EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS MASALAH UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KREATIVITAS DAN MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN HIDROLISIS GARAM.

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS MASALAH UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KREATIVITAS DAN

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN HIDROLISIS GARAM

Nazhimah Bey Nasution (NIM 4103331034) ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tumbuhkembangnya karakter kreativitas dan peningkatan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif berbasis masalah dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan hidrolisis garam. Serta untuk mengetahui seberapa efektif pembelajaran kooperatif berbasis masalah diterapkan pada pokok bahasan hidrolisis garam. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI IPA SMA Negeri 3 Medan. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 2 kelas yang diambil secara acak. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar dalam bentuk pilihan berganda dengan jumlah soal sebanyak 20 soal yang telah dinyatakan valid dan reliabel serta lembar observasi karakter kreativitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (sig. 0,000<0,05) yaitu terdapat perbedaan yang signifikan tumbuhkembangnya kreativitas siswa yang diajarkan dengan model kooperatif berbasis masalah dibandingkan dengan siswa yang menggunakan model kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan hidrolisis garam. Pada (sig. 0,014 < 0,05) terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif berbasis masalah dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan hidrolisis garam. Peningkatan hasil belajar pada kelas pembelajaran kooperatif berbasis masalah (eksperimen 1) sebesar 66,9 % dan peningkatan hasil belajar pada kelas pembelajaran kooperatif tipe STAD (eksperimen 2) sebesar 60,42 %. Adapun efektivitas pembelajaran dari pembelajaran kooperatif berbasis masalah sebesar 9,69%.

(3)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Alloh SWT, Rabb semesta alam yang atas segala nikmat dan hidayah-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Berbasis Masalah untuk Menumbuhkembangkan Kreativitas dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Hidrolisis Garam”. Yang mana penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak (Alm) Prof. Dr. Suharta, M.Si sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah begitu banyak memberikan bimbingan, arahan, saran, motivasi, sumber materi, inspirasi serta waktunya kepada penulis sejak awal proses perencanaan penelitian ini sampai pada tahap perampungan penulisan skripsi ini, dan ucapan belasungkawa penulis haturkan sedalam-dalamnya atas kepergian beliau keharibaan-Nya tepat pada tanggal 15 Juni 2014 akibat penyakit stroke yang dialami, semoga beliau diberikan tempat terbaik oleh-Nya, aamiin. Ucapan terima kasih juga penulis haturkan pada Bapak Drs. Rahmat Nauli, M.Si selaku dosen pembimbing pengganti yang telah membimbing penulis hingga akhirnya penulis dapat meraih gelar Sarjana Pendidikan. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Mahmud, M.Sc, Bapak Dr. Ajat Sudrajat, M.Si. dan Bapak Drs. Amser Simanjuntak, M.Pd. selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran demi perbaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih kepada Ibu Dra. Gulmah Sugiharti, MPd. selaku Dosen Pembimbing Akademik dan kepada Bapak dan Ibu Dosen beserta staff pegawai jurusan kimia yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan membantu penulis selama perkuliahan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs. Sahlan Daulay, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Medan dan Bapak Drs. Ahmad Dahyar, M.Si. selaku guru kimia serta siswa-siswi kelas XI- IPA 1 dan XI- IPA 2 yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian.

(4)

juga kepada kakak dan adik-adik tersayang Rayhanah Bey Nasution, S.Pt., Hasienah Bey Nasution, Najmiyah Bey Nasution, dan M.A. Qoyyum Bey Nasution yang selalu memberi dukungan, doa serta semangat kepada penulis.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada rekan mahasiswa Pendidikan Kimia Ekstensi 2010 yang telah memberi corak kehidupan bagi penulis selama empat tahun bersama, terkhusus buat Anisa Zulaika dan Dede Suriyani, sahabat-sahabat yang selalu ada dan siap membantu kapan dan dimanapun, memberi semangat, motivasi dan dorongan dikala penat dan galau menghampiri, tak terkecuali saat dalam penyusunan skripsi ini. Kepada kepada Aiga Elisa, Evi Linda Sari, dan Rifzal Ardiyansyah teman seperjuangan yang senantiasa dapat bekerja sama dan saling memberi semangat. Kepada teman kosan, tanpa kalian proses pengerjaan skripsi ini terasa hampa. Dan terimakasih buat lingkaran cinta tarbiyah penuh barakah di jalan dakwah, teruntuk Mr tersayang kak Hafiza dan ukhtifillah tercinta Hilda Junanda, Yayuk Tri Maulani, Ida Marohana, Indah Mahdani, Juni Astuti, Sri Utami, dan yang lainnya syukron telah berbagi ilmu dan cinta-Nya dengan ana. Terkhusus buat akhwat UNIMED 2010 terima kasih telah membersamai diri di jalan dakwah dan memberi semangat dalam penulisan skripsi ini. Serta kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan memberi masukan kepada penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyelesaikan

skripsi ini, namun penulis sadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi,

susunan maupun tata bahasa. Karenanya penulis mengharapkan kritik dan

saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.

Kiranya isi skripsi ini bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu

pendidikan.

Medan, Juli 2014 Penulis

(5)

vi

2.3. Pendidikan Karakter 15

2.3.1. Kreativitas 16

2.4. Model Pembelajaran 18

2.5. Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis Masalah 18

2.6. Model Pembelajaran Kooperatif 22

2.7. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD 23

2.8. Hidrolisis Garam 24

2.9. Kerangka Berfikir 30

2.10. Hipotesis Penelitian 32

BAB III METODE PENELITIAN 33

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 33

3.2. Populasi dan Sampel 33

3.3. Variabel dan Instrument Penelitian 33

3.4. Rancangan dan Desain Penelitian 38

3.5. Prosedur Penelitian 39

(6)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 44

4.1. Analisis Instrumen Penelitian 44

4.1.1.Validitas Instrumen Tes 44

4.1.2. Reabilitas Instrumen Tes 44

4.1.3. Tingkat Kesukaran Instrumen Tes 45

4.1.4. Daya Pembeda Instrumen Tes 45

4.1.5. Distruktor 45

4.2. Deskripsi Data Penelitian 46

4.3. Uji Persyaratan Analisa Data 48

4.3.1. Uji Normalitas Data 49

4.3.2. Uji Homogenitas Data 49

4.4. Uji Hipotesis 50

4.4.1. Pengujian Hipotesis I 50

4.4.2. Pengujian Hipotesis II 51

4.5. Peningkatan Hasil Belajar 51

4.6. Besar Efektivitas 52

4.7. Pembahasan 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 56

5.1. Kesimpulan 56

5.2. Saran 56

(7)

ix

DAFTAR GAMBAR

(8)

Daftar Tabel

Halaman Tabel 2.1. Fase – Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD 24 Tabel 3.1. Tabel 3.1 Klasifikasi Analisis Validitas isi 35

Tabel 3.2 Rancangan Penelitian 38

Tabel 4.1 Rata-rata, Standar Deviasi, Minimum, Maksimum Nilai 47 Kreativitas Siswa Kelompok Sampel

Tabel 4.2 Rata-rata, Standar Deviasi, Minimum, Maksimum Data 47 Tes Awal Hasil Belajar kelompok Sampel

Tabel 4.3 Rata-rata, Standar Deviasi, Minimum, Maksimum Data 48 Tes Akhir Hasil Belajar Kelompok Sampel

Tabel 4.4 Rata-rata, Standar Deviasi, Minimum, Maksimum Data 48 Gain Hasil Belajar Kelompok Sampel

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Data 49

Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Data 50

Tabel 4.7 Hasil Uji Hipotesis kreativitas Siswa 51

(9)

x

Lampiran 4a. Kunci Jawaban Lembar Analisis Masalah Pertemuan I 87 Lampiran 4b. Kunci Jawaban Lembar Analisis Masalah Pertemuan II 89 Lampiran 5a. Tugas Diskusi Kelompok Sifat Garam Terhidrolisis 92

Pertemuan I

Lampiran 5b. Tugas Diskusi Kelompok Tetapan Hidrolisis Dan pH 93 Garam Terhidrolisis Pertemuan II

Lampiran 6a. Kunci Jawaban Bahan Diskusi I 94 Lampiran 6b. Kunci Jawaban Bahan Diskusi II 95

