• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

57

Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/gakkum

Pertanggungjawaban Pidana Beneficial Owner Saham dalam Tindak Pidana Perpajakan (Studi Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor

66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn)

Criminal Liability of Beneficial Owners of Shares in Tax Crimes (Study of Medan High Court Decision Number 66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn)

Tri Yuwandani Hayuningtyas1)*, Bismar Nasution 2), Budiman Ginting 3) & M. Ekaputra4) Magister Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Diterima: Maret 2022; Disetujui: Juni 2022; Dipublish: Juni 2022

*Coresponding Email: [email protected] Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan didirikannya Perseroan Terbatas yakni untuk membatasi tanggung jawab pemilik jika terjadi kerugian finansial. Pemegang saham hanya bertanggung jawab sebesar saham yang dimilikinya. Namun, perkembangan piercing the corporate veil, pembatasan tanggung jawab dapat ditembus, misalnya karena kecurangan, permodalan yang tidak memadai, kegagalan memenuhi formalitas pendirian perusahaan, dan penyalahgunaan kekuasaan dalam suatu perusahaan akibat dominasi satu atau lebih pemegang saham. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggungjawaban pemilik manfaat atas tindak pidana perpajakan berdasarkan kajian terhadap Putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana di bidang perpajakan pada Pasal 39 ayat (1) huruf c jo Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Mengenai pidana pengganti penjara ini tidak diatur dalam UU KUP sebagai lex specialis maupun dalam KUHPidana sebagai lex generalis. Penjatuhan pidana denda yang dapat diganti dengan pidana pengganti penjara dalam putusan ini pada dasarnya memberikan pilihan bagi Terdakwa, apakah mau membayar pidana denda atau menjalani pidana pengganti berupa penjara.

Kata Kunci: Pemilik manfaat; Saham; Tindak Pidana Perpajakan.

Abstract

This study aims to determine the purpose of establishing a Limited Liability Company, namely to limit the owner's liability in the event of a financial loss. Shareholders are only responsible for the amount of shares they own. However, the development of piercing the corporate veil, the limitation of liability can be penetrated, for example due to fraud, inadequate capital, failure to fulfill the formalities of company establishment, and abuse of power in a company due to the domination of one or more shareholders. This study uses a normative legal research method that is descriptive analytical. The results of the study indicate that the liability of the beneficial owner for tax crimes based on a study of the Medan High Court Decision No. 66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn was declared legally and convincingly guilty of committing a crime in the taxation sector in Article 39 paragraph (1) letter c in conjunction with Article 43 paragraph (1) of the Law of the Republic of Indonesia Number 16 of 2000 concerning Second Amendment to the Law of the Republic of Indonesia Number 6 of 1983 concerning General Provisions and Tax Procedures. Regarding the imprisonment substitute sentence, it is not regulated in the KUP Law as lex specialis nor in the Criminal Code as lex generalis. The imposition of a fine that can be replaced with a substitute sentence for imprisonment in this decision basically gives the defendant a choice, whether he wants to pay a fine or undergo a substitute sentence in the form of imprisonment.

Keywords: Beneficial owner; Stock; Criminal Act of Taxation.

How to Cite: Hayuningtyas, T.Y., Nasution, B., Ginting, B., & Ekaputra, M. (2022). Pertanggungjawaban Pidana Beneficial Owner Saham dalam Tindak Pidana Perpajakan (Studi Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn), Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum, 9 (1) 2022 : 57-73

(2)

58 PENDAHULUAN

Pada prinsipnya pendirian perseroan memang harus dilakukan dengan perjanjian minimal dua orang pendiri baik yang berkewarganegaraan Indonesia maupun warga negara asing (Mulhadi, 2010). Namun dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU Perseroan Terbatas) tidak diatur secara jelas mengenai syarat menjadi pemegang saham sehingga dalam pelaksanaannya sering terjadi penyimpangan dengan digunakannya pemegang saham nominee. Perjanjian nominee sebagai pemegang saham dalam perseroan merupakan perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas tersebut untuk dan atas nama orang lain. Sehingga konsep kepemilikan seperti dalam common law system berupa kepemilikan sebatas pinjam nama (nominee) tidak diperbolehkan menurut UU Perseroan Terbatas (D. A. Wicaksono &

Nurbaningsih, 2020).

Hal ini diatur pula dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (selanjutnya disebut UU Penanaman Modal) dimana disebutkan bahwa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilarang membuat perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain.

Tidak adanya aturan yang jelas mengenai perjanjian nominee maka perjanjian tersebut dibuat berdasarkan pada asas kebebasan berkontrak. Dalam perjanjian nominee yang menjadi objek perjanjian adalah mengenai kepemilikan sesuatu untuk dan atas nama orang lain dengan kata lain pinjam nama. Perjanjian nominee ini tidak diatur secara khusus

dalam KUHPerdata, hanya saja Pasal 1338 KUHPerdata menegaskan bahwa persetujuan atau perikatan harus dilaksanakan dengan itikad baik dan karena sebab-sebab tertentu dalam praktiknya perjanjian nominee tersebut banyak digunakan untuk melakukan penyelundupan hukum.

Perjanjian yang dilarang tersebut lebih dikenal sebagai share nominee agreement. Dimana pihak beneficial owner sebagai pemilik sebenarnya membuat perjanjian untuk menggunakan identitas nominee untuk kepentingan pembuatan dan jalannya suatu perseroan di bawah kendali beneficial owner. Hal ini dilakukan antara lain untuk mengaburkan asal-usul harta yang digunakan dalam pendirian perseroan dan bisa pula sebagai praktik penghindaran kewajiban perpajakan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut UU KUP) sebagai salah satu hukum positif di Indonesia, merupakan hukum yang saat ini berlaku dan mengikat secara umum atau khusus dan ditegakkan oleh atau melalui pemerintah atau pengadilan. Mengikat secara umum merupakan aturan yang berlaku umum, sedangkan mengikat secara khusus dikarenakan peraturan perundang-undangan tersebut hanya mengikat subjek dan objek tertentu saja, seperti halnya pajak penghasilan yang hanya ditujukan terhadap mereka yang telah memenuhi syarat subjektif, baik menyangkut lingkup pekerjaan maupun jumlah pendapatan yang diterima.

