• Tidak ada hasil yang ditemukan

...FREE CASH FLOW [J. S. TUALEKA, TENRIWARU, U. KALSUM]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "...FREE CASH FLOW [J. S. TUALEKA, TENRIWARU, U. KALSUM]"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

118

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 PENGARUH FREE CASH FLOW DAN FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP

MANAJEMEN LABA DENGAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL MODERASI

JIHANA SAFIRA TUALEKA1,2 TENRIWARU

UMMU KALSUM

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ABSTRACT

This research aimed to examine whether free cash flow and financial leverage affected profit management and whether good corporate governance as a moderating variable moderated the effect of free cash flow and financial leverage on profit management on textile and garment companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the period 2016-2018. This study used sample of 16 companies from the textile and garment listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2016-2018, and used a purposive sampling technique. Based on the results of research conduct shows that free cash flow has a negative and significant effect on earnings management. Financial leverage has a negative and not significant effect on earnings management.

Good corporate governance can moderate or strengthen the influence between free cash flow and profit management. And good corporate governance can moderate or strengthen the influence between financial leverage and profit management.

Keywords: GCG, Cash, Profit

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah free cash flow dan financial leverage berpengaruh terhadap manajemen laba dan apakah good corporate governance sebagai variabel moderasi memoderasi pengaruh antara free cash flow dan financial leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian ini terdiri dari perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018 yaitu berjumlah 16 perusahaan, teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa free cash flow berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Financial leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba. Good corporate governance dapat memoderasi atau memperkuat pengaruh antara free cash flow dan manajemen laba. Dan good corporate governance dapat memoderasi atau memperkuat pengaruh antara financial leverage dan manajemen laba.

Kata-kata Kunci: GCG, Kas, Laba

1 Correspondence Author

2 email: [email protected] Article Info:

Received 21 July 2020 │Revised 27 August 2020 │Accepted 25 September 2020

(2)

119

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 1. PENDAHULUAN

Kenyataan yang terjadi saat ini, kebanyakan pemakai laporan keuangan hanya berfokus pada informasi laba perusahaan, bukan pada bagaimana laba tersebut dihasilkan. Informasi laba sering menjadi target rekayasa melalui tindakan oportunis manajemen untuk memaksimumkan kepuasaannya dalam memanipulasi laporan keuangan agar dapat menarik calon investor (Almadara, 2017). Tindakan tersebut merupakan tindak manajemen laba. Manajemen laba merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer dengan cara memanipulasi laporan keuangan dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri (manajer) maupun keuntungan perusahaan (Kodriyah & Fitri, 2017).

Tabel 1

Data Laba/Rugi Perusahaan Tekstil dan Garmen yang Terdafar di BEI Peroide 2016-2018

Kode Perusahaan Laba/Rugi dalam Jutaan Rp

2016 2017 2018

ADMG -276.375 -117.026 -19.195

ARGO -345.536 -201.484 -120.454

CNTX -12.036 -8.926 -20.346

ERTX 20.951 -23.878 15.593

ESTI 42.021 -23.064 20.792

HDTX -393.568 -847.049 -229.989

INDR 19.573 30.606 917.643

MYTX -356.491 -286.485 -170.235

POLY -159.463 10.014.185 188.808

RICY 14.033 16.559 18.480

SRIL 797.637 1.091.590 1.244.166

SSTM -14.583 -23.710 1.112

STAR 463 595 174

TFCO 83.670 44.332 -7.283

TRIS 25.213 14.199 19.665

UNIT 861 1.062 507

Sumber: www.idx.com, 2019.

Munculnya praktik manajemen laba disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya yang menjadi variabel dalam penelitian ini yaitu free cash flow dan financial leverage. Free cash flow adalah sisa arus kas yang didistribusikan kepada pemegang saham setelah perusahaan membayar semua beban operasi, investasi, dan pendanaan untuk mempertahankan kapasitas produk saat ini.

Free cash flow yang memadai dapat menurunkan tindak manajemen laba karena menunjukkan keadaan perusahaan yang sehat kepada investor dan kreditor.

Sebaliknya jika tingkat free cash flow rendah akan meningkatkan tindak manajemen laba, di mana manajer tidak mau melakukan pelanggaran kontrak kepada kreditor dan investor (Agustia, 2013).

Selain free cash flow, financial leverage juga dapat memengaruhi manajemen laba. Financial leverage adalah penggunaan sumber dana dari utang yang memiliki beban tetap yang digunakan untuk membiayai aset perusahaan.

Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan, karena

(3)

120

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 perusahaan akan termasuk dalam kategori extreme leverage (utang ekstrim) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut (Kodriyah & Fitri, 2017). Perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi, berarti proporsi utangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya akan cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk earnings management sehingga perusahaan yang leverage-nya tinggi cenderung mengatur laba yang dilaporkan dengan menaikkan atau menurunkan laba periode masa datang ke perioda saat ini (Aditama, 2018).

Good corporate governance merupakan salah satu upaya perusahaan untuk mengendalikan manajemen laba. Good corporate governance merupakan suatu sistem yang dapat mengendalikan perusahaan untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan untuk menjamin kelangsungan dan tanggung jawab kepada pemegang saham.

Berdasarkan agency theory, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk melakukan manajemen laba apabila nilai free cash flow perusahaan tersebut rendah karena perusahaan terindikasi memiliki masalah keagenan yang lebih besar. Selain dari itu, perusahaan juga cenderung meningkatkan laba perusahaan untuk menutupi tindakan manajer yang tidak optimal dalam memanfaatkan kekayaan perusahaan. Good corporate governance disini berperan penting untuk mengendalikan tindakan manajer agar tidak melakukan manajemen laba.

Untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang kepada kreditor, manajer melakukan manajemen laba agar kinerja manajer terlihat baik di mata kreditor.

Penggunaan utang yang terlalu tinggi juga dapat memicu manajer untuk melakukan manajemen laba karena perusahaan akan masuk dalam kategori extreme leverage atau utang ekstrim di mana perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya pada waktunya. Sistem good corporate governance dapat mengindikasi jika adanya manajemen laba yang dilakukan manajer dalam memalsukan laporan keuangan perusahaan.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya terkait manajemen laba maka peneliti mengambil topik ini dengan judul

“Pengaruh Free Cash Flow dan Financial Leverage Terhadap Manajemen Laba dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi”.

2. LANDASAN TEORI

Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa teori keagenan merupakan suatu kontrak di bawah satu atau lebih yang melibatkan agent untuk melaksanakan beberapa layanan bagi mereka dengan melakukan pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada agent. Teori keagenan (agency theory) menjelaskan tentang kontrak antara principal (pemilik perusahaan) dengan agent (manajer) di mana principal memberikan kepercayaan kepada agent untuk mengelola perusahaan kemudian agent memberikan informasi-informasi mengenai aktivitas perusahaan kepada principal.

Teori keagenan digunakan dalam praktik manajemen laba karena di dalam perusahaan manajer diberikan kepercayaan oleh pemilik perusahaan untuk mengelola perusahaan dengan baik dan melaporkan setiap aktivitas perusahaan

(4)

121

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 agar tidak terjadi kesalahpahaman antar manajer dan pemilik, serta tidak terjadi pemalsuan atau manipulasi informasi keuangan perusahaan.

Manajemen Laba

Manajemen laba merupakan suatu tindakan manajer yang memilih kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan yang spesifik dan kebijakan akuntansi yang dimaksud adalah penggunaan accrual dalam menyusun laporan keuangan (Scott, 2015). Sulistiawan et al. (2011) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi motivasi manajer untuk melakukan tindakan manajemen laba, di antaranya adalah motivasi bonus, motivasi uang, motivasi pajak, motivasi penjualan saham, motivasi pergantian direksi, dan motivasi politis. Scott (2015) juga mengungkapkan bentuk-bentuk manajemen laba yang dilakukan oleh manajer, antara lain taking a bath, penurunan laba, peningkatan laba, dan peralatan laba (income smoothing).

Free Cash Flow

Brigham dan Houston (2010) menyatakan bahwa arus kas bebas yang berarti arus kas yang benar-benar tersedia untuk dibayarkan kepada seluruh investor setelah perusahaan menempatkan seluruh investasinya pada aktiva tetap, produk-produk baru, dan modal kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi yang sedang berjalan. Perusahaan dengan arus kas bebas yang tinggi tanpa adanya pengawasan yang memadai bisa terjadi karena pihak manajer tidak memanfaatkan secara optimal kas yang tersedia secara tepat, atau menggunakannya untuk investasi yang menguntungkan dirinya sendiri. Free cash flow yang memadai dapat menurunkan tindak manajemen laba karena menunjukkan keadaan perusahaan yang sehat kepada investor dan kreditor. Sebaliknya jika tingkat free cash flow rendah akan meningkatkan tindak manajemen laba, di mana manajer tidak mau melakukan pelanggaran kontrak kepada kreditor dan investor (Agustia, 2013; Hartono et al, 2020).

