SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
NUR AMALIA 105 19 00931 10
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
1435 H/2014 M
Dengan Judul :
ANALISIS KETERAMPILAN GURU MENGELOLA KELAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS XI SMA NEGERI 6 KOTA MAKASSARNama : NUR AMALIA Nim/Stambuk : 105 190 0931 10
Fakultas/Jurusan : Agama Islam/Pendidikan Agama Islam
Setelah dengan seksama memeriksa dan meneliti, maka skripsi penelitian ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diajukan dan dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 18 Ramadhan 1435 H 15 Juli 2014 M
Disetujui :
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Abd Rahim Razaq.M.Pd. Amirah Mawardi, S.Ag.M.Si.
NIDN: 9909005374 KTAM : 774234
PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi Atas Nama NUR AMALIA, Nim 105190093110, yang berjudul “Analisis Keterampilan Guru Mengelola Kelas Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI Sma Negeri 6 Kota Makassar” telah diujikan pada hari minggu, 05 Dzulqaiddah 1435 H, bertepatan dengan 31 Agustus 2014 M dihadapan penguji dan dinyatan telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Serjana Pendidikan Islam pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 6 Dzulqaiddah 1435 H 01 September 2014 M Dewan Penguji,
1.Ketua : Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I. (………..)
2. Sekertaris : Drs. Abd. Rahim Razaq, M.Pd (………..) 3. Tim Penguji :1. Abd.Azis Muslimin S.Ag.M.Pd.I (………..)
2. Drs.H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I (………..) 3. Dr.Abd Rahim Razaq.M.Pd (………..) 4. Amirah Mawardi, S.Ag,M.Si (………..)
Disahkan Oleh
Dekan Fakultas Agama Islam
Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I NBM: 554 612
ii
ini, menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya penyusun sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat, dibuat atau dibantu orang lain secara keseluruhan, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Makassar, 19 Syawal 1435 H 15 Agustus 2014 M
Penyusun
NUR AMALIA 105190093110
iii Razaq Dan Amirah Mawardi)
Skripsi ini merupakan suatu pembahasan dengan tujuan penelitian sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui keterampilan guru dalam mengelola kelas pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar (2) Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar (3) Untuk mengetahui keterampilan guru mengelola kelas dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan model penelitian PTK melalui pendekatan analisis statistik deskripsif yang bertujuan memberikan gambaran tentang peningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI SMA Negeri 6 Kota Makassar melalui keterampilan guru mengelola kelas.
Subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar dengan jumlah sampel 31 orang siswa. Data diperoleh melalui pedoman inteview/wawancara, pedoman observasi, butir- butir tes, dan format dokumentasi, lalu data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan analisa statistik deskriptif melalui siklus pra siklus, siklus I sampai siklus II data tersebut, maka diperoleh deskrifsi bahwa keterampilan guru mengelola kelas memang sudah diterapkan pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar. Sehingga terdapat beberapa siswa yang serius dalam mengikuti pembelajaran, namun tidak sedikit pula yang menggeletakkan kepala diatas meja, menguap, melamun, serta beraktivitas sendiri, mereka mengkondisikannya. Hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap keterampilan guru mengelola kelas pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar, menunjukan keaktifan seluruh siswa dengan jumlah 31orang dalam mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung.
Diperoleh deskrifsi bahwa keterampilan guru mengelola kelas dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya angka rata-rata hasil belajar siswa dari 73, 95 % sebelum guru menggunakan keterampilan mengelola kelas menjadi 84, 37% sesudah guru menggunakan keterampilan mengelola kelas.
iv
KATA PENGANTAR
ﺴﺒ م ﻴﺤﺮﻟﺍﻦﻣﺤﺮﻟﺍﻪﻟﻟﺍ م
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya. Shalawat beriring salam senantiasa penulis haturkan kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, yang telah membawa umat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang, seperti yang telah dirasakan sampai pada saat ini.
Banyak kendala yang dihadapi penulis dalam rangka penyusunan skripsi ini, tetapi berkat bantuan dari berbagai pihak maka skripsi ini dapat penulis selesaikan pada waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat:
1. Kedua orangtua tercinta Ayahanda Nasjuadil dan Ibunda Relawati yang telah membesarkan, mendidik dan mendoakan keberhasilan penulis yang tidak henti-hentinya memberikan kasih sayangnya, dukungan dan pengorbanan yang tulus dan ikhlas dalam penyelesaian skripsi ini.
2. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan izin kepada peneliti sehingga pelaksanaan penelitian dapat dilakukan.
v
3. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar beserta Wakil Dekan I, II, III dan IV dan seluruh civitas akademik Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Dr. Abd.Rahim Razaq, M.Pd. dan Ibu Amirah Mawardi, S.Ag.,M.Si.
pembimbing I dan pembimbing II penulis, yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam usaha membimbing dan mengarahkan dalam penulisan skripsi ini mulai dari awal hingga selesai.
5. Ibu Amirah Mawardi,S.Ag.,M.Si. ketua jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak membantu penulis mulai dari ilmu pengetahuan, penyelesaian judul hingga pengesahannya.
6. Segenap bapak dan ibu dosen yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmunya kepada penulis selama menuntut ilmu di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
7. Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Makassar yang telah bersedia memberikan izin dan waktu kepada penulis untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas pada sekolah yang dipimpinnya.
8. Dra.Mukarramah, Guru Pendidikan Agama Islam yang telah bersedia mengizinkan penulis dalam pelaksanaan penelitian ini, serta membantu penulis dalam mengumpulkan data dan terlibat sebagai praktisi dalam pelaksanaan pembelajaran pada penelitian ini.
vi
9. Siswa Kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar, subjek penelitian yang telah ikut serta dalam penelitian ini.
