• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN OBJEK WISATA SUNAN KUDUS BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN OBJEK WISATA SUNAN KUDUS BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN OBJEK WISATA SUNAN KUDUS BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG

Bunyanissa’adati, Wisnu Sasongko, Kartika Eka Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65145 -Telp (0341)567886

Email: [email protected]

ABSTRAK

Pariwsata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan dan dikelola secara maksimal. Pariwisata di Indonesia bermacam-macam, salah satunya wisata religi. Walisongo merupakan salah satu wisata religi di Indonesia yang merupakan simbol penyebaran agama islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Salah satu pariwisata religi Walisongo berada di Kabupaten Kudus. Kabupaten Kudus memiliki potensi pariwisata yang tinggi dan strategis dalam pengembangan pariwisatanya. Hal ini dapat dilihat dari kunjungan wisatawan, baik domestik dan mancanegara yang dimana pada setiap tahunnya mencapai rata- rata di atas 1 juta orang. Penelitian ini mengkaji terkait pengembangan objek wisata sunan kudus berdasarkan respon pengunjung terhadap minat untuk mengunjungi ulang dan kepuasan pengunjung. Dalam pelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis IPA untuk melihat apakah pengujung yang datang ke Objek Wisata Sunan Kudus telah puas dengan sistem pelayanan yang disajikan beserta apakah pengunjung yang berkunjung memiliki minat untuk kembali. Hasil dari penelitian yang dilakukan yaitu kepuasan pengunjung terhadap objek Wisata Sunan Kudus sebesar 89,09% yang masuk dalam kriteria sangat puas, dan sebagian responden merupakan wisata religi.

Kata Kunci : Analisis-Deskriptif, Analisis-IPA, Pariwisata ABSTRACT

Tourism is one of the sectors in Indonesia that has feasible potential to be developed and managed optimally.

There are various types of tourism available in Indonesia, one of them is religion-based tourism which is Walisongo, it’s known as a symbol of Islamic spread in Indonesia, especially in Java Island. One of the Walisongo religion-based tourism is located in Kudus Regency. Kudus Regency has high and strategic tourism potential in terms of the tourism development. This can be concluded from the numbers of tourist visitation, both domestically and internationally, in which the average figures annually reached more than 1 million visitors. This research asseses the development of tourist destination object Sunan Kudus based on revisitation interest perception and visitor satisfaction. This research uses descriptive analysis and IPA analysis to see if the visitors of Sunan Kudus tourist destination have satisfied with the service system served as well as what makes the visitors do revisit. The results of this research is visitor satisfaction towards Sunan Kudus tourist destination object as high as 89,09%

which is included in the satisfactory criteria, and some of the respondents are religious tourist.

Keywords: Descriptive-Analysis, IPA-Analysis, Tourism

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki keindahan alam dan keanekaragaman budaya, serta memiliki wilayah yang sangat luas dan didukung dengan beragamnya sumber daya alam yang sangat berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan. Pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan dan dikelola secara maksimal, sehingga sangat membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang baik dan terarah untuk menjadi pariwisata yang handal dan mampu bersaing di pasar internasional. Pembangunan serta

pengembangan pariwisata ini akhirnya menjadi sebuah indikator penting dalam kesejahteraan masyarakat guna mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera (Setiawan, 2015).

Menurut (Moyers, 2009), pariwisata merupakan aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah, tetapi untuk memenuhi rasa keingintahuan, menghabiskan waktu senggang atau waktu libur, serta tujuan- tujuan lainnya. Pengembangan sektor pariwisata menurut UU No. 10 Tahun 2009 bahwa keberadaan daya tarik wisata pada suatu daerah akan mendapatkan keuntungan yaitu dapat

(2)

meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan rasa cinta lingkungan serta melestarikan alam budaya setempat. Dalam SK Menparpostel No.

KM 98 PW adalah objek wisata merupakan suatu tempat atau keadaan alam yang memiliki sumber daya alam yang dibangun dan dikembangkan sehingga memiliki daya tarik yang diusahakan sebagai tempat yang dikunjungi wisatawan (Maryetti, 2018).

Pariwisata di Indonesia menurut (Nugraha, 2015) terdiri dari bermacam-macam, salah satunya merupakan wisata religi. Pariwisata religi di Indonesia salah satunya yaitu Walisongo.

Walisongo merupakan simbol penyebaran agama islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa.

Pengertian dari Walisongo sendiri merupakan jumlah wali yang ada sembilan, atau “sanga”

dalam bahasa Indonesia artinya sembilan.

Pariwisata Religi Walisanga di Indonesia terdiri dari Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Djati.

Salah satu pariwisata religi walisongo berada di Kabupaten Kudus. Kabupaten Kudus merupakan pusat perkembangan agama islam pada abad pertengahan. Hal ini dikarenakan memiliki dua sunan, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Rentang umur wisatawan yang datang ke objek wisata Sunan Kudus dan Sunan Muria yaitu segala umur, dari anak kecil hingga orang dewasa.