Financial Leverage

Financial leverage is the use of assets and sources of funds that have fixed costs or expenses originating from loans in order to increase the potential profit of shareholders and show the proportion of how much the company is financed by debt (Mustamin & Usman, 2019; Simarmata, Ng, & Daromes (2019). Definisi ini menyatakan bahwa financial leverage adalah penggunaan aset dan sumber dana yang memiliki biaya tetap atau pengeluaran yang berasal dari pinjaman untuk meningkatkan potensi keuntungan pemegang saham dan menunjukkan proporsi seberapa banyak perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio utang (debt ratio) yaitu rasio yang menghitung seberapa jauh dana disediakan oleh kreditor (Hanafi & Halim, 2009). Rasio yang tinggi berarti perusahaan menggunakan financial leverage yang tinggi.

Good Corporate Governance

Menurut The Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG 2012 dalam Herlambang, 2017; Triyuwono et al, 2020), Corporate Governance (CG) merupakan serangkaian mekanisme yang mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan agar operasional perusahaan berjalan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan (stakeholders). Terdapat 5 prinsip good corporate governance yaitu transparansi (transparency), pengungkapan (disclosure),

(5)

122

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 kemandirian (independence), akuntabilitas (accountability), dan kewajaran (fairness). Mekanisme good corporate governance terbagi menjadi dua, yaitu mekanisme eksternal dan mekanisme internal. Menurut Sutedi (2012) mekanisme eksternal dipengaruhi oleh faktor eksternal perusahaan yang meliputi investor, akuntan publik, pemberi pinjaman dan lembaga yang mengesahkan legalitas. Sedangkan mekanisme internal dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan yang meliputi kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen, dan komite audit.

3. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitan

Penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan dari bulan Februari 2020 hingga Mei 2020. Data yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari sumber data sekunder yang tersedia di website resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.com).

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018 yang berjumlah 16 perusahaan. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method yang merupakan teknik penentuan sampel dengan beberapa pertimbangan dan kriteria. Dari hasil kriteria-kriteria yang ditentukan oleh penulis diperoleh 16 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan data yang diambil adalah dari tahun 2016-2018.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif di mana adalah laporan keuangan tahunan perusahaan tekstil dan garmen periode 2016-2018. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari website resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.com).

Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan kepustakaan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai perusahaan yang terdaftar di website resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.com) seperti laporan arus kas untuk memperoleh data mengenai free cash flow yang dimiliki oleh perusahaan, dan laporan keuangan berupa laba rugi, posisi keuangan, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, dari data tersebut dapat dihitung dan diketahui informasi mengenai tindakan manajemen laba (earnings management).

Metode Analisis Data Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif statistik digunakan untuk mengetahui deskripsi data dan menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti mean, nilai minimum, dan standar deviasi (Widyaningrum, 2018). Statistik deskriptif akan memberikan gambaran umum atau sebuah informasi yang lebih jelas dan mudah untuk dipahami dari setiap variabel penelitian. Gambaran atau deskripsi suatu

(6)

123

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 data dapat dilihat dari nilai rata-rata (mean), median, standar deviasi, nilai maksimum dan minimum (Rustan, 2017).

Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan analisis penyebaran data pada grafik histogram dan normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Menurut Widyaningrum (2016), uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi ditemukan adanya korelasi antarvariabel bebas (independen). Salah satu cara untuk menguji multikolinearitas adalah dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF).

c. Uji Heteroskedastisitas

Menurut Rustan (2017), uji heteroskedastisitas dilakukan untuk melihat sama atau tidak varians dari residual dari observasi yang satu dengan observasi yang lain. Heteroskedastisitas terjadi jika pada scatterplot titik- titiknya mempunyai pola teratur, baik menyempit, melebar maupun bergelombang-gelombang (Ghozali, 2011).

d. Uji Autokorelasi

Autokorelasi adalah keadaan di mana terjadi korelasi dari residual untuk pengamatan yang lain yang disusun menurut runtun waktu. Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya masalah autokorelasi (Widyaningrum, 2018).

Uji Hipotesis

a. Uji Regresi Berganda

Analisis regresi berganda adalah suatu analisis untuk mengukur implikasi dari dua variabel bebas atau lebih pada variabel terikat (Riduwan et al., 2011). Persamaan analisis regresi berganda adalah sebagai berikut.