10. Dewan guru serta Staf Tata Usaha SMA Negeri 6 Makassar yang telah membantu penulis selama pelaksanaan penelitian.
11. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Agama Islam angkatan 2010 terkhusus kelas C Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah bersama-sama berjuang selama ± 4 tahun di bangku perkuliah Serta Sahabat-sahabat tersayang : Lisyulianti, Rirus, Maryati, Arni dan teman-teman seangkatan.
terimahkasih atas solidaritas yang diberikan selama menjalani perkuliahan. Semoga kebersamaan selama ini tidak berakhir sampai disini.
12. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan yang tidak sempat disebutkan satu persatu, penulis mend oakan semoga semua amaliyah diterima dan dilipat gandakan oleh Allah Swt, amin.
Selain itu, peneliti juga mengucapkan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya jika peneliti telah banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku, semenjak penulis menginjakkan kaki pertama kali di Universitas Muhammadiyah Makassar hingga selesainya studi peneliti. Semua itu adalah murni dari peneneliti sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan. Adapun mengenai kebaikan-kebaikan peneliti, itu semata-mata datangnya dari Allah SWT, karena segala kesempurnaan hanyalah milik-Nya.
vii
Akhirnya kepada Allah swt penulis memohon semoga semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingannya semoga senantiasa memperoleh balasan di sisi-Nya dan semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca umumnya dan lebih lagi bagi diri pribadi penulis , Amin.
Jazakallahu khairan katsiran
Penulis,
NUR AMALIA 105190093110
viii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Keterampialn Guru Dalam Pengeloloaan Kelas . ... 9
1. Pengertian Keterampilan Mengajar ... 9
2. Pengertian Pengelolaan Kelas ... 13
3. Tujuan Pengelolaan Kelas ... 15
4. Komponen-komponen Keterampilan Mengelola Kelas ... 19
B. Prestasi Belajar ... 23
1. Pengertian Prestasi Belajar ... 23
2. Aspek-aspek Penilaian Prestasi Belajar ... 24
C. Pendidikan Agama Islam ... 26
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 26
ix
A. Jenis Penellitian ... 30
B. Lokasi dan Objek Penelitian... 30
C. Variabel Peneitian ... 30
D. Defenisi Operasional Variabel... 31
E. Populasi dan Sampel ... . 32
F. Instrumen Penelitian ... 35
G. Teknik Pengumpulan Data ... 36
H. Teknik Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Pemaparan Data Dan Temuan Penelitian ... 39
B. Analisis Keterampilan Guru Mengelola Kelas Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI SMA Negeri 6 Makassar ... 48
1. Pra Siklus ... ... ... 48
2. Siklus I ... 53
3. Siklus II ... 55
4. Deskripsi Antar Siklus ... 60
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 63
B. Implikasi Penelitian ... 64 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
X
Tabel 2. Keadaan Sampel Kelas XI SMA Negeri 6 Makassar ... 36
Tabel 3. Keadaan Guru SMA Negeri 6 Makassar... 44
Tabel 4. Keadaan Siswa Kelas XI SMA Negeri 6 Makassar ... 47
Tabel 5. Sarana dan Prasarana SMA Negeri 6 Makassar... 49
Tabel 6. Pengamatan Aktivitas Siswa Selama KBM... 51
Tabel 7. Nilai Tugas Individu... 52
Tabel 8. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Selama KBM ……… 54
Tabel 9. Nilai Tugas Individu ... 55
Tabel 10. Nilai Tugas Kelompok... 56
Tabel 11. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Selama KBM ... 59
Tabel 12. Nilai Tugas Individu ... 60
Tabel 13. Nilai Tugas Kelompok ... 61
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana untuk membentuk perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya bagi seorang individu dan sebagai warga negara bermasyarakat. Berdasarkan sudut perkembangan yang dialami oleh anak, usaha yang sengaja dan terencana tersebut di tujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang di alaminya dalam setiap perkembangan dengan kata lain pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mencapai keberhasilan dan perkembangan anak.
Pendidikan sebagai sebuah bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai rumusan- rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju ke arah cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok bagi pendidikan adalah memilih arah atau tujuan yang akan dicapai.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 bab 1 pasal 1 ayat 4 tentang guru dan dosen ialah:
Guru dan dosen yang dimaksud adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini dan jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Belajar Mengajar adalah suatu kegiatan yang benilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik yang di arahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Masalah pokok yang dihadapi guru baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar.
Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif pula. Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran juga hubungan
interpersonal yang baik antara guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik, merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas juga dapat diartikan sebagai salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.
Dalam sejarah (history) juga mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi di kelas akan mempunyai dampak yang dirasakan dalam waktu yang jauh sesudahnya. Seperti dikemukakan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Emmer, Everston dan Anderson 1980, Peristiwa yang terjadi pada waktu awal-awal sekolah akan banyak berpengaruh pada pengelolaan kelas pada tingkat-tingkat berikutnya. Dari pengamatan yang
dilakukan terhadap kelas-kelas tinggi diperoleh gambaran, ada kelas-kelas yang begitu mudah dikelola, tetapi sebaliknya ada yang sangat sulit. Ternyata kelas yang mudah dikelola merupakan kelanjutan dari kelas yang pada waktu di kelas awal ditangani dengan baik. Misalnya, siswa yang berasal dari SLTP yang terbiasa dengan pengeloloaan kelas yang baik, akan mudah dikelola dengan baik bila dia berstudi di SLTA.
Keluhan-Keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas, tujuan pengajaran pun sukar untuk dicapai. Hal ini kiranya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dilakukan masih terbuka lebar. Salah satu caranya adalah dengan meminimalkan jumlah anak didik dikelas. Mengaplikasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas adalah upaya lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pendekatan terpilih mutlak dilakukan guna mendukung pengelolaan kelas karena guru yang efektif adalah mereka yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajar.
