DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 16/DPD RI/II/2014-2015 TENTANG
PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015
JAKARTA
2015
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/DPD RI/II/2014-2015
TENTANG PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;
b. bahwa Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara;
c. bahwa pertimbangan atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara disampaikan secara tertulis oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia kepada Dewan
416
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden;
d. bahwa rancangan undang-undang tentang perubahan atas Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 diajukan sebagai penerjemahan visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden Periode 2014-2019 yang dituangkan dalam kerangka program dan kegiatan serta kerangka pendanaan pada tahun pertama RPJMN Tahun 2015-2019;
e. bahwa sehubungan dengan bahan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melalui Komite IV sesuai dengan lingkup tugasnya telah membahas dan merumuskan Pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia secara tertulis terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 sebagai bahan pembahasan antara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Pemerintah;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, perlu menetapkan Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia tentang Pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015;
Mengingat : 1. Pasal 22D ayat (2) dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 259, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5593);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 383, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5650);
4. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib;
5. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberian Pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
Dengan Persetujuan Sidang Paripurna Luar Biasa Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia
Masa Sidang II Tahun Sidang 2014-2015
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERTIMBANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG- UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015.
PERTAMA : Pertimbangan tertulis Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015 disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bahan pembahasan antara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Pemerintah.
KEDUA : Isi dan perincian sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA menjadi lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan ini.
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
418
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 28 Januari 2015
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
PIMPINAN Ketua,
IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,
G.K.R. HEMAS
Wakil Ketua,
Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 16/DPD RI/II/2014-2015 TENTANG
PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015
JAKARTA
2015
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
PERTIMBANGAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015
A. PENDAHULUAN
Penyusunan Rancangan APBN Perubahan (RAPBNP) Tahun Anggaran 2015 diajukan sebagai penerjemahan visi dan misi Presiden yang dituangkan dalam kerangka program dan kegiatan serta kerangka pendanaan pada tahun pertama RPJMN Tahun 2015-2019. RAPBNP Tahun Anggaran 2015 dijalankan untuk menjalankan konsep Trisakti dan Nawacita Presiden dan Wakil Presiden Periode 2014-2019. Berangkat dari hal tersebut, Pemerintah mengajukan RAPBNP Tahun Anggaran 2015 sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015.
RAPBNP Tahun Anggaran 2015 juga diajukan sejalan dengan perkembangan dan perubahan asumsi dasar ekonomi makro yang disertai dengan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, dan pergeseran anggaran antarunit organisasi dan/
atau antarprogram yang berdampak cukup signifikan terhadap besaran APBN Tahun Anggaran 2015.
Usulan RAPBNP Tahun Anggaran 2015 bertujuan untuk mengamankan pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2015 yang memuat penyesuaian terhadap sasaran pendapatan negara, belanja negara, defisit anggaran, serta kebutuhan dan sumber pembiayaan anggaran, agar menjadi lebih realitis dan mampu mendukung pencapaian sasaran pembangunan tahun 2015.
422
Prioritas pembangunan yang diajukan Pemerintah ditopang oleh tiga dimensi pembangunan; pertama, dimensi pembangunan manusia yang mendorong perbaikan pada sektor pendidikan, kesehatan, perumahan dan mental/karakter.
Kedua, dimensi pembangunan sektor unggulan yang mendorong kedaulatan pangan, kedaulatan energi dan ketenagalistrikan, kemaritiman dan kelautan serta pariwisata dan industri. Ketiga, dimensi pemerataan dan kewilayahan yang mendorong pembangunan antar kelompok pendapatan, antar wilayah desa-kota, wilayah pinggiran dan pusat, Jawa-luar Jawa, Kawasan Barat dan Kawasan Timur Indonesia.
