• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI PETERNAKAN DAN PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POTENSI PETERNAKAN DAN PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI PETERNAKAN DAN PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG

A. Kondisi Umum

Kabupaten Magelang merupakan salah satu kabupaten di propinsi Jawa Tengah yang letaknya berbatasan dengan beberapa kabupaten dan kota, antara lain Kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo dan Kota Magelang serta Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi jalur perdagangan dari daerah-daerah disekitar wilayah kabupaten Magelang. Secara astronomis Kabupaten Magelang letaknya antara 110ο 01’ 51”

dan 110ο 26’ 58” Bujur Timur dan antara 7ο 19’ 13” dan 7ο 42’ 16” Lintang Selatan.

Luas wilayah Kabupaten Magelang tercatat sekitar 108.573 Ha atau sekitar 3,34 persen dari luas propinsi Jawa Tengah. Dari luas tersebut sekitar 34,05 % merupakan lahan sawah, 38,61% merupakan lahan kering dan sisanya sekitar 27,34% berupa lahan bukan pertanian. Wilayah Kabupaten Magelang berada pada posisi strategis dan sangat subur, dikelilingi gunung-gunung diantaranya Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan perbukitan Menoreh dengan ketinggian wilayah antara 153 – 3.065 m di atas permukaan laut dan ketingian rata-rata 360 m diata spermukaan laut. Karena letaknya tersebut maka posisi Kabupaten Magelang terlihat seperti bentuk Cawan.

B. Potensi Peternakan

Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut baik berupa produk maupun jasa. Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan prinsip- prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah dikombinasikan secara optimal.

Kegiatan di bidang peternakan dapat dibagi atas dua golongan, yaitu peternakan hewan besar seperti sapi potong, sapi perah, kerbau dan kuda, sedang kelompok kedua yaitu peternakan hewan kecil seperti kambing, domba, ayam, kelinci, itik dll.

Sapi Potong Kambing Kelinci

(2)

Sapi Perah Domba Ayam Ras

Sebagian besar wilayah Kabupaten Magelang sangat berpotensi untuk pengembangan peternakan baik ternak besar maupun kecil . Hal ini didukung oleh kondisi iklim yang bersifat tropis dengan dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, dengan temperatur udara 20˚ C - 27˚ C, curah hujan yang cukup tinggi. Ketersediaan air di dukung dengan adanya Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo dan DAS Bogowonto sehingga kaya akan mata air dan sungai. Terdapat 10 sungai besar/sedang dengan jumlah debit maksimum 2.314 m3 /detik pada musim penghujan dan minimum 110,3/detik pada musim kemarau, serta 55 mata air dengan jumlah debit 9.509 liter/detik.

Sapi potong kereman maupun sapi potong bibit dan itik magelang dengan ciri khas seperti terdapat kalung putih menjadi komoditas unggulan dari Kabupaten Magelang.

Keunggulan peternakan didukung adanya dua pasar hewan yang besar, yaitu pasar Legi Grabag, dan Pasar Pahing-Kliwon Muntilan. Daya tampung masing-masing pasar tersebut berkisar antara 500 sampai dengan 1.000 ekor ternak besar (antara lain : sapi potong, sapi perah dan kerbau) selain itu juga menampung ternak kecil (antara lain : kambing, domba).

Dukungan pasca panen berupa 2 Rumah Potong Hewan (RPH) yaitu RPH Grabag dan RPH Muntilan.

Sapi Simental/Limousin Sapi Peranakan Ongol (PO)

Ternak yang diperdagangkan pada PSH Grabag dan PSH Muntilan berasal dari kantong perbibitan ternak sapi yaitu Kec. Sawangan, Kec. Candimulyo, Kec. Tegalrejo dan Kec. Grabag, sedangkan ternak hasil penggemukan berasal dari Kecamatan Dukun, Ngablak dan Pakis, ternak sapi perah berasal dari Kec. Ngablak, ternak kecil Kambing/domba banyak berasal dari Kec. Mertoyudan, Kec. Bandongan, Kec. Tempuran,

(3)

Kec. Borobudur, Kec. Kajoran dan Kec. Salam serta dari wilayah kabupaten Temanggung, Salatiga, dan dari Provinsi DIY.

