155
SEJARAH BRUDERAN FRATUM IMMACULATE CONCEPTIONIS
(FIC) DI AMBARAWA PADA TAHUN 1900-AN
HINGGA TAHUN 1954
Eduardu Angga Yogatama1, Emy Wuryani2
12Pendidikan Sejarah
[email protected],[email protected]2
ABSTRAK
FIC adalah salah satu Ordo Bruder yang ada di Indonesia. Dibawa dan berada dibawah naungan SY. FIC mulai masuk di Indonesia mulai tahun 1900 dan salah satunya ada di Ambarawa. FIC bergerak dalam bidang kemanusiaan khususnya dalam dunia pendidikan dan asrama. Asrama yang ada salah satunya adalah asrama Sint Louis Ambarawa sebuah asrama yang berdiri pada tanggal 8 agustus 1928. Dapat dikatakan FIC sebuah organisasi misionaris yang ingin mengangkat anak-anak Jawa pada masa penjajahan Belanda dengan cara memberikan pendidikan. Serta FIC dan asrama Sint Louis adalah tonggak pendidikan pertama yang maju di Ambarawa pada waktu itu. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan bagaimana sejarah awal berdirinya FIC Ambarawa. metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi 4 tahap yaitu; heuristik,kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah. Hasil dari penelitian ini adalah FIC berdiri pada bulan November 1926 di Yogyakarta yang dihadiri oleh Pastur Hoeberechts superior misi, Pastur Van Kelken dari Ambarawa, Pastur Van Baal, Pastur Starter dan Pastur Bijstervled atas nama Yayasan Kanisius. Yang menghasilkan persetujuan berdirinya HIS dan MULO sebagai embrio FIC di Ambarawa.
Kata Kunci: FIC, Sint Louis, Asrama
LATAR BELAKANG
Pada abad 19 Indonesia masih dalam masa kolonialisasi bangsa Belanda. Kolonialisasi ini dipandang sebagai suatu kekejaman yang dilakukan oleh pihak Belanda terhadap Indonesia. Walau begitu dalam kolonialisasi tidak semua hal yang dilakukan oleh Belanda adalah suatu kekejaman. Ada pengaruh baik dari kolonialisasi bangsa Belanda salah satunya adalah adanya kaum missionari yang siap melayani dan berkarya dalam hal keagamaan Kristen.
Kaum Missionaris yang hadir di Indonesia terbagi dua yaitu; Katolik dan Protestan. Khusus Katolik pada awal abad ke-20 mengalami perkembangan luar biasa di tanah air. Banyak tokoh besar lahir seperti Mgr. Soegijapranoto, Van Lith, Jacob Mertens, Ignatius Kasimo dan sebagainya. Secara kebetulan mereka berkarya tidak jauh dari Ambarawa, seperti: Muntilan, Jogja, dan Semarang.
Berawal dari permohonan Societas
Jesus (Serikat Yesus) untuk membantu
perwakilan misi di Jawa, maka Dewan Umum gereja di Maastricht Belanda menerima permohonan tersebut. Dipilihlah para Bruder untuk berkarya di Jawa dan khususnya di Ambarawa. Pada tahun 1928
para Bruder yang di pilih ini mulai mewujudkan karyanya. Karya tersebut berupa pendidikan termasuk didalamnya asrama untuk anak yatim piyatu. Bruderan tersebut kemudian diresmikan pada tanggal 8 Agustus 1928 oleh Mgr Van Velsen dan Pastor Kalken dan diberi nama bruderan Sint.Louis.
Beruderan ini berada di jalan Mgr.Soegiyapranata no 191 Ambarawa, berada antara di jalan antara Semarang-Yogyakata dan memiliki tempat yang sangat strategis serta berada dekat dengan Gereja Santo Yusuf Ambarawa. hal tersebut karena untuk mempermudah aktivitas keagamaan para Bruder.
