• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Arief (2014) menguji pengaruh pengungkapan corporate social responsibility terhadap manajemen laba (Studi Kasus Pada Perusahaan Non Keuangan dan Jasa yang Terdaftar di BEI tahun 2010-2012). Berdasarkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan corporate social responsibility tidak berpengaruh signifikan dan memiliki hubungan positif terhadap manajemen laba. Hal ini dapat dilihat pada uji t dengan tingkat signifikansi 5%.Keterkaitan penelitian ini yaitu menggunakan variabel CSR dan Manajemen laga sebagai variabel penelitian dengan asumsi penarikan hipotesi positif dan signifikan.

Suryani (2015) meneliti tentang pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap koefisen respon laba dan manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Berdasarkan hasil penelitian menemukan bahwa CSR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Koefisien Respon Laba perusahaan. CSR berpengaruh positif dan signifikan terhadap Manajemen Laba perusahaan. Keterkaitan penelitian ini yaitu menggunakan variabel penelitian yang sama dengan asumsi penarikan hipotesi negatif dan signifikan.

Fatmasari (2016) menguji pengaruh profitabilitas, dan leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012- 2014.Berdasarkan hasil penelitian menemukan bahwa Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Leverage pengaruh terhadap praktik manajemen laba.

Keterkaitan penelitian ini yaitu menggunakan variabel profitabilitas dan objek penelitian yang sama meskipun penelitian ini menggunakan skala sub sektor makanan dan minuman.

Priya dan Gayatri (2016) meneliti tentangpengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba dengan pengungkapan Corporate Social Responsibility Sebagai variabel intervening. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa Ukuran perusahaan di Amerika Serikat berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Keterkaitan penelitian ini yaitu menggunakan variabel penelitian yang sama meskipun tidak menggunakan variabel intervening. dengan asumsi penarikan hipotesi negatif.

Pramudhita (2017) menguji pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan kepemilikan institusional terhadap manajemen laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2014). Berdasarkan hasil penelitian

(2)

6

menunjukkan bahwa hanya variabel ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel leverage dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Keterkaitan penelitian ini yaitu menggunakan variabel ukuran perusahaan dan profitabilitas sebagai variabel dengan asumsi penarikan hipotesi signifikan.

Aorora (2018) menguji pengaruh good corporate governance dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap manajemen laba. Kepemilikan institusional, komisaris independen, komite audit dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

Keterkaitan penelitian ini yaitu menggunakan variabel ukuran perusahaan sebagai salah satu variabel dengan asumsi penarikan hipotesi tidak signifikan.

Keterkaitan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan yaitu pada pada penelitian Arief (2014) persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama menggunakan variabel CSR dan Manajemen laba sebagai variabel penelitim dengan asumsi penarikan hipotesis dan signifikn. Perbedaan penelitin ini dengan penelitian yang terdahulu yaitu terletak pada popolasi penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Arief menggunakan populasi perusahaan non keuangan dan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan penelitian ini menggunakan populasi perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian Suryani (2015) persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama menggunakan variabel CSR dan manajemen laba. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yang pertama pada populasi penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Suryani menggunakan populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan penelitian ini menggunakan populasi perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Perbedaan yang kedua yaitu terletak pada periode penelitian laporan keuangan. Periode yang dilakukan Suryani meneliti laporan keuangan selama tahun 2013-2014 sedangkan penelitian ini yaitu tahun 2015-2017

Penelitian Fatmasari (2016) persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama menggunakan variabel profitabilitas untuk menguji pengaruhnya terhadap manajemen laba.Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yaitu pada terletak pada oeriode penelitian laporan keuangan. Periode yang dilakukan fatmasari

(3)

7

meneliti laporan keuangan selama tahun 2012-2014 sedangkan penelitian ini yaitu tahun 2015-2017.