Lampiran 7. Kreativitas 96

Lampiran 8a. Kisi – Kisi Instrument Tes Sebelum Divalidasi 97 Lampiran 8b. Kisi – Kisi Instrument Tes Setelah Divalidasi 111 Lampiran 9a. Instrumen Penelitian Soal Sebelum Validasi 120 Lampiran 9b. Instrumen Penelitian Soal Setelah Validasi 128 Lampiran 10a. Kunci Jawaban Instrumen Tes Sebelum Validasi 133 Lampiran 10b. Kunci Jawaban Instrumen Tes Setelah Validasi 134 Lampiran 11. Format Lembar Jawaban 135 Lampiran 12. Validitas Instrument Penelitian 136

Lampiran 13. Reliabilitas 137

Lampiran 14. Perhitungan Tingkat Kesukaran Test 139 Lampiran 15. Perhitungan Daya Beda Test 141 Lampiran 16. Distruktor Hitung Test 142 Lampiran 17. Rekapitulasi Analisis Instrument Test 144 Lampiran 18. Lembar Observasi Nilai Kreativitas Siswa 146 Lampiran 19. Nilai Kreativitas Siswa Kelas Eksperimen 1 Dan 154

Kelas Eksperimen 2

Lampiran 20. Tabel Data Tes Awal, Tes Akhir dan Gain 157

Lampiran 21. Uji Normalitas 160

Lampiran 22. Uji Homogenitas 168

Lampiran 23. Uji Hipotesis Nilai Kreativitas 170 Lampiran 24. Uji Hipotesis Hasil Belajar 172 Lampiran 25. Perhitungan Peningkatan Hasil Belajar 170 Lampiran 26. Tabel Produk Moment 174

Lampiran 27. Daftar Istilah 175

Lampiran 28. Jadwal Penelitian 176

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam

kemajuan peradaban suatu bangsa karena pendidikan merupakan suatu upaya

yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan

satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogianya berfungsi sebagai alat

untuk membangun SDM yang bermutu tinggi (Trianto, 2009 ). Hal ini sejalan

dengan yang dinyatakan dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional nomor 20

tahun 2003 bab I pasal 1 dan ayat 1 yaitu:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Untuk dapat mewujudkan itu, ada banyak hal yang harus diperhatikan

mulai dari pengadaan tenaga pendidik sampai usaha peningkatan mutu

pendidikan. Dalam hal ini, kualitas pendidikan dipengaruhi oleh penyempurnaan

sistematik terhadap seluruh komponen pendidikan seperti peningkatan kualitas,

kurikulum yang disempurnakan, sumber belajar, sarana dan prasarana yang

memadai iklim pembelajaran yang kondusif, serta didukung oleh kebijakan

pemerintah, baik di pusat maupun di daerah. (Mulyasa, 2007).

Dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan yang ada pemerintah

terus-menerus melakukan perbaikan baik itu secara konvensional ataupun inovatif. Titik

fokusnya dititikberatkan pada Undang – Undang No. 20, Tahun 2003 pada pasal

3 yaitu;

(11)

2

mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Implementasi dari UU No. 20 Tahun 2003 diatas mengarah pada

terciptanya sebuah out-put pembelajaran yang bukan hanya mengasah segi

kognitif saja, namun juga diimbangi dengan berkembangnya aspek afektif dan

psikomotorik dari siswa, salah satunya tumbuh dan berkembangnya karakter pada

diri siswa.

Untuk mewujudkan amanah dari undang – undang tersebut, maka seorang

pendidik harus berusaha mengembangkan kegiatan pembelajaran yang tidak

hanya mencerdaskan peserta didik secara intelektual namun juga dapat

mengembangkan karakter yang dituntut dalam undang – undang tersebut.

Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan atau

menghasilkan sesuatu yang baru dan asli, yang sebelumnya belum dikenal

ataupun memecahkan masalah baru yang dihadapi. Karakter ini perlu

dikembangkan dalam pendidikan dengan berbagai upaya yang dapat

mempertahankan dan meningkatkan jiwa kreativitas siswa dalam kegiatan

pembelajaran.