Pada masa Perang Dunia II Jepang menguasai Indonesia termasuk Bruderan ini. Para Bruder diasingkan ke Camp di Cimahi dan Pandu Bandung, hanya ada 1 bruder yang tidak diasingkan ke Camp yaitu Bruder Ornek karena dia merupakan keturunan Indo
Kemudian pada tanggal 19 September 1944 Bruderan ini menjadi kamp Ambarawa VIII. Dengan demikian asrama Sint.Louis tidak terpelihara dan barang-barang yang ada hilang serta terdapat banyak kerusakan. Pada tanggal 26 Februari 1948 Bruder Celcus datang ke Ambarawa
156 dan memulai tugas untuk menata kembali
Bruderan yang rusak. Kegiatan mulai tampak ketika Bruder Gonzaldus tinggal di Ambarawa dan mempersiapkan tempat untuk para yatim piatu menghuni asrama tersebut. Para Bruder saat ini berkarya dalam bidang pendidikan di antaranya di Sekolah Dasar (Sd) Pangudi Luhur Ambarawa, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pangudi Luhur Ambarawa, dan Asrama Sint. Louis
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana proses berdirinya Bruderan Sint Louis Ambarawa?
TINJAUAN PUSTAKA
1. Bruder
Bruder adalah anggota penuh dari ordo atau organisasi pria, tetapi bukan imam dan tidak mempersiapkan diri untuk menjadi imam. Bruder adalah panggilan khusus yang tidak memiliki sangkut pautnya dengan imamat. Bruder mengamalkan hidup kristiani sekonsekuen mungkin dengan memberi teladan kenabian baik dengan hidup maupun berkarya menurut kharisma lembaga masing-masing. (A. Heuken, ii, 2005: 212)
2. Misionaris
Misionari berasal dari kata misi yang berarti tujuan. Terselenggaranya misi ini untuk penyebaran agama Katolik Roma. Dahulu di Jawa penyebaran agama ini berhubungan dengan kolonial Belanda yang menduduki nusantara yang kemudian penyebaran agama ini justru dijadikan bangsa kolonial sebagai alat untuk ekspansi Misionari dapat diartikan sebagai pengutusan manusia oleh Allah untuk mewartakan kabar sukacitaNya. Menjadi Katolik sama artinya menjadi seorang misionari. Tidak boleh satu anggota gereja yang tinggal pasif saja dalam pewartaanNya. Konsili Vatikan menekankan, bahwa “panggilan sebagai orang Kristen pada pokoknya panggilan pada kerasulan” (Dekret tentang Kerasulan Awam, nr. 2). Makna Kerasulan Awam adalah orang biasa (awam) yang ikut melayani seturut pengutusan oleh Allah (Kursus Kader Katolik Sekretariat Nasional K.M/C.L.C,1971: 6-7).
3. Pastor
Pastor berasal dari bahasa Latin berarti gembala. Pastor adalah sebutan bagi seorang imam gereja Katolik Roma yang menjadi pimpinan sebuah paroki. Mereka ditahbiskan resmi oleh uskup. Di Indonesia mereka biasa disebut romo atau pater (FD. Wellem, 2009: 327).
4. Ordo
Ordo berarti perkumpulan. Ordo dalam agama Katolik disebut sebagai ordo rahib. Ordo rahib mempunyai arti secara harafiah yaitu perkumpulan para guru. Guru dalam artian ini adalah pewarta kerajaan Allah. Ordo rahib pertama yang terbentuk adalah Ordo Benedictin dengan menuntut tiga janji kepada anggotanya yaiu: Kemiskinan, kesucian, kesucian kelamin dan ketaatan (H. Berkof, 1986: 74).
Katolik mempunyai biarawan (karya dan pelayanan iman) yang terdiri dari imam, Bruder dan Suster. Imam terbagi antara dua yakni diosesan dan anggota ordo. Biarawan laki-laki yang tergabung dalam ordo beranggotakan imam dan Bruder, para Brudernya memusatkan perhatian pada karya praktis semisal berkebun, pertukangan kayu, keterampilan pandai besi dan tugas serupa. Konggregasi yang secara eksklusif didirikan untuk para Bruder atau Suster biasanya memusatkan perhatian pada pendidikan atau karya kesehatan (Karel Steenbrink, 2006: 849-850).
