49
LAMPIRAN
Original Article
1 |
e-ISSN: 2581-0545 - https://journal.itera.ac.id/index.php/jsat/
PEMODELAN 3D BAWAH PERMUKAAN DAERAH PANAS BUMI GUNUNG UNGARAN JAWA TENGAH BERDASARKAN DATA MAGNETIK
M. Wahid Khoirun Nahar
*a, Ir. Syamsurijal Rasimeng, S.Si., M.Si.
b, Dr. Nono Agus Santoso, S.Si., M.T.
ca Teknik Geofisika, Institut Teknologi Sumatera
b Teknik Geofisika, Universitas Lampung
c Teknik Geofisika, Institut Teknologi Sumatera
* Corresponding E-mail: [email protected]
Abstract:
Geothermal energy are known as sustainable energy which utilizes a heat source and fluid below the earth's surface as an energy source. Geothermal utilization in Indonesia is minimal and not optimal. Ungaran Mount is one of the geothermal prospects indicated by the manifestation of hot springs scattered in the areas of Gedongsongo, Nglimut, Diwak, Banaran and Kendalisodo. Geologically, Ungaran Mount was formed as a result of a volcanic-tectonic depression and has evolved over three periods. Magnetic methods are used in the investigation of geothermal areas by utilizing variations in rock susceptibility. The low magnetic anomaly represents the rock alteration zone and is strongly suspected as a reservoir. Then, to strengthen the estimation of the geothermal prospect area, inversion modeling is carried out to obtain a 3D model that represents the subsurface conditions of the alleged geothermal area. The results showed that the Gedongsongo, Nglimut and Kendalisodo areas have geothermal potential with the discovery of reservoirs. The results of the 3D model indicate the presence of a reservoir with susceptibility values in the range of -0.0113 SI to 0.05 SI.Keywords:
Geothermal, Ungaran Mount, Magnetic, SuceptibilityAbstrak:
Energi panas bumi diketahui sebagai energi berkelanjutan (sustainable) yang memanfaatkan sumber panas dan fluida di bawah permukaan bumi sebagai sumber energi. Pemanfaatan panas bumi di Indonesia tergolong minim dan belum optimal.Gunung Ungaran merupakan salah satu prospek panas bumi yang diindikasikan dengan adanya manifestasi mata air panas yang tersebar di daerah Gedongsongo, Nglimut, Diwak, Banaran dan Kendalisodo. Secara geologi Gunung Ungaran terbentuk akibat depresi volkano-tektonik dan telah mengalami evolusi dalam tiga periode. Metode magnetik digunakan dalam investigasi daerah panas bumi dengan memanfaatkan variasi suseptibilitas batuan. Anomali magnetik rendah merepresentasikan adanya zona alterasi batuan dan diduga kuat sebagai reservoir. Kemudian untuk menguatkan dugaan daerah prospek panas bumi dilakukan Pemodelan inversi untuk mendapatkan model 3D yang merepresentasikan keadaan bawah permukaan dugaan daerah panas bumi. Hasil penelitian menunjukkan daerah Gedongsongo, Nglimut dan Kendalisodo memiliki potensi panas bumi dengan ditemukannya reservoir. Hasil model 3D menunjukkan dugaan adanya reservoir dengan nilai suseptibilitas pada rentang -0.0113 SI hingga 0.05 SI.
Kata Kunci
:Panas Bumi, Gunung Ungaran, Magnetik, SuseptibilitasJournal of Science and Applicative Technology Original Article
2 |
Pendahuluan
Energi panas bumi diketahui sebagai energi berkelanjutan (sustainable) yang memanfaatkan sumber panas dan fluida di bawah permukaan bumi sebagai sumber energi [1]. Energi ini merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan dan menjanjikan di masa depan [2]. Pemanfaatan energi panas bumi tergolong minim dan belum dioptimalkan di Indonesia.
Sementara itu, wilayah Indonesia merupakan wilayah yang dikelilingi oleh jalur pegunungan aktif (ring of fire). Dengan demikian, Indonesia mempunyai potensi panas bumi yang melimpah.
