410
PERENCANAAN PERIODE CLEANING KONDENSOR E-1102 DI PABRIK X PEMALANG
Widya Normasita Sari1*, Haris Nu’man Aulia1, Ati Kusmawati2
1Refinery/Teknik Pengolahan Migas, Politeknik Energi dan Mineral Akamigas, Jl. Gajah Mada No.38 Cepu, Blora, 58312
*E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pabrik X Pemalang mengolah getah pinus. Dalam proses pengolahan di Pabrik X Pemalang salah satu peralatan utama yang digunakan adalah kondensor. Di Pabrik X Pemalang terdapat 2 kondensor yang digunakan yaitu main kondensor dan after kondensor. Main kondensor berfungsi un- tuk mengkondensasikan uap terpentin dan water yang keluar dari top alat pemasak. Kinerja konden- sor dapat menurun dengan tingginya fouling factor (Rd) yang disebabkan oleh adanya deposit berupa kotoran,kerak, dan endapan yang menempel pada dinding dalam kondensor. Kondensor berperan penting karena berkaitan erat dengan kinerja yang dilakukan dan mempengaruhi proses transfer panas. Maka, kinerja kondensor harus selalu diamati dan kondisi operasinya diupayakan semaksimal mungkin sesuai yang diinginkan. Berdasarkan hasil perhitungan didapat fouling factor sebesar 0,0007 hr.ft².℉/Btu dimana nilai fouling factor tidak melampaui nilai fouling factor yang diizinkan yaitu 0,003 hr.ft2.°F/Btu. Dari hasil perhitungan ini, kemampuan transfer panas kondensor E-1102 diprediksi akan dibawah kemampuan tugas (heat duty) pada bulan Oktober 2024. Oleh karena itu, cleaning perlu dilakukan kembali selambat-lambatnya 42 bulan dari sekarang. Hal ini perlu dil- akukan agar kinerja kondensor E-1102 kemampuan transfer panas dapat melebihi heat dutynya dan dapat kembali ke kondisi semula.
Kata kunci: fouling factor, transfer panas, cleaning.
1. PENDAHULUAN
Dalam proses industri banyak dijumpai peristiwa perpindahan energi dalam bentuk panas.
Alat yang digunakan industri untuk perpindahan panas yaitu alat penukar panas. Dalam pros- es industri, alat penukar panas digunakan untuk memindahkan panas dari suatu fluida yang sama atau dua fluida yang berbeda yang dapat terjadi melalui kontak langsung maupun secara kontak tidak langsung [1].
Di pabrik X Pemalang terdapat unit proses pemasakan yang menghasilkan produk-produk yaitu adalah bottom produk berupa gondorukem dan top produk berupa uap campuran water dan terpentin. Dalam prosesnya, campuran water dan terpentin merupakan uap yang keluar dari top produk alat pemasak. Uap campuran water dan terpentin keluaran top produk ini kemudian dilakukan proses kondensasi menggunakan kondensor.
Agar didapatkan produk terpentin sesuai yang diinginkan, sehingga dibutuhkan perhatian yang khusus terkait proses kondensasinya. dengan menggunakan alat kondensor yang berlangsung terus-menerus sehingga dapat menyebabkan menurunnya kemampuan transfer panas kondensor akibat timbulnya kotoran atau kerak yang menempel pada dinding bagian dalam kondensor. Hal ini dapat dikembalikan ke kondisi awal atau heat dutynya dengan cara di bersihkan (cleaning).Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap unjuk kerja kondensor untuk mengetahui waktu yang tepat dalam cleaning dan perawatan, kemudian dicari periode cleaning yang lebih tepat.
411
2. METODE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dan mengoptimasi alat kondensor.
Penelitian ini dilaksanakan di pabrik X kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan pada 2 Maret s/d 1 Juni 2021.
Kegiatan penelitian terdiri dari: 1Observasi lapangan dan mengamati seluruh proses di Pabrik X Pemalang; 2Pengumpulan data untuk proses perhitungan; 3Menganalisis dan membandingkan dengan data desain.