RAPBNP Tahun Anggaran 2015 diajukan Pemerintah sebagai terobosan fiskal dilakukan atas dasar kebijakan penghematan subsidi BBM melalui penyesuaian harga BBM bersubsidi pada November 2014 dan penerapan subsidi tetap (fixed subsidy) untuk minyak solar serta penghapusan subsidi premium mulai awal tahun 2015. Berangkat dari hal tersebut maka ruang fiskal (fiscal space) yang diperoleh harus menjamin setiap penggunaan anggaran yang dikeluarkan Pemerintah benar-benar untuk kesejahteraan masyarakat. Hal ini merupakan mandat Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Sesuai dengan amanat Pasal 22D ayat (2) dan Pasal 23 ayat (2) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta Pasal 282 ayat (1) UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 42 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD; DPD RI memberikan pertimbangan kepada DPR RI terhadap RAPBNP Tahun Anggaran 2015.
Pertimbangan DPD RI ini dibuat berdasarkan masukan aspirasi masyarakat melalui dengar pendapat dengan Pemerintah, para pakar, dan pelaku pembangunan dalam berbagai kesempatan rapat kerja dan kunjungan kerja ke daerah. Dengan pertimbangan DPD RI, penyusunan dokumen RAPBNP Tahun Anggaran 2015 diharapkan menjadi lebih baik, realistis, dan sesuai dengan aspirasi rakyat di seluruh daerah.
B. PERTIMBANGAN DPD RI TERHADAP PERUBAHAN ASUMSI DASAR
EKONOMI MAKRO DALAM RAPBN PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2015 1. RAPBNP Tahun Anggaran 2015 telah memasukkan asumsi makro ekonomi,
seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, harga minyak mentah Indonesia (ICP), lifting minyak dan gas. DPD RI berpandangan sebaiknya Pemerintah juga memasukkan asumsi lain seperti tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, Gini Ratio, Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Nelayan. DPD RI berpendapat bahwa tujuan penggunaaan APBN adalah untuk kesejahteraan rakyat sehingga asumsi lain menjadi prioritas untuk dimasukkan dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015.
2. Dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015, pertumbuhan ekonomi diasumsikan sebesar 5,8% atau tidak mengalami perubahan dibandingkan APBN Tahun Anggaran 2015. DPD RI berpandangan bahwa target yang cukup baik tersebut
akan dicapai apabila Pemerintah dapat mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat lebih tinggi di atas 5,2%, membaiknya kinerja konsumsi Pemerintah di atas 4,2% serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) di atas 8,1%. DPD RI berpendapat langkah yang harus dilakukan yakni tetap mempertahankan konsumsi kelompok miskin dan hampir miskin, memperbesar pendanaan infrastruktur pada tingkat kabupaten/kota serta mempermudah pelayanan investasi di sektor riil.
3. Dari sisi sektoral, pada RAPBNP Tahun Anggaran 2015, pertumbuhan sektor pertanian (pertanian, kehutanan, dan perikanan) diperkirakan sebesar 4,1%
atau lebih besar dibandingkan APBN Tahun Anggaran 2015 yang sebesar 3,9%. Hal yang sama dengan industri pengolahan dari 4,7% menjadi 6,1%
pada RAPBNP Tahun Anggaran 2015. DPD RI berpandangan bahwa kedua sektor tersebut yang merupakan sektor unggulan Pemerintah masih jauh dari harapan apabila dibandingkan dengan pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi serta jasa yang secara umum di atas 7%. DPD RI berpendapat Pemerintah perlu mendorong sektor-sektor tradable (pertanian, kehutanan, dan perikanan), pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. Hal ini penting mengingat sektor tersebut memiliki implikasi yang besar bagi perekonomian daerah, pengurangan kemiskinan dan pengangguran.
4. Dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015, Pemerintah mengajukan asumsi inflasi yang diperkirakan mencapai 5,0% atau lebih tinggi dari asumsi APBN Tahun Anggaran 2015 sebesar 4,4%. Peningkatan asumsi ini selain disebabkan penyesuaian harga BBM juga disebabkan tekanan harga komoditas pangan maupun gejolak nilai tukar rupiah. DPD RI berpandangan bahwa target inflasi tetap berada pada kisaran 4,0 ± 1,0% masih jauh lebih realistis, seperti data yang disampaikan Bank Indonesia (2015). Target tersebut dapat dicapai apabila Pemerintah dapat menjaga ketersediaan pangan pada beberapa daerah yang produksi pangan rendah dan memperbaiki efisiensi jalur distribusi logistik pangan. DPD RI berpendapat Pemerintah juga perlu mengurangi implikasi penyesuaian harga BBM pada tarif angkutan, biaya BBM pada industri, hingga pemihakan penyesuaian tarif tenaga listrik pada golongan rumah tangga berpenghasilan rendah. Langkah di atas juga perlu dibarengi upaya peningkatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil sehingga barang modal yang bersumber dari impor jauh lebih stabil.
5. Pemerintah juga mengajukan asumsi rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD1 yang diperkirakan berada pada kisaran Rp 12.200,00 per USD atau lebih tinggi dari asumsi APBN Tahun Anggaran 2015 sebesar Rp 11.900,00 per USD. DPD RI berpandangan bahwa Pemerintah perlu segera meredam gejolak nilai tukar dengan memperbaiki fundamental struktur fiskal dengan alokasi belanja pada sektor-sektor unggulan dan riil, perbaikan infrastruktur ekonomi secara proporsional antar wilayah, baik irigasi, energi, pelabuhan,
424
jalan dan jembatan. DPD RI berpendapat bahwa upaya ini perlu dibarengi dengan perbaikan di pasar keuangan, termasuk akses masyarakat ke lembaga keuangan. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian sehingga dapat meningkatkan arus modal masuk.
6. Suku bunga SPN 3 bulan diperkirakan akan turut mengalami tekanan dan sedikit lebih tinggi di atas asumsi APBN Tahun Anggaran 2015 yakni 6,0%
menjadi 6,2%. DPD RI berpandangan bahwa sepatutnya suku bunga SPN 3 bulan tersebut dapat jauh lebih rendah dari target yang ditetapkan. DPD RI berpendapat Pemerintah harus mengurangi tingkat inflasi sebagai salah satu penyebab meningkatnya SPN 3 bulan. Pemerintah perlu memperkuat kepemilikan domestik pada Surat Perbendaharaan Negara (SBN) sehingga fundamental ekonomi domestik jauh lebih baik.
7. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berada pada kisaran rata-rata USD70 per barel atau lebih rendah dari asumsi ICP dalam APBN Tahun Anggaran 2015 sebesar USD 105 per barel. Perkiraan tersebut disebabkan oleh proyeksi masih besarnya pasokan minyak dunia dibandingkan permintaan dunia. DPD RI berpandangan bahwa turunnya harga ICP seharusnya menjadi momentum bagi Pemerintah untuk secepatnya melakukan kebijakan bauran energi, baik untuk pembangunan geothermal, pembangunan jaringan pipa gas, pembangunan micro hidro, dan sebagainya. DPD RI berpendapat penurunan harga ICP yang berimplikasi kepada penurunan penerimaan negara perlu dibarengi dengan peningkatan penerimaan pajak yang bersumber dari migas.
Langkah di atas juga juga perlu diimbangi dengan penurunan tekanan inflasi, khususnya yang berasal dari cost plus inflation untuk industri, transportasi maupun barang modal lainnya.
8. Lifting minyak diperkirakan akan terealisasi sebesar 849 ribu barel per hari, lebih rendah dibandingkan asumsi dasar APBN Tahun Anggaran 2015 yang ditetapkan sebesar 900 ribu barel per hari. Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan produksi pada sumur minyak lama meskipun pencapaian Blok Cepu diperkirakan mampu memproduksi 165 ribu barel per hari pada tahun 2015. DPD RI berpendapat bahwa Blok Cepu masih memiliki problem yang belum tuntas, baik terkait masalah perizinan pipa serta pembebasan dan konsinyasi lahan. Penting kiranya Pemerintah memastikan bahwa permasalahan tersebut dapat dituntaskan pada tahun 2015 sehingga jangan sampai kelemahan dari sektor produksi dimanfaatkan oleh importir minyak yang akan merugikan negara.