Setiap guru masuk ke dalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran adalah secara usaha membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat satuan pelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi, dan masih banyak lagi.
Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya, memberikan penguatan, mengembangkan hubungan guru- anak didik, membuat aturan kelompok yang produktif. Kadang-kadang sukar untuk dapat membedakan mana masalah pengajaran dan mana masalah manajemen.
Masalah pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran dan masalah pengelolaan harus diatasi dengan cara pengelolaan.
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas.
Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awal “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah “manajemen”.
Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar yang baik pula.
Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Hanya sayangnya pengelolaan kelas yang baik tidak selamanya dapat dipertahankan, disebabkan pada kondisi tertentu ada gangguan yang tidak dikehendaki datang dengan tiba-tiba. Suatu gangguan yang datang dengan tiba-tiba dan di luar kemampuan guru adalah kendala spontanitas dalam pengelolaan kelas. Dengan hadirnya kendala spontanitas suasana kelas biasanya terganggu yang ditandai dengan pecahnya konsentrasi anak didik. Setelah peristiwa itu, tugas guru, adalah bagaimana supaya anak didik kembali belajar dengan mempertahankan tugas yang diberikan oleh guru. .
Sebagai seorang guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan suasana belajar mengajar dikelas yang dapat mengantarkan anak didik ke tujuan. Disini tentu saja peran guru berusaha mengatur suasana kelas yang kondusif bagi kegairahan dan kesenangan belajar anak didik.
Setiap kali guru masuk kelas selalu dituntut untuk mengelola kelas hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Jadi, masalah pengaturan ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan guru. Semua kegiatan itu guru lakukan tidak lain demi kepentingan anak didik, demi keberhasilan belajar anak didik.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasi. Lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
Sedangkan pengungkapan prestasi belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data prestasi belajar/hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai diatas adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Dengan begitu kiranya
pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa penting untuk diketahui oleh siapapun juga yang menerjunkan dirinya ke dalam dunia pendidikan.
Dalam konteks yang demikian itulah belum diketahui dengan jelas dan pasti, maka peneliti tertarik meneliti masalah “Analisis Keterampilan Guru Mengelola Kelas Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian dan permasalahan tersebut, dapat dipahami masalah pokok yang dapat dikemukakan dalam proposal ini, adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana keterampilan guru dalam mengelola kelas pada bidang studi
Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar?
2. Bagaimana tingkat prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar?
3. Apakah keterampilan guru mengelola kelas dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini mempunyai tujuan dan kegunaan baik untuk penulis itu sendiri maupun bagi pembaca pada umumnya.
Pelaksanaan penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui keterampilan guru dalam mengelola kelas pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar
2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar pada bidang studi Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar
3. Untuk mengetahui keterampilan guru mengelola kelas terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 kota Makassar
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian dan penulisan proposal ini, maka manfaat yang ingin di capai adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan bagi penulis, yakni diharapkan dengan penulisan proposal ini dapat berguna kepada penulis maupun para pembaca terutama terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Bagi guru dan siswa diharapkan berkualitas dalam memahami dan mengetahui pentingnya kedisiplinan sehingga pandangan tentang amalan ajaran Nabi Muhammad saw dapat diamalkan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap masyarakat umum.
A. Keterampilan Guru Dalam Mengelola Kelas 1. Pengertian Keterampilan Mengajar
Menurut Rusman (2013 : 80) “Keterampilan Mengajar merupakan suatu karakteristik umum dari seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan”.
Senada dengan itu Menurut Sardiman A.M (1992 : 52) mengatakan bahwa Mengajar adalah “sebagai usaha guru untuk menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa anak didik”.
Adapun Menurut Moore (2001 : 5) Mengajar adalah “sebuah tindakan dari seseorang yang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya”.
Sejalan dengan pandangan diatas, Madeline Hunter (1994 : 6) mengemukakan bahwa “Mengajar adalah sebuah proses membuat dan melaksanakan sebuah keputusan sebelum, selama, dan sesudah proses pembelajaran”.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat dipahami bahwa Keterampilan mengajar adalah kecakapan atau kemampuan guru dalam menyajikan materi pelajaran. Dengan demikian seorang guru harus
9
mempunyai persiapan mengajar antara lain, guru harus menguasai bahan pengajaran, mampu memilih metode yang tepat dan penguasaan kelas dengan baik.
Selain itu pula pendapat Rusman ( 2013 : 81) menyatakan bahwa:
keterampilan dasar mengajar guru (teaching skill) pada dasarnya adalah berupa bentuk-bentuk perilaku bersifat mendasar dan khusus yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai modal awal untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajarannya.
Secara aplikatif indikatornya dapat digambarkan melalui sembilan keterampilan mengajar, yaitu :
a. Keterampilan Membuka Pelajaran
Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk memulai pembelajaran. Membuka pelajaran (set induction) adalah usaha atau keterampilan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra- kondisi bagi siswa agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya oleh anak didik sehingga usaha tersebut memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar.
b. Keterampilan Bertanya (Questioning Skills)
Merupakan kegiatan pembelajaran dalam memunculkan aktualisasi diri siswa baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang meningkatkan kemampuan berpikir sehingga siswa dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara aktif.
c. Keterampilan Memberi Penguatan (Reinforcement Skills)
Hasil penelitian membuktikan bahwa pemberian penguatan lebih efektif dibandingkan dengan hukuman karena guru yang baik harus selalu memberikan penguatan, baik dalam bentuk penguatan verbal (diungkapkan dengan kata-kata langsung seperti seratus, excellent, bagus, pintar, ya, betul, tepat sekali dan sebagainya, maupun nonverbal biasanya dilakukan dengan gerak, isyarat, sentuhan, pendekatan, dan sebagainya.