Jika terdapat unsur pidana dalam suatu kegiatan perseroan, dalam hal ini apabila terjadi tindak pidana perpajakan, meskipun hal tersebut dilakukan oleh perseroan itu sendiri, maka dilihat dari teori piercing the corporate veil, oleh hukum dibenarkan juga jika tanggung

(3)

59 jawab juga dimintakan kepada pihak-pihak lain, seperti direksi atau pemegang sahamnya (Munir Fuady, 2002).

Dalam Pasal 43 ayat (1) UU KUP Perubahan Keempat disebutkan bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan 39A berlaku juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari Wajib Pajak, atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

Tindak pidana perpajakan yang dimaksud yaitu: (Pardede, 2020)

1. setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan sehingga menimbulkan kerugian negara:

a. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;

b. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;

c. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan;

d. menyampaikan Surat

Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap;

e. menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29;

f. memperlihatkan pembukuan, pencatatan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya;

g. tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain;

h. tidak menyimpan buku, catatan atau dokumen yang menjadi dasar

pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi online di Indonesia;

i. tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut;

2. setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak;

3. setiap orang yang dengan sengaja:

a. menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya;

b. menerbitkan suatu faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Berdasarkan hal tersebut, ketentuan beneficial owner belum ada diatur dalam Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan akan tetapi beneficial owner dapat dimintai pertanggungjawaban sebagai pihak yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan perusahaan, termasuk memberikan perintah kepada direksi perusahaan untuk melakukan suatu tindak pidana di bidang perpajakan (Tari, n.d.).

Salah satu bentuk konkret dari permasalahan yang timbul adalah sebagaimana yang terdapat dalam putusan Pengadilan Tinggi Medan nomor 66/Pid.Sus/2018/PT.MDN dimana Terdakwa Tiandi Lukman (selanjutnya

(4)

60 disebut Terdakwa) yang menjadi beneficial owner dalam melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

Dalam UU KUP tidak diatur secara khusus mengenai penentuan beneficial owner dan pertanggungjawabannya ketika terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.

Akan tetapi ketika terjadi tindak pidana perpajakan misalnya wajib pajak yang tidak menyampaikan surat pemberitahuan atau wajib pajak yang menyampaikan surat pemberitahuan yang tidak benar dan/atau tidak lengkap, maka beneficial owner sebagai penerima manfaat sebenarnya dari tindakan tersebut dapat dimintai pertanggungjawabannya karena berdasarkan Pasal 43 UU KUP, ketentuan pidana dalam Pasal 39 dan Pasal 39A, berlaku juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari wajib pajak, atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif (legal research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. Sifat penelitian yang dipergunakan dalam penulisan tesis ini adalah bersifat deskriftif analitis.

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang dapat diperoleh dari studi kepustakaan. Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi kepustakaan (Library Research) adalah metode tunggal yang dipergunakan dalam penelitian hukum normatif. Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah studi literatur yaitu suatu alat untuk menyelesaikan permasalahan dengan menelusuri sumber-sumber tulisan yang pernah dibuat sebelumnya. Analisis data dalam penelitian ini secara kualitatif, yaitu didasarkan pada relevansi data dengan

permasalahan pertanggungjawaban pidana beneficial owner saham dalam tindak pidana perpajakan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaturan Beneficial Owner Dalam Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (selanjutnya disebut UUPM) melarang praktik perjanjian pinjam nama (nominee agreement) yang melibatkan nominee dan beneficial owner.

Dimana disebutkan bahwa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilarang membuat perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya perseroan yang secara normatif dimiliki seseorang, tetapi secara materi atau substansi pemilik perseroan tersebut adalah orang lain (beneficial owner).

Dalam hal penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing membuat perjanjian dan/atau pernyataan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain, maka perjanjian dan/atau pernyataan itu dinyatakan batal demi hukum (Indriani, 2017).

Setelah diundangkannya UUPM ini, terjadi perkembangan pembentukan nominee agreement dari yang tadinya nominee agreement dibuat langsung antara nominee dan beneficial owner, menjadi nominee agreement yang dibuat secara tidak langsung demi menyembunyikan atau menyamarkan perjanjian nominee yang sebenarnya (L. S. Wicaksono, 2016).

Jika pelaksanaan perjanjian antara nominee dengan beneficial owner yang dibuat langsung dengan nominee agreement adalah batal demi hukum, maka

(5)

61 yang menjadi permasalahan adalah apabila dalam pembentukan nominee ternyata tidak ada satupun akta-akta atau dokumen yang menyatakan bahwa kepemilikan saham perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain. Sehingga sebenarnya secara formal perjanjian-perjanjian tersebut tidak melanggar ketentuan UUPM dan syarat objektif menurut Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Akan tetapi secara material ada kehendak yang tidak sesuai dengan pernyataan. Dengan kata lain, jika seseorang dengan sadar mengusulkan tindakan hukum yang tidak sesuai dengan kenyataannya, maka terjadilah simulasi, yaitu suatu perjanjian yang mengatur segala sesuatu hal yang berbeda dengan keadaan sebenarnya untuk tujuan tertentu.

Pada UUPM memang tidak mengatur mengenai pertanggungjawaban pidana baik nominee maupun beneficial owner, akan tetapi mengatur apabila penanam modal yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan perjanjian atau kontrak kerja sama dengan Pemerintah melakukan kejahatan korporasi berupa tindak pidana perpajakan, penggelembungan biaya pemulihan, dan bentuk penggelembungan biaya lainnya untuk memperkecil keuntungan yang mengakibatkan kerugian negara berdasarkan temuan atau pemeriksaan oleh pihak pejabat yang berwenang dan telah mendapatkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, Pemerintah mengakhiri perjanjian atau kontrak kerja sama dengan penanam modal yang bersangkutan.

Salah satu syarat pendirian perseroan adalah didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia. Pada prinsipnya pendirian perseroan memang harus dilakukan dengan perjanjian minimal dua orang pendiri baik yang berkewarganegaraan Indonesia maupun warga negara asing (Mulhadi, 2010).

Namun dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU Perseroan Terbatas) tidak diatur secara jelas mengenai syarat menjadi pemegang saham sehingga dalam pelaksanaannya sering terjadi penyimpangan dengan digunakannya pemegang saham nominee. Perjanjian nominee sebagai pemegang saham dalam perseroan merupakan perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas tersebut untuk dan atas nama orang lain.