Penelitian Priya dan Gayatri (2016) persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama menggunakan variabel ukuran perusahaan, manajemen laba dan CSR. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yaitu pada populasi perusahaan. Penelitian yang dilakukan olehPriya dan Gayatri menggunakan populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan penelitian ini menggunakan populasi perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian Pramudhita (2018) persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama menggunakan variabel ukuran perusahaan dan profitabiltas sebagai variabel dengan asumsi penarikan hipotesis signifikan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yaitu pada populasi perusahaan. Penelitian yang dilakukan olehPrramudhita menggunakan populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan penelitian ini menggunakan populasi perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Aorora (2018) persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama- sama menggunakan variabel ukuran perusahaan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yaitu pada populasi perusahaan.Penelitian yang dilakukan olehAorora menggunakan populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sedangkan penelitian ini menggunakan populasi perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

B. Tinjauan Pustaka 1. Teori Agensi

Menurut Arfan (2008) dalam Fatmasari (2016), teori agensi mengarah pada hubungan agensi, pemilik (principal) yang memberi mandat pada pekerja (agent).Munculnya teori keagenan karena adanya individu-individu yang bertindak untuk kepentingan mereka sendiri sehingga terkadang mengabaikan kepentingan perusahaan.Teori agensi bertujuan untuk (1) menyelesaikan masalah agensi yang muncul ketika adanya konflik tujuan antara prinsipal dan agensi serta kesulitan prinsipal melakukan verifikasi pekerjaan agensi, (2) menyelesaikan masalah pembagian risiko muncul ketika prinsipal dan agensi memiliki perilaku yang berbeda terhadap risiko.Secara

(4)

8

keseluruhan, teori agensi mengikat janji perilaku kooperatif, tetapi dengan tujuan yang berbeda dan perilaku yang berbeda dalam menghadapi risiko.

Teori agensi memiliki asumsi bahwa masing-masing individu memiliki kepentingannya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.Menurut Govindrajan (1995) dalam Napitupulu (2017) menyatakan “teori agensi adalah hubungan atau kontak antara principal dan agent. Principal mempekerjakan agent untuk melakukan tugas untuk kepentingan principal, termasuk pendelegasian otorisasi pengambilan keputusan dari principal kepada agent.

Manajemen laba sebenarnya merupakan permasalahan agensi yang muncul dari penyerahan pengelolaan perusahaan.Hal ini dilakukan sejalan dengan semakin membesar, melebar, meluasnya hubungan bisnis yang dijalin perusahaan. Secara khusus Jensen dan Meckling (dalam Midiastuty, dkk, 2015) berusaha mendefinisikan hubungan agensi sebagai kontrak antara seseorang atau lebih meminta orang lain untuk melakukan jasa tertentu demi kepentingannya. Hubungan agensi ini seharusnya dapat membuat perusahaan meningkatkan nilainya karena dikelola oleh orang yang mengetahui dan memahami bagaimana menjalankan usaha serta diawasi secara ketat oleh pemilik, namun yang terjadi justru sebaliknya. Sejalan dengan perkembangan bisnis perusahaan maka hubungan yang dijalin perusahaan akan semakin meluas, termasuk dengan pemerintah.

Hubungan yang terjadi antar perusahaan dengan pemerintah, juga merupakan pemicu terjadi permasalahan agensi antara kedua belah pihak.Hubungan agensi yang terbentuk karena adanya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dan dapat diterima oleh semua pihak. Permasalahan agensi akan muncul apabila ada pihak yang tidak mau menjalankan kewajibannya sebagaimana mestinya.

Dalam konteks hubungan agensi dalam penelitian ini penulis menghubungkan antara perusahaan dan pemerintah yang mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah pajak yang ditentukan dengan sejumlah laba yang diperhitungkan.Sebaliknya pemerintah mempunyai hak untuk menerima pembayaran pajak perusahaan tersebut. Sedangkan hak yang akan diterima perusahaan berupa rasa aman dan pelayanan publik meminimalisir kewajiban pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.

