• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian tinjauan pustaka peneliti menjabarkan penelitian terdahulu yang dilakukan peneliti sebelumnya. Selain itu, peneliti juga memaparkan teori dan konsep penelitian yang digunakan untuk menyelesaikan laporan penelitian yang dilakukan. Penelitian terdahulu menjadi sebuah rujukan dan juga referensi bagi peneliti dalam menyusun laporan penelitian. Penelitian terdahulu nantinya akan digunakan sebagai acuan penyelesaian permasalahan berdasarkan dengan teori dan konsep yang dipaparkan guna mengetahui pembeda penelitian baru yang dilakukan peneliti dengan penelitian sebelumnya. Dalam bab ini, peneliti juga memaparkan teori beserta konsep yang digunakan peneliti dalam penelitian yang dilakukan guna menyusun secara runtut dan terstruktur hasil penelitian yang dilakukan peneliti berdasarkan dengan teori yang dipilih serta konsep yang digunakan. Adapun beberapa penelitian terdahulu dan juga teori serta konsep yang digunakan peneliti pada penelitian ini, diantara lain:

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian pertama oleh (Koampa et al., 2019) yang berjudul “Evaluasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Desa Kanonang Lima Kecamatan Kawangkoan Barat”. Penelitian ini memiliki kesamaan dalam hal teori serta konsep yang digunakan. Namun perbedaan yang tertera jelas adalah pada hasil dan pembahasan yakni pada bagian efesiensi dan juga responsivitas. Penelitian ini menitikberatkan penelitiannya pada dampak dari kebijakan yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatid dengan pendekatan deskriptif. Dalam penelitian ini, pelaksanaan program bantuan stimulant perumahan swadaya di Desa Kanonag Lima Kecamatan Kawangkoan Barat memberikan hasil yang sesuai dengan harapan masyarakat dan mendapatkan respon yang positif dikarenakan dapat membantu masyarakat kurang mampu dalam membangun rumah yang layak nyaman dihuni. Jumlah dana yang diberikan pun sama rata yakni sebesar Rp.2.000.000 dalam bentuk tunai dan dalam bentuk bahan yang berkisaran Rp.15.000.000.

(2)

Namun dijumpai keterlambatan proses penyaluran bahan yang digunakan dalam perbaikan kualitas rumah.

Penelitian Kedua yang dilakukan oleh (Syahrani & Prakoso, 2020) mengenai “Evaluasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk Masyarakat Miskin di Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kartanegara”. Penelitian ini menjabarkan sebuah hasil penelitian melalui beberapa kacamata yang berbeda, baik dari segi kebijakan, teori, evaluasi teori, evalusi proses, maupun evalusi produk/hasil. Dalam hal ini, teori dan konsep yang dipakai juga berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan penulis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.

Penelitian ini menjelaskan bahwasanya Program Bantuan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk masyarakat miskin dalam segi perencanaannya sudah sangat baik dan sesuai dengan teori yang digambarkan mengenai kebutuhan masyarakat dalam konteks program bantuan stimulan perumahan swadaya.

Kemudian, dalam hal kebijakan juga sudah tepat sebagaimana pemerintah dalam menentukan opsi yang cocok dalam pengambilan keputusan menyesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Kendati, dalam teorinya masih banyak kekurangan yang ditemui pada proses pelaksanaan program ini yakni SDM yang kurang memadai, alat serta sarana prasarana dan juga anggarannya masih kurang dalam pelaksanaan program ini. Namun, program bantuan perumahan swadaya (BSPS) dalam pelakasanaanya tidak seperti teorinya dan jauh dari apa yang dibutuhkan serta diharapkan masyarakat.

Masyarakat kecewa terhadap proses pengerjaan yang molor dalam penyelesaian rumah mereka dan tidak sesuai dengan keinginan masyarakat yang menginginkan keseluruhan rumahnya direhabilitasi. Masyarakat menginginkan penambahan dana bantuan baik berupa bahan ataupun dalam bentuk bahan karena apa yang diberikan pemerintah masih belum mencukupi.

Penelitian ketiga oleh (Widayanti & Rosdiana, 2011) mengenai

“Evaluasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kelurahan Tamanan Kecamatan Tulungagung”. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini dilakukan

(3)

dengan menilai indicator evaluasi dengan teori yang digunakan penulis.

Berdasarkan indicator efektifitas, maka pelaksanaan program ini masih belum efektif dikarenakan masih banyak masyarakat yang belum menerima bantuan dan juga terdapat keluhan dari kelompok sasaran terkait dengan dana bantuan serta juga kualitas bahan material yang diberikan. Selain itu, selama 4 tahun program ini berjalan masih belum maksimal untuk mengurangi angka kemiskinan dikarenakan masih banyak masyarakat miskin dikelurahan Tamanan yang belum menerima bantuan di karenakan keterbatasan kouta yang ditentukan pemerintah. Kemudian, dari segi efesiensi sumber dana program BSPS ini berasal dari APBN. Namun, dana yang didapatkan belum bisa mengcover keselurahan jumlah perbaikan sehingga untuk biaya tukang masyarakat setempat membayar dengan uang pribadi. Dalam program ini, sdm yang bertugas sebagai tim pelaksana dan dibentuk tim panitia untuk mengkoordinir, mengawasi, melaksanakan, serta mengevaluasi program BSPS agar berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran. Tim pelaksana dalam hal ini telah berkoordinasi dengan membentuk tim panitia pembangunan di tiap RW Kelurahan Tamanan. Pada segi kecukupan, program ini masih belum maksimal dikarenakan keterbatasan dana yang dimiliki sehingga kelompok sasaran perlu menyiapkan uang pribadi untuk ongkos tukang dan beberapa keperluan lainnya. Pemerintah dalam hal ini hanya memberikan bantuan berupa bahan material. Kendati dalam realitanya, bahan material yang diberikan pun masih kurang dan belum bisa mengcover keseluruhan rumah.

