26 BAB III
METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah Kabupaten Situbondo yang ada di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Situbondo ini terletak di daerah pesisir utara pulau Jawa, di kawasan Tapal Kuda dan dikelilingi oleh perkebunan tebu, tembakau, hutan lindung Baluran dan lokasi usaha perikanan. Dengan letaknya yang strategis, di tengah jalur transportasi darat Jawa-Bali, kegiatan perekonomiannya tampak aktif. Kabupaten Situbondo berada pada ketinggian 0 – 1.250 m di atas permukaan laut. Wilayah dengan rata-rata ketinggian ada pada wilayah selatan barat seperti Kecamatan Jatibanteng dan Sumbermalang.
Dan di wlayah utara ada Kecamatan Bungatan tang wilayah tertingginya pada ketinggian 1.250 m.
Kabupaten Situbondo mempunyai ketinggian antara 0 – 1.250 m/dpl, temperatur tahunan 24,7°C - 27,9°C, dengan 3 - 4 bulan basah dan 8 s/d 9 bulan kering pertahun (puncak musim kering antara Juli – Sepetember), serta curah hujan rata-rata per tahun 994 – 1.503 mm. Secara administrasi wilayah perencanaan terdiri atas 17 (Tujuh Belas) kecamatan, dengan luas wilayah keseluruhan adalah 163.850 Ha.
B. Jenis Penlitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan memberikan gambran yang sistimatis fakultatif dan akurat berdasarkan data yang ada dimana penelitian ini tidak hanya menafsirkan data saja tetapi analisis dan interperstasi
data tersebut. Dalam penelitian ini memberikan gambaran bagaimana potensi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Situbondo 2010-2018
C. Jenis dan Sumber Data
Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berbentuk data tahunan (time series) yaitu data yang disediakan atau sudah diolah sebelumnya atau data yang tidak diperoleh dari lapangan. Time series data dari tahun 2010-2018. Data ini dapat diperoleh melalui Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) di daerah Kabupaten Situbondo maupun Propinsi Jawa Timur dan instansi atau lembaga terkait lainnya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data peneliti mengunakan metode dokumentasi.
Teknik ini merupakan suatu proses pengumpulan informasi dengan mencatat data-data yang telah dipublikasikan oleh lembaga atau intansi terkait. Ini dilakukan karena data yang telah digunakan adalah data sekunder yang telah dipublikasikan tanpa harus melakukan penelitian secara langsung terjun ke lapangan.
E. Definisi Operasional Variabel
Variabel merupakan objek penelitian yang menjadi ketertarikan dalam melakukan penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah keadaan ekonomi suatu wilayah pada periode tertentu yang mana lebih baik atau meningkat dari periode
sebelumnya berdasarkan beberapa indikator. Indikator tersebut adalah
kenaikan pendapatan nasional dan pendapatan per-kapita. Jika kondisi dari indikator-indikator tersebut menurun dibanding periode sebelumnya, maka wilayah tersebut bukannya mengalami pertumbuhan ekonomi namun justru kemunduran ekonomi.
2. Sektor Unggulan
Sektor ungulan yang dimaksud adalah sektor-sektor ekonomi di Kabupaten/Kota yang mampu memenuhi kebutuhan untuk masing-masing dan juga bisa diekspor ke daerah lain atau bahkan ke luar negri. Apabila nilai LQ lebih dari satu maka sektor tersebut ungul atau dengan kata menjadi andalan daerah tersebut dibandingkan sektor lainnya.
F. Teknik Analis Data
1. Analisis Pertumbuhan Ekonomi
Analisis pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten Situbondo dengan menggunakan persamaan atau rumus sebagai berikut;
𝑌𝑡 =PDRBt − PDRBt − 1 PDRBt − 1 Keterangan:
Yt = Pertumbuhan ekonomi periode t.
PDRBt = Produk Domestik Regional Bruto periode t.
PDRBt-1 = Produk Domestik Regional Bruto periode sebelumnya.
2. Analisis Static Location Quotien (SLQ)
Teknik ini membandingkan tentang besarnya peranan suatu sektor disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor tersebut ditingkat nasional.
Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi potensi internal yang dimiliki daerah tersebut yaitu sektor basis dan non basis (Kuncoro, 2004).
Perhitungan SLQ menggunakan rumus sebagai berikut :
SLQ =
𝑆𝑖 𝑆 𝑁𝐼
𝑁
Keterangan :
SLQ : Nilai Static Location Quotient Si : PDRB Sektor i Kota/Kabupaten S : PDRB total Kota/Kabupaten Ni : PDRB Sektor i di Jawa Timur N : PDRB total di Jawa Timur
Berdasarkan formulasi yang di tunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada tiga kemungkinan nilai SLQ yang diperoleh yaitu:
a. Nilai SLQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i Kota/Kabupaten di Kabupaten Situbondo adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Jawa Timur.
b. Nilai SLQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i Kota/Kabupaten di Kabupaten Situbondo lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Jawa Timur.
c. Nilai SLQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i Kota/Kabupaten di Kabupaten Situbondo lebih kecil dibandingkan sektor yang sama dalam perekonomian Jawa Timur.
Dengan kata lain apabila SLQ>1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor basis untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kota/Kabupaten di Kabupaten Situbondo.