Perkembangan wisata di Kabupaten Kudus terjadi sangat pesat, karena terdapat aktivitas kota berupa pemanfaatan kawasan yang beragam sehingga meningkatkan kebutuhan lahan, dan didominasi oleh aktivitas ekonomi yaitu perdagangan dan jasa, serta memiliki ciri khas yang tersendiri. Menurut (Ophelia, 2019) ciri khas tersebut dapat dilihat dari gaya arsitektur masjid dan menara Sunan Kudus yang memiliki pola arsitektur dengan konsep budaya islam dan budaya hindu-budha, serta teknik kontruksinya yaitu tradisional jawa. Bentuknya yang unik mencerminkan semangat ragam budaya antara budaya Islam, Hindu, dan Cina yang menjadikan menara tersebut disebut sebagai perwakilan dari Menara Multikultural.

Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus menjelaskan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Kudus mengalami penurunan. Penurunan jumlah wisatawan tersebut dimulai dari tahun 2012

(Santoso, 2015). Data jumlah wisatawan di Kabupaten Kudus sekitar 80% diantaranya didominasi oleh wisatawan yang berkunjung ke tempat Objek wisata religi yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Jumlah wisatawan sisanya yaitu 20%, berkunjung ke Objek wisata alam, yaitu Air Terjun Montel, Rejenu (air tiga rasa), Rahtawu, Situs Patiayam, dan wisata lainnya. Dengan adanya wisata religi tersebut, maka menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar bagi sektor pariwisata. Sektor wisata tersebut menyumbangkan PAD sebesar Rp.

351.824.000, dari total PAD sebesar Rp 1,1 miliar.

Berdasarkan data tahun 2018 menyatakan bahwa, total pengunjung Objek Wisata Sunan Kudus pada tahun 2018 sebesar 802.231 orang dengan jumlah pengunjung wisatawan nusantara terbesar yaitu pada Bulan Mei sekitar 98.755 orang dan untuk pengunjung wisatawan mancanegara pada Bulan Februari yaitu sebanyak 109 orang. Data pengunjung Menara Kudus pada tahun 2018 yaitu:

Tabel 1. Data Pengunjung Objek Wisata Sunan Kudus Tahun 2018

Bulan Wisatawan Nusantara Wisatawan Mancanegara

Januari 42.356 -

Februari 44.746 109

Maret 54.522 9

April 91.685 3

Mei 98.755 4

Juni 45.026 4

Juli 75.769 5

Agustus 34.747 5

September 96.132 9

Oktober 71.637 -

November 63.444 14

Desember 83.246 4

Jumlah 802.064 166

Total Pengunjung tahun 2018 802.231 Sumber: Dinas Pariwisata Tahun 2018

Berdasarkan survei pendahuluan tahun 2018, terdapat pengunjung yang mengatakan bahwa Objek Wisata Sunan Kudus menjadi padat dikarenakan terlalu banyak pengunjung yang datang sehingga menyebabkan pengunjung tersebut saling berdesak-desakan. Kondisi infrastruktur Objek Wisata Sunan Kudus memiliki masalah dalam parkir dan jalan. Kondisi parkir yang letaknya cukup jauh, sehingga membutuhkan moda transportasi seperti ojek, becak, dan angkutan umum lainnya yang dapat memudahkan dalam mobilitas pengunjung dari tempat parkir ke Objek Wisata Sunan Kudus.

Permasalahan lainnya yaitu dalam hal aksesbilitas berupa jalan yang sempit, dan volume kendaraan

(3)

yang padat sehingga menyebabkan kemacetan terutama pada jam-jam sibuk. Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, kepuasan dan minat kunjung ulang merupakan aspek yang menarik untuk diteliti dalam rangka pengembangan Objek wisata berdasarkan persepsi wisatawan/pengunjung. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi dalam rangka untuk mengetahui bagaimana kepuasan dan minat kunjung ulang wisatawan sebagai upaya untuk pengembangan Objek Wisata Sunan Kudus.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian ex post facto yaitu mengamati peristiwa yang telah terjadi serta faktor-faktor yang dipertimbangkan pada variabel yang diteliti.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung ke Objek Wisata Sunan Kudus dan mengetahui minat kunjungan ulang pengunjung ke Objek Wisata Sunan Kudus.

Variabel Penelitian

Untuk mengetahui persepsi dan kepuasan pengunjung dalam Wisata Sunan Kudus, peneliti menggunakan 6 variabel. Variabel atraksi, variabel fasilitas dan pelayanan, variabel aksesbilitas, variabel citra objek wisata, dan variabel biaya/harga menggunakan sumber dari Utami (2016) dan Setiawan (2015). Untuk variabel minat kunjung ulang menggunakan sumber dari Damayanti (2015). Variabel tersebut yaitu:

Tabel 2. Variabel Penelitian

Variabel Sub Variabel

Atraksi 1.Visual (X1.1 dan Y1.1) 2.Souvenir (X1.2 dan Y1.2)

3.Ketertarikan Budaya (X1.3 dan Y1.3) Fasilitas dan

Pelayanan 1..Ketersediaan Penginapan (X2.1 dan Y2.1) 2.Pelayanan Penginapan (X2.2 dan Y2.2) 3.Ketersediaan Restoran (X2.3 dan Y2.3) 4.Pelayanan Restoran (X2.4 dan Y2.4) 5.Ketersediaan Parkir (X2.5 dan Y2.5) 6.Ketersediaan Pusat Informasi (X2.6 dan Y2.6)

7.Ketersediaan Tempat sampah (X2.7 dan Y2.7)

8.Ketersediaan Toilet (X2.8 dan Y2.8) 9.Ketersediaan Musholla (X2.9 dan Y2.9) Aksesbilitas 1.Kemudahan Akses (X3.1 dan Y3.1)