3. PEMBAHASAN
A. Tinjauan Pustaka
Perpindahan panas (heat transfer, perpindahan panas dari suatu bahan atau benda ke bahan atau benda lain yang suhunya lebih rendah. Perpindahan panas dapat terjadi dari suatu fluida ke fluida lain secara langsung atau melalui dinding pemisah [2].
Kondensor adalah alat penukar panas yang digunakan untuk mencairkan uap dengan mengambil kalor. Kondensor umumnya sebuah pendingin atau penukar panas yang digunakan untuk mengembunkan uap atau cairan uap, sehingga terjadi perubahan fase menjadi cairan.
Media pendingin yang digunakan yaitu air atau udara. Macam-macam Kondensor yaitu[3] : 1. Menurut Jenis Cooling Medium
Menurut jenis cooling mediumnya kondensor dibagi menjadi 3 jenis yaitu [4]:
a. Air Cooled Condenser
Air Cooled Condenser adalah kondenser yang menggunakan udara sebagai cooling mediumnya, biasanya digunakan pada sistem berskala kecil dan sedang.
b. Water Cooled Condenser
Water Cooled Condenser adalah kondensor yang menggunakan air sebagai cooling mediumnya, biasanya digunakan pada sistem yang berskala besar untuk keperluan komersial dilokasi yang mudah memperoleh air bersih.
c. Evaporative condensor
Evaporative condensor merupakan kombinasi antara kondensor dan cooling tower pada satu sistem. Prinsip kerja jenis kondensor ini yaitu pelepasan panas dari refrigeran dapat dilakukan dengan menyemprotkan air atau meneteskan droplet air pada koil kondensor, kemudian melakukan konveksi mekanis dengan menggerakkan kipas.
2. Menurut Jenis Desain
Menurut jenis desainnya kondensor dibagi menjadi 2 jenis yaitu [5]:
a. Berbelit-belit
Jenis kondensor berbelit-belit ini terdiri dari satu tabung panjang yang digulung berakhir dan kembali pada dirinya sendiri dengan sirip pendingin ditambahkan di antara tabung.
b. Arus Paralel
Jenis kondensor arus paralel sangat mirip dengan radiator aliran silang. Alih-alih bepergian refrigeran melalui satu bagian (seperti tipe serpentine) sekarang dapat melakukan perjalanan di berbagai bagian. Ini akan memberi luas permukaan yang lebih besar untuk udara ambien dingin untuk kontak.
Gangguan-gangguan yang dapat menghambat kinerja kondensor, meliputi [6]:
1. Non-Condensable Gases (gas yang tidak dapat terkondensasi)
Gas ini dapat menyebabkan kenaikan pressure terhadap kondensor dan menyelimuti permukaan tube-tube yang dapat menghambat transfer panas antara uap dengan cooling water, sehingga gas-gas ini harus dikeluarkan atau dibuang dari dalam
412
kondensor. Cara untuk mengeluarkan udara tersebut biasanya dilakukan dengan bantuan venting pump dan priming pump yang merupakan pompa vakum.
2. Terjadi Fouling Terhadap Kondensor
Fouling atau endapan sangat mungkin terjadi pada kondensor, endapan yang mengotori tube-tube kondensor ini berasal dari sumber pengambilan bahan baku air pendingin. Seperti yang kita ketahui tempat pengambilan air pendingin berasal dari laut dan kemungkinan besar air tersebut mengandung endapan-endapan kotoran yang ikut masuk dan mengendap pada tube-tube kondensor, hal ini dapat menyebabkan menurunnya laju perpindahan panas pada kondensor, sehingga kualitas air pendingin sangat diperlukan agar mengurangi penyebab fouling pada kondensor.
