• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN. Secara geografis, kota Palangka Raya terletak pada Bujur Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN. Secara geografis, kota Palangka Raya terletak pada Bujur Timur"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kota Palangka Raya merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Tengah. Secara geografis, kota Palangka Raya terletak pada 113030’-114007’ Bujur Timur dan 1035’- 2024’ Lintang Selatan dengan topografi terdiri dari tanah datar, berawa-rawa dan berbukit dengan kemiringan kurang dari 40%. Lapisan tanah yang ada di wilayah Palangka Raya terdiri atas tanah mineral dan tanah gambut.

Tabel 1. Statistik geografi dan iklim Kota Palangka Raya

Uraian Satuan 2011

Luas Km2 2.678,51 Suhu (rata-rata) 0C 26,5-28,3 Kecepatan Angin m/s 2-3 Ketinggian M 16-75 Jumlah hari hujan Hari 218 Curah Hujan Mm 286,3 Kelembapan Udara % 79-89

Wilayah administrasi kota Palangka Raya terdiri dari 5 (lima) wilayah kecamatan yaitu terdiri dari Kecamatan Pahandut, Jekan Raya, Sebangau, Bukit Batu, dan Rakumpit yang terdiri dari 30 Desa/Kelurahan dengan batas-batas sebagai berikut:

1. Sebelah utara : Kabupaten Gunung Mas 2. Sebelah timur : Kabupaten Gunung Mas 3. Sebelah selatan : Kabupaten Pulang Pisau 4. Sebelah barat : Kabupaten Katingan

Jumlah penduduk Kota Palangka Raya pada tahun 2011 sebanyak 224.663 jiwa. Angka ini sedikit meningkat dari tahun 2010, sehingga tingkat pertumbuhan

(2)

hanya naik sekitar 1,67%. Berdasarkan luas wilayah di banding dengan jumlah penduduk yang ada, kepadatan penduduk Palangka Raya hanya sekitar 84 orang/Km2 pada tahun 2011.

Angka sex ratio dari tahun 2010 ke tahun 2011 nilainya tidak berubah yaitu 104,68, dapat diartikan bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 104 penduduk laki-laki. Artinya jumlah penduduk laki-laki lebih banuak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.

Tabel 2. Indikator Kependudukan Kota Palangka Raya.

Uraian Satuan 2009 2010 2011

Jumlah Penduduk Jiwa 200.998 220.962 224.663

Pertumbuhan Penduduk Persen 5,23 9,93 1,67

Kepadatan Penduduk Jiwa/Km2 75 82 84

Jumlah Penduduk Laki-Laki Jiwa 99.038 113.005 114.898 Jumlah Penduduk Perempuan Jiwa 101.960 107.957 109.765

Sex Ratio (L/P) Persen 97,13 104,68 104,68

Kota Palangka Raya mempunyai luas wilayah 2.678,51 Km2 (267.851 Ha) dibagi ke dalam 5 kecamatan yaitu Kecamatan Pahandut, Jekan Raya, Sebangau, Bukit Batu, dan Rakumpit dengan luas masing-masing 117,25 Km”, 352,62 Km”, 583, 50 Km”, 572,00 Km” dan 1.053,14 Km”. Luas wilayah sebesar 2.678,51 Km” dapat dirinci sebagai berikut:

1. Kawasan hutan : 2485,75 Km” 2. Tanah pertanian : 12,65 Km” 3. Perkampungan : 45,54 Km’

(3)

4. Areal perkebunan : 22,30 Km” 5. Sungai dan danau : 42,86 Km” 6. Lain-lain : 69,41 Km”1

Tabel 3 : Nama Kecamatan dan Kelurahan, Jumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) 2011.2

Kecamatan Kelurahan Rukun Warga (RW) Rukun Tetangga (RT)

Pahandut Pahandut 96 26 Panarung 48 14 Langkai 68 17 Tumbang Rungan 2 1 Tanjung Pinang 9 4 Pahandut Seberang 9 2

Jumlah di Kecamatan Pahandut 232 64

Sebangau Kereng Bangkirai 16 3

Sabaru 13 3 Kalampangan 30 5 Kameloh Baru 4 1 Bereng Bengkel 6 1 Danau Tundai 2 1

Jumlah di Kecamatan Sebangau 71 14

Jekan Raya Menteng 64 13

Palangka 228 28 Bukit Tunggal 82 16 Petuk Katimpun 6 2

Jumlah di Kecamatan Jekan Raya 380 56

Bukit Batu Marang 5 2

Tumbang Tahai 7 2 Banturung 11 3

1

Tim Penyusun, Statistik Daerah Kota Palangka Raya 2012, Palangka Raya: Badan Pusat Statistik (BPS) Palangka Raya, 2012.hal. 1-3.

2

Tim Penyusun, Palangka Raya Dalam Angka 2012 (Palangka Raya City in Figures), Palangka Raya: Badan Pusat Statistik (BPS) Palangka Raya, 2012, hal. 3-4.

(4)

Tangkiling 13 3 Sei Gohong 7 2 Kanarakan 4 1 Habaring Hurung 7 2

Jumlah di Kecamatan Bukit Batu 54 15

Rakumpit Petuk Bukit 5 2

Pager 3 1 Panjehang 2 1 Gaung Baru 1 1 Petuk Barunai 3 1 Mungku Baru 3 1 Bukit Sua 2 1

Jumlah di Kecamatan Rakumpit 19 8

Total RT/RW di Kota Palangka Raya

756 157

Tabel 4 : Luas Wilayah Kota Palangka Raya3 Kecamatan Luas % terhadap

Kota

Kelurahan Luas % terhadap Kota Pahandut 117,25 4,38 Pahandut 9,50 0,35 Panarung 23,50 0,88 Langkai 10,00 0,37 Tumbang Rungan 23,00 0,86 Tanjung Pinang 44,00 1,64 Pahandut Seberang 7,25 0,27

Sebangau 583,50 21,78 Kereng Bangkirai 270,50 10,10 Sabaru 152,25 5,68 Kalampangan 46,25 1,73 Kameloh Baru 53,50 2,00 Bereng Bengkel 18,50 0,69 Danau Tundai 42,50 1,59

Jekan Raya 352,62 13,16 Menteng 31,00 1,16

Palangka 24,75 0,92

3

(5)

Bukit Tunggal 237,12 8,85 Petuk Katimpun 59,75 2,23

Bukit Batu 572,00 21,36 Marang 124,00 4,63

Tumbang Tahai 48,00 1,79 Banturung 72,00 2,69 Tangkiling 62,00 2,31 Sei Gohong 89,00 3,32 Kanarakan 105,50 3,94 Habaring Hurung 71,50 2,67

Rakumpit 1.053,14 39,32 Petuk Bukit 283,67 10,59 Pager 193,35 7,22 Panjehang 39,43 1,47 Gaung Baru 59,08 2,21 Petuk Barunai 147,10 5,49 Mungku Baru 187,25 6,99 Bukit Sua 143,26 5,35

Kota P. Raya 2.678,51 100,00 Kota P. Raya 2.678,51 100,00

B. Gambaran Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya

1. Latar Belakang Pembangunan Pertokoan Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya

Pada tahun 1980 di bangun Pasar Inpres pertama milik Pemerintah Kota (Pemkot), tetapi pada tahun 2005 dan 2006 pasar ini mengalami musibah kebakaran. Setelah terjadinya peristiwa kebakaran Pasar Inpres pada tanggal 26 Juli 2005 itu, Pemerintah Kota Palangka Raya membangun Pasar Kahayan Tradisional Modern pada tahun 2008 untuk menampung pedagang Pasar Inpres yang terbakar. Namun dalam perjalananya, ternyata Pasar Kahayan Tradisonal Modern tidak dapat menampung semua pedagang yang terkena musibah kebakaran di Pasar Inpres. Maka dibangun lagi pertokoan Pasar Kahayan Baru dengan perpaduan antara pasar modern dan pasar tradisional

(6)

dengan mencontoh Pasar Bumi Serpong Damai di kota Serpong. Pasar Kahayan Tradisional Modern ini diresmikan pada tahun 2009.4

Pembangunan Pertokoan Pasar Kahayan Palangka Raya ini sumber dananya dibiayai dari pinjaman Pemerintah Kota Palangka Raya dari Bank Dunia melalui Program Urban Sector Development Reform Project (USDRP) dengan biaya pembangunan konstruksi sebesar Rp. 20.751.346.000.

Keikutsertaan Pemerintah Kota Palangka Raya dalam program USDRP ini telah dilakukan sejak tahun 2005. Pemerintah Kota Palangka Raya juga melaksanakan komponen Reformasi Pembaruan Tata Pemerintahan Dasar yang merupakan bagian dari keikutsertaan dalam program USDRP ini.5 2. Tujuan Pembangunan Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka

Raya

a. Terciptanya pengelolaan Aset Pasar yang profesional.

b. Terwujudnya Pasar yang bersih, nyaman dan aman serta dapat memberikan kepuasan bagi pengunjung pasar dan dapat meningkatkan daya saing pasar tradisional.

c. Meningkatnya nilai transaksi yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan pasar dan dapat melakukan cost recovery terhadap dana pinjaman Bank Dunia/The World Bank.

d. Terwujudnya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.

4

Sumber dari UPTD. Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya. 5

(7)

3. Lokasi Pertokoan Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya Lokasi Pasar Kahayan Tradisional Modern terletak di Jl. Tjilik Riwut Km. 1,5 dan berada di lahan seluas 43.158 m2 dengan luas bangunan 9.600 m2 milik Pemerintah Kota Palangka Raya.