2.Kualitas Jalan (X3.2 dan Y3.2)

3.Ketersediaan Transportasi (X3.3 dan Y3.3) 4.Kualitas Petunjuk Jalan (X3.4 dan Y3.4) Citra Objek

Wisata 1.Perilaku Masyarakat Sekitar (X4.1 dan Y4.1)

Variabel Sub Variabel

2.Kebersihan (X4.2 dan Y4.2) 3.Keamanan (X4.3 dan Y4.3)

Biaya/Harga 1.Kemampuan Ekonomi Pengunjung (X5.1 dan Y5.1)

2.Harga Makanan (X5.2 dan Y5.2) Minat Kunjung

Ulang 1. Minat Membicarakan 2.Minat Merekomendasikan 3.Minat Mengunjungi Kembali

Teknik Sampling

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas Objek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017). Populasi dalam penelitian ini yaitu para pengunjung wisatawan Sunan Kudus, untuk mengetahui karaktersitik pengunjung terkait persepsi pengunjung serta kepuasan wisatawan.

Serta data dari Dinas Pariwisata dan yayasan pengelola Objek Wisata Sunan Kudus yang dilakukan untuk mengetahui penyebab pengunjung datang dan melakukan kunjungan ulang kembali ke Wisata Sunan Kudus dan kepuasan pengunjung.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

Oleh karena itu peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut, dan yang diambil harus benar-benar mewakili (Sugiyono, 2017). Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, dan sampel yang digunakan yaitu data pengunjung tahun 2018 yaitu sebanyak 802.231 orang. Untuk pengambilan data menggunakan data dari kuisioner sebanyak 400 responden yang dilakukan dengan cara wawancara dan memberikan kuisioner dengan pengunjung secara langsung. Penentuan sampel menggunakan metode Slovin, dan dalam penelitian ini akan menggunakan batas toleransi kesalahan 5%, karena ingin mendapat sampel yang akurat.

Berdasarkan perhitungan yang menggunakan metode Slovin ini maka didapatkan bahwa jumlah untuk sampel pengunjung wisata yaitu 400 orang. Penentuan sampel digunakan untuk melakukan survei dengan menggunakan kuisioner agar mengetahui persepsi pengunjung dalam Objek Wisata Sunan Kudus beserta kepuasan sehingga dapat mengetahui nilai kepuasan dari pengunjung yang datang.

𝑛 = "#!$! !

(4)

Metode Analisis

Analisis Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif menurut (Sugiyono, 2017) digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Statistik deskriptif ini menyajikan data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan persentase.

Analisis deskriptif digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel.

Analisis IPA

Analisis IPA mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ada sehingga perencana dapat merumuskan strategi efektif yang akan membantu atau bahkan meningkatkan kinerjanya. Analisis ini menilai kondisi sarana yang ada di Objek Wisata Sunan Kudus dengan melakukan penilaian tingkat kepuasan dan kepentingan dengan skala likert. Skala likert ini memliki tujuan untuk mengukur tingkat kinerja dan kepentingan respondes terhadap fasilitas di Sunan Kudus, sebagai berikut:

Tabel 3. Skala Likert Kepentingan dan Kepuasan Responden

Kepentingan Kepuasan Nilai

Sangat Tidak Penting Sangat Tidak Puas 1

Tidak Penting Tidak Puas 2

Kurang Penting Kurang Puas 3

Penting Puas 4

Sangat Penting Sangat Puas 5

Sumber: Metode Penelitian Tahun 2011

Langkah selanjutnya yaitu menghitung tingkat kepuasan pengunjung. Tingkat kepuasan pengunjung dapat dilihat dari rata-rata tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan, setelah medapatkan hasil tingkat kepuasan maka akan dikelompokkan menjadi 5 kriteria. Perhitungan tingkat kepuasan yaitu:

𝐼𝐾𝑃 (%) =𝑋

𝑌𝑥100%

Keterangan:

IKP = Indeks Kepuasan Pengunjung (%) X = Rata-rata skor kinerja

Y = Rata-rata skor kepentingan

Hasil IKP dikelompokkan menjadi 5 kriteria sebagai berikut:

IKP 81%-100% : Sangat puas IKP 66%-80,99% : Puas

IKP 51%-65,99% : Cukup Puas IKP 35%-50,99% : Kurang Puas IKP 0%-34,99% : Tidak Puas HASIL DAN PEMBAHASAN

Sunan kudus merupakan salah satu wisata Walisanga yang terdapat di Kabupaten Kudus itu sendiri. Objek Wisata Sunan Kudus tersebut terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.

Kawasan tersebut berada di kawasan wisata, pendidikan, perumahan, serta perdagangan dan jasa. Wilayah Sunan Kudus tersebut terletak pada ketinggian 31 meter diatas permukaan laut, beriklim tropis, dan memiliki suhu yang sedang.

Batas-batas administratif wilayah kawasan Wisata Sunan Kudus yaitu:

Sebelah Utara : Jalan KH. Ahmad Dahlan Sebelah Selatan : Jalan Sunan Kudus Sebelah Timur : Jalan Menara Sebelah Barat : Jalan KH. R. Asnawi

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Kudus

Gambar 2. Peta Foto Mapping Wisata Sunan Kudus

(5)

Kondisi Eksisting Wisata Sunan Kudus Kondisi Tempat Sampah di Sunan Kudus

Kondisi tempat sampah di Sunan Kudus terdapat dua tipe yaitu terbuka dan tertutup, dan sebanyak 23 tempat sampah tersebar luas di wilayah objek wisata yang terdiri dari 10 tempat sampah terbuka dan 13 tempat sampah tertutup.