Y=𝛼+𝛽1X1+𝛽2X2+𝜀 Ket:

Y = Variabel Dependen X1 = Variabel Independen 1 X2 = Variabel Independen 2 𝛼 = Konstanta

𝛽 = Koefisien Regresi 𝜀 = Nilai Residu

b. Pengujian Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) berguna untuk mengukur seberapa besar peranan variabel independen secara simultan berpengaruh pada perubahan variabel dependen.

c. Pengujian Parsial (Uji t)

Statistik uji t digunakan untuk menguji hubungan antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y) secara sendiri-sendiri.

(7)

124

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Moderated Regression Analysis (MRA)

Menurut Liana (2009), Moderated Regression Analysis (MRA) atau uji interaksi merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear di mana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian dua atau lebih variabel independen).

Persamaan (I) Y=𝛼+𝛽1X1+𝛽2X2 +𝛽3Z+𝜀

Persamaan (II) Y=𝛼+𝛽1X1+𝛽2X2 +𝛽3Z+𝛽4X1Z+𝜀 Persamaan (III) Y=𝛼+𝛽1X1+𝛽2X2 +𝛽3Z+𝛽4X2Z+𝜀 Ket:

Y = Variabel Dependen X1 = Variabel Independen 1 X2 = Variabel Independen 2 Z = Variabel Moderasi 𝛼 = Konstanta

𝛽 = Koefisien Regresi 𝜀= Nilai Residu

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Statistik Deskriptif

Tabel 2 Statistik Deskriptif

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik deskriptif variabel manajemen laba (Y) dengan jumlah data (N) sebanyak 48 mempunyai nilai rata- rata (mean) sebesar -0,0538 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,16611, variabel free cash flow (X1) dengan jumlah data (N) sebanyak 48 mempunyai nilai rata-rata (mean) sebesar 7.297.465.638 dengan nilai standar deviasi sebesar 5.733.554.871, dan variabel financial leverage (X2) dengan jumlah data (N) sebanyak 48 mempunyai nilai rata-rata (mean) sebesar 0,9200 dengan nilai standar deviasi sebesar 1,12108.

Descriptive Statistics

Mean Std. Deviation N Manajemen

Laba (Y)

-,0538 ,16611 48

FCF (X1) 72974656380, 0000

57335548710 0,00000

48

FL (X2) ,9200 1,12108 48

(8)

125

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Berdasarkan gambar grafik histogram di atas dapat dilihat bahwa grafik memberikan pola distribusi yang melenceng ke kanan yang artinya adalah berdistribusi normal.

Sedangkan pada grafik normal probability plot terlihat garis yang menggambarkan data sesungguhnya atau titik-titik yang mengikuti garis diagonalnya sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi syarat asumsi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Tabel 3

Hasil Uji Multikolinearitas

Pada tabel terlihat bahwa variabel free cash flow (X1) dan financial leverage (X2) sama-sama memiliki nilai tolerance yang berada dibawah angka 1 (0,996 ˂ 1) dan nilai VIP yang berada dibawah angka 10 (1,004 ˂ 10), sehingga tidak ada gangguan multikolonieritas pada variabel independen.

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

FCF (X1) ,996 1,004

FL (X2) ,996 1,004

a. Dependent Variable: Manajemen laba (Y) Gambar 1

Grafik Histogram

Gambar 2

Grafik Normal Probability Plot

(9)

126

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 c. Uji Heteroskedastisitas

Gambar 3 Pola Scatterplot

Pada gambar di atas terlihat bahwa scatterplot titik-titik data menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu atau pola bergelombang. Hal ini berarti bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Tabel 4

Hasil Uji Autokorelasi

Berdasarkan tabel, terlihat bahwa nilai DW (Durbin-Watson) yang dihasilkan dari model regresi adalah 2,071. Sedangkan dari tabel Durbin- Watson dengan signifikansi 0,05 dan jumlah data (n) = 48 dan jumlah variabel independen (k) = 2 diperoleh nilai dL sebesar 1,4500 dan dU sebesar 1,6321. Karena nilai DW lebih besar dari dL dan dU (1,4500 ˂ 2,071 ˃ 1,6321), dan nilai (4-DW) yaitu 1,929 lebih besar dari dU dan dL (1,4500 ˂ 1,929 ˃ 1,6321) maka tidak terdapat autokorelasi.

