• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku 5: Pedoman Mahkamah Agung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Buku 5: Pedoman Mahkamah Agung"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Cetakan Pertama November 2019

Penerbit Biro Advokasi

Sekretariat jenderal Kementerian Keuangan RI Gd. Djuanda I Lantai 15

Jl. DR Wahidin Raya No. 1 Jakarta Pusat 10710

Telp. (021) 3862539;

Fax. (021) 3842894

(3)

Bunga Rampai Advokasi

Pedoman Penanganan Perkara Hak Uji Materiil di Mahkamah Agung

BUKU 5

(4)

Sambutan Kepala

Biro Advokasi

(5)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat rahmat-Nya, Bunga Rampai Advokasi ini dapat dihadirkan ke hadapan pembaca sekalian.

Pembaca yang budiman,

Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai bagian dari warga negara memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik. Perlindungan hukum tersebut akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi ASN dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sehari- hari sehingga dapat meningkatkan profesionalisme dan memperkuat integritas.

Beranjak dari kebutuhan akan perlindungan hukum terhadap ASN, Biro Advokasi menjalankan amanat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/

PMK.01/2012 tentang Bantuan Hukum di Lingkungan Kementerian Keuangan dengan memberikan

(6)

advokasi hukum, termasuk menangani berbagai jenis perkara yaitu perkara perdata, pidana, Tata Usaha Negara, Uji Materiil di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung serta pendampingan terhadap saksi atau ahli. Mengingat beragamnya penanganan litigasi dan advokasi yang dilakukan oleh Biro Advokasi, maka perlu menyusun strategi dan pedoman yang kami tuangkan dalam Bunga Rampai Advokasi, sehingga pelaksanaan advokasi hukum dapat berjalan dengan lebih baik lagi.

Adapun penyusunan Bunga Rampai Advokasi ini adalah salah satu perwujudan komitmen Biro Advokasi terhadap Program Perlindungan Hukum Terhadap Aparatur Sipil Negara. Selain itu, Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara semakin menegaskan adanya kewajiban bagi negara untuk memberikan perlindungan, pendampingan dan bantuan hukum bagi ASN.

Bunga Rampai Advokasi yang diterbitkan tahun 2019 ini terdiri dari 6 seri, yaitu:

1. Seri Pertama: Strategi Pelaksanaan Lelang Barang Milik Negara (“BMN”) Berupa Inventaris Kantor, membahas langkah yang dapat dijadikan acuan bagi para pejabat lelang BMN berupa inventaris kantor;

2. Seri Kedua, Buku Pintar Pendampingan, akan mengupas tuntas hal yang diperlukan terkait pemeriksaan dugaan tindak pidana mulai dari pemanggilan oleh Penyelidik/Penyidik sampai kepada hak dan kewajiban saksi/ahli yang dipanggil;

3. Seri Ketiga, Penanganan Perkara Perdata Pada Tingkat Pertama, mengulas proses penyelesaian perkara perdata di pengadilan mulai dari penyusunan gugatan sampai dengan putusan pengadilan, dan menguraikan tantangan dan strategi dalam penanganan perkara perdata tingkat pertama di Biro Advokasi.

(7)

4. Seri Keempat, Pedoman Teknis Penanganan Sengketa Tata Usaha Negara Tingkat Pertama pada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) 5. Seri Kelima, Pedoman Penanganan Perkara

Hak Uji Materiil di Mahkamah Agung berisi acuan dalam menangani Hak Uji Materiil di Mahkamah Agung;

6. Seri Keenam, Penanganan Permohonan Uji Materiil di Mahkamah Konstitusi berisi pedoman dan strategi dalam menangani Permohonan Uji Materiil Undang-Undang di Mahkamah Konstitusi;

Kami juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh stakeholders di lingkungan Kementerian Keuangan, yang telah memberikan masukan berharganya dalam penulisan buku ini.

Tentu saja, “there is always room for improvement.”

Kami menyadari bahwa Bunga Rampai Advokasi edisi perdana ini tentu masih memiliki banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran dari

pembaca akan sangat bermanfaat dalam penyempurnaannya.

