1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta) yang disingkat BEI merupakan lembaga yang mengelola pasar modal di Indonesia. BEI menyediakan infrastruktur bagi terselenggaranya transaksi di pasar modal. Pasar modal yang diselenggarakan oleh BEI meliputi transaksi saham dan transaksi surat hutang (obligasi swasta maupun obligasi pemerintah) (Kayo, 2014). Saat ini terdapat sembilan sektor yang ada di BEI yaitu sektor pertanian; pertambangan; industri dasar dan kimia; aneka industri; industri barang konsumsi; properti, real estat dan konstruksi; infrastruktur, utilitas dan transportasi; keuangan; perdangangan, jasa dan investasi. Sektor property dan real estate merupakan salah satu sektor industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki populasi berjumlah 50 perusahaan sampai akhir tahun 2015. (Kayo, 2015)
Industri property dan real estate merupakan dua hal yang berbeda. Real estate bisa diartikan sebagai tanah dan semua benda yang menyatu di atasnya (berupa bangunan) serta yang menyatu terhadapnya (halaman, pagar, jalan, saluran, dan lain-lain yang berada di luar bangunan), sedangkan property adalah kepentingan dan hak-hak yang menyangkut kepemilikan tanah, bangunan, dan perbaikan yang menyatu terhadapnya (Erawan, 2012). Produk yang dihasilkan dari industri property dan real estate sangat beragam. Industri real estate dapat dikelompokkan produknya menjadi tiga kategori besar berdasarkan penggunaanya, yaitu perumahan, komersial, dan industri. Sedangkan industri property tidak hanya mencakup bangunan dan struktur lainnya, tetapi juga hak – hak dan kepentingan. Produk industri property dapat berupa sewa atau perumahan. Perusahaan property dan real estate disamping memiliki kepemilikan juga melakukan penjualan (pemasaran) atas kepemilikannya. Pemasaran disini bisa mencakup menjual atau menyewakan. (Kayo, 2015)
2 Tabel berikut ini merupakan data laju pertumbuhan kumulatif produk domestik bruto sektor property dan real estate.
Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan Kumulatif Produk Domestik Bruto Sektor Property dan Real Estate (Dalam Persen).
Tahun Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV
2011 4,63 5,94 5,85 6,07
2012 7,08 6,87 7,11 7,39
2013 6,78 6,69 6,53 6,57
2014 6,73 6,54 6,45 6,58
Sumber: www.kemenkeu.go.id
Berdasarkan tabel di atas, sektor property dan real estate menunjukkan pertumbuhan yang tinggi pada tahun 2012. Kepala Seksi Hubungan Eksternal Ditjen Pajak, Chandra Budi menyatakan bahwa kondisi tersebut terjadi karena pada tahun 2012 terjadi booming penjualan properti. Namun, kejadian tersebut tidak membuat penerimaan pajak dari sektor real estate meningkat. Kepala Seksi Hubungan Eksternal Ditjen Pajak, Chandra Budi mengungkapkan bahwa berdasarkan uji silang data Real Etate Indonesia (REI) ada potensi pajak penghasilan (PPh) dari properti sekitar Rp 30 triliun, angka tersebut belum termasuk PPN berbeda jauh dengan setoran pajak properti yang hanya sekitar Rp 9 triliun (detik.com, 2013). Berdasarkan fenomena tersebut, maka peneliti menggunakan perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011-2014 sebagai objek penelitian.
1.2 Latar Belakang Penelitian
Pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah satu sumber pembiayaan negara berasal dari pajak. Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk
3 mengoptimalkan penerimaan dari sektor ini untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dan pembangunan nasional. Besarnya penerimaan pajak dapat dilihat pada data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2011-2014, seperti tabel 1.1 berikut.
