LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT
No. 7 1993 SERI D
______________________________________________________________
PERATURAN DAERAH TINGKAT I PROPINSI JAWA BARAT
NOMOR : 11 TAHUN 1992 TENTANG
PENATAAN TANAH BEKAS PERKEBUNAN JATINANGOR DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SUMEDANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT
Menimbang : a. bahwa dengan berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 33/b.II/BPDa/SK/65 tanggal 1 Maret 1965, tanah/lahan bekas Perkebunan Jatinangor seluas 907,3740 Ha berlokasi di Desa dan Kecamatan Cikeruh, Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang merupakan asset Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat yang telah dipisahkan pada PD. Kerta Gemah Ripah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat;
b. bahwa tanah/lahan yang dimaksudkan huruf a tersebut diatas ternyata sudah tidak produktif lagi sehingga tidak sesuai dengan fungsinya sebagai lahan perkebunan dan oleh karenanya perlu ditata kembali;
c. bahwa dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 593/SK.83- PLK/1989, telah diputuskan untuk menarik kembali pengelolaan atas lahan/tanah Eks Perkebunan Jatinangor di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang dari PD. Kerta Gemah Ripah, yang untuk selanjutnya dikuasai langsung oleh Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat serta merubah fungsi dan peruntukan lahan/tanah tersebut untuk kepentingan pembangunan Kampus-kampus Universitas Pajajaran, Institut Koperasi Indonesia, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (Sekarang Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), Akademi Ilmu Kehutanan (Sekarang Fakultas Kehutanan), Yayasan Pendidikan Tinggi Wijaya Mukti, Pramuka, Greenbelt dan lahan Konservasi;
d. bahwa materi Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat yang dimaksud pada huruf b tersebut diatas dianggap cukup memadai untuk ditingkatkan sebagai materi Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, tentang Penataan Tanah Bekas Perkebunan Jatinangor di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang.
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;
2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat;
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1972 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1973 tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1975 tentang Pengurusan Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah;
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah;
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1979 tentang Pelaksanaan Pengelolaan Barang Pemerintah Daerah;
9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 593-384 tangal 14 Mei 1982 tentang Pengesahan Pelepasan Sebagian Hak Atas Tanah dan Tanaman Perkebunan Jatinangor yang dikusai Pemeritah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat kepada Universitas Pajajaran;
10. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 593-32- 318 tanggal 11 Maret 1988 tentang Pengesahan Pelepasan Hak Atas Tanah Pemerintah Propinsi Daerah Tigkati I Jawa Barat kepada Universitas Pajajaran seluas 75 Ha dengan pembayaran ganti rugi;
11. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 593-305 tanggal 13 September 1988 tentang Pengesahan Keputusasn Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Jawa Barat Nomor 593/Kep.478-PLK/1988 tanggal 6 April 1988 tentang Pelepasan Sebagian Hak Atas Tanah Perkebunan Jatinangor milik/kekayaan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat kepada Institut Koperasi Indonesia.
Dengan Persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT
MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT TENTANG PENATAAN TANAH BEKAS PERKEBUNAN JATINANGOR DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SUMEDANG
Pasal 1
Dengan Peraturan Daerah ini menyatakan diberlakukannya Penataan Tanah bekas Perkebunan Jatinangor terletak di Desa dan Kecamatan Cikeruh, Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang seluas 907,3740 Ha.
Pasal 2
Penataan tanah bekas Perkebunan Jatinangor dimaksud pasal 1 adalah seperti yang telah ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 593/SK.83-PLK/1989, tentang Penataan Kembali Tanah Eks Perkebunan Jatinangor.
Pasal 3
Termasuk kedalam penataan ini peruntukan bagi pembangunan lapangan Golf, sarana olah raga dan pengembangan sarana penunjang lainnya.
Pasal 4
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Bandung, 19 Desember 1992 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH GUBERNUR KEPALA DAERAH
PROPINSI DARAH TINGKAT I TINGKAT I JAWA BARAT JAWA BARAT
Ketua
Cap/Ttd Cap/Ttd
H. AGUS MUHYIDIN H.R. MOH. YOGIE S.M.
Peraturan Daerah ini disahkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan Tanggal 20 Oktober 1993 Nomor 593.32-863.
Diundangkan dalam Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat tangga; 23 OKtober 1993 Nomor 7 Seri D.