Kemudian, pada indicator perataan kelompok sasaran mendapatkan bantuan tidak sama rata hal ini disesuaikan dengan kondisi rumah masing – masing penerima bantuan. Dalam program BSPS ini masih banyak masyarakat miskin yang belum menerima bantuan dikarenakan bantuan ini mendahulukan mereka yang memiliki tabungan. Berdasarkan indicator responsivitas mengarah kepada kepuasan kebutuhan mendapatkan tanggapan yang cukup baik. Respon masyarakat Kelurahan Tamanan bersifat positif dan diharapkan agar program ini dapat berjalan dengan tambahan dana bantuan. Meskipun terdapat keterbatasan dana, masyarakat tetap antusias terlihat melalui aksi gotong

(4)

royong masyarakat sekitar untuk membantu proses pembangunan sehingga program ini mampu meningkatkan keakraban, kekeluargaan, dan solidaritas yang tinggi antar masyarakat.

Penelitian Keempat oleh (Mamangkey et al., 2019) mengenai

“Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kecamatan Amurang Timur Kabupaten Minahasa Selatan”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya ini terbagi kedalam 2 kategori, yakni: pembangunan rumah baru dan juga peningkatan kualitas rumah. Unsur pelaksana program BSPS terbagi atas Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, KPA/Kepala Satker, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Penerima BSPS, Koordinator Fasilitator Wilayah (KORFASWIL), Koordinator Fasilitator Kabupaten/Kota (KORFAS KAB/KOTA), Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), Toko/Penyedia Bahan Bangunan, Bank/Pos Penyalur, Penyedia Barang/Penyedia Jasa Konstruksi. Dapat disimpulkan bahwasanya program BSPS sudah disalurkan di Desa Maliku dan Kelurahan Pondang. Namun dalam pelaksanaannya dapat dikatakan belum maksimal dan ditemui beberapa kendala di lapangan yakni berupa kurangnya swadaya dari masyarakat yang hanya bekerja sendiri – sendiri serta supplay toko bahan bangunan yang tidak sesuai dengan kesepakatan penerima bantuan dan fasilitator. Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program ini adalah masyarakat berpenghasilan rendah khususnya masyarakat di Desa Maliku dan Kelurahan Pondang. Adapun manfaat dari program ini yakni dapat membantu masyarakat mendapatkan rumah yang layak huni. Temuan dilapangan menunjukkan bahwa masih adanya keterlambatan pelaksanaan pembangunan dikarenakan kurangnya peran sebagai pengawas dan pengamat dari dinas setempat selaku penyelenggara program yang dilakukan sehingga tidak dapat mengantisipasi masalah yang terjadi dalam pelaksanaan program kebijakan.

Penelitian kelima oleh (Aceng Ulumudin et al., 2020) mengenai

“Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di

(5)

Kabupaten Garut”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menilai secara umum keseluruhan program kegiatan baik dari input, proses, output, outcome. Persamaannya adalah menilai keseluruhan program dan apa yang dihasilkan dari program tersebut. Sedangkan perbedaannya terletak pada penjelasan lebih detail mengenai kekurangan dan juga ketepatan program yang dijalankan. Penelitian ini menjelaskan bahwa melalui hasil pembahasan sumber daya pendukung kurang memadai baik dari segi nilai swadaya dan pemahaman tentang program oleh kelompok sasaran, juga bahan material pemabangunan yang tidak mudah didapatkan. Dalam segi proses program ini belum optimal terutama pada bagian sosialisasi kepada masyarakat sehingga masyarakat kurang mengetahui persoalan program tersebut sehingga program ini belum meningkat dari segi kualitas. Program ini juga belum merata ke setiap daerah dikarenakan kurangnya peranan pengurus setempat dalam program ini.

Program ini dari segi output dapat mengurangi jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Garut sedangkan dari segi outcome program BSPS sudah dirasakan manfaatnya oleh penerima bantuan meskipun masih belum maksimal.

Penelitian keenam oleh (Julianto, 2020) dengan judul “Partisipasi Masyarakat Dalam Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di Desa Koto Baru Kecamatan Koto Baru (2020)”. Penelitian ini secara garis besar memiliki latar belakang yang sama dengan fokus peneliti yang dilakukan oleh penulis, yakni sebuah program adopsi dari pemerintahan pusat.