Tabel 1.2 Anggaran dan Realisasi Anggaran Pendapatan Pemerintah Pusat dari Penerimaan Pajak Tahun 2011-2014 (dalam triliun rupiah)
Tahun Anggaran Realisasi Anggaran
Presentase Realisasi (%yoy)
2011 832 820 98,56
2012 1.016 981 96,49
2013 1.148 1.077 93,81
2014 1.246 1.146 92,04
Sumber: Data yang diolah dari Laporan Keuagan Pemerintah Pusat (LKPP)
Grafik 1.1 Pertumbuhan Realisasi Penerimaan Pajak Pemerintah Pusat Tahun 2011-2014
Sumber: Data yang diolah dari LKPP
Berdasarkan tabel 1.2 pendapatan pemerintah pusat dari penerimaan pajak setiap tahunnya meningkat. Namun, berbeda dengan pencapaian penerimaan pajak antara anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasinya. Data di atas
2011 2012 2013 2014
Realisasi 98,56 96,49 93,81 92,04
88,00 90,00 92,00 94,00 96,00 98,00 100,00
(dalam persen)
4 menunjukkan bahwa realisasi penerimaan pajak setiap tahunnya tidak mampu memenuhi anggaran penerimaan pajak yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Bahkan pencapaian realisasi penerimaan pajak terhadap anggarannya terus menurun. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Muda Ekonomi Terapan pada Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik, Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekertariat Jenderal DPR RI, salah satu penyebab menurunnya realisasi penerimaan pajak setiap tahunnya, yaitu karena tingginya praktik penghindaran pajak dan penggelapan pajak oleh wajib pajak pribadi maupun badan. (Ginting, dpr.go.id, 2015)
Penghindaran pajak (tax avoidance) adalah tindakan legal, dapat dibenarkan karena tidak melanggar Undang-Undang, dalam hal ini sama sekali tidak ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan dan tindakan ini bertujuan untuk menekan atau meminimalisasi jumlah pajak yang harus dibayar (Rahayu, 2013:148). Sedangkan penggelapan pajak (tax evasion) merupakan usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar Undang-Undang (Mardiasmo, 2011:8). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tax evasion merupakan tindakan illegal yang melanggar Undang-Undang.
Praktik penghindaran pajak atau tax avoidance sudah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, seperti yang dilakukan oleh perusahaan Apple Inc, Google, Starbucks, Nike, Microsoft dan Amazon.com. Perusahaan-perusahaan tersebut melakukan rekayasa keuangan lewat rekayasa markas korporasi sehingga secara hukum keuangan, perusahaan-perusahaan tersebut tidak salah jika membayar pajak rendah. (Kompas, 2013)
Desai dan Dharmapala (2006), Wahab dan Holland (2012), dan Maharani dan Suardana (2014) menyatakan bahwa tindakan tax avoidance dapat terjadi karena suatu perusahaan tidak menjalankan corporate governance dengan baik.
Penilaian tentang baik atau tidaknya corporate governance suatu emiten telah dilakukan oleh Asean Corporate Governance Scorecard terhadap Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Vietnam pada tahun 2013-2014. Data tersebut disajikan dalam grafik berikut.
5 Grafik 1.2 Scores Corporate Governance by Part
Sumber: Asean Corporate Governance Scorecard
Berdasarkan grafik 1.2, dimana Asean Corporate Governance Scorecard melakukan penilaian berdasarkan prinsip yang dikembangkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang mencakup (part A) hak pemegang saham; (part B) perlakuan setara antar pemegang saham; (part C) peran pemegang saham; (part D) keterbukaan informasi dan transparansi; (part E) tanggung jawab dewan direksi/komisaris. Dari data di atas dapat dilihat bahwa poin penilaian Indonesia masih jauh dari poin maksimal pada setiap prinsip dan peringkat corporate governance Indonesia masih berada pada posisi yang belum memuaskan. Hasil survey tersebut juga mengungkapkan bahwa skor rata-rata perusahaan di Indonesia adalah 54,55% dengan skor tertinggi 75,4% dan skor terendah 20,8%. Skor tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan di Indonesia masih kurang menerapkan praktik-praktik Good Corporate Governance (GCG) berdasarkan prinsip-prinsip GCG.
Masih buruknya pelaksanaan corporate governance di Indonesia terjadi karena pengelola perusahaan termasuk eksekutif belum menjalankan prinsip- prinsip corporate governance dengan baik. Hal tersebut berkaitan dengan akuntabilitas dan tanggung jawab eksekutif dalam mengelola perusahaan yang
6 sesuai dengan kepentingan perusahaan. Keputusan terhadap kebijakan penghindaran pajak perusahaan dilakukan oleh para eksekutif perusahaan (dewan direksi). Dimana dalam pengambilan keputusan tersebut dipengaruhi oleh kompensasi yang diterima eksekutif dan karakter eksekutif dalam menghadapi risiko perusahaan (risk taker atau risk averse) (Hanafi, 2014). Kompensasi merupakan bayaran yang diterima karyawan sebagai balas jasa atas tenaga dan pikiran yang telah mereka sumbangkan (Sunardi dan Primastiwi, 2012:175).
