15 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tindak Pidana Prostitusi 1. Pengertian Tindak Pidana
Tindak pidana merupakan pengertian dasar dari hukum pidana yang pada dasarnya termasuk dalam perbuatan melanggar hukum pidana. Tindak Pidana dalam istilah Belanda disebut Strafbaar feit yang juga memiliki makna sebagai sebagaian kenyataan yang dapat dijatuhi hukuman. Strafbaar feit memiliki beberapa terjemahan yang diguakan dalam berbagai macam literatur hukum maupun perundang-undangan yaitu sebagai berikut:9
1) Tindak Pidana
2) Perbuatan yang dapat dihukum 3) Delik
4) Perbuatan pidana 5) Pelanggaran pidana 6) Peristiwa pidana
Beberapa pengertian tindak pidana yang dikemukakan oleh para ahli yaitu :10
9 Fitrotin Jamila. 2014. Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Jakarta. Dunia cerdas.
Hal. 41
10 Ibid. Hal. 44
16 a. Simons
Strafbaar feit atau Tindak Pidana adalah suatu perbuatan yang dapat diancam oleh pidana, bersifat melawan hukum, berhubungan dengan kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu untuk bertanggung jawab.
b. Van Hammel
Tindak pidana adalah perbuatan orang yang dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan, bersifat melawan hukum, dapat dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.
c. Pompe
Tindak pidana adalah pelanggaran terhadap norma, karena kesalahan yang dilakukan oleh pelanggar dan dapat diancam oleh pidana guna mempertahankan tata hukum demi menyelamatkan kesejahteraan masyarakat.
d. Moeljatno
Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh undang- undang disertai dengan sanksi berupa pidana tertentu, yang berlaku bagi setiap orang yang melanggar larangan tersebut.
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa tindak pidana mempunyai beberapa unsur, antara lain :11
1. Suatu perbuatan manusia;
11 Ibid. Hal 43
17 2. Perbuatan yang dilarang dan diancam hukuman oleh undang-
undang;
3. Dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.
2. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Berdasarkan asas legalitas dalam hukum pidana, maka seseorang tidak dapat dipersalahkan melakukan tindak pidana apabila tindak pidana tersebut belum dirumuskan di dalam undang-undang. Dengan demikian seseorang hanya dapat dipersalahkan telah melakukan tindak pidana apabila orang tersebut oleh hakim telah dinyatakan terbukti bersalah dengan memenuhi unsur-unsur dari tindak pidana yang telah dirumuskan dalam undang- undang.12
Secara umum unsur-unsur tindak pidana dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu :13
1. Unsur Obyektif, unsur yang terdapat diluar pelaku (dader) yang dapat berupa :
a. Perbuatan
Baik dalam arti melakukan perbuatan (aktif) maupun dalam arti tidak berbuat (pasif). Dalam hal ini perbuatan-perbuatan tersebut dilarang dan diancam oleh undang-undang. Misal perbuatan mengambil barang milik orang lain.
12 Tongat. 2015. Hukum Pidana Materiil. Malang : UMM Press. Hal 2
13 Suharto R. M. 1991. Hukum Pidana Materiil Unsur-unsur Obyektif sebagai Dasar Dakwaan. Jakarta : Sinar Grafika. Hal 1
18 b. Akibat
Unsur obyektif yang berupa suatu akibat adalah akibat-akibat yang dilarang dan diancam oleh undang-undang dan sekaligus merupakan syarat mutlak dalam tindak pidana. Misal akibat yang berupa matinya orang.
c. Keadaan
Unsur obyektif yang berupa suatu keadaan yang dilarang dan diancam oleh undang-undang. Misalnya keadaan di tempat umum.