Di Indonesia, berdasarkan UU Perseroan Terbatas, saham perseroan yang dapat diterbitkan hanya saham atas nama. Perseroan hanya diperkenankan mengeluarkan saham atas nama pemiliknya dan perseroan tidak diperbolehkan mengeluarkan saham atas tunjuk.

Tidak adanya aturan yang jelas mengenai perjanjian nominee maka perjanjian tersebut dibuat berdasarkan pada asas kebebasan berkontrak. Dalam perjanjian nominee yang menjadi objek perjanjian adalah mengenai kepemilikan sesuatu untuk dan atas nama orang lain dengan kata lain pinjam nama. Perjanjian nominee ini tidak diatur secara khusus dalam KUHPerdata, hanya saja Pasal 1338 KUHPerdata menegaskan bahwa persetujuan atau perikatan harus dilaksanakan dengan itikad baik dan karena sebab-sebab tertentu dalam praktiknya perjanjian nominee tersebut banyak digunakan untuk melakukan penyelundupan hukum.

Bagi nominee, secara hukum adalah sah sebagai pemegang saham karena namanya yang tercantum dan didaftarkan sebagai pemegang saham, sehingga segala hak dan kewajiban pemegang saham akan melekat pada nominee. Begitu pula dengan segala pertanggungjawaban atas tindakan perseroan.

(6)

62 Bagi beneficial owner, walaupun secara materil sebagai pemilik manfaat yang sebenarnya dari saham tersebut, tetapi tidak mempunyai dasar hukum sebagai pemilik, sehingga hak dan kewajiban pemegang saham tidak melekat pada beneficial owner. Walaupun pada kenyataannya, beneficial owner mempunyai kendali yang sangat besar pada perseroan dan segala tindakan perseroan termasuk tindak pidana yang dilakukan adalah berdasarkan instruksi dari beneficial owner.

Jika terjadi sengketa kepemilikan atas saham, maka nominee-lah sebagai pemilik sah dari saham tersebut, karena nama dari nominee tersebut yang terdaftar sebagai pemegang saham. Begitu pula pada saat pembagian keuntungan (dividen), akan menjadi masalah ketika nominee yang namanya tercantum sebagai pemegang saham yang sah tidak mau atau keberatan menyerahkan dividen tersebut kepada beneficial owner sebagai pemilik manfaat yang sebenarnya. Beneficial owner tidak memiliki dasar hukum dan pembuktian yang kuat untuk menuntut haknya tersebut.

Ketika terjadi suatu tindak pidana, maka perlu pembuktian lebih lanjut mengenai pihak mana yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Apabila beneficial owner dalam perseroan yang dimaksudkan adalah pemegang saham sebagai beneficiary (penerima manfaat) dari pengurusan perseroan yang dilakukan oleh direksi, maka pertanggungjawaban terbatas pemegang saham dapat dikesampingkan berdasarkan piercing the corporate veil.

Kemudian, apabila beneficial owner bahkan bukanlah pihak yang tercatat sebagai pemegang saham dari suatu perseroan, tetapi mempunyai kekuatan untuk mengendalikan perseroan dalam hal misalnya mengambil keputusan, mengangkat dan memberhentikan direksi dan komisaris, dapat menikmati

pembagian dividen dan lain sebagainya maka dapat dipastikan orang tersebut adalah sebagai pemilik dan pemilik manfaat sebenarnya dari perseroan tersebut. Dalam menentukan dapat tidaknya beneficial owner dalam kategori ini dimintai pertanggungjawabannya apabila terjadi kerugian bahkan tindak pidana tentunya harus dilakukan pembuktian yang lebih mendalam mengenai apa yang menjadi dasar tindakan pidana tersebut.

Secara formil, apabila nominee sebagai legal owner melindungi beneficial owner dari segala kemungkinan tanggung jawab yang bisa dikenakan pada beneficial owner, maka pertanggungjawaban akan berhenti sampai pada nominee tersebut.

Namun apabila nominee tidak bersedia menanggung semua tanggung jawab tersebut, maka beneficial owner bisa saja dimintai pertanggungjawaban sampai harta pribadinya.

Beneficial owner ini secara tegas telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.01/2017 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan yang menyebutkan bahwa pemilik manfaat (beneficial owner) adalah setiap orang yang:

1. berhak atas dan/atau menerima manfaat tertentu yang berkaitan dengan rekening Nasabah;

2. merupakan pemilik yang sebenarnya dari dana dan/atau efek yang ditempatkan pada Penyedia Jasa Keuangan (ultimately own account);

3. mengendalikan transaksi Nasabah;

4. memberikan kuasa untuk melakukan transaksi;

5. mengendalikan korporasi atau perikatan lainnya (legal arrangement); dan/atau

6. merupakan pengendali akhir dari transaksi yang dilakukan melalui

(7)

63 badan hukum atau berdasarkan suatu perjanjian.

Kemudian beneficial owner diatur pula dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat dari Korporasi dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme yang menyebutkan bahwa pemilik manfaat dari perseroan terbatas merupakan orang perseorangan yang memenuhi kriteria:

1. memiliki saham lebih dari 25% (dua puluh lima persen) pada perseroan terbatas sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar;

2. memiliki hak suara lebih dari 25%

(dua puluh lima persen) pada perseroan terbatas sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar;

3. menerima keuntungan atau laba lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari keuntungan atau laba yang diperoleh perseroan terbatas per tahun;

4. memiliki kewenangan untuk mengangkat, menggantikan, atau memberhentikan anggota direksi dan anggota dewan komisaris;

5. memiliki kewenangan atau kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengendalikan perseroan terbatas tanpa harus mendapat otorisasi dari pihak manapun;

6. menerima manfaat dari perseroan terbatas; dan/atau

7. merupakan pemilik sebenarnya dari dana atas kepemilikan saham perseroan terbatas.

Lebih lanjut disebutkan bahwa orang perseorangan yang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada huruf e, huruf f, dan huruf g merupakan orang perseorangan yang tidak memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemilik manfaat

sebenarnya atau beneficial owner disini bisa saja bukan orang yang namanya tercantum dalam anggaran dasar perseroan atau tercatat secara hukum sebagai pemilik perusahaan.