Akhir kata, semoga Bunga Rampai Advokasi ini membawa manfaat dan dapat menginspirasi tidak hanya di lingkungan Biro Advokasi, tetapi juga lebih luas, untuk Kementerian Keuangan yang lebih baik.

Selamat membaca!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, November 2019 Kepala Biro Advokasi,

Tio Serepina Siahaan

(8)

Daftar Isi

(9)

Sambutan Kepala Biro Advokasi a. Kewenangan Mahkamah Agung b. Subjek (Pemohon dan

Termohon)

c. Objek Permohonan (Jenis-Jenis Peraturan Perundang-Undangan yang Dapat Diuji di MA) d. Alasan Permohonan e. Syarat Permohonan f. Pengajuan Permohonan g. Pemeriksaan HUM di MA h. Proses Penanganan Perkara

HUM

1. Penyiapan Surat Kuasa Khusus (SKU)

2. Penyiapan Penyusunan Jawaban

05 11 11

14 15 16 16

3. Pengertian Bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan yang Lebih Tinggi

f. Kendala yang Dihadapi 1. Jangka Waktu 2. Materi Jawaban

g. Putusan HUM dan Pelaksanaannya Lampiran 1

Lampiran 2 Lampiran 3 Daftar Pustaka 18

18 19 19

20

22 22 23 22

(10)
(11)

A. Kewenangan Mahkamah Agung

Sesuai Pasal 31 Undang - Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2009 (UU MA), Pasal 20 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU Kekuasaan Kehakiman) dan Pasal 1 angka (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil (PERMA HUM) selain memiliki kewenangan untuk memeriksa dan mengadili perkara perdata, pidana dan tata usaha negara pada tingkat kasasi dan peninjauan kembali, Mahkamah Agung (MA) juga memliki kewenangan untuk menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi.

B. Subjek (Pemohon dan Termohon)

Dalam PERMA HUM disebutkan pihak yang dapat menjadi Pemohon dan Termohon HUM, yaitu:

a. Pemohon

Selain PERMA HUM, Pasal 31A ayat (2) UU MA mengatur yang dapat menjadi Pemohon dalam perkara HUM di MA.

i. Perseorangan warga negara Indonesia;

Berdasarkan Penjelasan Pasal 31A UU MA, orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama. Jadi, orang perseorangan tidak hanya terbatas dari satu individu saja, namun juga dapat berupa beberapa individu

(12)

yang memiliki kepentingan yang sama dan bersama-sama mengajukan permohonan HUM di MA.

ii. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang

Ketentuan ini merupakan salah satu pengejahwantahan ketentuan dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 yakni:

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan- kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Berdasarkan hal tersebut, tidak semua kelompok masyarakat hukum adat dapat mengajukan permohonan HUM di MA. Untuk dapat mengajukan permohonan HUM di MA, suatu kelompok masyarakat hukum adat harus memenuhi syarat:1

- termasuk ke dalam pengertian kesatuan masyarakat hukum adat.

- kesatuan masyarakat hukum adat itu sendiri masih hidup.

- perkembangan masyarakat hukum adat tersebut sesuai dengan perkembangan masyarakat.

- sesuai pula dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

- diatur dalam undang-undang.

Harus dibedakan dengan jelas antara kesatuan

Jimly Asshiddiqqie, Hukum Acara Pengujian Undang-Undang, (Jakarta:

Konstitusi Press, 2006), hlm. 76.

1

(13)

masyarakat hukum adat dengan masyarakat hukum adat. Masyarakat adalah kumpulan individu yang hidup dalam lingkungan pergaulan bersama sebagai suatu community atau society, sedangkan kesatuan masyarakat menunjuk kepada pengertian masyarakat organik, yang tersusun dalam kerangka kehidupan berorganisasi dengan saling mengikatkan diri untuk kepentingan mencapai tujuan bersama.

iii. Badan hukum publik atau badan hukum privat.

Subyek hukum rechtspersoon dalam pengertian yang terbatas sebagai badan hukum, selama ini dipahami terdiri atas badan hukum publik dan badan hukum privat.