Ilmu kimia merupakan salah satu bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam (

IPA) yang sudah diperkenalkan kepada siswa sejak dini. Mata pelajaran kimia

menjadi sangat penting kedudukannya dalam masyarakat karena kimia selalu

berada di dalam kehidupan sehari-hari (Situmorang, 2003). Pada penyelenggaraan

proses belajar mengajar di sekolah, seringkali mata pelajaran kimia dianggap

sebagai pelajaran yang paling sulit, sehingga hasil belajar siswa menjadi rendah.

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain,

kurangnya minat baca siswa, kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajaran,

guru yang terlalu mendominasi, terbatasnya buku panduan yang dimiliki, serta

pengajaran yang masih bersifat tradisional khususnya pengajaran tentang sains.

Observasi yang dilakukan di sekolah SMA Negeri 3 Medan pada bulan

Februari tahun 2014 dengan mengambil subyek observasi siswa kelas XI pada

beberapa kelasnya menghasilkan data bahwa proses pembelajaran yang dilakukan

(12)

model konvensional yang berpusat pada guru. Proses pembelajaran masih sangat

teoritis dan kurang menerapkan model yang sudah banyak dikembangkan oleh

para ahli saat ini. Dengan kata lain para pengajar masih mengandalkan model

konvensional serta jarang mengevaluasi keefektifan dari model yang

digunakannya dalam proses peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini berefek pada

prestasi hasil belajar siswa yang tidak maksimal.

Kesulitan belajar siswa perlu diatasi oleh guru supaya materi pembelajaran

dapat terkomunikasikan dengan baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru

yaitu dengan menggunakan model yang komunikatif dan efektif sehingga target

–target dari pendidikan dapat tercapai dengan baik.

Salah satu model yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan belajar

siswa yaitu penggunaan pembelajaran kooperatif berbasis masalah, yang mana

penggunaan pembelajaran model ini dimaksudkan agar dapat membuat

pembelajaran yang lebih efisien, inovatif, efektif, sekaligus menyenangkan serta

lebih melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga target-target

pembelajaran yang inginkan dapat tercapai. Pembelajaran kooperatif berbasis

masalah adalah pembelajaran hasil penggabungan antara pembelajaran berbasis

masalah dengan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif berbasis

masalah dikembangkan dengan mengambil kelebihan yang ada pada pembelajaran

berbasis masalah yang digabung dengan kelebihan yang ada pada pembelajaran

kooperatif.

Dalam pembelajaran kooperatif berbasis masalah, siswa dihadapkan pada

permasalahan yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Di samping itu,

permasalahan yang diungkapkan harus dikaitkan dengan tingkat berpikir anak

didik.

Model kooperatif berbasis masalah yang memusatkan pembelajaran

kepada siswa ( Student Center) berefek pada harusnya siswa aktif dalam setiap

kegiatan pembelajaran. Masalah yang diberikan harus dipecahkan dan

dipresentasikan secara berkelompok. Dari aktivitas belajar yang dilakukan oleh

siswa saat belajar itu, maka pengajar yang dibantu oleh observer kelas akan

(13)

4

siswa yang bermuara pada peningkatan hasil belajar siswa. (Suharta dan Luthan

P.L.A, 2013)

Berdasarkan dari sintak pembelajaran kooperatif berbasis masalah, aspek

penilaian pada setiap siswa baru dapat di ukur pada tahap ke- empat dari sintak

yang ada. Dimana pengukuran dimulai saat siswa mulai berdiskusi dalam

kelompok belajar. Pada tahap ini, karakter akan mulai tumbuh dan berkembang.

Nilai kreativitas siswa pada tahap ini bisa dilihat dari cara berpikir siswa dalam

menganalisa masalah dan bagaimana siswa menuangkannya dalam sebuah hasil

laporan diskusi nantinya.

Untuk melihat seberapa efektifnya pembelajaran kooperatif berbasis

masalah dalam meningkatkan hasil prestasi belajar siswa dan juga dalam

pembentukan karakternya, maka perlu dilakukan sebuah perbandingan. Dalam

penelitian ini nantinya model yang menjadi pembandingnya ialah pembelajaran

kooperatif tipe STAD. Dalam perbandingan ini hal yang disoroti ialah hasil

belajar siswa dan juga karakter yang terbentuk seiring berjalannya proses

belajar-mengajar. Dilihat dari sisi kesamaannya, kedua model ini sama-sama berporos

pada kelompok-kelompok kecil pada proses pembelajarannya (kooperatif)

sehingga memungkinkan adanya perkembangan karakter pada saat berjalannya

proses pembelajaran.