SEKRETARIS WILAYAH/DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT
Cap/Ttd
Drs. H. UKMAN SUTARYAN NIP. 480025165 PENJELASAN
PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT
NOMOR : 11 TAHUAN 1992 TENTANG
PENATAAN TANAH BEKAS PERKEBUNAN JATINANGOR DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SUMEDANG I. PENJELASAN UMUM
a. Sejarah lahan tanah Jatinangor
Secara historis Perkebunan Jatinangor berstatus Hak Erfpacht atas nama NV. Maatschappij Tot Exsploitatie der Ondernemingen Nagelaten door Mr. W. A. Baron Beced, bekedudukan di Den Haag dan berkahir haknya pada tanggal 31 Desember 1861. Dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria Nomor Sk.II/16/KD/1964, hak Erfpacht atas tanah Pekebunan Jatinangor dinyatakan hapus karena hukum dan kembali menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dan untuk sementara pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara Karet.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agraria Nomor 17/HGU/1965 tanggal 22Maret 1965, pengelolaan Perkebunan Jatinangor yang dilaksanakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara Karet dicabut kembali dan Hak Guna Usahanya diberikan kepada Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
b. Pengelolaan PD. Gemah Ripah
Atas dasar tersebut diatas Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat mensertifikatkan perkebunan Jatinangor yang mencakup luas lebih kurang 907,3740 Ha atas namanya dan menyerahkan pengelolaannya kepada Perusahaan Daerah Gemah Ripah yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 33/B.II/BPD.2/SK/1966 dan kemudian dikukuhkan kedudukan hukumnya dan diubah namanya menjadi Perusahaan Daerah Kerta Gemah Ripah dengan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 13/Dp.040/PD/1976
tanggal 28 Desember 1976.
Dalam Peraturan Daerah termaksud tercantum pula bahwa Perkebunan Jatinangor merupakan asset milik Pemerintah Propinsi Daerah TIngkat I Jawa Barat yang dipisahkan dan pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Daerah Kerta Gemah Ripah.
c. Perubahan fungsi dan penataan
Kemudian ternyata bahwa hasil pengusahaan Perkebunan Karet Jatinangor kurang menguntungkan mengingat tanamannya sudah tua dan tidak produktif lagi serta kurangnya dana yang tesedia untuk merehabilitasi kebun serta tanamannya maka Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat melalui Keputusan Gubernur Nomor 593/SK.83-PLK/1989 telah mengambil kebijaksanaan untuk mencabut kembali pengelolaan lahan/tanah bekas Perkebunan Jatinangor dari PD. Kerta Gemah Ripah dan menempatkannya kembali dibawah pengelolaan langsung oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat serta mengubah fungsi dan peruntukan lahan tersebut menjadi komplek Perguruan Tinggi yang pada saat itu seluruhnya berpusat di kota Bandung serta areal konservasi dan greenbelt.
Berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat tersebut bekas Perkbunan Jatinangor kemudian diatur peruntukannya sebagai berikut :
a. Kampus UNPAD (termasuk yang diredistribusikan kepada masyarakat seluas 14 Ha) seluas ... 175 Ha.
b. Yayasan Pembina Pendidikan Tinggi Winaya Mukti (termasuk Hak Pakai seluas 8 Ha diantaranya untuk
Akademi Ilmu Kehutanan) seluas ... 51 Ha.
c. Kampus IKOPIN seluas ... 28 Ha.
d. Kampus APDN Nasional, sekarang menjadi STPDN (termasuk milik masyarakat seluas 2 Ha dan tanah
Negara seluas 3 Ha) seluas ... 280 Ha.
e. Greenbelt seluas ... 140 Ha.
f. Pramuka seluas ... 66 Ha.
g. Lahan Konservasi seluas ... 194 Ha.
Jelas terlihat bahwa sebagian lahan bekas Perkebunan Jatinangor dialokasikan untuk kepentingan Perguruan Tinggi dan sebagia kecil untuk kepentingan Pramuka serta jalur hijau (greenbelt) dan konservasi.
Mengingat penataan tanah bekas Perkebunan Jatinangor pelaksanaannya semula diatur dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat, maka untuk lebih mempunyai bobot
dan kepastian hukum perlu ditingkatkan menjadi Peraturan Daerah.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 Cukup jelas
Pasal 2 Cukup jelas
Pasal 3
Yang dimaksud dengan perkataan sarana penunjang lainnya adalah setiap pembangunan sarana yang mendukung terhadap keberadaan kota perguruan tinggi dengan segala fasilitasnya disesuaikan dengan RITR dan RDTR.
Pasal 4 Cukup jelas