40
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
Pada penelitian pengembangan ini dilakukan 5 tahap yang dilakukan dengan metode Research and Development.Hasil penelitian diperoleh data yakni :
1. Tahap Analisis (Analysis) a. Analisis kebutuhan guru
Penelitian awal yaitu analisis kebutuhan yang dilakukan dengan wawancara kepada guru mata pelajaran kimia. Wawancara kepada guru mata pelajaran kimia dilakukan dengan tujuan yaitu tentang karakteristik kimia dalam pembelajaran, pengalaman dalam mengajar, penggunaan bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan android dalam kegiatan pembelajaran kimia, dan kebutuhan akan adanya modul elektronik.
Berdasarkan hasil wawancara analisis kebutuhan kepada guru yaitu pembelajaran jarak jauh saat adanya pandemi covid 19 ini mengakibatkan pembelajaran dilaksanakan secara online. Oleh sebab itu guru harus menyiapkan media pembelajaran yang menarik agar peserta didik tidak bosan dengan media dan metode pembelajaran kimia. Guru juga menyampaikan peserta didik jadi kurang tertarik dengan kimia karena materinya sulit, konsep kimia yang kurang, dan masih kurangnya pemahaman materi pada materi sebelumnya. Saat pembelajaran masih banyak siswa yang sembari sibuk dengan kegiatan lain. Guru kurang yakin siswa nya memperhatikan selama pembelajaran berlangsung atau tidak sehingga guru memberi tugas di akhir pembelajaran. Guru membutuhkan modul elektronik yang dapat menggiring siswa untuk memahami materi karena peserta didik kurang memahami konsep dalam materi kelarutan tetapi dapat mengerjakan soal dengan rumus. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan ialah materi pemahaman dan materi hitungan sehingga kemampuan matematik juga dibutuhksn untuk menyelesaikan masalah dan soal pada materi tersebut. Menghubungkan materi kelarutan ke dalam fenomena nyata, diharapkan dapat membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan hasil belajar peserta didik menjadi lebih baik.
Pembelajaran dalam jaringan yang saat ini diterapkan sudah berjalan agak lama, tentunya siswa merasa bosan dengan metode mengajar guru yang tidak bervariasi. Peserta didik merasa bosan dan kurang tertarik dengan pembelajaran yang berlangsung. Hal yang menjadi tantangan guru saat ini adalah membuat media dan metode pembelajaran yang interaktif dan menarik agar peserta didik semangat dalam mengikuti pembelajaran. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui perlunya media interaktif yang dapat menarik siswa dalam belajar seperti modul elektronik. Daftar pertanyaan dan rekapitulasi hasil wawancara terhadap guru terlampir di Lampiran 3.
b. Analisis kebutuhan peserta didik
Analisis kebutuhan dilakukan kepada peserta didik melalui angket yang dibagikan dengan tujuan untuk mengetahui kesulitan materi kimia, metode belajar materi kimia, dan penggunaan modul elektronik. Responden angket ini terdiri dari 45 peserta didik dari kelas XII IPA SMA N 2 Sukoharjo. Kisi-kisi angket, daftar pertanyaan dan rekapitulasi hasil analisis kebutuhan terdapat di Lampiran 4-6. Rangkuman hasil analisis terdapat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Grafik Analisis Kebutuhan Peserta Didik Keterangan :
A = Kimia termasuk mata pelajaran yang sulit
B = Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan sulit
C = Peserta didik mengalami kesulitan memahami materi Ksp melalui bahan ajar dan metode yang diterapkan guru
D = Peserta didik membutuhkan bahan ajar yang menarik untuk pembelajaran kimia E = Peserta didik tertarik dengan pengadaan modul
F = Peserta didik setuju dengan pengadaan modul elektronik berbasis kontekstual (yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari pada materi Ksp)
2. Tahap Perancanagan (Design)
Tahap design bertujuan untuk merancang dan membuat modul elektronik yang dikembangkan, langkah pada tahap ini antara lain :
a. Penyusunan instrumen validasi dan penilaian
Menyusun instrumen penilaian modul elektronik dengan membuat kisi-kisi angket validasi ahli, angket validasi ahli dilengkapi rubrik penilaian. Selain itu penulis juga menyusun kisi-kisi angket penilaian, angket penilaian berupa pertanyaan yang diberikan kepada guru dan peserta didik. Semua intrumen tersebut terlampir pada lampiran.
b. Penyusunan instrumen soal
Menyusun instrumen soal untuk pretest dan posttest, yang nantinya soal tersebut dapat di akses dalam modul tersebut. Soal pretest dan posttest di buat untuk mengukur prestasi belajar peserta didik agar dapat dilakukan evaluasi. Instrumen soal beserta hasil validasi terdapat di lampiran.
c. Penyusunan Materi
Menyusun materi yang akan menjadi materi modul elektronik yang akan dikembangkan. Menyusun materi dengan mengikuti sintaks yang ada pada pendekatan kontekstual.
Tabel 4.1 Sintaks Modul Elektronik Kimia Berbasis Pendekatan Kontekstual No Komponen Pendekatan
Kontekstual
Rancangan Modul
1 Kontruktivisme Ayo Mengamati!
Pernahkah anda memasak? Agar masakan menjadi lezat, bumbu utama apa yang harus digunakan? Tentu garam dan gula kan?