d. Keterampilan Mengadakan Variasi (Variation Skills)
Keterampilan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran seperti penggunaan multisumber, multimedia, multimetode, multimodel dan multistrategi. Biarlah pembelajaran dilakukan secara klasikal, tapi sentuhan harus individual artinya guru perlu menggunakan ceramah untuk siswa yang auditif, guru perlu menggunakan media, serta mengadakan diskusi, eksperimen, demokrasi dan praktik untuk siswa yang kinestetik.
e. Keterampilan Menjelaskan (Explaining Skills)
Keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan satu dengan yang lainnya.
f. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil dan perseorangan Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa secara kelompok kecil. supaya setiap anak didik lebih mendapatkan perhatian serta memungkinkan
hubungan yang lebih akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
g. Keterampilan Mengelola Kelas
Merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.
h. Keterampilan Pembelajaran Perseorangan
Keterampilan pembelajaran perseorangan atau individual adalah pembelajaran yang paling humanis untuk memenuhi kebutuhan dan interaksi siswa.
i. Keterampilan Menutup Pelajaran (Closure Skiils)
Keterampilan menutup pe;ajaran Merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru mengakhiri kegiatan pembelajaran.
2. Pengertian Pengelolaan Kelas
Menurut Uzer Usman (1992 : 89) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah “keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran”.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2010 : 175) berpendapat bahwa:
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas.
Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awal
“pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah
“manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa inggris, yaitu manajemen yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.
Senada dengan itu Menurut Suharsimi Arikunto (1988 : 17) di dalam didaktif terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu
“sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru”.
Sedangkan Menurut Oemar Hamalik (1987 : 311), kelas adalah “suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru”.
Selain itu pula Rusman (2013 : 271) menyatakan bahwa pengelolaan kelas dibagi menjadi 5 yaitu:
a. Pengaturan Tempat Belajar
Pengaturan tempat belajar di kelas meliputi pengaturan meja, kursi, lemari, perabotan kelas, alat, media, atau sumber belajar lainnya yang ada di kelas.
b. Pengaturan Siswa
Pengaturan siswa secara perorangan (individual) dalam pembelajaran tematik dapat mengarahkan proses pembelajaran pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu dilandasi oleh prinsip belajar tuntas.
c. Pemilihan Bentuk Kegiatan
Dalam melaksanakan pembelajaran tematik di sekolah dasar, guru perlu menguasai bentuk-bentuk kegiatan yang sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan belajar siswa, dimulai dari kegiatan membuka pelajaran, menjelaskan isi tema, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengadakan variasi mengajar, sampai dengan menutup pelajaran.
d. Pemilihan Media Pembelajaran
Penggunaan media dalam pelaksanaan pembelajaran tematik dapat divariasikan ke dalam penggunaan media visual, media audio, dan media audio-visual.
e. Penilaian
Model penilaian yang dikembangkan dalam pembelajaran tematik di Sekolah Dasar mencakup prosedur yang digunakan, jenis dan bentuk penilaian serta alat evaluasi yang digunakan.
Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran. Kesimpulan yang sangat sederhana adalah bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran.
3. Tujuan Pengelolaan Kelas
Menurut Sudirman N, (1991 : 311) bahwa:
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkadung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.
Fasilitis yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Sedangkan Menurut Suharsimi Arikunto (1988 : 68) berpendapat bahwa Tujuan pengelolaan kelas adalah “Agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien”.
Adapun pendekatan-pendekatan dalam mengelola kelas, Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2010 : 179-183) menyatakan bahwa
“Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas”. Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
a. Pendekatan Kekuasaan
Pendekatan Kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
b. Pendekatan Ancaman dan Kebebasan
Dari Pendekatan ancaman, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana kebebasan anak didik.
c. Pendekatan Resep(cook book)
Pendekatan Resep ini dilakukan dengan memberikan satu daftar yang dapat mengambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi.
d. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik dan mencegah masalah itu bila tidak bisa dicegah.
e. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku dan proses kelompok
Peranan Guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurung baik. Pengelolaan Kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, di mana proses kelompok merupakan yang paling utama.
f. Pendekatan Suasana Emosi Dan Hubungan Sosial
Pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptkan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas.
g. Pendekatan Elektif atau Plualistik.
Pendekatan Elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali/ guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas yang dimaksud adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal
jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial.
Tugas guru dalam kelas sebagaian besar membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar yang optimal. Kondisi belajar yang optimal dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuann pelajaran. Pengaturan berkaitan dengan penyampaian pesan pengajaran (instruksional), atau dapat pula berkaitan dengan penyedian kondisi belajar (pengelolaan kelas).
Disisi lain Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2010: 184) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi dua golongan yaitu:
a. Faktor Internal Siswa
Faktor internal siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku, kepribadian siswa dengan ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya secara individual. Perbedaan secara individual ini dilihat dari segi aspek, yaitu perbedaan biologis, intelektual dan psikologis.
b. Faktor Eksternal Siswa
Faktor eksternal siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah dikelas, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa dikelas akan mewarnai dinamika kelas.
Semakin banyak jumlah siswa dikelas, misalnya dua puluh orang keatas cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaiknya sedikit jumlah siswa dikelas cenderung leibh kecil terjadi konflik.
4. Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2010 : 186) Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Semua kegiatan yang disebutkan di atas akan diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini :
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengandalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok.
2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Guru menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.
Sebagai sebuah keterampilan, tentu saja penguasaan kelas dapat dipelajari. Syarat pertama yang diperlukan adalah kesadaran guru itu sendiri.