Perbedaannya terletak pada kepentingan yang diwakilinya dan pada aktifitas yang

dijalankan oleh badan hukum itu sendiri berkaitan dengan hubungan hukum yang bersifat publik atau bersifat perdata.2

Dari segi subyeknya, badan hukum tersebut dapat disebut sebagai badan hukum publik apabila kepentingan yang menyebabkan badan itu dibentuk didasarkan atas kepentingan umum atau kepentingan publik, bukan kepentingan orang per orang.

Sebaliknya, apabila kepentingan yang menyebabkan dibentuknya badan hukum tersebut didasarkan atas kepentingan pribadi orang per orang, maka badan hukum tersebut disebut badan hukum privat.

Ibid., hlm. 87.

2

(14)

b. Termohon

Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan peraturan perundang-undangan (Pasal 1 ayat (5) PERMA HUM), seperti Presiden untuk Peraturan Presiden dan Peraturan Pemerintah, Kepala Daerah dan DPRD untuk Perda, Menteri Keuangan untuk Peraturan Menteri Keuangan, dll.

C. Objek Permohonan (Jenis-Jenis Peraturan Perundang-Undangan yang Dapat Diuji di MA) Sesuai PERMA HUM, peraturan perundang- undangan yang dapat diujikan di MA adalah semua peratuan perundang-undangan di bawah Undang-Undang. Sesuai ketentuan Pasal 7 dan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor

15 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (UU Pembentukan Peraturan Per-UU-an), maka peraturan di bawah UU adalah:

1. Peraturan Pemerintah;

2. Peraturan Presiden;

3. Peraturan Daerah Provinsi ; 4. Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota.

Selain itu, dapat juga peraturan yang ditetapkan oleh:

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat, 2. Dewan Perwakilan Rakyat, 3. Dewan Perwakilan Daerah, 4. Mahkamah Agung, 5. Mahkamah Konstitusi, 6. Badan Pemeriksa Keuangan,

(15)

7. Komisi Yudisial, 8. Bank Indonesia, 9. Menteri,

10. badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang- Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/

Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.

Beberapa kali Kementerian Keuangan menghadapi permohonan uji materiil atas Peraturan Direktur Jenderal (Perdirjen), meski Perdirjen tidak termasuk dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, seperti pada Putusan Nomor 22 P/HUM/2017 yang

memutus perkara HUM atas Perdirjen Pajak Nomor Per. 32/PJ/2012 yang telah diubah dengan Perdirjen Pajak Nomor Per. 47/

PJ/2015 tentang Tata Cara Pengenaan PBB sector Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Majelis Hakim Agung menyatakan permohonan tidak dapat diterima karena Perdirjen bukan merupakan peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang sehingga Mahkamah Agung tidak berwenang memeriksa perkara tersebut dan permohonan tidak dapat diterima.

D. Alasan Permohonan

Alasan yang dapat digunakan untuk permohonan HUM ada dua macam, yaitu:

a. materi muatan, ayat, pasal dan/atau bagian dari peraturan perundang- undangan yang dimohonkan HUM

(16)

dianggap bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi;

b. pembentukan peraturan perundang- undangan tersebut tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.

E. Syarat Permohonan

Menurut Pasal 31A ayat (3) UU MA, permohonan sekurang-kurangnya harus memuat:

a. nama dan alamat pemohon;

b. uraian mengenai perihal yang menjadi dasar permohonan dan menguraikan dengan jelas bahwa:

1. materi muatan ayat, pasal, dan/

atau bagian peraturan perundang- undangan di bawah undang- undang dianggap bertentangan dengan peraturan perundang-

undangan yang lebih tinggi; dan/

atau

2. pembentukan peraturan perundang-undangan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku; dan

c. hal-hal yang diminta untuk diputus F. Pengajuan Permohonan

Adapun permohonan HUM dapat diajukan dengan dua cara yaitu:

a. Diajukan langsung ke Mahkamah Agung (MA)

1. Dalam hal permohonan keberatan diajukan langsung ke MA, didaftarkan ke kepaniteraan MA dan dibukukan dalam buku register tersendiri dengan menggunakan kode/nomor “...