Itik Magelang atau yang sebelumnya dikenal dengan itik kalung merupakan jenis itik asal Jawa Tengah yang cukup dikenal. Itik ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan itik lainnya, maka itik tersebut telah tersebar di 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang. Keunggulan lainnya adalah mempunyai bentuk tubuh besar dengan bobot badan yang lebih berat, sehingga afkirannya lebih laku sebagai itik potong dan produksi telur yang tinggi. Secara spesifik itik Magelang ditandai dengan adanya lingkaran putih seolah-olah memakai kalung dan produksi telurnya tinggi.

Itik Magelang

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 801/Kpts/PD.410/2/2013 tanggal 13 Februari tahun 2013 tentang Penetapan rumpun Itik Magelang, Itik Magelang ditetapkan sebagai rumpun itik lokal Indonesia dan sebagai Sumber Daya Genetik (SDG) Hewan ternak Lokal Indonesia yang keseragaman bentuk fisik yang khas dibandingkan dengan itik asli dan itik lokal lainnya dengan wilayah sebaran asli geografis Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah. Dengan demikian maka Itik Magelang harus dilindungi dan dilestarikan.

Selain kedua jenis ternak yang merupakan unggulan di Kabupaten Magelang tersebut. Ternak kambing/domba, dan unggas lainnya seperti ayam ras, ayam ras, kelinci juga dikembangkan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Magelang.

Potensi peternakan di Kabupaten Magelang dapat dilihat di tabel dibawah ini:

(4)

Tabel. Populasi Ternak di Kabupaten Magelang Tahun 2011-2013 No. Populasi ternak Tahun

2011 2012 2013

1. Sapi potong 75.827 77.575 77.764

2. Sapi perah 647 781 2.440

3. Kambing 81.410 83.432 86.963

4. Domba 84.017 89.620 91.726

5. Kerbau 6.637 6.285 6.020

6. Kuda 571 543 409

7. Ayam buras 975.229 985.108 993.974 8. Ayam ras petelur 1.464.400 1.456.645 1.674.000 9. Ayam ras pedaging 1.330.100 1.482.400 1.432.400

10. Itik 191.081 184.604 189.604

11. Itik manila 81.832 82.580 82.732

12. Kelinci 27.475 27.348 27.621

13. Burung puyuh 198.786 172.601 176.000

14. Angsa 7.716 7.108 7.330

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang

Dari data tersebut dapat terlihat bahwa populasi ternak rata-rata mengalami kenaikan pada tahun pada tahun 2012 dan 2013. Kenaikan populasi ini juga berpengaruh pada kenaikan produksi daging, telur dan susu. Setelah sebelumnya mengalami penurunan drastis pasca erupsi merapi pada tahun 2010, dengan upaya dari pemerintah baik melalui anggaran APBD, APBD provinsi dan APBN maka kegiatan peternakan di Kabupaten Magelang dapat berlangsung dengan baik kembali.

(5)

C. Potensi Perikanan

Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no.

31/2004, kegiatan yang termasuk dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Kegiatan budidaya perikanan merupakan usaha agribisnis yang sangat menjanjikan.

Induk Ikan Bawal

Letak geografis Kabupaten Magelang yang berada di Tengah pulau Jawa menyebabkan potensi perikanan yang ada hanya perikanan air tawar karena Kabupaten Magelang tidak memilikiwilayah pantai yang berbatasan dengan laut. Kondisi topografis yang berbukit-bukit memberi keuntungan tersendiri bagi usaha perikanan budidaya dan perikanan tangkap di perairan umum. Keadaan yang demikian menjadikan sumber air tawar melimpah dan hampir ada disetiap kecamatan di Kabupaten Magelang.