Namun, terdapat perbedaan pada rumusan masalah yang diambil, tulisan pada penelitian ini mempertanyakan keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam program BSPS yang dijalankan. Kemudian, pada penelitian ini metode penelitian yang digunakan yakni pendekatan deskriptif kualitatif. Data diolah melalui 4 indicator, yakni: tahapan partisipasi, jenis partisipasi, tingkat partisipasi dan faktor yang mempengaruhi partisipasi yang ditampilkan melalui model triangulasi. Dijelaskan pada hasil penelitian bahwa, dalam proses pengambilan keputusan partipiasi masyarakat telah berjalan baik sebab

(6)

adanya komunikasi antara Pemerintah Desa dengan warga setempat yang terjalin baik. Kemudian, pada partisipasi dalam pelaksanaan dinilai kurang baik sebab masih terdapat warga yang tak ikut serta dalam proses pembangunan rumah, maupun sosialisasi pelaksanaan BSPS yang dilakukan oleh Pemerintah. Sedangkan, pada partisipasi pada pemnafaaatan hasil evaluasi dinilai cukup baik karena telah mennempati dan menjaga rumah yang telah dibangun. Kemudian, pada partisipasi keterlibatan masyarakat terdapat adanya ketidaksesuaian antara informan kunci dengan informan BSPS, sebab keduanya mengatakan hal yang berbeda. Dalam tingkat partisipasi terkait sosialisasi BSPS, masyarakat setempat dinilai baik sebab keikutsertaan dalam jumlah yang relative tinggi telah terwujud pada saat sosialisasi tersebut. Pada riset ini peneliti juga menjelaskan faktor pendorong dalam pelaksanaan BSPS adalah adanya program ini memiliki dampak yang langsung bisa dirasakan oleh penerima sehingga banyak disambut positif. Lalu, faktor penghambatnya yakni kurangnya swadaya dari Sebagian masyarakat penemrima BSPS sebab sulitnya membagi waktu dengan pekerjaan mereka, yang Sebagian besar adalah buruh tani.

Penelitian ketujuh berjudul “Evaluasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Pada Kelurahan Tanjung Unggat” ditulis oleh (Feliani et al., 2021). Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitan yang sedang ditulis oleh penulis, yakni mengambil fokus penelitian pada evaluasi Program BSPS. Latar belakang yang diambil ialah adanya ketidak beresan dalam proses pelaksanaan BSPS yang telah dilakukan, mulai dari waktu pengerjaan yang lama, hingga adanya ketidak tepatan sasaran penerima BSPS. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Pada hasil penelitian dijelaskan melalui evaluasi proses dan evaluasi produk. Pada evaluasi proses, terbagi menjadi 3 aspek, pertama pencairan anggaran yang telah dilakukan sesuai dengan regulasi yang ada yakni 30% pada tahap awal dan 70% pada tahap kedua. Aspek kedua, terkait waktu pelaksanaan yang berjalan sangat lama hingga ada temuan rumah yang dibangun sejak 2019 hingga tahun 2020 masih belum selesai. Aspek ketiga, terkait hambatan yang terjadi ialah

(7)

kurangnya sosialisasi yang tepat dalam proses pembangunan rumah BSPS dan kurangnya responsivitas pihak Dinas PUPR dalam melaksnakan proses pembangunan dilapangan. Lalu, pada evaluasi produk dijelaskan melalui tiga aspek yakni, pertama aspek bentuk bangunan. Ternyata hasil penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan bentuk pada masing-masing rumah penerima BSPS, sebab tidak ditentukannya ukuran dan standar yang jelas oleh pihak penyelenggara BSPS. Aspek kedua, perubahan yang terjadi setelah adanya program BSPS, diketahui bahwa rata-rata rumah masyarajat telah menggunakan Batako tetapi masih terdapat beberapa rumah yang menggunakan dinding kayu sebab pemilik rumah lebih memilih fokus pada pembangunan tiang penyangga rumah. Aspek ketiga ialah temuan setelah pelaksanaan program BSPS. Terdapat tiga temuan yakni, adanya rumah yang tak ditempati, adanya program rumah BSPS yang roboh serta terdapat rumah yang sudah menerima bantuan dan dilakukan perbaikan tapi tidak memajang logo yang diberikan oleh pemerintah.

Penelitian kedelapan, yang ditulis oleh (B & Sadriah, 2020) dengan judul “Pengaruh Efektivitas Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Terhadap Pengentasan Kemiskinan (Studi Kasus Pada Masyarakat di Kecamatan Banggae Kabupaten Majene)”. Penelitian ini memiliki perbedaan yang terlihat jelas yakni dalam aspek penilaiannya dikarenakan penelitian ini menggunakan perhitungan rumus sedangan penelitian yang dilakukan peneliti menggunakan teori dan konsep yang dibungkus kedalam sebuah tulisan.

Namun, kesamaan dalam penelitian ini adalah terkait program kebijakan yang dilihat pengaruh serta keefektivitasnnya. Dijelaskan bahwa penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui hubungan atara efektivitas program BSPS dan Pengentasan kesmiskinan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metide analisis regresi sederhana. Dijelaskan bahwa efektivitas program BSPS berpengaruh positif terhdap pengentasan kemiskinan yan ada. Semakin tinggi tingkat efektivitas program BSPS sejalan dengan semakin tingginya angka pengentasan kemiskinan. Hasil penelitian menggunakan regresi linear sederhana dijelaskan menggunakan rumus Y = α + βX dengan bantuan

(8)

aplikasi SPSS v.21 dengan perolehan data, konstanta sebesar 21,518, sedangkan koefisien regresi sebesar 0,288 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,002 (< 0,05) serta t Hitung sebesar 3,240 (> t Tabel sebesar 1,98969 dan nilai signifikansi berada pada angka 0,002 (< 0,05). Variabel efektivitas program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) berpengaruh langsung sebesar 11,5% terhadap variabel pengentasan kemiskinan.