P/HUM/Th ---”;

(17)

2. Panitera MA setelah memeriksa kelengkapan berkas, mengirim salinan permohonan tersebut kepada Termohon setelah terpenuhi kelengkapan berkasnya;

3. Termohon wajib mengirimkan/

menyerahkan jawabannya kepada Panitera MA dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak diterimanya salinan permohonan tersebut;

4. Ketua Muda Bidang Tata Usaha Negara atas nama Ketua MA menetapkan Majelis Hakim Agung yang akan memeriksa dan memutus permohonan keberatan tentang HUM tersebut;

5. Majelis Hakim Agung memeriksa dan memutus permohonan

keberatan tentang HUM tersebut dengan menerapkan ketentuan hukum yang berlaku bagi perkara permohonan dengan waktu yang sesingkat singkatnya, sesuai dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

b. Diajukan Melalui Pengadilan Negeri 1. Bahwa permohonan HUM selain

dapat diajukan langsung ke Mahkamah Agung, menurut PERMA HUM dapat diajukan melalui

“Pengadilan Negeri yang membawahi wilayah hukum tempat kedudukan Pemohon”.

2. Dalam hal permohonan keberatan diajukan melalui PN, didaftarkan pada kepaniteraan PN dan dibukukan

(18)

dalam buku register tersendiri dengan menggunakan kode / nomor:

..., P/HUM/Th.../PN..., dengan membayar biaya permohonan dan diberikan tanda terima;

3. Panitera PN setelah memeriksa kelengkapan berkas, mengirimkan permohonan keberatan HUM kepada MA pada hari berikutnya setelah pendaftaran (dan proses selanjutnya ditangani oleh MA). Namun, apabila terdapat kekurangan dapat meminta langsung kepada pemohon atau kuasanya yang sah.

G. Pemeriksaan HUM di MA

1. Bersifat tertutup, sehingga Para Pihak tidak diberi kesempatan untuk hadir langsung, menghadirkan saksi dan/atau ahli untuk diperiksa secara langsung di persidangan.

2. Pihak yang menerbitkan peraturan perundang-undangan (Termohon) diberi waktu 14 (empat belas) hari untuk menyampaikan Jawaban sejak diterimanya Salinan Permohonan oleh Termohon.

3. Pejabat yang akan menandatangani jawaban, wajib menerima kuasa dari Termohon dan melampirkan surat kuasa khusus tersebut saat menyerahkan jawaban kepada Panitera MA.

4. Putusan bersifat final dan mengikat, sehingga tidak ada upaya hukum.

H. Proses Penanganan Perkara HUM

Sebagaimana telah dikemukakan diatas, peraturan perundang-undangan yang diuji di MA, dapat berupa peraturan dibawah Undang- Undang sebagaimana diatur dalam Pasal 7 dan Pasal 8 UU Pembentukan Peraturan Per-UU-

(19)

an. Akan tetapi, berdasarkan kewenangannya, peraturan yang ditangani oleh Kementerian Keuangan adalah Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri Keuangan dan Peratuan Direktur Jenderal pada lingkungan Kementerian Keuangan. Persiapan dalam penanganan perkara HUM di MA pada Kementerian Keuangan terdiri atas dua, yakni:

1. Penyiapan Surat Kuasa Khusus (SKU) Penyiapan SKU bergantung kepada objek yang diujikan, yakni:

a. PP dan Perpres: SKU dari Presiden b. Peraturan Menteri Keuangan: dari

Menteri Keuangan

c. Peraturan Direktur Jenderal: dari Direktur Jenderal

Apabila SKU dari Presiden, maka SKU disiapkan oleh Kementerian Sekretariat

Negara dan diberikan kepada Menteri Hukum dan HAM beserta Menteri terkait (dalam hal ini Menteri Keuangan), kemudian Menteri Keuangan memberikan kuasa kepada pimpinan unit terkait sesuai materi objek permohonan.