Tempat sampah tersebut memiliki kondisi yang kurang terawat dan dapat mengganggu keindahan pemandangan serta kebersihan di Sunan Kudus. Untuk sistem pengelolaan sampah di Sunan Kudus, sampah akan dikumpulkan menjadi satu di titik dan selanjutnya sampah tersebut akan diambil oleh petugas kebersihan yang akan diolah di Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH).

Gambar 3. Kondisi tempat sampah terbuka dan tertutup di Sunan Kudus

Kondisi Parkir di Sunan Kudus

Kendaraan pribadi pengunjung wisata yang parkir pada badan jalan mengakibatkan kemacetan pada saat jam-jam sibuk, sehingga menyebabkan terganggunya lalu lintas di sekitar Objek Wisata Sunan Kudus. Dikarenakan jalan tidak terlalu luas dan tidak mungkin untuk dilakukan pelebaran jalan, maka Pemerintah Kabupaten Kudus telah memberikan rambu- rambu larangan parkir di badan jalan sekitar Objek Wisata Sunan Kudus.

(a) (b)

Gambar 4. Kondisi parkir di Sunan Kudus Keterangan:

(a) Kendaraan pengunjung yang parkir di pinggir jalan (b) Papan penunjuk dilarang parkir

Pada gambar 4 dilihat bahwa di sekitar Objek Wisata Sunan Kudus terdapat rambu- rambu lalu lintas yang melarang adanya parkir di

sekitar kawasan wisata tersebut. Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus telah memberi rambu-rambu larangan parkir di pinggir jalan di tempat-tempat yang membuat kemacetan yaitu sekitar Objek Wisata Sunan Kudus sesuai dengan Pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (PP Jalan), yang berbunyi:

"Setiap orang dilarang memanfaatkan ruang manfaat jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, dan Pasal 37 yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan."

Obyek Wisata Sunan Kudus telah menyiapkan lahan parkir atau tempat parkir khusus untuk pengunjung, serta telah mengatur moda transportasi yang memudahkan dalam aksesbilitas pengunjung, namun kondisi parkir di Sunan Kudus ini letaknya cukup jauh, sehingga dibutuhkan moda transportasi berupa ojek, becak, dan angkutan umum lainnya. Untuk tarif biaya transportasi di tempat parkir khusus untuk pengunjung wisata termasuk murah yaitu untuk becak dikenakan biaya sebesar Rp 15000 per 2 orang, untuk kendaraan angkot dan andong sebesar Rp 5000 per orang, dan ojek sebesar Rp 8000 per orang.

Kondisi Kamar Mandi di Sunan Kudus

Jumlah kamar mandi di Objek Wisata Sunan Kudus yaitu sebanyak 4, terbagi menjadi 2 kamar mandi perempuan dan 2 kamar mandi pria. Untuk kondisi kamar mandi termasuk dalam kondisi baik dan lumayan bersih meskipun tidak dipungut uang kebersihan. Hal ini mengakibatkan kebersihan untuk toilet kurang memadai, dikarenakan tidak adanya biaya kebersihan.

Kurang optimalnya kebersihan kamar mandi juga didukung oleh petugas kebersihan yang membersihkan toilet sehari sekali pada saat sore hari saja, sehingga dari segi kebersihan toilet masih kurang.

(a) (b)

Gambar 5. Kondisi kamar mandi di Sunan Kudus Keterangan:

(a) Tempat wudhu dan kamar mandi perempuan (b) Tempat wudhu dan kamar mandi laki-laki

(6)

Alur sirkulasi pengunjung

Alur sirkulasi pengunjung wisata yaitu pengunjung wisata datang ke Objek Wisata Sunan Kudus, setelah itu pengunjung parkir di tempat parkir khusus untuk pengunjung atau parkir di pinggir jalan Sunan Kudus. Pengunjung yang parkir di tempat parkir khusus sebagian besar menggunakan kendaraan Bus. Tempat parkir Bus dapat menampung sekitar 20 lebih bus, serta terdapat juga becak atau ojek. Becak dan ojek ini diperlukan karena tempat parkir tersebut terletak lumayan jauh jika berjalan kaki sehingga dibutuhkan akomodasi lainnya untuk mempermudah pengunjung dalam melakukan perpindahan tempat.

Pengunjung yang parkir di pinggir jalan sekitar objek wisata sebagian besar menggunakan kendaraan mobil, dan banyak sekali pengunjung yang tidak ingin parkir di tempat parkir khusus. Hal ini dikarenakan tempat parkir yang letaknya cukup jauh dari Wisata Objek Sunan Kudus. selanjutnya pengunjung langsung melakukan ziarah dan do’a di makan sunan kudus.