Ordo juga dapat berarti serikat kebiaraan yang diakui oleh Paus. Anggota-anggotanya hidup sesuai dengan aturan tertentu dan hukum gereja. Ordo terdiri dari ordo untuk laki-laki dan ordo untuk perempuan (FD. Willem 2009: 319-320). 5. Yesuit (Societas Jesus)
Societas Jesus didirikan di Paris tahun
1534 oleh Santo Ignasius dari Loyola dan disahkan pada tahun 1540 oleh Paulus III. Tujuan dari Ordo ini adalah pengabdi kepada Allah dibawah ‘Panji salib’ dan hanya melayani Tuhan dan GerejaNya dengan membela dan menyebarluskan iman serta memajukan umat dalam hal ajaran dan hidup Kristiani.
Societas Jesus merupakan ordo pertama
yang tidak menggunakan pakaian khas dan tidak berbeda ibadat harian bersama-sama, supaya para anggota dapat bergerak lebih leluasa dan memiliki semboyan Ad Mairorem Dei Gloriam yang berarti Demi
157 lebih besarnya kemuliaan Allah. (A.
Heuken, vii,2005: 39).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodesejarah.metode ini meliputi 4 tahap yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah. Metode Heuristik adalah tahap pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, studi dokumen, studi pustaka, observasi. Studi dokumen dan studi pustaka dilakukan di Bruderan FIC Ambarawa dan Keusukupan Agung Semarang. Wawancara kepada Bruder Herman dan Bruder Tri Hariadi dan observasi di Bruderan FIC Ambarawa. Setelah tahap pengumpulan data akan dilakukan kritik sumber terhadap sumber data yang telah dikumpulkan. Kritik sumber dilakukan agar data yang sudah dikumpulkan dapat teruji tingkat kebenarannya. Setelah dilakukan kritik sumber terhadap sumber akan dilakukan tahap intepretasi dengan pendekatan diskriptif analitis. Setelah tahap terlewati akan dilakukan penulisan sejarah.
HASIL PENELITIAN
1. Munculnya pengaruh Agama Katolik di Jawa Tengah
Agama Katolik berkembang di pulau Jawa pada abad ke-18 akhir yaitu dengan dibentuknya suatu Vikaris Apostolik. Vikaris Apostolik Batavia pertama dipimpin
oleh seorang pastur Belanda W.J. Staal, SJ pada tahun 1893 (Heuken, 2009:124).
Tahun 1900 mayoritas terbesar orang Katolik di Pulau Jawa adalah orang-orang Eropa atau Eurasia. Di Batavia orang-orang Katolik pribumi dan China. Ketika tahun 1800an sampai memasuki tahun 1900 awal belum ada seorang pastur yang berasal dari orang pribumi. Pastur-pastur saat itu masih dari orang-orang Belanda hanya berjumlah 159 jiwa, sementara ada 6895 orang Katolik Eropa. Jumlah ini menjadi 1859 dan 15803 jiwa untuk tahun 1941. Ini berarti kurang dari 10% orang Katolik di Batavia yang keturunan Cina dan pribumi Indonesia (Steenbrink, 2006: 591).
Persebaran agama Katolik di Jawa Tengah sendiri terjadi pada abad ke-19, Agama Katolik mulai masuk dan berkembang di Jawa Tengah diajarkan
melalui seorang Misionaris Belanda bernama Romo Fransiscus van Lith, SJ. Pada tahun 1896, sebelum berkarya di Muntilan Romo Fransiskus van Lith sempat berkarya di paroki Ambarawa. Romo van Lith juga belajar Bahasa Jawa dan kota Ambarawa menjadi salah satu tempat belajar bahasa Jawa selain di Muntilan. Romo van Lith ini juga sukses menyesuaikan Katolik dengan kebudayaan Jawa sehingga mudah diterima masyarakat Jawa. Pada tahun 1896, Salatiga masih merupakan bagian dari paroki Ambarawa karena saat itu Salatiga memiliki jumlah umat yang sedikit (Supervisi KAS, 2012: 1). Setelah menetap di Muntilan Romo van Lith tetap mengunjungi Ambarawa (Kantor Wali Gereja, 1974: 848).