Ketika perusahaan menghadapi biaya kontrak dan biaya pengawasan yang rendah dan visibilitas politik yang tinggi akan cenderung untuk mengungkapkan informasi sosial.

Pengungkapan informasi sosial berhubungan positif dengan kinerja sosial, kinerja ekonomi dan visibilitas politis (Suryani, 2015).

(5)

9

Penelitian ini menggunkan teori agensi, untuk menghubungan Corporate Social Responsibility, Ukuran perusahaan, dan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba.

Berdasarkan pemaknaan teori agensi, hubungan Corporate Social Responsibility, Ukuran perusahaan dan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan agen dan partisipan. Menurut teori agensi, Biaya agensi timbul dari hubungan asimetris antara agen dengan partisipan. Agen berpontensi menciptakan biaya agensi dengan cara melakukan tindakan manajemen laba untuk memenuhi keinginan partisipan, instrumen yang digunakan untuk melakukan tindakan manajemen laba yaitu melalui CSR, Ukuran perusahaan, dan Profitabilitas. meskipun demikian Salah satu biaya agensi yang dapat menurunkan tindakan manajemen laba yaitu dengan membagi kepemilikan manajerial oleh partisipan dalam bentuk ROI dan kualitas komite audit perusahaan.

Dengan kata lain manajemen laba adalah konsekwensi logis lahirnya kontrak kerja antaran agen dan partisipan selain itu merupakan buah dari asimetris informasi yang dimiliki oleh agen kepada partisipan.

2. Teori Stakeholder

Stakeholder adalah semua pihak, internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Konsep yang mendasari mengenai siapa saja yang termasuk dalam stakeholder perusahaan sekarang ini telah berkembang mengikuti perubahan lingkungan bisnis dan kompleksnya aktivitas bisnis perusahaan (Hazkia, 2016). Macam-macam stakeholder menurut Clarkson center for business ethics (1999) dalam Hazkia (2016) adalah primary stakeholder dan secondary stakeholder.

Primary stakeholder merupakan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan secara ekonomi terhadap perusahaan dan menanggung risiko. Contohnya: investor, kreditur, karyawan, pemerintah, dan komunitas lokal. Secondary stakeholder dimana sifat hubungan keduanya saling mempengaruhi namun kelangsungan hidup perusahaan secara ekonomi tidak ditentukan oleh stakeholder jenis ini. Contohnya: media dan kelompok kepentingan seperti lembaga sosial, masyarakat, serikat buruh dan sebagainya. Selain itu stakeholder terbagi menjadi dua jenis yaitu stakeholder internal dan stakeholder ekternal.

Stakeholder ekternal merupakan semua pihak diluar perusahaan yang berkepentingan memperoleh informasi perusahaan meliputi, Pemiliki perusahaan, pemerintah, kreditur,

(6)

10

masyarakat dan sebagainya. Sedangkan Stakeholder internal merupakan semua pihak didalam perusahaan yang berkepentingan mengelola perusahaan secara optimal sesuai tujuan perusahaan meliputi, karyawan perusahaan, manajer, auditor internal, dan lainya.

Penelitian ini menggunkan teori Stakeholder, untuk menghubungan Corporate Social Responsibility, Ukuran perusahaan, dan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba.

Berdasarkan pemaknaan teori Stakeholder, hubungan Corporate Social Responsibility, Ukuran perusahaan dan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan stakeholder internal dan Stakeholder ekternal. Menurut teori Stakeholder, Stakeholder internal berkepentingan menciptakan hasil kerja yang optimal perusahaan meliputi Corporate Social Responsibility, Ukuran perusahaan dan Profitabilitas sedangkan stakeholder ekternal berkepentingan mengawasi kinerja stakeholder internal guna menghindari perusahaan melakukan rekayasa hasil kerja seperti melakukan tindakan manajemen laba yang sangat merugikan kualitas laporan kinerja perusahaan. Tindakan manajemen laba berpotensi dilakukan oleh stakeholder internal, instrumen yang digunakan untuk melakukan tindakan manajemen laba yaitu melalui CSR, Ukuran perusahaan, dan Profitabilitas. Meskipun demikian untuk mencegah terjadinya tindakan tersebut stakeholder internal dapat dapat melakukan tindakan pencegahan seperti melakukan pembagian kepentingan kepemilikan manajerial oleh partisipan dalam bentuk ROI dan kualitas komite audit perusahaan. Dengan kata lain manajemen laba adalah konsekwensi logis lahirnya kontrak kerja antaran stakeholder internal dan stakeholder ekternal.