Pengunjung yang telah beristirahat di musholla maka akan pulang atau melanjutkan ke wisata lainnya. Selama perjalanan menuju tempat parkir jika ada pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh, maka pengunjung tersebut akan mampir ke tempat tokoh ole-oleh untuk membeli souvenir. Akan tetapi jika pengunjung tidak ingin membeli oleh-oleh maka langsung menuju tempat parkir. Berikut merupakan gambar alur sirkulasi pengunjung, yaitu:

Gambar 6. Alur Sirkulasi Pengnunjung Objek Wisata Sunan Kudus

Analisis Tingkat Kepuasan Berkunjung ke Objek Wisata Sunan Kudus

Tingkat kepuasan berkunjung ke Objek wisata Sunan Kudus ditentukan berdasarkan nilai Indeks Kepuasan Pengunjung (IKP). Hasil IKP dikelompokkan menjadi 5 kriteria sebagai berikut:

1. IKP 81%-100% : Sangat puas

2. IKP 66%-80,99% : Puas 3. IKP 51%-65,99% : Cukup Puas 4. IKP 35%-50,99% : Kurang Puas 5. IKP 0%-34,99% : Tidak Puas

Untuk perhitungan IKP tiap dimensi variabel dengan rata-rata tingkat kepuasan yaitu sebesar 89,09%, untuk penjelasan lebih lanjut yaitu:

1. Tingkat kepuasan kunjungan Objek wisata Sunan Kudus pada dimensi atraksi sebesar 97,82% masuk dalam kriteria sangat puas.

2. Tingkat kepuasan kunjungan Objek wisata Sunan Kudus pada dimensi fasilitas dan pelayanan sebesar 89,03%

masuk dalam kriteria sangat puas.

3. Tingkat kepuasan kunjungan Objek wisata Sunan Kudus pada dimensi aksesibilitas sebesar 84,32% yang masuk dalam kriteria sangat puas.

4. Tingkat kepuasan kunjungan Objek wisata Sunan Kudus pada dimensi citra Objek wisata sebesar 84,99% yang masuk dalam kriteria sangat sangat puas.

5. Tingkat kepuasan kunjungan Objek wisata Sunan Kudus pada dimensi biaya/harga sebesar 92,55% yang masuk dalam kriteria sangat puas.

Analisis Kepuasan Wisatawan Berkunjung ke Objek Wisata Sunan Kudus

Tingkat kepuasan wisatawan berkunjung ke Objek wisata Sunan Kudus dilakukan dengan Analisis Importance Performance Analysis (IPA).

Analisis IPA digunakan untuk melakukan pemetaan antara kinerja (x) dan harapan (y), dari hasil tersebut maka akan terbentuk matriks yang terdiri dari empat buah kuadran yang masing- masing kuadran menggambarkan skala prioritas dalam mengambil kebijakan baik berupa peningkatan kepuasan atau mempertahankan kepuasan pengunjung.

Gambar 7. Hasil Analisis IPA

(7)

1. Kuadran I

Kuadran I menunjukkan tingkat harapan wisatawan tinggi tetapi kinerja dari pihak pengelola dianggap kurang oleh wisatawan. Indikator yang termasuk dalam kuadran ini yaitu:

(2.9) Ketersediaan Musholla.

(3.1) Ketersediaan dan kemudahan jalan menuju lokasi Objek wisata Sunan Kudus.

(3.4) Ketersediaan petunjuk jalan di Objek wisata Sunan Kudus.

(4.1) Keramahan masyarakat sekitar Objek wisata.

(4.2) Kebersihan sekitar Objek wisata Sunan Kudus.

Indikator tersebut menjadi skala prioritas utama Objek wisata Sunan Kudus yang harus diperbaiki, agar kinerja Objek wisata meningkat dan berbanding lurus dengan kepuasan wisatawan yang meningkat pula.

2. Kuadran II

Kuadran II menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap penting dan memuaskan pengunjung yang sudah dilaksanakan dengan baik oleh Objek wisata Sunan Kudus. Indikator yang termasuk dalam kuadran ini yaitu:

(1.1) Keindahan dan kemenarikan pemandangan pada Objek wisata Sunan.

(1.3) Terdapat festival atau upacaran budaya setempat yang sangat menarik.

(3.2) Kualitas jalan menuju lokasi Objek wisata Sunan Kudus.

(4.3) Keamanan sekitar Objek wisata.

(5.1) Kejelasan dan tingkat harga/biaya yang dikeluarkan selama di Objek wisata Sunan Kudus.

(5.2) Harga makanan di Objek wisata.

indikator tersebut perlu dipertahankan kinerjanya oleh pengelola Objek wisata Sunan Kudus. Faktor-faktor tersebut menjadi kelebihan yang mampu menarik perhatian wisatawan untuk tetap menjadi tempat pilihan.

3. Kuadran III

Kuadran III menunjukkan faktor yang dianggap kurang penting oleh pengunjung dan tidak terlaksanakan dengan baik oleh pengelola Objek wisata

Sunan Kudus. Indikator yang termasuk dalam kuadran ini yaitu:

(2.1) Ketersediaan penginapan di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.2) Pelayanan penginapan di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.3) Ketersediaan rumah makan di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.4) Pelayanan rumah makan di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.5) Ketersediaan parkir di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.6) Ketersediaan parkir di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.7) Ketersediaan tempat sampah di Objek wisata Sunan Kudus.

(2.8) Ketersediaan toilet di Objek wisata Sunan Kudus.

(3.3) Ketersediaan transportasi umum sepanjang Objek wisata Sunan Kudus.

Indikator tidak terlalu dianggap penting oleh wisatawan, tetapi harus tetap diperhatikan sesuai tingkat kebutuhannya, sehingga dapat mempertahankan kinerja dan kualitas yang telah diberikan.

4. Kuadran IV

Kuadran IV menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap kurang penting oleh perusahaan namun dilaksanakan dengan berlebihan oleh perusahaan.