Penelitian terdahulu kesembilan, berjudul “Implementasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di Jawa Timur” oleh (Sri Budi Rahayu, 2019). Penelitian dilakukan untuk mengetahui implementasi program BSPS yang dilakukan di Jawa Timur. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif di Unit Kerja Direktorat Rumah Swadaya Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR dan Kantor satuan Kerja Non Vertikal Tertentu, Penyediaan Perumahan Provinsi Jawa Timur. Program BSPS dilakukan sebagai upaya menuntaskan 3,4 juta Rumah Tidak Layak Huni yang ada di Indonesia. Ketentuan penerima BSPS ialah masyarakat berpenghasilan rendah yang dilakukan melalui mekanisme berjenjang dengan berpedoman kepada kriteria yang telah ditetapkan. Hasil seleksi awal calon penerima bantuan kemudian diverifikasi dan divalidasi secara administratif maupun teknis oleh Tenaga Fasilitator Lapangan dan Koordinator Wilayah untuk ditetapkan menjadi Penerima Bantuan BSPS oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Rumah Swadaya yang berkedudukan di SNVT Penyediaan Perumahan Provinsi. Dalam Upaya pemberdayaan MBR melalui Program BSPS, dilakukan dengan cara mewajibkan adanya swadaya dari para penerima bantuan BSPS. Swadaya ini dapat berwujud uang, material, tenaga, maupun makanan dan minuman untuk tukang selama proses pengerjaan rumah penerima BSPS. Faktor yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan program BSPS di lingkungan perkotaan adalah kecilnya kesanggupan swadaya dari penerima bantuan. Kecilnya swadaya ini disebabkan oleh kemampuan ekonomi penerima bantuan maupun pola pikir yang ada pada penerima bantuan selama ini yang menganggap bantuan dari Pemerintah itu akan menutup semua keperluan perbaikan/pembangunan

(9)

rumah seperti program bedah rumah sejenis yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta. Syarat adanya swadaya masih kerap kali dianggap sebagai sebuah pelanggaran terhadap regulasi teknis program BSPS. Di sinilah peranan kemampuan TFL untuk memberikan sosialisasi dan mendorong keswadayaan penerima bantuan benar-benar diuji. Pada pelaksanaannya program BSPS terbukti mampu memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah hal ini didorong oleh keswadayaan yang ada ditengah masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya tiga indikator diantaranya penentuan sasaran, pengikutsertaan/partisipasi dan pembentukan kelompok penerima program BSPS. Dampak lain yang didapati dari proram ini ialah adanya dampak lain yang dirasakan masyarakat yakni terbukanya lapangan kerja padat karya yang dapat diterima oleh masyarakat yang membantu dalam proses pengerjaan perumahan BSPS.

Terakhir, penelitian kesepuluh berjudul “Evaluasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya Di Desa Penaga Kecamatan Teluk Bintan Tahun 2019” ditulis oleh (Feliani et al., 2021) bahwa, program Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR mencanangkan program perbaikan rumah tidak layak huni yang diberi nama Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Program ini kemudian ditindaklanjuti oleh pihak Kab. Bintan dengan dikeluarkannya SE Nomor 07/Se/Dr/2018 Tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya. Sejak tahun 2016 hingga tahun 2019 mendapat bantuan program BSPS, hanya ditahun 2017 saja tidak menerima bantuan tersebut karena tidak mengajukan ke pihak Pemerintah Pusat. Dijelaskan bahwa program BSPS telah terlaksana dengan baik dimana bantuan yang disalurkan berupa material dengan jumlah anggaran yaitu 15.000.000 untuk material, dan unuk upah tukang 2.500.000. namun, dikatakan pula bahwa pembangunan rumah BSPS di Desa Penga tidak berjalan dengan baik sebab masih ada warga yang tidak mengerjakan rumah dengan prinsip swadaya, namun hanya dikerjakan secara individu. Selain itu, masih ditemukannya penerima bantuan yang tidak sesuai dengan kriteria dan waktu penyelesaian yang tidak tepat waktu salah satu penyebabnya proses

(10)

pengerjaan yang dilakukan tanpa bantuan masyarakat setempat. Pada kesimpulan dijelaskan bahwa, pada aspek efektifitas dikatakan telah efektif karena kualitas rumah yang terselesaikan telah baik dan juga penyaluran dana yang berupa material sehingga memperkecil potensi penyelahgunaan bantuan Ketika diwujudkan berupa uang. Aspek kedua, efisiensi, diatakakan belum efisien sebab lamanya proses pengerjaan yang dilakukan sehingga memperlama waktu dan memperbesar biaya. Ketiga, Aspek kecukupan yang dikatkan belum cukup, sebab banyak material yang masih mengalami kekrutangan. Keempat, pada aspek pemerataan telah baik artinya dari jenis bantuan, bentuk dan jumlah bantuan telah sesuai dengan penerima bnatuan yanga lain. Kelima, aspek responsivitas ditunjukkan dengan adanya pendampingan oleh tim TFL yang seringkali berkomunikasi dengan masyarakat dan penerima bantuan. Aspek keenam, ketepatan program telah dinyakatakan belum baik karena adanya sasaran yang tidak tepat.