4. Visi dan Misi Pengelola Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya

a. Visi :

Mewujudkan pasar yang tertib, bersih. Indah, nyaman dan aman. b. Misi :

1) Meningkatkan aspek pelayanan kepada masyarakat melalui mutu hasil kerja yang memuaskan.

2) Meningkatkan aspek prasarana sarana pasar sebagai salah satu utilitas perkotaan.

3) Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memaksimalkan retribusi pasar, retribusi sewa tanah dalam pasar dan sewa blok pasar sebagai wujud kemampuan Pemerintah Daerah untuk membiayai Otonomi Daerah.

5. Kegiatan Pasar Secara Umum (Produk, Pelanggan, Strategi Pemasaran) a. Pada umumnya produk yang ditawarkan adalah berupa barang jadi dan

setengah jadi diantaranya konveksi, sembako, barang elektronik, sayur, ikan, buah-buahan dll.

b. Konsumennya terdiri dari penduduk setempat, warga Kota Palangka Raya dan dari Kabupaten tetangga.

(8)

c. Pemasarannya dilakukan dengan cara dipajang dan ditawarkan secara langsung kepada pengunjung.

6. Analisis Pasar

a. Persaingan secara umum

Sebagai kota yang sedang berkembang, pertumbungan pasar modern sangat pesat bahkan ada yang berdekatan dengan pasar tradisional yaitu Hypermart dan Matahari, terletak di Jalan Yos Sudarso, Sendys Swalayan, terletak di Jln. Cilik Riwut Km. 1,5.

b. Peluang produk pasar

Masih bisa bersaing karena Pasar Kahayan Tradisional Modern adalah pasar semi modern, cukup refresentatif dan letaknya cukup strategis karena berada di jalan protokol.

c. Analisis Pelanggan/Konsumen

Calon pelanggan terbanyak adalah penduduk sekitar pasar yang rata-rata berpenghasilan menengah dan menengah ke atas.

d. Analisis Lingkungan Usaha

1) Stabilitas politik dan keamanan yang berpengaruh terhadap lingkungan usaha yaitu pada saat pemelihan Kepala Daerah.

2) Ketersediaan bahan baku cukup, karena mudah diperoleh baik dari dalam kota Palangka Raya maupun didatangkan dari luar kota Palangka Raya.

3) Budaya kerja kerja dan sistem nilai berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

(9)

7. Positioning

a. Seseorang belum dianggap datang ke Palangka Raya apabila masih belum berkunjung ke Pasar Kahayan Palangka Raya.

b. Harga barang terjangkau, tersedia obat-obatan tradisional suku dayak yang terkenal dengan kemajurannya.

c. Fasilitas/infrastruktur yang tersedia ; lahan parkir luas, akses jalan masuk dan keluar pasar yang mudah, tersedianya alat penanggulan kebakaran dll. 8. Sumber Dana dan Jumlah Blok Bangunan Pertokoan Pasar Kahayan

Tradisional Modern

Sumber Dana : Pinjaman Bank Dunia melalui Program USDRP.

Dana Pembangunan Konstruksi : Rp. 20.751.346.000 Dana Jasa Konsultan Supervisi : Rp. 566.500.000

Kontraktor pelaksana proyek : PT. Waskita Karya Persero Konsultan Supervisi : PT. Miramy Konsultan Jumlah pedagang yang ditampung : 279 orang pedagang.

Total Jumlah Blok Bangunan di Pertokoan Pasar Kahayan Tradisional Modern yaitu 732 Unit, dengan perincian sebagai berikut:

a. Toko Tingkat 2 (ukuran 4x8 m) : 46 unit b. Toko-tidak tingkat ( ukuran 4 x 4 m) : 337 unit

c. Toko sembako : 111 unit

d. Los sayur : 54 unit los

e. Los ikan, ayam,daging sapi : 96 unit los f. Toko buah (ukuran 4x 4 m) : 20 unit g. Los PKL (ukuran 4 x 20 m) : 50 unit Los

(10)

e. Blok daging babi (ukuran 2,75x2,75 m) : 18 buah lapak

f. Taman (11 x 46 m) : 506 M2

g. WC Umum : 14 pintu.

Daftar jenis dagangan yang aktif di pertokoan Pasar Kahayan Tradisional Modern. Perincian jenis dagangan dan jumlah pedagang sebagai berikut:

a. Konveksi : 86 pedagang

b. Asesoris : 11 pedagang

c. Obat-obatan : 3 pedagang

d. Kosmetik : 9 pedagang

e. Ponsel : 5 pedagang

f. Tukang jahit/Tukang gigi/Koperasi : 17 pedagang g. Kelontong/pecah belah : 6 pedagang

h. Sembako : 56 pedagang

i. Alat tulis kantor : 9 pedagang

j. Elektronik : 3 pedagang

k. Alat pertanian : 1 pedagang

l. Toko emas : 5 pedagang

m. Kaset CD : 4 pedagang

n. Pangkas rambut : 12 pedagang

o. Kue kering : 5 pedagang

p. Buah-buahan : 7 pedagang

q. Daging babi : 8 pedagang

(11)

s. Sayuran : 24 pedagang

t. Ikan dan ayam : 37 pedagang

9. Tarif Retribusi Keamanan dan Kebersihan

Untuk tarif retribusi dan kebersihan berdasarkan jenis fasilitas pasar yang disesuaikan dengan jenis bangunan, ukuran bangunan dan fasilitas di Pertokoan Pasar Kahayan, yaitu sebagai berikut:

1. Toko : Rp. 1.500/hari/toko 2. Kios : Rp. 1000/hari 3. Lapak/Los : Rp. 750/hari 10. Fasilitas Penunjang

Tabel 5. Realisasi Luasan Pasar dan Fasilitas Penunjang yang di Bangun:

U R A I A N F S Realisasi

Luas Kawasan Pasar Kahayan 43.158 m² 43.158 m²

Luas Bangunan Pasar USDRP 8.078 m² 8.078 m²

Luas Bangunan Toko/Kios/PKL 5.856 m2 5.856 m2

Fasilitas Penunjang

Luas area parkir (paving block) 3.452 m2 5.365 m2 Luas penghijauan : 1.770 m2

Pohon peneduh 31 Batang

Pohon palem raja 4 Batang

Taman PKL 1.080 m2

Pot taman 4 Buah

Kantor Pasar Kahayan 60 m2 60 m2

KM/WC 27 m2 27 m2

Musholla 36 m2 -

(12)

Pos jaga keamanan 16 buah

Hydrant kebakaran V 8 Unit

Pagar keliling kawasan V

Air Bersih V V

Jaringan Listrik V V

Pengadaan trafo listrik 1 unit

Bangunan rumah trafo 32 m2

Penyambungan listrik PLN 1 Unit

Saluran Drainase V 1.114 m’

IPAL 1 Unit

11. Struktur Organisasi Unit Pelaksana Teknisi Dinas (UPTD) Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya

a. Kepala UPTD : Teguh Jaya Permana, ST, MT. b. Kasubbag Tata Usaha : M. Hernadi

c. Pelaksana : 1) Dodhi P. Hutajulu, S. Hut 2) Levita Trisanti L.

3) Ramintan 4) Dedy Satria

d. Satpam : 26 orang

e. Cleaning Service : 32 orang f. Resepsionis : 7 orang

g. Teknisi : 2 orang

h. Petugas Kebersihan Lingkungan : 3 orang6

6

(13)

C. Penyajian Data dan Pembahasan

Dalam penyajian hasil penelitian ini, terlebih dahulu penulis memaparkan pelaksanaan penelitian yang diawali dengan penyampaian surat mohon izin penelitian dari STAIN Palangka Raya ke Dinas Pasar dan Kebersihan Kota Palangka Raya, kemudian setelah mendapatkan surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Pasar dan Kebersihan Kota Palangka Raya, surat rekomendasi tersebut selanjutnya disampaikan kepada UPTD. Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya. Setelah itu, penulis langsung dipersilahkan untuk terjun ke lapangan melakukan penggalian data.

Setelah mendapatkan izin untuk mengadakan penelitian, penulis menemui penjual dan pembeli yang menjadi subjek penelitian ini untuk menanyakan perihal penerapan etika bisnis Islam pedagang konveksi di Pasar Kahayan Tradisional Modern. Agar lebih jelasnya, penulis uraikan mengenai subjek penelitian dan keterangan yang didapatkan penulis dari subjek penelitian dan kemudian diuraikan analisis dan pembahasan terhadap perilaku bisnis pedagang konveksi di Pasar Kahayan Tradisional Modern Palangka Raya: 1. Pemahaman Etika Bisnis Islam Pedagang Konveksi Di Pasar Kahayan

Palangka Raya terhadap Transaksi Akad Jual Beli Perspektif Penjual dan Pembeli.

Al Quran sebagai pegangan hidup umat Islam telah mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit, dan memandang bisnis sebagai sebuah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan, sehingga Al-Qur’an sangat mendorong dan memotivasi umat Islam untuk melakukan transaksi bisnis dalam kehidupan mereka.