9. Lifting gas bumi diperkirakan mencapai 1.177 ribu barel setara minyak per hari atau lebih rendah dibandingkan dengan asumsi lifting gas bumi pada APBN Tahun Anggaran 2015 yang ditetapkan sebesar 1.248 ribu barel setara minyak per hari. DPD RI berpendapat Pemerintah untuk terus mempertahankan target lifting gas bumi tersebut. Meski demikian, perlu kebijakan yang lebih tegas penggunaan gas bumi tersebut untuk kepentingan konsumsi dalam negeri yang disebar secara adil pada berbagai daerah di Indonesia.
C. PERTIMBANGAN DPD RI TERHADAP KEBIJAKAN DAN TARGET
PENDAPATAN NEGARA DALAM RAPBN PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2015
1. Sektor perpajakan mengalami kenaikan sebesar Rp 104,69 triliun dari semula sebesar Rp 1.379 triliun menjadi Rp 1.484,6 triliun. Kenaikan sebesar 8,2%
ini disebabkan kenaikan target pajak dari PPh non minyak dan gas bumi, Pajak Pertambahan Nilai, Pendapatan Cukai dan Pendapatan Pajak Lainnya.
DPD RI berpandangan agar dilakukan optimalisasi penerimaan pajak melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan regulasi. Untuk itu DPD RI berpendapat perlu segera dilakukan reformasi undang-undang perpajakan, agar sistem perpajakan self assessment dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan peraturan dasar perpajakan dalam Pasal 23A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa ”pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Dalam rangka meningkatkan penerimaan perpajakan, selain memberikan sanksi yang tegas bagi wajib pajak dan aparat pajak yang melanggar ketentuan perpajakan, hendaknya Pemerintah memberikan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai kepada instansi perpajakan. Selain itu, Pemerintah agar memberikan insentif bagi instansi perpajakan yang telah berprestasi melampaui target penerimaan yang telah ditetapkan.
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2015 diperkirakan mencapai Rp 281,1 triliun atau lebih rendah sebesar Rp 129,3 miliar atau menurun sebesar 31,5% dari target APBN Tahun Anggaran 2015. Perubahan ini disebabkan penurunan pendapatan penerimaan sumber daya alam migas sebesar 57,4%
dari Rp 224,25 triliun menjadi Rp95,63 triliun dan bagian laba BUMN sebesar 20,6% dari Rp44 triliun menjadi Rp34,95 triliun untuk mendukung penguatan permodalan BUMN. Terhadap penurunan dari PNBP tersebut, DPD RI berpendapat Pemerintah agar melakukan renegosiasi production sharing contract atas eksplorasi dan eksploitasi migas, serta memanfaatkan peluang Asean Free Trade Area (AFTA) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada awal tahun 2015 untuk meningkatkan laba BUMN.
3. Hibah dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 mengalami peningkatan sebesar Rp 52,1 miliar menjadi Rp 3,308 triliun atau meningkat sebesar 1,6%. DPD RI berpendapat bahwa dalam pengelolaan hibah perlu memasukkan aset hibah dari pihak pemberi bantuan dalam kekayaan negara. Tidak hanya sebatas pencataan dalam laporan keuangan namun juga dalam barang milik negara ataupun barang milik daerah yang memang memenuhi kriteria sesuai sistem dan standar akuntansi pemerintah.
426
D. PERTIMBANGAN DPD RI TERHADAP PERUBAHAN KEBIJAKAN DAN ANGGARAN BELANJA NEGARA DALAM RAPBN PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2015
1. Alasan mendasar dilakukannya perubahan belanja negara dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 adalah perubahan kebijakan dan alokasi anggaran untuk mengakomodasi implementasi konsep Trisakti dan Nawacita. DPD RI berpandangan bahwa konsep Trisakti dan Nawacita tersebut perlu diperjelas dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015. DPD RI berpendapat bahwa beberapa prioritas agenda pembangunan, seperti melakukan revolusi karakter bangsa dan memperteguh kebhinekaan serta memperkuat restorasi sosial Indonesia belum tergambar secara jelas dan tegas dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 sehingga Pemerintah perlu menegaskan hal tersebut dalam program dan kegiatan RAPBNP Tahun Anggaran 2015.