B. Hasil Penelitian dan Bahasan
Penelitian ini dilakukan dengan subjek penelitian yang diambil adalah alat kondensor E- 1102 di Pabrik X Pemalang. Data kondisi operasi pada bagian shell and Tube yang diambil selama proses penelitian di Pabrik X Pemalang.
1. Data Kondisi Operasi Kondensor E-1102 Bagian Shell dan Tube
Tabel 1. Data Kondisi Operasi Kondensor E-1102
Parameter Notasi Shell Tube Satuan
Fluida - Terpentin Water Water -
Flow Rate W 2318,938733 3123,211667 551155,66 Lb/hr
Suhu Masuk T 255,2 73,4 °F
Suhu Keluar T 167 87,8 °F
SG 60/60 °F - 0,87 1 1 -
2. Data Kondisi Spesifikasi Kondensor E-1102
Tabel 4.2 Data Spesifikasi Kondensor E-1102
Uraian Notasi Satuan E-1102
SHELL
Diameter dalam IDs Inchi 17,5
Diameter luar Ods Inchi 18
Jumlah baffle N Buah 7
Jarak antar baffle B Inchi 25,866
Jumlah passes N Buah 1
Panjang L Ft 6,5
Jenis fluida Campuran Uap Terpentin dan Water TUBE
Diameter dalam Idt Inchi 0,56
Diameter luar Odt Inchi 0,75
Panjang tube L Feet 8
Jumlah tube Nt Buah 252
BWG 13
Pitch Pt Inchi 1
Jarak antar tube C’ Inchi 0,25
Jumlah passes N Buah 2
Jenis fluida Water
3. Perhitungan Perencanaan cleaning kondensor E-1102
Tahapan perhitungan perencanaan periode cleaning kondensor-E1102 dengan meggunakan persamaan DQ.Kern.(1950) [7] sebagai berikut:
• Beban Panas o Bagian Shell
Panas sensibel yang dihasilkan oleh campuran uap
413
Q = (m . Cp . ∆t ) + (m . Cp . ∆t ) (1)
= (2318,938733 lb/hr x 0,266816446 Btu/lb.°F x 88,2 °F ) + (3123,211667 lb/hr x 1,194850581 Btu/lb.°F x 88,2°F )
= 383714,2999 Btu/hr
Panas latent yang dihasilkan oleh campuran uap
Q = (m .Hv Terpentin) + (m . Hv Water) (2)
= (2318,938733 lb/hr x 120,125 Btu/lb) + (3123,211667 lb/hr x 941,964 Btu/lb)
= 3220515,6 Btu/hr
Panas total yang dihasilkan oleh campuran uap
Qtotal = Q sensibel + Q latent (3)
= 383714,2999 Btu/hr + 3220515,6 Btu/hr
= 3604229,9 Btu/hr o Bagian Tube
Q = m . Cp . ∆t (4)
= 551155,66 lb/hr x 1 Btu/lb.°F x 14,4 °F = 7936641,504 Btu/hr
• Temperatur Kalorik o Bagian Shell
Dari grafik The Caloric Temperature Factor pada °API 31 dan T1-T2 = 88,2 °F diperoleh harga kc = 0,23 dan pada Δtc/Δth 0,559139785 °F dipeoleh harga Fc = 0,44
Sehingga :
Tc = T2 + Fc (T1 - T2) (5)
= 167 + 0,44 (88,2)
= 205,808 °F o Bagian Tube