Sementara itu, apabila SKU dari Menteri Keuangan ataupun Direktur Jenderal, proses penyiapan surat kuasa menjadi lebih singkat karena dapat langsung memberikan kuasa kepada Kepala Biro Advokasi dan Pimpinan Unit terkait.

2. Penyiapan Penyusunan Jawaban

Sesuai Pasal 31 ayat (2) UU MA, batu uji yang akan dipergunakan oleh MA dalam melakukan uji materiil hanya didasarkan kepada:

a. Bertentangan dengan peraturan

(20)

perundang-undangan yang lebih tinggi; atau

b. Pembentukannya tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang- undangan.

Oleh karena itu, dalam menyusun jawaban, Penangan Perkara hanya perlu difokuskan kepada dua hal tersebut. Hal ini berbeda dengan apabila menyusun Keterangan Presiden pada uji materiil Undang-Undang di Mahkamah Konstitusi yang lebih mengedepankan landasan filosofis.

3. Pengertian Bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan yang Lebih Tinggi

Pasal 8 ayat (2) UU Pembentukan Peraturan Per-UU-an perlu menjadi

perhatian oleh Penangan Perkara yang menangani uji materiil di MA dimana peraturan perundang-undangan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 8 ayat (1) dalam UU tersebut mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Oleh karena itu, Penangan Perkara harus jeli, jangan hanya melihat satu sisi saja, yakni karena tidak ada mandatori atau delegasi dari peraturan yang lebih tinggi, sehingga seolah peraturan perundang-undangan tersebut tidak sah. Akan tetapi, Penangan Perkara perlu menggali dari sisi lain, yakni kewenangan yang melekat dari pihak atau Lembaga yang membuat peraturan perundang-undangan tersebut, misal:

a. Kewenangan Presiden

Dalam hal ini, kewenangan presiden dalam

(21)

menerbitkan peraturan perundang-undangan ada dua macam, yakni:

1) PP

Harus ada delegasi dari peraturan yang lebih tinggi.

2) Perpres

Dibentuk berdasarkan kewenangan yang melekat pada Presiden sebagai kepala pemerintahan, sehingga pada umumnya materi yang diatur terkait tugas-tugas pemerintah, melaksanakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), misalnya: Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dan Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Strategis sebagaimana telah diubah dengan Perpres Nomor 58 Tahun 2017.

b. Kewenangan Menteri Keuangan

Kewenangan Menteri Keuangan dalam membuat suatu peraturan perundang- undangan didapat dari:

1) Peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;

2) Kewenangan berdasarkan kedudukan Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara (BUN), yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, misal Peraturan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/

PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan APBN. Oleh karena

(22)

itu, sekali lagi Penangan Perkara harus jeli, terutama dalam menjelaskan landasan kewenangan.

I. Kendala yang Dihadapi 1. Jangka Waktu

Jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak diterimanya Salinan permohonan oleh termohon seringkali terlewati, terutama apabila objek permohonan adalah PP dan Perpres. Hal ini disebabkan oleh birokrasi, sebab penyusunan jawaban memerlukan masukan dari kementerian/lembaga yang merancang PP dan Perpres dimaksud.

Sebenarnya Kementerian Keuangan telah mengajukan saran kepada MA melalui surat No. S-878/MK.01/2015 terkait kendala

jangka waktu yang singkat tersebut agar tenggang waktu 14 (empat belas) hari dihitung sejak diterimanya permohonan uji materiil oleh kementerian perancang peraturan pemerintah yang dimohonkan pengujiannya.

2. Materi Jawaban

Norma yang menjadi dasar pengaturan terkadang bersifat multi tafsir, misalnya frasa “barang yang diambil langsung dari sumbernya” dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983  tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan  Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009, dapat ditafsirkan hanya diambil saja dan murni tanpa melalui suatu proses, tetapi juga dapat ditafsirkan melalui suatu proses

(23)

produksi namun tidak merubah bentuk dan sifat barangnya.