(14)

Salah satu ajaran Al-Qur’an yang paling penting dalam masalah pemenuhan janji dan kontrak adalah kewajiban menghormati semua transaksi akad, serta memenuhi semua kewajiban sebagai konsekuensi logis dari hubungan sosial dalam kehidupan manusia. Islam sebagai agama yang komprehensif dan universal memberikan aturan yang cukup jelas dalam akad untuk dapat diimplementasikan dalam setiap masa.

a. Penjual 1) Toko RZ

Toko RZ ini adalah milik Ibu Hj. Nur yang mana sebelumnya ibu Hj. Nur ini adalah orang yang mengkreditkan barang di daerah tempatnya tinggal dan ibu rumah tangga juga. Sudah lumayan lama beliau menjadi tukang kredit di daerah tempat tinggalnya ini. Seiring dengan berjalannya waktu dan setelah beberapa pertimbangan, Ibu Hj. Nur ini memutuskan untuk membuka usaha konveksi di Pasar Kahayan Tradisional Modern ini setelah 1 tahun 6 bulan Pasar Kahayan Tradisional Modern ini mulai beroperasi. Jadi sejak itulah beliau menjalankan usahanya sampai sekarang ini kurang lebih 3 tahun sudah usaha konveksi tersebut berjalan. Ibu Hj. Nur dibantu oleh keluarga beliau yang bernama Ibu Dina untuk berdagang sehari-hari. Adapun wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ibu Hj. Nur, beliau mengatakan:

Tiga tahunan (berdagang), kada tahu pang (etika bisnis Islam), tahu kayaitu-kayaitu haja han (praktiknya), nang dalamnya kada tahu acil (teorinya). Akad ni mun acil ni kaini banarai munnya orang nukar sekian harganya juallah kaitu banarai, misalnya 250 ribu, jual 250 ribu jar acil kaitu. Kada tahu acil (rukun dan syarat akad jual beli). Menurut acil ya kayaitu tadi pang

(15)

misalnya kan urang nilah mama xxxx ni nukar lawan acil harganya misalnya 50 ribu na jar mama xxxx kalo, ku tukar barang ini sekian nah, misalnya 50 ribu jar acil jual 50 ribu rupiah kaitu haja acil, hi ih kayaitu ja pang sehari-hari. Kadada pang inya sekian harganya misalnya disambat katuju haja kalo han katuju haja harganya sekian jar, bajajadiankan tarukui harga. Satuju haja (diterapkan etika bisnis Islam).7

Berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Nur bahwa dalam kurang lebih tiga tahun melakukan bisnis dagang beliau tidak mengetahui tentang konsep etika bisnis Islam. Hanya mengetahui tentang prakteknya dalam berdagang tapi mengenai teori dari etika bisnis Islam tidak tahu. Dalam akad beliau hanya mengetahui apabila dia menjual dan ada yang membeli hanya mengucapkan juallah dan di sambut dengan tukarlah (dibelilah) oleh pembeli. Ijab qabulnya disebutkan secara jelas, adanya kesepakatan kedua belah pihak dan suka sama suka.

Akad yang utarakan Ibu Hj. Nur sudah sesuai dengan rukun pokok dalam akad jual beli yaitu adanya ijab qabul. Yang mana ijab adalah perkataan yang diucapkan oleh penjual atau yang mewakilinya, qabul adalah perkataan yang diucapkan oleh pembeli atau yang mewakilinya. Adanya ijab qabul dalam transaksi ini merupakan indikasi yang meyakini adanya rasa suka sama suka dari pihak-pihak yang mengadakan transaksi.8

Selanjutnya selain ijab qabul, rukun jual beli, juga ada orang yang berakad (penjual dan pembeli) atau al aqid, dan al-ma’qud ‘alaihi

7

Wawancara dengan Ibu Hj. Nur pada tanggal 2 Mei 2013. 8

(16)

(objek akad), ada nilai tukar pengganti barang.9 Dan dimisalkan beliau ketika menjual dengan harga 250 ribu atau 50 ribu memang seperti itu harganya atas kesepakatan penjual dan pembeli dan disebutkan ketika berakad.

Untuk syarat yang berkenaan dengan objek jual beli beliau tidak mengetahui, akan tetapi apabila dilihat dari praktik yang beliau lakukan itu sudah memenuhi syarat jual beli. Seperti syarat yang berkaitan dengan Ijab qabul itu sendiri ialah barang dan nilai barang yang diperjualbelikan harus sesuai dengan kualitasnya. Syarat yang harus dipenuhi kedua belah pihak dalam melakukan transaksi adalah adanya ijab qabul yang dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh orang yang telah sempurna akalnya, sudah mencapai usia yang mampu membedakan.

Berikut wawancara bersama Ibu Dina:

Kada tahu, oh adab badagang bahasa banjarnya, kalaunya orang kita pada muslim kalo juallah jar tukar jar, ada jua nang juallah saadanya tukar saadanya ada jua, ada orang yang non-muslim tarima kasih. Kadada pang belum lagi (diterapkannya etika bisnis) tapi mun adab badagang ada haja tuh. Kada tahu (etika bisnis Islam) yang penting badagang, prakteknya ja (tidak tahu teorinya). Kada tahu (rukun dan syarat jual beli) oh hi ih ada akad, ada barangnya itu yang dijual, bilanya tukang kredit tu kan barangnya sekian nah dibayar kredit kayatu rancak kreditan jua pang.10

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan ibu Dina beliau mengatakan bahwa tidak mengetahui tentang etika bisnis Islam namun yang beliau pahami adalah adab dalam berdagang. Akad yang beliau lakukan dengan mengucap juallah-tukarlah atau tukarlah

9

H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, …., hal. 279. 10

(17)

juallah seadanya atau dengan ucapan terima kasih untuk pembeli yang non-muslim tersebut telah sesuai dengan rukun jual beli dengan menyebutkan ijab qabulnya. Beliau tidak mengetahui teori etika bisnis dan tidak mengetahui tentang syarat dan rukun jual beli, akan tetapi apabila dilihat dari praktik yang beliau lakukan itu sudah memenuhi rukun dan syarat jual beli.

Dari apa yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa Ibu Hj. Nur dan Ibu Dina tidak mengetahui mengenai etika bisnis Islam dan teorinya itu sendiri karena yang mereka tahu adalah praktik dari jual beli yang masyarakat lakukan sehari-hari. Akan tetapi sebenarnya apabila dijelaskan mengenai etika bisnis Islam itu seperti apa baru mereka paham/mengetahui bahwa yang mereka praktikkan sehari-hari adalah bagian dari etika bisnis Islam, yang mereka pahami selama ini adalah adab dalam berdagang dan ilmu-ilmu yang mereka ketahui secara otodidak saja dan mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz mengenai cara berdagang yang baik.

2) Toko AL

Bapak H. Dul dan Ibu Hj. Dyah adalah pemilik Toko AL yang mana mereka adalah pasangan suami istri yang memulai usahanya sejak Pasar Kahayan yang lama sebelum terjadinya kebakaran yang menghanguskan semua toko-toko di Pasar Kahayan lama. Sebelumnya mereka dulu adalah pedagang ikan, tapi karena selalu mengalami penyusutan, maka mereka beralih menjadi pedagang konveksi yang berpindah-pindah tempat, kalau bahasa banjarnya mehirit

(18)

pasar/manyasah pasar sebagai mata pencaharian. Namun seiring berjalannya waktu mereka memiliki toko sendiri yang berada di Pasar Kahayan Tradisional Modern ini. Berikut wawancara peneliti dengan Bapak H. Dul:

Kada tahu etika bisnis itu apa tahunya adab badagang bajujualan, praktiknya langsung kadada beteorian lagi, langsung praktiknya ja. Jual jar kita, mun orang tu tasarah orang ai handak menyahutkah kada tasarah urang ai yang penting kita lapas sudah, kalo jar orang tu ada ijab kabulnya, bila jar urang saikungnya jual, tukar jar, tapi kalo inya orang sini kan nang manukarnya jar kita jual, urang tu tarima kasih jar urang, lapas kita sudah amun orang yang manukar tasarah urang ai tarima kasih kah bahasanya tu, kalu nang jar kita hulu sungai bilanya jar kita jual, tukar seadanya jar, kan kita maakad akan tu sudah dijulung barangnya, urang maambil jual jar kita, duitnya sudah kita kacakkan tuh, angsulannya sudah dijulung jual jar kita, sama-sama pada akur, rela sama rela.

Amun akad yang kada sahnya tu model kaya orang menjual kucing dalam karung tu model nang barangnya kada malihat tu nah, seumpamanya barangnya dirumahkan ya kalo kan kada malihat barangnya urang, harus malihat dahulu barangnya, apalagi kita menukar akan barang lawan orang mangaridit tuh, kada tahu dibarangnya, umpamanya urang minjam duit gasan nukar barang kita julung 1 juta, kita tu kan mun handak maakad akan pasti kita tu harus kerumah orang maakad akan barangnya, itu nang sah maksudnya, amun jar kita jual disini kada malihat barangnya itu kada sah ya kalo tu. Amun tatinggal akad tu mun selama kami belajar kadada pang baakad tarus ai, badagang tu kada suah pang cuma apabila tatinggal akadnya tu apa yang jar urang tu model kada tapi berkah tu nah, yang kalu napa jar bahasa kitanya tu kada bahasil, kada maju, kadada peningkatan, kada kawa napa-napa jar urang, kadiaman ja kada kawa maurusi tapi kalonya diterap akan ada pengaruhnya bahasil jar kita tu.11

Dari hasil observasi dan wawancara yang disampaikan di atas dapat dimengerti bahwa Bapak H. Dul ini sebenarnya mengetahui mengenai adab berdagang atau etika bisnis secara praktiknya. Namun secara teorinya tidak begitu tahu. Akan tetapi sebenarnya apabila

11

(19)

dijelaskan mengenai etika bisnis itu seperti apa baru mereka paham/mengetahui bahwa yang mereka praktikkan sehari-hari adalah bagian dari etika bisnis Islam karena ilmu berdagang yang dimiliki ini secara otodidak saja dan mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz mengenai cara berdagang yang baik.