Slavin (dalam Nur,2000) menyatakan bahwa pada STAD siswa

ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan

campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan

pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa

seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa

diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan

saling membantu.(Istarani,2011)

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Khairiyah

Mohd-Yusof dkk (2010), menunjukkan bahwa dengan penggunaan pembelajaran

kooperatif berbasis masalah telah terjadinya efektivitas belajar serta peningkatan

hasil belajar siswa, yang mana sebanyak 97 % siswa mengalami peningkatan pada

(14)

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Ramlan Silaban dan Masita

Anggraini Napitupulu (2012) yang dilakukan dengan menggunakan analisis

korelasi, diperoleh bahwa ada hubungan antara kreativitas dengan hasil belajar

kimia siswa pada penggunaan mind mapping dalam pembelajaran advance

organizer dengan harga sig. 0,032 (tingkat kesalahan 3,2%) lebih kecil dari 0,050

(tingkat kesalahan 5%, tingkat kepercayaan 95%). Harga ini menunjukkan untuk

tingkat kepercayaan 95% ada hubungan antara kreativitas dengan hasil belajar

kimia siswa pada penggunaan mind mapping dalam pembelajaran advance organizer dapat diterima (sig.< α). Harga sig. 0,032 mempunyai makna bahwa hubungan antara kreativitas dan hasil belajar kimia siswa diyakini 96,8% pada

pembelajaran hidrokarbon.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh Ebta Ricardo (2009) mengenai

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Kimia

Siswa Pada Pokok Bahasan Larutan Asam Basa Di SMA Parulian T.A 2008/2009,

didapatkan hasil ada pengaruh pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil

belajar kimia dengan thit > ttabel yaitu 1.80 >1.667. Sedangkan hubungan antara

kreativitas dengan hasil belajar kimia siswa pada pembelajaran advance organizer

(kelas eksperimen 2), berdasarkan analisis korelasi dengan SPSS 17 diperoleh

harga sig. 0,000 (tingkat kesalahan 0%) lebih kecil dari 0,050 (tingkat kesalahan

5%, tingkat kepercayaan 95%). Harga ini menunjukkan untuk tingkat kepercayaan

95% ada hubungan antara kreativitas dengan hasil belajar kimia siswa pada

pembelajaran advance organizer.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti bermaksud untuk melakukkan

penelitian dengan judul: Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Berbasis

Masalah untuk Menumbuhkembangkan Kreativitas dan Meningkatkan Hasil

Belajar Siswa Pokok Bahasan Hidrolisis Garam”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diungkapkan di atas,

diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

(15)

6

2. Karakter pendidikan belum terbangun dalam proses pembelajaran di sekolah.

3. Siswa yang masih kurang aktif dalam proses belajar mengajar dikarenakan

pembelajaran masih berpusat pada guru.

4. Hasil belajar kimia masih rendah.

1.3. Batasan Masalah

Bertitik tolak dari masalah-masalah yang diidentifikasi di atas, beberapa

hal dibatasi sebagai berikut:

1. Sekolah yang diteliti adalah SMA Negeri 3 Medan, kelas XI IPA, semester

genap tahun ajaran 2013/2014.

2. Pokok bahasan yang diajarkan adalah sistem Hidrolisis Garam.

3. Model yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif berbasis masalah .

4. Model yang dijadikan pembanding adalah pembelajaran kooperatif tipe

STAD.

5. Karakter yang akan dikembangkan yaitu kreativitas yang diamati melalui

lembar observasi indikator standar pengukuran karakter kreativitas.

6. Hal yang diamati yaitu peningkatan hasil belajar siswa yang diukur melalui

tes berupa tes awal dan tes akhir.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan

masalah, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tumbuhkembangnya kreativitas

siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif berbasis

masalah dibanding dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD

pada pokok bahasan hidrolisis garam?

2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan hasil belajar siswa

yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif berbasis masalah

dibanding dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada

pokok bahasan hidrolisis garam?

