-
Otonomi Kulnral Selrolah: Studi Kays Pado SD Negeri di Bandung
OTONOMI KULTURAL SEKOLAH:
STUDI KASUS PADA
SDNEGERI DI BANDUNG
Oleh:
Oong
Komar
Universrtas Pendidikan Indonesia- Banduns
Abstract
The purpose o./'this studt is to describe the elementan, school
c'ullure
aulonont.t).Thrs ls a qualttattve research.
I'heinformation is callected bl
obsenotion.
inlen'iev, questtonnoire. and doc'umentotton. and then anqlt,zed through .findrng.fbrmulation \tage.
ntenrber c'heck.and
experts'.leedbac'k.
lt
va,s .fountl that school c'ulture outon()m.t' orouse personnel potenc\to
tmprore the routrne.
bonng. ctbse.sstye,and
lessproducute
behat'torconlrnouslt. ln
oddttron utncreosed
crttrcal
clmtate.such as
personnelbehavor
m occeptttg hn supen'tsor or bureoucro/ tnstructron ancl rn.focing pupilparents' demand.Ket u'ords: outononl', culture autonomt. elementan school.
Pendahuluan
Secara geografis
letak
sebaran gedungSD Negeri di
suatu kota. khususnya kota Bandung tidak beraturan. Sudut kota yang satumemiliki lebih
banvak gedung SDNegeri
daripada sudut kota larnDari
kenvataanitu dapat dikatakan bahwa banyak atau
sedikit gedung SDNegeri di
suatu sudutkota
yang erat kaitannya dengan kepadatan penduduk usia sekolah.Makin
padat penduduk suatu kotadimungkinkan
banyakanak
usia sekolah disana sehingga semakin realistikdidirikan
gedung SD Negeri,iu
I r.l
:
t,
n
Jurnal Keperrdidikon, Nomor
t,
Talrun XXflIt. Mei 2004Gedung
sD
Negeri yangdidirikan
berdasarkan pertimbangankepadatan penduduk usia sekolah memiliki keunikan
yuitu,(a)
gedung sekolah terletak pada lahan yang sempit,(b)
berlokasi di tengah-tengahpemukiman penduduk, (c) ringkungan
sekitarnyatidak kondusif untuk
suasanabelajar, (d) ietiap
pengembang perumahan baru selalu dilengkapi fasilitas umum sekolah, meskipun disekitar perumahan itu terdapat sekolah.Dalam
perkembangan selanjutnya, dapat disaksikan bahwa sejumlah masyarakavorang tuamemilih
sekolah untuk anak-anaknya mengikuti
hukum permintaan-penawaran
(s upp I y -d e mand). Sekolah dengankondisi
menawarkanmutu
menunjukantingkat
animo vang tinggr daripada sekolah dengan kondisi tanpa mutu_Akibat pilihan
sekolahyang
bermututerjadi migrasi
siswa dari sudut kota ke sudut kota yanglain.
Ironis teaadipadi
suatu SDNegeri yang lokasinya
ditengah-tengahpemukiman dan
yangdibangun pengembang perumahan
justru
kekurangananimo
siswabaru. untuk
sekolah bermutu, meskipun menuntut tambahan biaya daripada sekolah pada umumnya, tetap saja diserbu siswa baru dan bahkan banyak yang tidak tertampung.Berbicara
masalah pengembanganmutu berart
memasukisubstansi desentralisasi atau otonomi. Bagaimanakah
prosesmanajemen yang dilakukan hingga menjadi sekolah
bermutu?.secara teoritik sebenarnya pengelolaan sekolah itu
telah melaksanakan prinsip desentrarisasi. Meskipun personil dari sekolah yang dicitrakan masyarakat sebagai sekolali bermutu, pada awalnyatidak menyadari.