Peruntukan kedua peraturan tersebut dibatasi hanya untuk kepentingan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme. Padahal tindak pidana perpajakan sendiri merupakan tindak pidana utama (predicate crime) dalam tindak pidana pencucian uang yang juga tidak kalah penting untuk segera diatur.

Pada bidang perpajakan, ketentuan beneficial owner diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 25/PJ/2018 tanggal 21 November 2018 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. Beneficial owner disini dibatasi hanya bagi Wajib Pajak Luar Negeri (selanjutnya disebut WPLN), yaitu subjek pajak luar negeri sebagaimana dimaksud Undang-Undang PPh yang menerima dan/atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia melalui bentuk usaha tetap atau tanpa melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. WPLN memenuhi ketentuan sebagai beneficial owner dalam hal:

1. bagi WPLN orang pribadi, tidak bertindak sebagai Agen atau Nominee; atau

2. bagi WPLN badan, harus memenuhi ketentuan:

a. tidak bertindak sebagai Agen, Nominee, atau Conduit;

b. mempunyai kendali untuk menggunakan atau menikmati dana, aset, atau hak yang mendatangkan penghasilan dari Indonesia;

c. tidak lebih dari 50% penghasilan badan digunakan untuk memenuhi kewajiban kepada pihak lain;

(8)

64 d. menanggung risiko atas aset,

modal, atau kewajiban yang dimiliki; dan

e. tidak mempunyai kewajiban baik tertulis maupun tidak tertulis untuk meneruskan sebagian atau seluruh penghasilan yang diterima dari Indonesia kepada pihak lain.

Hal ini dikhususkan bagi pengaturan tentang tata cara penerapan persetujuan penghindaran pajak berganda yang melibatkan Indonesia dengan negara lain dalam rangka penyederhanaan dan kemudahan administrasi, memberikan kepastian hukum, dan untuk mencegah penyalahgunaan persetujuan penghindaran pajak berganda.

Beneficial owner disini sebagai pemilik manfaat yang sebenarnya, mempunyai kemampuan untuk mengendalikan perusahaan dan memberikan perintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang merupakan tindak pidana di bidang perpajakan. Untuk itu, walaupun beneficial owner tidak terdapat dalam struktur organisasi perseroan, baik sebagai direktur, komisaris, ataupun pemegang saham, akan tetapi dapat dimintai pertanggungjawabannya sebagai pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

Jika perseroan menerbitkan saham bukan atas nama pemilik sebenarnya melainkan atas nama nominee melakukan tindak pidana di bidang perpajakan, walaupun tidak ada perjanjian tertulis (nominee agreement), maka tidak saja telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan UU KUP, tetapi juga melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam UU Perseroan Terbatas.

Pertanggungjawaban Pidana Beneficial Owner Saham dalam Tindak Pidana

Perpajakan (Studi Putusan Pengadilan

Tinggi Medan Nomor

66/Pid.Sus/2018.PT.Mdn)

Pertanggung jawaban

pidana (toereken-baarheid) adalah kewajiban individu atau korporasi untuk menanggung konsekuensi atas perbuatannya karena telah melakukan suatu kejahatan yang merugikan. Pada kasus ini di awal tahun 2007, Tiandi Lukman (selanjutnya disebut Terdakwa) selaku pemilik dan pimpinan PT Jasa Sumatera Travelindo (selanjutnya disebut PT Jastra) dan Koordinator Administrasi dan Keuangan Kantor Konsultan Pajak Adi Dharma Medan bersama Hendro Gunawan atau Aheng (selanjutnya disebut Hendro Gunawan) berencana mendirikan beberapa perusahaan yang akhirnya didirikan melalui Kantor Notaris Tjong Deddy Iskandar yaitu PT Batanghari Oilindo Palm (PT BOP), PT Permata Witmas Hijau (PT PWH), PT Cipta Karya Insani (PT CKI), PT Al Ansar Binasawindo Plantation (PT AABP), dan PT Putri Windu Semesta (PT PWS) untuk membuat faktur pajak berdasarkan transaksi jual beli fiktif yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari sisi penjualan faktur pajak yang tidak benar isinya. Untuk melancarkan aksinya Terdakwa melalui Hendro Gunawan menyuruh para pengurus perusahaan-perusahaan tersebut untuk mengurus administrasi di Kantor Pelayanan Pajak, membuka rekening di Bank Mandiri, dan menandatangani buku cek untuk dicairkan bilamana telah terjadi jual beli Crude Palm Oil (CPO) fiktif dan faktur pajak yang didasari jual beli CPO fiktif.

Akibat perbuatan Terdakwa, nilai potensi kerugian keuangan pada pendapatan negara seluruhnya berjumlah sebagai berikut:

No. Uraian Jumlah (Rp)

1. PT Batanghari Oilindo

Palm 8.572.906.218

2. PT Permata Witmas

Hijau 8.198.748.111

(9)

65 3. PT Cipta Karya Insani 7.712.596.338

4. PT Al Ansar

Binasawindo Plantation 8.230.964.674 5. PT Putri Windu Semesta 7.958.502.580

Jumlah 40.673.717.921

Terbilang: empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah.

Jaksa Penuntut Umum mendakwa Terdakwa melakukan perbuatan yang turut serta melakukan dengan sengaja menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut dan dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 39 ayat (1) huruf c jo Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2000 jo Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2007 jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana yaitu Dakwaan Tunggal.

Pasal 39 ayat (1) huruf c Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut UU KUP Perubahan Kedua) menyebutkan:

“Setiap orang yang dengan sengaja menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.”

Hal ini kembali diatur dalam Pasal 39 ayat (1) huruf d Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut UU KUP Perubahan Ketiga) yang menyebutkan:

“…dapat dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.”

Dalam kedua aturan tersebut, terdapat perbedaan pada ancaman pidana penjara dan pidana denda. UU KUP Perubahan Kedua berlaku dari tanggal 1 Januari 2001 sampai dengan 31 Desember 2007 sedangkan UU KUP Perubahan Ketiga berlaku dari tanggal 1 Januari 2008 sampai dengan 31 Desember 2008. Terdakwa melakukan tindak pidana di bidang perpajakan tersebut sejak Januari 2007 sampai dengan Januari 2008, sehingga atas tindak pidana tersebut berlaku kedua Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan tersebut, sehingga dapatlah diambil ancaman pidana tertinggi dari kedua undang-undang tersebut.