C. Perumusan Hipotesis

1 Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Manajemen Laba

Pengungkapan sukarela bertujuan mengurangi asismetri informasi ketika informasi laba hanya memberikan sedikit informasi tentang nilai perusahaan. Pengungkapan informasi dalam laporan tahunan yang dilakukan oleh perusahaan diharapkan akan mengurangi asimetri informasi dan juga mengurangi agency problem (Sayekti et. al., 2007). Secara teori, rumusan hipotesis ini bersandar pada teori agensi dan teori stakeholder untuk menghubungan Corporate Social Responsibility terhadap Manajemen Laba.

Berdasarkan pemaknaan teori agensi, hubungan Corporate Social Responsibility, terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan agen dan partisipan. Menurut teori agensi, Biaya agensi timbul dari hubungan asimetris antara agen dengan partisipan.

(7)

11

Agen berpontensi menciptakan biaya agensi dengan cara melakukan tindakan manajemen laba untuk memenuhi keinginan partisipan, instrumen yang digunakan untuk melakukan tindakan manajemen laba yaitu melalui CSR.

Berdasarkan pemaknaan teori Stakeholder, hubungan Corporate Social Responsibility terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan stakeholder internal dan Stakeholder ekternal. Menurut teori Stakeholder, Stakeholder internal berkepentingan menciptakan hasil kerja yang optimal perusahaan melalui Corporate Social Responsibility, sedangkan stakeholder ekternal berkepentingan mengawasi kinerja stakeholder internal guna menghindari perusahaan melakukan rekayasa hasil kerja seperti melakukan tindakan manajemen laba yang sangat merugikan kualitas laporan kinerja perusahaan.

Hasil penelitian dari Suryani (2015), menemukan bahwa corporate social responsibility berpengaruh signifikan terhadap Manajemen Laba perusahaan. Dengan demikian maka hipotesis pertama (H1) yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H1: Corporate social responsibility berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba

Sudarmadji dan Sularto (2007), dalam Aorora (2018), ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan.Terdapat berbagai proksi yang biasanya digunakan untuk mewakili ukuran perusahaan, yaitu total aset. Semakin besar aset maka semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat.

Secara teori, rumusan hipotesis ini berbasis pada teori agensi dan teori stakeholder untuk menghubungan Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba. Berdasarkan pemaknaan teori agensi, hubungan Ukuran Perusahaan, terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan agen dan partisipan. Menurut teori agensi, Biaya agensi timbul dari hubungan asimetris antara agen dengan partisipan. Agen berpontensi menciptakan biaya agensi dengan cara melakukan tindakan manajemen laba untuk memenuhi keinginan partisipan, instrumen yang digunakan untuk melakukan tindakan manajemen laba yaitu melalui Ukuran Perusahaan.

(8)

12

Berdasarkan pemaknaan teori Stakeholder, hubungan Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan stakeholder internal dan Stakeholder ekternal. Menurut teori Stakeholder, Stakeholder internal berkepentingan menciptakan hasil kerja yang optimal perusahaan melalui Ukuran Perusahaan, sedangkan stakeholder ekternal berkepentingan mengawasi kinerja stakeholder internal guna menghindari perusahaan melakukan rekayasa hasil kerja seperti melakukan tindakan manajemen laba yang sangat merugikan kualitas laporan kinerja perusahaan.