Terkadang juga dihadapi, terdapat penambahan persyaratan yang tidak diatur oleh peraturan perundang-undangan di atasnya, hal tersebut kemudian yang menjadi objek permohonan uji materiil di MA.

J. Putusan HUM dan Pelaksanaannya

Dalam hal MA berpendapat bahwa permohonan keberatan itu beralasan, yaitu karena peraturan perundang-undangan yang dimohonkan HUM tersebut bertentangan dengan UU atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, maka permohonan HUM tersebut dapat dikabulkan dengan menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan yang dimohonkan HUM tersebut tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan mengikat untuk umum,

serta memerintahkan kepada instansi yang bersangkutan segera mencabutnya. Sementara apabila MA berpendapat bahwa permohonan HUM tidak beralasan, maka permohonan itu ditolak.

Selain itu, Putusan juga dapat menyatakan bahwa permohonan tidak dapat diterima yang dapat disebabkan karena alasan sebagai berikut:

1. kepentingan

(pemohon tidak memenuhi kualifikasi sebagai pihak yang memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan);

2. kewenangan

(objek permohonan bukan merupakan norma hukum yang mengikat umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh Lembaga negara atau pejabat yang

(24)

berwenang melalui prosedur dalam UU Pembentukan Peraturan Per-UU- an)

3. objek sudah pernah diuji MA;

4. objek sedang diujikan di Mahkamah Konsitusi.

5. subjek dan objek sama (sudah pernah diujikan).

Pemberitahuan isi putusan beserta salinan Putusan MA dikirimkan dengan surat tercatat kepada para pihak, atau dalam hal permohonan diajukan melalui PN, maka penyerahan/

pengiriman salinan putusan melalui PN yang bersangkutan.

Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah Putusan diucapkan Panitera MA mencantumkan petikan Putusan dalam Berita Negara dan dipublikasikan atas biaya Negara.

Dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari

setelah Putusan MA dikirim kepada Termohon ternyata tidak dilaksanakan, maka peraturan perundang-undangan yang bersangkutan demi hukum tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.

Terhadap Putusan HUM tidak dapat diajukan Peninjauan Kembali (PK).

Pada praktiknya, meskipun Panitera MA telah mencantumkan petikan Putusan dalam Berita Negara, pencabutan atau tidak berlakunya suatu ketentuan peraturan perundang- undangan jarang diketahui oleh pihak-pihak yang melaksanakan atau menerapkan ketentuan tersebut. Oleh karenanya, untuk menyebarluaskan informasi terkait hal tersebut, perlu dilakukannya sosialisasi atas putusan.

Selain itu, diperlukan pula tindak lanjut dari Pimpinan Unit terkait setelah melakukan pencabutan ketentuan peraturan perundang- undangan yang dimaksud. Hal tersebut

(25)

disebabkan terjadinya kekosongan norma setelah suatu ketentuan dicabut, sementara para pelaksana pada unit teknis membutuhkan suatu pedoman pasca dinyatakannya suatu ketentuan peraturan perundang-undangan dicabut. Maka, suatu surat edaran ataupun petunjuk teknis dan pelaksanaan menjadi penting adanya.

Tindak lanjut oleh Pimpinan Unit terkait juga dapat berupa penerbitan peraturan perundang- undangan baru yang menggantikan peraturan perundang-undangan yang demi hukum tidak mempunyai kekuatan hukum. Penerbitan peraturan perundang-undangan tersebut harus menyesuaikan dengan putusan HUM terkait dengan menyatakan tidak berlakunya peraturan perundang-undangan yang lama.

Perlu juga untuk diketahui, bahwa dengan adanya Putusan HUM yang membatalkan

suatu norma dalam peraturan perundang- undangan dan apabila tidak ada tindakan untuk melaksanakan Putusan HUM tersebut peraturan perundang-undangan tersebut, maka norma peraturan perundang-undangan tersebut tetap berlaku selama 90 (sembilan puluh) hari setelah Putusan HUM dikirimkan kepada Termohon.