Mengapa garam dapat menyatu dengan masakan?
2 Permodelan Ayo Menyimak!
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan? Simaklah video berikut!
3 Inkuiri Ayo Menemukan!
Simak video praktikum berikut, lalu bandingkan hasil percobaan dengan perhitungan dan hubungkan dengan kesesuaian teori.
4 Bertanya Ayo Bertanya!
Ayo bertanya kepada guru atau dapat menghubungi penulis melalui WhatsApp dengan klik link berikut!
5 Masyarakat Belajar Ayo Kerjasama!
Diskusikan dengan temanmu tentang materi yang belum kamu pahami kemudian kalian saling bertukar pikiran membahas materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
6 Refleksi Ayo Renungkan!
Masih ingatkah anda dengan soal pretest pada halaman 8?
7 Evaluasi (Penilaian autentik)
Kerjakan pertanyaan berikut untuk mengetahui pemahaman kalian terhadap materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
d. Pemilihan Media
Mengumpulkan gambar, video dan membuat video materi Ksp untuk mengembangkan modul elektronik. Modul di buat dengan mengambil gambar dari platform canva sehingga penulis memilih gambar yang sesuai dengan materi.Video di dalam modul di buat sendiri oleh penulis menggunakan aplikasi inShot dengan bantuan slide powerpoint dan video praktikum yang diambil dari youtube sudah mendapat izin dari pemilik video tersebut.
e. Penyusunan format modul
Menyusun format modul elektronik berbasis pendekatan kontekstual yang terdiri 3 bagian yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Penjelasannya sebagai berikut :
1) Pendahuluan, bagian ini meliputi :
a) Cover depan, memuat judul modul, materi, sasaran pengguna, penyusun, dosen pembimbing, instituti, dan gambar-gambar pendukung.
b) Halaman sampul, memuat judul modul, materi, sasaran pengguna, penulis, dosen pembimbing, instituti, dan gambar-gambar pendukung.
c) Kata pengantar, ungkapan rasa syukur dan terimakasih penulis.
d) Daftar isi, daftar setiap bagian beserta halamannya yang terdapat link yang akan menghubungkan pada halaman yang diinginkan.
e) Petunjuk penggunaan modul elektronik untuk mempermudah saat menggunakan media.
f) KI, KD, Indikator Pencapaian dan Tujuan Pembelajaran
g) Peta konsep, bagan yang menyajikan informasi yang saling terhubung.
2) Isi, bagian ini meliputi :
a) Judul kegiatan pembelajaran
Modul yang dikembangkan terdiri dari 7 kegiatan belajar, yaitu kontruktivis, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, dan evaluasi.
b) Kegiatan pembelajaran
Berisi tujuh sintaks dari pendekatan kontekstual yang menuntun kegiatan belajar. Gambaran isi modul terdapat pada Gambar 4.3.
c) Bagian penutup
Bagian ini meliputi daftar pustaka berupa sumber pustaka yang digunakan berasal dari buku, maupun internet serta riwayat penulis.
Gambar 4.2 Bagian Pendahuluan Modul
Gambar 4.3 Bagian Inti Modul
Gambar 4.4 Bagian Penutup Modul
f. Mengubah media yang di desain menjadi bentuk flip dengan aplikasi Flip PDF Professional.
Desain modul didesain dengan platform canva dan dikonversikan menjadi file format pdf. Setelah itu file modul dalam bentuk pdf dimasukkan ke dalam aplikasi Flip PDF Professional untuk dijadikan modul elektronik bentuk flip dan di edit sehingga
menjadi produk akhir modul. Hal-hal pengeditan yang dilakukan, antara lain :
1) Menginput link kepada suatu objek sehingga di dalam modul tersebut saat di akses akan menghubungkan ke peramban lain sesuai link yang di input. Link yang di input oleh penulis yaitu berupa link video youtube dan link google drive.
2) Menginput link pada daftar pustaka agar dapat langsung terhubung dengan halaman yang diinginkan.
3) Menginput file yang diperlukan dalam materi, seperti file pdf dan word.
4) Menambahkan suara/audio saat membuka lembar halaman berikutnya.
5) Mengatur background untuk modul elektronik.
6) Mengonversi file pdf ke bentuk flipbook.
7) Menyalin link modul untuk akses modul elektronik dengan format HTML (Hypertext Markup Language).
3. Tahap Pengembangan (Development)
Pada tahap ini dilaksanakan pengembangan dan desain awal, validasi ahli, uji coba, dan implementasi kepada peserta didik. Penjelasannya sebagai berikut :
a. Mengembangkan dan menerapkan desain modul elektronik
Mempunyai tujuan untuk mengembangkan modul elektronik dengan pendekatan kontekstual mengacu pada desain awal yang telah di buat.
b. Validasi ahli
Setelah produk awal modul dihasilkan, tahap selanjutnya melakukan validasi oleh ahli materi, media dan praktisi pendidikan untuk mengetahui kelayakan modul sebelum tahap uji coba kepada peserta didik. Validator ahli terhadap produk ini dilakukan oleh tiga ahli yang merupakan dosen Pendidikan Kimia FKIP UNS.
Validator ahli materi pada penelitian ada 2 yaitu Dr.Budi Hastuti, S.Pd., M.Si., Dr.Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Pd., dan ahli media yaitu Nur Hasanah, M.Sc. Sedangkan pada praktisi pendidikan dilakukan oleh 2 guru dari SMAN 2 Sukoharjo. Validasi yang dinilai mencangkup 2 aspek yaitu aspek materi dan aspek media atau tampilan modul.