Kabupaten Magelang terdiri dari 21 kecamatan. Seluruh kecamatan tersebut berpotensi bagi pengembangan sektor perikanan. Potensi lahan usaha perikanan di Kabupaten Magelang seluas 3.073 ha yang terdiri dari lahan budidaya kolam seluas 264,7 ha dan sawah (minapadi) seluas 2.808,3 ha. Sedangkan perairan umum seluas 479 ha.

Sampai dengan saat ini Kabupaten Magelang dikenal sebagai salah satu produsen benih ikan air tawar besar di Jawa Tengah, didukung dengan keberadaan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dan Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemerintah Daerah. Pada tahun 2013 mampu memprodusi 1.014.517.500 ekor benih ikan yang terdiri dari ikan Mas, Nila, Tawes, Lele, Gurame, Bawal, Patin dan jenis ikan-ian lainnya. Data produksi perikanan Kabupaten Magelang dari tahun 2011 sampai 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

(6)

Tabel. Produksi Perikanan kabupaten Magelang Tahun 2011-2013

No. Uraian Tahun

2011 2012 2013

1. Perikanan Budidaya

Luas areal 3.063,2 3.067,0 3.073,0

- Kolam ( Ha ) 254,8 258,7 264,7

- Sawah ( Ha ) 2.808,3 2.808,3 2.808,3

Produksi budidaya

a. Lauk ( ton ) 4.712,4 8.307,8 13.583,7

- Ikan mas 750,9 864,7 1.642,2

- Ikan nila 1.708,7 2.502,6 3.961,8

- Ikan tawes 309,7 491,7 588,3

- Lele 1.042,1 2.388,5 4.092,9

- Ikan gurami 154,4 401,5 402,4

- Bawal 474,1 1.303,4 2.368,2

- Patin 55,6 79,9 120,9

- Udang galah 9,9 0,3 -

- Lainnya 206,9 275,2 407,1

b. Benih ( x 1000 ekor ) 602.761,4 752.098,7 1.014.517,5

- Ikan mas 75.990,9 88.842,2 104.008,5

- Ikan nila 236.075,5 312.036,7 439.528,8

- Ikan tawes 41.833,2 57.025,4 64.797,6

- Lele 189.704,1 214.282,5 305.736,6

- Ikan gurami 4.007,5 4.043,4 7.488,8

- Bawal air tawar 51.629,2 71.495,4 88.764,5

- Patin 1.858,0 2.503,2 2.122,7

- Udang galah - - -

- Lainnya 1.663,0 1.869,9 2.070,0

Rumah Tangga Perikanan/RTP 7.039,0 7.184,0 7.459,0 (KK)

2. Perikanan Tangkap

Trip 112.935,0 96.221,0 66.568,0

Rumah Tangga Perikanan/RTP

(KK) 350,0 350,0 350,0

Produksi ( ton ) 228,5 229,8 208,3

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang

(7)

Ikan Koi

Benih Ikan Nila

Dari unsur SDM potensinya meliputi pembudidaya ikan sebanyak 7.184 orang, nelayan/penangkap ikan 350 orang. Daya dukung lain antara lain terdapat 2 pasar ikan besar yaitu Pasar Ikan Bojong dan Pasar Ikan Ngrajeg serta 5 pasar ikan desa, Unit Pengolah Ikan sebanyak 101 unit, POKWASMAS 3 kelompok serta penyuluh perikanan sebanyak 16 orang. Daya dukung yang ada memperbesar peluang

dijadikan sektor andalan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan wilayah perikanan di bagi menjadi 3

yaitu :dibagi kedalam III zona sesuai dengan faktor teknis, sosial budaya dan ekonomis, yaitu:

