alim. Teman itu

setiap kali mengajarkan bahasa Arab dan menceritakan tentang kisah Nabi kepada

Soegijapranata serta norma-norma hidup sebagai seorang Muslim. Sikap sahabat

itulah yang membangun sikap simpatinya. Pergaulan tersebut sekaligus

membangun suatu benteng dalam menghadapi lingkungan hidup di Yogyakarta

yang kurang mendukung untuk pembentukan pribadi yang kokoh. Saat itu situasi

Yogyakarta pada masa kecil Soegijapranata dapat digambarkan sebagai berikut:

“Di sini (Yogyakarta) murid-murid usianya antara 8-20 tahun. Maka sekalipun duduk di Sekolah Dasar namun percakapan mereka sudah sangat kotor dan tidak pantas didengar. Lebih-lebih karena keadaan di Kota Yoyakarta pada waktu itu memang sangat buruk. Baik dikalangan bangsawan Keraton maupun maupun di kampung-kampung, penghargaan orang terhadap nilai-nilai susila pada umumnya sangat merosot. Terutama di kalangan masyarakat atas pada waktu itu menjadi mode untuk memelihara selir dan pemuda

rupawan.”44

Di samping berkawan dengan teman yang alim, Soegijapranata juga

berkawan dengan teman-teman yang “bandel”. Saat itu pula Soegija telah

merasakan adanya diskriminasi di antara anak muda. Sinyo-sinyo Belanda merasa

kedudukanya lebih tinggi dari pada anak muda pribumi. Tidak jarang kejengkelan

Soegijapranata tercetus dalam bentuk tantangan berkelahi, baik secara sendirian

maupun secara bersama-sama atau “keroyokan”. Bila dalam perkelahian tersebut

kalah, maka Soegijapranaata mencari cara lain untuk memukul lawannya yaitu

dengan menantang main bola karena dalam permainan ini paling sedikit dia masih

44

(49)

dapat memukul lawan-lawannya.45 Di Yogyakarta diantara teman-temannya

Soegijapranata terkenal berani, dan tidak ada seorang anakpun yang luput dari

gangguan dan ejekan bila berani mendekati Soegijapranata.

Dalam jalur pendidikan formal, Soegijapranata menempuh Sekolah

Rakyatnya di dua tempat. Disebut Sekolah Rakyat karena berlangsung antara dua

sampai empat tahun.46 Pada tahun 1906 Soegijapranata menempuh pendidikan di

Sekolah Rakyat Ngabean, sebuah sekolah yang berada di dekat rumahnya, suatu

sekolah yang diselenggarakan pada siang hari. Pada tahun 1960 ketika ada

Sekolah Rakyat di Wirogunan yang diselenggarakan pada pagi hari,

Soegijapranata pindah sekolah ketempat baru. Pendidikan di Sekolah Rakyat

tersebut hanya berlangsung sampai kelas tiga. Ketika di Lempuyangan mulai di

buka Hollandsch Inlandsche School (HIS)47 suatu sekolah tingkat pendidikan

dasar, tetapi mulai diperkenalkan penggunaan bahasa Belanda, Soegijapranata

melanjutkan ke sekolah tersebut pada tahun 1907.

B. Soegijapranata Sekolah di Muntilan

Soegijapranata Sejak kecil telah memiliki sifat-sifat yang berani, jujur dan

tabah disamping berbagai bakat yang ditunjang oleh kecerdasan otaknya.48

Namun demikian, tentulah keberanian, kecerdasan, dan bakat-bakat itu perlu

45 Budi Subanar, op., cit. hlm. 25. 46

Ibid., hlm. 26.

47

Hollandsch Inlandsche School disingkat HIS, sekolah yang diselenggarakan terbatas untuk

anak-anak golongan atas pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia. Sekolah ini pertama kali didirikan pada tahun 1914, sebagai hasil reorganisasi Sekolah kelas 1.Tingkat pendidikan yang diberikan kurang lebih setara dengan pendidikan ELS (Europesche Lagere School)tanpa pelajaran bahasa Prancis.Pendidikan berlansung selama tujuh tahun dengan bahasa pengantar utama bahasa Belanda.

(50)

untuk dikembangkan sehingga dapat berguna sebagaimana yang diharapkan.

Untuk mengembangkan diri, seseorang memerlukan bimbingan dari orang lain

yang lebih dewasa. Sehubungan dengan itu, Soegjapranata sebagai anak pribumi

mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang tidak mudah

diperoleh di masa penjajahan waktu itu. Pada tahun 1909 Soegijaprantana

bertemu dan berkenalan dengan seorang pastor yang ketika itu sedang mencari

calon murid-murid untuk dididik di sekolah guru yang sedang didirikannya di

Muntiln. Pastor yang dimaksud ialah Frans Van Lith S.J. Perkenalannya dengan

menyebar agama Katolik di Jawa Tengah itu agaknya telah sangat menentukan

perjalanan hidup Soegijapranata dalam mengabdi Gereja dan Negara.