Indikator yang termasuk dalam kuadran ini yaitu:

(1.2) Ketersediaan souvenir/merchandise yang berhubungan dengan Objek wisata.

Indikator-indikator tersebut yang dilaksanakan secara berlebihan oleh pengelola Objek wisata Sunan Kudus, maka dari pihak pengelola sebaiknya mengalokasikan sumber dayanya untuk prioritas utama terlebih dahulu.

Pengelola Objek wisata dapat mempertimbangkan kembali indikator tersebut karena indikator tersebut mempunyai pengaruh terhadap manfaat yang dirasakan oleh pengunjung sangat kecil dan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menimbulkan dampak berlebihan. Berdasarkan hasil analisis IPA maka dapat diperoleh potensi dan masalah yang ada di Objek wisata Sunan Kudus yang disajikan, yaitu:

(8)

Tabel 4. Hasil potensi dan masalah Objek wisata Sunan Kudus

Potensi Masalah Rekomendasi

1. Terdapat keindahan dan kemenarikan pemandangan pada Objek wisata Sunan 2. Terdapat

festival atau upacaran budaya setempat yang sangat menarik 3. Jalan menuju

lokasi Objek wisata Sunan Kudus dalam kondisi baik.

4. Adanya keamanan yang mendukung di sekitar Objek wisata.

5. Harga/biaya untuk berwisata di Objek wisata Sunan Kudus tersampaikan dengan jelas kepada pengunjung.

6. Harga makanan di Objek wisata dapat dijangkau oleh pengunjung.

1. Musholla yang disediakan kurang memenuhi permintaan jumlah pengunjung.

2. Jalan menuju lokasi Objek wisata Sunan Kudus kurang mudah dilewati.

3. Petunjuk jalan di Objek wisata Sunan Kudus kurang mencukupi kebutuhan pengunjung.

4. Masyarakat di sekitar Objek wisata dianggap kurang ramah.

5. Kebersihan sekitar Objek wisata Sunan Kudus kurang dijaga dengan baik.

1. Terdapat penambahan Musholla.

2. Terdapat perbedaan akses pintu keluar dan pintu masuk, sehingga dapat memperluas ruang gerak pengunjung.

3. Petunjuk jalan dan papan informasi mengenai Objek wisata Sunan Kudus diperbanyak, sehingga pengunjug wisata dapat dengan mudah informasi yang didapat.

4. Peraturan mengenai buang sampah sembarangan diperketat dan terdapat penambahan tempat sampah, sehingga pengunjung wisata akan merasa nyaman.

Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Tingkat kepuasan wisatawan terhadap Objek wisata Sunan Kudus menunjukkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Objek Wisata Sunan Kudus telah puas dengan Objek wisata tersebut. Kepuasan pengunjung tidak dipengaruhi secara signifikan oleh usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan dan pendapatan pengunjung. Wisatawan atau pengunjung telah sangat puas dengan daya tarik yang ditampilkan oleh Objek wisata Sunan Kudus, puas dengan fasilitas dan pelayanan Objek wisata Sunan Kudus, puas dengan aksesabilitas yang ditawarkan Objek wisata Sunan Kudus, sangat puas dengan citra Objek wisata yang ada di Sunan Kudus dan sangat puas dengan harga atau biaya yang dikerluarkan.

Pengelola Objek wisata Sunan Kudus belum optimal dalam melakukan pengadaan petunjuk jalan di Objek wisata Sunan Kudus dan melakukan kebersihan sekitar Objek wisata

Sunan Kudus. Kedua aspek tersebut harus ditingkatkan kinerjanya karena merupakan aspek yang penting untuk menarik para pengunjung dan agar dapat lebih meningkatkan kepuasan pengunjung. Faktor-faktor tersebut tidak terlalu dianggap penting untuk menarik wisatawan berkunjung ke Objek wisata Sunan Kudus, namun demikian faktor tersebut tetap harus diperhatikan sesuai tingkat kebutuhannya.

Respon Pengunjung Terhadap Minat Untuk mengunjungi Ulang

Minat kunjungan ulang ke Objek wisata Sunan Kudus diukur berdasarkan 3 indikator.

Indikator-indikator tersebut terdiri dari minat membicarakan Objek wisata kepada orang lain, minat merekomendasikan Objek wisata kepada orang lain dan niat mengunjungi kembali Objek wisata. Hasil uji statistik deskriptif ketiga indikator tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 5. Tingkat Membicarakan Objek Wisata

Membicarakan Frekuensi Persentase (%)

Tinggi 392 98,0

Sedang 8 2,0

Rendah 0 0

Jumlah 400 100

Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Pada indikator membicarakan Objek wisata Sunan Kudus kepada orang lain, diperoleh bahwa sebagian besar responden masuk ke dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 392 orang (98,0%). Kategori sedang 8 orang (2,0%). Dengan demikian, sebagian besar responden melakukan pembicaraan Objek wisata Sunan Kudus kepada orang lain.

Tabel 6. Tingkat Merekomendasikan Objek Wisata

Merekomendasikan Frekuensi Persentase (%)

Tinggi 398 99,5

Sedang 2 0,5

Rendah 0 0

Jumlah 400 100

Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Pada indikator merekomendasikan Objek wisata Sunan Kudus kepada orang lain, diperoleh bahwa sebagian besar responden masuk ke dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 398 orang (99,5%). Sebanyak 2 orang (0,5%) lainnya mempunyai kategori yang sedang. Dengan demikian, sebagian besar responden merekomendasikan Objek wisata Sunan Kudus kepada orang lain.

