90
PEMANFAATAN DAN PENATAAN RUANG TEPI SUNGAI KRUENG
ACEH KOTA BANDA ACEH
Rahmata,*, Izziahb, Sofyan M. Salehc
aJurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh bJurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh cJurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh *Corresponding author, email address: [email protected]
A R T I C L E I N F O A B S T R A C T
©2018 Magister Teknik Sipil Unsyiah.All rights reserved 1. PENDAHULUAN
Kota Banda Aceh merupakan wilayah yang memiliki kondisi fisik dasar dilalui oleh aliran sungai, salah satu diantaranya adalah sungai Krueng Aceh yang merupakan sungai terbesar dan terpanjang, mengalir melalui pusat kota dan membelah kota menjadi dua bagian, utara dan selatan. Sungai Krueng Aceh ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi tumbuh dan berkembangnya Kota Banda Aceh,
Krueng Aceh River which is flow passes the center of Banda Aceh city. Krueng Aceh River become an integral part for the growth and development of Banda Aceh City, which has a strategic role in support urban activity and has enormous beauty potential in shaping image of the city and improving the quality of open space in Banda Aceh City. Krueng Aceh river is an element of public spaces that can be a basis for development of waterfront city. In arrangement and development of riverside as waterfront city area is not running maximally and worried not accordance with the direction from Spatial Plan. The utilization of the space on the Krueng Aceh River is not well organized and maximal. This research purpose is to identify how to utilize the space of waterfront area of Krueng Aceh river on the Spatial plan of Banda Aceh City in 2009-2029, formulate a structuring optimization strategy and development of waterfront area of Krueng Aceh river as the waterfront city area of Banda Aceh. Method used is descriptive method with combination research approach (mixed method) where the qualitative data supported by quantitative data processing. Method used to measurement is Likert Scale also data analysis by SWOT analysis on the primary and secondary data. Results of SWOT analysis obtained three alternative strategies which are: 1) Issuing regulation in form of local regulation as derivative from the Spatial Plan of Banda Aceh City in 2009-2029 which reinforces riverside function of Krueng Aceh River to become waterfront area and implement it as guidelines and consequent, 2) Optimize the utilization of space on waterfront area of Krueng Aceh area by arranging and developing the area, 3) Improve management and control in arrangement and developing waterfront area of Krueng Aceh river.
Article History:
Recieved 13 January 2017
Recieved in revised form 15 March 2018 Accepted 21 March 2018
Keywords:
Krueng Aceh River, Waterfront City, Spatial Plan, SWOT analysis
Jurnal Arsip Rekayasa Sipil dan Perencanaan (JARSP) Journal of Archive in Civil Engineering and Planning
E-ISSN: 2615-1340
91
memiliki peran yang strategis dalam mendukung aktivitas perkotaan dan memiliki potensi keindahan yang sangat besar dalam pembentukan wajah kota dan peningkatan kualitas ruang kota Banda Aceh.
Qanun Nomor 4 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Banda Aceh (RTRW) Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029 Bab IV mengenai penetapan kawasan strategis, pasal 70 dijelaskan bahwa tahapan prioritas pertama meliputi rehabilitasi dan revitaslisasi kawasan pusat kota lama, pengembangan kawasan waterfront city, dan pengembangan pusat kota baru. Penataan dan pengembangan kawasan waterfront city ini direncanakan pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh, dimana penataan dan pengembangan kawasan tepi sungai Krueng Aceh ini untuk mewujudkan program Kota Banda Aceh sebagai waterfront city.
Meskipun penetapan kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront city telah memiliki landasan hukum, namun dalam penataan dan pengembangannya terhadap fungsi tepi sungai (waterfront) sebagai kawasan strategis terlihat tidak berjalan secara optimal dan dikhawatirkan tidak sesuai dengan arahan RTRW Kota Banda Aceh tahun 2009-2029. Beberapa potensi permasalahan pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh ini, pemanfaatan ruang belum tertata dengan baik dan maksimal, ditandai dengan masih adanya orientasi bangunan yang membelakangi sungai, aksesibilitas masih minim, pedestrian yang masih terputus, penyediaan ruang terbuka publik yang masih minim, ruang terbuka hijau yang masih minim, penanganan persampahan yang belum terlaksana dengan baik, tata informasi yang belum baik, infrastruktur dan fasilitas pendukung yang belum memadai, dan jalur perahu untuk wisata air yang belum berfungsi, serta penataan kawasan sekitar yang belum berorientasi dan terintegrasi dengan tepi sungai. Hal-hal tersebut secara keseluruhan akan membawa pengaruh yang buruk bagi kawasan tepi sungai Krueng Aceh, tercipta ruang-ruang sisa sebagai ruang negatif yang menyebabkan kawasan menjadi kumuh dan secara keseluruhan menyebabkan penurunan citra kota dan sosial ekonomi serta kualitas lingkungan ruang perkotaan.