2. Unsur Subyektif, yaitu unsur yang terdapat dalam diri si pelaku (dader) yang berupa :
a. Kemampuan bertanggungjawab
Seseorang dapat dikatakan mampu bertanggung jawab apabila dalam diri orang tersebut memenuhi tiga syarat :
1. Ia dapat mengerti akan nilai perbuatannya dan juga mengerti akan nilai dari akibat perbuatan itu.
2. Ia dapat menentukan kehendaknya terhadap perbuatan yang ia lakukan.
3. Ia harus sadar bahwa perbuatan mana yang dilarang dan perbuatan mana yang tidak dilarang oleh undang- undang.
b. Kesalahan atau schuld
19 Sebagaimana diketahui bahwa kesalahan dalam hukum pidana dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu :
1. Dolus atau opzet atau kesengajaan.
2. Culpa atau ketidaksengajaan.
3. Pengertian Prostitusi
Prostitusi atau sering disebut pelacuran berasal dari bahasa latin yakni pro-situare yang memiliki arti pembiaran diri untuk berbuat zina, pencabulan ataupun pergendakan. Di Indonesia wanita yang melakukan perbuatan prostitusi disebut sebagai pelacur atau wanita tuna susila. Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian prostitusi diantaranya sebagai berikut :
a. James A. Inciardi sebagaimana yang dikutip oleh Topo Santoso Prostitusi adalah suatu bentuk penawaran melakukan hubungan seksual yang bertujuan memperoleh uang atau keuntungan lainnya.14
b. Iwan Bloch
Prostitusi adalah suatu bentuk hubungan kelamin tanpa ikatan perkawinan yang boleh dilakukan oleh siapapun secara terbuka yang memberikan kepuasan yang diingikan oleh yang berhubungan dan selalu diakhiri dengan adanya pembayaran atas hubungan yang telah dilakukan.15
14 Dewi Bunga, Prostitusi Cyber (Diskursus Penegakan Hukum Dalam Anatomi Kejahataan Tradisional), Bali, Udayana University Press, 2011, hlm. 11.
15 Soerjono D., Pelacuran Ditinjau Dari Segi Hukum Dan Kenyataan Dalam Masyarakat, PT. Karya Nusantara, Bandung, 1997, hlm. 17.
20 c. P.J. de Bruine van Amstel
Prostitusi adalah bentuk penyerahan diri seorang wanita kepada banyak lelaki demi mendapatan imbalan.16
d.
W.A. BongerProstitusi adalah suatu gejala sosial masyarakat dimana terdapat wanita yang menjual dirinya untuk melaukan hubungan seksual dan digunakan sebagai mata pencaharian.17
e. Kartini Kartono
Prostitusi adalah suatu bentuk penyimpangan seksual dengan dorongan seks yang tidak wajar dan terintegrasi dengan munculnya pelampiasan nafsu seks yang tidak terkendali dengan banyak orang yang disertai dengan adanya eksploitasi dan juga komersialisasi seksual.18
Berdasarkan beberapa pengertian prostitusi yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa prostitusi merupakan suatu kegiatan komersialisasi dalam hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan serta terdapat seseorang yang menghubungkan antara laki-laki yang mencari kepuasan seks dan perempuan yang menjajakan seks demi memperoleh imbalan dari jasa seks yang diberikannya. Dalam hal ini pada akhirnya kegiatan tersebut digunakan sebagai mata pencaharian baik oleh orang yang menghubungkan maupun oleh perempuan yang menjajakan dirinya.
16 Kartini Kartono. 1981. Patologi Sosial Jilid 1. Bandung :PT RajaGrafindo Persada.
Hal 213 dan 214.
17 Ibid. Hal 218
18 Heriana Eka Dewi. 2012. Memahami Perkembangan Fisik Remaja. Yogyakarta : Gosyen Publishing. Hal 81
21 4. Ciri-ciri Prostitusi
Prostitusi memiliki beberapa unsur-unsur atau ciri-ciri yaitu sebagai berikut:19
a. Pelaku atau subyek prostitusi adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak dalam hubungan pernikahan.
b. Terjadinya hubungan seksual yang dilakukan dengan adanya kesepakatan bersama, bukan karena adanya paksaan.
c. Bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis yaitu seksual bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonimis.