B. Kebijakan Publik

Kebijakan publik merupakan kewenangan pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam hubungannya dengan masyarakar dan dunia usaha. Pada dasarnya kebijakan pemerintah dalam menata kehidupan masyarakat di berbagai aspek merupakan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan publik (masyarakat). Kebijakan adalah prinsip atau cara bertindak yang dipilih untuk mengarahkan pengambilan keputusan.

Dalam setiap penyusunan kebijakan publik diawali dengan perumusan masalah yang telah diidentifikasi kemudian pelaksanaan kebijakan guna mengatasi masalah yang terjadi dalam masyarakat, serta yang terakhir melakukan evaluasi terhadap keabijakan yang telah diimplementasikan.

Kebijakan publik merupakan kewenangan yang dimiliki pemerintah dalam menjalankan tugas dan juga fungsinya dalam hubungan bermasyarakat.

Berdasarkan banyak aspek kebijakan berorientasi pada kepentingan public (masyarakat). Kebijakan dapat diartikan sebagai sebuah prinsip ataupun cara bertindak yang diarahkan dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam

(11)

penyusunan suatu kebijakan terlebih dahulu dilakukan perumusan masalah yang telah diidentifikasikan. Kemudia, tahapan kedua ialah pelaksanaan kebijakan guna mengatasi permasalahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, serta yang terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang telah diimplementasikan.

Menurut (Hoogerwerf & Tobing, 1978) dalam “Over Heids Beleid”

diterjemahkan Ilmu Pemerintahan, kebijakan adalah suatu usaha untuk mencapai tujuan tetentu dalam kurun waktu dan sarana tertentu. Kebijakan adalah jawaban terhadap permasalahan yang ada, oleh sebab itu kebijakan adalah upaya untuk memecahkan, mengurangi, mencegah suatu permasalahan dengan cara tertentu dan Tindakan yang terarah. Dalam hal ini, untuk mengetahui isi kebijakan terlebih dahulu dilakukan penentuan antara hubungan dan masalah serta kebijakannya. Masalah dapat dirumuskan sebagai ketidaksesuai suatu ukuran yang berupa asas, norma, tujuan dengan gambaran keadaan yang sedang berlangsung ataupun akan terjadi. Dapat disimpulkan bahwasanya masalah adalah perbandingan ukuran yang dipakai dengan gambaran keadaan yang sedang berlangsung.

Menurut Carl Friedrich, kebijakan merupakan suatu tindakan yang diusulkan seseorang ataupun pemerintah dalam lingkungan tertentu guna mencari peluang untuk mencapai tujuan dalam mewujudkan sasaran yang diinginkan dengan mennghilangkan hambatan – hambatan yang ada.

(Abdoellah & Rusfiana, 2016). Menurut (Dye, 1978) dalam bukunya yang berjudul “Understanding Public Policy, 1987 menjelaskan bahwasanya kebijakan public merupakan segala hal yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan maupun tidak dilakukan. Dengan kata lain, kebijakan public tidak hanya berisi apapun yang dilakukan pemerintah tetapi juga berisi apa yang tidak dilakukan oleh pemerintah.

Kemudian, Menurut Easton kebijakan public berbicara mengenai the authoritative al-location of values for the whole society atau sebagai pengalokasian nilai-nilai secara paksa kepada seluruh lapisan masyarakat (Anggara & Soetari, 2014). Pressman dan Widavsky sebagaimana dikutip

(12)

(Winarno, 2004) menjelaskan bahwasanya kebijakan public merupakan hipotesis yang berisi tentang kondisi awal maupun akibat yang akan terjadi.

Robert Eyestone sebagaimana dikutip (Agustino, 2008) mendefinisikan kebijakan public adalah hubungan antar unit pemerintah dalam linngkungan.

Namun definisi tersebut masih terlalu umum untuk dimengerti karena kebijakan public mencakup lebih banyak hal lainnya dan jauh lebih luas daripada itu.

Menurut Nugroho, terdapat 2 karakteristik kebijakan public yakni sesuatu yang mudah untuk dipahami dikarenakan makna kebijakan public itu sendiri adalah hal yang dikerjakan guna mencapai tujuan nasional dan juga sesuatu yang mudah diukur. Ukuran dalam sebuah kebijakan pun sangat jelas karena hanya menilai sejauh mana kemajuan pencapaian cita – cita yang sudah ditempuh. Woll sebagaimana dikutip (Tangkilisan, 2003) menjelaskan bahwa kebijakan adalah sejumlah aktivitas pemerintah yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada ditengan masyarakat baik secara langsung maupun melalui lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Menurut M. Irfan Islamy dalam (Abdoellah & Rusfiana, 2016) bahwa dalam konsep demokrasi modern, kebijaksanaan negara tidak hanya mengandung cetusan pikiran ataupun pendapat para pejabat yang mewakili rakyat. Namun, opini public mempunyai porsi yang sama besarnya dalam suatu kebijakan public hal ini tercermin dalam kebijaksanaan negara. Dalam hal ini, pejabat public memeliki wewenang dalam menyusun dan juga merumuskan kebijaksanaan yang menyangkut kepentingan public tentu dengan mendengarkan pendapat dan juga saran dari masyarakat. Penyusunan dan perumusan kebijakan juga harus berdasarkan penetingan umum agar kebijakan tersebut dapat diterima dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Adapun beberapa elemen penting dalam kebijakan publik, yakni sebagai berikut :

1. Kebijakan publik dalam bentuk peraturannya mengandung tindakan- tindakan yang dilakukan pemerintah.

(13)