2. FIC
FIC adalah sebuah Ordo/kongres Bruder yang berada dibawah naungan Ordo SJ para pastur yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan pendidikan. didirikan pada Tahun 1840 oleh Pastor Ludovicus Rutten, pendiri kongres para Bruder FIC di Maasteicht di Belanda. Berawal dari keprihatinan Pastor Ludovicus Rutten tentang orang muda yang terlantar, tidak mendapat perhatian dari orang tuanya, karena orang tuanya sangat sibuk bekerja sehari-hari di pabrik-pabrik, maka dari situlah mulai didirikan taman kanak-kanak dan kemudian berkembang sekolah-sekolah Bruder di Maastricht dan kemudian menyebar ke daerah daerah lain (Sayur Lodeh FIC,2006: 3-4).
Untuk memenuhi guru-guru di sekolah terkait, FIC membuka sekolah guru khusus bagi pemuda pemuda yang akan menjadi Bruder. Praktis semua Bruder FIC adalah guru. Di sekolah yang di kelola FIC pasti ditangani oleh Bruder. Tahun 1920 FIC kemudian diundang oleh Pastur-Pastur Yesuit untuk datang ke Yogyakarta untuk membicarakan pembukaan sekolah-sekolah Bruderan. Dan hasil dari pertemuan tersebut didirikanlah sekolah bruderan FIC di Yogyakarta beralamat di jalan Panembahan Senopati no 18 kampung Yudonegaran RT.09, RW.01 kelurahan Prawirodirjan kecamatan Gondomanan
3. Misi FIC di Ambarawa
Berawal dari Misi FIC di Indonesia berkat pernan dari ordinarius atau yang sering dikenal dengan pejabat gereja yaitu
158
Vikaris Apostolik betawi atau sering dikenal
dengan nama Uskup, yang pada saat itu bertempat di Batavia (sekarang Jakarta). Uskup yang menjabat yaitu Mgr. E Luypen mulai tahun 1918, hingga tahun 1923 digantikan oleh Mgr. A van Valsen. (Donum Desursum: 1980: 67)
Pada tahun 1919 para Yesuit hanya memegang pulau Jawa saja tetapi beberapa bagian pulau Jawa juga diserahkan kepada tenaga yang lain, hingga pada akhirnya Yesuit hanya memelihara Jawa Tengah dan Kota Batavia. Dalam Vikariat Apostolik
Betawi justru Ambarawa kota yang kecil di
Jawa Tengah sudah memiliki seorang Pastur di tahun 1859 yang memiliki imam sekuler bernama Franssen dan digantikan oleh seorang Pastur Yesuit 1862. Sejak 1862 Ambarawa dipegang oleh Pastur Yesuit. (Donum Desursum: 1980: 68)
Pada tahun 1886 Mgr. Vrancken melaporkan kepada kongres untuk perkembangan iman di Roma bahwa tahun 1862 terdapat 1679 orang katolik di daerah Ambarawa yang meliputi: Ambarawa, Salatiga, Surakarta, Madiun, dan Pacitan. Hingga tahun 1900 terdapat 1667 orang katolik yang sebagian bercampur antara orang Eropa dan keturunan campuran atau Indo.
Pada tahun 1918 hingga 1920 keusukupan Agung Semarang mengambil alih wilayah Ambarawa karena pada waktu itu Semarang sebagai pusat keuskupan agung dan Ambarawa masuk kedalam wilayah Semarang. Tahun 1920 terjadi perubahan besar besaran yang menjadikan Ambarawa sebagai pusat misi baru yaitu Pastur Van Kalken pastur pindahan dari Muntilan yang ingin menciptakan suatu pusat pendidikan katolik di Ambarawa dengan mengambil Muntilan sebagai contoh. Pada tahun 1921 berdirilah sekolah
Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan
mulai berkembang tetapi hanya memiliki Guru-guru dari Jawa. Tetapi Pastur Van Kelken tetap memikirkan bagaimana menarik para Bruder agar datang ke Ambarawa supaya meningkatkan mutu dan nama HIS. Pastur Van Kelken mulai memikirkan cara dan timbullah sebuah ide untuk yaitu mendirikan HIS dan MULO berasrama.
Pada bulan November 1926 diadakan rapat yang lebih resmi di Yogyakarta, yang
dihadiri oleh Pastur Hoeberechts superior misi, Pastur Van Kelken dari Ambarawa, Pastur Van Baal, Pastur Starter dan Pastur Bijstervled atas nama Yayasan Kanisius. Mereka bertemu dengan overste beserta penasehat dari Yogya dan Muntilan. Setelah diadakan rapat tersebut dan menghasilkan suatu persetujuan yaitu akan didirikanya sekolah HIS dan MULO berasrama di Ambarawa.