Agency theory menyebutkan bahwa kompensasi merupakan sistem yang digunakan principal agar agen meningkatkan kinerjanya sehingga dapat meningkatkan laba perusahaan melalui efisiensi beban termasuk beban pajak perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Besarnya kompensasi yang diterima oleh eksekutif berdasarkan kinerjanya, jika eksekutif mampu meningkatkan kinerja untuk meningkatkan profit atau laba perusahaan maka kompensasi yang akan diterima akan semakin tinggi karena eksekutif dapat merealisasikan keinginan principal untuk mendapatkan pengembalian yang tinggi atas investasinya dalam jangka panjang. Dalam usaha memaksimalkan laba perusahaan, principal berharap eksekutif dapat melakukan efisiensi beban pajak perusahaan dengan cara yang tepat yang tidak merugikan perusahaan agar perusahaan dapat terus beroperasi dengan laba yang tinggi dalam jangka panjang.
Namun, dalam upaya tersebut dapat membuka peluang bagi eksekutif untuk bertindak oportunis dengan melakukan penghindaran pajak untuk keuntungan jangka pendek, tidak untuk keuntungan jangka panjang yang diharapkan oleh principal. Hal ini dapat membuka peluang bagi eksekutif untuk melakukan tindakan selain tax avoidance. Sehingga dikhawatirkan eksekutif akan melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum sehingga berdampak buruk bagi perusahaan dan pencapaian laba perusahaan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Sebelumnya beberapa literatur telah menjelaskan hubungan antara kompensasi eksekutif dengan tax avoidance. Hanafi (2014) menemukan bahwa kompensasi yang diberikan kepada eksekutif berpengaruh positif dan signifikan terhadap penghindaran pajak perusahaan. Pemberian kompensasi kepada eksekutif merupakan cara efektif untuk mengurangi pembayaran pajak perusahaan.
7 Silitongan dan Afrina (2014) menunjukkan bahwa kompensasi dewan berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen pajak. Begitupula dengan penelitian yang dilakukan oleh Fahreza (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kompensasi manajemen terbukti berpengaruh signifikan terhadap manajemen pajak perusahaan, semakin besar kompensasi manajemen yang diberikan oleh perusahaan, semakin memacu manajemen untuk melakukan manajemen pajak dengan melakukan perencanaan pajak agar memperoleh penghematan pajak yang maksimal. Rego dan Wilson (2008) melakukan pengujian untuk mengetahui hubungan antara agresivitas pajak dan tingkat kompensasi Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer (CFO).
Mereka menemukan bahwa tingkat kompensasi mendorong CEO dan CFO melakukan efisiensi pembayaran pajak. Namun, berbeda dengan penelitian yang dilakukan Armstrong (2012), Irawan (2012), Puspita (2014), dan Dewi dan Sari (2015). Armstrong et al (2012) melakukan penelitian mengenai hubungan kompensasi yang diterima oleh eksekutif perusahaan, khususnya atas kompensasi yang diterima oleh direktur pajak perusahaan terhadap tax planning perusahaan.
Dalam penelitian tersebut membuktikan adanya hubungan negatif yang kuat antara kompensasi yang diterima direktur pajak perusahaan. Irawan (2012) menyatakan bahwa tingkat kompensasi kepada direksi berpengaruh negatif terhadap efisiensi pembayaran pajak. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kompensasi kepada direksi bukan cara yang efektif untuk mendorong usaha manajemen pajak perusahaan karena terdapat cara yang lebih efektif untuk memperkecil pembayaran pajak perusahaan. Puspita (2014) dan Dewi dan Sari (2015) mengungkapkan bahwa kompensasi eksekutif tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku penghindaran pajak perusahaan. Hal ini terjadi karena sistem bonus di Indonesia kurang memotivasi manajer dalam pengambilan keputusan pajak perusahaan.
Selain kompensasi, tindakan tax avoidance kemungkinan dipengaruhi oleh karakter eksekutif itu sendiri dalam menghadapi risiko perusahaan. Berdasarkan Low (2006) karakter eksekutif dalam menghadapi risiko dapat berupa risk taker maupun risk averse. Eksekutif yang memiliki risk taker cederung lebih berani
8 dalam mengambil keputusan bisnis dan biasanya memiliki dorongan kuat untuk memiliki penghasilan, posisi, kesejahteraan, dan kewenangan yang lebih tinggi (Maccrimon dan Wehrung, 1990). Sementara itu, eksekutif risk averse cenderung tidak menyukai risiko sehingga kurang berani dalam mengambil keputusan bisnis (Low, 2006). Tipe risk averse sangat mengutamakan keamanan dibandingkan memperoleh keuntungan besar tapi berisiko, sedangkan eksekutif perusahaan yang bersifat risk taker akan cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan walaupun keputusan tersebut berisiko tinggi (Budiman dan Setiyono, 2012).