Bertolak dari potensi permasalahan tersebut, maka tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mengkaji pemanfaatan ruang kawasan tepi sungai Krueng Aceh sesuai arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh tahun 2009-2029 dan menentukan strategi penataan dan pengembangan kawasan tepi sungai Krueng Aceh dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan identitas Kota Banda Aceh sesuai arahan RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029.
2. KAJIAN PUSTAKA
Menurut Ditjen Cipta Karya (1997), kota adalah merupakan permukiman yang berpenduduk relatif besar, luas areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris, kepadatan penduduk relatif tinggi, tempat sekelompok orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis, dan individualistis.
Budiharjo (1991) mendefinisikan tata ruang adalah wujud struktural yang merupakan unsur-unsur pembentuk zona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan hirarkis serta pola pemanfaatan ruang yang meliputi lokasi, sebaran pemukiman, tempat kerja, aktifitas industri serta pola penggunaan lahan lainnya.
Dalam perencanaan ruang kota harus memperhatikan elemen-elemen perancangan kota agar tercipta keharmonisan sistem rancang kota (urban design). Urban design berkepentingan dengan proses perwujudan ruang kota yang berkualitas tinggi dilihat dari kemampuan ruang tersebut di dalam membentuk pola hidup masyarakat urban yang sehat. Untuk itu maka unsur-unsur elemen kota yang berpengaruh terhadap proses pembentukan ruang harus diarahkan serta dikendalikan perancangannya sesuai dengan skenario pembangunan yang telah ditetapkan.
Shirvani (1985), mengklasifikasikan elemen urban design dalam 8 (delapan) kategori, yaitu : tata guna lahan (land use), massa dan bentuk bangunan (building form and massing), sirkulasi dan parkir (circulation and parking), ruang terbuka (urban open space), jalur pejalan kaki (pedestrian ways), pendukung kegiatan (activity support), tanda-tanda (signage), preservasi dan konservasi (preservations and conservations).
92
Waterfront City adalah konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau. Pengertian “waterfront” dalam Bahasa Indonesia secara harfiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Waterfront City/Development juga dapat diartikan suatu proses dari hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan wilayah perkotaan secara fisik alamnya berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan (Henry R, 2014). Prinsip Perancangan Waterfront City adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau, atau sejenisnya.
Waterfront memiliki dua jenis diantaranya yang berdasarkan tipe proyek dan berdasarkan fungsi yaitu (Breen dan Rigby, 1996):
Berdasarkan tipe proyeknya, waterfront dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Konservasi (conservation), adalah penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat ini dan menjaganya agar tetap dinikmati masyarakat;
2. Pembangunan Kembali (redevelopment), adalah upaya menghidupkan kembali fungsi-fungsi waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk kepentingan masyarakat dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas yang ada;
3. Pengembangan (development) adalah usaha menciptakan waterfront yang memenuhi kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan cara mereklamasi pantai.
Berdasarkan fungsinya, waterfront dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:
1. Mixed-used waterfront, adalah waterfront yang merupakan kombinasi dari perumahan, perkantoran, restoran, pasar, rumah sakit, dan/atau tempat-tempat kebudayaan.
2. Recreational waterfront, adalah semua kawasan waterfront yang menyediakan sarana-sarana dan prasarana untuk kegiatan rekreasi, seperti taman, arena bermain, tempat pemancingan, dan fasilitas untuk kapal pesiar.
3. Residential waterfront, adalah perumahan, apartemen, dan resort yang dibangun di pinggir perairan. 4. Working waterfront, adalah tempat-tempat penangkapan ikan komersial, reparasi kapal pesiar, industri
berat, dan fungsi-fungsi pelabuhan.