tc = t1 + Fc (t2 - t1) (6)
= 73,4 + 0,44 (14,4) = 79,736 °F
• Log Mean Temperature Different (LMTD)
∆th = T1 – t2= 255,2 °F – 87,8 °F = 167,4 °F (7)
∆tc = T2 – t1= 167°F –73,4 °F = 93,6 °F (8)
maka :
LMTD = ∆th−∆tc
ln(∆th∆tc) (9)
LMTD = (𝑇1−𝑡2)−(T2−t1) ln(T1−t2)(T2−t1)
= (167,4°F)−(93,6°F)
ln((167,4°F)
93,6°F)
=126,94464408 °F
• Luas Penampang Aliran (Flow Area) o Bagian Shell Side (As)
As = IDs×C′×B
144×Pt (10)
= 17,5inch×0,25inch×25,866inch
144×1inch
× 2
= 1,57171875 ft2 o Bagian Tube Side (At)
At = Nt×a′t
144×n (11)
414
= 252×0,247inch2
144×2
× 2
= 0,43225 ft2
• Kecepatan Aliran Massa (Mass Velocity) o Bagian Shell Side (Gs)
Gs = Ws
As (12)
= 5442,1504lb/hr 1,57171875ft2 = 3.462,547227 lb/hr. ft2 o Bagian Tube Side (Gt)
Gt = Wt
At (13)
= 551155,66lb/hr 0,43225ft2 = 1.275.085,39 lb/hr. ft2
• Bilangan Reynold o Bagian Shell Side (Res)
Res Terpentin = De×Gs
μ (14)
Res Terpentin = 0,0608ft×3462,547227lb/hr.ft2
121lb/hr.ft = 174,0811615 Res Water = 0,0608ft×3462,547227lb/hr.ft2
0,6534lb/hr.ft = 322,3725213 Total nilai bilangan reynold di shell, yaitu:
Total Res di shell = Res Terpentin + Res Water
Total Res di shell = 174,0811615 + 322,3725213 = 496,4536827 o Bagian Tube Side (Ret)
Ret = De×Gt
μ (15)
Ret = 0,0467ft×1275085,39lb/hr.ft2
2,178lb/hr.ft = 27.320,36128
• Faktor Dimensi Perpindahan Panas (jH) o Bagian Shell
Res = 496,4536827 dari Shell-side heat transfer curve diperoleh nilai JH = 10.
o Bagian Tube
Ret = 27.320,36128
L = 6,5 ft , ID = 0,0467 ft L/D =139,9049168
dari Tube-side heat transfer curve diperoleh nilai JH = 80
• Bilangan Prandtl (Pr) o Bagian Shell
Pr =
(
Cp×μsk
)
1/3 (16)= ( 0,79941
𝐵𝑡𝑢
𝑙𝑏.°𝐹×1,8634𝑙𝑏/𝑓𝑡ℎ𝑟 0,427𝐵𝑡𝑢
ℎ𝑟𝑓𝑡°𝐹
)
1/3 = 1,516658429 o Bagian TubePr =
(
Cp×μtk
)
1/3 (17)415
= (
1𝐵𝑡𝑢
𝑙𝑏 .°𝐹×2,178𝑙𝑏/𝑓𝑡ℎ𝑟 0,353𝐵𝑡𝑢
ℎ𝑟𝑓𝑡°𝐹
)
1/3 = 1,834147614• Koefisien Perpindahan Panas o Bagian Shell
ℎ𝑜
φs = JH × k
De × [Pr]1/3 (18)
= 10 × 0,427Btu/hrft°F
0,0608ft × 1,516658429
= 106,4530096 Btu/hr.ft2. °F o Bagian Tube
ℎ𝑖
φt = JH × k
D × [Pr]1/3 (19)
= 80 × 0,353Btu/hrft°F
0,0467ft × 1,834147614
= 1109,875459 Btu/hr.ft2. °F
ℎ𝑖𝑜 φt = ℎ𝑖
φt × 𝐼𝐷
OD (20)
= 1109,875459 Btu/hr.ft2. °F × 0,0467𝑓𝑡
0,062475𝑓𝑡
= 829,0353085 Btu/hr.ft2. °F
• Temperatur Dinding Tube (Tw) tw = tc +
ho φs hio
φt+ ho φs
