• Tidak ada hasil yang ditemukan

VONIS KASUS NAZARUDDIN DALAM KACAMATA FILSAFAT HUKUM (Oleh : FERLI HIDAYAT,SH.,SIK.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VONIS KASUS NAZARUDDIN DALAM KACAMATA FILSAFAT HUKUM (Oleh : FERLI HIDAYAT,SH.,SIK.)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

VONIS KASUS NAZARUDDIN

DALAM KACAMATA FILSAFAT HUKUM

(Oleh : FERLI HIDAYAT,SH.,SIK.)

Usai majelis hakim memvonis M Nazaruddin, terdakwa kasus suap Wisma Atlet, Nazar tersenyum lebar. Vonis majelis hakim yang hanya 4 tahun 10 bulan penjara dan denda Rp 200 juta memang layak membuat Nazar lega. Sebab itu jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa yang 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta.

Pro kontra seputaran kasus korupsi dengan terdakwa M.Nazaruddin memang seakan tidak pernah habis. Dimulai dari munculnya dugaan korupsi tersebut, proses penangkapan hingga ke Colombia, jalannya persidangan yang berliku sampai dengan vonis majelis hakim Tipikor yang sarat dengan berbagai polemik.

Pada kesempatan ini, penulis mencoba memberikan tanggapan terhadap kasus korupsi dengan terdakwa M.Nazaruddin khususnya pada bagian vonis majelis hakim dari sudut pandang rasa keadilan, kepastian, dan kemanfaatan.

Ide Dasar Hukum

Seringkali kita mendengar diberbagai media mengenai pelaksanaan penegakan hukum yang dinilai kurang memenuhi rasa keadilan. Di Indonesia sendiri, penegakan hukum dilaksanakan oleh institusi penegak hukum dalam lingkup Criminal Justice System (CJS), yang dalam hal ini adalah institusi Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan.

Dalam menghadapi sebuah permasalahan ataupun sengketa hukum, proses penyidikan biasanya

diawali oleh pihak Kepolisian, yang kemudian dilanjutkan dengan proses penuntutan oleh Kejaksaan untuk diajukan dimuka pengadilan.

Peranan Pengadilan sendiri cukup signifikan dalam menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa hukum. Hakim dalam memutuskan sebuah perkara tentu saja dilaksanakan berdasarkan fakta persidangan dengan tetap mengacu pada ketentuan pasal 183 KUHAP, yang menyatakan diperlukannya minimal dua alat bukti serta keyakinan sang hakim. Putusan inilah yang menjadi salah satu faktor penentu apakah hukum dapat dinilai telah memenuhi ‘rasa keadilan’

ataupun tidak.

Banyak pandangan dari para ahli mengenai konstruksi dasar hukum yang menjadi tujuan hukum itu sendiri, salah satunya adalah pandangan dari Gustav Radbruch. Pemikiran dasar mengenai tujuan hukum menurutnya adalah keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.

Penafsiran dalam menentukan unsur keadilan,

kemanfaatan, dan kepastian hukum itu tentu

bukanlah sebuah hal yang mudah, karenanya harus

(2)

dibuat sebuah skala prioritas untuk dapat menentukan unsur mana yang perlu didahulukan dengan tidak bertentangan pada unsur lainnya.

Ajaran prioritas baku dari Gustav Radbruch dapat dikatakan jauh lebih maju dan arif dibandingkan dengan ajaran ekstrem, yaitu tentang ajaran etis dan utilistis dan digmatik legalistik. Namun ternyata seiring dengan perkembangan kejahatan yang semakin kompleks, pilihan-pilihan prioritas yang sudah dibakukan mendapat pertentangan- pertentangan antara kebutuhan hukum dan kasus- kasus tertentu. Dimana kasus-kasus tersebut membutuhkan keadilan bukan pada kemanfataan dan kepastian hukum, tetapi dalam kasus-kasus lain berbeda lagi, yang lebih dibutuhkan adalah kemanfaatan atau kepastian hukumnya lebih diprioritaskan ketimbang keadilan.

Berbicara keadilan memang bukanlah sebuah hal yang mudah, karena ketika seorang Hakim memutuskan seseorang bersalah berdasarkan keyakinan akan rasa keadilan yang dimilikinya, maka tentu saja akan ada pihak yang merasa tidak mendapatkan keadilan dari putusan tersebut. Dalam kondisi ini, peranan unsur kemanfaatan dan kepastian hukum harus dapat menutupi dengan bijak perasaan ketidakadilan yang dirasakan pihak tersebut. Dalam sebuah pemeriksaan pidana, harapan semua pihak digantungkan pada fakta yang terungkap selama persidangan, aturan yang berlaku, keadaan selama proses persidangan dan putusan hakim,

yang pada akhirnya menunjuk kepada tersangka Bersalah atau Tidak !. Pada dasarnya harus diakui, seseorang yang dinyatakan bersalah tetap tidak akan merelakan dirinya untuk dihukum dan masuk penjara. 1

Dengan demikian, keberadaan Hakim dalam memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang memang bukanlah sebuah perkara mudah, kecermatan, ketelitian, serta hati nurani dibutuhkan seorang Hakim dalam membuat sebuah keputusan.