Populasi dalam penelitian ini seluruh masyarakat Kota Banda Aceh dan Pemilik Toko (Pedagang), yang kemudian ditentukan sampel. Menurut Noor (2012) bahwa penentuan jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin yaitu sebagai berikut:
𝑛 = ∑ 𝑋𝑡
∑ 𝑋𝑡 𝑥 𝛼2+1 (1)
Keterangan:
N = Jumlah sampel ∑ 𝑋𝑡 = Jumlah populasi.
α = tingkat kesalahan yang dipakai 10% atau 0,1.
Metode yang digunakan untuk pengukuran menggunakan skala likert yang memiliki 5 (lima) jawaban yaitu sebagaimana terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Kualifikasi dan skor skala likert
No Kualifikasi Skor
1 Sangat Setuju (SS) 5
2 Setuju (S) 4
3 Kurang Setuju (KS) 3
4 Tidak Setuju (TS) 2
5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Sumber: Sugiyono (2010)
93 𝑟11= 2 (1 − 𝑠12+𝑠22 𝑆𝑡2 ) (2) Keterangan: r11 = Reliabilitas instrumen
s12 = Varians skor butir belahan pertama s22 = Varians skor butir belahan kedua st2 = Varians skor total (Yusrizal, 2016)
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah jika pengkuran dilakukan dalam kondisi yang mirip, hasilnya akan sama. Interpretasi derajat reliabilitas suatu tes dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Kategori reliabilitas tes
Batasan Kategori
0,80 < 𝑟𝑥𝑦≤ 1,00 Sangat Tinggi (sangat baik)
0,60 < 𝑟𝑥𝑦≤ 0,80 Tinggi (baik)
0,40 < 𝑟𝑥𝑦≤ 0,60 Cukup (sedang)
0,20 < 𝑟𝑥𝑦≤ 0,40 Rendah (kurang)
0,00 < 𝑟𝑥𝑦≤ 0,20 Sangat Rendah (sangat kurang)
Sumber: Arikunto (2006)
Uji validitas yang digunakan adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson, atau dikenal dengan Pearson product moment.
rxy=√{N ∑ XN ∑ XY−(∑ X)(∑ Y)2−(∑ X)2}{N ∑ Y2−(∑ Y)2} (3)
Keterangan:
𝑟𝑥𝑦 = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y. X = Skor item
Y = Skor total
N = Jumlah responden
Interpretasi untuk besarnya koefisien korelasi tingkat validitas instrumen sama dengan reliabilitas instrumen, dan dapat dilihat pada Tabel 2. Validitas dilakukan untuk menguji sejauh mana kevalidan dari suatu alat yang diukur. Setelah uji reliabilitas dan validitas memenuhi persyaratan, maka kegiatan pembagian kuesioner dapat dilakukan.
3. METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian berada pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh Kota Banda Aceh, yaitu pada kawasan segmen II yang dibatasi oleh dua jembatan, yaitu jembatan Pante Pirak di Selatan dan jembatan Peunayong di Utara. Kawasan segmen II tepi sungai Krueng Aceh ini terletak di Kecamatan Kuta Alam dan Kecamatan Baiturrahman, yang merupakan kawasan tepian sungai. Peruntukan lahan pada segmen II ini meliputi fasilitas publik, perdagangan, perkantoran dan komplek militer. Dari arah Timur sampai Barat, lebar batasan area studi mencakup rata-rata 260 meter, 100 meter dari Barat dan 80 meter dari Timur ke kedua tepi sungai dengan menghilangkan kawasan militer di Tenggara. Area intervensi dari Utara ke Selatan sekitar 208.000 m2.
Pada bagian ini diuraikan sumber data, menentukan populasi, menentukan variabel penelitian, perancangan kuesioner, survei kuesioner, pengolahan data, dan analisa data.
Data primer yang digunakan berupa data kuesioner, observasi dan wawancara. Data kuesioner diperoleh dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden masyrakat dan pemilik toko (pedagang) untuk dijawab lalu dikumpulkan kembali dalam waktu tertentu. Wawancara dilakukan dengan 6 (enam) orang narasumber dalam menggali informasi terkait dengan ruang pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh. Observasi dilakukan untuk memperoleh data secara langsung di lapangan tentang tepi
94
sungai Krueng Aceh serta untuk mengetahui relevansi antara jawaban responden dengan pengamatan langsung terhadap kondisi eksisting kawasan.
