• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN. yang semakin tinggi diantara rumah sakit. Rumah sakit dituntut untuk tetap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. PENDAHULUAN. yang semakin tinggi diantara rumah sakit. Rumah sakit dituntut untuk tetap"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di era globalisasi ini menuntut adanya persaingan pelayanan kesehatan yang semakin tinggi diantara rumah sakit. Rumah sakit dituntut untuk tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu, prima namun dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi bangsa Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak pada pelayanan gizi di suatu rumah sakit yang menuntut ahli gizi untuk memberikan pelayanan gizi dengan kualitas terbaik (Hartono, 2009).

Pelayanan gizi di rumah sakit merupakan salah satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit yang mempunyai peranan penting dalam pemberian asuhan gizi pasien selama dirawat. Proses Asuhan Gizi Terstandar atau Nutrition Care Process (NCP) adalah suatu model baru dari asuhan gizi (ADA, 2008). Menurut Soegih (1998), tujuan utama asuhan gizi adalah mencegah terjadinya penurunan berat badan pasien seminimal mungkin dengan harapan dapat menurunkan risiko komplikasi, morbiditas dan mortalitas. Perlu diketahui pula pelayanan gizi adalah salah satu pelayanan di rumah sakit yang memiliki peranan sederajat dengan pelayanan kesehatan lain di rumah sakit dalam usaha penyembuhan pasien.

Malnutrisi merupakan salah satu permasalahan yang banyak terjadi di Rumah Sakit. Malnutrisi yang terjadi di rumah sakit disebut dengan hospital malnutrition. Malnutrisi dapat terjadi sejak sebelum pasien masuk rumah sakit

(2)

2

maupun terjadi setelah pasien masuk rumah sakit (Braunschweight, 2000).

Malnutrisi banyak terjadi pada pasien rawat inap di bangsal anak, bedah, geriatri, luka bakar dan penyakit dalam (Dwiyanti, 2004). Malnutrisi yang terjadi di rumah sakit merupakan permasalahan gizi di seluruh dunia (Correia & Campos, 2003b).

Berbagai survey yang dilakukan di rumah sakit dalam dan luar negeri membuktikan bahwa kejadian hospital malnutrition disebabkan oleh pelayanan gizi yang kurang tepat. Selain itu diketahui pula sebagian besar pelayanan gizi yang dilakukan tidak sesuai dengan standar (Kondrup et al, 2002b).

Malnutrisi merupakan dampak dari kurangnya asupan makanan. Menurut Almatsier (2001), konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Terpenuhi atau tidak kebutuhan zat gizi pada pasien yang dirawat di rumah sakit ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu : asupan zat gizi oleh pasien dan utilisasi biologik zat gizi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan hasil fungsi dari asupan makanan dan utilisasi biologik zat gizi (Sayogo, 2000). Asupan zat gizi pasien dirawat di rumah sakit sangat diperlukan dalam upaya mencegah penurunan status gizi dan atau untuk terapi gizi kurang yang terjadi selama masa perawatan di rumah sakit.

Prevalensi malnutrisi pasien selama dirawat di rumah sakit cukup tinggi, yaitu berkisar 20%-60% (Waitzberg, 2001; Correia & Waitzberg, 2003a; Meyer, 2006; Norman et al, 2008; Kahokehr et al, 2009; Imoberdorf et al, 2010, Agarwal et al, 2011). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Budiningsari dan Hadi (2004), prevalensi malnutrisi pada pasien di Indonesia sebesar 56,9% terjadi di rumah sakit. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Schinder et al (2010)

(3)