Gunung Ungaran di Jawa Tengah merupakan salah satu prospek panas bumi di Indonesia yang diperkirakan mempunyai sumber daya 50 MWe dan berpotensi dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)[3]. Indikasi sistem panas bumi ditunjukkan dengan munculnya manifestasi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran. Manifestasi panas bumi yang terdapat di daerah ini yaitu adanya fumarol di daerah Gedongsongo, mata air panas tersebar di daerah Nglimut, Kaliulo, Diwak, dan Banaran [4]. Salah satu cara untuk menyelidiki adanya sistem panas bumi yaitu dilakukan eksplorasi menggunakan metode magnetik.
Metode magnetik merupakan teknik investigasi bawah permukaan yang memanfaatkan adanya variasi suseptibilitas dari suatu batuan. Secara umum metode ini memanfaatkan nilai intensitas medan magnet yang terukur di permukaan bumi. Variasi intensitas medan magnet yang berbeda di permukaan bumi mengindikasikan adanya anomali medan magnetik. Anomali magnetik menunjukkan nilai suseptibilitas batuan penyusun daerah tersebut sehingga dapat diperkirakan jenis batuan yang ada di bawah permukaan bumi [5]. Beberapa hasil penelitian geofisika yang telah dilakukan menunjukkan jika daerah prospek panas bumi ditunjukkan dengan anomali magnetik yang rendah [6] [7].
Penelitian geofisika menggunakan metode magnetik untuk menganalisis potensi panas bumi Gunung Ungaran telah banyak dilakukan. Diantaranya penelitian di lereng utara Gunung Ungaran yang menunjukkan adanya sesar turun merupakan zona lemah yang diterobos oleh fluida panas sehingga muncul mata air panas di daerah Nglimut dan Medini [8]. Kemudian penelitian di daerah Gedongsongo menyimpulkan jika sistem panas bumi di daerah tersebut terdiri dari sumber panas bumi, struktur dan batuan alterasi [9]. Pada penelitian kali dilakukan pemodelan inversi 3D untuk melengkapi penelitian sebelumnya dengan tujuan
mendapatkan gambaran keadaan geologi di bawah permukaan dari daerah penelitian.
Geologi Regional
Gunung Ungaran adalah Gunung Api Kuarter yang berada di sisi paling timur dari Pegunungan Serayu Utara. Kawasan Gunung Ungaran di sebelah selatan merupakan jalur vulkanik Kuarter yang terdiri dari Gunung Sumbing, Telomoyo, serta Merbabu. Kemudian pada bagian utara berbatasan dengan Dataran Aluvial Jawa Utara. Adapun kawasan Gunung Ungaran pada sisi timur dibatasi oleh Pegunungan Kendeng.
Gunung Ungaran terbentuk akibat depresi volkano-tektonik [10]. Gunung Ungaran mengalami evolusi dan terbagi pada tiga periode. Periode pertama terjadi pada masa Plestosen Bawah terbentuk Gunung Ungaran Paling Tua yang menghasilkan produk berupa lava andesit basaltik, serta aliran piroklastik. Kemudian pada periode kedua terbentuk Gunung Ungaran Tua yang menghasilkan produk berupa basalt andesitik serta terjadi sistem sesar volkano-tektonik.
Periode ketiga yaitu terbentuknya Gunung Ungaran Muda dari pusat letusan Gunung Ungaran Tua yang menghasilkan produk berupa aliran lava dengan kandungan basaltik dan andesitik.
Adapun jenis batuan yang terdapat di Gunung Ungaran cukup beragam mencakup gabbro, andesit piroksen, basalt, dan andesit hornblende. Selanjutnya morfologi Gunung Ungaran dapat digolongkan menjadi beberapa satuan morfologi utama yaitu morfologi Gunung Ungaran Muda (daerah puncak, lereng dan kaki), morfologi Gunung Ungaran Tua, kerucut gunung api, daerah manifestasi panas bumi dan dataran aluvial.