Pada tahun 1928 Dewan Umum mengangkat suatu “Panitia Ambarawa” dan Dewan Umum mendatangkan Para Bruder dari Maastrich untuk bertanggung jawab atas “Panitia Ambarawa”. para Bruder yang didatangkan adalah Bruder Ivo, Bruder Victorinus, dan Bruder August. Para bruder ini mulai menjadikan Ambarawa sebagai
Overste pertama. Pada bulan April 1928
para Bruder menduduki bekas sekolah KPP dan pada bulan yang sama Nederland mengirim delapan Misionaris baru berjumlah delapan orang. Maka jumlah Bruder FIC menjadi 38 orang (Donum Desursum: 1980: 72)
Pada tanggal 19 Juni 1928 dianggap sebagai hari jadi komunitas Ambarawa. Tanggal 30 Juni 1928 mulai masuk 17 orang anak putera untuk berasrama, diantara mereka ada 4 anak Jawa. Tetapi pertemuan tersebut dianggap kurang memuaskan karena ketidakpercayaan diri para Bruder apakah mampu membina anak-anak keturunan Belanda. Awalnya mereka hanya akan membina dan membantu anak anak Jawa. Pada tanggal 8 Agustus 1928 Institut Sint Louis resmi dibuka oleh Mgr. Van Velsen dan dihadiri oleh Pastur Van Kelken, disaat itu pastur Van Kelken menggambarkan bahwa Sint Louis adalah lembaga yang amat penting.
4. FIC pada masa kedudukan Jepang
Pada tanggal 1 September 1939 menjadi awal pecahnya perang dunia kedua di Eropa. Pada tanggal 1939 Inggris dan Prancis secara resmi mengumumkan bahwa negaranya sedang dalam keadaan perang. Tanggal 8 Desember 1941 pukul 3 pagi kabar Jepang menyerang Pearl Harbour diterima di Batavia dan empat jam kemudian Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Kabar keberhasilan Jepang terus berkumandang di radio-radio.
1 Maret 1942 Jepang mendarat di Jawa dan tanggal 8 Maret 1942 Letnan Jendral
159 Ter Poorten menyerahkan kekuasaan
Belanda kepada Jepang. Hal ini menjadi ancaman bagi para Bruder di Indonesia mengingat Jepang tidak simpati terhadap Bangsa Barat. Selang dua minggu setelah Jepang mengambil alih kekuasaan, para Bruder dilarang mengajar HIS,
Schakelschool, dan MULO. Bahasa
Belanda dilarang dan para Bruder dilarang melakukan semua aktifitas kegiatan sekolah. Mulai terjadi pelarangan pelarangan terhadap simbol simbol Belanda termasuk perusakan-perusakan gedung sekolah dan kapel. Hal tersebut mulai terjadi menyeluruh di seluruh pulau Jawa mulai dari Solo, Semarang, Ambarawa, Muntilan, Jogja.
Pada Maret 1942 Jepang di bawah Letnan Jendral Imamura mulai membatasi kebebasan orang-orang Belanda termasuk para Bruder, serta melarang aktifitas-aktifitas pekerjaan di sekolah. Tanggal 28 Juni 1942 sepuluh Bruder di solo mulai diinternir oleh Jepang. Mereka ditempatkan di sebuah “Ziekenzorg” atau sebuah bekas rumah sakit di Mangkubumen Solo. Hingga taggal 5 Agustus semua tawanan masuk truk dan di bawa menuju Stasiun Balapan dan dibawa menuju timur menggunakan kereta api dan dibawa menuju Kesilir Banyuwangi. Pada tanggal 25 Juli 1942 para Bruder dibawa oleh tentara Jepang berjumlah 7 orang dan dibawa menuju Semarang. Pada Minggu pagi 2 Agustus 1942 para Bruder dan Frater sebagai tawanan Jepang mulai dibariskan dan dibawa berjalan kaki dari Karang Panas, menuju Tanah Putih, hingga terus ke utara menuju stasiun Tawang (Donum Desursum: 1980: 145)
Di Ambarawa masih terdapat para Bruder yang lolos dari pantauan para tentara Jepang dan tidak tertangkap, yaitu Bruder Rodulfus, Bruder Constantio dan Bruder Dismas Ornek seorang Bruder Indo-Eropa. Karena Sint Louis dianggap tidak aman maka bulan Juli 1942 para Bruder meninggalkan Sint Louis dan bersembunyi di Normaalschool, sekolah guru, di dekat Gereja Santo Yusuf. Pada bulan Agustus 1943 tawanan dari Kesilir Banyuwangi dipindahkan kembali menuju Jawa Tengah yaitu Semarang. Dari Semarang para Bruder dibawa menuju Ambarawa, dan dari Ambarawa dibawa menuju Banyubiru.