3

pada tahun 2007 dan 2008 terhadap 21.007 pasien ditemukan bahwa 27%

pasien berisiko malnutrisi. Sebuah studi yang dilakukan oleh Susetyowati et al (2010) terhadap 298 pasien bangsal penyakit dalam dan syaraf RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta menunjukkan hasil 72,3% pasien hipoalbuminemia, 68,2%

anemia, 43,3% status gizi kurang berdasarkan indeks masa tubuh (IMT) dan 33,5% pasien termasuk dalam katerori B dan C saat masuk rumah sakit, dengan menggunakan Subjective Global Assessment (SGA). Penelitian serupa pada tahun 2011 yang dilakukan pada pasien di IRNA RSUP Dr. Sardjito sejumlah 495 pasien menunjukkan pravelensi malnutrisi saat masuk rumah sakit tidak berbeda jauh dari tahun sebelumnya, yaitu hipoalbunemia sebesar 65,3% dan malnutrisi berdasarkan IMT sebesar 31,9%, dan pasien yang termasuk golongan B dan C berdasarkan Subjective Global Assessment (SGA) sebesar 44%

(Susetyowati et al, 2012). Penelitan tersebut menunjukkan tingginya angka kejadian malnutrisi di rumah sakit.

Kejadian malnutrisi sebagian besar belum terdeteksi, hal tersebut dikarenakan para klinisi belum mempertimbangkan gizi sebagai faktor penting dalam proses penyembuhan pasien serta tidak dilakukan pemeriksaan dan monitoring status gizi secara rutin (Schenker, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh Ellia et al (2005) menunjukkan hasil laporan di beberapa rumah sakit Eropa, sekitar 60-85% pasien rawat inap malnutrisi tidak dilaporkan sehingga penilaian gizi lebih lanjut dan terapi gizi tidak sesuai dengan kondisi pasien tersebut.

Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan proses pelaksanaan asuhan gizi pada pasien di rumah sakit belum terlaksana dengan baik.

(4)

4

Hasil yang serupa didapat dari penelitian yang dilakukan oleh Prins (2010), berdasarkan pencatatan yang dilakukan oleh rumah sakit, sekitar 15- 70% pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami undernutrition atau malnutrisi. Kurang lebih 70% pasien malnutrisi yang baru masuk rumah sakit tidak terdiagnosa status malnutrisi mereka. Terdapat kurang lebih 70-80%

pasien yang terdiagnosa malnutrisi tidak mendapat terapi gizi yang tepat, Hal tersebut disebabkan karena diagnosa malnutrisi tersebut tidak didokumentasi ke dalam rekam medis. Sehingga mengakibatkan penanganan pasien malnutrisi menjadi terlambat dan kurang maksimal.

Asuhan gizi yang tepat dapat menurunkan prevalensi malnutrisi di rumah sakit (Norman et al, 2008). Asuhan gizi yang tepat berarti melakukan asuhan gizi dengan tepat, pada waktu yang tepat, menggunakan cara yang benar, pada individu yang tepat, yang bertujuan untuk mencapai hasil yang sebaik mungkin (Gutawa, 2011). Asuhan gizi dilakukan dengan mengacu pada proses asuhan gizi terstandar (PAGT) atau nutritional care process (NCP). NCP terdiri dari empat langkah sistematis, yaitu assesmen gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi (pemberian makan dan konseling gizi) dan monitoring dan evaluasi. Asuhan gizi dengan menggunakan NCP mampu meningkatkan kualitas pelayanan gizi terhadap pasien di rumah sakit. Perlu diketahui pula, faktor yang secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan malnutrisi di rumah sakit adalah kurangnya pengawasan terhadap perubahan status gizi pasien dihubungkan dengan menu yang didapat dan ketidaktahuan komposisi zat-zat gizi yang ada dalam makanan (Soegih, 1998).

(5)

5

Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Haji Medan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan asupan energi dan protein serta peningkatan status gizi berdasarkan berat badan pada pasien Tuberculosis dewasa yang diberi konseling gizi dengan menggunakan booklet (Yurisdawati, 2008). Penelitian lain pada pasien dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan (DPMB) di RSUP Dr.

sardjito Yogyakarta menunjukkan bahwa pasien dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan (DPMB) yang diberi konseling dengan booklet mengalami peningkatan status gizi berdasarkan subjective global assessment (SGA) (Fatmawati, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian konseling gizi memiliki peran terhadap perubahan asupan makan dan status gizi.