Hasil penilaian validasi ahli dapat dilihat pada Lampiran 10. Hasil dari proses ini akan menghasilkan produk awal atau draft produk I.
a) Validasi aspek materi oleh ahli dan praktisi pendidikan
Pengolahan analisis penilaian ahli mengacu pada kriteria penilaian pada Tabel 3.2. Penilaian modul elektronik oleh ahli materi 1 yaitu Dr.Budi Hastuti, S.Pd., M.Si dilaksanakan pada 7 Juli 2021, diperoleh skor total 81 dengan skor maksimum 84.
Penilaian oleh ahli 1 termasuk dalam kategori sangat layak. Penilaian modul elektronik oleh ahli materi 2 yaitu Dr. Sri Retno Dwi Ariani, M.Si dilaksanakan pada 9 Juli 2021 dengan perolehan skor sebesar 84 dengan skor maksimal 84.
Penilaian modul elektronik oleh ahli materi 2 termasuk aktegori sangat layak.
Penilaian modul elektronik oleh praktisi pendidikan (guru I) yaitu Sri Wulandari S.Pd dilaksanakan pada 9 Juli 2021 dengan perolehan skor sebesar 79 dengan skor maksimal 84. Penilaian modul elektronik oleh guru I termasuk kategori sangat
layak. Penilaian modul elektronik oleh praktisi pendidikan (guru II) yaitu Sri Martini Rochmiatun,S.Pd dilaksanakan pada 9 Juli 2021 dengan perolehan skor sebesar 77 dengan skor maksimal 84. Penilaian modul elektronik oleh guru I termasuk kategori sangat layak.
Tabel 4. 2 Hasil Penilaian Ahli pada Aspek materi Validator Materi
Rata-Rata Kriteria Ahli I Ahli II Guru I Guru II
81 84 79 77 80,25 Sangat Layak
Berdasarkan penilaian kedua ahli pada Tabel 4.2 diperoleh rerata skor total pada aspek materi yaitu 80,25 dengan skor maksimal 84. Dapat diketahui bahwa modul elektronik menurut ahli materi dan praktisi pendidikan pada aspek materi termasuk ke dalam kategori sangat layak. Presentase keidealan hasil validasi aspek materi menurut perhitungan yaitu 95,54%.
b) Validasi aspek media oleh ahli dan praktisi pendidikan
Pengolahan analisis penilaian aspek media mengacu pada kategori penilaian pada tabel 3.5. Penilaian modul elektronik oleh ahli media yaitu Nur Hasanah, M.Sc dilaksanakan pada 7 Juli 2021, diperoleh skor total 36 dengan skor maksimum 40.
Penilaian oleh ahli media termasuk dalam kategori sangat layak. Penilaian modul elektronik oleh praktisi pendidikan (guru I) Sri Wulandari S.Pd yaitu dilaksanakan pada 9 Juli 2021, diperoleh skor total 39 dengan skor maksimum 40. Penilaian oleh praktisi pendidikan (guru I) termasuk dalam kategori sangat layak. Penilaian modul elektronik oleh praktisi pendidikan (guru II) Sri Martini Rochmiatun,S.Pd yaitu dilaksanakan pada 9 Juli 2021, diperoleh skor total 39 dengan skor maksimum 40.
Penilaian oleh praktisi pendidikan (guru II) termasuk dalam kategori sangat layak.
Tabel 4.3 Hasil Penilaian Ahli pada Aspek Media Validator Media
Rata-Rata Kriteria Ahli I Guru I Guru II
36 39 39 38 Sangat Layak
Berdasarkan penilaian ahli dan guru pada Tabel 4.3 diperoleh rata-rata skor total pada aspek materi yaitu 38 dengan skor maksimal 40. Dapat diketahui bahwa modul elektronik menurut ahli media dan praktisi pendidikan pada aspek media termasuk ke dalam kategori sangat layak. Presentase keidealan hasil validasi aspek media menurut perhitungan yaitu 95%.
c. Revisi Tahap 1
Revisi tahap I dilaksanakan setelah modul elektronik divalidasi oleh 2 dosen ahli dan 2 Praktisi Pendidikan. Hasil validasi yang berupa saran menjadi pedoman untuk revisi draft produk I. Saran modul elektronik oleh ahli dan praktisi pendidikan pada aspek materi disajikan pada Tabel 4.4, komentar dan saran modul elektronik oleh ahli dan praktisi pendidikan pada aspek tampilan media terdapat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Komentar dan Saran Ahli dan Praktisi Pendidikan pada Aspek Materi Komentar/Saran Keputusan Revisi Bentuk Tindakan
Penambahan video di setiap faktor kelarutan
Direvisi Menambahkan video pengaruh pH dan ion senama
Isi peta konsep dirumitkan lagi
Direvisi Menambahkan penjelasan pada peta konsep
Pada modul belum ada tujuan pembelajaran
Direvisi Menambahkan tujuan
pembelajaran Contoh soal disertakan
setiap sub bab materi
Direvisi Menambahkan contoh soal sub kelarutan dan menambahkan contoh soal pada video ion senama dan pH
Penambahan soal dan diberikan kunci
Direvisi Menambahkan contoh soal disertai pembahasan
Tabel 4.5 Komentar dan Saran Ahli dan Praktisi Pendidikan pada Aspek Media Komentar/Saran Keputusan Revisi Bentuk Tindakan
Video baiknya
membuat sendiri semua,
jika terpaksa
mengambil video youtube orang lain harus meminta izin.