Selain itu, karakter eksekutif rik taker memiliki anggapan bahwa semakin tinggi risiko maka semakin tinggi pula keuntungan yang akan diperolehnya (Fahmi, 2011:16). Sehingga, ketika eksekutif dihadapkan pada kepentingan perusahaan untuk memperoleh laba yang maksimal, maka eksekutif akan memutuskan untuk melakukan efisiensi beban pajak melalui cara-cara yang berisiko tinggi supaya keuntungan yang diperoleh eksekutif juga semakin tinggi. Oleh karena itu, kemungkinan besar eksekutif akan melakukan efisiensi beban pajak melalui cara- cara yang sangat berisiko, seperti tax evasion yang mana memiliki risiko denda, sanksi pidana, hingga kehilangan reputasi yang dapat merugikan perusahaan dalam kelangsungan hidup usahanya.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Budiman dan Setiyono (2012) mengenai pengaruh karakter eksekutif terhadap penghindaran pajak menemukan bahwa semakin eksekutif bersifat risk taker, maka semakin tinggi tingkat penghindaran pajak akan dilakukan. Penelitian tersebut mendukung penelitian yang dilakukan oleh Dyreng et al (2010) yang menemukan bahwa eksekutif memainkan peran penting dalam menentukan tingkat penghindaran pajak yang dilakukan perusahaan. Hanafi (2014) dalam penelitiannya menghasilkan eksekutif yang berani mengambil risiko atau disebut sebagai risk taker akan lebih memiliki pengaruh terhadap penghindaran pajak dibandingkan dengan eksekutif yang tidak berani mengambil risiko (risk averse). Maharani dan Suardana (2014), Dewi dan Jati (2014), dan Swingly dan Sukartha (2015) menemukan bahwa risiko perusahaan berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Artinya apabila eksekutif semakin bersifat risk taker maka akan semakin besar tindakan tax avoidance yang
9 dilakukan. Namun terdapat penelitian terdahulu yang menujukkan hubungan yang negatif antara preferensi risiko eksekutif dengan tax avoidance, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Sari (2015) yang menghasilkan bahwa corporate risk berpengaruh negatif pada tax avoidance, hal ini disebabkan perusahaan yang memiliki risiko perusahaan yang tinggi cenderung akan menyajikan laporan keuangan apa adanya untuk melihat seberapa jauh kinerja yang telah dilakukan oleh perusahaan sehingga peluang untuk melakukan penghindaran pajak menjadi rendah.
Walaupun periode penelitian dan objek penelitian-penelitian terdahulu berbeda-beda sehingga memiliki hasil penelitian yang berbeda pula, akan tetapi secara simultan atau parsial masih terdapatnya inkonsistensi terhadap hasil penelitian yang telah didapatkan. Dan berdasarkan latar belakang yang dipaparkan sebelumnya ditambah lagi masih minimnya penelitian terdahulu yang membahas sektor property dan real estate, maka peneliti tertarik untuk memberi judul penelitian “Pengaruh Kompensasi Eksekutif dan Preferensi Risiko Eksekutif Terhadap Tax Avoidance”.
1.3 Perumusan Masalah
Penghindaran pajak (tax avoidance) yang dilakukan oleh wajib pajak badan menjadi salah satu penyebab tidak tercapainya realisasi penerimaan pajak terhadap anggaran atau target yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dimana tindakan tax avoidance di dalam perusahaan diputuskan oleh eksekutif perusahaan. Peran eksekutif di dalam pengambilan keputusan terhadap tax avoidance dapat dipengaruhi oleh kompensasi dan preferensi risiko eksekutif.
Dengan kompensasi yang diterima oleh eksekutif akan mendorong eksekutif untuk melakukan efisiensi beban pajak untuk meningkatkan laba perusahaan.