Berdasarkan latar belakang di atas dan hasil penelitian terdahulu, belum ada penelitian yang meneliti mengenai pengaruh kunjungan ahli gizi dalam rangka melakukan konseling gizi kepada pasien dan monitoring hasil intervensi gizi terhadap asupan makan dan status gizi pasien di rumah sakit. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Sleman. Berdasarkan data Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) RSUD Sleman, diketahui bahwa jumlah ahli gizi di RSUD Sleman adalah 9 orang, sedangkan berdasarkan Yuwono et al (2013) jumlah ahli gizi yang dutuhkan oleh rumah sakit dengan kelas B seperti RSUD Sleman adalah berjumlah 37 orang. Sedangkan perbandingan antara jumlah ahli gizi ruangan dengan rata-rata pasien yang dirawat per hari adalah 1 : 7 orang. Jumlah pelayanan konsultasi gizi pada tahun 2013 mengalami penurunan dibanding tahun 2012, dari yang semula terdapat 695 konsultasi gizi pada tahun 2012 menjadi 409 konsultasi gizi pada tahun 2013. Selain itu terapi gizi yang

(6)

6

diberikan oleh ahli gizi RSUD Sleman hanya diberikan kepada pasien dengan kriteria tertentu. Hal tersebut menunjukkan masih kurangnya tenaga ahli gizi untuk melakukan asuhan gizi serta penurunan pelaksanaan asuhan gizi oleh ahli gizi di RSUD Sleman. Selain itu akses menuju lokasi penelitian yang dapat dijangkau dengan mudah turut menjadi pertimbangan mengapa memilih lokasi di rumah sakit tersebut. Oleh karena itu, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai hubungan kunjungan ahli gizi dan asupan makan terhadap perubahan berat badan di RSUD Sleman.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan larat belakang di atas, maka permasalahan dalam penilitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah ada hubungan antara kunjungan ahli gizi terhadap status gizi pasien rawat inap RSUD Sleman?

2. Apakah ada hubungan asupan zat gizi pasien terhadap status gizi pasien rawat inap RSUD Sleman?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan kunjungan ahli gizi dan asupan zat gizi terhadap status gizi pasien rawat inap di RSUD Sleman.

(7)

7 2. Tujuan khusus

1. Mengetahui hubungan kunjungan ahli gizi dengan status gizi pasien rawat inap

2. Mengetahui hubungan asupan zat gizi energi dan protein dengan status gizi pasien rawat inap

3. Mengetahui hubungan kunjungan ahli gizi dengan asupan zat gizi pasien rawat inap.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti :

a. Menambah pengalaman dan pengetahuan mengenai hubungan kunjungan ahli gizi dan asupan zat gizi terhadap status gizi pasien rawat inap.

2. Bagi instansi terkait :

a. Sebagai landasan untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan mutu pelayanan gizi yang terstandar guna menuju pelayanan gizi yang profesional.

3. Bagi masyarakat :

a. Memberikan pengetahuan mengenai pentingnya peran kunjungan ahli gizi terhadap perubahan asupan zat gizi dan status gizi pasien rawat inap.

(8)

8 E. Keaslian Penelitian

1. Penelitian Susetyowati (2001), pengaruh konseling gizi dengan booklet terhadap konsumsi makanan dan status gizi penderita gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di RSUP DR Sardjito Yogyakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni. Hasil dari penelitian terdahulu ini adalah terdapat perbedaan antara kelompok yang diberi konseling dan booklet dengan yang diberi konseling namun tidak mendapat booklet. Jenis penelitian terdahulu berupa eksperimental murni dengan menggunakan booklet sebagai medianya, sedangkan jenis penelitian yang akan dilakukan ini adalah observasional dengan desain penelitian nested case control. Penelitian ini menggunakan konseling gizi sebagai variabel independen dari penelitian, sedangkan variabel independen pada penelitian yang akan dilakukan adalah kunjungan ahli gizi dan asupan makan. Subjek penelitian terdahulu adalah pasien TB paru dewasa, sedangkan subjek penelitian ini adalah pasien rawat inap dewasa. Lokasi penelitian terdahulu di Poli Paru RSUP DR Sardjito Yogyakarta, sedangkan lokasi penelitian ini di RSUD Sleman.