Penyertaan dalam tindak pidana perpajakan diatur dalam Pasal 43 ayat (1) UU KUP Perubahan Kedua menyebutkan:

“Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39, berlaku juga bagi wakil, kuasa, atau pegawai dari wajib pajak, yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.”

Sedangkan dalam Pasal 43 ayat (1) UU KUP Perubahan Ketiga menyebutkan:

“Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan Pasal 39 A, berlaku

(10)

66 juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari wajib pajak, atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.”

Kedua undang-undang tersebut menegaskan bahwa pihak-pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas tindak pidana perpajakan tidak hanya orang-orang yang terdaftar sebagai wajib pajak, akan tetapi pihak- pihak lain yang terbukti sebagai penyertaan dalam tindak pidana di bidang perpajakan seperti yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan.

Pasal 64 ayat (1) KUHPidana menyebutkan bahwa:

“Jika beberapa perbuatan perhubungan, sehingga dengan demikian harus dipandang sebagai satu perbuatan yang diteruskan, maka hanya satu ketentuan pidana saja yang digunakan walaupun masing-masing perbuatan itu menjadi kejahatan atau pelanggaran; jika hukumannya berlainan, maka yang digunakan ialah peraturan yang terberat hukuman utamanya.”

Pasal ini digunakan karena perbuatan Terdakwa mulai dari pendirian perseroan sampai menggunakan perseroan tersebut sedemikian rupa dalam tindak pidana perpajakan merupakan suatu perbuatan berlanjut sehingga digunakan peraturan yang terberat hukumannya yaitu yang diatur dalam UU KUP.

Pasal 65 ayat (1) KUHPidana menyebutkan bahwa:

“Dalam gabungan dari beberapa perbuatan, yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan tersendiri- sendiri dan yang masing-masing menjadi kejahatan yang terancam dengan hukuman

utama yang sejenis, maka satu hukuman saja dijatuhkan.”

Pasal ini digunakan karena Terdakwa dalam melakukan tindak pidana perpajakan tidak hanya menggunakan 1 (satu) perseroan, tetapi menggunakan 5 (lima) perseroan yaitu PT BOP, PT PWH, PT CKI, PT AABP, dan PT PWS secara berbarengan melakukan tindak pidana perpajakan yang kurang lebih sama, dengan hukuman utama yang sejenis, sehingga dijatuhkan satu hukuman saja.

Majelis Hakim Tingkat Pertama di Pengadilan Negeri Medan telah menjatuhkan putusan nomor 2436/Pid.Sus/2017/PN.Mdn tanggal 22 November 2017 yang menjatuhkan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 8 (delapan) bulan serta pidana denda kepada Terdakwa Tiandi Lukman sebesar Rp.20.336.858.960,50 (dua puluh milyar tiga ratus tiga puluh enam juta delapan ratus lima puluh delapan ribu sembilan ratus enam puluh koma lima puluh sen rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana pengganti penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan penjara.

Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa sama- sama mengajukan banding. Dalam memori bandingnya, Terdakwa mempertahankan pendapatnya bahwa Terdakwa tidak pernah ditunjuk sebagai wakil, kuasa atau pegawai wajib pajak yang diberi pelimpahan atau tanggung jawab atas pelaksanaan kewajiban perpajakan wajib pajak dari perusahaan-perusahaan tersebut, maka Terdakwa tidak dapat dikualifikasikan sebagai subjek hukum dan Terdakwa tidak pernah menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap kepada kantor pajak.

Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Medan berdasarkan putusan nomor 66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn tanggal 25 Januari 2018 memutuskan menjatuhkan

(11)

67 pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan pidana denda kepada Terdakwa Tiandi Lukman sejumlah Rp.40.673.717.921,- (empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana pengganti penjara selama 6 (enam) bulan.

Dalam kasus tindak pidana yang dilakukan oleh Tiandi Lukman, unsur- unsur pertanggungjawaban pidana telah terpenuhi, yaitu:

1. Melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum).

Sifat melawan hukum

(wenderrechielijkheid) merupakan syarat pertama pertanggungjawaban pidana. Sifat melawan hukum sebagai suatu penilaian objektif terhadap perbuatan dan bukan terhadap si pembuat (subjektif). Dikatakan sebagai sifat melawan hukum secara formil apabila suatu perbuatan telah mencocoki semua unsur yang termuat dalam rumusan delik. Jika ada alasan- alasan pembenar harus juga disebutkan secara tegas dalam undang-undang.

Melawan hukum sama dengan melawan undang-undang (hukum tertulis).

Perkataan sebagai sikap secara materiil disamping memenuhi persyaratan formil, perbuatan itu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut atau tercela dan telah dilarang oleh hukum. Tindak pidana yang dilakukan Terdakwa telah diatur secara tegas dalam undang-undang (hukum tertulis) yaitu Pasal 39 ayat (1) huruf c jo. Pasal 43 ayat (1) Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan jo Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 sebagai suatu perbuatan tercela dan bertentangan dengan hukum pidana serta terhadapnya harus dijatuhi pidana. Semua perbuatan yang dilakukan Terdakwa memenuhi

unsur-unsur yang termuat dalam rumusan delik dan dapat dimintai pertanggungjawabannya.

2. Mampu bertanggung jawab

Seseorang tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya apabila ia tidak mampu bertanggung jawab. Mampu bertanggung jawab ditentukan oleh faktor akal (batin) jiwa beserta fungsinya (normal), dapat membeda-bedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan, faktor kehendak yang berkaitan dengan perbuatan pidana.

Terdakwa ketika melakukan perbuatannya dalam keadaan sehat jasmani, rohani, akal dan jiwanya. UU KUP tidak mengatur secara khusus mengenai kriteria dewasa, sehingga batasan umur dewasa didasarkan pada ketentuan Pasal 45 KUHPidana adalah umur 16 (enam belas) tahun. Sehingga pada saat Terdakwa melakukan tindak pidana perpajakan tersebut, Terdakwa telah dewasa (cakap berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku).