Model Summaryb

Model Durbin-Watson

1 2,071

a. Predictors: (Constant), FL (X2), FCF (X1)

b. Dependent Variable: Manajemen laba (Y)

(10)

127

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Pengujian Hipotesis

a. Uji Regresi Berganda

Berdasarkan tabel, maka persamaan regresi yang terbentuk adalah sebagai berikut:

Tabel 5

Hasil Uji Regresi Berganda

D

Dari tabel di atas, persamaan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

Y = -0,042–1.485–0,001+𝜀 b. Pengujian Koefisien Determinasi (R2)

Tabel 6

Hasil Pengujian Koefisien Determinasi

Dari tabel 6 terlihat bahwa nilai R Square (R2) adalah 0,263. Hal ini berarti bahwa kemampuan variabel free cash flow (X1) dan variabel financial leverage (X2) hanya mampu menjelaskan 26,3%. Sedangkan sisanya 73,7% (100%-26,3%) diterangkan oleh faktor-faktor lain diluar model regresi yang dianalisis.

c. Pengujian Parsial (Uji t)

Tabel 7

Hasil Pengujian Parsial (Uji t)

Berdasarkan hasil pengujian parsial variabel free cash flow (X1) diperoleh nilai t hitung yang lebih kecil dari nilai t tabel (-3,996 ˂ 2,0141) dan tingkat signifikansi yang lebih besar (0,000 ˂ 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa free cash flow (X1) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba (Y).

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

B Std. Error Beta

1 (Constant) -,042 ,027

FCF (X1) -1,485E-13 ,000 -,512

FL (X2) -,001 ,019 -,008

a. Dependent Variable: Manajemen laba (Y)

Model Summaryb

Model R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,513a ,263 ,230 ,14573

a. Predictors: (Constant), FL (X2), FCF (X1) b. Dependent Variable: Manajemen laba (Y)

Coefficientsa

Model T Sig.

1 (Constant) -1,532 ,132

FCF (X1) -3,996 ,000

FL (X2) -,059 ,953

a. Dependent Variable: Manajemen laba (Y)

(11)

128

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Sedangkan variabel financial leverage (X2) diperoleh nilai t hitung yang lebih kecil dari nilai t tabel (-0,059 ˂ 2,0141) dan tingkat signifikansi yang lebih besar (0,953 ˃ 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa financial leverage (X2) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba (Y).

Moderated Regression Analysis (MRA) Tabel 8

Hasil Moderater Regression Analysis ZX1

Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai pearson correlation antara free cash flow (X1) dengan manajemen laba (Y) lebih kecil dari nilai pearson correlation antara free cash flow (X1) dengan interaksi free cash flow dengan good corporate governance (ZX1) (-0,513 ˂ 0,979), maka hal ini berarti bahwa variabel good corporate governance (Z) dapat memperkuat hubungan antara free cash flow (X1) dengan manajemen laba (Y).

Tabel 9

Hasil Moderated Regression Analysis ZX2

Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai pearson correlation antara financial leverage (X2) dengan manajemen laba (Y) lebih kecil dari nilai pearson correlation antara financial leverage (X2) dengan interaksi financial leverage dengan good corporate governance (ZX2) (-0,041 ˂ 0,986), maka hal ini berarti bahwa variabel good corporate governance (Z) dapat memperkuat hubungan antara financial leverage (X2) dengan manajemen laba (Y).

Correlations Manaje

men laba (Y)

FCF (X1)

GCG (Z)

Interaksi ZX1 Pearson

Correlation

Manajemen laba (Y)

1,000 -,513 -,090 -,571 FCF (X1) -,513 1,000 ,102 ,979

GCG (Z) -,090 ,102 1,000 ,151

Interaksi ZX1 -,571 ,979 ,151 1,000

Correlations Manaje

men laba (Y)

FL (X2)

GCG (Z)

Interaksi ZX2 Pearson

Correlation

Manajemen laba (Y)

1,000 -,041 -,090 -,042

FL (X2) -,041 1,000 -,009 ,986

GCG (Z) -,090 -,009 1,000 ,140

Interaksi ZX2 -,042 ,986 ,140 1,000

(12)

129

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Pembahasan

Pengaruh Free Cash Flow terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t), free cash flow berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Hasil ini menjelaskan bahwa perusahaan yang memiliki nilai free cash flow tinggi tidak akan membuat manajer melakukan tindakan manajemen laba. Hal ini sejalan dengan teori keagenan (agency theory) yang di mana manajer bertanggung jawab dalam pengelolaan perusahaan. Manajer akan melakukan tindakan manajemen laba untuk mencari sumber pendanaan dari para pemegang saham. Sehingga semakin tinggi nilai free cash flow atau kas perusahaan yang tidak memiliki peruntukan yang dapat digunakan untuk mendanai modal kerja suatu perusahaan, maka secara psikologis manajer tidak tertekan untuk memodifikasi laporan keuangan atau melakukan tindakan manajemen laba karena kinerja manajer sudah terlihat baik di mata para pemegang saham dan perusahaan tersebut berada dalam keadaan yang sehat.