Mengingat tidak ada referensi baku mengenai keterampilan ini, maka belajar penguasaan kelas membutuhkan beberapa prasyarat, yaitu:
a.Guru Menyadari Kekurangannya Dalam Penguasaan Kelas
Faktanya, tidak semua guru menyadari ketidakmampuannya, kekurangannya. Itulah sebabnya sering muncul ungkapan-ungkapan yang berkonotasi menyalahkan siswa seperti, “Kalau diajar, dia selalu ramai”. Guru yang masih menyatakan ungkapan-ungkapan seperti itu, seharusnya menyadari bahwa dia belum memiliki ketrampilan menguasai kelas secara memadai. Masalahnya, mengakui kekurangan sering kali tidak mudah. Hanya guru yang jujur dan rendah hati yang bersedia mengakui kekurangan dan terus belajar memperbaiki diri.
b.Guru Merasa Membutuhkan Untuk Belajar
Guru yang menyadari kekurangannya dalam hal penguasaan kelas pasti merasa perlu belajar. Selain belajar dari pengalaman, keterampilan mengelola kelas dapat dipelajari melalui berbagai cara karena dalam proses
pembelajaran dengan baik, guru dituntut untuk belajar sebelum memasuki proses pembelajaran. Belajar sangat penting dilakukan demi peningkatan kualitas hidup manusia. Selain itu Allah SWTpun telah mensinyair hal tersebut dengan memberikan derajat yang lebih tinggi kepada orang-orang yang berilmu.
Sebagaimana dalam firman Allah dalam Q.S. Al Mujadilah (58) :11
Terjemahnya :
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
“berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapanglah niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu dan apabila dikatakan: “ Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Departemen agama RI).
c. Belajar Dari Guru yang Lain
Bila mengalami kesulitan dalam mengelola kelas guru yang sadar akan kekurangannya dapat berbagi pengalaman dengan guru lain perihal kiat-kiat mengendalikan kelas. Dia dapat belajar pada guru yang paling tinggi keberhasilan pembelajarannya
d. Membaca Referensi Mengenai Kiat-kiat Mengajar
Ini merupakan cara paling dianjurkan bagi setiap guru. Guru perlu terus belajar memperkaya ide dan pengetahuan dari beragam referensi.
e. Mengembangkan Keterampilan Komunikasi
Kunci utama penguasaan kelas sebenarnya terletak pada keterampilan komunikasi. Ketrampilan komunikasi sebenarnya bukan semata kemampuan berbicara, tetapi berkaitan dengan kepribadian dan kecerdasan.
Bobot kecerdasan seseorang selalu tampak dalam bahasanya.
Guru berkepribadian pendiam sekalipun akan mudah berkomunikasi dengan baik bila kecerdasannya baik. Sebaliknya guru berkepribadian cerewet sekalipun akan terasa tanpa bobot dan mengalami hambatan penguasaan kelas bila tidak mampu mengembangkan kecerdasannya sendiri. Ini biasa terjadi karena mereka memakai kebiasaannya dalam berkomunikasi sehari-hari untuk mengajar. Padahal bahasa pengajar dalam beberapa hal berbeda dari bahasa pergaulan sehari-hari.
B. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Nana Sudjana (1991: 48), dalam buku Tohirin menyatakan bahwa:
Prestasi belajar atau hasil belajar siswa adalah pencapaian yang merujuk kepada aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Oleh karena itu, ketiga aspek di atas juga harus menjadi indikator prestasi belajar. Artinya, prestasi belajar harus mencakup aspek-aspek kognitif,afektif, dan psikomotor. Sedangkan Belajar adalah suatu perubahan pada diri seseorang dalam hal pengalaman, keterampilan, pemahaman, serta perubahan-perubahan lain.”
Sedangkan Menurut Rusman (2013: 276) menyatakan bahwa:
Penilaian hasil belajar adalah pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan kompetensi- kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai- nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertidak.
Adapun Menurut Rahman, (2013: 13) mengenai penilaian hasil belajar bahwa:
Penilaian yang dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran. Dimana penilaian ini dilakukan secara konsisten, sistematis, dan terprogram dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan produk, portofolio, serta penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran ini pula menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.
Dengan demikian, Prestasi belajar dapat diartikan sebagai penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa sebagai hasil dari interaksi belajar mengajar yang ditunjukkan dengan nilai tes dalam bentuk raport. Prestasi belajar merupakan salah satu indikator dari sebuah keberhasilan. Prestasi belajar terasa penting untuk dipermasalahkan karena mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu:
a. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik
b. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu c. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inofasi pendidikan
d. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
2. Aspek-aspek Penilaian Prestasi Belajar
Menurut Tohirin, (2010 : 151) memberikan penjelasan bahwa dalam melakukan penilaian hasil pretasi belajar atau evaluasi program pembelajaran siswa meliputi tiga pendekatan yaitu:
a. Tes Prestasi Belajar Bidang (Kognitif)
Tipe-tipe prestasi belajar bidang kognitif mencakup: a) tipe prestasi belajar pengetahuan hafalan, b) tipe prestasi belajar pemahaman, c) tipe prestasi belajar penerapan(aplikasi), d) tipe prestasi belajar analisis, dan e) tipe prestasi belajar sintesis, dan f) tipe prestasi belajar evaluasi.
b. Tipe Prestasi Belajar Bidang (Afektif)
Tipe prestasi belajar bidang afektif mencakup: a)kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi b) jawaban, yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar, c) berkenaan dengan penilaian atau evaluasi d) pengembangan nilai ke dalam suatu sistem organisasi.
c. Tipe Pretasi Belajar Bidang (Psikomotor)
Tipe prestasi belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan bertindak seseorang. Adapun tingkatan keterampilan itu
meliputi; a) gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang sering tidak disadari karena sudah merupakan kebiasaan), b) kemampuan perspektual c) kemampuan dibidang fisik d) kemampuan gerakan-gerakan dasar e) kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi.