3. Mempunyai bentuk kesalahan berupa kesengajaan atau kealpaan.

Seseorang dipertanggungjawabkan secara pidana adalah karena seseorang itu memiliki kesalahan baik sengaja maupun kelalaian. Pengertian kesalahan adalah jiwa, batin, pikiran dapat dicela karena dia bisa membedakan mana yang dilarang mana yang diperbolehkan. Orang dapat dikatakan mempunyai kesalahan jika dia pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihat dari segi masyarakat dapat dicela karenanya, yaitu kenapa melakukan perbuatan yang merugikan pada masyarakat padahal mampu untuk mengetahui makna perbuatan tersebut dan harus menghindari untuk berbuat demikian.

Kesalahan dapat dimulai dengan bentuk perbuatan manusia mempunyai kesalahan dalam hal melaksanakan perbuatan tersebut, yaitu kesengajaan (dolus) dan kelalaian (culpa). Perbuatan

(12)

68 dilakukan dengan sengaja adalah perbuatan yang dikehendaki dan dilakukan dengan penuh kesadaran.

Dalam hal ini, Terdakwa memenuhi unsur kesalahan yang disengaja karena Terdakwa melakukan perbuatan tersebut secara sadar dan sengaja serta menyadari bahwa perbuatannya merupakan tindak pidana tetapi tetap melanjutkan perbuatannya. Meskipun dalam persidangan sendiri Terdakwa masih menyangkal dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas rangkaian pidana yang dilakukan kelima perusahaan tersebut.

4. Alasan pemaaf

Alasan pemaaf yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa.

Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum. Jadi, tetap merupakan perbuatan pidana, tetapi dia tidak dipidana karena tidak ada kesalahan.

Ketentuan tentang alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan terdapat pada Pasal 44 (tidak mampu bertanggung jawab), Pasal 48 (daya paksa/overmacht), Pasal 49 ayat (2) (pembelaan terpaksa), dan Pasal 51 ayat (2) (perintah jabatan) KUHPidana. Dalam hal ini, Terdakwa tidak memenuhi unsur-unsur alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan.

Berdasarkan uraian di atas, Terdakwa dapat dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum apabila memenuhi unsur- unsur tindak pidana perpajakan sebagai berikut:

1. Setiap orang

Yang termasuk kategori unsur setiap orang adalah wajib pajak yang merupakan orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perpajakan.

Selain itu unsur setiap orang dalam ketentuan Pasal 39 ayat (1) huruf c UU

KUP Perubahan Kedua berlaku juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari wajib pajak yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

Dalam hal ini Terdakwa sebagai yang turut serta melakukan tindak pidana di bidang perpajakan bersama-sama dengan Hendro Gunawan, Busra Ridwan, dan Rudi Nasution telah memenuhi unsur setiap orang.

Kedudukan terdakwa dalam hal ini memenuhi kriteria sebagai beneficial owner, dimana Terdakwa bukanlah salah satu dari organ perseroan, tetapi memiliki kemampuan atau kewenangan untuk mengambil keputusan, mengangkat direksi dan komisaris, serta turut serta dalam pengurusan perseroan. Hal ini terlihat dari tindakan Terdakwa sebagai pencetus ide pendirian beberapa perseroan tersebut dan pembelian perseroan yang sudah tidak aktif lagi serta sebagai perancang segala kegiatan dan pelaporan pajak yang merupakan inti dari tindak pidana perpajakan.

2. Melakukan perbuatan yang melanggar kewajiban perpajakan Kewajiban perpajakan yang dilanggar oleh Terdakwa dalam perkara ini yaitu dengan sengaja menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Surat pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan.

3. menimbulkan kerugian pada pendapatan negara

Berdasarkan keterangan Wahyudin, Auditor Pajak pada Kanwil DJP Sumatera Utara I selaku Ahli Perhitungan Kerugian

(13)

69 pada Pendapatan Negara yang tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan Ahli dan Hasil Kertas Kerja Ahli tanggal 20 April 2017 menerangkan bahwa nilai potensi kerugian pada pendapatan negara seluruhnya berjumlah Rp.40.673.717.921,- (empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah).

Berdasarkan keterangan ahli peraturan perpajakan Dodi Muktar Afandi menerangkan pada pokoknya bahwa perbuatan Terdakwa dengan sengaja menerbitkan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya dan melaporkannya pada SPT Masa PPN dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dapat dipidana sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 39 ayat (1) huruf c UU KUP Perubahan Kedua yang berbunyi:

“setiap orang yang dengan sengaja menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar”.

Pasal 39 ayat (1) huruf d UU KUP Perubahan Ketiga berbunyi:

“setiap orang yang dengan sengaja menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar”.

Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Medan pada akhirnya menjatuhkan putusan berupa pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan pidana denda sejumlah

Rp.40.673.717.921,- (empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana pengganti penjara selama 6 (enam) bulan penjara.

Pidana penjara yang dijatuhkan bukanlah merupakan pidana minimal maupun maksimal yang dapat dijatuhkan Majelis Hakim. Berdasarkan UU KUP, pidana penjara yang dapat dijatuhkan bagi orang yang terbukti melakukan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai Pasal 39 ayat (1) UU KUP Perubahan Kedua paling lama adalah 6 (enam) tahun atau sesuai UU KUP Perubahan Ketiga paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun.

Pidana penjara yang dijatuhkan di tingkat banding yaitu pidana penjara 2 (dua) tahun justru lebih rendah dari yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Medan sebagai pengadilan tingkat pertama, dimana Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Medan memutuskan menjatuhkan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 8 (delapan) bulan terhadap Terdakwa.

Adapun pidana denda yang dijatuhkan hanya sebesar nilai kerugian pada pendapatan negara yaitu Rp.40.673.717.921,- (empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah).

Berdasarkan UU KUP, pidana denda yang dapat dijatuhkan bagi orang yang terbukti melakukan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai Pasal 39 ayat (1) UU KUP Perubahan Kedua adalah paling tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar atau sesuai UU KUP Perubahan Ketiga paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

(14)

70 Sehingga pidana denda yang dapat dijatuhkan paling sedikit adalah 2 (dua) kali lipat jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar oleh wajib pajak sebagaimana tuntutan awal dari Jaksa Penuntut Umum yaitu sebesar Rp.81.347.435.842,- (delapan puluh satu milyar tiga ratus empat puluh tujuh juta empat ratus tiga puluh lima ribu delapan ratus empat puluh dua rupiah).