Free cash flow merupakan determinan penting dalam penentuan nilai perusahaan, sehingga manajer perusahaan lebih terfokus pada usaha untuk meningkatkan free cash flow (Herlambang, 2017). Sebagian besar investor merupakan transient investors (pemilik sementara perusahaan) yang lebih terfokus pada informasi arus kas bebas perusahaan yang menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen, sehingga dengan arus kas bebas yang tinggi, tanpa adanya manajemen laba, perusahaan sudah bisa meningkatkan harga sahamnya karena investor melihat bahwa perusahaan tersebut mempunyai kelebihan kas untuk pembagian dividen (Mardiyanto dalam Agustia, 2013).

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Agustia (2013) yang menyatakan bahwa free cash flow berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Tetapi berbeda dengan penelitian Puspitasari et al. (2019) yang menyatakan bahwa UKA, DKI, KI, FCF dan leverage terhadap manajemen laba berimplikasi positif signifikan pada perusahaan batu bara yang listing di BEI.

Pengaruh Financial Leverage terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t), financial leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba.

Hasil ini berbeda dengan hipotesis yang pada awalnya menyatakan bahwa financial leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat financial leverage tinggi akan melakukan tindakan manajemen laba. Hal ini tidak sejalan dengan teori keagenan (agency theory) di mana manajer akan berusaha memenuhi kontrak dengan pemegang saham sehingga ketika tingkat financial leverage suatu perusahaan dikatakan tinggi maka semakin tinggi pula kemungkinan manajer akan memanipulasi laporan keuangan perusahaan.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat financial leverage suatu perusahaan, maka manajer semakin tidak tertekan untuk melakukan tindakan manajemen laba. Hal ini terjadi karena ketika tingkat financial leverage perusahaan atau penggunaan utang terhadap aset perusahaan tinggi, maka para pemegang saham akan semakin memperketat pengawasan dalam kinerja manajer tersebut, sehingga fleksibilitas manajer dalam melakukan tindakan manajemen laba akan semakin berukurang.

(13)

130

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Fitri (2015) yang menyatakan leverage berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba. Tetapi berbeda dengan penelitian Setiawati et al. (2019) yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba akrual.

Kemampuan Good Corporate Governance dalam Memoderasi Pengaruh Free Cash Flow terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil uji moderated regression analysis (MRA), good corporate governance dapat memoderasi atau memperkuat pengaruh free cash flow terhadap manajemen laba. Hasil pengujian ini sesuai dengan hipotesis pada awalnya yang menyatakan bahwa good corporate governance dapat memoderasi atau memperkuat pengaruh free cash flow terhadap manajemen laba.

Hasil ini menjelaskan bahwa perusahaan dengan good corporate governance akan memperkuat pengaruh free cash flow terhadap manajemen laba. Sejalan dengan teori keagenan (agency theory), di mana manajer selaku agen akan melakukan tindak manajemen laba karena manajer tidak ingin melakukan pelanggaran kontrak terhadap para pemilik perusahaan jika nilai free cash flow perusahaan tersebut rendah karena pemilik perusahaan harus menutupi sisa arus kas tersebut. Tetapi dengan adanya good corporate governance yang di mana adalah sistem, mekanisme, atau konsep untuk mengendalikan dan mengontrol suatu perusahaan agar operasional perusahaan atau kinerja manajemen dapat berjalan sesuai dengan harapan stakeholder, manajer mempunyai peluang lebih kecil untuk melakukan tindak manajemen laba.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Setiawati et al. (2019) yang menyatakan bahwa free cash flow dengan good corporate governance tidak mampu memperkuat atau memperlemah hubungan antara free cash flow dengan manajemen laba.

Kemampuan Good Corporate Governance dalam Memoderasi Pengaruh Free Cash Flow terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil uji moderated regression analysis (MRA), good corporate governance dapat memoderasi atau memperkuat pengaruh financial leverage terhadap manajemen laba. Hasil pengujian ini sesuai dengan hipotesis pada awalnya yang menyatakan bahwa good corporate governance dapat memoderasi atau memperkuat pengaruh financial leverage terhadap manajemen laba.