Putusan Hakim Kasus Nazaruddin

Melalui panjangnya proses pengadilan tindak pidana korupsi, akhirnya Hakim Pengadilan Tipikor yang dipimpin oleh Dharmawati Ningsih pada hari Jumat tanggal 20 April 2012, memberikan vonis 4 tahun 10 bulan serta denda Rp.200 juta kepada terdakwa M.Nazaruddin.

Keputusan tersebut jauh lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan Jaksa. Selain itu pula, majelis hakim juga tidak menyita harta kekayaan Nazaruddin sebagaimana layaknya putusan kasus pidana korupsi lainnya. Sebagai perbandingan, Hakim pada kasus korupsi dengan terdakwa Gayus Tambunan, memberikan vonis 7 tahunn penjara dan denda Rp 300 juta.

Lalu apakah kita layak menyatakan bahwa putusan hakim pada kasus korupsi dengan terdakwa

(3)

M.Nazaruddin tersebut jauh dari rasa keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum ?

Dalam persidangan, Nazaruddin terbukti melanggar Pasal (11) Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Majelis hakim menganggap Nazaruddin, selaku penyelenggara negara, terbukti menerima suap dari Manajer Marketing PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris sebesar Rp.4,6 miliar.

Hakim anggota Herdin Agusten membeberkan, pemberian cek dari El Idris kepada terdakwa dilakukan melalui anak buah Nazaruddin,Yulianis dan Oktarina Furi, selaku staf keuangan PT Permai Group. Pemberian itu merupakan komitmen fee dari DGI ke PT Anak Negeri, anak perusahaan milik terdakwa. Majelis melanjutkan, dengan tindakan korupsi tersebut, Nazaruddin telah melakukan perilaku kejahatan luar biasa yang secara sistemik merugikan kepentingan negara.

Dalam menanggapi keputusan ‘ringan’ dari majelis hakim ini, penulis mencoba mengingatkan kita semua beberapa hal diluar fakta persidangan yang sesungguhnya dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan beratnya hukuman Nazaruddin. Pertama, status M.Nazaruddin sebagai anggota DPR komisi III, dimana selayaknya seorang anggota DPR memberikan contoh perilaku pejabat negara yang taat hukum.

Apa yang kita lihat adalah sebuah perbuatan yang sangat tidak layak dicontoh, dan terbukti dari tindakan tersebut bahwa majelis hakim memutuskan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan telah bersalah. Kedua, tindakan terdakwa yang melarikan diri hingga keluar negeri adalah wujud tindakan tidak kooperatif dalam menghadapi kasus hukum yang menimpanya.

Disamping itu, kiranya perlu dipertimbangkan

berapa besar biaya negara yang digunakan untuk

memulangkan Nazaruddin dari Kolombia. Perlu

kita ingat bahwa, negara melalui KPK harus

merogoh kocek hingga 4 milyar rupiah untuk

memulangkan Nazaruddin kala itu. Ketiga, energi

negara yang terkuras selama proses penyidikan

dan persidangan terdakwa M.Nazaruddin. Secara

langsung, hal ini tidaklah berkaitan dengan unsur

kejahatan terdakwa, akan tetapi hal tersebut

hendaknya menjadi bagian dari pertimbangan

hakim dalam memberikan keputusan terkait kasus

tersebut. Selama berhari-hari dan berbulan-bulan,

negara dan masyarakat dihujani berita mengenai

berbagai ulah yang dilakukan Nazaruddin. Mulai

dari ucapannya didepan media, perilakunya,

hingga berbagai permainan psikologi yang

dimunculkan baik oleh terdakwa maupun tim

pembela hukumnya telah memberikan dampak

yang tidak ringan. Tentu saja terlepas dari positif

atau negatif dampak tersebut, pada kenyataanya

masyarakat telah ikut larut dalam dongeng korupsi

(4)

yang merusak citra DPR sebagai bagaian dari pejabat negara.

Ketiga hal tersebut belum ditambah dengan berbagai cerita ataupun dugaan terhadap kasus- kasus korupsi besar lainnya yang turut melibatkan nama-nama beken di negara ini. Sebut saja salah satu nya adalah dugaan korupsi Hambalang dan lainnya.

Keadilan, Kemanfaatan, dan Kepastian Hukum

Lantas apakah serta merta kita bisa membuktikan apakah putusan majelis hakim yang menjatuhkan vonis 4 tahun 10 bulan penjara serta denda sebesar Rp.200 juta kepada Nazaruddin sebagai wujud ketidak adilan, bentuk ketidak manfaatan, ataupun bagian dari ketidak pastian hukum di Indonesia ?

Seorang hakim dalam menjatuhkan putusan tidak hanya mempedomani pasal 183 KUHAP semata mengenai dibutuhkannya minimal dua alat bukti, akan tetapi juga diperlukan pertimbangan dari keyakinan hakim yang turut berdasarkan kepada nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.

Dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa: “Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai- nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.” Oleh karena itu dalam memberikan putusan, hakim harus berdasar pada penafsiran

hukum yang sesuai dengan rasa keadilan yang tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat.