Direvisi Mengganti video dengan membuat video sendiri. Untuk video praktikum sudah mendapat izin oleh pemilik video tersebut.
Komentar/Saran Keputusan Revisi Bentuk Tindakan Daftar isi menggunakan
bahasa yang mudah dipahami
Direvisi Mengganti kata di daftar isi, inkuiri diganti “ayo
menemukan”, kata
kontruktivis dihilangkan.
Kalimat malu bertanya dihilangkan
Direvisi Menghilangkan kalimat malu bertanya
Menambahkan gambar ilustrasi
Direvisi Menambahkan gambar pada link video praktikum
d. Uji Coba Kelompok Kecil
Draft produk II hasil revisi tahap 1 kemudian di uji coba kelompok kecil kepada 9 orang. Pada uji coba kelompok kecil model ADDIE akan optimal untuk jumlah peserta didik di antara 8 dan 20 (Suryani, 2018). Jadi peneliti melibatkan 9 orang peserta didik dari XII IPA 2, XII IPA 3 dan XII IPA 4 yang masing-masing 3 orang SMA N 2 Sukoharjo pada tanggal 12 Juli 2021. Peserta didik yang di pilih diberikan kuisioner untuk memberi penilaian, saran dan masukan yang kemudian hasil data tersebut digunakan untuk pedoman revisi produk tahap 2. Rekapitulasi hasil data tahap uji coba kelompok kecil dapat dilihat pada Lampiran 15, sedangkan dokumentasi pelaksanaan dilihat pada Lampiran 25. Analisis data penilaian pada uji coba kelompok kecil mengacu pada kategori penilaian pada Tabel 3.10. Hasil penilaian dari data uji kelompok kecil ditampilkan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil Uji Coba Kelompok Kecil
Skor Kriteria Frekuensi
75 Layak 1
82 89 93 97 100
Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak
1 1 1 2 3
Dari hasil di atas diperoleh rerata nilai modul elektronik dalam uji coba kelompok kecil adalah 92,55 dengan skor maksimal 100. Berdasarkan rerata tersebut dapat diketahui bahwa keseluruhan penilaian peserta didik termasuk ke dalam kriteria sangat layak. Presentase keidealan hasil uji coba kelompok kecil menurut perhitungan yaitu 92,55%. Berikut ialah penjabaran masing-masing aspek:
a) Penilaian Uji Coba Kelompok Kecil Berdasarkan Aspek Materi
Data hasil penilaian uji coba kelompok kecil aspek materi dianalisis dengan mengacu kriteria pada Tabel 3.7. Rangkuman penilaian hasil uji coba kelompok kecil aspek materi terdapat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.7 Hasil Uji Coba Kelompok Kecil Aspek Materi
Skor Kriteria Frekuensi
39 Layak 1
43 44 49 50 52
Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak
1 1 1 2 3
Berdasarkan Tabel 4.7 maka diperoleh rerata skor 47,88 dengan skor maksimal 52 sehingga penilaian aspek materi menurut penilaian peserta didik termasuk dalam kategori sangat layak. Presentase keidealan hasil uji coba kelompok kecil aspek materi menurut perhitungan yaitu 92,08%.
b) Penilaian Uji Coba Kelompok Kecil Berdasarkan Aspek Media
Hasil penilaian uji coba kelompok kecil aspek tampilan media dianalisis dengan kriteria yang mengacu Tabel 3.9. Rangkuman penilaian uji coba kelompok kecil aspek tampilan media terdapat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Hasil Uji Coba Kelompok Kecil Aspek Media
Skor Kriteria Frekuensi
36 Layak 1
40 43 45 47 48
Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak
1 1 1 2 3
Berdasarkan Tabel 4.8 maka diperoleh rerata skor 44,67 dengan skor maksimal 48 sehingga penilaian aspek media menurut penilaian peserta didik termasuk dalam kategori sangat layak. Presentase keidealan hasil uji coba kelompok kecil aspek media menurut perhitungan yaitu 93,06%.
e. Revisi Tahap 2
Setelah melakukan uji coba kelompok kecil kemudian hasilnya direvisi kembali.
Revisi tahap 2 dilakukan dengan mengacu pada penilaian komentar dan saran dari 9 peserta didik untuk memperbaiki modul yang dikembangkan. Saran dan komentar dari peserta didik terhadap modul elektronik terdapat pada Tabel 4.9.
Tabel 4. 9 Komentar, Saran, dan Revisi Uji Coba Kelompok Kecil
Komentar/Saran Keputusan Revisi Bentuk Tindakan Pada contoh soal diberi
pembahasan pada tiap sub.
Direvisi Menambahkan contoh soal dan pembahasan pada video kelarutan Video pada pembahasan
tentang pengaruh suhu tidak dapat di buka.