Bapak H. Dul memahami bagaimana harus melakukan akad transaksi yang baik seperti ibu Hj Nur dan ibu Dina. Seperti halnya dalam melakukan transaksi jual beli harus adanya kesukarelaan atau prinsip suka sama suka, terbuka dan bebas dari unsur penipuan antara kedua belah pihak. Jangan sampai seperti istilah membeli kucing dalam karung.

Adapun prinsip pokok suka sama suka ditemukan secara gamblang dalam surah An-Nisa ayat 29 :

















































Artinya :

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Dari ayat tersebut ditarik kesimpulan bahwa yang menjadikan kriteria suatu transaksi yang hak dan sah adalah adanya unsur suka sama

(20)

suka didalamnya. Segala bentuk transaksi yang tidak terdapat padanya unsur suka sama suka, maka transaksi tersebut adalah batil, yang berarti memakan harta orang lain secara tidak sah.12

Berdasarkan pernyataan dari bapak H. Dul bahwa dalam berakad apabila penjual mengucapkan ijab (juallah) sedangkan pembeli tidak mengucapkan qabulnya (tukarlah/belilah)” atau hanya mengucapkan kata terima kasih itu tidak masalah asalalkan barangnya sudah diserahkan kepada pembeli dan pembeli menyerahkan alat tukarnya/uangnya kepada penjual dan adanya unsur suka sama suka. Maka di dalam hal ini ada dua pendapat:

a) Mayoritas ulama dalam mazhab Syafi’i mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab qabul dalam setiap bentuk jual beli, maka tidak sah jual beli yang dilakukan tanpa mengucapkan lafaz “saya jual… dan saya beli…”.

b) Menurut mazhab Maliki dan Hanbali tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab qabul dalam setiap bentuk jual beli. Bahkan imam Nawawi pemuka ulama dalam mazhab Syafi’i memilih pendapat yang tidak mensyaratkan ijab qabul dalam akad jual beli yang merupakan. Hal ini karena Allah dalam surah An-Nisa’ ayat 29 hanya mensyaratkan saling ridha antara penjual dan pembeli dan tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul. Dan saling ridha antara penjual dan pembeli sebagaimana diketahui dengan lafaz ijab qabul juga dapat diketahui dengan adanya qarinah (perbuatan seseorang

12

(21)

dengan mengambil barang lalu membayarnya tanpa ada ucapan apa-apa dari kedua belah pihak). Dan tidak ada riwayat dari nabi atau para sahabat yang menjelaskan lafaz ijab-qabul, andaikan lafaz tersebut merupakan syarat tentulah akan diriwayatkan. (lihat. Kifayatul akhyar hal.283, Al Mumti’ 8/106).13

Jadi dalam akad jual beli dapat dilakukan dengan metode ucapan lisan dan perbuatan. Menurut Imam Nawawi ra. bahwa ucapan ijab qabul tidak terikat dengan ucapan tertentu karena tidak ada dalil yang mensyari’atkannya tapi ucapan tersebut mengikuti tradisi yang berlaku dan kebiasaan hidup manusia (urf) menginginkan hal-hal yang praktis dan tidak bertele-tele dalam bisnis. Di samping itu kebiasaan yang sudah menjadi fenomena biasa ini juga menjadi standar dan ukuran bahwa praktek demikian telah diterima oleh semua pihak dan tak seorangpun dari mereka yang merasa keberatan. Dalam kaidah ilmu fiqih dikatakan: “adat istiadat itu memiliki kekuatan hukum”, yang dimaksud adat disini adalah adat yang tidak menyelisihi syari’at Islam.

Bila pada waktu sekarang kita dapat menemukan cara lain yang dapat ditempatkan sebagai indikasi seperti saling mengangguk atau saling menandatangani suatu dokumen, maka yang demikian telah memenuhi unsur suatu transaksi.

Jadi seperti yang diutarakan bapak H. Dul atau sejenisnya dibolehkan. Dan dapat juga dengan cara jual beli dengan metode mu’athah, yaitu dengan saling menyerahkan barang yang dimaksudkan

13

http://abufawaz.wordpress.com/2011/04/22/memahami-rukun-dan-syarat-sahnya-jual-beli/, (diunduh tgl 28 september 2013 pukul 20.13 WIB).

(22)

oleh masing-masing dari yang menjalankan akad jual beli. Umpamanya pembeli telah menyerahkan uang dan penjual melalui petugasnya di kasir telah memberikan barang, slip tanda terima dan ucapan terima kasih, maka sahlah jual beli itu atau membeli barang dengan meletakkan uang pada mesin lalu barangnya keluar dan diambil tanpa ada lafaz ijab qabul. Yang penting kedua belah pihak yang menjalankan akad jual beli harus suka sama suka dan rela atau ridha dengan akad tersebut tanpa ada unsur paksaan.

Sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh suka sama suka”. (HR. Ahmad, Ad Daruqutni, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dan Al-Albani).14

3) Toko BM

Toko BM ini dimiliki oleh ibu Hj. Idah yang mana sebelumnya beliau hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga biasa. Setelah Pasar Kahayan yang baru di bangun yaitu Pasar Kahayan Tradisional Modern beliau baru membuka usaha toko konveksi karena memang ada pengalaman berdagang membantu keluarga sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk membuka usaha konveksi daripada berdiam diri di rumah. Ibu hj. Idah ini adalah lulusan sarjana manajemen akuntansi di universitas yang ada di Palangka Raya.

Berikut adalah wawancara peneliti dengan Ibu Hj. Idah:

Kada tahu kadang-kadang memang kita banyak prakteknya dari teorinya, yang penting sudah sesuai, jadi disini ni meliat praktek orang ja jadi teorinya kada tahu. Memang ada pang di jurusan manajemen tu masalah teori tu tapi ku kada ingat lagi soalnya lawas sudah. Memang ada pengalaman pang bejualan umpat keluarga di Kapuas kalo libur sekolah umpat bajualan. Biasanya

14

(23)

tu juallah, tukar jar pembeli biasanya tu. Kada tahu (mengenai rukun dan syarat akad jual beli) tahunya bejual, meliat praktek orang. Bagus ja diterapkan dalam bedagang (etika bisnis Islam). 15

Menurut hemat peneliti dari hasil wawancara di atas, Ibu Hj. Idah ini tidak mengetahui teori dari etika bisnis itu seperti apa karena yang beliau tahu hanyalah praktik dari orang-orang (pedagang) yang biasa ibu Hj. Idah lihat sehari-harinya dilingkungan sekitarnya.

Jadi selama ibu Hj. Idah berdagang ini hanya melihat-lihat praktik dalam kehidupan sehari-harinya dalam berakad dan melayani pembeli seperti dengan mengucapkan kalimat juallah dan disambut oleh pembeli dengan ucapan tukarlah/dibelilah. Padahal ibu Hj. Idah ini pernah menimba ilmu hingga sarjana dengan mengambil jurusan Manajemen di salah satu universitas di Palangka Raya. Akan tetapi hanya secara umumnya saja bukan etika bisnis secara Islamnya, dan materinya juga beliau sudah lupa karena sudah lama mempelajarinya. Mengenai rukun dan syarat akad jual belinya juga tidak mengetahuinya akan tetapi apabila dilihat dari praktik yang beliau lakukan itu sudah memenuhi rukun dan syarat jual beli seperti halnya ibu Hj. Nur, ibu Dina, bapak Dul.

4) Toko KB

Toko KB ini adalah milik Bapak H. Arsi yang merintis usahanya bersama ibu Hj. Lili istri beliau di daerah Sampit hingga akhirnya menetap berdagang di Pasar Kahayan Tradisional Modern. Beliau

15

(24)

berdagang di bantu oleh istri dan anak-anak beliau. Akan tetapi sekarang terkadang usaha beliau dipegang oleh anak beliau yang pertama.

Berikut hasil penelitian dengan Ibu Hj. Lili:

Kada tahu pang (teori etika bisnis Islam), mun aku ni tahu jual haja, misalnya juallah kayatu ai ku rajin, bisa ai pang menawar-nawar tu pasti ya kalo ngarannya disini ni kayatu pang. Munnya sudah payu tu juallah jar kayatu ai, mun anu misalnya kawalah bahurup perjanjiannya ini-ini ayuha jar ku, kayatu ai pang. Biasanya kalonya yang ngarannya kita disinikan banyak orang seberang lo makasih bu lah kayatu ja jar sidin. Kada tahu pang (mengenai rukun dan syarat akad jual beli) yang pasti baakad dengan orang nukar dengan ada barangnya. Setuju ja adanya diterapkan etika bisnis Islam disini ni.16

Dari hasil wawancara dengan Ibu Hj. Lili dapat disimpulkan bahwa ibu Hj Lili ini sama seperti ketiga narasumber yang mengetahui mengenai adab berdagang atau etika bisnis secara praktiknya saja. Namun secara teorinya tidak begitu tahu. Mereka mengetahui bagaimana harus melakukan akad transaksi yang baik. Jadi apabila dilihat praktik jual beli yang beliau lakukan itu sudah memenuhi rukun dan syarat akad jual belinya sama seperti ketiga narasumber.