Hasil ini menjelaskan bahwa perusahaan dengan good corporate governance akan memperkuat pengaruh financial leverage terhadap manajemen laba. Sejalan dengan teori agensi (agency theory) di mana pengawasan pemilik perusahaan akan semakin ketat ketika perusahaan memiliki tingkat financial leverage yang tinggi dan dengan adanya good corporate governance manajer mempunyai peluang lebih kecil untuk melakukan tindak manajemen laba.

Perusahaan tekstil dan garmen merupakan salah satu perusahaan dengan jumlah total aset yang cukup tinggi. Dengan meningkatnya total aset perusahaan maka semakin rendah tingkat financial leverage perusahaan tersebut dan hal ini berarti perusahaan memiliki peluang kecil untuk melakukan tindak manajemen laba karena pengawasan yang semakin ketat. Dengan adanya good corporate

(14)

131

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 governance, manajer tidak dapat menyembunyikan atau memalsukan laporan keuangan perusahaan dari pemilik perusahaan.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Setiawati et al. (2019) yang menyatakan bahwa free cash flow dengan good corporate governance tidak mampu memperkuat atau memperlemah hubungan antara free cash flow dengan manajemen laba.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Free cash flow berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba.

2. Financial leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba.

3. Good corporate governance memoderasi atau memperkuat pengaruh antara free cash flow dan manajemen laba.

4. Good corporate governance memoderasi atau memperkuat pengaruh antara financial leverage dan manajemen laba.

(15)

132

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 DAFTAR PUSTAKA

Jurnal / Buku:

Aditama, B. P. (2018). Analisis Good Corporate Governance, Free Cash Flow, Leverage, Terhadap Earning Management, dan Shareholder Wealth pada Perusahaan Sektor Jasa yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ekonomi & Bisnis, 3(September), 739–776. https://jurnal.untag- sby.ac.id/index.php/JEB17/article/view/2134/1800

Agustia, D. (2013). Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow, dan Leverage Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 15(1), 27-42. https://doi.org/10.9744/jak.15.1.27-42

Almadara, H. U. (2017). Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI [Universitas Negeri Yogyakarta]. In Skripsi.

https://eprints.uny.ac.id/50115/1/SKRIPSI_HAFIDZA ULFA ALMADARA_13812141001.pdf

Asyiroh, N., & Hartono, U. (2019). Firm size, Leverage, Profitabilitas, Free Cash Flow, Good Corporate Governance dan Earning Management: Studi pada Perusahaan Sektor Infrastruktur dan Transportasi di Indonesia. Jurnal Ilmu Manajemen Volume, 7(3), 726-739. https://core.ac.uk/reader/230764786 Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2010). Dasar-dasar Manajemen Keuangan

(Edisi Kese). Salemba Empat.

Fitri, A. (2015). The Influence of Good Corporate Governance, Leverage, and Profitability on Earning Management with Firm Size as Moderating Variable in the Banking Companies Listed In Indonesia Stock Exchange in the Period of 2012-2016. International Journal of Research and Review, 2(6), 343-347.

http://www.gkpublication.in/IJRR_Vol.2_Issue6_June2015/IJRR0066.pdf Ghozali, I. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19.

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hanafi, M. M., & Halim, A. (2009). Analisis Laporan Keuangan (Edisi Keli). UPP STIM YKPN.

Hartono, H., Pasoloran, O., & Daromes, F. E. (2020). Role of Hedging Mechanism in Maintaining Volatility Cash Flow and Growth Opportunity and Their Impact on Investor Reaction. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, 15(1), 23-34.

Herlambang, A. (2017). Analisis Pengaruh Free Cash Flow dan Financial Leverage Terhadap Manajemen Laba dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ekonomi

Universitas Riau, 4(1), 15-29.

https://media.neliti.com/media/publications/184281-ID-none.pdf

(16)

133

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 Kodriyah, & Fitri, A. (2017). Pengaruh Free Cash Flow dan Leverage Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur di BEI. Jurnal Akuntansi,

3(2), 64-76. https://e-

jurnal.lppmunsera.org/index.php/Akuntansi/article/view/218

Liana, L. (2009). Penggunaan MRA dengan SPSS untuk Menguji Pengaruh Variabel Moderating Terhadap Hubungan antara Variabel Independen dan Variabel Dependen. Jurnal Teknologi Informasi DINAMIK, XIV(2), 90-97.