Sedangkan di Ambarawa sendiri mulai menerima tawanan dari daerah Kesilir tahun 1943 para Bruder ditempatkan di bekas benteng Williem II disini para tawanan terkena wabah disentri karena tempat yang kotor dan aktifitas MCK hanya di satu tempat saja. Para Bruder hanya diberi makan satu kali saja hanya ubi di pagi hari.
Awal tahun 1944 Jepang mulai memusatkan Tawanan menuju ke Jawa Barat, pemindahan tawanan menuju Jawa Barat merupakan kaitannya dengan perkembangan perang di Indonesia. Para tawanan dipindahkan menuju kamp Cimahi Bandung pada bulan Oktober 20 tahun 1944 20 orang tawanan dari kamp Cimahi dipindahkan menuju kamp Baros, sebelah barat Bandung, tidak jauh dari Cimahi. 20 tawanan yang ikut dipindahkan salah satunya ada Bruder Celcus. Di Boros para tawanan ditempatkan di Bat 15. Bat 15 dapat dikatakan sebuah kamp tetapi seperti kota yang berdiri sendiri. Disini para tawanan bercampur jadi satu dengan tawanan sipil lain (Non Biarawan). Mereka bekerja membangun jalan kereta api di daerah Cicalengka Hingga tanggal 15 Agustus tahun 1945 berita kekalahan Jepang mulai terdengar tetapi Jepang bungkam. Kegembiraan mulai terlihat dari para tawanan. Sampai tanggal 22 Agustus para Bruder bebas dari kamp Jepang di Jawa Barat.
5. FIC di bawah kemerdekaan Indonesia
Tahun 1946 merupakan tahun “cuti
rekupilasi” bagi para Bruder, yaitu cuti
untuk memulihkan kesehatan bagi para Bruder. Pada bulan Januari-November rombongan Bruder dari ex-kamp diberangkatkan dari Tanjung Priuk untuk kembali ke Eropa. Ada 45 orang Bruder yang dipulangkan menju Eropa dan diikuti oleh ribuan Interniran non Biarawan yang ikut dipulangkan.
Pada tanggal 14 september 1946 Bruder Neo tiba di Semarang untuk melihat keadaan di Indonesia Pasca Kemerdekaan. Di tahun 1947 pulau Jawa kembali kedatangan 23 Bruder dan Nederland dan 21 Bruder di tahun 1948. Dari kesemua Bruder tersebut ada 8 orang Bruder baru pertama kalinya datang di Indonesia. Pada waktu itu Jawa Tengah dibagi menjadi dua
160 bagian, bagian utara dikuasai Belanda dan
bagian selatan dikuasai Republik Indonesia Di Semarang, Bruder Neo dan Bruder lainnya menemukan rumah Bruderan yang masih ditempati, dipakai sebagai perumahan bagi pegawai, pendatang baru, dan pengungsi dari wilayah republik. Para Bruder menghuni rumah bercorak Hindia yang berdampingan dengan Bruderan. Sebelum gereja Katedral dibangun rumah tersebut digunakan sebagai Paroki Randusari.