3. Berapa besar efektivitas peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan

(16)

1.5. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai

dalam penelitian ini adalah untuk menunjukkan:

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan tumbuhkembangnya

kreativitas siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif

berbasis masalah dibanding dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe

STAD.

2. Untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan yang signifikan peningkatan hasil

belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif

berbasis masalah dibanding dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe

STAD.

3. Untuk mengetahui besarnya efektivitas peningkatan hasil belajar siswa yang

diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif berbasis masalah.

1.6. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:

1. Manfaat bagi siswa

Membantu siswa dalam proses belajar karena dengan adanya penerapan

pembelajaran kooperatif berbasis masalah dapat mendukung pembelajaran

siswa sehingga siswa akan lebih tertarik dan dapat lebih memahami

pembelajaran dengan cepat serta memotivasi siswa untuk lebih kreatif

dalam pembelajaran sehingga hasil belajar akan lebih baik.

2. Manfaat bagi guru

Memberikan wawasan berpikir bagi guru mengenai penggunaan model yang

tepat dalam proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan hasil belajar

siswa secara signifikan.

3. Manfaat bagi Mahasiswa Peneliti.

Memperoleh pengalaman serta pengetahuan mengenai model pembelajaran

(17)

8

1.7. Defenisi Operasional

Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini didefenisikan secara

operasional sebagai berikut:

1. Efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses

interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan guru dalam situasi edukatif

untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat

dari aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap

pembelajaran dan penguasaan konsep siswa.

2. Pembelajaran kooperatif berbasis masalah adalah suatu kombinasi dari

pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran berbasis masalah yang

menerapkan tantangan pada siswa untuk dapat memecahkan masalah yang

dihadapi, sehingga kemampuan siswa baik kognitif, afektif dan psikomotorik

dapat berkembang.

3. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari

pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok – kelompok kecil

dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang sisiwa secara homogen.

Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi,

kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok (Trianto, 2011 : 68).

4. Kreativitas belajar adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran,

keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk

mengelaborasi suatu gagasan.

5. Hidrolisis adalah materi ajar kimia kelas XI pada semester genap sesuai

dengan silabus pada kurikulum 2013. Hidrolisis merupakan reaksi penguraian

garam oleh air atau reaksi ion-ion garam dengan air yang dapat bersifat asam,

(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat perbedaan yang signifikan tumbuhkembangnya kreativitas siswa

yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif berbasis masalah dibanding

dengan siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada

pokok bahasan hidrolisis garam.

2. Terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan hasil belajar siswa yang

diajarkan dengan pembelajaran kooperatif berbasis masalah dibanding

dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pokok

bahasan hidrolisis garam.

3. Besar efektivitas dari pembelajaran kooperatif berbasis masalah berdasarkan

perhitungan yaitu 9,69%.

1.2. Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan, maka penulis menyarankan hal-hal

berikut :

1. Bagi guru atau calon guru disarankan untuk menerapkan pembelajaran

kooperatif berbasis masalah sebagai salah satu alternative pembelajaran untuk

menumbuhkembangkan kreativitas dan meningkatkan hasil belajar siswa

khususnya mata pelajaran hidrolisis garam.

2. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai

pembelajaran kooperatif berbasis masalah disarankan untuk

menggunakannnya pada pokok bahasan , karakter, dan sampel yang berbeda

agar dapat dilakukan perbandingan dalam tumbuhkembangnya karakter dan

peningkatan hasil belajar siswa dan kualitas pendidikan yang lebih baik

(19)

57

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S., (2012), Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Kedua), Penerbit PT Bumi Aksara, Jakarta

Darmadi, H., (2012), Belajar Pendidikan Karakter dari Thomas Lickona, www.hamiddarmadi.blogspot.com/2012/04/belajar-pendidikan-karakter-dari-thomas.html (diakses tanggal 20 januari 2014)

Daryanto, (2010), Inovasi Pembelajaran Efektif, Penerbit Yrama Widya, Bandung

Gie, T.H., (1985), Cara Belajar Yang Efisien. Gajah Mada University Press.,Yogyakarta.