Direvisi Mengedit link pada video tentang pengaruh suhu
Berdasar saran dan komentar dari uji coba kelompok kecil bahwa dapat disimpulkan terdapat revisi pada aspek materi dan aspek media. Hasil revisi dari uji coba kelompok kecil ini menghasilkan draft produk III.
f. Uji Coba Lapangan
Setelah melakukan revisi pada tahap II, maka diperoleh draft produk III dan dilanjutkan dengan uji coba lapangan dengan memberikan angket penilaian kepada 60 orang peserta didik dari kelas XII IPA 2, XII IPA 3 dan XII IPA 4 yang masing-masing kelasnya 20 orang peserta didik. Angket diberikan pada tanggal 13 Juli 2021.
Hasil rekapitulasi data tahap uji coba lapangan dapat dilihat pada Lampiran 16, perhitungan hasil uji coba lapangan ada pada Lampiran 17. Hasil penilaian uji coba lapangan dianalisis dengan kriteria yang mengacu Tabel 3.12. Rangkuman hasil uji coba lapangan terdapat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Hasil Uji Coba Lapangan
Skor Kriteria Frekuensi
66 Cukup Layak 1
72 73 74 75 76 77 78 80 81 82 83
Layak Layak Layak Layak Layak Layak Layak Layak Layak Sangat Layak Sangat Layak
1 1 3 12
1 3 1 2 2 2 1
Skor Kriteria Frekuensi 84
86 87 88 89 91 92 93 94 95 97 100
Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak
6 4 2 1 2 1 1 1 2 1 1 8
Berdasarkan Tabel 4.10, maka diperoleh rata-rata skor yaitu 83,85 dengan skor maksimal sebesar 100 sehingga total penilaian peserta didik terhadap modul elektronik tersebut dalam kriteria sangat layak. Presentase keidealan hasil uji lapangan menurut perhitungan yaitu 83,85%. Berikut penjabaran masing-masing aspek :
a) Penilaian Uji Coba Lapangan Berdasarkan Aspek Materi
Hasil penilaian uji coba lapangan pada aspek materi dianalisis dengan kriteria yang mengacu Tabel 3.6. Rangkuman penilaian uji coba lapangan aspek materi terdapat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Hasil Uji Coba Lapangan pada Aspek Materi
Skor Kriteria Frekuensi
34 38 39
Cukup Layak Layak Layak
1 1 17 40
41 42 43 44 45 47 48 49 51 52
Layak Layak Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak
3 3 4 7 6 3 1 1 4 1 8
Berdasarkan Tabel 4.11 diperoleh rerata skor yaitu 43,4 dengan skor maksimal 52, sehingga dapat diketahui bahwa penilaian peserta didik pada aspek materi termasuk pada kriteria sangat layak. Presentase keidealan hasil uji coba lapangan dari aspek materi menurut perhitungan yaitu 83,46%.
b) Penilaian Uji Coba Lapangan Berdasarkan Aspek Media
Hasil penilaian uji coba lapangan pada aspek media dianalisis dengan kriteria yang mengacu Tabel 3.12. Rangkuman penilaian hasil uji coba lapangan aspek media terdapat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Hasil Uji Coba Lapangan pada Aspek Media
Skor Kriteria Frekuensi
32 34 35 36
Cukup Layak Layak Layak Layak
1 2 3 12 37
39 40 41 42 43 44 45 46 48
Layak Layak Sangat Layak
Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak
5 4 3 6 4 3 5 2 2 8
Berdasarkan Tabel 4.12 diperoleh rerata skor yaitu 40,45 dengan skor maksimal 48, sehingga dapat diketahui bahwa penilaian peserta didik pada aspek media termasuk pada kriteria sangat layak. Presentase keidealan hasil uji lapangan dari aspek media menurut perhitungan yaitu 84,27%.
g. Produk Akhir
Modul elektronik telah berhasil dikembangkan dengan pendekatan kontekstual menggunakan Flip PDF Professional pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.
Modul elektronik ini dapat dijalankan melalui web hanya dengan membagikan link kepada pengguna. Modul elektronik yang telah dikembangkan terdapat video yang terhubung dengan youtube, video praktikum dan soal serta pembahasan yang terhubung dengan google form, soal evaluasi akhir pada modul elektronik untuk
megetahui kemampuan kognitif peserta didik. Produk akhir yang dihasilkan adalah modul elektronik berbasis pendekatan kontekstual menggunakan Flip PDF Professional yang memenuhi kriteria sangat layak.Tampilan produk akhir modul beserta rincian isi modul terdapat di lampiran.
4. Tahap Implementasi (Implementation)
Tahap ini peneliti mempersiapkan guru dengan memberi modul yang sudah di buat kemudian guru akan memberi arahan kepada siswa sebelum pelaksanaan implementasi meliputi alat-alat yang dibutuhkan selama pembelajaran dengan media yang dikembangkan.
1. Mempersiapkan Guru
Penulis meminta izin untuk pelaksanaan implementasi kepada guru kimia kelas XI IPA 1 yaitu Sri Martini Rochmiatun, S.Pd. Peneliti diperkenalkan oleh guru kepada peserta didik bahwa materi kelarutan dan hasil kali kelarutan akan disampaikan oleh peneliti.