1. Zone Pengembangan I

Zone ini dikembangkan untuk usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan komersial antara lain ikan Nila, gurame, Lele, Mas, pangasius, Bawal air Tawar, Ikan Hias, Udang Galah dan Udang Lobster Air Tawar ( Cherax sp ). Zone pengembangan I ini meliputi

sungai Elo, Progo dan

Ikan Mas

Benih Ikan Nila Ikan Lele

Dari unsur SDM potensinya meliputi pembudidaya ikan sebanyak 7.184 orang, nelayan/penangkap ikan 350 orang. Daya dukung lain antara lain terdapat 2 pasar ikan besar yaitu Pasar Ikan Bojong dan Pasar Ikan Ngrajeg serta 5 pasar ikan desa, Unit sebanyak 101 unit, POKWASMAS 3 kelompok serta penyuluh perikanan sebanyak 16 orang. Daya dukung yang ada memperbesar peluang

peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan wilayah perikanan di bagi menjadi 3 wilayah ( zone ) pengembangan yaitu :dibagi kedalam III zona sesuai dengan faktor teknis, sosial budaya dan ekonomis,

Zone Pengembangan I

Zone ini dikembangkan untuk usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan komersial antara lain ikan Nila, gurame, Lele, Mas, pangasius, Bawal air Tawar, Ikan Hias, Udang Galah dan Udang Lobster Air Tawar ( Cherax sp ). Zone pengembangan I ini meliputi daerah yang cukup air dan terletak di sekitar aliran sungai Elo, Progo dan daerah yang banyak sumber mata airnya

Dari unsur SDM potensinya meliputi pembudidaya ikan sebanyak 7.184 orang, nelayan/penangkap ikan 350 orang. Daya dukung lain antara lain terdapat 2 pasar ikan besar yaitu Pasar Ikan Bojong dan Pasar Ikan Ngrajeg serta 5 pasar ikan desa, Unit sebanyak 101 unit, POKWASMAS 3 kelompok serta penyuluh perikanan sebanyak 16 orang. Daya dukung yang ada memperbesar peluang sektor perikanan

wilayah ( zone ) pengembangan yaitu :dibagi kedalam III zona sesuai dengan faktor teknis, sosial budaya dan ekonomis,

Zone ini dikembangkan untuk usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan komersial antara lain ikan Nila, gurame, Lele, Mas, pangasius, Bawal air Tawar, Ikan Hias, Udang Galah dan Udang Lobster Air Tawar ( Cherax sp ). Zone daerah yang cukup air dan terletak di sekitar aliran daerah yang banyak sumber mata airnya. Wilayah zone

(8)

pengembangan I meliputi Kecamatan Ngluwar, Muntilan, Mungkid, Sawangan, Grabag dan Secang.

2. Zone Pengembangan II

Zone ini dikembangkan untuk usaha ikan melalui pengembangan usaha budidaya ikan di kolam pembesaran maupun di kolam pekarangan. Usaha pembesaran yang meliputi pembesaran ikan Nila, Gurame,lele, Mas, tawes, pangasius dan Bawal Air Tawar, dimana selain untuk usaha komersial juga untuk pemenuhan gizi keluarga melalui usaha pembesaran dengan memanfaatkan kolampekarangan. Zone pengembangan II ini meliputi Kecamatan Salam, Srumbung, Dukun, Ngluwar, Salaman, Borobudur, Kajoran, Kaliangkrik, Tempuran, Mertoyudan, Bandongan, Secang, Tegalrejo, Sawangan dan grabag.

3. Zone Pengembangan III

Zone pengembangan III merupakan zone selain zone pengembangan I dan zone pengembangan II yang merupakan daerah pegunungan dimana daerah tersebut untuk usaha budidaya ikan yang tidak termasuk usaha yang komersil. Zone pengembangan III merupakan zone untuk menyerap hasil produksi perikanan didaerah zone pengembangan I dan zone pengembangan II dan diarahkan sebagai usaha pemasaran hasil perikanan dengan pengembangan usaha pancingan, rumah makan dan wisata aquabisnis/minapolitan/minawisata. Zone pengembangan III ini meliputi sepanjang jalur utama Yogyakarta – Semarang (Kecamatan Secang, Mertoyudan, Mungkid dan Muntilan), kawasan wisata Borobudur (Kecamatan Borobudur), jalur sepanjang Magelang - Purworejo (Kecamatan Salaman), kawasan wisata di kecamatan Bandongan, Sawangan atas dan Grabag), dan Desa Minawisata Menayu Kec. Muntilan.