5. Tindak Pidana Prostitusi Dalam Hukum Positif Indonesia
Tindak pidana prostitusi bukanlah suatu tindak pidana yang baru dalam masyarakat Indonesia, prostitusi bahkan sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda dahulu dan mengalami puncaknya pada tahun 1811, saat pembangunan jalan dari Anyer sampai Penarukan, dimana prostitusi tersebut berada di dekat stasiun kereta dan masih ada hingga sekarang.20
KUHP yang berlaku saat ini belum memberikan aturan yang tegas mengenai tindak pidana prostitusi di masyarakat. KUHP hanya memiliki pengaturan yang berhubungan dengan tindak pidana prostitusi yaitu di dalam Pasal 296 dan Pasal 506. Kedua Pasal tersebut hanya mengatur mengenai orang yang memudahkan terjadinya perbuatan cabul dan orang yang menarik
19l Nardi. 2013. Prostitusi sebagai Pionir Pengembangan Kota. Yogyakarta:
Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. hal 11.
20 Farhana. 2010. Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika. Hal. 2
22 keuntungan dari perbuatan tersebut. Oleh karena itu dalam suatu kasus prostitusi di Indonesia hanya para mucikari atau germonya sajalah yang dipidana sedangkan para PSK dan pengguna jasanya lolos dari jeratan hukum.
Berdasarkan hukum positif di Indonesia pengaturan mengenai tindak pidana prostitusi diatur KUHP dan juga diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta UU Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Mengenai Pemidanaan yang diatur pada KUHP dan UU tersebut menerangkan pemidanaan kepada penyedia layanan saja dalam hal ini mucikari. KUHP dan UU tersebut tidak ada yang diatur ketentuan pemidanaan terkait pekerja seks komersial dan pengguna jasa pada tindak pidana prostitusi.
Mengetahui penjelasan pasal pada KUHP, UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta UU No 21 Tahun 2007 Tentang TPPO tidak ada berlaku khusus dalam menjerat serta mengatasi prostitusi, mengenai para pelaku dalam prostitusi sama sekali tidak ada yang mengaturnya, sehingga para pelaku prostitusi itu sendiri tidak bisa dijerat menurut hukum positif di Indonesia.
Beberapa pengaturan mengenai tindak pidana prostitusi yang berlaku dalam hukum positif Indonesia saat ini :
1. Menurut KUHP
Dalam KUHP tidak ada pasal yang dapat digunakan untuk menjerat para pelaku prostitusi, dalam hal ini pengguna jasa seks komersial
23 dan pekerja seks komersial itu sendiri. Dapat dilihat pada Pasal 296 serta Pasal 506 KUHP tidak ada ditujukan terhadap pengguna jasa seks komersial dan pekerja seks komersial, namun mengacu terhadap germo dan mucikari. KUHP sekarang ini sebenarnya sudah patutnya direvisi, karena dengan merevisi KUHP untuk memperkuat serta menerangkan semua tindakan yang bersifat kesusilaan.21
2. Menurut UU No 19 Tahun 2016 Tentang ITE
Dalam UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tidak ada pasal menyebutkan kata prostitusi. Pada Pasal 27 yang memuat tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang, menyebut kata kesusilaan yang menyangkut untuk hal-hal yang terkandung pornografi. Dalam pasal ini hanya mengatur mengenai perbutan mendistribusikan dan/atau mentransmisikan informasi yang bermuatan melanggar kesusilaan melalui media elektronik. Jadi UU ini hanya menjerat orang yang melakukan kegitan pendistribusian informasi yang melanggar kesusilaan dengan media elektronik.
Maka UU ini tidak tepat digunakan bagi menangani permasalahan prostitusi yang kompleks.