2. Kebijakan publik tidak cukup jika dinyatakan hanya sebagai wacana, tetapi herus dilaksanakan dalam bentuk yang nyata.

3. Kebijakan publik itu harus senantiasa ditujukan bagi kepentingan seluruh lapisan masyarakat.

4. Keterlibatan aktor-aktor yang berkaitan dalam perumusan kebijakan menjadi ciri khusus dari suatu kebijakan publik.

Kebijakan diformulasikan oleh penguasa sebagai mana yang dikatakan oleh (Easton, 1965) Dalam sistem politik, kebijakan diformulasikan oleh para sesepuh tertinggi suku, anggota-anggota eksekutif, legislatif, yudikatif, administrator, penasehat, raja, dan semacamnya. Orang – orang tersebut adalah orang yang terlibat dalam permasalahan yang terjadi dalam suatu sistem politik. Dalam hal ini, Sebagian besar anggota sistem politik mempunyai tanggungjawab untuk permasalahan yang ada dalam pengambilan keputusan terhadap tindakan - tindakan yang diterima secara mengikat dalam kurun waktu yang panjang oleh sebagian besar anggota sistem politik dengan batas-batas peran yang diharapkan (Winarno, 1989).

Dalam pandangan Easton dikutip dari Buku Pemahaman Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik oleh (Mustari, 2015), sebuah pengambilan keputusan dalam pembuatan kebijakan maka pemerintah dalam hal ini juga turut mengalokasikan nilai – nilai kepada masyarakat dikarenakan setiap kebijakan tentu berisi seperangkat nilai dengan pertimbangan yang matang didalamnya. Sependapat dengan David Easton, Harrold Laswell dan Abraham Kaplan bahwasanya kebijakan public berisi tujuan, nilai, dan juga praktik sosial yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Kebijakan public dalam hal ini tidak boleh berisi nilai – nilai yang bertentangan dengan nilai – nilai hidup kehidupan bermasyarakat, maka kebijakan public tersebut akan mendapatkan resistensi ketika diimplementasikan. Oleh karena itu, kebijakan harus mampu mengakomodasikan nilai – nilai dan juga praktik – praktik yang hidup dan berkembang dalam suatu masyarakat.

a. Tahap – Tahap dalam Proses Kebijakan Publik

(14)

Menurut (Abdoellah & Rusfiana, 2016) dalam bukunya yang berjudul Teori dan Analisis Kebijakan Publik menjelaskan bahwa proses kebijakan public ataupun pemerintah melalui beberapa tahapan yang tidak instan dan perlu pertimbangan yang matang baik dalam hal perumusan, pengimplementasian, ataupun pengevaluasian dan juga penilaian kebijakan public. Dalam hal ini, perumusan kebijakan harus melalui tahapan penyusunan agenda terlebih dahulu, kemudian tahapan perumusan kebijakan, setelah itu tahapan adopsi kebijakan dan yang terakhir adalah tahapan pengimplementasian kebijakan.

1) Tahap Penyusunan Agenda (Agenda Setting)

Dalam melakukan perumusan kebijakan maka terlebih dahulu dilakukan penetapan agenda kebijakan guna menentukan permasalahan apa saja yang akan dipecahkan. Permasalahan yang terjadi akan ditemukan melalui proses problem structuring. Dalam hal ini, isu kebijakan dapat berkembang menjadi agenda kebijakan dengan beberapa syarat, sebagai berikut:

a) Memiliki efek yang besar terhadap kepentingan

b) Membuat analog dengan cara memancing dengan kebijakan public yang pernah dilakukan

c) Isu tersebut mampu dikaitkan dengan simbol-simbol nasional maupun politik yang ada

d) Terjadinya kegagalan pasar

e) Tersedianya teknologi dan dana untuk menyelesaikan masalah public

Keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah memerlukan penemuan solusi yang tepat terhadap permasalahan yang tepat juga dengan artian solusi yang ada cocok dengan permasalah yang ada sehingga bisa teratasi dengan baik. Kita sering gagal karena memecahkan suatu masalah yang salah daripada menemukan solusi yang salah terhadap masalah yang tepat. Jadi masalah – masalah kebijakan adalah kebutuhan, nilai – nilai, atau kesempatan –

(15)

kesampatan yang tidak terealisir tetapi yang dicapai melalui tindakan public yang nyata.

2) Tahap Adopsi Kebijakan

Penyusunan agenda (Agenda Setting) dilakukan untuk mempersiapkan dan memberi masukan dalam perumusan kebijakan (policy formulation), maka adopsi kebijakan (policy adoption) merupakan tahapan dalam menentukan pilihan kebijakan melalui dukungan para pelaku yang terlibat (stakeholder) dalam kebijakan yang akan dicetuskan. Tahapan ini dilakukan setelah melalui proses rekomendasi langkah – langkah sebagai berikut:

a) Mengindentifikasikan beberapa alternatif kebijakan pemerintah yang ada dalam rangka merealisasikan masa depan yang diharapkan sebagai suatu langkah terbaik dalam upaya mencapai tujuan tertentu untuk kemajuan masyarakat luas.

b) Mengindentifikasikan kriteria-kriteria tertentu dan terpilih untuk menilai alternatif yang akan direkomendasikan.

c) Mengevaluasi alternatf – alternatif tersebut dengan menggunakan kriteria – kriteria yang relavan agar dampak positif alternatif kebijakan lebih besar daripada dampak negatif yang akan terjadi.