2. Mempersiapkan Peserta Didik
Memberikan arahan kepada peserta didik sebelum pelaksanaan implementasi dan selanjutnya dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan modul elektronik. Modul elektronik dapat dijadikan sebagai media pembelajaran pendamping untuk memperkaya peserta didik dalam belajar dengan melihat contoh soal disertai pembahasan yang ada pada modul elektronik. Peran guru sebagai fasilitator dengan memandu peserta didik menggunakan modul dan memberikan umpan balik dalam tahap implementasi juga penting meskipun pembelajaran berpusat pada peserta didik.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest posttest design yaitu memberikan pretest kepada peserta didik kelas XI sebelum menggunakan modul kemudian setelah menggunakan modul peserta didik mengerjakan posttest.
Pembealajaran dengan modul berbasis kotekstual pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan dengan waktu 2 x 30 menit per pertemuannya. Pertemuan pertama dimulai dari kegiatan awal yaitu peneliti memberi salam melalui grup WhatsApp dan menanyakan kabar. Peneliti memberi rancangan pembelajaran pada hari itu yakni menghimbau untuk presensi di google classroom dan menyampaikan topik pelajaran. Kemudian peneliti memberi arahan untuk membaca modul elektronik yang diberikan terkait petunjuk penggunaan modul. Kemudian peserta didik diarahkan mengerjakan soal pretest yang terdapat di dalam modul (link modul yang diberikan belum terdapat materi pembelajaran). Peserta didik mengerjakan soal pretest sampai waktu pembelajaran selesai. Peneliti menyampaikan untuk pertemuan selanjutnya masuk materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dengan modul elektronik.
Pertemuan kedua diawali dengan peneliti memberi salam di grup kelas, menanyakan kabar peserta didik, dan memberi rancangan pembelajaran. Peserta didik melakukan presensi di google classroom kemudian dihimbau membaca modul dan menonton video yang terdapat dalam modul berpendekatan kontekstual. Peserta didik mengerjakan soal dalam modul tentang pengendapan agar peserta didik dapat membandingkan hasil video praktikum dengan teori. Kemudian setelah selesai mengerjakan, peneliti menghimbau untuk melihat kunci jawaban dari soal pretest pada halaman refleksi agar peserta didik dapat memahami cara mengerjakan soal. Peneliti memberi tahu untuk agenda pertemuan selanjutnya yaitu akan mengerjakan soal posttest.
Pertemuan ketiga diawali dengan peneliti memberi salam di grup kelas, menanyakan kabar peserta didik, dan memberi rancangan pembelajaran. Peserta didik melakukan presensi di google classroom kemudian langsung mengerjakan soal posttest. Peneliti juga mengarahkan pada setiap pertemuan jika ada yang terkendala dalam pengaksesan modul elektronik maka harap langsung dikomunikasikan melalui grup atau menghubungi peneliti secara langsung.
5. Tahap Evaluasi (Evaluation)
Tahap terakhir dari model ADDIE yaitu evaluasi yang memiliki tujuan untuk melihat kualitas media yang dikembangkan melalui proses dan hasil belajar, saat sebelum dan sesudah implementasi.
Kriteria evaluasi learning, yaitu dikelola oleh pengembang untuk mengetahui ketercapaian pengetahuan siswa dengan cara memberikan tes hasil belajar pada akhir pembelajaran. Yaitu pengembang sudah memberikan pretest dan posttest pada tahap implementasi.
Hasil belajar peserta didik diambil dari nilai pretest dan posttest yang terdapat dalam lampiran. Rangkuman hasil belajar pada kelas XI IPA 1 menggunakan modul elektronik disajikan pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Rangkuman Hasil Belajar Peserta Didik Minimum Maksimum Rata-Rata
Pretest 40 80 60,16
Posttest 70 95 83,59
Berdasarkan Tabel 4.13 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata nilai pretest dimana sebelum diberikan pembelajaran menggunakan modul elektronik adalah 60,16 dengan nilai minimum yang didapatkan 40 dan nilai maksimum 80. Perolehan nilai rata-rata posttest dimana setelah diberikan pembelajaran menggunakan modul elektronik adalah 83,59 dengan nilai minimum 70 dan nilai maksimum 95.
Perolehan nilai pretest dan posttest dimasukkan perhitungan untuk mengukur keefektifan pembelajaran dengan modul elektronik. Pengukuran kenaikan hasil belajar menggunakan rumus N-gain score. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus N-gain score menunjukkan nilai 58,8% dengan nilai rata-rata 83,59 yang termasuk ke dalam kategori cukup efektif dan rekapitulasi hasil pretest dan posttest peserta didik terdapat pada lampiran. Dari analisis N-gain score yang termasuk kategori cukup efektif
dengan pembelajaran modul elektronik dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik tanpa membedakan yang mempunyai kemampuan tinggi maupun rendah.
Kemudian dilakukan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest sebagai alternatif uji one sample t test karena data yang diuji tidak terdistribusi normal. Hasil uji Wilcoxon terdapat pada Lampiran 22. Nilai dari asymp. sig. (2-tailed) yaitu 0,000 yang berarti < 0,05 artinya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest.