Dari Tipe-tipe prestasi belajar seperti dikemukakan diatas tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan satu sama lain. Seorang siswa yang berubah tingkat kognitifnya sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap dan perilakunya.
C. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut Zuhairani, (1983 : 27) menyatakan bahwa pendidikan agama Islam berarti “usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran agama Islam”.
Senada dengan itu Bawani, (1993 : 65) Menyatakan bahwa:
Pendidikan Agama dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mengaktualkan sifat-sifat kesempurnaan yang telah di anugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia. Upaya tersebut dilaksanakan tanpa pamrih apapun kecuali untuk semata-mata beribadah Allah.
Sedangkan Ali, (1990 : 139) menyatakan bahwa:
Pendidikan Agama Islam adalah sebagai proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insan yang beriman dan bertakwa agar manusia menyadari kedudukannya, tugas dn fungsinya di dunia dengan selalu memelihara hubungannya dengan Allah, dirinya sendiri, masyarakat dan alam sekitar serta tanggung jawab kepada
tuhan Yang Maha Esa (termasuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya).
Dari semua definisi itu dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana yang dilaksanakan oleh orang dewasa yang memiliki ilmu dan keterampilan kepada anak didik, demi terciptanya insan kamil.
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam Di SMA
Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran disekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia.
Dari uraian diatas tujuan pendidikan agama, peneliti sesuaikan dengan tujuan pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan secara formal dan peneliti membagi tujuan pendidikan agama itu menjadi dua bagian dengan uraian sebagai berikut:
a. Tujuan Umum
Menurut Abdul Majid, (2005: 59) menyatakan bahwa:
Pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hambah Allah, ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat At-Takwir ayat 27, Abdul Majid menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi menurut islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah atau dengan kata lain beribadah kepada Allah SWT. Islam menghendaki agar
manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah.
Tujuan hidup manusia itu menurut Allah adalah beribadah kepada Allah, ini diketahui dari surat Al-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi :
Terjemahnya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaku”.(Departemen agama RI)
Ayat di atas menggambarkan bahwa manusia diciptakan dengan tujuan agar mereka mengabdi (beribadah) kepada Allah SWT untuk melaksanakan ibadah dengan baik dan benar harus disertai dengan ilmu agama,karena ilmu agama hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus pendidikan agama Islam.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus Pendidikan Agama merupakan tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya.
Adapun Tujuan Pendidikan Agama Islam di SMA yaitu:
a. Siswa diharapkan mampu membacakan Al-qur’an, menulis dan memahami ayat Al-qur’an serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, rasul- rasulnya, kepada hari kiamat dan qadha dan qadarnya. Dengan mengetahui sikap, prilaku dan akhlak peserta didik pada dimensi kehidupan sehari-hari.
c. Siswa diharapkan terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji dan menghindari sifat-sifat tercela, dan bertatakrama dalam kehidupan sehari- hari.
d. Siswa diharapkan mampu memahami sumber hukum dan ketentuan hukum islam tentang ibadah, muamalah, mawaris, munakahat, jenazah dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
e. Siswa diharapkan mampu memahami, mengambil manfaat dan hikmah perkembangan islam di indonesia.
3. Dasar Pendidikan Agama Islam
Setiap usaha dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai dasar dan landasan yang baik dan kuat.
Pendidikan Agama Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia,
“khalifah” di bumi juga mempunyai dasar. Dasar Pendidikan Agama Islam adalah Al-quran, As-sunnah dan Ijtihad.
1. Al-Qur’an
Kepedulian Al-qur’an dalam mengatasi masalah Pendidikan tersebut antara lain terlihat ayat Al-qur’an yang di turunkan pertama kali yaitu Setiap usaha dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus
mempunyai dasar dan landasan yang baik dan kuat. Sebagaimana dalam Surat Al-Alaq (96) ayat 1-5 sebagai berikut:
2
.
Terjemahnya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam Dia mengajarkan kepada mnusia apa yang tdak di ketahuinya”.(Departemen agama RI)
Pada ayat tersebut paling tidak lima komponen utama dalam Pendidikan yaitu guru (Allah SWT), murid-murid (Nabi Muhammad SAW), saran dan prasarana (kalam) metode pengajaran (Iqra=membaca, menela’ah, mengobservasi, mengkatagorisasi, membandingkan, memverivikasi) dan kurikulum (sesuatu yang tidak di ketahui).
Atas dasar uraian ini, Nata (2003 : 177) menyimpulkan bahwa Al- Qur’an adalah “kitab Pendidikan, mengingat perhatiannya yang demikian besar terhadap masalah Pendidikan”.
2. Al-Sunnah
Selain Al-Qur’an, sumber kedua Pendidikan agama adalah Al-Sunnah.
An-Nahlawi (1983 : 31) mendefinisikan Al-Sunnah sebagai berikut:
Sunnah adalah sejumlah perkara yang di jelaskan melalui sunnah yang sahih, baik itu berupa perkataan, perbuatan, peninggalan, sifat, pengakuan, larangan hal yang di suka dan di benci, peperangan, tindak tanduk dan seluruh kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Uraian di atas mencakup segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan Nabi, semenjak beliau di utus oleh Allah, ketika di Mekkah dan di Madinah sampai meninggalnya, dapat di jadikan sebagai contoh dan landasan Pendidikan Agama.
3. Ijtihad
Dasar Pendidikan Agama selain Al-qur’an dan Al-sunnah adalah Ijtihad. Kata Ijtihad adalah istilah yang di pakai oleh para Fuqaha’ (ahli syari’at / fiqi’h).