Tahapan adopsi kebijakan kemudian akan direkomendasikan dalam implementasi suatu kebijakan. Oleh karena itu, tahapan penyusunan agenda dan tahapan adopsi kebijakan diintegrasikan ke dalam tahap – tahap perumusan kebijakan dan implementasi kebijakan karana memiliki kolerasi antara satu dengan yang lainnya dan saling berkaitan. Berdasarkan paparan tersebut, tahap – tahap kebijakan public digambarkan sebagai berikut:

(16)

Gambar 2.1 Tahap – Tahap Proses Kebijakan Publik Sumber: Buku “Teori dan Analisis Kebijakan”

3) Perumusan Kebijakan Publik

Perumusan kebijakan adalah keseluruhan pengartikulasian dan pendefinisian masalah. Perumusan dalam hal ini menyangkut kemungkinan – kemungkinan pemecahan masalah sebagai bentuk tuntutan – tuntutan politik sebagai pengupayaan pemberian sanksi – sanksi atau legitimasi dari arah tindakan yang dipilih, serta pengesahan dan pelaksanaan, monitoring dan peninjauan kembali.

Kebijakan pemerintah harus benar – benar dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Oleh karena itu, proses pembuatan dan perumusan kebijakan pemerintah harus melibatkan interaksi antara kelompok – kelompok ilmuwan, pemimpin organisasi, para administrator dan para politisi.

4) Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan kegiatan yang dilakukan setelah kebijakan itu dirumuskan. Menurut Sayid Zainal Abidi dalam (Abdoellah & Rusfiana, 2016) bahwasanya kondisi kebijakan adalah faktor yang paling menentukan dalam proses implementasi kebijakan.

Dalam hal ini, berhasil atau tidaknya suatu kebijakan ditentukan dalam 2 hal, yakni kualitas kebijakan dan ketepatan strategi pelaksana. Kebijakan yang tidak berkualitas tidak akan bermanfaat

(17)

untuk dilaksanakan sedangkan strategi pelaksanaan yang tidak tepat seringkali tidak memperoleh dukungan dari publik. Oleh karena itu, 2 hal ini saling berkaitan dan ketergantungan agar suatu kebijakan dapat terimplementasi dengan baik.

C. Evaluasi Kebijakan Publik

Evaluasi merupakan kegiatan yang bertujuan dalam menilai manfaat suatu kebijakan. Proses evaluasi dilaksanakan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dapat dibuktikan secara objektif tingkat keberhasilannya, serta manfaat dan efesiensi dalam pelaksanaanya. Menurut (Dunn, 1999) menghasilkan sebuah informasi yang bersifat penilaian dalam memenuhi kebutuhan, peluang atau memecahkan suatu permasalahan yang ada.

Thomas R Dye sebagaimana dikutip (Islamy, 1986) mendefinisikan kebijakan publik sebagai “is whatever government choose to do or not to do”

(apapaun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan).

Definisi ini menekankan bahwa kebijakan publik sebagai sebuah perwujudan atas tindakan dan bukan merupakan pernyataan keinginan pemerintah atau pejabat publik semata. Dalam hal ini, pemerintah memiliki hak untuk memilih dalam melakukan ataupun tidak melakukan sesuatu tergantung dengan kebutuhan dan juga situasi yang sedang berlangsung.

Evaluasi kebijakan merupakan suatu kegiatan yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kinerja dari kebijakan dan program yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Adanya evaluasi kebijakan dilakukan guna mengukur keberhasilan suatu kebijakan beserta kekurangan dalam kebijakan tersebut sebagai acuan untuk memperbaiki kebijakan agar tepat dan sesuai kebutuhan masyarakat serta tidak mengulang kesalahan ataupun kecacatan dalam produk kebijakan yang terlaksana. Adapun 6 indikator penilaiaan evaluasi kebijakan menurut menurut (Dunn, 1999), diantaranya:

1) Efektifitas dan Efesiensi

(18)

Efektifitas dalam hal ini berupa keberhasilan atas tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Efektifitas selalu berkaitan dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai serta mencapai target yang telah ditetapakan. Sedangkan efesiensi berkenaan dengan seberapa banyak usaha yang diperlukan guna mencapai hasil yang diinginkan serta bersangkutan dengan dana dan juga waktu yang dihabiskan dalam proses pelaksanaan program kebijakan sesuai dengan yang ditetapkan dan cukup dalam pelaksanaannya.

2) Kecukupan dan Pemerataan

Kecukupan dalam kebijakan publik dapat dikatakan sebagai tujuan yang telah dicapai sudah dirasakan mencukupi dalam berbagai hal.

Kecukupan masih berhubungan dengan efektivitas guna mengukur atau memprediksi seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi sehingga masyarakat merasa puas atas produk kebijakan yang telah diterapkan. Kemudian, pemerataan berkaitan dengan program yang dilaksanakan apakah dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali. Pemerataan dalam kebijakan publik mempunyai arti yang berkaitan dengan keadilan yang diberikan dan diperoleh sasaran kebijakan public adalah sama rata dan tidak ditemui perbedaan dalam pelaksanaannya.

3) Responsivitas dan Ketepatan

Responsivitas dalam kebijakan publik dapat diartikan sebagai tanggapan sasaran kebijakan publik atas penerapan suatu kebijakan.