Tabel 7. Tingkat Mengunjungi Kembali Objek Wisata

Mengunjungi kembali Frekuensi Persentase (%)

Tinggi 398 99,5

Sedang 2 0,5

(9)

Mengunjungi kembali Frekuensi Persentase (%)

Rendah 0 0

Jumlah 400 100

Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Pada indikator mengunjungi ulang Objek wisata Sunan Kudus, diperoleh bahwa sebagian besar responden masuk ke dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 398 orang (99,5%). Sebanyak 2 orang (0,5%) lainnya mempunyai kategori yang sedang. Dengan demikian, sebagian besar responden mengunjungi ulang Objek wisata Sunan Kudus.

Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung mempunyai tingkat minat kunjung ulang yang tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya minat pengunjung untuk mengunjungi kembali Objek wisata Sunan Kudus, tingginya minat untuk merekomendasikan Objek wisata Sunan Kudus ke teman dan sudara dan tingginya minat dalam membicarakan Objek wisata Sunan Kudus kepada orang lain.

Hubungan antara Tingkat Kepuasan dengan Minat Kunjung Ulang

Minat kunjung ulang menjadi faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan obyek wisata karena akan semakin meningkatkan jumlah kunjungan. Besarnya tingkat kepuasan pengunjung diharapkan dapat meningkatkan minat dari pengunjung untuk mengunjungi kembali Objek wisata Sunan Kudus. Berdasarkan Marpaung (2019), semakin baik fasilitas wisata yang disediakan oleh pihak pengelola wisata maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan wisatawan. Semakin tinggi tingkat kepuasan wisatawan, maka akan meningkatkan keinginan wisatawan untuk berkunjung ulang. Hubungan mengenai tingkat kepuasan dengan minat kunjung ulang dapat bermanfaat dalam pengembangan Objek wisata Sunan Kudus yang berkaitan dengan memberikan pelayanan yang memuasakan.

Tabel 8. Hasil korelasi antara kinerja dan kepentingan dengan minat kunjung ulang

Variabel r p

Kinerja-Membicarakan 0,046 0,844

Kinerja-Merekomendasikan 0,188 0,415 Kinerja-Mengunjungi kembali -0,030 0,897 Kepentingan-Membicarakan 0,174 0,450 Kepentingan-Merekomendasikan 0,201 0,383 Kepentingan-Mengunjungi kembali 0,149 0,519 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Hasil uji korelasi antara kinerja dan kepentingan dengan minat kunjung ulang berupa merekomendasikan, membicarakan dan minat mengunjungi kembali masing-masing diperoleh

nilai p > 0,05 dengan demikian tidak ada korelasi antara kinerja dengan seluruh indikator minat kunjung ulang dan tidak ada korelasi antara kepentingan dengan seluruh indikator minat kunjung ulang.

Tabel 9. Hasil hubungan kepuasan dan minat kunjung ulang

Minat kunjung

ulang Sangat Puas Puas p

F % F %

Membicarakan

1,000

Tinggi 312 81,9 69 18,1

Sedang 7 87,5 1 12,5

Merekomendasikan

1,000

Tinggi 317 86,9 70 18,1

Sedang 2 100 0 0

Mengunjungi kembali

1,000

Tinggi 317 81,9 70 18,1

Sedang 2 100 0 0

Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kepuasan dengan merekomendasikan, membicarakan dan minat mengunjungi kembali Obyek Wisata Sunan Kudus dnegan nilai p > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kepuasan tidak mempengaruhi minat pengunjung untuk merekomendasikan, membicarakan dan minat mengunjungi kembali Obyek Wisata Sunan Kudus.

Tabel 10. Hubungan antara kinerja dengan minat kunjungan ulang

Variabel r p

X2.9-Membicarakan -0,052 0,296

X2.9-Merekomendasikan -0,025 0,620

X2.9-Mengunjungi kembali -0,004 0,942

X3.1-Membicarakan 0,146 0,003

X3.1-Merekomendasikan 0,052 0,295

X3.1-Mengunjungi kembali 0,130 0,009

X3.4-Membicarakan 0,230 0,000

X3.4-Merekomendasikan 0,206 0,000

X3.4-Mengunjungi kembali 0,162 0,001

X4.1-Membicarakan 0,065 0,193

X4.1-Merekomendasikan -0,014 0,775

X4.1-Mengunjungi kembali 0,035 0,481

X4.2-Membicarakan 0,193 0,000

X4.2-Merekomendasikan 0,173 0,000

X4.2-Mengunjungi kembali 0,121 0,000 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Hasil menunjukkan adanya hubungan signifikan jika nilai p < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa besarnya minat kunjung ulang dari pengunjung berupa minat membicarakan, merekomendasikan dan minat mengunjungi kembali dari pengunjung di Obyek Wisata Sunan Kudus merupakan hasil dari adanya ketersediaan petunjuk jalan di Objek wisata Sunan Kudus, dan kebersihan sekitar Objek wisata Sunan Kudus . Tabel 11. Hasil hubungan antara kepentingan dengan minat kunjungan ulang

Variabel R P

Y2.9-Membicarakan 0,116 0,021

Y2.9-Merekomendasikan 0,127 0,011

(10)