Kabupaten Magelang telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan Minapolitan melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor : KEP.32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dan ditegaskan kembali melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesa Nomor 35/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan , Kabupaten Magelang ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Minapolitan di Jawa Tengah. Lokasi Minapolitan disentrakan di tiga Kecamatan , yaitu Kecamatan Muntilan, Kecamatan Mungkid dan Kecamatan Sawangan.

Pemanfaatan lahan yang terdapat di kawasan minapolitan terkait dengan pengembangan kawasan terkait pada bidang budidaya perikanan, industri dan wisata.

(9)

Pengembangan pemanfaatan tersebut secara keseluruhan terkait dengan usaha perikanan.

Berikut merupakan penjabaran konsep pemanfaatan lahan yang ada di kawasan minapolitan di Kabupaten Magelang :

• Kegiatan budidaya (minabisnis): kegiatan tersebut dilakukan dengan teknologi yang sesuai dengan memperhatikan sistem pengolahan limbah sehingga kawasan minapolitan tersebut dapat mempertahankan kelestarian lingkungannya. Suasana kolam budidaya yang nyaman dan mempertahankan kondisi lingkungan tersebut dapat dilakukan melaui beberapa cara yaitu :

− Menggunakan teknologi budidaya yang ramah lingkungan (teknologi pembenihan, pembesaran dan pembuatan pakan ikan)

− Penataan lingkungan dengan cara : menata tanggul-tanggul kolam dengan ditanami tanaman holtikultura.

Kegiatan budidaya ikan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan sistem diversifikasi dan pola penen yang terjadwal/bergantian.

Kegiatan industri (minaindustri) : kegiatan yang terdapat di kawasan minapolitan terbagi atas industri produk olahan dan industri pariwisata. Industri produk olahan tersebut berupa produk olahan yang terbuat dari ikan seperti abon, krupuk, dll, sedangkan untuk industri pariwisata didapatkan dari sistem pola budidaya perikanan yang dilakukan dengan memanfaatkan batasan kolam untuk tanaman holtikultura dengan sistem tanam organik seperti lobak, dll.

Kegiatan wisata (minawisata) : kegiatan di kawasan minapolitan tersebut terbentuk dari terciptanya lingkungan budidaya yang nyaman dengan sistem budidaya yang menerapkan teknologi pengelolaan limbah. Wisata tersebut bisa berupa wisata alam (dikawasan budidaya ikan yang terpadu dengan tanaman holtikultura) atau wisata atraksi (berupa pertunjukan saat memberikan pakan atau lomba-lomba yang lain).

Kegiatan pemanfaatan dari sub sektor terkait dalam pengembangan kawasan minapolitan tersebut dilakukan dengan dasar perwujudan kawasan minapolitan sebagai kawasan sentra perikanan dikembangkan dengan terintegrasi sektor pertanian, industri dan pariwisata. Konsep pemanfaatan lahan tersebut diterapkan untuk dapat mencapai adanya suatu pemenuhan kebutuhan pasar terhadap ikan dan peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat perikanan di kawasan minapolitan. Peningkatan tersebut secara tidak langsung akan membawa peningkatan terhadap kesejahteraan dan perkembangan perekonomian Kabupaten Magelang

(10)

secara lebih luas mengingat integrasi perikanan dengan sektor yang lain membawa nilai tambah bagi perekonomian masyarakat dan wilayah.