Responsivitas berkenaan dengan seberapa jauh kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Dalam hal ini, resposivitas menyangkut kepentingan masyarakat yang telah terpenuhi dan dapat memuaskan mereka.

Sedangkan ketepatan berkaitan dengan keberhasilan suatu kebijakan yang dilihat dari tujuan kebijakan yang benar-benar tercapai, berguna dan bernilai pada kelompok sasaran serta mempunyai dampak perubahan

(19)

sesuai dengan misi kebijakan tersebut. Dalam hal ini, ketepatan berkaitan dengan produk kebijakan ini sudah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dan menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

D. Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

Dalam penelitian ini focus peneliti kepada Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kabupaten Tabalong. Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya merupakan program pengentasan kemiskinan berbasis social ekonomi dimana sasaran program tersebut kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) guna mendorong dan meningkatkan keswadayaan dalam peningkatan kualitas rumah dan pembangunan baru rumah beserta PSU. Kategori masyarakat berpengasilan rendah dalam hal ini adalah masyarakat yang berpenghasilan dibawah UMP Provinsinya masing – masing. Program BSPS ini merupakan program Pemerintah Pusat yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR dan diatur dalam Undang – Undang No. 1 tahun 2011 (Peraturan Pemerintah RI, 2011).

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya ini mulai diterapkan di Kabupaten Tabalong sejak 4 tahun lalu yakni di tahun 2018 yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 23 tahun 2020 tentang Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (Peraturan Bupati, 2020). Program ini berupaya menyediakan rumah layak nyaman di huni bagi masyarakat yang berpenghasilan dibawah UMP Provinsi yakni sebesar Rp 2.877.448 dengan beberapa ketentuan dan kriteria dalam penerimaan bantuannya. Adapun beberapa tahapan penyelenggaraan Program BSPS, diantaranya pengusulan dan penetapan lokasi, penyiapan masyarakat, penetapan calon penerima bantuan, pencairan penyaluran dan pemanfaatan, pengadaan dan penyerahan, terakhir pelaporan.

Pelaksanaan program bantuan stimulant perumahan swadaya merupakan program yang didesain untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan memberikan kemudahan pembangunan dan perolehan rumah guna mewujudkan rumah layak huni perlu di dukung dengan prasarana, sarana, utilitas umum yang serasi, teratur, terencana,

(20)

dan berkelanjutan sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 7/PRT/M/2018 tentang pedoman pelaksanaan BSPS (Peraturan Menteri, 2018). Penyelenggaraan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya melalui 6 tahapan, yakni:

1) Pengusulan dan Penetapan Lokasi

Dalam pengusulan dan penetapan lokasi akan di usulkan desa atau kelurahan mana yang akan diprioritaskan untuk menerima bantuan BSPS serta jumlah RTLH yang akan menerima bantuan di tiap desa/kelurahan.

2) Penyiapan Masyarakat

Penyiapan masyarakat diadakan di lokasi BSPS oleh pendamping dan tenaga fasilitator lapangan, dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan, dan pengembangan.

3) Penetapan Calon Penerima Bantuan

Dalam tahapan ini Pejabat Pembuat Kebijakan (PPK) memeriksa proposal yang diajukan oleh Calon Penerima BSPS. Kemudian hasil pemeriksaan terhadap proposal yang memenuhi kriteria calon penerima akan ditetapkan sebagai penerima dan akan disahkan oleh Satgas Kerja.

4) Pencairan Penyaluran dan Pemanfaatan

Pencairan dilakukan oleh satgas kerja melalui bank ke rekening penerima yang akan digunakan dalam perbaikan kualitas rumah penerima bantuan untuk dilakukan perbaikan.

5) Pelaporan

Pelaporan dilakukan guna meminimalisir segala hambatan dan juga masalah yang terjadi di lapangan jadi dalam hal ini pelaporan wajib dilakukan dari penerima BSPS, Bank/ Pos Penyalur, Tenaga Fasilitator Lapangan, Koordinator Fasilitator, Pejabat Pembuat Komitmen, dan Kepala Satker sesuai dengan tupoksinya masing – masing.

Referensi

Dokumen terkait

Saat sistem kerja alat dijalankan,Sensor kelembaban tanah akan mendeteksi kondisi tanah, jika kondisi tanah kering kelembabannya dibawa 300 ph maka drive relay

,entuk !ereaksi Grignard melalui reaksi &#34;alida alkil atau Aril dengan magnesium logam Reaksi dilakukan dengan menambahkan &#34;alida organik ke sus!ensi dari magnesium

Perlindungan hukum bagi wajib pajak tidak hanya melalui upaya-upaya hukum melalui peradilan tetapi juga upaya-upaya administratif di luar peradilan. Upaya

Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan serta informasi dan sebagai alat studi banding untuk penelaahan lebih lanjut

Hasil penelitian menyimpulkan jawaban terkait pertimbangan, dasar hokum dan tinjauan hukum islam dalam legislasi wali anak hasil kawin hamil adalah (1)

Parameter yang digunakan dalam analisis kerentanan airtanah terhadap pencemaran yaitu jenis akuifer, jenis litologi akuitar, dan kedalaman muka airtanah

Berdasarkan alasan pemilihan tempat pelayanan imunisasi di puskesmas Sikumana didapatkan hasil sejumlah 41% responden memberikan alasan bahwa mereka tidak mengetahui