5) Toko PR

Ibu Hj. Wida membuka usaha konveksi yang dinamakan Toko PR ini semenjak dibangunnya Pasar Kahayan Tradisional Modern pada tahun 2009. Ibu Hj. Wida ini sebelumnya juga berprofesi sebagai tukang kredit di daerah tempatnya tinggal seperti Ibu Hj. Nur. Dengan berjalannya waktu sekarang Ibu Hj. Wida mempunyai 4 buah toko konveksi dan 2 buah toko kosmetik dengan 2 karyawan yang berada di toko konveksi dan 2 karyawan menjaga toko kosmetik.

16

(25)

Di bawah ini adalah wawancara peneliti dengan Ibu Hj. Wida: Tahu (mengenai etika bisnis Islam), cara biasanya kan caranya tu kan kaya harga lah, ini sudah modalnya sekian jar padahal kada seitu harganya supaya orang bisa menukar dengan kita tu nah misalnya orang menawar 100 ribu, oh bu belum sampai modal kami lebih 100 ribu padahal kada, modalnya 75 atau 70 bedusta sudah, itu pang yang kami jaga dengan anak-anak karyawanku disini, jangan sampai kita memadah akan modal yang kada sebenarnya, aku belum sampai haja, kalo orang menawarkan biasanya kalo ibu-ibu yang cerewet lo menawarnya beberapa kali lo, belum sampai lagi bu ai, belum yang kita maksud kita jual bukannya belum sampai modal yang kita tukar, kan ada orang bepadah modalnya sudah seanu bu ai, padahal kada segitu, banyak orang kayatu kalo, kita kada wani. Juallah seadanya, iya ada unsur suka rela. Rukunnya ada ijab kabul, penjual dan pembeli, barangnya. Syaratnya barang yang kita jual yang halal, harus saling ridha, ada manfaatnya, barangnya ada jua lawan kadada dipaksa manukar. Setuju diterapkan disini biar bagus ya klo.17

Dari hasil wawancara di atas, menurut peneliti Ibu Hj. Wida ini sudah mengetahui tentang etika bisnis yang baik itu seperti apa, baik secara teorinya dan praktiknya itu sendiri. Beliau mengatakan bahwa juga mengajarkan kepada karyawan beliau cara berdagang yang baik. Pada intinya Hj. Wida ini telah mengetahui jelas tentang etika bisnis Islam itu. Seperti yang disebutkan harus ada unsur suka rela.

Masing-masing rukun memiliki syarat, yaitu sebagai berikut: a) Al- ‘aqid (penjual dan pembeli), haruslah seorang yang merdeka,

berakal (tidak gila), dan baligh atau mumayyiz (sudah dapat membedakan baik/buruk atau najis/suci, mengerti hitungan harga). Penjual dan pembeli harus saling ridha dan tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun.

b) Al-Ma’qud ‘Alaihi (objek akad) memiliki beberapa syarat:

17

(26)

i. Barang yang diperjualbelikan memiliki manfaat yang dibenarkan syariat.

ii. Barang yang dijual harus barang yang telah dimilikinya. Dan kepemilikan sebuah barang dari hasil pembelian sebuah barang menjadi sempurna dengan terjadinya transaksi dan serah-terima. iii. Barang yang diperjualbelikan harus ada ketika akad.

iv. Barang yang diperjualbelikan mestilah bersih (suci) materinya, bukan najis dan bukan benda yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu tidak halal uang hasil penjualan barang-barang haram sebagai berikut: Minuman keras dengan berbagai macam jenisnya, bangkai, babi, anjing dan patung.18

c) Al-‘Aqd (transaksi) yaitu Ijab dan qabul dari penjual dan pembeli. Seperti yang diucapkan oleh ibu Hj. Wida, ijab (penawaran) yaitu si penjual mengatakan, “juallah seadanya”. Dan Qabul (penerimaan) yaitu si pembeli mengatakan, “tukar seadanya atau saya beli”.

Berikut wawancara dengan karyawan di toko PR:

Nah kada tahulah soalnyakan kami tu biasa ja, soalnyakan ngarannya jualan lo kada tahu (etika bisnis Islam). Tahu ai pang munnya adab bedagang. Misalnya orang tu nukar, juallah mbak, ya tukar kaitu ja. Setuju ja (diterapkan etika bisnis). Kada tahu (tentang rukun dan syarat akad jual beli).19

Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa para karyawan di toko PR ini tidak mengetahui mengenai etika bisnis Islam dan teorinya, yang mereka tahu adalah cara berdagang yang baik kepada pembeli secara umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Akad

18

http://abufawaz.wordpress.com/2011/04/22/memahami-rukun-dan-syarat-sahnya-jual-beli/, ibid, (diunduh tgl 28 september 2013 pukul 20.13 WIB).

19

(27)

jual beli yang mereka terapkan sudah sesuai dengan rukun dan syarat akad jual belinya. Akan tetapi mereka tidak mengetahui secara teorinya mengenai rukun dan syarat akad jual beli. Di sini dapat dilihat bahwa ibu Hj. Wida tidak sepenuhnya mengajarkan bagaimana etika bisnis yang seharusnya diajarkan kepada karyawannya.

b. Pembeli

1) Pembeli di toko RZ

Ibu Linda ini merupakan pelanggan di toko RZ yang sudah berlangganan selama kurang lebih setengah tahun. Berikut wawancara dengan Ibu Linda:

Kurang labih satangah tahunan (berlangganan). Mun masalah batutukar ni, jar mun kita nukar lah lawan inya sudah dibayar kaitu, tukarlah sudah ai kaitu ai, jual jar nang saikung, kaitu biasa. Saikung ikhlas saikung ikhlas han, ada barang, baakad, masing-masing baakad nang manukar, nang manjuali.20

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Linda yang berlanganan di toko RZ, dapat diketahui bahwa antara penjual dan pembeli mengetahui bagaimana cara transaksi akad yang baik. Intinya dalam prakteknya tanpa mereka sadari mereka telah mengetahui bagaimana cara bertransaksi dengan baik meskipun secara teori mereka tidak mengetahui.

2) Pembeli di toko AL

Ibu Husna telah lama berlangganan di toko AL semenjak Pasar Kahayan Tradisional Modern ini di bangun. Berikut wawancara dengan Ibu Husna:

20

(28)

Lawas sudah (menjadi langganan). Bila sudah nukar jual jar orang tukar jar sorang kayatu ja. Jadi dijulung barangnya dijulung duitnya, juallah, tukarlah. Sesuai ja pang (dengan rukun dan syarat akad jual belinya). Kurang tahu (mengenai etika bisnis).21 Berdasarkan paparan di atas dapat diketahui bahwa antara penjual dan pembeli mengetahui bagaimana cara transaksi akad yang baik sama seperti pembeli dan penjual yang pertama. Walaupun mereka tidak mengetahui teori etika bisnis Islam yang baik itu seperti apa, akan tetapi dalam prakteknya tanpa mereka sadari mereka telah mengetahui bagaimana cara bertransaksi dengan baik meskipun secara teori mereka tidak mengetahui.

3) Pembeli di toko BM

Ibu Yaya adalah pelanggan baru di toko BM dan Ibu Yaya ingin berlangganan di toko BM ini. Berikut hasil wawancara dengan Ibu Yaya:

Lawas kada hanyar kada, tergantung keperluan kada secara rutin (belanja di toko BM). Juallah, tukarlah (akadnya), sudah pang (memenuhi rukun dan syarat akad jual belinya).22

Dapat diketahui bahwa antara penjual dan pembeli sudah melaksanakan transaksi akad dengan baik meskipun secara teori mereka tidak mengetahuinya.

4) Pembeli di toko KB

Ibu Chuwin adalah pembeli yang baru sekali ini berbelanja di toko KB. Berikut wawancara dengan Ibu Chuwin:

Pelanggan baru, baru sekali belanja disitu. Tidak terlalu bisa menawar jadi harganya yang paling bisa diberikan penjual klonya cocok dibeli. Juallah, tukarlah. Sudah sesuai ijab kabulnya,

21

Wawancara dengan Ibu Husna pembeli ditoko AL pada tanggal 1 Juni 2013. 22

(29)

barangnya ada, bagus sesuai dengan harganya. Tidak begitu tau masalah rukun dan syarat jual beli.23

Dapat diketahui bahwa antara penjual dan pembeli sudah melaksanakan transaksi akad dengan baik dalam artian antara penjual dan pembeli saling suka sama suka atau ridha atas barang dan harga yang telah ditawarkan. Akad yang diucapkan seperti juallah oleh penjual dan tukarlah oleh pembeli dan tidak begitu mengetahui rukun dan syarat jual beli.

5) Pembeli di toko PR

Toko PR ini mempunyai pelanggan yang bernama Ibu Nana. Ibu Nana ini sudah lama berlangganan di toko PR yaitu selama 2 tahun lamanya.

Berikut wawancara peneliti dengan Ibu Nana:

Sudah lama sekitar 2 tahunan (menjadi langganan). Bagus, akadnya, jual beli pakai nota. Iya betul saya beli gitu, kata orang yang jual saya jual dan saya menyahut ditukarlah. Sesuai rukun dan syarat jual beli dalam berakad. Harus ada tau barangnya, akadnya, trus sama-sama bertatap muka antara penjual dan pembeli, ada barangnya.24

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa pembeli dan penjual mempraktikkan transaksi akad jual beli dengan baik, seperti mengucapkan ijab qabul dengan berucap “dijual” oleh penjual dan “dibeli” oleh pembeli, ada penjual dan pembeli serta ada barangnya sesuai rukun dan syarat jual belinya.