Menurut Daradjat (1992 : 21) menyatakan bahwa :
Ijtihad adalah berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang di miliki oleh ilmuwan syari’at Islam dalam hal yang ternyata belum di tegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah, tentang seluruh aspek kehidupan, termasuk Pendidikan dengan mengikuti kaedah-kaedah yang di atur oleh para mujahid dan tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada kitab Al-qur’an dan sunnah Rasul, baik yang terdekat itu diperoleh dari nash yang terkenal dengan qiyas (ma’qul nash), atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari’at yang terkenal dengan “mashlahat”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan jenis Penelitian lapangan dengan model penelitian PTK melalui pendekatan analisis deskripsif yang bertujuan memberikan gambaran tentang peningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas XI SMA Negeri 6 Kota Makassar melalui keterampilan guru mengelola kelas.
B. Lokasi Dan Obyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah SMA Negeri 6 Makassar.
Sekolah ini ditetapkan sebagai tempat penelitian karena lokasinya dekat dari tempat tinggal peneliti. Sehingga untuk lebih efektif dan efisiannya proses penelitian dari segi biaya, tenaga dan waktu peneliti menetapkan lokasi tersebut.
Adapun objek Penelitian ini adalah guru dan siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar.
C. Variabel Penelitian
Arikunto (2006 : 19) mengemukakan bahwa variabel adalah objek penelitiaan, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat.
30
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa yang menjadi variabel dalam penelitiaan ini adalah keterampilan guru dalam mengelola kelas sebagai variabel bebas (x) dan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 6 Kota Makassar sebagai variabel terikat (y).
D. Definisi Operasional Variabel
Margono (1997 : 40) mengemukakan bahwa :
Defenisi operasional variabel di maksudkan untuk membatasi ruang lingkup yang di teliti agar tidak terjadi salah penafsiran dalam penelitian dan untuk pengukuran atau pengamatan terhadap variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrument.
1. Keterampilan guru mengelola kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya kekondisi yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran. Kesimpulan yang sangat sederhana bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran.
2. Prestasi belajar dapat diartikan sebagai penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa sebagai hasil atau evaluasi dari interaksi belajar mengajar yang ditunjukkan dengan nilai tes dalam bentuk raport. dalam penilaian prestasi belajar siswa dilakukan pendekatan yang
merujuk kepada aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Oleh karena itu, ketiga aspek di atas juga harus menjadi indikator prestasi belajar.
Dari pengertian dan definisi operasional yang disebutkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang akan dibahas dalam proposal sebagaimana maksud judul adalah “Analisis Keterampilan Guru Mengelola Kelas Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar”.
E. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai populasi, terlebih dahulu penulis memberikan pengertian populasi berdasarkan rumusan yang dikemukakan oleh penulis, yaitu sebagai berikut:
Suharsimi Arikunto (2002 : 108) menyatakan bahwa:
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi, jika kita hanya akan meneliti sebagian populasi, maka penelitian tersebut di sebut penelitian sampel.
Sugiyono, (2013 : 117) mendefinisikan bahwa: “Populasi adalah
“wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian di ambil kesimpulannya”.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan diatas, maka penulis diartikan bahwa populasi adalah seluruh bagian yang terdiri dari manusia, peristiwa dan objek. Dari hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah keseluruhan objek yang akan diteliti di lokasi penelitian.
Jadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Makassar dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel I
Jumlah Populasi Siswa kelas XI IPA SMA Negeri 6 Makassar No Populasi Jenis kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan
1. Kelas XI. Ipa1 10 30 40 2. Kelas XI. Ipa2 8 35 43 3. Kelas XI. Ipa3 20 23 43 4. KelasXI. Ipa4 8 32 40 5. Kelas XI. Ipa5 9 22 31 6. Kelas XI. Ipa6 12 19 31 7. Kelas XI. Ips 1 30 10 40 8. Kelas XI. Ips 2 27 5 32 9 Kelas XI. Ips 3 25 10 35
Jumlah 149 orang 186 orang 335 orang Sumber data : KTU SMA Negeri 6 Makassar Tahun Ajaran 2013/2014
Dengan melihat tabel di atas, maka jelaslah bahwa siswa kelas XI IPA
6 di SMA Negeri 6 Makassar cukup banyak, dengan demikian peneliti mengambil inisiatif hanya mengambil sebagian dari jumlah populasi tersebut sebagai sampel, untuk memudahkan peneliti dalam mengadakan penelitian di sekolah SMA Negeri 6 kota Makassar tersebut.
3. Sampel
Penentuan sampel merupakan sebagian kecil yang di ambil dari sebuah populasi penelitian, jadi dalam penentuan sampel tidak selamanya perlu meneliti secara keseluruhan populasi, karena hal tersebut membutuhkan dana, anggaran yang relative banyak, memiliki waktu yang agak lama serta pertimbangan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002 : 109) menyatakan bahwa: “Sampel adalah sebagai atau wakil dari populasi yang diteliti”. Jika subyek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiaannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya penelitiannya lebih besar jumlahnya (lebih dari 100) maka dapat di ambil sampel antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel 25% yang berdasarkan dari pendapat suharsimi Arikunto, apabila lebih dari 100, maka dapat di tarik sampel antara 10-15% dan 20-25% yang dapat mewakili populasi itu sendiri.
Dari pengertian yang dikemukakan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa sampel adalah sebagian jumlah populasi yang mewakili.Pentingnya penggunaan sampel dalam suatu penelitian adalah dikarenakan sulitnya untuk meneliti seluruh populasi, dengan alasan tersebut, peneliti menggunakan tekhnik purposive sampling, yaitu pemilihan subyek penelitian secara sengaja oleh peneliti yang didasarkan atas kriteria dan pertimbangan yang dianggap memiliki informasi yang berkaitan dengan permasalahannya secara mendalam dan dapat dipercaya untuk menjadi
sumber data yang mantap.Subyek penelitian yang terpilih adalah kelas XI IPA 6 dengan jumlah siswa sebanyak 31 siswa.