Personilitu
hanya sadar bahwaia
melaksanakan kegiatandi
sekolah disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.Penelitian
ini
memotret bagaimana p.oses perkembangansD
legen hingga dicitrakan
masyarakat sebagaisbN bermutu
ataufavorit,
SD Negeri biasa,e}lD
Negeridi
pinggrrtotu,
urput -aspekapa yang mesti dipotret dalam penelitian, kiranya
beriandaskan kepada rujukan pustaka.43
Otonomi Kulturol Sekolah: Studi Kaws Pada SD Negeri di Bandung
Keberhasilan dalam bekerja
diantaranyadipengaruhi
olehiklim organisasi yang mampu menciptakan kreativitas
personil.Konsep tersebut menggabungkan variasi keterlibatan
faktormotivasi, pemeliharaan rasa
kepuasanbekerja, dan
mengubatr/memperbaiki suatu iklim
pekerjaan denganberbagai
kesempatankarier, kreatifitas, dan tanggung jawab. Kossen, Stan
(1983)mengilustrasikan konsep itu sebagai
berikut
Dorongan tingkatkan kerja lebih cepat pada
pekerjaan
Turunkan tanggung -tawab
dan atas
II
\'latdesarn
Tarik kembali kernbalielemen
tugas terakhirpekerlaan
t
jTurunkan pekeqaan pada posisi kiasifikasi
lebih rendah
Gambar 1
Pemerkayaan Kerja dengan Pemuatan
Vertikal
dan HorizontalBahwa
organisasikerja perlu
membangun suatu hubungan yang kokoh, baik hubungan dalam jabatan struktural dan fungsional, maupun hubungan yang bersifat antar pribadi.Iklim
organisasi harusdibangun
secaramusyawarah mufakat, partisipasi personil,
dantanggung jawab kolektif. Hubungan tersebut jangan
sampai berbentuk instrumental dan kepentinganpribadi/golongan
(interes-J
)h il
)r t n
l
Jurnal Kependidikan, Nomor
I,
Tahun XXfllr, Mei 2001ted group). Hubungan instrumental dapat merugikan
kerancaran peke{aan, bahkan menjadi over produktif.Hakekat kebutuhan
pribadi
dapat mempengaruhi kelancaran organisasi.Personil
cenderungmengikuti arah dan tuntutan
yangdigariskan
organisasi.Karena itu, organisasi harus
menciptakaniklim kondusif yang mempengaruhi personil, yaitu
bagainrana personil bekerjadi
bawah pengaruhiklim
yang dibangun organisasi.The quality of work life
mengacu kepada bagaimana efektivitas lingkungan pekeqaan yang memenuhi keperluanpribadi
pengadaanalat dan perlengkapan pun mempengaruhi produktivitas ke{a.
Hindari sifat monoton dan rutinisme dalam beke{a yang
meng- akibatkan kejenuhan,obsesifdan
kurangproduktif
Upaya tersebutdiatas banyak
diimplementasikanjuga di lingkungan
pendidikan.Khususnya upaya desentralisasi/otonomi pendidikan
Pemikiran
desentralisasi pendidikanyang
berkembang saatini
terutamadalam rangka
mengupayakan peningkatan kreatifitaspara personil pendidikan guna meningkatkan mutu
pendidikan.Pemikiran
itu
sebagaikoreksi
atas desentralisasidi
masalalu
yang bersifat dekonsentrasi, yaitu kebijakan perencanzum dan pelaks ;rra"r,diatur di pusat,
sedangkandaerah hanya membantu
kelancaran implementasinya.Demikian
pula dengan kebijakankurikulum
yangdisiapkan di pusat,
sedangkanimplementasinya diserahkan k;
daerah. Pusat
menetapkankebijakan formasi lowongan
tenagakependidikan,
sedangkan penugasandalam jabatan oitatuun
ai daerah.Desentralisasi
yang
berasas dekonsentrasidiisukan
kurang responsive terhadap masalahdan
antisipasi maupun tantangannya.Desentralisasi
ini disorot masih
sebagai manajemen sentralistik.Manajemen
pendidikan seperti ini pun
mengandung kelemahan,baik
kelemahan yang melekat pada sistemitu,
maupunpndangan
Ototnmi Kulnral Selalah: Studi Kostrs Pada SD Negen di Ban&mg
terhadap
sistem ini yang kurang
demokratis.Karena itu,
kiranyaperlu pemikiran lain dalam
manajemen desentralisasi pendidikan,paling tidak,
suatu manajemen pendidikanyang
mengandung isupokok
bahwa apa yang seharusnya ditangani oleh pemerintah pusat dan apa yang dapat diserahkan kepada daerah. Diantara pemikiranitu,
terfokus kepada model otonomi atau desentralisasi sekolah yangmenitik
beratkan pada pengembangankreatifitas personil
sekolah dalam upaya peningkatanmutu
pendidikan serta yang terbebas dari petunjuk, arahan, dan tekanan birolrrasi pendidikan.Cara Penelitian
Tujuan penelitian ini
adalahuntuk
memperoleh gambarankontekstual otonomi kultural sekolah
dasaryang dicitrakan
oleh masyarakat sebagaiSDN favorite, SDN
biasa danSDN di pinggir
kota. Khusus dalam penelitian ini difokuskan untuk
menjawab pertanyaan(a). sgjauh
rnanatingkat integritas kelompok
tenagakependidikan di
sekolah?,(b) sejauh
manakahtingkat
tanggungjawab profesional
tenaga kependidikan disekolah?,dan (c)
sejauh manakah tingkat unjuk kerja tenaga kependidikandi
sekolah?.Prosedur
dan analisis yang
digunakanuntuk penelitian ini
adalah pendekatan metode penelitiankualitatif.