B. PEMBAHASAN
Penelitian dan pengembangan ini berdasarkan model pengembangan ADDIE yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan modul elektronik yang berhasil dikembangkan. Model penelitian eksperimen dengan pendekatan pre experimental design yaitu model rancangan satu kelompok praperlakuan dan pascaperlakuan (one group pretest- posttest design). Kegiatan penelitian dilakukan pada tahap implementasi dengan memberikan tes awal (pretest) sebelum perlakuan kemudian setelah perlakuan diberikan tes akhir (posttest) untuk mengetahui efektifitas modul elektronik yang berhasil dikembangkan dengan menggunakan software Flip PDF Professional pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Proses pembuatan modul elektronik dilakukan di sekolah SMAN 2 Sukoharjo melalui serangkaian tahapan yaitu, validasi ahli dan praktisi pendidikan pada aspek materi dan media. Hasil validasi selanjutnya modul elektronik diujicobakan pada peserta didik dengan uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Modul elektronik ini dapat dijalankan melalui web hanya dengan membagikan link kepada pengguna.
Modul elektronik yang telah dikembangkan video yang terhubung dengan youtube, video praktikum dan soal serta pembahasan yang terhubung dengan google form. Soal evaluasi akhir pada modul elektronik untuk megetahui kemampuan kognitif peserta didik.
Produk akhir yang dihasilkan adalah modul elektronik berbasis pendekatan kontekstual menggunakan Flip PDF Professional yang memenuhi kriteria sangat layak.
1. Karakteristik Modul yang Dikembangkan
Pengembangan modul yang baik memiliki 5 karakteristik menurut Chomsin dan Jasmadi (2008) yaitu : self instruction, self contained, stand alone, adaptive dan user friendly. Karakteristik pada pengembangan modul elektronik yang telah dibuat meliputi :
a. Self Instruction
Karakteristik self instruction memiliki tujuan agar peserta didik dapat mandiri dalam belajar. Modul elektronik yang telah dikembangkan berisi tujuan yang dirumuskan dengan jelas untuk memenuhi karakteristik ini. Selain itu materi disajikan ke dalam unit kecil dan bersifat kontekstual yang terdapat dalam modul pada menu
daftar isi yang dapat langsung di klik agar memudahkan peserta didik belajar serta terdapat petunjuk untuk menggunakan modul. Penggunaan bahasa yang sederhana dan menyajikan kalimat perintah agar komunikatif yang mengarahkan peserta didik untuk menemukan konsep. Selain itu dalam modul terdapat penilaian akhir untuk melihat nilai kognitif peserta didik.
b. Self Contained
Tujuan dari self contained yaitu menyediakan materi dengan satu kesatuan utuh agar peserta didik dapat belajar secara tuntas. Materi disusun sesuai kurikulum 2013 yang dimuat dalam silabus.
c. Stand Alone
Modul tersebut tidak memerlukan bahan ajar lain untuk menggunakan atau mengoperasikannya.
d. Adaptive
Karakteristik modul adaptive yaitu modul mampu menyesuaikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembuatan modul menggunakan Flip PDF Professional selain itu modul yang dikembangkan berbasis web yang dapat dibuka melalui handphone dan PC dengan terhubung dengan internet.
e. User Friendly
Modul elektronik dapat dioperasikan dengan lancer agar memudahkan peserta didik dalam belajar. Bahasa yang digunakan dalam modul ialah bahasa Indonesia untuk memudahkan peserta didik memahami isi dari modul.
Modul elektronik dikembangkan berbasis pendekatan kontekstual yang memiliki 7 komponen utama yakni :
a) Kontruktivisme
Kontruktivisme merupakan komponen dimana pengetahuan ditingkatkan oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas dengan konteks yang terbatas.
Peserta didik harus membangun pengetahuan dan melihat makna melalui pangalaman nyata. Dalam modul diberi sebuah apersepsi yang berhubungan dengan kehidupan yang menyangkut materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
b) Bertanya
Suatu strategi yang dimanfaatkan secara aktif oleh peserta didik untuk melakukan analisis dan mengeksplorasi gagasan. Untuk memenuhi kriteria bertanya, dalam modul diberikan perintah yang mengarahkan peserta didik untuk bertanya dan terdapat gambar WhatsApp yang dapat langsung terhubung dengan penulis.
c) Menemukan
Bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual ialah komponen menemukan.
Guru harus menyusun strategi yang dapat menuntun peserta didik untuk menemukan.
Kegiatan menemukan yang dapat dilakukan antara lain: merumuskan masalah, pengamatan atauobservasi, analisis dan memaparkan hasil. Di dalam modul yang telah dikembangkan terdapat video praktikum yang di ambil dari youtube yang sudah diberi izin oleh pemilik video tersebut. Peserta didik diarahkan melakukan pengamatan melalui video praktikum dengan menuliskan hasil pengamatan di dalam tabel percobaan yang sudah disediakan.
d) Masyarakat Belajar
Masyarakat belajar adalah kegiatan belajar yang melibatkan orang lain yang dapat terjadi dengan adanya proses komunikasi dua arah. Di dalam modul terdapat kalimat perintah yang mengarahkan peserta didik untuk bekerjasama dengan berdiskusi dengan teman dan guru.
e) Permodelan
Model adalah contoh yang ditiru sedangkan permodelan adalah bentuk pemelajaran melalui pengamatan pada model. Dalam modul elektronik terdapat contoh soal dan pembahasan dan ilustrasi dalam video sehingga siswa dapat belajar melalui contoh yang dapat ditiru.
f) Refleksi
Cara berpikir ke belakang tentang materi yang telah dipelajari pada masa lalu ialah refleksi. Peserta didik akan berpikir kembali dan melakukan analisis terhadap materi yang baru didapatnya. Di dalam modul terdapat pembahasan soal pretest yang sudah dilakukan pada awal sebelum materi kelarutan sehingga peserta didik belum tahu jawaban yang benar sehingga terdapat pembahasan soal terkait pretest pada akhir materi kelarutan yang tujuannya untuk merefleksi peserta didik pada materi.
g) Penilaian yang Sebenarnya
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan peserta didik. Dalam modul elektronik terdapat evaluasi akhir yaitu soal posttest yang terhubung langsung dengan google form yang terdapat skor penilaian pada setiap nomor soal. Adanya soal evaluasi tersebut guru dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar.