Jumlah pidana denda yang dijatuhkan ini tadinya dibebankan bagi Terdakwa dan Hendro Gunawan secara tanggung renteng (pada putusan tingkat pertama), akan tetapi pada putusan tingkat banding denda ini hanya dibebankan kepada Terdakwa dengan pertimbangan bahwa Hendro Gunawan hanya menuruti instruksi sebagai pegawai dari Terdakwa dengan gaji Rp.6.000.000,- (enam juta rupiah) per bulan.

Pidana denda ini apabila tidak dibayar dapat diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan pada tingkat pertama, kemudian menjadi 6 (enam) bulan pada putusan tingkat banding. UU KUP sebagai lex specialis dalam hukum perpajakan tidak mengatur mengenai pidana penjara pengganti denda. Maka ketika UU KUP sebagai peraturan khusus tidak ada mengatur, maka pengaturan kembali pada peraturan umumnya yaitu KUHPidana.

Jika dilihat dalam KUHPidana, juga tidak ada mengatur mengenai pidana penjara pengganti denda. Adapun di dalam KUHPidana yang diatur adalah mengenai pidana kurungan pengganti denda yaitu jika dijatuhkan hukuman denda, dan denda tidak dibayar, maka diganti dengan hukuman kurungan. Lamanya hukuman kurungan pengganti itu sekurang- kurangnya 1 (satu) hari dan selama- lamanya 6 (enam) bulan.

Pada waktu dijatuhkan hukuman denda, maka dalam surat keputusannya Hakim menentukan pula berapa hari hukuman kurungan yang harus dijalani

sebagai pengganti, apabila denda tidak dibayar. Hukuman kurungan semacam ini dinamakan kurungan pengganti denda atau kurungan subsidaire yang lamanya minimum 1 (satu) hari dan maksimum 6 (enam) bulan. Tempo 6 (enam) bulan ini dapat dilampaui sampai 8 (delapan) bulan dalam hal gabungan peristiwa pidana, mengulangi (residive) dan ketentuan dalam Pasal 52 KUHP.

Beberapa undang-undang lain yang mengatur mengenai penggantian pidana denda antara lain:

1. Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (selanjutnya disebut UU TPPU) menjelaskan dalam hal harta terpidana tidak cukup untuk membayar pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5, pidana tersebut diganti dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan.

2. Pasal 43 ayat (1) dan (2) Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (selanjutnya disebut UU PSK) menjelaskan dalam hal terpidana tidak mampu membayar pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 sampai dengan Pasal 42, pidana denda tersebut diganti dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana penjara sebagai pengganti denda tersebut dicantumkan dalam amar putusan hakim.

3. Pasal 148 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (selanjutnya disebut UU Narkotika) menjelaskan bahwa apabila putusan pidana denda

(15)

71 sebagaimana diatur dalam undang- undang ini tidak dapat dibayar oleh pelaku tindak pidana narkotika dan tindak pidana prekursor narkotika, pelaku dijatuhi pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun sebagai pengganti pidana denda yang tidak dapat dibayar.

4. Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU Tipikor) menjelaskan bahwa dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.

Jika dibandingkan dengan putusan terhadap Terdakwa, dimana terdapat ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana pengganti penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan penjara pada Pengadilan Negeri Medan dan kemudian diubah menjadi diganti dengan pidana pengganti penjara selama 6 (enam) bulan pada Pengadilan Tinggi Medan, maka penjatuhan pidana pengganti denda tersebut masih terlalu ringan dan menyebabkan pidana denda seakan-akan tidak ada artinya karena pada dasarnya Terdakwa akan lebih memilih untuk menjalankan pidana penjara selama 6 (enam) bulan daripada membayar denda senilai Rp.40.673.717.921,- (empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah).

Penjatuhan pidana denda yang dapat diganti dengan pidana pengganti penjara dalam putusan ini pada dasarnya memberikan pilihan bagi Terdakwa, apakah mau membayar pidana denda atau menjalani pidana pengganti berupa penjara. Hal ini saja sudah merupakah hal yang sangat meringankan bagi Terdakwa.

Jika dibandingkan dengan pengaturan pidana pengganti denda yang diatur dalam UU TPPU, UU PSK, UU Narkotika, dan UU Tipikor, akan terlihat suatu keadaan tidak mampu membayar dari terpidana, baru pidana denda tersebut dapat digantikan, apakah dengan pidana kurungan (pada UU TPPU) ataupun pidana penjara (pada UU PSK, UU Narkotika, UU Tipikor). Jadi bukan serta merta merupakan suatu pilihan bagi Terdakwa dalam menjalani putusannya.

Ditambah lagi tidak ada pengaturan yang jelas dan rinci mengenai nominal denda yang dapat digantikan dengan pidana kurungan ataupun penjara. Hal ini sangat memungkinkan terjadinya disparitas penjatuhan pidana denda dalam putusan tindak pidana perpajakan.

SIMPULAN

Beneficial owner telah diatur secara tegas dalam beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu salah satunya yakni Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.01/2017 tanggal 16 Maret 2017 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan dan di Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Manfaat dari Korporasi dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, akan tetapi sayangnya ketentuan-ketentuan ini tidak berlaku bagi tindak pidana di bidang perpajakan. Dalam bidang perpajakan, pengaturan beneficial owner sangat terbatas dan hanya mengatur ketentuan

(16)

72 bagi Wajib Pajak Luar Negeri, sehingga masih memberikan peluang bagi beneficial owner dalam arti pemilik manfaat sebenarnya untuk melakukan tindak pidana perpajakan.