Data sekunder yang digunakan berupa Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh 2009-2029, Pedoman Pengembangan Krueng Aceh Segmen II yang disusun oleh pemerintah Kota Banda Aceh bekerjasama dengan GTZ-SLGSR tahun 2008, dan data-data terkait lainnya.
Sampel responden berasal dari masyarakat dan pemilik toko (pedagang). Untuk menentukan jumlah sampel responden dilakukan dengan teknik simple random sampling dengan menggunakan rumus Slovin. Untuk menentukan jumlah sampel responden pengunjung dilakukan dengan mengambil populasi dari penduduk Kota Banda Aceh sejumlah 254.904 juta jiwa (BPS, 2017).
(4) Dari perhitungan jumlah sampel responden pengunjung diperoleh 100 responden.
Untuk menentukan jumlah sampel responden pemilik toko (pedagang) dilakukan dengan mengambil populasi dari jumlah pemilik toko (pedagang) pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh (Jalan Ahmad Yani) berjumlah 54 toko.
(5) Dari perhitungan jumlah sampel responden pedagang diperoleh 30 responden.
Berdasarkan perhitungan di atas, maka proporsi sampel penelitian dapat diperlihatkan pada Tabel 3.
Tabel 3.
Jumlah Sampel Penelitian
No. Responden Populasi
1 Masyarakat 100
2 Pemilik Toko (Pedagang)
((Pedagang)
35
Jumlah Populasi 135
Pokok-pokok bahasan yang menjadi fokus dalam kajian penelitian ini adalah seperti yang terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Instrument Variabel Penelitian
No Variabel Indikator Kriteria
1 Tata guna lahan (land use) - Kesesuaian peruntukan - Panorama kawasan - Penetapan fungsi kawasan - Peruntukan fungsi kawasan 2 Massa dan bentuk bangunan
(bulding form and massing)
- Peraturan bangunan
- Tipologi dan karakteristik bentuk bangunan.
- Orientasi bangunan - Integrasi bangunan
3 Sirkulasi dan parkir
(circulation and parking)
- Kemudahan akses - Kenyamanan akses - Keamanan akses
- Kemudahan pencapaian - Kelayakan area parker - Penataan sirkulasi dan parkir Ruang terbuka (urban open
space)
- Kenyamanan - Ketersediaan ruang - Kelestarian alam
- ketersediaan ruang terbuka - Penataan lanskap dan
penyediaan Street Furniture 5 Jalur pejalan kaki (pedestrian
ways)
- Kemudahan akses - Kenyamanan akses
- Kemudahan pencapaian - Kelayakan pedestrian 6 Aktifitas penunjang (activity
support)
- Kenyamanan pengguna
- Kemudahan melakukan aktifitas
- Kelayakan fasilitas - Penambahan fasilitas 7 Tanda-tanda (signage) - Tata letak dan kejelasan
Informasi - Kejelasan informasi 100 99 , 99 2 ) 1 , 0 ( 254.904 1 254.904 x n 35 06 , 35 2 ) 1 , 0 ( 54 1 54 x n
95
8 Preservasi dan konservasi
(preservations and conservations)
- Keselarasan dan keserasian bangunan
- Kelestarian lingkungan - Kualitas visual lingkungan
- Kelestarian lingkungan fisik - Menjaga karakter spesifik
kawasan
Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup dimana responden menjawab pertanyaan dari jawaban-jawaban yang telah disediakan. Kuesioner terbagi atas 2 (dua) bagian, yaitu :
1. Kuesioner untuk masyarakat, menanyakan persepsi terhadap pemanfaatan ruang kawasan tepi sungai Krueng Aceh.
2. Kuesioner untuk pemilik toko (pedagang), menanyakan persepsi terhadap
kawasan tepi air
(waterfront) sungai Krueng Aceh
.4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Validitas
Berdasarkan hasil olah data melalui software Microsoft Excel, menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan dalam kuesioner seluruhnya valid. Dimana seluruh pernyataan memiliki nilai Rhitung > Rtabel, sehingga dapat dinyatakan valid.