Dalam rangka mendukung program tersebut langkah langkah yang telah ditempuh Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Magelang sebagai SKPD teknis telah antara lain :

1. Menetapkan SK Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan melalui SK Bupati Magelang Nomor : 188.45 / 347/KEP/29/2011 tentang Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan , yaitu di Kecamatan Mungkid dengan sentranya di Ngrajek, Kecamatan Muntilan dengan sentranya di Menayu dan Kecamatan Sawangan dengan sentranya di Mangunsari.

2. Menetapkan komoditas unggulan , melalui SK Bupati Magelang Nomor 188.45 / 346/KEP/29/2011 tentang Komoditas unggulan di Kabupaten Magelang. Komoditas yang ditetapkan sebagai komoditas unggulan yaitu ikan Nila dan Lele.

3. Menyusun kelompok kerja Kegiatan Pengembangan Kawasan Minapolitan yang ditetapkan melalui SK Bupati Magelang Nomor 188.45 / 348 /KEP/29/2011 dilanjutkan dengan SK Bupati Magelang Nomor 188.45 / 396 /KEP/29/2012

4. Menyusun masterplan pengembangan kawasan, Rencana pembangunan infrastruktur jangka menengah (RPIJM) dan DED kawasan minapolitan, minawisata Menayu dan Ngrajek.

Dalam memaksimalkan potensi perikanan, upaya yang dapat ditempuh adalah dengan mensinergikan dan mengharmonisasikan tiga strategi terobosan yaitu minapolitan, Industrialiasi Perikanan dan Blue economy. Ketiga stategi ini, merupakan motor penggerak (driving force) untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing yang mengusung paradigma ekonomi berkelanjutan berbasiskan wilayah dan kawasan.

(11)

Foto-foto Kegiatan Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang

Pemeliharaan Ternak Sapi

Pemeliharaan Ternak Domba

Pemeliharaan Ternak Itik Magelang

(12)

Pemeliharaan Ternak Kelinci

Pemeliharaan Ternakayam Ras Pedaging

Kunjungan kelompok ternak itik Kab. Magelang ke Satker Perbibitan Itik BPBTNR Provinsi Jateng di Banyubiru

(13)

Kegiatan Budidaya Ikan Kolam Pekarangan

Kegiatan Sortir Benih Ikan

Kegiatan Panen Ikan Nila

(14)

Kegiatan Promosi/Pameran Produk Perikanan

Kegiatan Vaksinasi Ternak Sapi oleh Petugas Dinas peternakan dan Perikanan

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Potensi Dan Daya Saing Sumber Daya Perikanan Kabupaten Sidoarjo Untuk Pengembangan Minapolitan ; Aditya Purwanto; 2011; 76 halaman; Jurusan Ilmu Ekonomi

Analisis Potensi Dan Daya Saing Sumber Daya Perikanan Kabupaten Sidoarjo Untuk Pengembangan Minapolitan; Aditya Purwanto; 2011; 76 halaman; Jurusan Ilmu Ekonomi

Peran Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dalam hal pengelolaan terkait dengan program dan kegiatan apa yang telah dilakukan, dalam mengelola sektor perikanan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi eksisting kawasan minapolitan di kabupaten Pangkep dan untuk mengetahui sektor unggulan komoditas perikanan tangkap dan budidaya

Pendekatan pengembangan wilayah berbasis keunggulan dengan pemanfaatan optimal sumberdaya alam di kawasan Minapolitan, dibangun melalui penerapan azas kebersamaan ekonomi

perikanan tangkap, peningkatan pelayanan pada pusat kegiatan kawasan, pengembangan sistem dan jaringan transportasi Klaster Minapolitan Belinyu; Pengembangan Komoditas

 Program unggulan yang dicanangkan oleh Dinas Perikanan dan Peternakan dalam mendukung pengembangan sektor perikanan tangkap antara lain:.

Perwujudan Pusat-Pusat Kegiatan Program Pengelolaan dan Pengembangan Fasilitas Pelayanan pada Kawasan Pusat Kota, Sub Pusat Kota dan Pusat-pusat Subkota 1 Pengembangan