Beneficial owner pada saham perseroan terbatas dalam hal ini adalah pemilik manfaat yang sebenarnya dari saham perseroan terbatas dapat dimintai pertanggungjawaban pidananya apabila terbukti melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009, dimana disebutkan bahwa ketentuan pidana di bidang perpajakan juga berlaku bagi wakil, kuasa, pegawai dari wajib pajak, atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. Sehingga walaupun tidak ada perjanjian tertulis antara beneficial owner dan nominee, tetapi beneficial owner tidak dapat melepaskan dirinya begitu saja dari tanggung jawab dengan alasan bukan merupakan subjek hukum. Dalam putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 66/Pid.Sus/2018/PT.Mdn, Terdakwa Tiandi Lukman dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana di bidang perpajakan pada Pasal 39 ayat (1) huruf c jo Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Yang harus menjadi perhatian yaitu penjatuhan pidana denda senilai Rp.40.673.717.921,- (empat puluh milyar enam ratus tujuh puluh tiga juta tujuh ratus tujuh belas ribu sembilan ratus dua puluh satu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut

tidak dibayar, diganti dengan pidana pengganti penjara selama 6 (enam) bulan.

Mengenai pidana pengganti penjara ini tidak diatur dalam UU KUP sebagai lex specialis maupun dalam KUHPidana sebagai lex generalis.

DAFTAR PUSTAKA

Bendremer, Fredric J., (2005), Delaware LLCs and Veil Piercing: Limited Liability Has Its Limitations, 10 Fordham Journal of Corporate and Financial Law.

Cohen, David L., (1998), Theories of the Corporation and the Limited Liability Company: How Should Courts and Legislatures Articulate Rules for Piercing the Veil, Fiduciary Responsibility and Securities Regulation for the Limited Liability Company?, 51 Oklahoma Law Review,

Fuady, Munir, (2002), Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya dalam Hukum Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Kanter, EY dan SR Sianturi, (2002), Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Jakarta: Storia Grafika.

Khairandy, Ridwan, (2008), Perseroan Terbatas Doktrin, Peraturan Perundang-Undangan dan Yurisprudensi. Yogyakarta: Penerbit Kreasi Total Media

Miller, Russell Lance, (1995), Piercing the Corporate Veil in Kentucky: an Analysis of United States V WRW Corp, 22 Northern Kentucky Law Review

Moeljatno, (2008), Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Mulhadi, (2010), Hukum Perusahaan Bentuk-Bentuk Badan Usaha di Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia

Mulyadi, Mahmud, dkk. (2010), Politik Hukum Pidana terhadap Kejahatan Korporasi.

Jakarta: PT Sofmedia

Nursiti dan Fakhrullah, (2015), “Disparitas Penjatuhan Pidana Kurungan Pengganti Pidana Denda dalam Putusan Kasus Narkotika”, Kanun Jurnal Ilmu Hukum No.

66, Th. XVII

Pahlevi, Kevin, “Analisis Yuridis terhadap Penggunaan Saham Pinjam Nama (Nominee Arrangement) Ditinjau dari Peraturan Perundang-undangan di Indonesia”, Diponegoro Law Journal, Vol. 6, No. 1, (2017).

Pawennei, Mulyati dan Rahmanuddin Tomalili, (2015), Hukum Pidana. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media

(17)

73 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-

25/PJ/2018 tanggal 21 November 2018 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda.

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.01/2017 tanggal 16 Maret 2017 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat dari Korporasi dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.

Pradipta, Mulia Agung dan Pujiyono, (2018).

“Reformasi Pidana Pengganti Denda dalam Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia”, Pandecta, Vol. 13, No. 2

Saleh, Roeslan, (1982), Pikiran-Pikiran tentang Pertanggungjawaban Pidana, Cetakan I.

Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tioni, Anthony dan R. Arja Sadjiarto, (2013),

“Penentuan Beneficial owner untuk Mencegah Penyalahgunaan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda”, Tax &

Accounting Review, Vol.3, No. 2

Wicaksono, Lucky Suryo, (2016) “Kepastian Hukum Nominee Agreement Kepemilikan Saham Perseroan Terbatas”, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Vol. 23, No. 1

Indriani, I. (2017). Perkembangan Hukum:

Perseroan Terbatas Dan Praktik Penggunaan Nominee Oleh Investor Asing. Proceedings Universitas Pamulang, 2(1).

Pardede, M. (2020). Aspek Hukum Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Oleh Korporasi Dalam Bidang Perpajakan. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 20(3), 335–362.

Tari, N. (n.d.). Beneficial Ownership, Perseroan Terbatas, Afiliasi, Tindak Pidana Pencucian Uang. Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Wicaksono, D. A., & Nurbaningsih, E. (2020). RATIO LEGIS PENETAPAN PEMBAYAR PAJAK (TAXPAYER) SEBAGAI KEDUDUKAN HUKUM DALAM PENGUJIAN UNDANG-UNDANG OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI. Jurnal Konstitusi, 17(3), 461–494.

Wicaksono, L. S. (2016). Kepastian Hukum Nominee Agreement Kepemilikan Saham Perseroan Terbatas. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 23(1), 42–57.

Referensi

Dokumen terkait

Media pembelajaran flash card pada mata pelajaran Bahasa Arab materi fi Ghurfah al Mudzakaroh juga dapat meningkatkan hasil hafalan siswa di MI Bahrul Ulum Kota Batu, karena media

Dimaklumkan permohonan tuan / puan untuk memasuki Pusat Latihan Gurney, Persatuan Bagi Orang Buta Malaysia telah kami terima pada … ………….dan kini dalam perhatian. Sekiranya tuan

Menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (2013), kelembagaan ekonomi petani belum berfungsi sesuai dengan harapan, antara lain disebabkan karena: 1)

Dengan demikian, lingkungan sebagai suatu tempat seseorang memeroleh dan mempelajari bahasa harus memiliki kualitas yang baik, agar pemelajar bahasanya memiliki kemampuan

Maksudnya, keadaan komunikasi dengan Allah bisa lebih dekat daripada dengan sesama jika seseorang (berkeluarga) menghadapi masalah yang amat berat, baik di

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) Kontribusi dan Pertumbuhan Retribusi Obyek Wisata terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Nganjuk tahun 2014-2018. 2) Kontribusi dan

Keputusan investasi merupakan keputusan penanaman modal dalam jangka waktu lama yang berkaitan dengan harapan terhadap hasil keuntungan yang diperoleh perusahaan di masa

Ini kerana pemimpin sebagai orang yang mempunyai pengaruh yang besar dari aspek politik mampu untuk memberi pengaruh serta tanggapan yang baik