Gambar 1. Peta geologi kompleks Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
(dimodifikasi dari [11] [12].
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
3 |
Metode
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder magnetik dengan jumlah pengukuran sebanyak 174 titik pengukuran yang diperoleh dari [13].
Data tersebut kemudian diproses menggunakan software Oasis Montaj yang menghasilkan model inversi 3D kemudian menampilkan distribusi nilai suseptibilitas batuan. Nilai suseptibilitas batuan tersebut dapat digunakan untuk melakukan interpretasi model bawah permukaan. Tahapan proses yang akan dilakukan dalam penelitian ini divisualisasikan dalam diagram alir pada Gambar 2 sebagai berikut:
Gambar 2. Diagram Alir Penelitian
Hasil dan Pembahasan
Peta Total Magnetik Intensitas (TMI)
Peta total magnetik intensitas (TMI) merupakan peta hasil penggabungan dari semua anomali yakni anomali regional, residual dan noise dan masih bersifat dipol. Berdasarkan peta TMI pada Gambar 3 daerah penelitian memiliki intensitas medan magnet total pada rentang -1642 nT hingga 1180 nT. Peta TMI masih bersifat dipol sehingga menyulitkan intrepetasi dan belum menunjukkan anomali tepat di atas permukaan.
Gambar 3. Peta total magnetik intensitas (TMI) kompleks Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Peta Reduce to Pole (RTP)
Reduksi ke kutub yaitu teknik transformasi data magnetik yang mengubah anomali magnetik dari peta TMI yang bersifat dipol menjadi monopol. Hasil peta RTP pada pada Gambar 4 menunjukkan daerah penelitian memiliki rentang nilai anomali magnetik dari rentang -1100 nT hingga 1620 nT.
Gambar 4. Peta reduce to pole (RTP) kompleks Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Peta Anomali Regional
Tahapan selanjutnya peta RTP dilakukan filter menggunakan gaussian, untuk memisahkan anomali regional dan residual.
Anomali regional memiliki frekuensi rendah dan memberikan
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
4 | informasi mengenai benda sumber anomali pada daerah
yang lebih dalam. Pada peta anomali regional yang ditunjukkan Gambar 5 dapat dijelaskan anomali pada daerah utara memiliki nilai anomali tinggi kemudian semakin ke arah selatan anomali cenderung rendah. Adapun rentang anomali magnetik pada peta regional berkisar antara -319 nT sampai dengan 1048 nT.
Gambar 5. Peta anomali regional kompleks Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Peta Anomali Residual
Selain diperoleh peta anomali regional, selanjutnya diperoleh peta anomali residual yang didapatkan dari pengurangan data RTP dengan hasil anomali regional. Pada peta anomali residual dapat menjelaskan anomali lokal yang memberikan informasi pada kedalaman yang dangkal.
Berdasarkan peta anomali residual yang ditunjukkan Gambar 6 ini memiliki rentang nilai anomali dari -1164 nT hingga 754 nT .
Gambar 6. Peta anomali residual kompleks Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Pemodelan 3D
Pemodelan inversi 3D dilakukan dengan menggunakan software Oasis Montaj. Adapun data yang digunakan dalam melakukan inversi 3D berupa data anomali magnetik yang telah dilakukan proses reduce to pole. Untuk sumbu X merupakan longitude kemudian sumbu Y adalah latitude dan sumbu Z adalah kedalaman. Pada pemodelan 3D mesh parameter yang digunakan adalah 470 x 470 x 225 meter.
Untuk number of cells x, y, z masing-masing adalah 38m x 49m x 18m dan memiliki kedalaman mencapai 4200 meter di bawah permukaan tanah daerah penelitian. Hasil inversi menunjukkan nilai error 6,7%. Bentuk dari pemodelan inversi 3D dapat dilihat pada Gambar 7 yang menunjukkan variasi nilai suseptibiltas daerah penelitian dari rentang -0.011 SI hingga 0.18 SI.