Modul elektronik yang telah dikembangkan memenuhi 5 karakteristik modul yang dapat menambah motivasi belajar peserta didik. Hal tersebut didukung dengan penelitian Wiyoko (2014) yang menyatakan bahwa penggunaan karakteristik modul dapat menambah motivasi belajar peserta didik. Selain itu penelitian (Setiyadi et al., 2017) mengungkapkan bahwa penggunaan karakteristik modul dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
2. Kelayakan Modul yang Dikembangkan
Penilaian modul oleh ahli dan praktisi pendidikan melalui tahap validasi diperoleh skor rerata pada setiap aspek memenuhi kriteria sangat layak dengan skor 80,25 dimana
skor maksimal aspek materi 84. Presentase keidealan hasil validasi aspek materi menurut perhitungan yaitu 95,54%. Validasi ahli dari dosen dan praktisi pendidikan dari guru diperoleh rerata pada aspek media sebesar 38 dengan skor maksimal 40. Presentase keidealan hasil validasi aspek media menurut perhitungan yaitu 95%.
Penilaian modul oleh peserta didik melalui tahap uji coba kelompok kecil memperoleh rerata skor total 92,55 dengan kriteria sangat layak dengan skor maksimal 100. Presentase keidealan hasil uji coba kelompok kecil menurut perhitungan yaitu 92,55%. Pada aspek materi rerata skor 47,88 termasuk kriteria sangat layak dengan skor maksimal 52. Presentase keidealan hasil uji coba kelompok kecil aspek materi menurut perhitungan yaitu 92,08%. Aspek media diperoleh rerata skor 44,67 dengan skor maksimal 48. Presentase keidealan hasil uji coba kelompok kecil aspek media menurut perhitungan yaitu 93,06%.
Penilaian oleh peserta didik melalui tahap uji coba lapangan diperoleh skor total 83,85 dengan kriteria sangat baik dengan skor maksimal 100. Presentase keidealan hasil uji lapangan menurut perhitungan yaitu 83,85%. Pada aspek materi rerata skor 43,4 termasuk kriteria sangat layak dengan skor maksimal 52. Presentase keidealan hasil uji lapangan aspek materi menurut perhitungan yaitu 83,46%. Aspek media diperoleh rerata skor 40,45 dengan skor maksimal 48. Presentase keidealan hasil uji lapangan aspek media menurut perhitungan yaitu 84,27%. Dilihat dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa modul elektronik berbasis pendekatan kontekstual secara keseluruhan menurut peserta didik memenuhi kriteria sangat layak.
Kesimpulan akhir dari hasil penilaian oleh ahli, praktisi pendidikan, dan peserta didik adalah modul elektronik memenuhi kriteria sangat layak. Produk akhir penelitian ini adalah modul elektronik berbasis pendekatan kontekstual pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan memenuhi kriteria sangat layak. Produk yang sudah dikembangkan memiliki kelebihan, yaitu modul dapat digunakan secara mandiri oleh peserta didik karena produk merupakan suatu bahan ajar yang dirancang dengan bertahap yang langkah-langkahnya berdasarkan sintaks pendekatan kontekstual. Selain itu modul dapat
dijadikan alat evaluasi untuk melihat tingkat penguasaan konsep peserta didik.
Kelemahan dari produk yang dikembangkan yaitu modul hanya diujikan pada ruang lingkup kecil yaitu sekolah tempat penelitian.
3. Keefektifan Modul yang Dikembangkan
Keefektifan modul diperoleh dari hasil peningkatan pretest dan posttest dengan menggunakan perhitungan nilai N-gain score. Menurut hasil perhitungan menggunakan rumus N-gain score diperoleh presentase 58,8% dengan nilai rata-rata 83,59 yang termasuk ke dalam kategori cukup efektif dan rekapitulasi hasil nilai pretest dan posttest dapat di lihat di lampiran. Dari analisis N-gain score yang termasuk kategori cukup efektif dengan pembelajaran modul elektronik dapat meningkatkan hasil belajar tanpa membedakan yang mempunyai kemampuan tinggi maupun rendah. Kemudian dilakukan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest sebagai alternatif uji one sample t test karena data yang diuji tidak terdistribusi normal. Hasil uji Wilcoxon terdapat pada Lampiran 22. Nilai dari asymp. sig. (2-tailed) yaitu 0,000 yang berarti < 0,05 artinya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest.
Menurut penelitian Elisa (2019) modul pembelajaran berbasis kontekstual yang dikembangkan masuk kategori efektif dengan perolehan rerata nilai 85. Hal ini membuktikan bahwa telah tercapainya nilai minimal hasil belajar. Hal tersebut diperkuat penelitian Pratama (2018) bahwa modul pembelajaran pecahan sederhana siswa kelas III berdasarkan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik dan diperoleh rerata nilai mencapai 88.