3. Menurut UU No 21 Tahun 2007 Tentang TPPO
UU Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang diharapkan mampu membatasi setiap tindakan prostitusi yang pada dasarnya merupakan tindakan ekploitasi seksual
21 Yanto, Oksidelfa. 2016. Prostitusi Online Sebagai Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Anak: Telah Hukum Islam dan Hukum Positif. Fakultas Hukum, Universitas Pamulang. Vol. XVI, No.2 Juli 2016.
24 yang dilakukan terhadap seseorang dalam hal ini adalah perempuan.
Dalam UU TPPO ini perempuan yang dimaksud adalah seorang wanita tuna susila atau pekerja seks komersial. Namun dalam UU TPPO ini seorang PSK dikategorikan sebagai korban dari adanya tindakan eksploitasi seksual yang dilakukan oleh seorang mucikari.
Sedangkan dalam konteks tindak pidana prostitusi seorang PSK dikategorikan sebagai subyek atau pelaku prostitusi. Jadi UU TPPO ini tidak dapat digunakan untuk memberikan sanksi pidana terhadap PSK dan pengguna jasa prostitusi.
Hukum positif di Indonesia saat ini masih belum mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam menjawab permasalahan tindak pidana prostitusi yang marak terjadi. Seperti yang kita ketahui diatas bahwa hukum positif dalam menanggulangi tindak pidana prostitusi hanya berlaku bagi orang yang mempermudah terjadinya suatu perbuatan prostitusi, dalam hal ini adalah mucikari. Sedangkan terhadap para pelaku prostitusi dalam hal ini para pekerja seks komersial dan juga pengguna jasa prostitusi tidak dapat dijerat oleh hukum positif yang ada saat ini.
6. Batasan mengenai Tindak Pidana Perzinaan, Prostitusi dan Perdagangan Orang
Dalam beberapa kondisi tindak pidana prostitusi dapat diketegorikan sebagai bagian dari perzinaan. Namun sebaliknya dalam tindak pidana perzinaan tidak termasuk dalam kategori tindak pidana prostitusi. Tindak pidana prostitusi menitik beratkan pada bentuk komersialisasi seksual.
25 Sedangkan tindak pidana perzinaan hanya menitik beratkan pada hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan perkawinan yang sah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kasus tertentu, misalnya dalam perzinaan tidak terdapat bentuk komersialisasi seksual dalam setiap hubungan seksual yang dilakukan.
Selanjutnya dalam tindak pidana perdagangan orang, seorang perempuan yang menjadi pekerja seks komersial tidak dapat dikategorikan sebagai subyek dalam tindak pidana prostitusi. Sebab pekerja seks komersial yang berada dalam tindak pidana perdagangan orang merupakan korban dari eksploitasi yang dilakukan terhadap dirinya. Dan juga terdapat kondisi yang memaksa dirinya sehingga menyebabkan dirinya menjadi seorang pekerja seks komersial.
B. Sebab Akibat Prostitusi 1. Penyebab Prostitusi
Kartini Kartono mengemukakan pendapatnya mengenai beberapa penyebab terjadinya prostitusi:22
1) Tidak adanya peraturan perundang-undangan yang melarang prostitusi.
2) Timbulnya keinginan dalam diri manusia untuk menyalurkan nafsu seksual diluar ikatan perkawinan.
3) Bentuk komersialisasi seksual yang terdapat dalam pihak wanita dan juga mucikari.
22 Op.cit. Kartini Kartono. Hal 244
26 4) Merosotnya moralitas masyarakat dalam norma agama dan norma susila serta penyimpangan terhadap nilai-nilai ikatan perkawinan yang suci.
5) Timbulnya budaya eksploitasi terhadap kaum lemah yakni perempuan untuk kebutuhan komersil.