Pertama, melakukan kegiatan membangun kesepakatan denganobjek penelitian,
mela- kukan orientasi, eksplorasi, dan member check. Kedua, merumuskan narasi temuanpenelitian
secara bertahapdan bersifat tentatif
dari deskripsi hasitr wawancara, angket, observasi dan studi dokumentasi.Ketiga, melaksanakan
audit trail
danfeedback
dengan cara diskusibaik dengan sumber data, maupun pakar. Informasi
diperolehmelalui pedoman observasi, wawancara, angket, dan
sfudidokumentasi. Hasil akhir temuan setelah dilakukan
penrmusanmla
kan, isu usat tran ang rlah
lan
Junnl Kependidikan, Nomor
l,
Talrun XXXII, Mei 2001temuarL member check dan umpan
balik
dari sumberdata dan pakar.Yang menjadi variabel penelitian
ini
adalah(a)
integritas kelompok,(b)
tanggung jawab profesional, dan(c)
unjuk kertja ketiga variabel tersebutdiukur
menggunakan indikator seperti dibawah ini.Pertiama, integritas kelompok mencakup keterlibatan personil
sekolah baik yang bersifat sosial budaya, maupun
kemandirian mereka pada intensitas kegratan pengembanganKKG, KKS, KKps,
dan PKG. Intensitas keterlibatan
diukur
melaluijumlah inisiatif
dankeativitas
personil yang mengarah kepada pengembangan pengen- dalian mutu terpadu(PMT)
dan gugus kendali mutu(GKM).
Kedua, tanggung
jawab
profesional mencakup pemahamanpersonil mengenai potensi dan sumber yang menjadi
masalah, peluang dan tantanganyang
beradadi
sekolah dan sekelilingnya.Tanggung
jawab personil diukur melarui serf concept
dan akun-tabilitas
profesional berkenaan dengan kepekaan, sikap kepedulian, motivasi dan solusi terhadap peluang dan tantangan yang dihadapi.Ketiga- uryuk kerja meliputi peke{aan yang
dilakukanpersonil dalam
meresponinstruksi
atasan, adaptasi terhadapiklim sekolah dan hasil dalam
menyelesaikanpeke{
aawrya.Har
yangdiukur mencakup
penyusunandisain instruksional,
penggunaanmetode mengajar, interaksi dengan siswa,
penguasaan materi,pemilihan
sumber,umpan barik, dan bimbingan
perbedaanindi-
vidual.HaSil
Penelitian
dan pembahasanran leh
31r ab ga ng uh
TI
ln
7- I]:
rt l
ii
h li
n
Otonomi Kulnral Sekolah: Studi Karus Pado SD Negeri di Bandung
Gambaran fenomena data penelitian"
baik
pada setiapjenis
satuan SD
Negeri (favorit,
biasa, pinggiran), maupun pada masing- masing perbedaan pengalaman kerja (kurangdari
10 tahun, 10 tahun lebih), usia (kurang dari30
tahun, 30 tahun lebih), dan jenis kelamin( laki
-laki,
perempuan) menunj ukan informasi sebagai berikut:1.
Integritas KelompokKegiatan yang mengarah kepada fenomena integritas kelompok sebagai berikut .
-
Peningkatanintensitas kehadiran dalam
pertemuanKKG, KKKS,
KKPS, dan PKG.- Berinisiatif menginformasikan hasil pertemuan
kepada kawan-kawannya- Berinisiatif
mengganti tugas kawan yang berhalangan- Berinisiatif mengulurkan tangan
sebagaitanda
solidaritas bagi kawannya yang tertimpa musibah- Berinisiatif
melalrukantukar pendapt antar kawan
untuk menj abarkan/merealisir penugasan.- Berinisiatif mendaptkan informasi mengenai
kebijakan pendidikan melalui media flrasa.- Berinisiatif
mengusulkanperbaikan dan
peningkatan mutu pendidikan berinisiatif menyikapi penugasan.- Berinisiatif
menjadi anggotzorganisasi profesi yang sesuai-2.