Kinerja eksekutif dalam mencapai laba perusahaan menjadi salah satu indikator untuk menentukan besarnya kompensasi yang akan diterima oleh eksekutif. Jadi, semakin eksekutif meningkatkan kinerja dan hasilnya dapat menigkatkan laba perusahaan, maka semakin tinggi pula kompensasi yang akan diterima oleh eksekutif. Namun, diharapkan eksekutif dapat melakukan penghindaran pajak
10 dengan cara dan takaran yang tepat yang pada akhirnya tidak merugikan perusahaan. Dari upaya eksekutif untuk meminimalkan pembayaran pajak perusahaan terdapat beberapa risiko yang dapat berdampak pada kelangsungan hidup usaha perusahaan, yaitu berupa sanksi pidana, denda, dan kehilangan reputasi. Eksekutif yang memiliki sifat risk taker dengan keberanianya mengambil keputusan terhadap kebijakan yang berisiko tinggi akan mengambil tindakan dengan risiko yang tinggi untuk meningkatkan keuntungan yang diperolehnya.
Oleh karena itu, kemungkinan eksekutif melakukan tindakan-tindakan berisiko tinggi, seperti tax evasion yang memiliki risiko lebih tinggi daripada tax avoidance. Berbeda dengan eksekutif risk averse yang cenderung memilih risiko yang rendah dan mementingkan tujuan keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan agar stabilitas perusahaan dapat terus terjaga, sehingga eksekutif akan mengelola perusahaan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
1.4 Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut:
1) Bagaimana kondisi kompensasi eksekutif, preferensi risiko eksekutif, dan tax avoidance pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2011-2014.
2) Apakah terdapat pengaruh kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif terhadap tax avoidance secara simultan pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2011-2014.
3) Apakah terdapat pengaruh kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif terhadap tax avoidance secara parsial pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2011-2014.
11 1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1) Mengetahui kondisi kompensasi eksekutif, preferensi risiko eksekutif, dan tax avoidance pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2011-2014.
2) Menganalisis pengaruh kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif terhadap tax avoidance secara simultan pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2011-2014.
3) Menganalisis pengaruh kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif terhadap tax avoidance secara parsial pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia untuk tahun 2011-2014.
1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Aspek Teoritis
1) Bagi para akademis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam pengembangan ilmu akuntansi, khususnya untuk bidang corporate governance dan perpajakan. diharapkan dapat menambah literatur mengenai penerapan corporate governance di Indonesia dalam hal pengaruh kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif sebagai salah satu mekanisme corporate governance terhadap kebijakan tax avoidance perusahaan.
2) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan diharapkan dapat menambah literatur mengenai penerapan corporate governance di Indonesia dalam hal pengaruh kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif sebagai salah satu mekanisme corporate governance terhadap kebijakan tax avoidance perusahaan.
1.6.2 Aspek Praktis
1) Bagi pemerintah, sebagai regulator pajak, dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam hal membuat kebijakan pajak yang lebih baik karena secara tidak langsung akan mempengaruhi penerapan corporate governance yang baik pada perusahaan di Indonesia. Selain itu, pemerintah dapat
12 menjadikan penelitian ini sebagai pertimbangan lebih lanjut dalam membuat kebijakan penerapan corporate governance yang lebih baik lagi.
2) Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh kebijakan kompensasi eksekutif dan preferensi risiko eksekutif sebagai salah satu mekanisme corporate governance terhadap pengelolaan pajak perusahaan. Sehingga informasi tersebut dapat digunakan sebagai evaluasi dan penetapan kebijakan perusahaan yang lebih baik.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Bursa Efek Indonesia, beralamat di Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta yang berfokus pada sektor property dan real estate. Dengan waktu penelitian yang diambil dimulai dari tahun 2011-2014.
1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan Gambaran Umum Objek Penelitian, Latar Belakang Penelitian, Perumusan Masalah, Pertanyaan Penelitian, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Ruang Lingkup Penelitian, serta Sistematika Penulisan Tugas Akhir.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan teori-teori yang terkait dengan penelitian, penelitian sebelumnya yang tekait dengan penelitian ini, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi karakteristik penelitian, operasionalisasi variabel penelitian, tahapan penelitian, pemilihan populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan sumber data, serta teknik analisis data dan pengujian hipotesis.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi pembahasan berupa analisis pengolahan data sesuai dengan perumusan masalah serta tujuan penelitian.
13 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan berupa penyajian secara singkat dari hasil penelitian dan pembahasan serta saran yang ditujukan untuk perbaikan terhadap hasil penelitian dan anjuran kepada pihak yang berkepentingan terhadap penelitian.