Tabel II
Jumlah Sampel Penelitian Pada Siswa Kelas XI IPA 6 SMA Negeri 6 Kota Makassar
No Populasi
Jenis kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
1. Siswa kelas XI Ipa 6 12 19 31
F. Instrument Penelitian
Instrument penelitian digunakan untuk mendapatkan data atau informasi yang dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.
Menurut (Suharsimi Arikunto,2010 : 101) instrument penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan dipergunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrument penelitian yang diartikan sebagai alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, misalnya observasi, maupun dokumentasi.
Adapun instrument penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut:
1. Observasi yaitu pengamatan langsung terhadap obyek penelitian untuk memperoleh gambaran terhadap permasalahan yang diteliti. Observasi
ini dilakukan untuk mengetahui keterampilan guru mengelola kelas terhadap prestasi belajar siswa semakin meningkat.
2. Panduan wawancara, yang digunakan sebagai instrument pengumpulan data yang dilakukan secara langsung, yaitu kepada guru Pendidikan Agama Islam, metode ini digunakan untuk mengetahui informasi secara langsung terhadap permasalahan yang diteliti.
3. Format Angket, Format angket diperlukan sebagai instrument pengumpulan data dengan jalan memberikan serangkaian daftar pertanyaan berdasarkan data yang di butuhkan kepada siswa, angket ini diberikan kepada siswa.
4. Data Dokumentasi, merupakan data tambahan yang tertulis dan memberikan gambaran tentang penelitian yang dilakukan, dengan cara mengumpulkan data-data baik melalui tulisan, foto, daftar absensi kelas untuk disimpan sebagai bukti dan di olah menjadi bahan referensi dalam penelitian ini.
G. Tekhnik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan harus memenuhi syarat data yaitu :Obyektif, Relevan, aktual, dan representatil. Data Obyektif adalah data yang diperoleh dari penelitian lapangan harus ditampilkan dan dilaporkan apa adanya.
Dalam penelitian ini digunakan dua jenis metode, yaitu
pengumpulan data dan metode analisis data untuk memperoleh data di lapangan, penelitian menggunakan 4 cara yakni observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi.
1. Observasi yaitu pengamatan langsung terhadap obyek penelitian untuk memperoleh gambaran terhadap permasalahan yang diteliti.Observasi ini ditujukan kepada siswa dan guru mata pelajaran.
2. Wawancara ini digunakan sebagai pengumpulan data yang dilakukan secara langsun. Wawancara ini ditujukan kepada guru mata pelajaran.
3. Tes yang diberikan adalah tes evaluasi.
4. Dokumentasi yaitu tambahan yang tertulis dan memberikan gambaran tentang penelitian yang dilakukan untuk disimpan sebagai bukti dan di olah menjadi bahan referensi dalam penelitian ini.
Pada tahap pengumpulan data, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut :
1. Penelitian Pustaka
Penelitian ini dilakukan dengan cara membaca buku dan mencatat data penting dari buku yang relevan dengan penulisan ini.
2. Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan kelas atau classroom action research yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan
praktik dan proses dalam pembelajaran.
Pelaksanaan PTK yang benar akan sangat membantu guru dalam peningkatan kualitas pembelajarannya, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan kualitas belajar siswa.
H. Tehnik Analisis Data
Sesuai dengan jenis data yang akan dikumpulkan, maka analisis data penelitian dilakukan dengan analisis kualitatif. Analisis Kualitatif diperlukan pada data hasil observasi, dan angket. Untuk melihat prestasi belajar/hasil belajar siswa diperoleh melalui lembar soal tugas maka dapat dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif
Menurut Iskandar (2008 : 19) “Pendekatan deskriptif kualitatif yaitu data yang tidak berupa angka”. Data yang di peroleh dalam penelitian ini adalah data mengenai prestasi belajar siswa melalui keterampilan guru mengelola kelas yang dinilai berdasarkan hasil observasi lalu ditafsirkan atau dijabarkan kedalam bentuk kata-kata atau kalimat.
Untuk menghitung peningkatan prestasi belajar/hasil belajar siswa maka persentasenya menggunakan rumus:
Persentase (%) =
39 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Pemaparan Data Dan Temuan Penelitian
1. Gambaran Umum Tentang SMA Negeri 6 Makassar
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini manusia memiliki banyak kebutuhan, diantaranya kebutuhan akan pendidikan. Pendidikan dalam bentuk persekolahan merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dewasa ini kebutuhan akan pendidikan sekolah semakin diperlukan sejalan dengan perkembangan bangsa dan hal ini perlu diprioritaskan pengadaannya.
Dalam sejarah pendidikan di Indonesia di kenal dengan adanya sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah. Dalam kenyataannya peran Sekolah Negeri di kota sangat menonjol, namun pada umumnya masih mempunyai barbagai keterbatasan tenaga maupun fasilitas pendidikan.
Bertolak dari hal tersebut di atas, penulis dalam pembahasan berikut menguraikan gambaran singkat sejarah berdirinya SMA Negeri 6 Makassar.
Menurut wakil kepala sekolah Drs. Muslim H. menyatakan bahwa :
“Salah satu lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah tersebut adalah SMA Negeri 6 Makassar yang terletak Jln.
Prof. Dr. H. Sutami No.4 Kecamatan tamalanrea kota Makassar.
Sekolah tersebut dibangun dan berdiri pada tahun 1980 kemudian pada tahun yang sama yaitu 1980 sekolah ini sudah beroperasi dengan jenjang akreditasi yang di akui tanggal 30 juli 1980, setelah beberapa waktu kemudian departemen pendidikan mengeluarkan NSS