Jawatan Pengajaran Belanda berusaha secepat mungkin menciptakan “ sekolah pemulihan” berbahasa Belanda, untuk menolong anak-anak yang sudah lama tidak dapat masuk sekolah. Perjuangan Bruder Neo untuk menghidupkan kembali sekolah katolik didukung penuh oleh Yayasan Kanisius dan komisariat Pusat Misi di Jakarta maka pada akhir tahun 1947 semua orang tua murid menerima surat edaran untuk menjelaskan apakah mereka mimilih sekolah misi. Pada akhir tahun 1947 kurang lebih ada 30 bruder mengajar pada Sekolah Rakyat (SR) Belanda di Semarang. Untuk Sekolah Rakyat (SR) Indonesia jawatan pengajaran Indonesia tidak menempatkan Bruder pada sekolah tersebut. Anak-anak Jawa jarang sekali masuk sekolah Belanda, sekolah biasa maupun sekolah pemulihan. Mereka akan sekolah di Sekolah Rakyat (SR) dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
Di awal Tahun 1948 daerah Belanda diperluas dan kemanan di pulihkan hingga daerah Salatiga dan Ambarawa kemudian Bruder Neo mulai mengambil inisiatif untuk membuka kembali sekolah dan Bruderan di Ambarawa dan Salatiga. Hingga kemudian 26 Februari 1948 Ambarawa kedatangan Bruder Celsus (60 tahun) yang dianggap sudah meninggal. Tanggal 22 Februari Bruder Neo memberitahukan bahwa Bruder Celsus akan pindah ke Ambarawa mengurus kepentingan Sint. Louis karena Bruder Celsus dianggap sudah mengerti betul seluk beluk Sint Louis dan Ambarawa karena dia dahulu sempat tinggal dan mengurus Sint Louis sebelum menjadi Interniran pada jaman Jepang. Apa yang dilihat Bruder Celsus sangatlah mencengangkan karena pada 26 Februari tersebut masih terlihat sisa-sisa kerusakan dalam bangunan, seperti
jendela, atap, pintu hilang, pipa air dan pipa listrik sudah tidak ada, ubin kamar mandi rusak, talang dan pipa air sudah tidak ada. Didalam kapel, bangku kapel sudah hilang, jendela dan altar marmer juga ikut hilang Tabernakel ditemukan dibuang di kebun dan hanya Salib yang masih tersisa. Kemudian Bruder Celsus memutuskan untuk kembali ke Semarang karena keadaan yang tidak memungkinkan dan keamanan yang belum stabil. Kemudian tanggal 13 Mei 1948 Bruder Celsus memutuskan untuk berangkat melaksanakan tugas tersebut. Bruder Celsus untuk sementara waktu tinggal di Pasturan Ambarawa bersama Pastur K.Looymans SY. Bruder Celsus mulai memperbaiki beberapa ruang kamar dan ruang sekolah dengan memakai bahan yang diambil dari bagian asrama. Bruder Celsus juga mempekerjakan 25 orang agar reparasi yang paling perlu segera dapat selesai dan menghubungi tuan Kwee wakil setempat untuk Nederlands-Indisch Beheers Intitut (lembaga pengelolaan Hindia Belanda) dan mengunjungi tempat pergudangan yaang ada di Ambarawa yaitu salah satunya dikomplek Pasturan Gereja Santo Yusuf Ambarawa dan berhasil menemukan barang-barang bekas milik Sint Louis.
Di bulan Maret 1948 Pastur Looymans sudah mulai mendirikan Large School (LS), Sekolah Rendah Eropa di dalam sisa gedung Sint Louis. Didalam gedung sekolah putri Pastur Looymans mendirikan Sekolah Menengah (SM), berbahasa Indonesia dengan 7 jam dan Berbahasa Belanda 3 jam. Berhubung dengan kesukaran mencari tenaga, maka anak-anak di Ambarawa dibolehkan berlibur selama hampir dua bulan, karena para Bruder akan datang pada bulan September 1948. Tanggal 31 Agustus 1948 datanglah Bruder Yustus untuk memimpin Large School (LS) dan Bruder Wiro untuk mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda pada Sekolah Menengah (SM). Pada tahun 1948 Large School (LS) mempunyai 96 murid dan Sekolah Menengah (SM) 70 murid. Desember 1948 terjadi agresi militer Belanda II sehingga banyak pengungsi mencari keamanan di Ambarawa sehingga jumlah Sekolah Menengah (SM) melonjak drastis menjadi 160 siswa. Bulan Desember Bruder Jozue ditugaskan di Ambarawa
161 untuk memperbaiki kebun dan pagar.