Tentu saja hal tersebut sangat berkaitan erat dengan situasi dan perkembangan sosial yang menyertai kasus tersebut. Jika dicermati, sesungguhnya hal ini sejalan dengan studi mengenai kejahatan itu sendiri dimana setidaknya ada 4 unsur yang harus diperhatikan dalam menilai sebuah kejahatan, yaitu: (1) Kejahatan; (2) Pelaku; (3) Korban; dan (4) Reaksi sosial. 2

Untuk itu, tentu bukanlah sebuah hal yang tepat jika kita membandingkan putusan antara sebuah kasus kejahatan dengan kejahatan yang lain sekalipun kejahatan tersebut memiliki jenis yang sama. Hal ini dikarenakan, situasi yang menyertai setiap kasus tentu akan sangat berbeda.

Keadilan dapat diartikan sebagai

memberikan hak yang setara dengan kapasitas

seseorang atau pemberlakuan kepada tiap orang

secara proporsional, tetapi juga bisa berarti

memberi sama banyak kepada setiap orang apa

yang menjadi jatahnya berdasarkan prinsip

keseimbangan. Pada vonis majelis hakim

persidangan M.Nazaruddin, penulis menilai hakim

seolah tidak mempertimbangkan beberapa faktor

yang seharusnya dapat memberatkan terdakwa

seperti yang telah penulis kemukakan diatas. Fakta

bahwa terdakwa adalah seorang pejabat negara

(DPR) yang menerima gaji/pendapatan yang

berasal dari APBN serta tindakan terdakwa yang

(5)

tidak kooperatif pada kenyataannya tidak terlihat memberatkan terdakwa dalam putusan 4 tahun 10 bulan tersebut.

Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, konsisten, dan konsekuen, yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif. Pada kasus persidangan Nazaruddin, majelis hakim menyatakan bahwa pasal yang tepat untuk dikenakan pada Nazaruddin adalah pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 dimana ancaman hukuman maksimal adalah 5 (lima) tahun penjara, sedangkan tuntutan jaksa penuntut umum saat itu adalah pasal 12 huruf b dengan hukuman maksimal 20 (dua puluh) tahun penjara.

Perbedaan interpretasi hakim dan jaksa ini bisa jadi dikarenakan adanya fakta persidangan yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan perkenaan pasal. Namun jangan dilupakan bahwa hukum bukan sekedar hukum materiil yang tercantum dalam undang-undang semata, reaksi sosial masyarakat juga merupakan kontrak sosial yang tidak tertulis dalam kehidupan sosial.

Sedangkan dari sisi kemanfaatannya, hukum seyogyanya membawa kegunaan dalam tata sinergis antara keadilan dan kepastiannya.

Sehingga dalam praktek, hukum membawa akibat (manfaat) kepada terciptanya rasa terlindungi dan keteraturan dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Situasi sosial yang mengikuti jalannya proses persidangan M.Nazaruddin

memunculkan berbagai polemik yang bisa merubah mindset masyarakat secara sistemik. Pola pikir bahwa bencana korupsi yang menimpa negeri ini turut didukung dengan buruknya penegakan hukum khususnya dalam tahapan putusan pengadilan.

Secara keseluruhan, sulit rasanya untuk kita mengatakan bahwa putusan majelis hakim Pengadilan Tipikor yang memberikan hukuman 4 tahun 10 bulan kepada terdakwa M.Nazaruddin telah memenuhi tujuan hukum dalam memberikan keadilan, kemanfaatan, serta kepastian. Terlepas dari ada ataupun tidak ‘political will’ yang bermain, banyak dari masyarakat yang menyatakan ketidak puasan terhadap keputusan tersebut. Hal ini terlebih lagi ditambah dengan carut marutnya pelaksanaan penegakan hukum di Indonesia yang berjalan secara linier mengikuti derasnya ancaman kejahatan korupsi di negara ini.

Daftar Pustaka

1. Anthon Susanto, Wajah Peradilan Kita, Rafika Aditama,2004.

2. Adrianus Meliala, Kriminologi dan Viktimologi, 2009.

3. Raimond Flora dalam Penegakan Hukum http://www.scribd.com/doc/2953532/Peneg akkan-Hukum.

4. http://bumnwatch.com/pasal-yang-

dikenakan-pada-nazzarudin-terlalu-ringan/

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Mardiyati dalam perjanjian jual beli mobil merupakan wanprestasi atau perbuatan melawan hukum ditinjau dari KUHPerdata dan keterkaitan putusan Majelis Hakim

Berdasarkan putusan Majelis Hakim diatas, sudah benar dan sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa yakni melakukan penganiayaan yang mengakibatkan

Menimbang, bahwa majelis hakim telah memeriksa dan meneliti secara cermat dan saksama berkas perkara beserta turunan resmi putusan Pengadilan Negeri Maros tanggal

11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja sudahlah tepat, dan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Wonogiri sependapat dengan Penuntut Umum, dimana Terdakwa SOLIKHIN Bin Alm SUYONO terbukti