Hasil penelitian dari Priya dan Gayatri (2016) dan Pramudhita (2017), menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba. Dengan demikian maka hipotesis kedua (H2) yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H2: Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Pengaruh ProfitabilitasTerhadap Manajemen Laba

Menurut Welvin dan Arleen (2010), profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukan oleh laba yang dihasilkan perusahaan.Laba yang dihasilkan perusahaan selama tahun berjalan dapat menjadi indikator terjadinya praktik manajemen laba dalam suatu perusahaan biasanya manajemen laba dilakukan oleh manajer untuk memanipulasi komponen laba rugi yang dilaporkan perusahaan.

Secara teori, rumusan hipotesis ini bersandar pada teori agensi dan teori stakeholder untuk menghubungan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba. Berdasarkan pemaknaan teori agensi, hubungan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan agen dan partisipan. Menurut teori agensi, Biaya agensi timbul dari hubungan asimetris antara agen dengan partisipan. Agen berpontensi menciptakan biaya agensi dengan cara melakukan tindakan manajemen laba untuk memenuhi keinginan partisipan, instrumen yang digunakan untuk melakukan tindakan manajemen laba yaitu melalui Profitabilitas.

Berdasarkan pemaknaan teori Stakeholder, hubungan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba dijelasakan melalui pemaknaan hubungan stakeholder internal dan Stakeholder ekternal. Menurut teori Stakeholder, Stakeholder internal berkepentingan menciptakan hasil kerja yang optimal perusahaan melalui Profitabilitas, sedangkan stakeholder ekternal berkepentingan mengawasi kinerja stakeholder internal guna

(9)

13

menghindari perusahaan melakukan rekayasa hasil kerja seperti melakukan tindakan manajemen laba yang sangat merugikan kualitas laporan kinerja perusahaan. Hasil penelitian Pramudhita (2017) menemukan bahwa, profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba.Dengan demikian maka hipotesis ketiga (H3) yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H3: Profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Pengaruh Corporate Social Responsibility dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Melalui Profitabilitas

Penelitian ini menempatkan variabel profitabilitas sebagai variabel intervening dalam pengaruh corporate social responsibility dan ukuran perusahaan terhadap manajeman laba. Secara teori, rumusan hipotesis ini bersandar pada teori agensi dan teori stakeholder untuk menghubungan Corporate Social Responsibility dan ukuran perusahaan terhadap Manajemen Laba melalui Profitabilitas. Berdasarkan pemaknaan teori agensi, hubungan Corporate Social Responsibility, ukuran perusahaan terhadap Manajemen Laba yang dimediasi oleh Profitabilitas dijelasakan melalui pemaknaan hubungan agen dan partisipan. Menurut teori agensi, Biaya agensi timbul dari hubungan asimetris antara agen dengan partisipan. Agen berpontensi menciptakan biaya agensi dengan cara melakukan tindakan manajemen laba untuk memenuhi keinginan partisipan, instrumen yang digunakan untuk melakukan tindakan manajemen laba yaitu melalui CSR dan ukuran perusahaan. Meskipun demikian Salah satu biaya agensi yang dapat menurunkan tindakan manajemen laba yaitu dengan membagi kepemilikan manajerial oleh partisipan dalam bentuk ROI perusahaan. Dengan kata lain manajemen laba adalah konsekwensi logis lahirnya kontrak kerja antaran agen dan partisipan selain itu merupakan buah dari asimetris informasi yang dimiliki oleh agen kepada partisipan. Sedangkan profitabilitas yang dibagi dalam bentuk kepemilikan manajerial oleh partisipan dalam bentuk ROI berpotensi mencegah terjadinya manajemen laba.

Berdasarkan pemaknaan teori Stakeholder, hubungan Corporate Social Responsibility dan ukuran perusahaan terhadap Manajemen Laba melalui Profitabilitas dijelasakan melalui pemaknaan hubungan stakeholder internal dan Stakeholder ekternal.