× (Tc− tc) (21)
tw = 79,736 °F + 106,4530096Btu/hr.ft2.°F
(829,0353085+106,4530096)Btu/hr.ft2.°F× (205,808 − 79,736)°F = 94,08°F
• Rasio Viskositas Fluida Luar dan Dalam Tube (φ) o Bagian Shell
Pada tube –wall temperature (tw) = 94,08°F, µs = 1,8634 lb/hr.ft dengan grafik Viscosities Of Liquids. Maka didapat nilai µw:
µw = 1,95 × 2,42 lb/hr.ft = 4,719 1b/hr.ft Maka,
φ
s= (
μμw
)
0,14(22)
= (
1,86342,904
)
0,14=
0,878018883 o Bagian TubePada temperature tw = 94,08°F, µt = 2,178 lb/hr.ft dengan grafik lampiran 7 Viscosities Of Liquids. Maka didapat nilai µw:
µw = 0,75 × 2,42 lb/hr.ft = 1,815 lb/hr.ft
Maka,
φ
t= (
μμw
)
0,14 (23)= (
2,1781,815
)
0,14= 1,025853571• Koefisien Perpindahan Panas Terkoreksi o Bagian Luar Tube
ho= ho
φs × φs (24) = 106,4530096 Btu/hr.ft2. °F ×0,878018883= 121,2422781 Btu/hr.ft2.°F
416
o Bagian Dalam Tube hio= hio
φt × φt (25) = 829,0353085 Btu/hr.ft2.°F×1,025853571 = 808,1419533 Btu/hr.ft2.°F
• Koefisien Clean Overall Heat Transfer (Uc) Uc =hio × ho
hio+ho (26)
=
808,1419533× 121,2422781808,1419533+121,2422781 = 105,4256874 Btu/hr.ft2.°F
• Koefisien Design Overall Heat Transfer (Ud) Ud = Q
A × LMTD (27)
=
7.936.641,504645,9350592× 125,2299459 = 98,11597268 Btu/hr.ft2.°F
• Fouling Factor/Dirt Factor (Rd) Rd = Uc − Ud
Uc × Ud (28)
=
105,4256874− 98,11597268105,4256874 × 98,11597268 = 0,0007 hr.ft2.°F/Btu
• Pressure drop (∆P) o Bagian Shell Side
∆Ps = f × Gs2 × IDs ×(N+1)
5,22 × 1010 × De × s × ∅s (29)
=
0,004 × (3462,547227)2 × 1,458333333 ×36,34722338 5,22 × 1010 × 0,0825 × 1,87 × 0,939773787 = 0,000335885 psio Bagian Tube Side
∆Pt = f × Gt2 × L ×n
5,22 ×1010 × D × s ×∅t. (30)
=
0,0002× (1275085,39)2 × 6,5×25,22 ×1010 × 0,0467 × 1 ×1,025853571 = 1,699087054 psi
• Pressure drop Return (∆Pr)
∆Pr = 4 × n
s × V2
2g′ (31) Untuk Gt = 1275085,39 lb/hr.ft2 maka didapat:
V2
2g′ = 0,9 psi (Grafik Tube-Side Return Pressure Drop)
∆Pr =4 × 2
1 × 0,9 = 7,2 psi
∆PT = ∆Pt + ∆Pr (32) = 1,699087054 psi + 7,2 psi = 8,899087054 psi
• Menentukan Batasan Operasi Kondensor
Batasan operasi desain kondensor ditentukan oleh laju kenaikan Rd dengan Q tugas yang diperlukan. Untuk menentukan batasan operasinya, diperlukan data heat transfer, heat duty, dan laju kenaikan Rd tiap bulan dari kondensor tersebut.