4.2 Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil olah data melalui software Statistical Product and Service Solution (SPSS), menunjukkan seluruh variabel yang terdapat dalam kuesioner seluruhnya reliabel. Dimana seluruh variabel di dalam kuesioner telah memiliki nilai Conbrach’s Alpha lebih besar dari 0,6.
4.3 Pembahasan Pemanfaatan Ruang Publik Tepi Pantai Ulee Lheue
Berdasarkan hasil kuesioner, observasi dan wawancara yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan pembahasan. terhadap 4 (empat) faktor strategis yang menjadi landasan dalam melakukan analisis SWOT terhadap pemanfaatan ruang kawasan tepi sungai Krueng Aceh, yaitu :
1. Kekuatan, dengan total skor 4.00 a. Panorama kawasan, skor 0.73
Pemanfaatan kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan interaksi, rekreasi dan ruang publik telah sesuai dengan Qanun Kota Banda Aceh No. 4 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029 serta memiliki keunggulan pada lokasi yang strategis di pusat kota dan menawarkan keindahan panorama tepi air (waterfront) sungai.
b. Penetapan kawasan, skor 0,63
Penetapan kawasan sungai Krueng Aceh sebagai kawasan tepi air (waterfront) Kota Banda Aceh sesuai dengan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029. c. Peruntukan fungsi kawasan, skor 0,73
Peruntukan fungsi kawasan sungai Krueng Aceh sebagai kawasan tepi air (waterfront) Kota Banda Aceh sangat potensial untuk dikembangkan sesuai dengan Qanun Kota Banda Aceh No. 4 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029.
d. Kemudahan pencapaian, skor 0,73
Kawasan tepi sungai Krueng Aceh yang berada di pusat kota memiliki sarana dan prasarana jalan yang sangat mendukung kemudahan pencapaian.
e. Kenyamanan Berkunjung, skor 0,59
Kawasan tepi sungai Krueng Aceh memiliki potensi alam yang dapat memberi kenyamanan bagi masyarakat dalam berekreasi dan berinteraksi pada ruang-ruang terbuka di sepanjang tepi sungai. f. Qanun RTRW waterfront, skor 0,60
Qanun RTRW tahun 2009-2029 merupakan acuan dan arahan dalam mewujudkan penataan dan pengembangan kawasan tepi air Kota Banda Aceh sehingga mendorong terciptanya kualitas ruang perkotaan yang nyaman, aman, indah, dan menarik.
2. Kelemahan, dengan total skor 3,42 a. Orientasi bangunan, skor 0,73
96
Orientasi bangunan pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh seharusnya secara keseluruhan harus diupayakan beorientasi ke sungai, namun kondisi eksisting bangunan dilapangan belum termanfaatkan secara keseluruhan akan potensi sungai sebagai kawasan tepi air (waterfront) sungai Krueng Aceh.
b. Kelayakan jalur pedestrian, skor 0,95
Jalur pejalan kaki (pedestrian) pada kawasan tepi Sungai Krueng Aceh yang belum terkoneksi secara menyeluruh, masih ada bagian-bagian yang terputus..
c. Kelayakan fasilitas penunjang, skor 0,54
Fasilitas penunjang pada kawasan yang belum terlalu mendukung bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh.
d. Ketersediaan ruang terbuka, skor 0,64
Ketersediaan ruang terbuka sebagai sarana interaksi dan sarana rekreasi warga pada kawasan tepi sunga Krueng Aceh masih sangat kurang dan belum terencana dengan baik. Demikian juga dengan penataan lansekap, ketersedian taman, ketersediaan street furniture, dan jalur pedestrian yang belum memadai dalam menampung aktivitas warga pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh. Masih perlu dilakukan penataan dan pengembangan lebih lanjut.
e. Penataan lansekap dan penyediaan street furniture, skor 0,55
Penataan lansekap dan penyediaan street furniture pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh belum terlaksana dengan baik, masih minimnya ruang terbuka, jalur hujai yang belum tertata dengan baik, dan street furniture belum memenuhi kebutuhan aktivitas warga.