23

Wawancara dengan Ibu Chuwin pembeli ditoko KB pada tanggal 1 Juni 2013. 24

(30)

2. Pemahaman Etika Bisnis Islam Pedagang Konveksi Di Pasar Kahayan Palangka Raya terhadap Pelayanan kepada Pembeli.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pelayanan adalah perihal atau cara melayani, usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang), kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa.25 Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan merupakan suatu kegiatan yang diberikan seseorang atau badan untuk melayani kebutuhan orang lain.

Pelayanan diartikan sebuah service yang dilakukan oleh seorang penjual atau pedagang dalam menyampaikan sesuatu atau dalam melayani seorang pembeli atau pelanggan yang mana tujuan dari semua itu adalah demi meningkatkan pemasaran dan untuk mencapai sebuah kepuasan konsumen atau pembeli.

Pelayanan dalam berdagang merupakan faktor penentu bagi perkembangan toko. Hubungan yang harmonis antara penjual dan pembeli harus berjalan dengan baik. Pelanggan harus tetap dilayani dengan baik tidak memandang apakah pelanggan yang hanya lewat atau pelanggan tetap. Dengan adanya pelayanan yang baik usaha yang didirikan memiliki nilai lebih karena pelanggan merasa senang bila dilayani dengan baik, selalu melayani dengan hati riang, ramah, tersenyum, menjumlah barang-barang dengan harga yang benar, jujur, tidak menipu, memberikan kembalian yang tepat dan selalu mengucapkan terima kasih kepada pelanggan.

25

http://www.deiyaikab.go.id/page/6/Pelayanan.htm, (diunduh pd tgl 30 September 2013 pukul 04. 24 WIB).

(31)

a. Penjual 1) Toko RZ

Wawancara bersama Ibu Hj. Nur yang merupakan pemilik toko RZ sebagai berikut:

Kaya orang disuruh mamilih dulukanlah memilih apa yang cucuk, misalnya bajunya dicoba kaya haji tadi munnya rasa kurang cucuk tasarah inya kayaitu nah, jadi barang dibelikah atau kada kaitu nah, kaitu ai, tasarah inya si pembeli tu.

Masalahnya kainilah anu misalnya tu lah urang tu tacariwit ai lah handak membeli tapi yang satu belum tarukui kalu, mencari yang lain lagi kayaitu nah masalahnya, barang sudah tabukaan. Kayaini ai, nang mana nang jadinya barang ini nah munnya kada jadi nyaman kami simpuni kaitu nah, kan kadang barang ta anu samuanya.

Kaini pang nah kipas angin, lawan tempat kamar pas, kursi, minuman dingin ada jua acil bajual dimuka tu. Kadada pang balum, balum ada kaitu nah (pembeli komplain kepada pedagang). Baik haja pang komunikasinya misalnya ada urang mau beli, misalnya ada celanakah jarnya kalo misalnya ada cuba liat-liat dulu kaitu ai, ditawari.26

Wawancara bersama Ibu Dina yang merupakan karyawan di toko RZ sebagai berikut:

Bilanya ada pembeli disitu misalnya apa yang di cari kayatu nah, ditakuni ai ada apa yu mba kah bu kah, atau ding, kita paraki ai ancap.

Misalnya lah inya mau nukar karudung yang mana warnanya kita ambil akan jangan sampai inya maambil sorangan kayatu nah, misalnya warnanya adalah yang itu, kita carikan jangan sampai orangnya lewat (kada jadi). Hi ih, kipas angin, kursi, minuman ada ja bajual tu dimuka tu, kadang-kadang orang lewat ai tu munnya banyak orangnya di toko.

Jadi anu adalah yang cocok dengan ikam mun kadada cari ai dulu di lain misalnya yang talalu manawar cariwit. Kayatu pang melayani jangan kita sangit jua hi ih, apalagi mun manjual akan ampun orang kasal-kasalkan efeknyakan kada baik jua gasan sorang, yang ampun toko jua kasian kena orang jara. Tolong ai cari dulu lah kalo ai ada nang tamurah di lain ayuja situ kena mun anu ayuja kesini lagi, jar ku balum pang lagi nah balum sampai lagikan, bahujung-bahujung haja cuma balum, kada cukuplah istilahnya ibaratnya kantongannyakan, korannya, ongkosnya. Kada pernah

26

(32)

pang lagi balum, ada haja pang sebagian kayaitu, kan tadi sudah disuruh mancuba dulu, kamar pas ada tapi mun handak bahurup boleh haja tapi pas kebetulan kadada hurupannya cari yang lain haja mun bahurup duit kada kami, sama-sama barang pilih nang mana. Selama komunikasi/transaksi melayani tetap baik, munnya belum anu ayu ha cari ja dulu dilain.27

Dari wawancara dengan Ibu Hj. Nur dan Ibu Dina di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pedagang yang baik adalah yang bisa melayani pembelinya dengan baik. Meskipun pembelinya adalah orang yang terlalu pilih-pilih (cerewet). Pedagang/penjual harus bisa melayani pembeli dengan baik seperti menyapa pembeli, menawarkan barang yang diinginkan pembeli, ramah, sabar serta tidak boleh terbawa emosi karena apabila terbawa emosi efeknya akan tidak baik, baik kepada toko itu sendiri, pemilik toko atau karyawannya.

Menurut peneliti pemilik toko RZ dan karyawannya sudah lumayan bagus dalam melayani pembeli karena pelayanan dalam berdagang merupakan faktor penentu bagi perkembangan toko. Hubungan yang harmonis antara penjual dan pembeli harus berjalan dengan baik. Pelanggan harus tetap dilayani dengan baik tidak memandang apakah pelanggan yang hanya lewat atau pelanggan tetap. Orang lebih senang membeli di toko dengan harga yang mungkin lebih mahal tetapi memiliki pelayanan yang baik, daripada membeli ke toko yang menjual dengan harga murah tetapi tidak memberi pelayanan yang baik.28 Sarana yang ada di toko RZ ini ada kipas angin, kursi, kamar pas, menjual minuman segar, penataan barang yang dipajang juga bagus rapi dan enak dipandang mata.

27

Wawancara dengan Ibu Dina pada tanggal 25 Mei 2013. 28

(33)

Adapun dalam memulai sebuah proses pelayanan seperti halnya yang dilakukan ibu Hj. Nur dan ibu Dina sebagai berikut:

a) Tersenyum dan sambut dengan salam yang bersahabat, pembeli dipersilahkan masuk ke dalam toko untuk melihat-lihat.

b) Temukan sesuatu yang dikagumi pembeli dan beri sedikit komentar untuk mengawali sebuah percakapan.29 Ajukan pertanyaan umum kepada pelanggan mengenai kebutuhannya. Seperti cari apa bu atau mbak, mencari baju, celana atau kerudung, mau mencari warna apa, ukurannya berapa.

c) Cakap, komunikatif dan keramahan sangat diperlukan demi terjalinnya sebuah silaturahmi dan tingkat kepuasan dari konsumen bahwa memang seorang pembeli itu dihargai seperti sebuah istilah mengatakan bahwa ”pembeli itu adalah raja”. Pedagang dituntut bersabar melayani pembeli yang sedang mencari barang yang dikehendakinya, mengarahkan, memberi saran dan membantu pembeli untuk mengambil keputusan. Melayani dengan sepenuh hati akan memberikan energi pada usaha yang dijalani.30

d) Penyedian sebuah sarana dan fasilitas yang memadai, dengan fasilitas yang ada akan membuat pembeli atau pelanggan akan lebih nyaman dan rileks. Seperti dengan penerangan yang baik, kipas angin yang menyejukkan, kursi untuk istirahat dan lain sebagainya.

e) Toko harus bersih dan rapi karena akan menjadi pesona tersendiri bagi seorang pembeli. Barang-barang diatur sedemikian rupa agar terlihat

29

Gerald A. Michaelson dan Steven W. Michaelson, Sun Tzu ...., hal. 45. 30

(34)

rapi, tidak sumpek, dan agar bisa menarik perhatian pembeli. Di dekat pintu masuk disediakan tong sampah. Barang-barang yang disusun dengan rapi di etalase/rak disesuaikan dengan golongan dan jenisnya akan membuat toko tidak berantakan dan barang yang diperlukan akan mudah didapatkan. Pemandangan toko yang serba teratur dan rapi juga dapat meningkatkan konsentrasi pembeli untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan di luar rencana semula.31

f) Barang yang tersedia haruslah up to date sesuai dengan perkembangan fashion. Karena hal itu salah satu yang menjadi daya tarik seorang pembeli dalam melakukan proses jual beli. Barang-barang yang dijual selalu baru, memiliki barang yang lengkap, dengan itu semua maka akan memiliki peluang untuk meraih pelanggan lebih banyak lagi. 2) Toko AL

Berikut wawancara dengan Bapak H. Dul pemilik toko AL: Pandir-pandir lawan nang si pembeli ya kalo orang mana ikam ni kan. Biasa ai ramah,tu langganan tu biasa ai kita sudahkan ramah, apa yang dicari, barang apa yang ikam handak, adakah disini. Amunnya urang asingkan dari mana nih, tahu diurangnya, amunnya kada tahu, nambah lagikah langganan. Banyak haja orangnya yang model kaya handak mambunguli timbul hilang. Imbahnya kita andak dah harga pasnya sudah tasarah urang ai lagi, urang kan manawar kawalah lagi kurang, andak harga pas, yang standarnya bajualkan ada ukuran harga standarnya, harga berapa kita rancak bajual, ukuran standar itu pang harga pasnya, amunnya urang kada tapi ada kawa ja kan batatawarankan. Mahuas-huas, amunnya kayatu rancak ja pang manamuinya, biar kada rusak gin barangnya napa yu model kaya tawaran tu sudah pas, inya handak manukar ada kawan datang mahuas-huas barang, tapi kita kada papa ai, jar kita kan jadikah kada bilanya kurang senang kita kembalikan duitnya kada mangalih-ngalih, cuman yang kawan datang tadi mahuas-huas itu rancak itu pang kandalanya kayatu pang nah, jaka bahasa kitanya urang murah ha