Pada tahun 1909 pendidikan selanjutnya dijalani di Muntilan. Berkaitan

dengan sekolah di Muntilan yang dirintis oleh Romo Van Lith, Soegijapranata

mengalami dua kontak. Kontak pertama, Ketika Soegijapranata sudah berada pada

kelas tertinggi di Sekolah Rakyat Wirogunan, Soegija bertemu dengan Romo Van

Lith yang berkunjung ke sana. Romo Van Lith memang sering pergi mencari

murid untuk sekolah baru yang dirintisnya lewat kunjungan-kunjungan yang

dilakukannya ke berbagai sekolah di daerah Yogyakarta dan di daerah-daerah lain.

Dalam pertemuan itulah Soegijapranata menyatakan keinginannya untuk

melanjutkan sekolah di Muntilan. Kontak kedua dialami Soegijapranata melalui

cerita tentang sekolah tersebut lewat seorang mantan gurunya. Mantan Gurunya

tersebut menceritakan pengalamannya mengajar di Muntilan melalui beberapa

surat yang dikirimkan kepada para muridnya yang berada di Yogyakarta. Di

(51)

tentang tingginya mutu yang diajarkan di Muntilan, dan tidak memaksa agama. 49

Kedua hal itulah yang mulai mengesan pada diri Soegijapranata.

Bapak Karijosoedarma menjadi heran waktu mendengar bahwa Putranya

akan masuk sekolah Kristen, tetapi Soegijapranata menanggapi keheranan orang

tuanya dengan menegaskan bahwa meskipun akan bersekolah di sekolah Kristen

tetapi tidak akan menjadi Kristen, Soegijapranata hanya ingin memperoleh

pengetahuan dan agar kelak dapat menjadi guru untuk memajukan bangsanya.

Sikap yang jelas dari Soegijapranata tersebut dengan tegas sekali ditekankan

waktu dia sampai di Muntilan. Dia menghadap Romo J.A.A. Mertens. Rektor

Kolose Muntilan, dan mengatakan bahwa dia tidak mau dipermandikan serta tidak

mau menjadi Katolik, dan bahwa kedatangannya di Muntilan hanya ingin

melanjutkan sekolah untuk menjadi guru. Soegijapranata ingin melanjutkan

sekolah di bawah asuhan romo-romo Belanda. Dan hal itu ia harus hidup terpisah

dari orang tuanya karena sekolahnya di Muntilan, selain itu Soegijapranata harus

menjalani hidup di asrama.

Kedatangan Soegijapranata di Muntilan pada tahun 1909 akan

mengakibatkan perubahan total dalam pribadinya. Di asrama Muntilan,

Soegijapranata termasuk anak yang disegani teman-temannya. Tidak

mengherankan bahwa sejumlah teman seniornya berusaha mengajak

Soegijapranata untuk menjadi Katolik. Pada permulaan tinggal di asrama

Soegijapranata sangat dekat dengan salah seorang Romo yaitu Romo L. Van

Rickjevorsel. Karena kedekatannya itu, Soegijapranata pernah bertanya berapa

49

(52)

gaji yang diterima oleh Romo tersebut. Ternyata jawaban yang diterima

menyatakan bahwa Romo tidak menerima gaji. Para romo merasa senang karena

boleh mempersiapkan anak-anak muda untuk kebaikan dan kebahagian masa

depan mereka, Romo tesebut masih menambah “dengan cara demikian berarti ada

dua hal dilakukan, yakni mengabdi kepada sesama sekaligus merupakan

pengabdian kepada Tuhan.”50

Pengakuan Romo tersebut memberikan suatu pengetahuan lain kepada

Soegijapranata sehingga membawa perubahan dalam dirinya, terlebih sikap dan

perlakuan yang baik dari romo-romo staf terhadap Soegijapranata, termasuk

menerima pernyataan Soegija yang tidak bersedia menjadi Katolik. Hal-hal itu

membuat Soegijapranata merasa aman tinggal di Muntilan. Dalam suasana

tersebut, Soegijapranata mulai menemukan suatu yang baik dalam lingkungan

Katolik yang baru saja dikenalnya.

Kekatolikan yang ditanamkan dan menjiwai Soegijapranata serta

kawan-kawanya tidak dipisahkan dari akar kejawaan dan masa remaja yang tengah

dialami mereka. Justru dalam identitas kejawaan, kekatolikan anak-anak itu

diperkembangkan. Sejalan dengan cara pikir anak-anak Jawa yang banyak

diwarnai oleh cerita wayang yang memenuhi fantasi mereka, Romo Van Lith

bercerita tentang kisah-kisah Rama dan Kresna yang menjadi titisan Visnu.

Dengan fantasi mereka, anak-anak diajak mengembara dengan kisah-kisah

tersebut, bahkan diperkaya dengan fantasi dari cerita benua-benua lain. Sungguh,

akar identitas anak-anak diperdalam sekaligus cakrawalanya dibuka dan

50

(53)

diperkembangkan lewat kisah-kisah yang diceritakan oleh Romo Van Lith.

Melalui berbagai hal, anak-anak diperkenalkan pada tradisi dan pemikiran

kristiani. Dalam perayaan Ekaristi, anak-anak diajak mengenali, mencecapi, serta

mengakarkan landasan hidup rohani.