Variabel R P Y2.9-Mengunjungi kembali 0,181 0,000

Y3.1-Membicarakan 0,089 0,075

Y3.1-Merekomendasikan 0,044 0,383

Y3.1-Mengunjungi kembali 0,112 0,025

Y3.4-Membicarakan 0,164 0,001

Y3.4-Merekomendasikan 0,107 0,032

Y3.4-Mengunjungi kembali 0,115 0,021

Y4.1-Membicarakan 0,240 0,000

Y4.1-Merekomendasikan 0,160 0,001

Y4.1-Mengunjungi kembali 0,168 0,001

Y4.2-Membicarakan 0,139 0,005

Y4.2-Merekomendasikan 0,081 0,107

Y4.2-Mengunjungi kembali 0,042 0,398 Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS (2020)

Hasil menunjukkan adanya hubungan signifikan jika nilai p < 0,05. Faktor-faktor yang dianggap penting bagi Obyek Wisata Sunan Kudus dan dapat mempengaruhi minat kunjung ulang berupa membicarakan, merekomendasikan dan minat mengunjungi kembali Obyek Wisata Sunan Kudus adalah ketersediaan musholla, ketersediaan petunjuk jalan di Objek wisata Sunan Kudus, dan keramahan masyarakat sekitar Objek wisata. Kebersihan sekitar Objek wisata Sunan Kudus dinyatakan hanya mempengaruhi minat membicarakan Objek wisata Sunan Kudus.

Ketersediaan dan kemudahan jalan menuju lokasi Objek wisata Sunan Kudus hanya mempengaruhi minat merekomendasikan dan minat mengunjungi kembali Objek wisata Sunan Kudus.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian “Pengembangan Objek Wisata Sunan Kudus berdasarkan Persepsi Pengunjung”, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil tingkat kepuasan secara keseluruhan dimensi Objek wisata Sunan Kudus sebesar 89,09% yang masuk dalam kriteria sangat puas, karena pengunjung telah puas dengan sistem pengelolannya.

2. Hasil dari respon pengunjung terhadap 3 indikator minat kunjung ulang yaitu bahwa sebagian besar pengunjung mempunyai tingkat minat kunjung ulang yang tinggi. Hasil uji statistik deskriptif pada indikator minat kunjungan ulang ke Objek wisata Sunan Kudus, yaitu sebagai berikut:

a. Indikator tingkat membicarakan Objek wisata kepada orang lain bahwa sebagian besar responden masuk ke dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 392 orang (98,0%), dan yang masuk kategori sedang sebanyak 8 orang (2,0%).

b. Indikator merekomendasikan Objek wisata Sunan Kudus kepada orang lain sebagian besar responden masuk ke dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 398 orang (99,5%).

Sebanyak 2 orang (0,5%) lainnya mempunyai kategori yang sedang.

c. Indikator mengunjungi ulang Objek wisata Sunan Kudus, diperoleh sebanyak 398 orang (99,5%) masuk dalam kategori tinggi. Sebanyak 2 orang (0,5%) lainnya mempunyai kategori yang sedang.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus. 2018. Data Pariwisata. Kudus Mailiza Damayanti, A. T. 2015. Analisis Faktor-

Faktor yang Mempengaruhi minat Kunjung Ulang Pada Obyek Wisata Pemandian Air Panas Guci di Kabupaten Tegal. Diponegoro Journal of Management.

Maryetti, C. B. 2018. Dampak Pariwisata Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Sekitar Objek Wisata The Lodge Maribaya Kabupaten Bandung Barat.

Jurnal Saisns Terapan Pariwisata.

Moyers, K. 2009. Panduan Dasar Pelaksanaan Ekowisata. Jakarta: Unesco Office.

Nugraha, A. E. 2015. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Pengunjung Objek Wisata Menara Kudus melalui Pendekatan Hedonic Pricing Method.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Ophelia Firsty, I. A. 2019. Strategi Pengembangan Candi Muaro Jambi Sebagai Wisata Religi. Jurnal Destinasi Pariwisata.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan

Santoso, E. 2015. Grafik Angka Knungan Wisata di Kudus Alami Penurunan. Retrieved from ISKNEW.com

Setiawan, I. 2015. Potensi Destinasi Wisata di Indonesia Menuju Kemandirian Ekonomi.

Universitas Pendidikan Indonesia.

Sugiyono, P. D. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kalitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Daya Tarik Wisata Suatu Daerah

Utami, A. R. (2016). Kompetensi Khas di Sektor Pariwisata. Jurnal Bisnis dan Manajemen.

Gambar

Tabel  1.  Data  Pengunjung  Objek  Wisata  Sunan  Kudus Tahun 2018
Tabel 2. Variabel Penelitian
Tabel 3. Skala Likert Kepentingan dan Kepuasan  Responden
Gambar 5. Kondisi kamar mandi di Sunan Kudus  Keterangan:
+5

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis skoring tiap objek wisata alam, maka Sungai Tamborasi memiliki tingkat kategori potensi tinggi dengan sebagian besar variabel objek

Sedangkan metode analisa yang digunakan sesuai dengan analisa prioritas pengembangan infrastruktur berdasarkan preferensi pengunjung dan masyarakat melalui

Sedangkan metode analisa yang digunakan sesuai dengan analisa prioritas pengembangan infrastruktur berdasarkan preferensi pengunjung dan masyarakat melalui