Mengacu pada penjelasan di atas, penulis berkesimpulan bahwa terdapat dua faktor dalam penyebab terjadinya prostitusi, yaitu :
a. Faktor internal
Faktor internal ini berkaitan dengan hasrat, rasa frustasi, dan sebagainya. Tidak sedikit dari para pelacur ini disebabkan dari minimnya kesadaran dalam hal spiritual dan juga kesadaran dalam hal mematuhi norma yang berlaku dalam masyarakat.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal berbentuk adanya desakan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, pengaruh yang ditimbulkan dari lingkungan sekitar, kegagalan dalam membina kehidupan keluarga, serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi seseorang untuk menjadi pekerja seks komersial.
2. Akibat Prostitusi
Dampak yang ditimbulkan dari adanya prostitusi yaitu:23
a. Prostitusi merupakan perbuatan amoral yang bertentangan dengan norma yang hidup di masyarakat
23 Mudjijono. 2005. Sarkem “Reproduksi Sosial Pelacuran. Yogyakarta: UGM (Gadjah Mada University Press). Hal.94.
27 b. Prostitusi mengakibatkan penurunan moralitas bangsa.
c. Prostitusi merupakan bentuk merendahkan martabat manusia khusunya wanita.
d. Prostitusi mengakibatkan menularnya berbagai macam penyakit kelamin tidak terkecuali HIV/AIDS.
e. Praktik prostitusi dapat menimbulkan perbuatan kriminal.
f. Prostitusi berpotensi merusak sendi kehidupan berkeluarga.
g. Prostitusi merupakan bentuk eksploitasi manusia.
C. Pembaharuan Hukum Pidana
1. Pengertian Pembaharuan Hukum Pidana
Pengertian pembaharuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna suatu perbuatan atau cara yang digunakan untuk memperbarui.24 Memperbarui sendiri memiliki tiga arti, yaitu :
1) Memperbaiki agar menjadi baru ; 2) Mengulang sekali lagi/memulai lagi;
3) Menggantinya dengan yang baru.
Menurut Gustav Radbruch memperbarui hukum pidana bukan hanya memperbaiki hukum pidana yang ada, akan tetapi melakukan pergantian dengan hukum pidana yang baru dan yang lebih baik.25 Sedangkan Sudarto berpendapat bahwa pembaharuan hukum pidana harus dilakukan secara
24 WJS Purwodarminta. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN. Balai Pustaka. Hal. 93.
25 Sudarto. 1983. Hukum dan Perkembangan Masyarakat. Bandung : Sinar Baru. Hal.
62
28 menyeluruh meliputi.hukum pidana materiil dan formil agar tujuan dari pembaharuan hukum pidana dapat dicapai sepenuhnya.26
Pembaharuan hukum pidana mengandung makna suatu upaya untuk melakukan peninjauan dan penilaian kembali terhadap hukum pidana yang berlaku saat ini agar sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat berdasarakan pancasila. Terkandung sebuah tekad dari bangsa Indonesia untuk dapat mewujudkan hukum pidana berdasarkan kondisi sosial dan kultur yang telah terbangun dalam masyarakat yang dapat melandasi sisi normatif dan substansi hukum agar tercipta hukum pidana yang dicita-citakan bangsa Indonesia.27 Mengingat bahwa selama ini hukum pidana yang digunakan oleh Indonesia merupakan warisan dari kolonial belanda yaitu Wetboek van strafrecht voor nederlans indie 1915.28 Hal tersebut, tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia yang menjadi bangsa jajahan selama 3 abad oleh bangsa belanda.
Berdasarkan uraian tentang pengertian pembaharuan hukum pidana diatas dapat diartikan sebagai upaya atau cara untuk melakukan pergantian terhadap hukum pidana yang telah ada atau berlaku dengan hukum pidana yang lebih baik lagi agar sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini. Pembaharuan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh yakni terdiri dari hukum pidana materiil dan juga hukum pidana
26 Ibid
27 Barda Nawawi Arief. 2010. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta : PT.
Kencana Prenada Media Group. Hal. 30
28 Muladi. 2005. Lembaga Pidana Bersyarat. Bandung : Alumni cetakan ketiga. Hal 4.
29 formil agar tercipta keadilan yang dicita-citakan berdasarkan pancasila dan pembukaan UUD 1945.