o Laju Kenaikan Rd Desain
Kondensor diasumsikan dilakukan cleaning setiap 12 bulan sekali, se- hingga:
Laju kenaikan Rd desain = 0,003
12 = 0,00025 Btu/hr.ft2.°F Uc aktual = 105,4256874 Btu/hr.ft2.°F
Rumus Mencari Ud = 1
𝑈𝑑 = 1
𝑈𝑐 + Rd (33)
1
𝑈𝑑 = 1
105,4256874 + 0,00025
Ud = 102,718398 Btu/hr.ft2.°F
417
o Heat Transfer
Q = Ud × A × ∆T (34) Q = 98,11597268 Btu/hr.ft2.°F × 645,9350592 ft2 × 125,2299459 °F
= 7.936.641,504 Btu/hr
Heat Transfer per bulan = 7.936.641,504 Btu/hr × 24 hr × 30 hari (35) = 5.714.381.883 Btu/bulan
o Heat Duty
Heat Duty = 4074920,96 Btu/hr
Heat Duty = 4074920,96 Btu/hr × 24 hr × 30 hari (36) = 2.933.943.091 Btu/bulan
Atas dasar tersebut dapat diperoleh kemampuan operasi kondensor berdasarkan hasil perhitungan kemampuan transfer panas kondensor E-1102 tiap bulan diprediksi akan berada dibawah kemampuan heat duty tugasnya pada bu- lan Oktober 2024 mendatang atau pada 42 bulan dari bulan mei 2021.
• Biaya Cleaning
Biaya cleaning kondensor sebesar Rp. 6.000.000 /cleaning.
Menghitung harga cleaning kondensor tiap waktu:
Cost Cleaning = Harga cleaning / n (37) Dimana :
n = Waktu (Bulan/Tahun)
Biaya cleaning pada periode 12 bulan = Rp. 500.000 Biaya cleaning pada periode 42 bulan = Rp. 1.791.667
Selisih Biaya cleaning = Rp. 1.791.667 – Rp. 500.000 (38) = Rp. 1.291.667
Setelah dihitung dan dibandingkan sebelum dan setelah optimasi, biaya cleaning yang dihemat dalam proses cleaning kondensor yaitu sebesar Rp.
1.291.667.
Dari hasil perhitungan, diketahui bahwa kemampuan operasi kondensor E- 1102 42 bulan dari sekarang sampai kemampuan kondensor turun dibawah Q tu- gasnya. Apabila kemampuan heat transfer sudah dibawah Q tugas dan fouling fac- tor melebihi batasan yang diizinkan, maka hasil perpindahan panas atau proses kondensasi kurang sempurna sehingga masih terdapat uap yang belum terkonden- sasi. Oleh karena itu, periode waktu optimal untuk melakukan cleaning adalah pada periode 42 bulan dari sekarang yang ditandai dengan penurunan transfer panas dan biaya cleaning yang dihemat pada kondensor. Sehingga kondensor E-1102 perlu dilakukan cleaning atau perawatan agar kinerja kondensor E-1102 kemampuan transfer panas dapat melebihi heat dutynya (Qtugas) dan dapat kembali ke kondisi semula dengan optimal.
4. SIMPULAN
Berdasarkan hasil perhitungan pada kondensor E-1102 dapat di simpulkan bahwa Nilai fouling factor (Rd) aktual hasil perhitungan sebesar 0,0007 hr.ft2.°F/Btu dan belum melampaui nilai fouling factor (Rd) yang diizinkan yaitu 0,003 hr.ft2.°F/Btu, sehingga kondensor E-1102 belum perlu dilakukan cleaning atau pembersihan. Nilai pressure drop aktual hasil perhitungan sebesar 0,000335885psi pada shell dan 1,699087054 psi pada tube, dimana pressure drop aktual yang didapatkan tidak melampaui nilai pressure drop yang diizinkan yaitu 10 psi, sehingga kondensor E-1102 masih dapat dioperasikan. Kon- densor E-1102 diprediksi akan mengalami penurunan kemampuan transfer panas hingga
418
dibawah heat duty (tugas) setelah 42 bulan operasi dari sekarang. Oleh karena itu periode waktu optimal untuk melakukan cleaning adalah pada periode 42 bulan dari sekarang.
5. DAFTAR PUSTAKA
[1] Bahman Zohuri. 2017. “ Compact Heat Exchangers : Selection,Application, Design and Evaluation”. Spinger Nature. Switzerland.