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
5 |
Gambar 7. Model inversi 3D daerah Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Selanjutnya penelitian berfokus pada daerah Kendalisodo, Gedongsongo dan Nglimut sebagai daerah yang diduga memiliki potensi panas bumi yang diindikasikan dengan munculnya manifestasi panas bumi seperti mata air panas, tanah beruap, fumarol dan solfatara. Pada hasil model 3D dilakukan slice masing-masing yaitu lintasan A-A’ yang memotong daerah manifestasi di Kendalisodo, lintasan B-B’
yang memotong daerah Gedongsongo (lereng selatan) dan lintasan C-C’ yang memotong daerah Nglimut di (lereng utara). Pada penelitian ini dilakukan pemodelan inversi 3D kemudian dilakukan slice yang memotong daerah manifestasi Kendalisodo dengan arah lintasan dari timur menuju barat sesuai lintasan A-A’’A’ seperti ditunjukkan pada Gambar 8 dari hasil pemodelan inversi 3D diperoleh dugaan manifestasi mata air panas Kendalisodo berada diantara kontras suseptibilitas rendah dan tinggi diduga zona lemah diduga sebagai discharge area. Pada Gambar 8 daerah berwarna hijau yang dibatasi garis putus-putus diduga sebagai cap rock yang memiliki nilai suseptibilitas 0,07 SI hingga 0,06 SI diintrepetasikan sebagai hasil endapan vulkanik bagian dari formasi Gajahmungkur diperkirakan pada kedalaman 200 sampai 400 meter dari permukaan.
Adapun reservoir memiliki nilai suseptibilitas rendah berwarna biru dengan kisaran nilai 0,05 SI sampai -0,0113 SI diduga sedimen vulkanik yang mengalami alterasi hidrotermal terdiri dari breksi vulkanik terekahkan, batu pasirtufan diduga merupakan lapisan yang memiliki porositas baik dan bersifat permeable. Nilai suseptibilitas reservoir cenderung rendah diduga akibat susunan lapisan
yang didominasi sedimen vulkanik dan adanya pengaruh panas sehingga terjadi demagnetisasi batuan. Reservoir diduga berada pada kedalaman 500 meter hingga 3000 meter dari permukaan.
Gambar 8. Hasil pemodelan 3D lintasan A-A’’-A’ daerah Kendalisodo dilihat dari arah selatan.
Adapun Gambar 9 merupakan hasil pemodelan 3D yang dilihat dari arah tenggara yang menjelaskan daerah panas bumi memiliki nilai suseptibilitas yang lebih rendah dibanding daerah disekitarnya. Daerah dengan nilai suseptibilitas tinggi berkisar pada nilai 0,16 SI hingga 0,18 SI diduga merupakan batuan beku andesit. Sumber panas daerah Kendalisodo diduga berasal dari Gunung Kendalis berupa instrusi magma dan memiliki sistem panas bumi yang berbeda dengan Gunung Ungaran.
A’
A
Kendalisodo Banaran
A’’
A’’’
Lintasan A-A’ pada daerah Kendalisodo (Dilihat dari arah selatan)
U
A A’
A’’
1000 0
-2000 -3000 1000
A’’
A’’
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
6 |
Gambar 9. Hasil pemodelan 3D lintasan A-A’’-A’’’ daerah Kendalisodo dilihat pada arah tenggara.
Berdasarkan Gambar 10 daerah dekat dengan permukaan berwarna hijau diperkirakan memiliki suseptibilitas 0,06 SI hingga 0,07 SI diduga merupakan endapan piroklastik produk Ungaran Muda berupa aliran lava andesit, lahar breksi dan aliran piroklastik bersifat impermeable yang mengandung mineral argilik diduga sebagai batuan penudung dengan estimasi tebal 200 meter diduga berada pada kedalaman 50 meter hingga 250 meter dari permukaan. Terbentuknya cap rock ditandai adanya mineral augit yang telah mengalami alterasi hidrotermal sehingga membentuk mineral lempung.