3. Peluang, dengan total skor 3,74 a. Ketersediaan pedestrian, skor 0,37
Kelayakan pedestrian pada kawasan sepanjang tepi sungai Krueng Aceh yang sudah memadai, meskipun masih ada bagian yang terputus membuka peluang untuk dilakukan penataan kembali. b. Penghijauan kawasan, skor 0,41
Penghijauan kawasan tepi Sungai Krueng sejauh ini terus diupayakan kearah yang lebih baik dengan penanaman pepohonan yang teduh dan rimbun sehingga memciptakan keteduhan dan kenyamanan bagi pejalan kaki
c. Kelestarian lingkungan fisik, skor 0,63
Kelestarian lingkungan fisik (bangunan) pada kawasan sungai Krueng Aceh yang harus dijaga dan dipelihara keberadaannya untuk menjaga karakter spesifik kawasan
d. Penambahan fasilitas, 0,63
Keberadaan fasilitas penunjang pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh yang harus dibangun dan dilakukan penataan.
e. Pengembangan fungsi kawasan, skor 0,64
Penataan dan pengembangan fungsi kawasan tepi sungai Krueng Aceh yang masih sangat potensial untuk dikembangkan dalam mewujudkan kota Banda Aceh sebagai waterfront city
f. Orientasi fasade toko, skor 0,53
Orientasi bangunan (fasade toko) ditata kembali menghadap kearah sungai sehingga dapat memaksimalkan view sungai.
g. Penataan lahan, skor 0,53
Penataan kembali lahan yang terbengkalai pada kawasan area bangunan yang membelakangi sungai. 4. Ancaman, dengan total skor 3,53
a. Penataan dan pengelolaan, skor 0,71
Penataan dan pengelolaan kawasan tepi sungai Krueng Aceh yang belum maksimal dalam mewujudkan kawasan tepi air (waterfront) sungai Krueng Aceh.
b. Penanganan kebersihan, skor 0,53
Penanganan kebersihan yang belum terlaksana dengan baik khususnya pada kawasan bangunan yang membelakangi sungai.
97
Akibat dari bangunan yang tidak teratur dan tidak tertata dengan baik menyebabkan kekumuhan kawasan pada tepi sungai Krueng Aceh.
d. Integrasi kawasan, skor 0,69
Integrasi bangunan pada kawasan sungai krueng aceh yang belum sepenuhnya menyatu dengan lingkungan sungai.
e. Kejelasan informasi, skor 0,72
Penempatan elemen tanda (signate) pada kawasan tepi sungai krueng aceh yang belum mencirikan keunikan dan kekhasan kawasan.
4.4 Perumusan Manajemen Strategi Dengan Analisis SWOT
Dari pembahasan terhadap 4 (empat) faktor strategis, maka dapat dihitung luas dari tiap kuadaran untuk merumuskan manajemen strategi optimasimalisasi pemanfaatan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront city dalam upaya meningkatkan wajah dan ruang kota seperti pada Gambar 1 dan Tabel 5.
Gambar 1. Perumusan Strategi Matriks SWOT Tabel 5. Penentuan Posisi Strategi
No.
Kuadran
Posisi Titik
Luas
Ranking
Strategi
1
Kuadran I
A (4.00 ; 3.74)
14,96
1
S-O
2
Kuadran II
B (4.00 ; -3.53)
14,13
2
S-T
3
Kuadran III
C (-3.42 ; 3.74)
12,79
3
W-O
4
Kuadran IV
D (-3.53 ; -3.42)
12,08
4
W-T
Dari hasil perhitungan luas masing-masing kuadran membuktikan bahwa posisi analisis SWOT atas manajemen strategi terletak di posisi kuadran I dengan nilai 14.96, sehingga dapat diterapkan strategi S-O atau strategi agresif (strategi bertumbuh).
4.5 Strategi Agresif (S-O) Terhadap Ruang Tepi Sungai Krueng Aceh
Strategi agresif merupakan pertemuan antara elemen kekuatan dan peluang sehingga memberikan kemungkinan bagi tepi kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront city Kota Banda Aceh untuk ditata dan dikembangkan sehingga kawasan ini menjadi daya tarik bagi warga dalam
III I C A 3,42 4,00 -D B IV II A (4.00 ; 3,74) 3,53 -3,74 Opportunity Weakness Strength Threat
98 berinteraksi dan berekreasi.
1. Mengeluarkan regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) sebagai turunan dari RTRW Kota Banda Aceh 2009-2029 yang mempertegas fungsi kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront dan melaksanakannya sebagai guidelines secara konsekuen.