[2] Pringgodigdo.1973. “Ensiklopedia Umum”.Kanisius.Yogyakarta.
[3] Azharuddin,dkk.2013.”Rancang Bangun Alat Boiler Kondensor”.Teknik Mesin Politeknik Negeri Sriwijaya. Palembang.
[4] Anonim.2003.” Pemeliharaan Kondensor & Cooling Tower”. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.
[5] Renhard, dkk.2013.”Kondensor”.Universitas Riau. Riau.
[6] Prosesindustri.com.2015.”Kondensor dan Prinsip Kerjanya”. Diakses pada 20 Januari 2015, dari https://www.prosesindustri.com/2015/01/kondensor-dan-prinsip-kerjanya.html.
[7] Kern, DQ. 1950. “Process Heat Transfer”. International Edition. Mc Graw Hill Book Company. New York.
Daftar Simbol
Q = Jumlah panas yang dilepas atau diterima, Btu/hr W = Jumlah aliran massa fluida, lb/hr
Cp = Panas jenis fluida, Btu/lb.⁰F T = Temperatur fluida panas, ⁰F t = Temperatur fluida dingin, ⁰F
∆th = (T1 – t2) Beda temperatur awal fluida panas dengan temperatur akhir fluida dingin, ⁰F
∆tc = (T2 – t1) Beda temperatur akhir fluida dingin dengan temperatur akhir fluida panas, ⁰F
Fc = Faktor kalorik fluida panas, dingin IDs = Diameter dalam shell, in
C’ = (Pt – ODt) Jarak antar tube, in B = Jarak antar baffle, in
Pt = Jarak antara titik pusat tube ke tube, in As = Luas penampang aliran bagian shell, ft2 ODt = Diameter luar tube, in
Nt = Jumlah tube
a’t = Flow area per tube, in2
n = Jumlah pass pada bagian tube At = Luas penampang aliran bagian tube, ft2
Gs, Gt = Kecepatan aliran massa pada bagian shell, tube, lb/hr.ft2 Ws, Wt = Aliran massa pada bagian shell, tube, lb/hr
As, At = Luas penampang aliran bagian shell, tube, ft2 De, D = Diameter equivalent, Diameter dalam tube, ft
µ = Viskositas fluida pada bagian shell, tube pada temperatur Kalorik, lb/hr.ft
Res, Ret = Bilangan Reynold pada bagian shell, tube jH = Faktor Perpindahan Panas
k = Thermal Conductivity fluida dalam shell dan tube, BTU/hr.ft2.⁰F/ft µs,µt = Viskositas fluida pada temperatur kalorik dalam shell, tube, lb/hr.ft ho
φs
= Koefisien perpindahan panas di luar tube, BTU/hr.ft2.⁰F
Pr = Bilangan Prandtl ℎ𝑖
φt
= Koefisien perpindahan panas di tube side, BTU/hr.ft2.⁰F
tw = Temperatur dinding tube, ⁰F hio
φt
Koefisien perpindahan panas di dalam/luar tube, BTU/hr.ft2.⁰F
µw = Viskositas fluida di shell, tube side pada temperatur dinding tube, lb/hr.ft ho = Koefisien perpindahan panas dinding luar tube, BTU/hr.ft2.⁰F
hio = Film Coefficient Tube yang telah terkoreksi, BTU/hr.ft2.⁰F
419 Uc = Clean Overall Coeficient
Ud = Design Overall Coeficient
Rd = Dirt Factor
∆Ps = Penurunan tekanan pada bagian shell, psi
∆Pt = Penurunan tekanan pada bagian tube, psi
∆Pr = Penurunan tekanan aliran saat kembali, psi
∆PT = Penurunan tekanan total pada bagian tube, psi f = Faktor friksi zat, ft2/in2
s = Specific Gravity zat di dalam tube N = Jumlah baffle bagian shell L = Panjang tube, ft
φs, φt = Ratio Viscositas V = Kecepatan, fps
g = Percepatan gravitasi, ft2 /sec