Tanggung jawab profesionalKegiatan yang mengarah pada fenomena tanggung
jawabprofesional
sebagai berikut.,d'
:ruS n_q-
!un nln
|C)k
G.
da
Jumol Kependrdikan, Nomor
I,
Tahun XWV, Mei 200+-
Penilaian terhadapkondisi
lingkungansekitar
sekolah yang mengandung potensiuntuk
dikembangkan guna meningkat_kan mufu.
-
Menyusun rencana pemanfaatan potensi lingkungan sekolah bersama kawan-kawan.-
Melakukan upaya sinergis dengan pihak terkait dalam.rangkarneningkatkan upaya pemanfaatan potensi
lingkungan sekolah.-
Membuat program pengembanganlebih lanjut
untuk peman_faatan potensi Iingkungan sekolah.
3. Unjuk ke{a
Kgelatan yang
mengarah fenomenaunjuk kerja yang
bermutu sebagai berikut:- Meningkatkan ketelitian,
kecerrnatan,kuritas, waktu
dan kecermatan dalam melaksanakan peke{aan.-
Melakukandiskusi
antar kawangma
memecahkan masalah yang dihadapi dalam peke{aan.-
Berkonsultasi dengan atasan langsunguntuk
menanggulangi kesulitan pekerjaan- Berinisiatif meningkatkan
kompetensibaik melalui
bahan pustaka maupun melanjutkan sekolah.Bertolak dari data /informasi yang diperoleh dari
lapangan sebagaimana uraian diatas, nampakdiperlukan inisiatif
keberanianpersonil melakukan
perubahanke arah
peningkatanmutu
pendi-dikan.
Selamaini
kondisi kehidupanke{a
mono:tor/rutin yang.dapat mengakibatkankejenuhan, pemikiran obsesif, dan
beikurangnyaproduktifitas harus {iubah dengan beberapa cara yang puir,
dipertimbangkanuntuk
mengubah ringkungankerja klarih
yang*
u
I
Otonomi Kultural Sekolah: Sudi Kasas Pada SD Negeri di Bandung
bermutu. Menurut
Kossen,Stan (1983),
cara-cara mengubahnya sebagai berikut:1.
PemerkayaanPemerkayaan
pada dasarnya adalah usaha mengubah
dan memperbaikimutu iklim
peke{aan dengan memotivasi peke4amelalui
penyerahan tanggungjawab
yanglebih besar.
Contoh, memperkenankan sekretaris menandatanganisuratnya
sendiri yang keluar dan bertanggungjawabisi
dan mutunya.2.
Penuh muatanPenuh muatan pada
dasarnyaadalah usaha mengubah
danmomperbaiki iklim pekerjaan dengan
medelegasikan tugaspekerlaan untuk
dipertanggungawabkansendiri, baik
dalammemutuskan maupun mengontrolnya.
3.
Penciptaan kerja menyeluruhPenciptaan kerja menyeluruh pada dasarnya adalah
usaha mengubahdan memperbaiki iklim peke{aan
dengan proses penambahan kompleksitas pekerjaanmelalui
penciptaan ling-kungan ke{a yang melibatkan secaxa aktif pada
prosesperencaruuln, pelaksanaan, dan penilaian hasilnya.
4. Menggilirkan
pekerjaanMenggilirkan
pekerjaan pada dasamya adalah upaya mengubah dan memperbaikiiklim
pekerjaan dengan melakukan kegiatan menggerakan karyawan secara bergantian/giliran kedalam peker- jaan yang berbeda-beda untuk waktu yang sama.5.
MenghilangkankejenuhanMenghilangkan kejenuhan adalah upaya mengubah dan
memperbaiki iklim pekerjaan dengan memberi
sanjungan,pujian, dan
penghargaanberupa pengakuan,
penghargaan, bonus, dan lain-lain.ibahn-va
rit
dan rekerla- ontoh.
sendiri
:h
dan tugas dalamlsaha lroses lrng- lroses
r.ibah r atan eiier-
qdllt^-
riqll_
,;r-,t4lt-
,Iurnal Kependidikan, Nomor
I,
TahunXWI',
Mei 20016.
Membangun tanggungjawabMembangun tanggung jawab adalah upaya mengubah
danmemperbaiki iklim pekedaan dengan proses
pendelegasian kewenangan.7.