2. Mengoptimalkan penataan kawasan dengan melakukan perencanaan teknis oleh dinas teknis terkait terhadap zona-zona pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh untuk memaksimalkan potensi peruntukan kawasan tepi air (waterfront).
3. Mengoptimalkan fungsi dan pemanfaatan ruang pada kawasan sungai Krueng Aceh sebagai ruang terbuka publik yang rekreatif, nyaman, aman, dan menarik bagi warga, memperkuat karakter dan wajah kota, dan menghidupkan kawasan koridor sungai, serta meningkatkan kualitas lingkungan kawasan tepi sungai Krueng Aceh;
4. Meningkatkan dan memperbanyak ketersediaan ruang terbuka (urban open space) pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront city dengan melakukan pembangunan terhadap fisik kawasan oleh dinas teknis terkait dengan melengkapi sarana dan prasarana sebagai pendukung kegiatan (activity support) dalam mendukung aktivitas masyarakat dalam kawasan dan melakukan pemeliharaan secara berkala.
5. Mengoptimalkan aksesibilitas jalur pejalan kaki (pedestrian ways) dengan merencanakan luasannya sesuai dengan standar pergerakan manusia, bernuansa rekreatif sehingga nyaman (comfortable) bagi pemakai.
6. Meningkatkan kenyamanan dengan penataan lanskap dan penanaman pepohonan sebagai peneduh dan estetika pada tepi sungai Krueng Aceh agar kawasan koridor sungai dapat dinikmati dan menarik bagi masyarakat.
7. Pengembangan kawasan tepi air yang linkage (tautan) dengan pusat kota bertujuan untuk menciptakan interaksi antara kawasan tepi air Krueng Aceh dengan ruang perkotaan.
8. Pemanfaatan kawasan tepi air yang terintegrasi (integrated) dengan kawasan sekitar guna tercapainya pembangunan kawasan tepi sungai secara berkelanjutan.
9. Meningkatkan kebersihan kawasan khususnya pada area pertokoan yang membelakangi sungai yang banyak dipenuhi sampah-sampah sehingga tidak terjadi pemandangan kumuh bagi kawasan tepi sungai Krueng Aceh.
10. Meningkatkan manajemen pengelolan dan pengawasan dalam penataan dan pengembangan kawasan tepi air (waterfront) sungai Krueng Aceh sesuai dengan teori elemen perancangan kota, dan prinsip-prinsip perancangan kawasan tepi air serta RTRW Kota Banda Aceh tahun 2009-2029.
4.6 Pemilihan Manajemen Strategi
Penentuan manajemen strategi untuk dilaksanakan ditentukan berdasarkan hasil analisis SWOT yang sudah dilakukan sebelumnya. Pemilihan strategi sesuai dengan kebutuhan dari hasil kuisioner dan wawancara kepada pejabat ahli serta kepada pemilik toko. Pemilihan strategi didasarkan pada bobot paling besar untuk kebutuhan kepentingan internal dan eksternal, dan dipilih 3 (tiga) alternatif strategi berdasarkan kebutuhan. Dalam kesempatan ini, penulis memberikan 3 (tiga) alternatif strategi berdasarkan analisis SWOT yang dapat dilaksanakan. Adapun alternatif strategi yang dipilih adalah :
1 Mengeluarkan regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) sebagai turunan dari RTRW Kota Banda Aceh 2009-2029 yang mempertegas fungsi kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront dan melaksanakannya sebagai guidelines secara konsekuen.
2 Mengoptimalkan penataan dan pengembangan fungsi kawasan dengan melakukan perencanaan teknis oleh dinas teknis terkait terhadap zona-zona pada kawasan tepi sungai Krueng Aceh untuk memaksimalkan potensi peruntukan kawasan tepi air (waterfront), sehingga pemanfaatan ruang pada kawasan sungai Krueng Aceh sebagai ruang terbuka publik yang rekreatif, nyaman, aman, dan menarik bagi warga, memperkuat karakter dan wajah kota, dan menghidupkan kawasan koridor sungai, serta dapat meningkatkan kualitas lingkungan kawasan tepi sungai Krueng Aceh.