Sebaliknya apabila nilai SLQ<1, maka sektor tersebut bukan merupakan
sektor basis untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kota/Kabupaten di Kabupaten Situbondo. Data yang digunakan dalam analisis SLQ ini adalah data PDRB Kota/Kabupaten di Situbondo dan PDRB Kota/Kabupaten di Jawa Timur menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan 2010.
3. Analisis Dinamic Loqation Quatient (DLQ)
Penggunaan model Dinamic Location Quotient adalah analisis SLQ yang dilakukan dalam bentuk time series/trend. Dalam hal ini, notasi giS dan GiP digunakan untuk menyatakan pangsa sektor (i) di daerah studi P dan di daerah referensi G, sedangkan notasi gP dan GG menyatakan ratarata pangsa ekonomi daerah studi P dan daerah referensi G. Berikut persamaannya:
𝐷𝐿𝑄 = (1 + 𝐺𝑖𝑝)/(1 + 𝐺𝑝) (1 + 𝐺𝑖𝐺)/(1 + 𝐺𝐺) Dimana :
DLQ = Indeks potensi sektor i di Kota/Kabupaten Situbondo.
Gip = Pangsa pertumbuhan PDRB sub sektor i di Kota/Kabupaten Situbondo
Gp = Rata-rata pangsa pertumbuhan PDRB seluruh sub sektor di Kota/Kabupaten Situbondo
GiG = Pangsa pertumbuhan PDRB sub sektor i di Jawa Timur.
GG = Rata-rata pangsa pertumbuhan PDRB seluruh sub sektor di Jawa Timur.
Berdasarkan formulasi yang di tunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada tiga kemungkinan nilai DLQ yang diperoleh yaitu:
a. Nilai DLQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i Kota/Kabupaten daerah Situbondo adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Jawa Timur.
b. Nilai DLQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i Kota/Kabupaten daerah Situbondo lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Jawa Timur.
c. Nilai DLQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i Kota/Kabupaten daerah Situbondo lebih kecil dibandingkan sektor yang sama dalam perekonomian Jawa Timur.
Dengan kata lain apabila DLQ>1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor unggulan untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian dikawasan Kabupaten Situbondo. Sebaliknya apabila nilai DLQ < 1, maka sektor tersebut bukan merupakan sektor unggulan untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian di Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Data yang digunakan dalam analisis DLQ ini adalah data PDRB Kota/Kabupaten Situbondo Jawa Timur menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan 2010.
4. Analisis Sektor Unggulan (Gabungan SLQ dan DLQ)
Terdapat empat hubungan yang menunjukkan klasifikasi suatu subsektor di wilayah tertentu dengan gabungan kedua metode yaitu, SLQ dan DLQ. Pertama, suatu subsektor dapat dikatakan dia andalan di suatu wilayah apabila SLQ < 1 dan DLQ > 1. Kedua, subsektor dapat dikatakan dia
merupakan sektor unggulan apabila SLQ > 1 dan DLQ > 1. Ketiga, suatu subsektor dikatakan sebagai sektor yang prospektif di suatu wilayah apabila SLQ >1 dan DLQ < 1. Keempat, suatu subsektor dikatakan sebagai sektor yang tertinggal di wilayah tertentu apabila hasil kedua metode menunjukkan SLQ < 1 dan DLQ < 1.
a. SLQ > 1 dan DLQ > 1. Merupakan sektor unggulan b. SLQ < 1 dan DLQ > 1. Merupakan sektor andalan c. SLQ > 1 dan DLQ < 1. Merupakan sektor prospektif d. SLQ < 1 dan DLQ < 1. Merupakan sektor tertinggal
Dengan kata lain, untuk mengetahui sektor mana yang masuk dalam sektor unggulan, andalan, prospektif dan tertinggal yaitu menggunakan analisis gabungan dari SLQ dan DLQ.
5. Tipologi Klassen
Alat analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran pola dan struktur pertumbuhan ekonomi daerah. Sjarizal (1997) menjelaskan bahwa dengan menggunakan alat analisis ini dapat diperoleh empat klasifikasi pertumbuhan daerah yaitu: daerah pertumbuhan cepat (rapid growth region), daerah tertekan (retarded region), daerah sedang tumbuh (growing region), dan daerah relatif tertinggal (relatively backward region).
Kuncoro (1997) menggunakan alat analisis ini untuk menunjukkan kinerja pertumbuhan ekonomi 27 propinsi di Indonesia. Dengan membandingkan ratio pendapatan perkapita dan ratio pertumbuhan. Dalam penelitiannya perekonomian propinsi di Indonesia diklasifikasikan ke dalam
4 kelompok. 1) Low growth, high income, 2) High growt, high income, 3) High growth, low income, dan 4) Low growth, low income.
Formulasi alat analisis ini sebagai berikut:
Tabel 3. 1 Matrik Klasifikasi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Tipologi Klassen
PDRB per kapita (y) Laju
Pertumbuhan (r)
yi ‹ y yi › y
ri › r
Daerah berkembang Cepat
Daerah cepat maju Cepat tumbuh
ri ‹ r
Daerah relatif Tertinggal
Daerah maju tapi Tertekan
Sumber : Sjafrizal, (1997) Keterangan :
ri = laju pertumbuhan PDRB Kota/Kabupaten i r = laju pertumbuhan total PDRB Situbondo yi = pendapatan perkapita Kota/Kabupaten i y = pendapatan perkapita Kabupaten Situbondo