2. Dimensi pembangunan yang tercantum dalam RPJMN Tahun 2015-2019, salah satunya yakni dimensi pemerataan dan kewilayahan yang mendorong pembangunan antar kelompok pendapatan, antar wilayah desa-kota, wilayah pinggiran dan pusat, Jawa-luar Jawa, Kawasan Barat dan Kawasan Timur Indonesia. DPD RI berpandangan bahwa RAPBNP Tahun Anggaran 2015 sebagai baseline anggaran pelaksanaan RPJMN Tahun 2015-2019 sepatutnya dapat memperlihatkan dimensi pemerataan dan kewilayahan. DPD RI berpendapat bahwa belanja Kementerian/Lembaga dapat menyajikan data anggaran perwilayah agar dimensi pemerataan dan kewilayahan dapat lebih terukur dan dipertanggungjawabkan. Selain itu, dalam dimensi pemerataan dan kewilayahan juga mempertimbangkan wilayah kepulauan.
3. Belanja Pemerintah Pusat menurut fungsi dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 yakni fungsi pelayanan umum terjadi penurunan dari RAPBNP terhadap APBN Tahun Anggaran 2015 secara nominal sebesar Rp 178.928 miliar atau sebesar negatif 20,1%, sementara fungsi lainnya mengalami peningkatan, termasuk fungsi perlindungan sosial yang meningkat sebesar Rp 20.841,1 miliar atau sebesar 250,5%. DPD RI berpendapat Pemerintah perlu melihat kembali realokasi menurut fungsi sehingga memberikan keadilan bagi fungsi pelayanan umum, fungsi pertahanan, ketertiban dan keamanan, dan pendidikan.
4. Terdapat penambahan alokasi anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pemenuhan kewajiban dasar sebesar Rp 7,1 triliun dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015. Peningkatan ini fokus pada program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan biaya cetak kartu leaflet dan biaya pengiriman KIP yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat. DPD RI berpendapat sebaiknya terdapat alokasi tambahan dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 untuk Kemendikbud yang mencerminkan “revolusi mental” dalam dimensi pendidikan. Selain itu, juga perlu didorong alokasi di atas agar target rata-rata lama sekolah dapat tercapai sehingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga meningkat.
5. Kementerian Perhubungan mendapatkan alokasi tambahan sebesar Rp20,02 triliun sehingga anggarannya dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 menjadi Rp 64,95 triliun. Tambahan anggaran tersebut dipergunakan untuk pembangunan sektor unggulan, pengurangan kesenjangan, dan infrastruktur konektivitas. DPD RI berpandangan perlu adanya alokasi RAPBNP Tahun Anggaran 2015 khususnya bagi pelabuhan udara (bandara), khususnya di wilayah yang tingkat kebutuhannya tinggi namun ketersediaannya terbatas.
DPD RI berpendapat, Pemerintah perlu mendorong perbaikan regulasi mengenai bagi hasil keuntungan bandara antara Kementerian Perhubungan dengan Pemerintah Daerah.
6. Sebagai akibat pergeseran belanja dari kebijakan penyesuaian subsidi BBM maka belanja Kementerian/Lembaga naik sebesar 20,4% pada RAPBNP Tahun Anggaran 2015 atau senilai Rp 132,2 triliun. Sementara belanja transfer ke daerah hanya meningkat sebesar 2,6% atau senilai Rp 17,1 triliun.
DPD RI berpendapat bahwa keadilan dan pemerataan alokasi belanja dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 dengan mendorong proporsi belanja transfer ke daerah lebih besar. Hal ini mengingat beban kewenangan dan tugas Pemerintah Daerah jauh lebih banyak dibandingkan Pemerintah Pusat.