Adanya mineral lempung menyebabkan cap rock bersifat impermeable sehingga cap rock mampu menahan panas agar tetap berada pada reservoir. Mineral augit merupakan bagian dari mineral pyroxene adapun informasi geologi penelitian menunjukkan adanya batuan dengan kandungan augit-pyroxene di permukaan sehingga dugaan tersebut saling berkorelasi. Kemudian pada kedalaman 300 meter hingga 3000 meter dari permukaan terdapat area yang memiliki suseptibilitas rendah digambarkan berwarna biru dengan nilai suseptibiltas 0,05 SI hingga -0,0113 SI. Nilai suseptibilitas yang cenderung rendah ini diduga diakibatkan adanya alterasi hidrotermal. Adapun lapian ini diintrepetasikan sebagai sedimen vulkanik diantaranya terdiri dari breksi memiliki banyak rekahan dan batupair tuffan sehingga bersifat permeable dan memiliki porositas
yang baik. Dengan berbagai penjabaran di atas disimpulkan jika daerah tersebut diduga berfungsi sebagai reservoir dengan estimasi tebal berkisar 2700 meter. Dugaan daerah hot rock berasal dari batu beku andesit yang masih menyimpan panas ditemukan dugaan ditandai daerah warna merah dengan anomali magnetik tinggi pada rentang 0,09 sampai 0,1 SI pada kedalaman lebih dari 3000 meter dari permukaan. Batuan ini diduga sebagai batuan beku andesit hasil ubahan. Andesit ubahan ini memiliki nilai suseptibilitas lebih rendah dibanding batuan andesit disampingnya, hal ini diduga akibat pengaruh panas dari magma. Dugaan ini dikuatkan dengan munculnya batu beku andesit yang tersingkap di permukaan dan sesuai geologi daerah penelitian dengan adanya satuan batuan intrusi andesit (Tma). Sehingga dari hasil model 3D didapati heat source berupa batuan beku andesit yang masih menyimpan panas sisa dari sumber panas Gunung Ungaran Muda. Hasil pemodelan inversi 3D ini secara umum menunjukkan daerah Gedongsongo memiliki sistem panas bumi yang terdiri dari cap rock, reservoir dan heat source. Adapun reservoir tepat berada di atas dari heat source sehingga daerah Gedongsongo merupakan zona upflow hal ini berkorelasi dengan informasi geokimia yang menjelaskan daerah Gedongsongo merupakan zona upflow. Berdasarkan penjabaran tersebut daerah Gedongsongo memiliki sumber panas yang berbeda dengan daerah Kendalisodo sehingga reservoir daerah Gedongsongo dan Kendalisodo tidak setipe dan tidak saling berkaitan, sehingga disimpulkan jika kedua daerah memiliki sistem panas bumi yang berbeda dan terpisah satu sama lain.
A’
A
Kendalisodo Banaran
A’’
A’’’
Lintasan A-A’’-A’’’ pada daerah Kendalisodo (Dilihat dari arah tenggara)
Batu beku andesit
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
7 |
Gambar 10. Hasil pemodelan 3D lintasan B-B' dilihat dari arah selatan yang melewati daerah manifestasi panas bumi Gedongsongo.
Pada penelitian ini dilakukan slice yang memotong daerah manifestasi mata air panas Nglimut dengan arah lintasan barat menuju timur sesuai dengan lintasan C-C”-C’. Hasil Pemodelan 3D seperti ditunjukkan Gambar 11 menjelaskan daerah mata air panas Nglimut berada diatas daerah yang diduga sebagai reservoir dan memiliki nilai suseptibilitas rendah. Pemodelan 3D menunjukkan terdapat daerah dekat dengan permukaan berwarna hijau diperkirakan memiliki memiliki suseptibilitas 0.05 SI sampai 0.06 SI diduga merupakan endapan piroklastik Gunung Ungaran Muda berupa aliran lava andesit, lahar breksi dan aliran piroklastik bersifat impermeable diduga sebagai batuan penudung.