31

(35)

bajual nang ini, disini mahal jar urang tu handak mancari yang murah nang kawan yang datang tadi. Kadada pang yang kadada kandala kita ni bajualan.32

Berdasarkan pemaparan dari Bapak H. Dul dapat diketahui bahwa dalam melakukan pelayanan kepada pembeli tetap dengan keadaan sabar. Dengan pelanggan asing/baru Bapak H. Dul tetap melayani pembeli dengan baik seperti mengajak mengobrol dengan pembeli, berbasa-basi dengan pendekatan seperti itu dan sikap yang selalu ramah seperti halnya yang dilakukan oleh toko RZ. Dan tetap melakukan sistem tawar-menawar dengan baik walaupun pembeli tersebut ada yang cerewet dalam tawar menawar tetap dilayani dengan baik. Sesuai dengan perjanjian Bapak H. Dul apabila tidak suka bisa dikembalikan, ada toleransinya karena apabila pembeli kurang senang tidak bisa dipaksakan. Fasilitas yang disediakan seperti kipas angin dan kursi, pencahayaannya terang, akan tetapi penataan barang dagangannya kurang rapi.

Dalam sistem jual beli di dunia perdagangan, haruslah penjual dan pembeli memiliki budi yang mulia, sehingga barang dagangan menjadi laris, dan semua mitra dagang senang. Hal semacam itu haruslah di dukung dengan sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pengusaha atau pedagang. Dan ini menjadi sebuah tolak acuan dalam melakukan sebuah pelayanan (service) yang memuaskan dan baik, diantaranya sebagai berikut:

32

(36)

a) Berlaku Sopan Santun

Sopan santun terhadap calon pembeli untuk mendapatkan simpati dan daya tarik pembeli. Maka penjual harus dengan sabar dan penuh keramahan dalam menghadapi mereka. Dengan sikap ramah tamah tersebut, berarti calon pembeli telah mendapat pelayanan yang baik, dan menjadi bagian dari promosi dagang yang dilaksanakan sehingga mitra dagang akan semakin tertarik, dan enggan untuk beralih ke pedagang lain. Dengan kata lain sikap yang sopan santun kepada para pembeli pasti mendatangkan berkah baik dalam bentuk fisik berupa keuntungan duniawi, maupun dalam bentuk moril, bahkan bernilai ibadah disisi Allah SWT. Bukankah senyuman itu adalah merupakan bagian dari sopan santun dan dapat bernilai sedekah.33

Rendah hati dan bertutur kata sopan sangat dianjurkan dalam Islam. Islam sangat mengutuk perilaku yang sombong dan takabbur. Al-Qur’an pun dengan jelas mengajarkan untuk senantiasa rendah hati dan bertutur kata yang manis.34



























































33

H. Hasan Aedy, Indahnya ...., hal. 61-62. 34

(37)

Artinya:

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman : 18-19).

b) Toleransi (Samahah)

Toleransi atau tenggang rasa harus dianut oleh orang-orang yang bergerak dalam bisnis. Dengan demikian tampak orang bisnis itu supel, mudah bergaul, komunikatif, praktis, tidak banyak teori, fleksibel, tidak mengikuti apa maunya, tapi pandai melihat situasi dan kondisi, beri kelonggaran kepada teman bisnis lain, beri toleransi kepada langganan, jangan kaku seperti batu.35

Apabila toko mempunyai citra yang baik, maka pelanggan pun akan datang silih berganti. Kriteria toko yang baik tentu saja dari cara bagaimana penjual melayani pembeli, harga-harga yang penjual berikan pada barang dagangannya, serta kesediaan pedagang/penjual untuk melakukan sesuatu di luar ketentuan biasanya, seperti pembeli menukar barang dengan barang yang lain bila barang itu tidak cocok, cacat, adanya kesalahan dari pihak penjual atau pedagang tidak menjumlah harga dengan benar.36

3) Toko BM

Berikut wawancara dengan ibu Hj. Idah pemilik toko BM:

Kalonya masuk kalonya liat-liat dululah, tapi kadang memang inya masuk dulu, masuklah jarnya liat-liat, iya masuk boleh, kalonya batakun hanyar kita jawab atau kita menjelaskan gasan

35

H. Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis ...., hal. 110. 36

(38)

inya cari apa bu, yang muslimkah, yang tangan panjang, dreskah atau longdres, itu biasa, bis tu hanyar inya batakun berapa harganya?. Iya he eh kipas angin, kalonya maambil baju biasanya menukar baju. Kadang bisa jua pang dikasih aqua kalo ada aqua gelas tapi ni kadada lagi, kadang yang kami anu tu yang langganan tu nah yang maambil banyak untuk dijualnya lagi di udik-udik sana, kadang inya datang jauh-jauh kalo uyuh, tapi memang kadang dikasih kursi tapi memang mereka rajin yang di bawah yang balampar kayatu tu nah bebas nyaman jarnya.

Bisa bahurup baju, kalo robekkan memang kemaren ada kejadian yang robek tapi hurupannya kadada lagi jadi ku ambil aja jadi kembali uang tapi biasanya inya datang lagi kesini, kada anu, belanja lagi kesini nah, kalonya memang sobekkan kada bisa dipaksa jua cacat kan. Kecuali inya memang yang teliti banar, kadang pembeli ada yang teliti diliatinya banar. Memang kadang dihurup jua tapi diliat kalonya memang kadada biar aja kembali duit soalnya itu nanti ku return lagi.

Memang ada yang cerewet misalnya mengatasi orang yang cerewet tu kadang aku diam aja, cuek aja kadang aku kada menyahuti, kada ku layani diam aja inya ampih sorangan ai, memang kadang dalam hati memang sangkal, kebanyakan di anunya tu nah biar aja ku diami ja yang kayatu akhirnya ampih ai nya.37

Dari hasil wawancara dengan pemilik toko BM dapat diketahui bahwa dalam melakukan pelayanan kepada pembeli lumayan baik seperti ibu Hj. Nur, ibu Dina dan bapak H. Dul, menyapa pembeli dengan ramah dan sabar dalam melayani pembeli. Akan tetapi dalam mengatasi pembeli yang cerewet yang terlalu banyak maunya beliau kurang baik menghadapinya karena hanya didiamkan saja dan terkesan cuek kepada pembeli, tetapi tidak kasar karena menurut beliau diam lebih baik daripada berkata-kata kasar. Pemilik toko BM ini juga menyediakan fasilitas seperti kursi, kipas angin, televisi, minuman kadang-kadang, ruangan yang luas dan nyaman, barang-barang tertata rapi sehingga menarik untuk dilihat yang melengkapi pelayanan di toko BM ini. Hal

37

(39)

lainnya apabila barang yang dibeli itu terdapat cacat atau rusak, bisa ditukar lagi dengan barang yang lain tetapi apabila sudah tidak ada atau tidak ada yang diinginkan pembeli, Ibu Hj. Idah ini akan mengembalikan uang pembeli tersebut. Jadi ibu Hj. Idah ini memberikan toleransi kepada pembeli yang merasa kurang puas dengan barang yang dibeli pembeli. 4) Toko KB

Berikut wawancara dengan Ibu Hj. Lili pemilik toko KB:

Cari apa bu jar ku biasanya kayatu lo, cari ini-ini-ini untuk umur berapa tahun kayatu ditanya lo untuk cewekkah cowok, misalnya kadada dipadah ja kadada misalnya jarku ada dari umur sekian-sekian dicarikan barangnya, munnya kada cocok, kada sesuai dengan hatinya kada kawa ai istilahnya lo. Pernah ai mahadapi orang yang cerewet, kada kawa ai pang kayatu sabar ai handak disariki han kada anu jua ku istilahnya itu gin bisa ja pang aku pernah jua pang kayatu cuman di salah satu tu pasti ada jadi kayatu nah, kalo sudah tahu orang tu yang cerewet jadi biasa-biasa ja kadang kayani ja menyikapinya misalnya adalah lagi warnanya atau ukurannya? ada ai kalo cocok harganya hanyar dicarikan kayatu ja, kalonya harganya sudah sip ku ambilkan barangnya, biar kada tebongkar-bongkarlah kayatu mun sudah tahu orangnya yang itu tuh, hi ih kaitu rajin.

Kipas angin, tv, kursi, kalo misalnya banyu kayatu lo bisa ja pang kalo buhan kreditan biasanya lo aku menata akan barangnya, minumkah jar ku, ngarannya orang ne pasti kada ai lo kisahnya, ku ambil akan ai hi ih rajin kayatu pang, duduk dulu di kursi bu lah sambil aku membungkusi kado duduk bu lah.38

Dari hasil wawancara dengan pemilik toko KB dapat dikatakan bahwa pelayanan yang dilakukan oleh pemilik toko KB ini bagus. Baik dari segi komunikasi dengan pembeli, cepat tanggap, ramah dan sabar tanpa emosi dalam menghadapi pembeli yang cerewet. Fasilitas pendukung dalam melayani pembeli terdapat kursi, kipas angin, televisi, minuman, pencahayaannya terang (lampu), penataan barang dagangan

38

(40)

yang bagus, enak dipandang mata dan barang yang dijual selalu up to date.