2. Politik Hukum Pidana
Politik hukum pidana dikenal dalam berbagai macam istilah yakni penal policy, criminal policy ataupun dalam bahasa belanda disebut strafrechtpolitiek. Selain itu beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian politik hukum pidana antara lain sebagai berikut:
a. Marc Ancel
Politik hukum pidana atau penal policy merupakan ilmu sekaligus sebuah seni yang bertujuan untuk menghasilkan sebuah peraturan perundang-undangan atau hukum positif yang lebih baik. Serta memberikan pedoman bagi pembuat undang-undang dan juga para penegak hukum lainnya.29
b. A. Mulder
Strafrechtspolitiek adalah sebuah kebijakan dalam menentukan beberapa hal, yaitu:30
1) Sejauh mana hukum pidana yang berlaku perlu untuk ditinjau kemudian dilakukan perubahan atau pembaharuan.
2) Upaya untuk mencegah terjadinya tindak pidana 3) Penerapan hukum pidana formil dapat dilaksanakan.
29 Barda Nawawi Arief, TT. Kebijakan Hukum Pidana (Penal Policy). Bahan Kuliah Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. hlm. 7
30 Ibid
30 c. Soerjono Soekanto
Politik hukum pidana adalah sebuah usaha secara rasional untuk memilih dan menerapkan nilai-nilai sosial dalam sebuah bentuk peraturan guna mencegah reaksi-reaksi sosial dan kejahatan yang terjadi di masyarakat.31
d. Sudarto
Politik hukum pidana adalah:32
a. Suatu usaha untuk menghasilkan peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu kondisi tertentu;
b. Kebijakan dari suatu negara yang dihasilkan dari badan yang berwenang dalam hal ini adalah parlemen untuk merumuskan suatu peraturan hukum yang dapat digunakan untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta diharapkan mampu untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh masyarakat.
Berdasarkan beberapa uraian mengenai pengertian politik hukum pidana diatas, maka dapat disimpulkan bahwa politik hukum pidana adalah suatu usaha yang dilakukan oleh negara melalui lembaga yang berwenang untuk melakukan penetapan peraturan dan penegakan hukum berdasarkan hukum pidana yang rasional yang memenuhi rasa keadilan dan daya guna di dalam masyarakat yang digunakan sebagai alat untuk menaggulangi
31 Shafruddin. 2009. Pelaksanaan Politik Hukum Pidana Dalam Menanggulangi Kejahatan. Tesis Program Magister Ilmu Hukum Undip. https://core.ac.uk diakses tgl 3-10- 2019
32 Op.cit. Barda Nawawi Arief.
31 kejahatan. Hukum pidana rasional yang dimaksud merupakan suatu penegakan hukum pidana yang meliputi tahap formulasi, tahap aplikasi dan tahap eksekusi. Tahap formulasi memiliki peranan yang sangat penting, sebab dalam tahap ini merupakan awal mula dirumuskannya suatu peraturan pidana.
Dalam perumusan tersebut dilakukan dengan pendekatan yuridis normatif dan juga pendekatan sosiologis. Agar hukum pidana yang dihasilkan sesuai dengan perkembangan kejahatan yang terjadi di masyarakat. Serta antar setiap tahapan tersebut harus saling berkaitan satu dengan lainnya.
