[11]
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1. Perawat
2.1.1.1. Pengertian perawat
Menurut Depkes RI (2007), perawat adalah seorang yang telah dipersiapkan melalui pendidikan untuk turut serta merawat dan menyembuhkan orang yang sakit, usaha rehabilitasi, pencegahan penyakit, yang dilaksanakannya sendiri atau dibawah pengawasan dan supervisi dokter atau suster kepala.
Perawat profesional adalah perawat yang bertanggung jawab dan berwenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenangannya.
2.1.1.2. Peran perawat
Peran perawat secara umum adalah memberi pelayanan/asuhan (care provider), pemimpin kelompok
[12]
(community leader), pendidik (educator), pengelola (manager) dan peneliti (researcher) (PPNI, 2012).
2.1.1.2.1. Care provider
Menerapkan keterampilan berfikir kritis dan pendekatan sistem untuk penyelesaian masalah serta pembuatan keputusan keperawatan dalam konteks pemberian askep yang komprehensif dan holistik berlandaskan aspek etik dan legal.
2.1.1.2.2. Community leader
Menjalankan kepemimpinan di berbagai komunitas, baik komunitas profesi maupun komunitas sosial.
2.1.1.2.3. Educator
Mendidik Klien dan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
2.1.1.2.4. Manager
Mengaplikasikan kepemimpinan dan manajemen keperawatan dalam asuhan klien.
[13]
2.1.1.2.5. Researcher
Melakukan penelitian sederhana keperawatan dengan cara menumbuhkan kuriositas, mencari jawaban terhadap fenomena klien, menerapkan hasil kajian dalam rangka membantu mewujudkan Evidence Based Nursing Practice (EBNP).
2.1.1.3. Fungsi perawat
Menurut Kozier (1991), terdapat tiga fungsi perawat dalam melaksanakan perannya, yaitu:
2.1.1.3.1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas, dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan,
[14]
pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.
2.1.1.3.2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan.
Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
2.1.1.3.3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara tim satu dengan lainya fungsi ini dapat terjadi apa bila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainya, seperti dokter dalam memberikan tanda pengobatan bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi obat yang telah di berikan.
[15]
2.1.1.4. Sikap Perawat Dalam Melakukan Komunikasi Terapeutik
Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut (Mukhripah, 2010) yaitu:
2.1.4.1. Berhadapan artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
2.1.4.2. Mempertahankan kontak mata yaitu kontak mata pada level yang sama berarti menghargai pasien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
2.1.4.3. Membungkuk ke arah klien yaitu posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu.
2.1.4.4. Memperlihatkan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu.
2.1.4.5. Tetap rileks artinya tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangandan relaksasi dalam memberikan respon kepada pasien,
[16]
meskipun dalam situasi yang tidak menyenangkan.
2.1.2. Strategi Pelaksanaan (SP 1 - 2) Komunikasi Perawat Kepada Pasien Harga Diri Rendah (HDR)
2.1.2.1. Strategi Pelaksanaan (SP 1 - 2)
Strategi pelaksanaan komunikasi adalah pelaksanaan standar asuhan keperawatan terjadwal yang diterapkan pada pasien yang bertujuan untuk mengurangi masalah keperawatan jiwa yang ditangani (Fitria, 2009). Strategi pelaksaan komunikasi pada pasien harga diri rendah mencakup kegiatan yang dimulai dari mengidentifikasi hingga melatih kemampuan yang masih dimiliki pasien sehingga semua kemampuan dapat dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki akan meningkatkan harga diri pasien (Keliat, 2009).
Strategi pelaksanaan komunikasi pada pasien harga diri rendah terdiri dari dua sesi petemuan yaitu sesi pertemuan pertama (SP 1) dilakukan pada sesi pertama dan sesi pertemuan kedua (SP 2). Kegiatan yang dilakukan pada SP 1 adalah mendiskusikan
[17]
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan, membantu pasien memilih atau menetapkan kemampuan yang akan dilatih, melatih kemampuan yang sudah dipilihdan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih dalam rencana jadwal pelaksanaan harian pasien.
Sedangkan kegiatan yangdilakukan pada SP 2 adalah melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien. Latihan dapat dilanjutkan untuk kemampuan lain sampai semua kemampuan dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki dapat meningkatkan harga diri pasien. Strategi Pelaksanaan (SP 1 - 2) tindakan keperawatan pada pasien harga diri rendah menurut Purba, dkk (2008), yaitu:
[18]
Tabel I. Strategi Pelaksanaan (SP 1 - 2) Tindakan Keperawatan Pada Pasien Harga Diri Rendah Menurut Purba,
dkk (2008).
Diagnosa Keperawatan
Strategi Pelaksanaan
Kemampuan/ Kompetensi Kemampuan Merawat
Pasien
Harga Diri Rendah (HDR)
SP 1 1. Mengidentifikasi
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien.
2. Membantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat dilakukan.
3. Membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan kemampuan pertama pasien.
4. Melatih pasien sesuai dengan kemampuan yang dipilih.
5. Memberi pujian yang
wajar terhadap
keberhasilan pasien.
6. Menganjurkan pasien memasukkan dalam
[19]
jadwal kegiatan harian.
SP 2 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.
2. Melatih kemampuan kedua.
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
2.1.2.2. Tujuan Strategi Pelaksanaan (SP 1 - 2)
Menurut Lilik (2011), tujuan tindakan keperawatan jiwa pada pasien harga diri rendah adalah sebagai berikut:
Tujuan Umum :
Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap.
Tujuan Khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
c. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
[20]
d. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
2.1.2.3. Strategi komunikasi
Strategi komunikasi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai satu tujuan. Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan (Effendy,2003). Strategi komunikasi harus didukung oleh teori karena teori merupakan pengetahuan berdasarkan pengalaman (empiris) yang sudah diuji kebenarannya. Ada empat tujuan dalam strategi komunikasi (Effendy,2003) sebagai berikut:
a. To Secure Understanding yaitu untuk memastikan bahwa terjadi suatu pengertian dalam berkomunikasi.
[21]
b. To Establish Acceptance yaitu bagaimana cara penerimaan itu terus dibina dengan baik.
c. To Motivate Action yaitu penggiatan untuk memotivasinya.
d. To Goals Which Communicator Sought To Achieve yaitu bagaimana mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh pihak komunikator dari proses komunikasi tersebut.
2.1.2.4. Pengertian komunikasi terapeutik
Salah satu cara mengatasi masalah komunikasi yang terjadi antar perawat dengan pasien adalah dengan menggunakan komunikasi terapeutik secara efektif oleh perawat. Komunikasi terapeutik ialah pengalaman interaktif bersama antara perawat dan pasien dalam komunikasi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pasien (Machfoedz, 2009). Komunikasi terapeutik atau therapeutic communication adalah suatu metode dimana seorang perawat mengarahkan komunikasi begitu rupa sehingga pasien diharapkan pada situasi
[22]
dan pertukaran peran yang dapat menimbulkan hubungan sosial yang bermanfaat (Rakhmat, 2007).
Komunikasi terapeutik merupakan penghubung antara perawat sebagai pemberi pelayanan dengan pasien sebagai pengguna pelayanan. Komunikasi terapeutik memperhatikan pasien secara holistik, meliputi aspek keselamatan, menggali penyebab dan mencari jalan terbaik atas permasalahan pasien.
Komunikasi terapeutik berbeda dari komunikasi sosial, yaitu pada komunikasi terapeutik selalu terdapat tujuan atau arah yang spesifik untuk komunikasi oleh karena itu, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang terencana.
2.1.2.5. Tujuan komunikasi terapeutik
Menurut Machfoedz (2009), pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan guna mengubah situasi yang ada apabila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan. Tujuan komunikasi terapeutik adalah (Damaiyanti, 2008) :
[23]
a. Membantu pasien untuk memperjelas juga mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
b. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.
2.1.2.6. Karakteristik komunikasi terapeutik
Terdapat tiga hal mendasar dan memberi ciri-ciri dari komunikasi terapeutik yaitu keikhlasan, empati (empathy), dan kehangatan (warmth) (Taufik, 2007).
a. Keikhlasan
Dalam upaya memberikan bantuan kepada klien, seorang perawat harus dapat menyadari tentang nilai, sikap dan perasaan yang dimiliki terhadap keadaan klien. Perawat yang mampu menunjukkan rasa ikhlasnya yang tinggi memiliki kesadaran
[24]
mengenai sikap yang dipunyai terhadap klien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikannya secara tepat.
b. Empati (Empathy)
Empati merupakan suatu perasaan “pemahaman”
dan “penerimaan” perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan dalam merasakan “dunia pribadi klien”. Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif dan tidak dibuat-buat (objektif) karena didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindari penilaian, berdasarkan kata hati (impulse judgement) tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.
c. Kehangatan (Warmth)
Adanya hubungan yang saling membantu (helping relationship) dibuat untuk memberikan kesempatan
klien dalam mengeluarkan “unek-unek” (perasaan dari nilai-nilai) secara bebas. Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk
[25]
mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam suatu bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permisif dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap klien sehingga klien akan mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam.