Menurut teori Stakeholder, Stakeholder internal berkepentingan menciptakan hasil kerja yang optimal perusahaan melalui Corporate Social Responsibility dan Ukuran perusahaan

(10)

14

sedangkan stakeholder ekternal berkepentingan mengawasi kinerja stakeholder internal guna menghindari perusahaan melakukan rekayasa hasil kerja seperti melakukan tindakan manajemen laba yang sangat merugikan kualitas laporan kinerja perusahaan. Salah satu upaya stakeholder ekternal untuk mencegah tindakan manajemen laba yaitu membagi profitabilitas sebagian profit kepada stakeholder internal dalam bentuk kepemilikan saham.

Berdasarkan teori agensi, tingkat CSR dan Ukuran Perusahaan dapat mempengaruhi agen dalam melakukan manajemen laba, Sementara itu profitabilitas melalui ukuran perusaaan dan CSR dapat meningkatkan manajemen laba.

Kusumadilaga (2010) mengemukakan bahwa profitabilitas mampu mengintervensi hubungan CSR dengan nilai perusahaan, manajemen laba adalah bagian dari cara menaikan nilai perusahaanDengan demikian maka hipotesis keempat (H4) dan kelima (H5) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H4: Corporate social responsibilityberpengaruh terhadap manajemen laba melalui profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

H5: Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba melalui profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

D. Kerangka Konseptual

Penelitian ini berutujan untuk mengetahui pengaruh Corporate social responsibility dan Ukuran Perusahaan terhadap manajemen laba yang dimediasi oleh profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori agensi dan teori stakeholder dengan teknik analisis jalur untuk menguji Lima Hipotesis yaitu Pengaruh Corporate social responsibility terhadap manajemen laba (H1), Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap manajemen laba (H2), Pengaruh Profitabilitas terhadap manajemen laba (H3), Pengaruh Corporate social responsibility terhadap manajemen laba melalui Profitabilitas (H4), dan Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap manajemen laba melalui Profitabilitas (H5).

Adapun dapat dilihat pada kerangka pikir sebagai berikut.

(11)

15

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Ukuran

Perusahaan (X2) Corperate Social

Responsibility (X1)

Profitabilitas (Z)

Manajemen Laba

(Y) H1

H1

H3

H4

H5

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Ukuran Perusahaan (X2) Corperate Social Responsibility (X1) Profitabilitas (Z)  Manajemen Laba (Y) H1 H1 H3 H4 H5

Referensi

Dokumen terkait

Bab ini menguraikan teori-teori yang menjadi dasar analisis penelitian yang meliputi; Corporate Social Responsibility (CSR), pengungkapan corporate social responsibility dan

Independen Dependen Nora Silvia (2014) Good Corporate Governance, Pengungkapan Corporate Social Responsibility Kinerja Keuangan Good Corporate Governance, Pengungkapan

CSR (Corporate Social Responsibility) adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengambangan ekonomi berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung

Pengungkapan Corporate Sosial Responsibility merupakan sebuah sinyal untuk mengkomunikasikan kinerja perusahaan dalam jangka panjang, karena Corporate Sosial Responsibility

2.2.7 Pengaruh Corporate Governance dengan proksi Ukuran Dewan Komisaris terhadap Voluntary Disclosure. Corporate governance yang diproksikan oleh ukuran dewan

Corporate social responsibility merupakan proses penting dalam pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis dengan stakeholders baik secara internal (pekerja,

Penelitian Skripsi oleh Pasri Y Pasaribu tahun 2012 dengan judul “Pengaruh Sikap Konsumen tentang Penerapan Program Corporate Social Responsibility terhadap Loyalitas

Corporate Social Responsibility CSR Public Relation/ Bagian Komunikasi Korporasi Internal Eksternal Kadin Kantor Dagang Indonesia Community Relations Komunikasi