Daerah ini ditemukan pada kedalaman 200 meter hingga 700 meter dari permukan dengan estimasi ketebalan 500 meter.
Kemudian pada kedalaman dibawah 800 meter terdapat
area yang memiliki suseptibilitas rendah digambarkan berwarna biru dengan nilai suseptibiltas 0.05 SI hingga - 0.0113 SI diduga merupakan batuan vulkanik memiliki banyak rekahan telah mengalami alterasi hidrotermal diduga berfungsi sebagai reservoir. Kemudian pada Gambar 11 memunjukkan daerah Nglimut dilihat dari arah barat yang menunjukkan daerah tersebut dibatasi daerah warna merah dengan anomali magnetik tinggi di sebelah selatan diduga sebagai batuan beku andesit dengan suseptibilitas berkisar 0.15 SI hingga 0.18 SI. Berdasarkan hasil pemodelan inversi 3D pada daerah Nglimut hanya teridentifikasi cap rock dan reservoir, adapun heat source diduga tidak tepat berada di bawah reservoir sehingga Nglimut disimpulkan berada pada zona hal ini berkorelasi dengan data geokimia. Heat source diduga berasal dari batu beku andesit yang masih menyimpan panas yang berasal dari sisa sumber panas Gunung Ungaran Muda. Sehingga disimpulkan jika sistem panas bumi Gedongsongo dan Nglimut merupakan sistem yang sama dan satu kesatuan.
Adapun Gambar 12 merupakan hasil pemodelan 3D yang dilihat dari arah barat dengan lintasan C-C’’-C’’’yang menjelaskan daerah panas bumi memiliki nilai suseptibilitas rendah dibaagian utara sedangkan daerah dengan nilai suseptibilitas tinggi berkisar pada nilai 0,16 SI hingga 0,18 SI diduga merupakan batuan beku andesit di sebelah selatan.
Pada slice ini terlihat heat source tidak tepat berada dibawah dari reservoir sehingga daerah Nglimut merupakan zona outflow, aliran hidrotermal diduga menyebar secara lateral.
Sumber panas daerah Nglimut dan Gedongsongo memiliki kesamaan diduga berasal dari sisa sumber panas dari Gunung Ungaran Muda.
U Lintasan B-B’ pada daerah Gedongsongo
(Dilihat dari arah selatan)
B B’
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
8 |
Gambar 11. Hasil pemodelan 3D daerah panas bumi Nglimut pada lintasan C-C’’-C’ dilihat dari arah utara.
Gambar 12. Hasil pemodelan 3D lintasan daerah Nglimut C-C’’-C’’’
dilihat dari arah timur.
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini ialah:
1. Berdasarkan peta reduce to pole persebaran anomali magnetik daerah penelitian berada pada rentang -1100 nT hingga 1620 nT dengan kecenderungan anomali magnetik tinggi berada di daerah utara pada rentang berkisar 544 nT hingga 1620 nT. Kemudian terdapat anomali magnetik sedang ditunjukkan warna hijau- kuning dengan rentang nilai dari 20 nT sampai 543 nT yang tersebar di tengah kemudian terdapat adanya anomali magnetik rendah berkisar -1100 nT hingga 19 nT di daerah selatan yang berdekatan dengan manifestasi mata air panas. Adanya anomali magnetik yang rendah dekat dengan mata air panas mengindikasikan adanya batuan alterasi akibat pengaruh panas.
2. Hasil permodelan 3D menunjukkan daerah Gedongsongo, Nglimut dan Kendalisodo diperkirakan memiliki potensi panas bumi dengan ditemukannya reservoir pada rentang suseptibilitas yang rendah berkisar -0.0113 SI hingga 0.05 SI.
Lintasan C-C’’-C’ Pada Daerah Mata Air Panas Nglimut (Dilihat dari arah utara)
C C’’ C’
U
Lintasan C-C’’-C’’’ Pada Daerah Mata Air Panas Nglimut (Dilihat dari arah timur)
Journal of Science and Applicative Technology Original Article
9 |
Ucapan Terimakasih
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen dan staf pengajar program Studi Teknik Geofisika Institut Teknologi Sumatera yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini.