https://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti1/article/view/95/90

Mustamin, I., & Usman, A. (2019). The Effect of Financial Leverage on Profit Management with Managerial Ownership as Moderating. International Journal of Academic Research in Accounting, Finance and Management Sciences, 9(2), 83-91. https://doi.org/10.6007/IJARAFMS/v9-i2/6034

Puspitasari, E. P., Diana, N., & Mawardi, M. C. (2019). Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow, dan Leverage Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Batu Bara. E-Jra, 08(03), 87–100.

http://riset.unisma.ac.id/index.php/jra/article/view/2386/2233

Riduwan, Rusyana, A., & Enas. (2011). Cara Mudah Belajar SPSS 17.0 dan Aplikasi Statistik Penelitian. Alfabeta.

Rustan, F. (2017). Implikasi Corporate Governance dan Free Cash Flow pada Manajemen Laba di Perusahaan yang Memperoleh Sertifikat Corporate Governance Perception Index [Universitas Hasanuddin].

https://pdfs.semanticscholar.org/d29f/9f15ce2c5acb25cee514a8efaca4b4c9 8888.pdf

Scott, W. R. (2015). Financial Accounting Theory (7th Edition). Pearson Prentice Hall.

Simarmata, C. N., Ng, S., & Daromes, F. E. (2019). UKURAN PERUSAHAAN DAN TINGKAT LEVERAGE SEBAGAI PENDORONG PENERAPAN HEDGING UNTUK MENEKAN RISIKO IDIOSINKRATIK. AJAR, 2(02), 19- 48.

Setiawati, E., Mujiyati, & Rosit, E. M. (2019). Pengaruh Free Cash Flow dan Leverage Terhadap Manajemen Laba dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi. Akuntabilitas, 13(1), 69-82.

https://doi.org/10.29259/ja.v13i1.9481

Sulistiawan, D., Januarsi, Y., & Alvia, L. (2011). Creative Accounting:

Mengungkap Manajemen Laba dan Skandal Akuntansi. Salemba Empat.

Sutedi, A. (2012). Good Corporate Governance (Edisi 1). Sinar Grafika.

Triyuwono, E., Ng, S., & Daromes, F. E. (2020). TATA KELOLA PERUSAHAAN

SEBAGAI MEKANISME PENGELOLAAN RISIKO UNTUK

(17)

134

SIMAK VOL. 18 NO. 02 (NOVEMBER) 2020, 118-134 MENINGKATKAN NILAI PERUSAHAAN. Media Riset Akuntansi, Auditing &

Informasi, 20(2), 205-220.

Widyaningrum, R. (2018). The Effect of Free Cash Flow, Profitability, and Leverage to Earnings Management with Good Corporate Governance as A Moderating Variable. Journal of Management, 4(4).

https://jurnal.unpand.ac.id/index.php/MS/article/view/933 Internet:

www.idx.co.id www.ojk.go.id

Referensi

Dokumen terkait

salah satu modul yang direncanakan untuk membekali Ahli Teknik Lalu Lintas (Traffic Engineer) dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam melakukan survai lalu

Disisi lain DER yang tinggi juga bisa memperlemah atau memperkecil pengaruh antara likuiditas perusahaan dengan risiko sistematis saham, hal tersebut memberikan

Pengadilan Tinggi Palembang, yang dalam wilayah hukunnya yang se- karang akan berdiri Pengadilan 'ringgi Tanjung Ka.rang, dibentuk berdasar- kan W No: ll Tahun

Indexpage ( http://drupal.org/project/indexpage ) merupakan modul yang dipergunakan untuk membuat menu link abjad, modul ini bermanfaat dalam membuat link yang berkaitan

Dari hasil analisis oneway Anova didapatkan jumlah rata-rata sel spermatid kelompok kontrol adalah 1010, kelompok perlakuan pertama (yang diberikan fraksi heksan

(mamsa vanija), perdagangan minum-minuman keras (majja vanija), dan perdagangan racun (visa vanija). Sang Buddha menganjurkan umat berkeluarga bekerja keras untuk

Sequential-injection on-line preconcentration using chitosan resin functionalized with 2-amino-5-hydroxy benzoic acid for the determination of trace elements in environmental

Laporan tugas akhir dengan judul “ROADMAP PEMBUATAN LIFE CYCLE INVENTORY (LCI) DATABASE DI INDONESIA” ini bertujuan untuk merancang roadmap pembuatan LCI database di