Adapun hal yang harus dimiliki oleh seorang pedagang seperti pemilik toko KB, toko RZ dan toko AL, dalam melayani konsumen atau pembelinya adalah sebagai berikut:

a) Tanggung jawab

Dalam melayani pembeli/konsumen pedagang harus mampu bertanggung jawab melayani setiap pembeli dari awal hingga selesai. Pembeli akan merasa puas jika mereka merasakan adanya tanggung jawab dari pedagang. Apabila ada pembeli yang tidak dilayani secara tuntas akan menjadi citra yang buruk bagi usaha tersebut. Pedagang yang tidak puas tersebut selalu membicarakan hal-hal yang negatif tentang pedagang, dan biasanya suatu keburukan akan lebih cepat berkembang daripada kebaikan.

b) Daya tanggap

Seorang pedagang harus mampu melayani pembeli secara tepat dan tepat. Layanan yang diberikan harus sesuai dan tidak membuat kesalahan (sesuai dengan keinginan pembeli).

c) Komunikatif

Mampu berkomunikasi artinya pedagang harus mampu dengan cepat memahami keinginan konsumen. Selain itu, pedagang harus dapat berkomunikasi dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti. Komunikasi harus dapat membuat pembeli senang sehingga jika pembeli menginginkan suatu barang, pembeli tidak segan-segan

(41)

mengemukakannya kepada pedagang. Mampu berkomunikasi dengan baik juga akan membuat setiap permasalahan menjadi jelas sehingga tidak timbul salah paham.39

5) Toko PR

Berikut wawancara dengan Ibu Hj. Wida pemilik toko PR: Kalo ku alhamdulillah pang selama aku bejualanlah misalnya sudah cocok lo harga sudah dicoba sudah pas besok orang datang kesini aduh bu kada sedang bajunya kayani-kayani, tetap ku ambil barangnya, ku bulik akan duit orang, aku kada mau meolah hati orang kada nyaman padahalkan kita sudah inya menukar sudah harganya sudah pas, sudah dicobai lo warnanya cocok kadang-kadang orang sudah dibawa bulik kerumah kada jadi bu lah laki ulun kada suka ulun makai ini, walaupun kadada perjanjiannya, ku ambil berapa kemaren 150 ribu ya, kembalikan uang 150 ribu ambil barangnya, datang lagi inya kesini tetap dilayani dengan baik. Dipotong orang biasanya duitnya misalnya harga nukar 50 ribu dipotong 10 ribu jadi 40 ribu banyak orang kayatu tapi aku kada, hak orang, duit orang, insyaAllah ja kalo kita beusaha karena Allah Ta’ala kada pang aku meanu akan diri tokoku asalnya 1 haja sekarang toko bajuku sudah 4 buah, kosmetikku didepan, kosmetik xxx punya ku jua. dengan pelanggan kita dengan orang, kitakan ibaratnya pembeli adalah raja, kita harus menghormati raja biarpun orang itu dibawah kita, tetap pelayanan kita biar orang ibaratnya orang biasa, orang beduit masuk ke wadah kita sama pelayanannya.

Ikam meliati sorang haja (fasilitasnya), secara lisannya kayamana aku wawancara dengan kam ni, ramahkah kada. Biarnya orang menawar harga misalnyalah harga nikan sudah kita batasi misalnya paling bisa dijual 100 ribu, kan aku biasa menawarkan 150 ribu, bisa kuranglah. bisa ja, berapa piyan berani menawarnya, misalnya orang menawar batasnya kan sudah 100 ribu lo tawar orang 50 ribu, belum sampai bu lebih lagi bu, pasnya berapa? Pasnya bu ai 100 ribu paling bisa sudah kayatu, tasarah orang ai lagi, kayatu ja, makanya banyak komentar kekawananku lah makanya kalonya orang yang cerewet tu masuk ke tempat orang bisa kada jadi, kalo masuk ketempat xxxx Alhamdulillah jadi.40

Dari hasil wawancara dengan pemilik toko PR dapat disimpulkan bahwa pemilik toko PR melayani pelanggannya dengan baik, adil,

39

Philip Kotler, Prinsiple of Marketing ..., hal. 87-89. 40

(42)

ramah, sabar walaupun pembelinya cerewet. Beliau mengibaratkan pembeli adalah raja, jadi harus menghormati raja biarpun orang itu adalah orang biasa atau orang kaya tetap sama pelayanannya. Jika pembeli kurang senang dengan barang yang dibelinya atau barang rusak/cacat dapat ditukar dengan barang yang lain dan bisa juga kembali uang apabila tidak ada yang disenangi pembelinya lagi. Fasilitas pendukung seperti kipas angin, kursi, kamar pas, tempat sampah, pencahayaan yang lumayan bagus, penataan barang yang baik dan barang-barang yang dijual selalu up to date mengikut perkembangan fashion.

Dari setiap bentuk pelayanan yang diberikan oleh pedagang haruslah memgambarkan seorang pedagang muslim yang memiliki ciri-ciri pelayanan yang baik dalam Islam, yaitu:

a) Memiliki kepribadian spiritual (takwa)

Seorang muslim diperintahkan untuk selalu mengingat Allah, bahkan dalam suasana mereka sedang sibuk dalam aktifitas mereka. Ia hendaknya sadar penuh dan responsif terhadap prioritas-prioritas yang telah ditentukan oleh sang pencipta. Kesadaran akan Allah ini hendaklah menjadi sebuah kekuatan pemicu (driving force) dalam segala tindakan. Berdagang dengan niat yang ikhlas, baik dan tidak mengutamakan keuntungan akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

(43)

Berbisnis secara adil wajib hukumnya, bukan hanya himbauan dari Allah SWT. Sikap adil termasuk di antara nilai-nilai yang ditetapkan oleh Islam dalam semua aspek ekonomi Islam. Islam telah mengharamkan setiap hubungan bisnis yang mengandung kezaliman dan mewajibkan terpenuhinya keadilan yang teraplikasikan dalam setiap hubungan dagang dan kontrak-kontrak bisnis.

Dalam bisnis modern, sikap adil harus tergambarkan oleh pedagang, semuanya harus merasakan keadilan. Tidak boleh ada satu pihak pun yang hak-haknya terzalimi, baik dengan pelanggan atau pembeli dan karyawan. Mereka harus selalu terpuaskan (satisfied) sehingga dengan demikian bisnis bukan hanya tumbuh dan berkembang, melainkan juga berkah di hadapan Allah SWT.

Berikut wawancara dengan karyawan di toko PR:

Ya kalonya barangnya rusak dikembalikan cari barang yang baru, maksudnya bahurup. Kalonya kadada lagi barangnya, hurup duit ja, duitnya dijulung pulang. Munnya orangnya cerewet tu cari dulu ja barang yang dihandaki, hanyar ditakuni ukurannya berapa mbak. Kalonya sudah tuntung layani yang satunya lagi, kena takuni lagi, apa lagi bu yang di cari, kaitu ai biasanya. Tapi kami takuni dulu ukurannya berapa jadi kada uyuh menuruni barangnya kaitu munnya ukurannya kadada lagi kada kawa ai. Kadada kendalanya biasa ja, melayani dengan senang hati.41

Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa pelayanan yang mereka terapkan dalam berdagang sudah baik. Melayani pembeli dengan ramah, senang hati, ikhlas dan memberikan toleransi kepada pembeli apabila terdapat cacat/rusak dapat ditukar lagi atau kembali

41

Gambar

Tabel 1. Statistik geografi dan iklim Kota Palangka Raya
Tabel 2. Indikator Kependudukan Kota Palangka Raya.
Tabel  3  :  Nama  Kecamatan  dan  Kelurahan,  Jumlah  Rukun  Warga  (RW)  dan Rukun Tetangga (RT) 2011
Tabel 4 : Luas Wilayah Kota Palangka Raya 3 Kecamatan  Luas  % terhadap
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kenaikan kadar ion P, K, dan Mg sampai minggu ke- 6 sedangkan pada minggu ke-7 mengalami penurunan hal ini disebabkan karena ion – ion yang berada dalam cairan akan teradsorpsi

Manusia memiliki daya dan kemampuan untuk mengingat kembali hal-hal yang pernah didengar dan dilihat. Akan tetapi tidak semua manusia memiliki daya ingatan dan hafalan

Data yang diperoleh melalui wawancara dalam penelitian ini di analisis dengan menggunakan analisis deskritif kualitatif yaitu dengan cara data yag diperoleh dari hasil wawancara

Dengan di tandatangani surat persetujuan ini, maka saya menyatakan bersedia / tidak bersedia untuk berperan serta menjadi responden dalam penelitian dengan judul “Gambaran

Pada perencanaan misalnya membangun kesadaran berzakat untuk masyarakat dengan sosialisasi di instansi pemerintah, di desa ataupun kelurahan, dan pada UPTD pendidikan, selain

Ceramah Isu Aktual membahas isu-isu aktual stratejik yang sedang berkembang dalam rangka memperdalam pemahaman dan memperluas wawasan peserta.. Setelah mengikuti ceramah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berpartisipasi kurang, dalam kelas ibu hamil lebih banyak pada ibu dengan tingkat pengetahuan kategori kurang, yaitu sebesar 55,2%

empiris yang fokus penelitiannya pada fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata. Studi kasus merupakan strategi yang tepat dalam penelitian dengan