7. Dana transfer ke daerah utamanya diperoleh dari Dana Perimbangan yang terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 perubahan kenaikan yang menonjol terhadap APBN adalah dari DBH Pajak sebesar Rp 3,58 triliun. DPD RI berpendapat bahwa penerimaan pajak jenis PPh Orang Pribadi dan PPh Karyawan yang dibagihasilkan kepada daerah dilakukan dengan transparan, adil serta mempertimbangkan kondisi daerah.
8. DAK akan mendapatkan tambahan sebesar Rp20 triliun sehingga menjadi Rp 55,82 triliun. DAK tambahan tersebut dialokasikan untuk DAK pendukung program prioritas Kabinet Kerja, baik untuk infrastruktur irigasi, pertanian, transportasi subbidang jalan, sarana perdagangan, dan pelayanan kesehatan rujukan. DPD RI berpandangan bahwa kenaikan DAK tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan daerah sesuai dengan indikator yang dapat dipertanggungjawabkan dengan pengelolaan yang transparan. DPD RI berpendapat bahwa Pemerintah dalam pelaksanaan DAK perlu mempercepat penerbitan juknis DAK yang diberikan ke daerah serta memberlakukan juknis DAK yang berlaku antara 3 hingga 5 tahun.
9. Dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015, anggaran dana desa yang semula Rp9 triliun mendapatkan alokasi tambahan sebesar Rp 11,7 triliun atau meningkat 129,1% terhadap APBN Tahun Anggaran 2015. Hal ini merupakan suatu kenaikan yang cukup signifikan. DPD RI berpandangan agar dana tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif dengan kesiapan aparatur desa dalam mengelola keuangan desa. DPD RI berpendapat perlu pendampingan yang berkelanjutan bagi desa dalam pengelolaan dana desa tersebut.
428
10. Anggaran dana desa dalam RAPBNP Tahun Anggaran 2015 totalnya sebesar Rp 20,7 triliun sementara menurut data BPS jumlah desa pada tahun 2013 adalah sebanyak 74.045 desa. Hal ini berarti terdapat alokasi yang bersumber dari RAPBNP Tahun Anggaran 2015 rata-rata per desa sebesar Rp 279,559 juta per desa. DPD RI berpandangan bahwa salah satu amanat dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, bahwa desa akan mendapatkan alokasi sebesar 10% dari Dana Perimbangan setelah dikurangi DAK untuk tahun 2015 yang diperkirakan sebesar Rp48,55 triliun dengan asumsi jumlah desa yang sama.
DPD RI berpendapat bahwa Pemerintah perlu secara tegas melaksanakan perhitungan alokasi dana desa secara cermat sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku. Selain itu, Pemerintah perlu melakukan kaji ulang terhadap pertumbuhan jumlah desa yang mempengaruhi alokasi dana desa secara keseluruhan agar target rata-rata alokasi desa sebesar minimal Rp 1 miliar lebih per desa dapat terpenuhi sebagaimana dinyatakan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
E. PERTIMBANGAN DPD RI TERHADAP KEBIJAKAN DEFISIT ANGGARAN DAN PEMBIAYAAN ANGGARAN DALAM RAPBN PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2015
1. Rancangan APBNP Tahun Anggaran 2015 terdapat defisit anggaran dari Rp 245,8 triliun atau 2,21% terhadap PDB menjadi sebesar Rp 225,9 triliun atau sekitar 1,9% terhadap PDB yang mengakibatkan pembiayaan anggaran juga mengalami penurunan dengan jumlah yang sama. Defisit tersebut sebagian besar disebabkan oleh kenaikan pembiayaan yang bersumber dari utang sebesar Rp291,4 triliun atau naik sebesar Rp36,5 triliun (14,3%).
Sementara yang pembiayaan non utang sebesar negatif Rp 65,5 triliun. DPD RI berpandangan bahwa Pemerintah perlu melakukan penurunan defisit anggaran dengan mendorong penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan.
Terkait dengan pembiayaan, DPD RI berpendapat bahwa pembiayaan utang, khususnya melalui Surat Berharga Negara (SBN), perlu didorong SBN yang sifatnya jangka menengah dan panjang serta menerapkan prinsip kehati- hatian. Hal ini mengingat sebagian SBN sifatnya jangka pendek dan lebih dari 30% dikuasai asing.