Bruder Genesius ditugaskan untuk memimpin dapur atau sebagai juru masak sehingga komunitas Ambarawa hidup kembali. Pada tahun 1949 dengan dipimpin Bruder Vitus dan 15 anak Tionghoa anak dari Randusari ditambah 20 anak dari Kebondalem Semarang mereka menempati asrama yang masih dalam perbaikan. Di akhir tahun 1949 Asrama diisi oleh 80 anak piatu.
Di tahun 1950 hilang lenyap bahasa Belanda para Bruder mulai mengenal arti dan kata berbahasa Indonesia seperti Pasar, Sapi, kebon. Di bulan Maret “Algemene
Lagere School” sekolah rendah umum
berganti menjadi sekolah rakyat berbahasa Indonesia. Di tahun 1950 Mulailah berdiri SMP Pangudi Luhur Ambarawa bertempat bekas sekolah MULO. SMP ini mulai berdiri dan dikelola oleh Bruder dan menerima murid 300, orang 20% diantaranya beragama Katolik.
Di tahun 1953 berdirilah SD Pangudi Luhur Ambarawa dengan murid anak anak piatu yang berasrama di Sint Louis dengan presentase 30-40% murid katolik. Dan bertempat di bekas Schakelschool. Asrama Sint Louis menjadi salah satu kebanggaan bai para Bruder karena asrama ini merupakan sejarah tonggak pendidikan di Ambarawa.
KESIMPULAN
Awal berdirinya FIC di Ambarawa adalah berawal dari 1920 ambarawa dijadikan pusat misi baru setelah Muntilan oleh Pastur Van Kelken. Pastur Van Kelken ingin menciptakan suatu pusat pendidikan Katolik di Ambarawa dengan mengabil Muntilan sebagai contoh. Pada tahun 1921 berdirilah sekolah Hollandsch Inlandsche
School (HIS). HIS seharusnya menerima
Guru Eropa agar bahasanya pasti murni yaitu bahasa Belanda tetapi hal itu dianggap tidak begitu perlu karena para Guru Jawa pada umumnya mampu berbahasa Belanda. Tetapi Pastur Van Kelken tetap memikiran cara bagaimana tetap mendatangkan para Bruder agar dapat meningkatan mutu HIS. Maka timbulah sebuah ide yaitu Pastur Van Kelken Mendirian HIS dan MULO Berasrama. MULO akan digunakan oleh anak-anak Jawa. Hingga pada tahun 1926 dilakukan sebuah rapat resmi dewan gereja
di Yogyakarta. Dewan Gereja setuju MULO dan HIS berdiri di Ambarawa. Pada tahun 1928 Dewan Umum mengangkat suatu “Panitia Ambarawa” dan Dewan Umum mendatangkan Para Bruder dari Maastrich untuk bertanggung jawab atas “Panitia Ambarawa”. Para Bruder yang didatangkan adalah Bruder Ivo, Bruder Victorinus, dan Bruder August.
Pada bulan April 1928 para Bruder menduduki bekas sekolah KPP dan pada bulan yang sama Nederland mengirim delapan Misionaris baru berjumlah delapan orang. Pada tanggal 19 Juni 1928 dianggap sebagai hari jadi komunitas Ambarawa. Tanggal 30 Juni 1928 mulai masuk 17 orang anak putera untuk berasrama, diantara mereka ada 4 anak Jawa. Pada tanggal 8 Agustus 1928 Institut Sint Louis resmi dibuka oleh Mgr. Van Velsen dan dihadiri oleh Pastur Van Kelken, disaat itu pastur Van Kelken menggambarkan bahwa Sint Louis adalah lembaga yang amat penting
DAFTAR PUSTAKA
Berkhof. 1986. Sejarah Gereja, cetakan kelima. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Bruder Van der Linden, Joachim.FIC. 1981.
Donum Desursum. Maastricht Belanda
Bruder Sugi, Frans. 2006. Sayur Lodeh
FIC. Semarang: Provisialat FIC
Heuken, Adolf. 2004. Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Cipta Loka Caraka.
Heuken, Adolf. 2005. Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Cipta Loka Caraka.
Heuken, Adolf. 2009. 150 Tahun Serikat
Yesus Berkarya di Indonesia. Jakarta:
Cipta Loka Caraka.
Kantor Wali Gereja. 1974. Sejarah Gereja