2. Penelitian Mulyati et al (2004), pengaruh pendidikan gizi kepada ibu terhadap konsumsi makanan dan status gizi anak balita penderita Tuberculosis primer di rawat jalan RSUP DR. Kariadi Semarang. Jenis penelitian terdahulu adalah eksperimental terencana dengan menggunakan rancangan penelitian berupa randomized control trial.

Hasil penelitian terdahulu adalah pendidikan gizi terhadap ibu dapat

(9)

9

meningkatkan konsumsi makanan dan status gizi anak balita penderita Tuberculosis primer. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah terletak pada jenis penelitian, desain penelitian, variabel penelitian, subjek, dan lokasi penelitian. Jenis penelitian terdahulu adalah eskperimental terencana dengan rancangan penelitian berupa randomized control trial, sedangkan jenis penelitian yang akan dilakukan

adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian berupa nested case control. Penelitian ini menggunakan konseling gizi sebagai

variabel independen dari penelitian, sedangkan variabel independen penelitian yang akan dilakukan adalah kunjungan ahli gizi dan asupan makan. Subjek penelitian terdahulu adalah pasien balita rawat jalan penderita Tuberkulosis primer, sedangkan subjek penelitian yang akan dilakukan adalah pasien rawat inap dewasa. Lokasi penelitian terdahulu adalah di RSUP DR. Kariadi Semarang, sedangkan lokasi penelitian yang akan dilakukan yaitu di RSUD Sleman.

3. Penelitian Kusumayanti (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian malnutrisi pasien dewasa di ruang rawat inap rumah sakit. Jenis penelitian terdahulu adalah observasional dengan menggunakan rancangan penelitian berupa nested case control. Hasil penelitian terdahulu adalah asupan energi, lama rawat jenis penyakit dan bentuk makanan merupakan faktor risiko terjadinya malnutrisi di rumah sakit.

Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah terletak pada variabel penelitian dan lokasi penelitian. Penelitian ini meneliti asupan zat

(10)

10

gizi, lama rawat inap, kelas perawatan, jenis penyakit, dan bentuk makanan sebagai faktor risiko ternyadinya malnutrisi. Lokasi penelitian terdahulu adalah di RSUP Sanglah Denpasar, RS Dr. Sardjito Yogyakarta, dan RS M. Jamil Padang sedangkan lokasi penelitian yang akan dilakukan yaitu di RSUD Sleman.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka ada keinginan lebih dari penulis untuk meneliti pengaruh pertumuhan ekonomi , upah minimum dan tingkat

Berbekal pada penelitian terdahulu, juga latar belakang yang telah dipaparkan di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai pemanfaatan e-Journal juga

Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat perbedaan hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh likuiditas, profitabilitas, ukuran perusahaan dan persistensi

Berdasarkan latar belakang dan penliltian terdahulu, penulis bertujuan untuk meneliti kembali mengenai pengaruh relevansi pengungkapan informasi non keuangan yang

Bab I : PENDAHULUAN yang berisikan mengenai pentingnya penelitian ini yang dipaparkan dalam latar belakang masalah, hal ini memberikan gambaran umum bagaimana Kinerja Asesor

Berdasarkan dari uraian latar belakang dan penelitian terdahulu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta ingin mengkaji ulang mengenai variabel yang

Berdasarkan latar belakang, penelitian perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh konseling gizi terhadap tingkat pengetahuan ibu, tingkat konsumsi energi, protein, vitamin C, vitamin E,

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan pengaruh pemberian konseling gizi terhadap tingkat