2. Pemerintah akan mengalokasikan Penanaman Modal Negara (PMN) sebesar Rp72,9 triliun kepada 40 BUMN pada RAPBNP Tahun Anggaran 2015 atau meningkat sebesar Rp67,9 triliun dari APBN Tahun Anggaran 2015 yang hanya Rp5,1 triliun. Pengalokasian PMN tersebut dalam rangka memperkuat struktur permodalan dalam mendukung program kerja Pemerintah. DPD RI berpandangan bahwa Pemerintah perlu mengkaji ulang dan lebih selektif dalam memilih BUMN yang dapat dialokasikan PMN. BUMN yang kinerja perusahaannya buruk, telah melakukan Initial Public Offering (IPO) atau go public, maupun yang statusnya masih belum jelas perlu dipertimbangkan
untuk tidak mendapatkan PMN. Langkah kehati-hatian ini penting jangan sampai kinerja penyerapan anggaran PMN justru kurang optimal sehingga berakibat target pembangunan juga kurang optimal. DPD RI berpendapat bahwa Pemerintah perlu memprioritaskan pengalokasian PMN terhadap BUMN yang berkaitan dengan infrastruktur dan pertanian agar produktivitas masyarakat terjamin sehingga dapat terjadi peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan.
F. PENUTUP
1. Pertimbangan DPD RI terhadap RAPBNP Tahun Anggaran 2015 menegaskan tentang pentingnya perbaikan terhadap asumsi makro ekonomi dan pokok- pokok kebijakan fiskal dengan memasukkan indikator strategis lainnya, seperti tingkat kemiskinan, pengangguran, gini ratio dan lain sebagainya.
2. DPD RI merekomendasikan agar RAPBNP Tahun Anggaran 2015 dapat mencerminkan baseline anggaran RPJMN Tahun 2015-2019 dengan memperjelas prioritas anggaran Kementerian/Lembaga dan transfer daerah dengan 9 agenda prioritas (Nawacita) dan Trisakti.
3. DPD RI juga merekomendasikan agar terjadi peningkatan penerimaan perpajakan lebih dari Rp104,69 triliun dengan melakukan intensifikasi, ekstensifikasi dan regulasi perpajakan, khususnya pada PPh Orang Pribadi dan Badan yang potensinya masih sangat besar.
4. Dengan perkembangan tambahan belanja negara, maka DPD RI merekomendasikan agar tambahan untuk transfer daerah dapat ditingkatkan, tidak hanya terhadap DAK namun anggaran lainnya. Hal ini dibarengi dengan upaya perbaikan pengelolaan DAK, baik akuntabilitas dan transparansi anggaran tersebut.
5. DPD RI merekomendasikan agar dana desa yang dialokasikan perlu disiapkan tenaga pendampingan dengan mengakomodir fasilitas PNPM Perdesaan agar kualitas program dan kegiatan serta akuntabilitas dana desa lebih optimal.
Termasuk pula memenuhi amanat UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa agar anggaran dana desa sepenuhnya dapat dipenuhi Pemerintah.
6. DPD RI juga merekomendasikan agar penggunaan dana PMN untuk BUMN lebih selektif dan mempertimbangkan kinerja BUMN agar target pembangunan benar-benar realistis untuk dijalankan. BUMN yang perlu mendapatkan prioritas yakni BUMN untuk infrastruktur dan pertanian.
7. Penyusunan RAPBNP Tahun Anggaran 2015 harus didukung dengan langkah melakukan optimalisasi seluruh instrumen anggaran, baik berupa belanja pusat dalam bentuk dana dekonsentrasi/tugas pembantuan, dana transfer daerah, dana perbankan dan investasi swasta dan sumber dana lainnya untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pemerataan pembangunan dan mendorong percepatan pembangunan daerah.
430
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
PIMPINAN Ketua,
IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,
G.K.R. HEMAS
Wakil Ketua,
Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD