YANG MENGALAMI SINDROM KORONER AKUT DI RSUP H. ADAM MALIK TAHUN 2015
Oleh:
IFAN KUSUMA WARDANA 130100133
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
LEMBAR PENGESAHAN
Gambaran Faktor Risiko pada Pasien Wanita yang Mengalami Sindrom Koroner Akut di RSUP H. Adam Malik Tahun 2015
Nama : Ifan Kusuma Wardana
NIM
:130100133Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2
:/' -Y4_ 1L^
(Prof. dr. A.
Afif
Siregar, Sp.A(K), Sp.JP(K)) NIP. 19500416t977lt l00l
Ketua Penguji
NrP. I 98303282A09I2L4A3
Medan, lanuan}}lT
Dekan Fakultas Kedokteran
Safruddin Rambe, Sp.S(K))
(dr. Selvi Nafianti, M.Ked(Ped),Sp.A(K)) NrP. I 9691 t252AA3t1 2001
Anggota Penguji
(dr. Aida Fifri, Sp.S) NrP. 1 97809122AA9u2AA2
19660524199203t002
anak-anak hingga orang dewasa. Salah satu penyakit kardiovaskular yang paling sering meyebabkan kematian dan kesakitan di kawasan Asia-Pasifik yaitu sindrom koroner akut. Kejadian sindrom koroner akut akan meningkat jika memiliki faktor risiko seperti usia lanjut, riwayat diabetes, hipertensi, dislipidemia, obesitas, dan merokok.
Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian Cross Sectional pendekatan retrospective, yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik. Data diambil dari periode 1 Januari-31 Desember 2015.
Hasil: Dari penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan dari 56 wanita yang mengalami SKA, prevalensi usia yang sering terjadi SKA pada wanita adalah pada usia >60 tahun 30 orang (53,6 %), 41-60 tahun 26 orang (46,4 %), yang memiliki diabetes 36 orang (64,3 %), hipertensi 39 orang (69,6 %), dislipidemia 15 orang (26,8 %), obesitas 5 orang (8,9 %), merokok 1 orang (1,8 %), dan tipe dari SKA yang paling banyak pada wanita yaitu STEMI 33 orang (58,9 %), kemudian UAP 15 orang (26,8 %), dan NSTEMI 8 orang (14,3 %).
Kesimpulan: Gambaran faktor risiko SKA pada wanita yaitu, usia lanjut, diabetes, hipertensi, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Faktor risiko yang paling banyak terjadi yaitu usia lanjut, hipertensi, dan diabetes.
Kata Kunci: Faktor Risiko, Sindrom Koroner Akut, Wanita dengan SKA
morbidity in the Asia-Pacific region is acute coronary syndrome. The incidence of acute coronary syndrome will increase if a person has risk factors such as elderly, history of diabetes, hypertension, dyslipidemia, obesity, and smoking.
Method: This is a descriptive study with cross sectional design and retrospective
approach,
carried outat H. Adam Malik Hospital. Data taken from 1 January to 31 December 2015.
Result: Research that has been carried out on 56 women with ACS, showing
prevalence of the most frequent age is age more than 60 years 30 people (53.6%), 41-60 years 26 people (46.4%), who had diabetes 36 people (64.3%), hypertension 39 people (69.6%), dyslipidemia 15 people (26.8%), obesity 5 people (8.9%), smoking 1 people (1.8%), and the most frequent type of ACS is STEMI 33 people (58.9%), then UAP 15 people (26.8%), and NSTEMI 8 people (14.3%).
Conclusion: SKA description of risk factors in women wich is elderly, diabetes,
hypertension, dyslipidemia, obesity, and smoking. The risk factors of the most common is elderly, hypertension, and daibetes.
Key Word: Acute Coronary Syndrome, Risk Factor, Women with ACS
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang bejudul “Gambaran Faktor Risiko pada Pasien Wanita yang Mengalami Sindrom Koroner Akut di RSUP H. Adam Malik Tahun 2015”
ini dengan baik sebagai salah satu syarat kelulusan Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan orangtua dan berbagai pihak, mulai dari pemilihan judul hingga terbentuk hasil skripsi yang sudah mumpuni ini. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. dr. Aldi Syafruddin Rambe, Sp. S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. dr. A. Afif Siregar, Sp.A (K), Sp.JP (K), selaku dokter pembimbing I dan dr. Selvi Nafianti, M.Ked (Ped), Sp.A (K) selaku dosen pembimbing II yang telah banyak membantu penulis, meluangkan banyak waktu, tenaga, dan ide pikiran, memberikan saran dan masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat.
3. dr. Chairil Amin Sp.S selaku dosen penguji I dan dr. Aida Fitri Sp.S selaku dosen penguji II yang telah memberikan nasihat dan saran yang sangat membangun sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat.
4. dr. Mustafa Mahmud Amin, Sp.KJ selaku dosen penasihat akademik yang selama ini membimbing proses belajar di FK USU.
5. Semua pihak RSUP H. Adam Malik yang telah membantu penulis dalam pengambilan data, sehingga penelitian ini berjalan dengan lancar.
6. Ayahanda Suherman, Ibunda Aswarni, selaku orangtua penulis, dan
Adinda Ayu Indrianti dan Muhammad Rizieq. Berkat dukungan dan doa
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan penuh semangat dan mudah.
7. Teman-teman sejawat dan seperjuangan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, David Jhon Ricardo Pakpahan, Farid Aulia Nasution, Maulana Jamil Nasution, Muhammad Anggi Ikhsan Siregar, M.
Ary Guhtama, Muhammad Farhansyah Pane, Muhammad Iqbal Nusa, Muhammad Riza Lubis, Muhamad Rizky Assilmy Lubis, Muhammad Taqiyuddin Harahap, Rahmad Diansyah, Utama Hadi Putra Surbakti, Wendy Armi, Zikri Putra Lan Lubis. Durga Devi A/P Tambyrasah sebagai teman satu dosen pembimbing, dan teman-teman lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, yang telah memberikan dukungan, semangat, saran, dan motivasi sehingga skripsi ini dapat terselesikan dengan baik dan tepat.
Penulis menyadari bahwa hasil peneltian berupa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi struktur dan isi. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang beguna untuk perbaikan skripsi ini di kemudian hari. Semoga penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pngetahuan terutama di bidang Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.
Medan, 14 Desember 2016
Ifan Kusuma Wardana
130100133
LEMBAR PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR... x
DAFTAR SINGKATAN... xi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 5
2.1. Sindrom Koroner Akut ... 5
2.1.1. Definisi... 5
2.1.2. Etiologi... 5
2.1.3. Faktor Risiko... 10
2.1.4. Klasifikasi ... 13
2.1.5. Patofisiologi ... 14
2.1.6. Diagnosis... 16
2.1.7. Diagnosis Banding ... 22
2.1.8. Penatalaksanaan ... 23
2.1.8.1. Evaluasi Awal ... 26
2.1.8.2. Penanganan Awal... 26
2.1.8.3. Tatalaksana Jangka Panjang ... 32
BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP ... 34
3.1. Kerangka Teori ... 34
3.2. Kerangka Konsep ... 35
BAB 4 METODE PENELITIAN... 36
4.1. Jenis Penelitian... 36
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 36
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 36
4.4. Teknik Pengumpulan Data... 37
4.5. Definisi Operasional ... 37
4.6. Pengolahan dan Analisa Data ... 40
4.7. Alur Penelitian ... 41
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42
5.1. Deskripsi lokasi penelitian ... 42
5.2. Hasil Penelitian ... 42
5.2.1. Karakteristik sampel penelitian... 42
5.2.2. Distribusi wanita yang mengalami SKA terhadap usia menopause ... 44
5.2.3. Distribusi usia wanita yang mengalami SKA terhadap diabetes... 44
5.2.4. Distribusi usia wanita yang mengalami SKA terhadap hipertensi ... 45
5.2.5 Distribusi dislipidemia pada wanita yang mengalami SKA terhadap profil lipid... 45
5.2.6. Jumlah faktor risiko yang didapat oleh wanita yang mengalami SKA ... 46
5.3. Pembahasan... 47
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN... 51
6.1. Kesimpulan ... 51
6.2. Saran...52
DAFTAR PUSTAKA... 53
LAMPIRAN 1... 56
LAMPIRAN 2... 58
LAMPIRAN 3... 59
LAMPIRAN 4... 60
LAMPIRAN 5... 61
2.1. Kriteria stratifikasi risiko sangat tinggi untuk strategi invasif...23 2.2. Kriteria stratifikasi risiko tinggi untuk strategi invasif...24 2.3. Klasifikasi rekomendasi tatalaksana sindrom koroner akut...25 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik pasien wanita yang
mengalami SKA...43 5.2. Distribusi frekuensi wanita yang mengalami SKA terhadap
usia menopause...44 5.3. Distribusi frekuensi usia wanita yang mengalami SKA terhadap
diabetes...44 5.4. Distribusi frekuensi usia wanita yang mengalami SKA terhadap
hipertensi...45 5.5. Distribusi frekuensi dislipidemia pada wanita yang mengalami
SKA terhadap profil lipid...46 5.6. Jumlah faktor risiko yang didapat oleh wanita yang mengalami
SKA...47
2.1. Perubahan akut dari karekteristik fisik-kimia plak...8
2.2. Spektrum SKA...14
3.1. Kerangka teori penelitian...34
3.2. Kerangka konsep penelitian...35
4.1. Alur Penelitian...41
APTT : Activated Partial Thromboplastin Time
ARB : Angiotensin Receptor Blocker
BMS : Bare Metal Stent
CABG : Coronary Artery Bypass Graft
CAD : Coronary Artery Disease
CASPAR :
Coronary Artery Spasm in Patients with Acute Coronary SyndromeCCS : Canadian Cardiovascular Society
COX : Cyclooxygenase
DALY : Disability-Adjusted Life Years
DAPT : Dual Antiplatelet Therapy
DES : Drug Eluting Stent
eGFR : Estimated Glomerular Filtration Rate
EKG : Elektrokardiogram
GP : Glycoprotein
GRACE : Global Registry Of Acute Coronary Events
HDL : High Density Lipoprotein
IL : Interleukin
IMA : Infark Miokard Akut
IMT : Indeks Massa Tubuh
ISDN : Isosorbide Dinitrat
LDL : Low Density Lipoprotein
LMWH : Low Molecular Weight Heparin
LVEF : Left Ventricular Ejection Fraction
MI : Miokard Infark
NSTEMI : Non ST Elevasi Miokard Infark
PCI : Percutaneous Coronary Intervention
PJK : Penyakit Jantung Koroner
PMN : Polimorfonuklear
PPI : Proton Pump Inhibitor
Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar
SKA : Sindrom Koroner Akut
SPSS : Statistical Product and Service Solution
STEMI : ST Elevasi Miokard Infark
TIMI : Thrombolysis In Myocardial Infarction
TNF : Tumor Necrosis Faktor
UAP : Unstable Angina Pectoris
UFH : Unfractionated Heparin
ULN : Upper Limit of Normal
vWF : von Willebrand
WHO : World Health Organization
1.1. Latar Belakang
Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit yang harus diwaspadai, dicegah, dan diketahui sejak dini, karena penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular dapat mengancam jiwa seseorang yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dapat menyerang mulai anak-anak hingga orang dewasa. Kejadian serangan yang diakibatkan oleh penyakit kardiovaskular bergantung pada faktor risiko yang ada pada seseorang, seperti jenis kelamin, riwayat merokok, usia lanjut, riwayat penyakit seperti diabetes, penyakit ginjal kronik, dan anemia.
1Dengan mengetahui hal-hal yang dapat menyebabkan dan memperberat kejadian penyakit kardiovaskular tersebut, maka bisa diketahui juga cara untuk dapat mencegahnya, agar kejadian penyakit dan angka kematian yang berhubungan dengan kardiovaskular dapat dikurangi di dunia, khususnya Indonesia.
Penyakit kardiovaskular adalah pembunuh nomor 1 di dunia. Pada tahun 2012 sekitar 17,5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskular ini, di mana 7,4 juta orang meninggal karena penyakit jantung koroner dan 6,7 juta orang karena stroke.
2Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 gejala penyakit jantung koroner akan semakin meningkat pada usia lanjut, tertinggi pada usia 65-74 tahun yaitu 2,0% dan 3,6%, kemudian gejala juga lebih tinggi pada perempuan yaitu 0,5% dan 1,5%. Prevalensi jantung koroner yang terdiagnosis dokter tertinggi pada provinsi Sulawesi Tengah yaitu 0,8% diikuti Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Aceh yaitu 0,7%, sedangkan menurut diagnosis atau gejala, tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur 4,4% diikuti Sulawesi tengah 3,8%, Sulawesi Selatan 2,9%, dan Sulawesi Barat 2,6%, untuk Sumatera Utara sendiri yang terdiagnosis dokter 0,5% dan diagnosis atau geajala 1,1%.
3Manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner ini yang paling sering
meyebabkan kematian dan kesakitan di kawasan Asia-Pasifik yaitu sindrom
koroner akut. Dengan jumlah kematian setiap tahunnya sekitar 7 juta, dan 129 juta
Disability-Adjusted Life Years (DALY), mulai dari tahun 1990 sampai 2010,
selama periode ini lebih dari setengah kematian yang diakibatkan oleh sindrom koroner akut terjadi di negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.
4Sindrom koroner akut dapat menyebabkan kematian mendadak karena sifatnya yang dapat menyumbat pembuluh darah di jantung oleh karena trombosis dan penyempitan yang diakibatkan oleh penebalan dinding arteri disebabkan penumpukan bahan lemak seperti kolesterol, yang mengakibatkan aliran darah ke otot jantung berkurang sehingga dapat membuat kematian dan cedera dari otot jantung. Salah satu pertanda dari serangan sindrom koroner akut yaitu adanya nyeri dada, sehingga dengan mengetahui gejala ini bisa mencegah perburukan dengan perawatan terhadap orang yang mengalami sindrom koroner akut.
5Faktor risiko yang memerlukan perhatian khusus untuk sindrom koroner akut adalah pada wanita. Walaupun wanita usia lanjut yang terkena sindrom koroner akut memiliki prognosis yang lebih baik, tapi tetap saja harus dievaluasi pada kedua jenis kelamin dengan tindakan yang sama.
1Perhatian khusus pada wanita di sini yaitu dalam mengenali gejala serangan sindrom koroner akut, karena pada wanita, gejala nyeri dada ini jarang atau dijumpai hanya dengan nyeri dada yang ringan saja. Pasien yang tidak dijumpai adanya nyeri dada cenderung memiliki kesalahan dalam diagnosis dan dapat meyebabkan angka kematian lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang dijumpai dengan nyeri dada. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di bangsal kardiologi yang ada 24 tempat di Kanada, 1 di Amerika Serikat, dan 1 di Swiss memberi hasil bahwa wanita lebih banyak tidak disertai nyeri dada dari pada pria dengan prevalensi 19,0% dan 13,7%.
6Pada wanita faktor resiko yang juga sangat mempengaruhi terjadinya sindrom koroner akut ini yaitu usia lanjut yang berumur sekitar 60 tahun disertai dengan faktor yang lain seperti diabetes, hipertensi, serta obesitas.
7,8Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dari itu
pentingnya untuk dilakukan sebuah penelitian yang mencari data faktor resiko
terhadap terjadinya sindrom koroner akut pada wanita, karena dengan mengetahui
maka dapat juga dicegah agar tidak berulang pada orang yang memiliki faktor
resiko yang telah dijelaskan.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu;
Apa saja faktor risiko yang dapat mempengaruhi kejadian sindrom koroner akut pada wanita?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan umum
Penilitian ini dilakukan untuk mengetahui apa saja faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya sindrom koroner akut pada wanita.
1.3.2. Tujuan khusus
1. Mengetahui prevalensi kejadian SKA pada wanita.
2. Mengetahui distribusi usia terhadap kejadian SKA pada wanita.
3. Mengetahui frekuensi yang menderita diabetes terhadap kejadian SKA pada wanita.
4. Mengetahui frekuensi yang menderita hipertensi terhadap kejadian SKA pada wanita.
5. Mengetahui frekuensi yang menderita dislipidimeia terhadap kejadian SKA pada wanita.
6. Mengetahui frekuensi yang menderita obesitas terhadap kejadian SKA pada wanita.
7. Mengetahui frekuensi penderita yang merokok dengan kejadian SKA pada wanita.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk penelitian, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
a. Bidang Penelitian :
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan ilmu
kesehatan khususnya ilmu epidemiologi dan sebagai bahan informasi
untuk penelitian selanjutnya.
b. Bidang Pendidikan :
Penelitian ini diharapkan mampu menyelenggarakan suatu penelitian berdasarakan dengan metode yang baik dan benar.
c. Bidang Pelayanan Masyarakat :
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai faktor resiko yang dapat mempengaruhi terjadinya
SKA, terutama pada wanita, sehingga masyarakat dapat mencegah
kejadian SKA dengan baik.
2.1. Sindrom Koroner Akut (SKA) 2.1.1. Definisi sindrom koroner akut
Sindrom koroner akut merupakan suatu terminologi yang digunakan untuk menggambarkan spektrum keadaan atau kumpulan proses penyakit yang meliputi angina pektoris tidak stabil (meningkatnya nyeri dada, atau nyeri dada pada saat istirahat), dan infark miokard (serangan jantung). Kebanyakan kasus sindrom koroner akut disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah di jantung, yang meyebabkan otot jantung tidak mendapatkan cukup darah atau oksigen.
Penyumbatan pembuluh darah di jantung memiliki risiko sangat tinggi untuk sindrom koroner akut.
9Beberapa gejala dari sindrom ini adalah tekanan di dada seperti serangan jantung, sesak saat sedang beristirahat atau melakukan aktivitas fisik ringan, keringat yang berlebihan secara tiba-tiba (diaforesis), muntah, mual, nyeri dibagian tubuh lain seperti lengan kiri atau rahang, dan jantung yang berhenti mendadak (cardiac arrest). Pada saat ini terdapat kecenderungan mengenai usia yang lebih muda.
102.1.2. Etiologi sindrom koroner akut
Beberapa penyebab dari ketidakstabilan koroner terbagi dalam 3 kelompok homogen pada pasien dengan manifestasi klinis yang sama yaitu:
1. Pasien dengan obstruktif aterosklerosis dan peradangan sistemik
Penelitian eksperimental menjelaskan mekanisme molekuler melalui aktivasi sel inflamasi di plak dapat memicu pembentukan trombus.
Mediator utama yang mengaktivasi inflamasi pada koagulasi adalah
sitokin proinflamasi, beberapa studi menunjukkan bahwa interleukin (IL)
– 6 menginisiasi pengaktifan koagulasi dan peran tumor necrosis faktor(TNF) – alpha dan IL -1 yaitu memodulasi jalur antikoagulan.
11Tiga
komponen utama dari peradangan yang terkait dengan sindrom koroner akut yaitu :
a. Keterlibatan yang meluas dari arteri epicardial, mikrosirkulasi koroner, dan miokardium.
Inflamasi koroner yang meluas ditimbulkan oleh aktivasi nutrofil transcardiac di dalam aliran pada daerah miokard yang tidak diperfusi oleh arteri yang bersangkutan. Kejadian ini tidak berkaitan dengan aterosklerosis koroner atau iskemia yang berulang, karena tidak diamati pada pasien dengan angina stabil kronis dan penyakit koroner multivessel atau pada pasien dengan angina vasospastik. Inflamasi koroner akut yang meluas, disebabkan oleh beberapa stenosis kompleks, trombus, dan beberapa plak ruptur yang melibatkan berbagai cabang arteri koroner, yang diamati dalam studi klinis sindrom koroner akut, berdasarkan angiografi dan pencitraan intravaskular. Jumlah plak koroner terganggu berhubungan dengan tingkat hs-CRP sistemik.
11b. Aktifasi dari imunitas alami
Imunitas alami memainkan peran penting dalam kejadian SKA yang didukung oleh aktifasi dari monosit, neutrofil polimorfonuklear (PMN), eosinofil, dan sel mast, tidak hanya di lokasi plak yang ruptur, tapi juga diseluruh sirkulasi koroner pasien dengan SKA. Baru-baru ini, menunjukkan aktivitas telomerase yang tinggi di PMN yang berasal dari plak koroner pada pasien dengan SKA tetapi bukan dari plak pasien dengan angina stabil atau di PMN dari darah perifer.
Aktivitas telomerase biasanya hadir dalam sel dibedakan seperti PMN,
tetapi dapat diaktifkan kembali di bawah stimulasi mitogenik dan
mungkin merupakan cara untuk mengatasi replikatif penuaan, hasilnya
akan menjadi pertahanan yang berkepanjangan dan potensial beracun
dari sel-sel inflamasi. Satu-satunya prediktor telomerase reaktivasi di
plak koroner pasien dengan SKA adalah waktu interval pendek dari
onset gejala untuk PMN sampling, mendukung peran kemungkinan
telomerase reaktivasi di PMN yang tetap dalam plak difase yang sangat awal dari ketidakstabilan koroner. Mekanisme ini mungkin untuk mempertahankan aktif proses inflamasi, seperti neutrofil apoptosis yang telah diidentifikasi sebagai 1 dari mekanisme penting yang dibutuhkan untuk mematikan peradangan.
11c. Aktivasi dari imunitas adaptif
Semakin tinggi frekuensi sistemik sel T diaktifkan pada pasien dengan SKA dibandingkan dengan mereka yang angina stabil, dan tinggi prevalensi ekspansi sel T oligoclonal di plak koroner tidak stabil dibandingkan dengan plak stabil, perubahan mendadak dapat menyebabkan ketidakstabilan koroner mungkin terkait dengan mekanisme yang melibatkan kekebalan adaptif.
112. Pasien dengan obstruktif aterosklerosis tanpa disertai dengan peradangan sistemik
Pasien dengan ketidakstabilan koroner dapat juga terjadi karena tidak adanya peradangan sistemik, ini mekanisme lain yang dapat memainkan peranan dalam patogenesisnya. Mekanismenya termasuk adanya gangguan emosi yang ekstrim dari peristiwa luar yang berdurasi pendek, seperti gempa bumi. Untuk manifestasi akut yang durasinya lebih lama yaitu emosi internal yang sifatnya kuat terhadap fisik, dan stress mekanik yang berpengaruh pada dinding arteri. Selain itu radang subklinis yang kecil mungkin memainkan peranan dalam rantai terhadap peristiwa kejadian ketidakstabilan koroner.
11a. Stres Lingkungan, fisik, dan emosional
Kemampuan stres lingkungan, fisik, atau emosional untuk memicu MI (Miokard Infark) dikaitkan dengan meningkatkanya aktivasi sistem saraf simpatis dan pelepasan katekolamin untuk peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan jantung bekerja vasokonstriksi lokal pada plak yang rentan, sehingga mempercepat plak ruptur.
Aktivasi sistem saraf simpatis juga akan menyebabkan aktivasi dari
platelet, hiperkoagulabilitas, dan konstrriksi koroner mikrovaskular.
Stres lingkungan, fisik, dan emosional cukup untuk meyebabkan ketidakstabilan koroner, tetapi ketiga faktor tersebut memicu ketidakstabilan pada plak yang rentan, sehingga dapat menyebabkan stenosis yang berat. Di bawah keadaan ini efek hemodinamik langsung pada plak yang rentan terjadi aterosklerosis dan dapat menyebabkan ruptur dari sumbatan tipis dari pembentukan trombus oleh efek protrombotik pada plak yang rentan.
11b. Perubahan akut dari karakteristik fisik-kimia plak
Diantara pasien yang tidak menunjukkan bukti peradangan sistemik atau SKA yang dipicu oleh stres lingkungan, fisik, dan emosional, perubahan fisik-kimia dari komposisi plak mungkin penyebab ketidakstabilan. Abela et al berpendapat bahwa perubahan faktor lingkungan, termasuk saturasi lokal dari kolesterol, suhu, pH, dan status hidrasi, bisa terjadi secara sendiri atau dalam berbagai kombinasi menyebabkan kristalisasi kolesterol dengan tiba-tiba dan volume ekspansi yang kuat menyebabkan plak pecah dan terjadi trombosis. Perdarahan intraplak dapat meningkatkan mekanisme ini dengan memicu kristalisasi kolesterol bebas dari membran eritrosit dan menyebabkan pembesaran mendadak inti nekrotik.
11Gambar 2.1. Perubahan akut dari karekteristik fisik-kimia plak.
113. Pasien tanpa obstruktif aterosklerosis
Diantara pasien SKA yang tanpa adanya obstruktif aterosklerosis, perubahan fungsional dari arteri koroner epcardial atau mikrosirkular koroner adalah kemungkinan penyebab ketidakstabilan disebagian besar pasien. Baru ini diamati plak yang ruptur pada wanita SKA dan tanpa obstruktif berpotensi meyebabkan pembentukan trombus sementara.
Namun peran patogenik sulit untuk ditegakkan karena plak yang ruptur sering asimtomatik.
11a. Perubahan fungsional dari arteri koroner epicardial
Dalam beberapa pasien, ketidakstabilan disebabkan karena kekakuan dari koroner. Di dalam penelitian CASPAR (Coronary
Artery Spasm in Patients with Acute Coronary Syndrome), koronerangiografi gagal menunjukkan obstruktif aterosklerosis pada kurang lebih 30% dari pasien yang diduga SKA. Paling penting, administrasi asetilkolin intrakoroner menimbulkan kekakuan padaa koroner hampir 50% dari pasien SKA tanpa obstruktif aterosklerosis.
11b. Perubahan fungsional dari mikrosirkulasi koroner
Penyempitan yang hebat dari mikrosirkulasi koroner adalah
mekanisme kedua yang dapat meyebabkan SKA pada pasien yang
menunjukkan koroner aterosklerosis tanpa obstruktif. Ini seperti
mekanisme ketidakstabilan pada pasien dengan sindrom Takotsubo,
yang ditandai dengan nyeri iskemik saat istirahat, ST-segmen elevasi,
pelepasan enzim jantung, dan karakteristik daerah akinesia lebih
sering mempengaruhi daerah miokard distal berhubungan dengan
hiperkontraktilitas dari daerah sisanya. Prevalensi wanita dengan SKA
tanpa obstruktif aterosklerosis dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan
dengan laki-laki.
112.1.3. Faktor risiko sindrom koroner akut
Sindrom koroner akut, sama seperti gagal jantung dan stroke, jauh lebih mungkin untuk terkena pada orang yang memiliki faktor risiko, ini adalah beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan terjadinya sindrom koroner akut:
1. Usia
Pasien yang lebih tua memiliki risiko lebih buruk dari pada usia yang lebih muda dalam kejadian SKA, dan angka kematian juga lebih tinggi.
Hal ini bisa memperburuk keadaan, seperti penurunan berat badan dan diubahnya fungsi metabolisme, penurunan fungsi ginjal dan peningkatan gagal ginjal kronis, serta penurunan fungsi fisiologis, fisik, dan kognitif.
Usia yang lebih tua diakui tidak hanya untuk melihat timbulnya PJK (Penyakit Jantung Koroner), tetapi juga melihat risiko dari tipe SKA untuk memprediksi pendek dan panjangnya jangka kematian. Hasil dari Myocardial Ischemia National Audit Project, pasien SKA yang dirawat di rumah sakit Inggris dan Wales mengungkapkan bahwa hingga 12%
berusia 85 tahun atau lebih.
122. Diabetes
Penyakit metabolik dengan karaterikstik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.
13Banyak percobaan yang telah menunjukkan bahwa akan lebih buruk kondisi dan memliki tingkat kejadian yang lebih tinggi pasien SKA dengan diabetes dari pada yang tidak memiliki penyakit diabetes sebelumnya. Mekanisme yang dapat menjelaskan peningkatan risiko ini yaitu pasien diabetes dengan penyakit penyerta lain, seperti insufisiensi ginjal, dan hipertensi.
Pasien diabetes dapat merupakan tanda awal dari gagal jantung yang dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Diabetes tipe 2 yaitu terkait dengan pro-inflamasi dan protrombotik. Insulin resisten mungkin melalui glikosilasi sebuah peningkatan regulasi membran platelet protein seperti reseptor P2Y12, yang merupakan target metabolit aktif clopidogrel.
Selanjutnya glikosilasi dapat meningkatkan stres oksidatif dan merusak
fungsi endotel, sehingga mengakibatkan reaktivasi platelet serta aktifitas prokoagulan.
143. Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik > 139 mmHg dan atau, tekanan darah diastolik > 89mmHg rerata tiga kali pengukuran yang cermat sewaktu duduk dalam satu atau dua kali kunjungan.
15 Arterial chronic hypertension (HTN) adalah faktor risiko kardiovaskular yang akanberkembang menjadi aterosklerosis. Aterosklerosis ini akan dapat berkembang menjadi SKA, dari data yang tersedia pasien SKA dengan hipertensi banyak pada usia yang lebih tua, dan wanita memiliki prevalensi angka kormobiditas yang lebih tinggi. Pada pasien Infark Miokard Akut (IMA) prevalensi dari HTN yaitu 31-59%.
164. Dislipidemia
Dislipidemia adalah kadar kolesterol umumnya meningkat sedangkan trigliserid bervariasi dari normal sampai sedikit meninggi.
17Sebuah penelitian membuktikan penyebab utama dari kematian di rumah sakit yaitu tidak diobatinya dislipidemia pada pasien SKA. Didalam sebuah penelitian yang di lakukan di Department of cardiology PIMS, menagatakan bahwa banyak pasien SKA yang menderita dislipidemia, ini tampak pada meningkatnya Low Density Lipoprotein (LDL) dan rendahnya High Density Lipoprotein (HDL), dan dalam profil lipid ini tidak ada tampak signifikan profil lipid antara laki-laki dan perempuan.
185. Obesitas
Menurut World Health Organization (WHO), Indeks Massa Tubuh
(IMT) ≥ 25 kg/m
2dikatakan berat badan berlebih dan ≥ 30 kg/m
2dikatakan obesitas.
19Sindrom koroner akut merupakan penyebab
kematian dan penurunan dan kualitas hidup, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa obesitas paradoks adalah faktor risiko yang terdapat
pada pasien SKA. Orang yang obesitas akan berisiko lebih tinggi terkena
penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan faktor risiko lainnya seperti
hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes, sehingga orang-orang ini lebih
tinggi angka morbiditas dan mortilitasnya. Pedoman untuk pencegahan primer penyakit kardiovaskular merekomendasikan untuk menurunkan berat badan dari orang yang menderita obesitas atau kelebihan berat badan.
206. Merokok
Sebuah penelitian menunjukkan dampak yang jelas dan penting dari merokok pada kematian dan pengembangan Coronary Artery Disease (CAD) pada pasien Non ST Elevasi Miokard Infark (NSTEMI). Merokok dikaitkan dengan pengembangan CAD pada pasien SKA yang menandakan peningkatan yang signifikan dalam angka kematian.
217. Jenis kelamin
Usia rata-rata perempuan dan laki-laki adalah 49 tahun, 40% adalah obesitas dan lebih dari setengah perempuan yang terdaftar sebagai pasien SKA yaitu premenopause atau perimenopause, perempuan lebih mungkin mengalami hipertensi, diabetes, dan depresi dibandingkan dengan pria.
Perempuan memiliki tingkat troponin yang lebih rendah dan lebih sedikit terkena ST Elevasi Miokard Infark (STEMI). Untuk gejala klinis, perempuan melaporkan lebih banyak gejala dibandingkan dengan laki-laki yaitu nyeri dada, ataupun sesak napas. Perempuan lebih mungkin ditemukan tanpa nyeri dada dibandingkan dengan laki-laki, meskipun seperti itu gejala klinis lebih banyak dijumpai pada perempuan. Kesalahan dalam mengidentifikasi gejala klinis sering dilakukan pada mereka yang tidak terdapat gejala nyeri dada.
6Perempuan memiliki prognosis yang lebih buruk setelah infark
miokard akut dibandingkan dengan laki-laki dan tingkat kematian dua kali
lebih tinggi, hal ini dijelaskan dengan profil klinis yang buruk yaitu pada
perempuan yang lebih tua dan memiliki lebih banyak komorbiditas, seperti
diabetes, hipertensi dan obesitas.
72.1.4. Klasifikasi sindrom koroner akut
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), dan pemeriksaan marka jantung, sindrom koroner akut dibagi menjadi Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI: ST segment elevation
myocardial infarction), Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI:non ST segment elevation myocardial infarction), Angina pektoris tidak stabil
(UAP: unstable angina pectoris).
11. Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI: ST segment elevation
myocardial infarction)Infark Miokard dengan elevasi segmen ST merupakan bagian dari spektrum SKA yang mengambarkan cedera miokard transmural, akibat oklusi total arteri koroner oleh trombus. Bila tidak dilakukan revaskularisasi segera, maka akan terjadi nekrosis miokard yang berhubungan linear dengan waktu. Maka dikenalah paradigma “time is
muscle”, yang berarti tidak akan bisa diselamatkan. Paradigma inimenekan perlunya reperfusi sedini mungkin.
222. Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI: non ST segment
elevation myocardial infarction)Infark miokard tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI) dan angina pektoris tak stabil (APTS) diketahui merupakan kesinambungan dengan kemiripan patofisiologi dan gambaran klinis sehingga pada prinsipnya penatalaksanaan keduanya tidak berbeda. Diagnosis NSTEMI ditegakkan jika pasien dengan manifestasi klinis APTS menunjukkan bukti adanya nekrosis miokard berupa peningkatan biomarker jantung.
233. Angina pektoris tidak stabil (UAP: unstable angina pectoris).
Angina pektoris tidak stabil (APTS) adalah keadaan pasien dengan
simptom iskemia sesuai SKA, tanpa terjadi peningkatan enzim petanda
jantung (CK-MB, troponin) dengan atau tanpa perubahan EKG yang
menunjukkan iskemia (depresi segmen ST, inversi gelombang T, dan
elevasi segmen ST yang transien).
222.1.5. Patofisiologi sindrom koroner akut