Mereorganisasi lingkungan ke4aMereorganisasi
lingkungan kerla
adalah upaya mengubah danmemperbaiki iklim peke4aan dengan proses
pembentukankembali
kelompok kedalamjumlah
yanglebih kecil,
pemilihananggota kelompok diserahkan kepada .mereka,
memberi keleluasaanmenjalin kontak sosial,
melantunkanmusik,
dan isitirahat dengan gerak badan.Berdasarkan datalinformasi hasil penelitian dan pembahasan di atas, penelitian
ini
memperoleh temuan sebagai berikut.Pertama, gambaran
informasi
sampelmenunjukkan
kondisi(a) integntas kelompok sangat kuat baik
secaratotal,
maupun persatuan pendidikan,(b)
tanggungjawab
profesional yangdimiliki
personel sangattinggr, baik
secaratotal,
maupun satuah sekolatr,(c) unjuk kerja yang dihasilkan
sangat bagus,baik
secara total maupunper
satuan,(d)
responsif terhadap pengembangan potensi Iingkungan sangat kuatbaik
secaratotal
maupun persatuan sekoJah, kecuali pada sekolah pinggiran.Kedua,
gambaraninformasi di atas bila dianalisa
menurut penggolongansampel
berdasarkanusia, masa kerja, dan
satuansekolah menunjukkan: (a) sosial budaya/kultur
sekolahmemiliki integritas kelompok, (b) unjuk kerja menunjukkan
kemandirian,(c) tingkat
responsivitas terhadap atasancukup kritis dan proaktif
terhadap potensi lingkungan.
Kesimpulan
Berdasarkan
temuan hasil penelitian di atas,
kesimpulanpenelitian ini adalah desentralisasi otonomi kulturar
sekolah(a) terletak
pada rasaingin tahu
personil yang hasilnya senantiasaOtonomi Kulrural Sekoloh: Srudi Ka.sus Pada SD l\iegen di Bandung
meningkatkan kemam puannya, (b) tuntutan profesionalisme personel
yang didukung oleh organisasi profesinya. (c) mengacu
pada tuntutan pendidikan pra jabatan guru dan pembinaannva berdasarkan sistem meritlprestasi kena.Implikasi kesimpulan dr atas
adalah(a)
sekolah memilikrpotensi otonom untuk
mengimpiementasikan desentralisai pendt-dikan. (b)
keluasaandan kemandinan dalam
menentukan kebi-jaksanaan dan mempertanggunujarvabkan program
sekoiah merupakan salah satu potensi ke arah penrngkatan mutu pendidikan.(c) iklim otonomi memiliki peluang bagi personilnya
untuk melakukan kegiatan inovasiBerdasarkan kesimpulan di atas. drduga akan
terdapat masalah sehubungan dengan rmplementasi otonomikultural
sekolahvaitu. (a) mempersiapkan otonomt k-ulrural sekolah
sehinggaterielma itikad
pemenntah dtsemualini birokrasi. (b)
pembinaan personil sekolah sehrngga tumbuh profesronaiisme pekerjaannya.Usaha yang dapat dilakukan pemenntah sehubungan dengan masalah
dr
atas adalah (a) men\erahltan tanggungjawab
yang lebihbesar kepada sekolah dalam mengeloia kegiatan, (bi
memberikeleluasaan kepada sekolah dalam upaya meningkatkan
mutupendidikan.
Sedangkanvano
dapat drlakukan sekolah antara lain.(a)
menunlukan peiuangdan
kesempatan kepadapersonil
sekolahuntuk merungkatkan kemampuan profesional. (b)
menunjukan tantangandan potensi
lingkun-uanvang harus digali dan
dikem- bangkan sebagai sumbenaset sekolahdalam rangka menuju otonomi dan peningkatan mutu pendidikanDalam rangka memperluas dan memperdalam kajian otonomi
kultural
sekolahkiranva perlu penelitian lanjutan
dengan cakupan yanglebih
luas dan permasalah vang komplek bahkan perluuji
coba dan uction research.52
G
Jurnal Kependidikon. Nomor
l,
Tahun XXX\'. Mei 2001Daftar
PustakaKossen. S.
(1983).
The humonside of organt:atton.
Oakland, CA.Harper
&
Rorv Pubiisher. IncPenulis:
Oong Komar. pakar pendidikan. dosen tetap
Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.rpat riah gga aan
Ian oih en
Jtu
JN, rah
glt
m- ml
111
1n
la