Tujuan utama politik hukum adalah terciptanya perlindungan bagi masyarakat agar dapat mencapai kesejahteraan didalam masyarakat. Oleh sebab itu dalam pembaharuan hukum pidana juga perlu memperhatikan kebijakan-kebijakan sosial lainnya, baik yang berhubungan secara langsung maupun kebijakan tidak langsung berkaitan dengan penanggulangan kejahatan. Sehingga dalam kebijakan mengenai penanggulangan kejahatan harus dilakukan secara integratif, agar dapat menghadapi perkembangan kejahatan dewasa ini yang cenderung bersifat extra ordinary crime.33
3. Urgensi Pembaharuan Hukum Pidana Di Indonesia
Upaya pembaharuan hukum pidana sudah dimulai sejak awal kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Jakarta. Untuk menghindari kekosongaan hukum, berdasarkan UUD 1945 yang mengamanatkan untuk memberlakukan hukum atau undang-undang yang dihasilkan oleh masa pendudukan jepang dan belanda sebelum ada ketentuan hukum dan undang-
33 Maroni. 2016. Pengantar Politik Hukum Pidana. Lampung: Aura. Hal. 2
32 undang baru yang dihasilkan. Kebutuhan akan pembaharuan hukum pidana bersifat komprehensif sudah dipikirkan oleh pakar hukum pidana Indonesia sejak tahun 1960-an yang meliputi hukum pidana pidana materiil, hukum pidana formil, dan hukum pelaksanaan pidana.
Kebutuhan pembaharuan hukum pidana terdapat dalam masalah substansi dari KUHP yang bersifat dogmatis. KUHP warisan kolonial ini cenderung mengandung paham individualisme-liberalisme dan sangat dipengaruhi oleh aliran klasik dan neoklasik terhadap teori hukum pidana dan pemidanaan dari kepentingan kolonial Belanda di negeri-negeri jajahannya.34 Undang-undang pidana ini bukan berasal dari pandangan/konsep nilai-nilai dasar (grounnorm) dan kenyataan kondisi sosio-politik, sosio-ekonomi, dan sosio-budaya yang hidup dalam pikiran masyarakat Indonesia sendiri.
Sehingga KUHP yang berlaku ini tidak akan sesuai lagi dengan pemikiran masyarakat Indonesia dewasa ini.
Upaya pembaharuan hukum pidana yang dilakukan oleh bangsa Indonesia diharapkan mampu untuk menghasilkan produk hukum pidana nasional agar tercipta penegakan hukum adil. Sebagaimana tujuan dari hukum pidana yaitu penaggulangan terhadap kejahatan melalui ketentuan peraturan perundang-undang hukum pidana, sehingga ketakutan yang ditimbulkan dari kejahatan dapat dihindari melalui penegakan hukum pidana yang disertai dengan sanksi. Adanya sanksi yang diberikan terhadap setiap orang yang melakukan tindak pidana dimaksudkan agar dapat memulihkan kembali
34 Teguh dan Aria. 2011. Hukum Pidana Horizon baru Pasca Reformasi. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Hal. 8
33 situasi seperti semula. Hal ini memerlukan sebuah kepastian dan juga penegakan hukum yang ideal berdasarkan keinginan masyarakat Indonesia.
Urgensi dan latar belakang pembaharuan hukum pidana dapat dilihat dari aspek sosio-politik, sosio-filosofis, dan sosio-kultural masyarakat di Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, urgensi dari pembaharuan hukum pidana disebabkan karena produk undang- undang yang ada di Indonesia saat ini merupakan produk peninggalan belanda yang merupakan negara yang pernah menjadi penjajah di Indonesia beberapa tahun silam. Selain itu KUHP yang saat ini berlaku dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Sehingga diperlukannya sebuah pembaharuan hukum pidana yang sesuai dengan kondisi masyarakat di Indonesia agar terciptanya sebuah produk hukum yang bersemangat nasional dan juga lebih komprehensif.
Menurut Barda Nawawi hakikat dari adanya pembaharuan hukum pidana yaitu:35
1. Sudut Pendekatan Kebijakan :
a. Kebijakan sosial, pembaharuan hukum pidana merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan sosial agar tercipta kesejahteraan dalam masyarakat.
b. Kebijakan kriminal, pembaharuan hukum pidana merupakan upaya untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat.