2.1.2.7. Fase-fase dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik
Komunikasi terapeutik merupakan salah satu standar asuhan keperawatan yang wajib dilaksanakan oleh semua perawat. Dalam Paramastri (2008), komunikasi terapeutik terdiri dari empat fase, yaitu fase pre-interaksi, fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi.
2.1.2.7.1. Fase Pre-interaksi
Pra-interaksi merupakan tahap persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien. Kemudian perawat merancang strategi
[26]
untuk pertemuan pertama dengan klien.
Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya, mengatasi kecemasannya, dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani, 2005).
2.1.2.7.2. Fase Orientasi/perkenalan
Pada tahap ini perawat harus memulai dengan membina rasa percaya, penerimaan dan pengertian komunikasi yang terbuka dan melakukan kontrak dengan klien. Tahapan ini perawat melakukan kegiatan sebagai berikut:
memberi salam dan senyum pada klien, melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif), memperkenalkan nama perawat, menanyakan nama kesukaan klien, menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan, menjelaskan kerahasiaan (Stuart & Sundeen, 1995).
Dengan memperkenalkan dirinya berarti
[27]
perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani, 2005).
Dalam membina hubungan perawat dengan klien yang kunci utama adalah terbinanya hubungan saling percaya, adanya komunikasi yang terbuka, memahami penerimaan dan merumuskan kontrak (Sujono dan Teguh, 2009).
2.1.2.7.3. Fase Kerja
Pada fase ini petugas kesehatan memiliki kebutuhan dan mengembangkan pola-pola adaptif klien, memberi bantuan yang dibutuhkan klien, mendiskusikan dengan teknik untuk mencapai tujuan selain sebagai pemberi pelayanan, peran petugas sebagai pengajar yang diperlukan. Peran ini meliputi upaya meningkatkan motivasi klien untuk mempelajari dan melakukan aktifitas peningkatan kesehatan untuk mengikuti program pengobatan dokter dan untuk mengekspresikan perasaan atau
[28]
pengalaman yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan kebutuhan keperawatan yang terbentuk. Contohnya tentang pemberian asi disaat sesudah melahirkan (Tamsuri, 2006).
Dalam tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien.
Melalui active listening, perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi, bagaimana cara mengatasi masalahnya, dan mengevaluasi
[29]
cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien.
2.1.2.7.4. Fase Terminasi
Pada tahap terminasi dalam komunikasi terapeutik kegiatan yang dilakukan oleh perawat adalah menyimpulkan hasil wawancara, tindak lanjut dengan klien, melakukan kontrak (waktu, tempat, dan topik), mengakhiri wawancara dengan cara yang baik (Stuart &
Sundeen, 1995). Terminasi adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan. Tahap ini dibagi dua yaitu
[30]
terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart dalam Suryani, 2005).
Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien, setelah terminasi sementara, perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan.
2.1.2.8. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik
Menurut Potter dan Perry (Nurjannah, 2005:43), proses komunikasi therapeutic dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
2.2.6.1. Perkembangan
Agar dapat berkomunikasi dengan efektif dengan pasien, perawat harus mengerti pengaruh perkembangan usia baik dari sisi bahasa, maupun proses berfikir dari orang tersebut. Cara komunikasi pasien anak-anak, remaja, dewasa sangat berbeda,
[31]
untuk itu perawat diharapkan bisa berkomunikasi dengan lancar.
2.2.6.2. Emosi
Emosi merupakan perasaan subjek terhadap suatu kejadian. Emosi seperti marah, sedih, senang, akan dapat mempengaruhi perawat dalam berkomunikasi dengan pasien. Perawat perlu mengkaji emosi pasien dan keluarganya sehingga perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat.
2.2.6.3. Jenis kelamin
Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. mulai usia 3 tahun seorang wanita bisa bermain dengan teman baiknya dan menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan, meminimalkan perbedaan, serta membangun dan mendukung keintiman. Laki-laki di lain pihak, menggunakan bahasa untuk mendapatkan
[32]
kemandirian bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan yang tinggi.
2.2.6.4. Peran dan hubungan
Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang berkomunikasi. Cara komunikasi seorang perawat dengan perawat lain, dengan cara komunikasi seorang perawat dengan pasien akan berbeda.
2.2.6.5. Lingkungan
Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif.
Suasana yang bising, tidak ada privasi yang tepat akan menimbulkan keracuan, ketengangan serta ketidak nyamanan.
2.2.6.6. Jarak
Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu menyediakan rasa aman dan kontrol.
[33]
2.1.3. Pasien Harga Diri Rendah (HDR)
2.1.3.1. Pengertian HDR
Gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung (Schult & videbeck, 1998) . Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri. Adanya perasaan hilang percaya diri , merasa gagal karena karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat. 1998).
2.1.3.2. Tanda dan gejala HDR
Menurut Keliat (2009) mengemukakan beberapa tanda dan gejala harga diri rendah adalah:
a. Mengkritik diri sendiri.
b. Perasaan tidak mampu.
c. Pandangan hidup yang pesimis.
d. Penurunan produkrivitas.
[34]
e. Penolakan terhadap kemampuan diri.
Selain tanda dan gejala tersebut, penampilan seseorang dengan harga diri rendah juga tampak kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan menurun,tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, dan bicara lambat dengan nada suara lemah.
2.1.3.3. Penyebab HDR
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif, kurangnya system pendukung, kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan balik yang negatif, disfungsi sistem keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal (Townsend, 1998). Menurut Carpenito (1998), koping individu tidak efektif adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani stressor internal atau lingkungan dengan adekuat karena ketidakadekuatan sumber-sumber (fisik, psikologis, perilaku atau kognitif).
[35]
2.1.3.4. Akibat HDR
Harga diri rendah dapat membuat klien menjadi tidak mau maupun tidak mampu bergaul dengan orang lain dan terjadinya isolasi sosial: menarik diri. Isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptif, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (DEPKES RI, 1998). Selain itu, akibatnya adalah isolasi sosial, defisit perawatan diri, resiko perilaku kekerasan, dan risiko bunuh diri.
2.2. Perspektif Teoritis
Penerapan Strategi Pelaksanaan (SP) 1 – 2 komunikasi perawat pada pasien HDR di ruang Sub Akut RSKD Provinsi Maluku yang merupakan pokok utama penelitian ini. Cara perawat berkomunikasi dalam perubahan konsep diri pasien HDR adalah wujud dari adanya penerapan SP 1 – 2 kepada pasien HDR yang harus diterapkan/dilaksanakan perawat. Perawat jiwa harus memiliki critical skill dalam berkomunikasi dalam menerapkan Strategi Pelaksanaan
(SP 1 - 2) pada pasien gangguan jiwa khususnya pasien harga diri rendah yang memiliki gangguan konsep diri. Dalam penerapan SP 1 - 2 pada pasien harga diri rendah komunikasi perawat memegang peranan
[36]
penting. Komunikasi perawat dan pasien adalah komunikasi terapeutik yang bertujuan untuk mengubah perilaku pasien menuju kesembuhan sehingga penerapan SP 1 - 2 pada pasien harga diri rendah memiliki hubungan erat dengan penerapan komunikasi perawat yaitu komunikasi terapeutik perawat. Oleh karena itu, perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan harus tetap melakukan komunikasi terapeutik dalam menerapkan SP 1 – 2 pada pasien HDR di Rumah Sakit. Dalam penelitian ini, cara perawat dilihat dari penerapan Strategi Pelaksanaan (SP 1 - 2) menurut Purba, dkk (2008) dan penerapan komunikasi terapeutik menurut Machfoedz (2009) pada pasien harga diri rendah di Ruang Sub Akut RSKD Provinsi Maluku.
2.3 Kerangka Teori
- Kurangnya pengetahuannya/
tingkat pendidikan - Kurangnya Empati - Kurangnya perawat
jiwa Penerapan Strategi
Pelaksanaan (SP 1 - 2) dan penerapan komunikasi terapeutikperawat pada
pasien HDR Perawat RSKD Provinsi Maluku
Pasien