3 Meningkatkan manajemen pengelolaan dan pengawasan dalam penataan dan pengembangan kawasan tepi air (waterfront) Krueng Aceh sesuai dengan teori elemen perancangan kota, dan prinsip-prinsip perancangan kawasan tepi air serta RTRW Kota Banda Aceh tahun 2009-2029.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
99
Berdasarkan kajian dan analisis dari pembahasan pada bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Sungai Krueng Aceh yang berada di pusat Kota Banda Aceh memiliki peran yang strategis dalam mendukung aktivitas perkotaan dan memiliki potensi keindahan yang besar dalam pembentukan wajah Kota Banda Aceh sehingga kawasan ini bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang terbuka publik yang rekreatif, nyaman, aman, dan menarik bagi warga..
2. Kawasan Sungai Krueng Aceh telah ditetapkan sebagai kawasan waterfront city dalam Qanun Kota Banda Aceh No. 4 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029, namun dalam pemanfaatan masih berjalan secara optimal dan belum dikelola secara maksimal sebagai perwujudan kawasan tepi air Kota Banda Aceh. Optimasilisasi penataan dan pengembangan kawasan tepi sungai Krueng Aceh sangat penting untuk dilaksanakan karena akan memberi citra positif tehadap posisi kawasan sebagai ruang terbuka yang strategis yang berada di pusat Kota Banda Aceh.
3. Ketersediaan ruang terbuka publik, pedestrian, taman, ruang terbuka hijau, street furniture pada kawasan tepi sungai krueng aceh perlu ditingkatkan sehingga dapat mendukung aktifitas masyarakat pada kawasang tepi sungai.
4. Berdasarkan analisis SWOT, dapat disimpulkan bahwa :
a. Perlu adanya regulasi (peraturan daerah) yang mengatur mengenai penataan dan pengembangan kawasan tepi sungai Krueng Aceh sebagai kawasan waterfront city, khususnya mempertegas fungsi tata guna lahan kawasan dan melaksanakannya sebagai guidelines secara konsekuen.
b. Melakukan perbaikan manajemen pengelolaan dan pengawasan dalam penataan dan pengembangan kawasan tepi sungai Krueng Aceh sesuai dengan peruntukannya sebagai kawasan waterfront city Kota Banda Aceh.
5.2 Saran
Dari penelitian yang dilakukan dapat diberkan saran dan masukan antara lain :
1. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan tepi sungai Krueng Aceh melalui penataan dan pengembangan kawasan merupakan salah satu potensi yang perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari pemangku kepentingan (stakeholder), sehingga kawasan tepi sungai Krueng Aceh bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang terbuka publik yang rekreatif, nyaman, aman, menarik bagi warga. memperkuat karakter dan wajah kota, menghidupkan kembali kawasan koridor sungai, menciptakan sense of place pada kawasan serta meningkatkan kualitas lingkungan kawasan tepi sungai Krueng Aceh.
2. Penataan dan pengembangkan waterfront city sungai Krueng Aceh memerlukan dokumen perencanaan (masterplan) sebagai landasan dan acuan secara teknis dan detail dalam pelaksanaan pembangunan kawasan. 3. Perberdayaan dan keterlibatan seluruh stakeholder, yaitu masyarakat sebagai pengguna ruang publik, pihak
swasta yang berkepentingan, dan peran pemerintah harus ditingkatkan sehingga penataan dan pengembangan kawasan tepi air (waterfront) sungai Krueng Aceh yang dilakukan bisa berjalan dengan optimal dan berdampak terhadap masyarakat Kota Banda Aceh.
DAFTAR PUSTAKA
Breen, Ann dan Dick Rigby. 1996. The New Waterfront, A Wordwide Urban Success Story. London: Thames and Hudson.
Budihardjo, E. 1991, Arsitektur dan Kota di Indonesia. Bandung. Alumni.
Carr, S. 1992. Public Space. United States of America: Cambridge University Press.
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Penataan Ruang. 2014. Pedoman Pemanfaatan Ruang Tepi Pantai di Kawasan Perkotaan. Jakarta.
Echols, M, John dan Shadily, H. 2003. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia. Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Penerbit Swadaya. Jakarta
100
Pemerintah Kota Banda Aceh. 2009. Qanun Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029. Banda Aceh.
Pemerintah Kota Banda Aceh, dan GTZ-SLGSR. 2008. Pedoman Pengembangan Krueng Aceh Segmen II. Banda Aceh.
Rangkuti, F. 2005. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Shirvani, H. 1985. The Urban Design Process. Van Nostrand Reinhold. New York.