35 Barda Nawawi Arief. 2010. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta : Prenada Madia Group. Hal. 29-30
34 c. Kebijakan penegakan hukum, pembaharuan hukum pidana merupakan upaya untuk memperbaharui substansi hukum agar tercipta penegakan hukum yang lebih efektif.
2. Sudut pendekatan nilai : Upaya untuk melakukan peninjauan dan penilaian kembali terhadap hukum pidana yang berlaku saat ini agar sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat berdasarakan pancasila..
Barda Nawawi juga mengemukakan bahwa pada era reformasi saat ini, terdapat 3 kebutuhan utama yang sangat mendesak dalam merumuskan pembaharuan hukum pidana.36 Pertama, hukum pidana yang berlaku saat ini sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Mengingat produk hukum pidana yang digunakan saat ini merupakan warisan kolonila belanda, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sudah mengalami penurunan. Kedua spirit yang terkandung dalam hukum pidana saat ini tidak sesuai dengan kondisi bangsa ini yang menerapkan prinsip demokrasi yang mana menjunjung tinggi kebebasan untuk menyatakan pendapat, keadilan serta hak asasi manusia. Ketiga penegakan hukum saat ini menimbulkan ketidakadilan di dalam masyarakat.
Pembaharuan hukum pidana Indonesia merupakan suatu keharusan untuk segera dilakuan pembaharuan. Permaslahan yang ditimbulkan dari usangnya KUHP yang digunakan saat ini sudah tidak sesuai lagi dengan berbagai macam perkembangan masalah-masalah sosial yang terjadi di
36 Ibid. Hal. 9
35 masyarakat. Sehingga timbul dorongan dari masyaraat terhadap negara melalui lembaga legislatif untuk segera melakukan kodifikasi hukum pidana yang membawa spirit nasional sebagai hasil dari pemikiran dari para pakar hukum pidana di Indonesia.
D. Tinjauan Tentang Studi Perbandingan Atau Komparatif 1. Pengertian Studi Komparatif
Dalam kamus besar bahasa Indonesia Studi komparatif memiliki dua suku kata yakni “studi” yang berarti penelitian, kajian atau telaah. Sedangkan
”komparatif” berarti suatu perbandingan. Berdasarkan hal tersebut studi komparatif adalah suatu kajian atau penelitian ilmiah berdasarkan perbandingan. Menurut Suharsimi Arikunto menyebutkan bahwa penelitian komparatif akan meneliti tentang persamaan-persamaan ataupun perbedaan- perbedaan tehadap dua variabel tentang orang, benda, ide ataupun sebuah prosedur kerja.37 Sedangkan menurut Mohammad Nazir studi komparatif adalah sebuah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mencari jawaban mendasar mengenai sebab akibat dengan cara menganalisa faktor-faktor penyebab terjadinya suatu fenomena tertentu.38
Studi komparatif terdiri dari dua jenis yakni:39 1. Korelasional Komparatif
Melihat variabel yang hendak diteliti untuk mengetahui korelasinya dan mengkomparasikan hubungan yang sejajar
37 Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 236
38 Mohammad Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal. 68
39 Op.Cit. Suharsimi
36 2. Kausal Komparatif
Melihat variabel yang hendak diteliti untuk mengetahui adanya hubungan sebab akibat.
3. Ciri-ciri Studi Komparatif
Studi komparatif memiliki sifat ex post facto yang berarti bahwa data yang dikumpulan setelah kejadian yang hendak diteliti telah selesai berlangsung. Penelitian ini akan mengambil satu atau lebih sebuah akibat kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan pengujian data guna mengetahui sebab-sebab, hubungan dan makna. Selain itu penelitian ini tidak memerlukan subyek penelitian yang banyak, cukup dua variabel atau lebih.
4. Tujuan Studi Komparatif
Studi komparatif bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat dan mencari faktor yang memungkinkan untuk menjadi penyebab dengan cara menggunakan data untuk mengetahui makna yang terkandung didalamnya.