Daftar Pustaka
[1] Tester, J. W., Anderson, B. J., Batchelor, A. S., Blackwell, D. D., DiPippo, R., Drake, E. M., Livesay, B., Moore, M. C., Nichols, K., Petty, S., Toksoz, M. N., & Veatch, R. W. (2006). The Future of Geothermal Energy - Impact of Enhanced Geothermal Systems (EGS) on the United States in the 21st Century. In MIT Cambridge: Massachusetts Institute of Technology. www1.eere.energy.gov/geother mal/pdf/future_geo_energy.pdf.
[2] Sahdarani, D. N., Ponka, M. A., & Oktaviani, A.
D. (2020). Geothermal Energy As An Alternative Source For Indonesia’s Energy Security: The Prospect And Challenges. Journal of Strategic
and Global Studies, 3(1).
https://doi.org/10.7454/jsgs.v3i1.1024.
[3] Kementerian ESDM. (2017). Potensi Panas Bumi Indonesia Jilid 1 (1st ed., Vol. 53, Issue 9).
Jakarta: Direktorat Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
[4] Budiarjo, Budihardi, & Nugroho. (1997).
Resources Characteristic of the Ungaran Field, Central Java, Indonesia. Proceedings of the National Seminar of Human Resources Indonesian Geologist, Geological Engineering Mineral Tecnology Faculty, 35–43.
[5] Telford, W. M., Geldart, L. P., & Sheriff, R. E.
(1990). Applied Geophysics. In Nature.
Edinburgh: Cambridge University Press.
https://doi.org/10.1038/127783a0.
[6] Maubana, W. M., Maryanto, S., Utami, I. W., &
Nadir, A. (2019). Reservoir Magnetic Anomaly at Geothermal Area of Mount Pandan, East Java, Indonesia. International Journal of Renewable Energy Research, 9(2), 887–892.
[7] Rasimeng, S., Tarigan, J. L., Ferucha, I., &
Robbani, M. A. (2020). Identification of Geothermal Reservoir Based On 3D Modeling of Data Anomaly Magnetic Residual Reduction to Pole in the Region of Geothermal Prospect Villamasin East Oku. Society of Exploration Geophysicists, 1, 3407–3411.https://doi.org/1 0.1190/segam2020-3412730.1.
[8] Nurdiyanto, B., Wahyudi, & Imam, S. (2004).
Analisis Data Magnetik Untuk Mengetahui Struktur Bawah Permukaan Daerah Manifestasi Air Panas di Lereng Utara Gunung Api Ungaran.
Proceeding The 29th HAGI Annual Meeting, 36–
45.
[9] Fatimah, F. (2018). Analisis Potensi Panas Bumi Dengan Metode Geomagnet di Daerah Gedong Songo Ungaran Jawa Tengah. Jurnal Ilmiah Bidang Teknologi, 10, 9–16.
[10] Van Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia. General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes. In Government Printing Office, The Hague (pp. 545–547; 561–562).
[11] Hadisantono, R. D., & Sumpena, A. D. (1993).
Laporan Pemetaan Daerah Bahaya G. Ungaran dan Sekitarnya, Jawa Tengah, Proyek Pengamatan/Pengawasan dan Pemetaan Gunungapi. Bandung: Dep. Pertambangan dan Energi, Dir. Jend. Geol. Sumberdaya Min., Dit.
Volkanologi.
[12] Thanden, R., Sumadirdja, H., Richard, P., Sutisna, K., & Amin, T. (1996). Peta Geologi Regional Lember Magelang dan Semarang, skala 1 : 100.000. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
[13] Rasimeng, S., K.S., Brotopuspito, & Wahyudi.
(2004). Interpretation of Second Order Vertical Derivative of Magnetik Field Data Anomali for Determine Position of Geothermal Sources at Ungaran Volcano Area. Proceeding The 29th HAGI Annual Meeting.