Hamalik, O., (2001), Proses Belajar Mengajar, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Hasan, S.A.H.S., (2011), Cooperative Problem-Based Learning (CPBL): A Practical PBL Model For Engineering Courses, Universiti Teknologi Malaysia, Malaysia, 8: 366-367

Hurlock, E.B., (1992), Perkembangan Anak, Penerbit Erlangga, Jakarta

Ibrahim, M., (2000), Pembelajaran Kooperatif, Surabaya, UNESA.

Isjoni, (2009),Pembelajaran kooperaktif, Penerbit Pusat Belajar , Yogyakarta

Istarani, (2011), 58 Model Pembelajaran Inovatif, Model, Metode, Stratgi, Teknik, Referensi Guru dalam Menentukan Model Pembelajaran, Media Persada, Medan

Karlina, I., (2010), Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) sebagai Salah Satu StrategiMembangun Pengetahuan Siswa

Kementrian Pendidikan Nasional. (2011), Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdiknas

Lie, A., (2008), Cooperative Learning, Penerbit PT. Grasindo, Jakarta

Mellyzar, Silaban, R., Muchtar, Z., (2013), Efektivitas Model Pembelajaran untuk

Meningkatkan Hasil Belajar dan Kreativitas Siswa pada Pelajaran Kimia di Sekolah Menengah Atas, Universitas Negeri Medan, Medan. Vol. 10, No. 3, Tahun 2013.

Mulyasa, E., (2010) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung

(20)

Purwanto, (2011),Evaluasi Hasil Belajar,Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Riyanto, Y., (2009), Paradigma Baru Belajar, Penerbit Kencana, Jakarta

Sardiman, A.M., (2011), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Penerbit Raja Wali Pres, Jakarta

Silaban, R., dan Napitupulu, M.A., (2012) Pengaruh Media Mind Mapping terhadap Kreativitas dan Hasil Belajar Kimia Siswa SMA Pada Pembelajaran Menggunakan Advance Organizer, Universitas Negeri Medan, Medan

Silitonga, P.M., (2009), Statistik Teori dan Aplikasi dalam Penelitian, FMIPA, Universitas Negeri Medan, Medan.

Slameto, (2003), Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta

Slavin, E.R., (2005), Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik, Nusa Media, Bandung.

Suharta dan Luthan,P.L.A., (2013), Pengembangan Model Pembelajaran Dan Penyususnan Bahan Ajar Dengan Pendekatan PAKEM PLUS Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Menumbuhkembangkan Karakter Mulia Siswa Dalam Pelajaran Kimia Di SMA, Universitas Negeri Medan,Medan.

Suharta dan Syafriani,D. (2012), Sistem Pembelajaran Yang Optimal Untuk Menumbuhkan Perilaku Demokratis Dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pelajaran Kimia Di Sekolah Menengah Atas, Universitas Negeri Medan,Medan.

Suhartini, A., (2007), Belajar Tuntas, Lentera Pendidikan Edisi X No 1:1-14

Sudjana,N., (2003), Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Penerbit Rhineka Cipta, Bandung

Sudrajat, A., (2013), Pengembangan Perangkat Asesmen Kompetensi Praktikum Kimia Analitik Dasar Berbasis Task With Student Direction (TWSD) Bagi Mahasiswa Calon Guru, Disertasi, UPI, Bandung

Suprijono, A., (2010), Cooperatif learning ; Teori dan Aplikasi PAIKEM, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

(21)

59

Wahana Komputer, (2009), Panduan Praktis SPSS 17 Untuk Pengolahan Data Statistik, Penerbit Andi, Semarang

Widiastuti, H.,(2012),Peran Guru dalam Membentuk Siswa Berkarakter, Penerbit Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta

Yosuf, K.M., Hassan, S.H.A.S.,Jamaluddin, M.Z. dan Harun, N.F., (2011) Kooperatif berbasis masalah, Global Engineering Education Confrence,

Figur

Gambar 3.2Skema Prosedur Penelitian Hasil Belajar
Gambar 3 2Skema Prosedur Penelitian Hasil Belajar. View in document p.7
Tabel 2.1.  Fase – Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Tabel 2 1 Fase Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. View in document p.8
Tabel Data Tes Awal, Tes Akhir dan Gain
Tabel Data Tes Awal Tes Akhir dan Gain . View in document p.9
Tabel Produk Moment
Tabel Produk Moment. View in document p.9

Referensi

Memperbarui...