Jiwa nasionlisme Soegijapranata tumbuh berkat didikan Romo Van Lith

dan Pater Van Driessche SJ yang menanamkan rasa cinta tanah air dan patriotisme

di tengah situasi penjajahan. Bersama anak-anak asrama yang lain, Soegijapranata

juga diperkembangkan sesuai dengan jiwa remajanya. Dalam jiwa kemudaaan,

mereka sekaligus dilatih untuk sportif dan berani mengakui kesalahan. Romo Van

Lith menciptakan keakraban yang sehat diantara mereka dan menciptakan

suasana agar anak berusaha untuk saling membela diri sehingga dapat

membangun kesadaran sebagai suatu bangsa yang mempunyai harga diri. Pater

van Lith pernah berkata "selagi orang Jawa mau berteriak, mereka masih bisa

ditolong. Namun, jika mereka tutup mulut, hampir tidak ada obatnya, dan kamu

harus waspada."51 Soegijapranata sangat terkesan dengan nasihat perihal

mekanisme penegakan harga diri orang Jawa ini.Semangat yang mendasari

perjuangan Romo Van Lith dalam merintis karya pendidikan bagi kaum pribumi

tampak dihayati, dimiliki dan dijunjung tinggi oleh Soegijapranata serta

kawan-kawannya. Semangat dan nilai luhur yang diperjuangkan oleh Romo Van Lith

antara lain: rasa toleransi, disiplin pribadi, kejujuran, kesederhanaan, pengabdian

tanpa pamrih, nasionalisme, dan sebagainya. Dalam mendidik para murid,Romo

Van Lith menekankan pentingnya memperjuangkan martabat manusia yang di

51

(54)

dalamnya termasuk memperjuangkan kesejajaran antar manusia serta

membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan.

Berbagai kegiatan diikuti Soegijapranata dan kawan-kawannya. Pada pagi

hari ia mengikuti kegiatan belajar di kelas, sore hari ia berkebun dan melakukan

kegiatan seni serta kegiatan lain, malam hari, ia masih melanjutkan kegiatan

belajar dan semuanya berjalan seimbang. Setelah sekian waktu berada di asrama,

suatu saat Soegijapranata menyatakan keinginannya untuk mengikuti pelajaran

agama Katolik. Hal tersebut diungkapkan kepada Romo Mertens selaku pimpinan

asrama Muntilan. Romo Mertens tidak segera mengiyakan keinginan

Soegijapranata, namun untuk mengikuti pelajaran agama Katolik perlu izin dari

orang tua.Alasan Soegijapranata untuk mengikuti pelajaran agama Katolik adalah

karena merupakan bagian dari pembentukan yang ditawarkan Kolese Xaverius.

Alasan itulah yang membuat Romo pimpinan mengizinkan Soegijapranata

bergabung bersama teman-teman Katolik mengikuti pelajaran agama.

Tiga bulan setelah mengikuti pelajaran agama, Soegijapranata menemui lagi

Romo pimpinan asrama. Kali itu Soegijapranata mengungkapkan permintaan

supaya ia diperbolehkan menerima babtisan. Sebuah jawaban seperti sebelumnya

diperoleh Soegijapranata dari Romo rektor Kolese bahwa untuk itu Soegijapranata

perlu mendapatkan izin dari orang tua. Lalu Soegijapranata mengusahakannya,

akan tetapi orang tuanya tidak mengizinkan keinginan Soegijapranata. Suatu

keinginan yang muncul dari dalam diri dan larangan dari orang tua menjadi bahan

permenungannya. Pada hal Romo rektor juga menghendaki adanya izin orang tua.

Referensi

Dokumen terkait

Tradisi dan kebudayaan Jawa tidak hanya diindahkah oleh jemaat yang sudah tua saja namun semua kalangan usia jemat GITJ Genengmulyo juga ikut menggunakan tradisi

Cuma kemudian Bapak juga harus memikirkan, karena hanya dengan kata tembakau saja seolah-olah kemudian ini tidak benar kalau menyebut tembakau sebagai zat adiktif dengan

Buku ini tentu saja bukan hanya berguna bagi kalangan umum yang ingin memahami persoalan-persoalan terkait keuangan negara, namun juga secara khusus sangat penting sebagai

Sehingga program PUSYAR tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan berupa modal usaha saja, namun juga terdapat kegiatan pemberdayaan melalui pendidikan dan pelatihan,

Dengan adanya pengeluaran pemerintah untuk subsidi, tidak hanya menyebabkan masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati suatu barang/jasa, namun juga menyebabkan masyarakat

25 Milyar yang semakin kecil, kinerja reksadana saham tidak hanya melihat return (metode raw return) saja namun juga memperhatikan risiko sehingga perlu menganalisis

Keberadaan naskah di Indonesia tidak hanya menjadi koleksi Museum daerah atau Museum Nasional saja, banyak juga masyarakat yang masih menyimpan dan

Rekomendasi pada topik penelitian ini adalah penulis berharap bukan hanya Gereja saja yang membantu mempertahankan dan menghormati nilai-nilai luhur budaya kita, namun masyarakat yang