(26)

Lampiran 1

Proses Bisnis Biro Advokasi Dalam Perkara Uji Materiil

di Mahkamah

Agung

(27)

Penerbitan Surat Kuasa Substitusi

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

1. Penerimaan Surat Pemberitahuan dan Surat Kuasa Penanganan Perkara Uji Materiil di MA

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

a. mempelajari permohonan;

b. berkoordinasi dengan unit terkait (Kemen- terian Hukum dan HAM dan unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan);

2. Penyusunan konsep Surat Kuasa Substitusi a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

a. mempelajari permohonan;

b. menyusun konsep surat kuasa subsitusi dengan mengikutsertakan pimpinan unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuan- gan yang membidangi materi yang diujikan sebagai penerima kuasa.

(28)

3. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, Surat Kuasa Substitusi oleh Kepala Subbagian

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

d. konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Substi- tusi.

a. meneliti konsep nota dinas, Surat Kuasa Substitusi;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas serta Surat Kuasa Substi- tusi;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta Surat Kuasa Substitusi kepada Kepala Ba- gian.

4. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, Surat Kuasa Substitusi oleh Kepala Bagian

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

d. konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Substi- tusi;

e. konsep nota dinas dan konsep surat kuasa khusus dari Kepala Subbagian.

a. meneliti konsep nota dinas dan konsep Su- rat Kuasa Substitusi;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas serta konsep Surat Kuasa Substitusi;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta surat kuasa substitusi kepada Kepala Biro.

(29)

5. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian konsep nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi oleh Kepala Biro kepada Sekretaris Jenderal

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Konsep nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi dari Kepala Bagian.

a. meneliti konsep nota dinas dan Surat Kua- sa Substitusi;

b. menyetujui dan menandatangani nota di- nas pengantar Surat Kuasa Substitusi;

c. menandatangani Surat Kuasa Substitusi serta menyampaikannya kepada Sekretar- is Jenderal.

6. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi oleh Sekretaris Jenderal kepada Menteri Keuangan

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Nota Dinas dan Surat Kuasa Substitusi dari Kepala Biro.

7. Penandatanganan Surat Kuasa Khusus Presiden dan Surat Kuasa Substitusi oleh Menteri Keuangan

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Nota Dinas dan Konsep Surat Kuasa Substitusi dari Sekretaris Jenderal.

(30)

8. Berkoordinasi dengan unit terkait serta meminta tanda tangan Pejabat Eselon I atau II selaku Penerima Kuasa Substitusi

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Surat Kuasa Substitusi.

Permintaan Data dan Masukan

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

9. Penyusunan konsep nota dinas permintaan data dan masukan ke unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Surat Kuasa Substitusi.

10. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas permintaan data oleh Kepala Subbagian

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Bagian.

(31)

11. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas permintaan data oleh Kepala Bagian

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta surat kuasa substitusi kepada Kepala Biro.

12. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas permintaan data oleh Kepala Biro kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan menandatangani konsep nota dinas;

c. menyampaikan nota dinas kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kemen- terian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan.

(32)

Penyusunan Jawaban

13. Penyusunan Konsep Jawaban a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi terkait dengan PP atau Perpres yang diuji;

a. mempelajari permohonan Pemohon;

b. mempelajari data dan informasi yang ter- kait dengan PP atau Perpres yang dimo- honkan untuk diuji;

c. berkoordinasi dengan penerima Surat Kua- sa Khusus Presiden dan Surat Kuasa Sub- stitusi terkait dengan penyusunan konsep Jawaban;

d. Menyusun konsep Jawaban dan menyam- paikannya kepada Kepala Subbagian.

(33)

14. Rapat pembahasan konsep Jawaban dengan unit eselon I terkait selaku Penerima Surat Kuasa Substitusi (apabila diperlukan)

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Undangan kepada unit terkait;

c. Konsep awal Jawaban;

d. Laporan hasil rapat.

a. Mengundang unit eselon I terkait untuk merumuskan konsep Jawaban;

b. Menyelenggarakan rapat pembahasan kon- sep awal Jawaban.

15. Penelitian, penelaahan konsep Jawaban oleh Kepala Subbagian

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PP atau Per- pres yang dimohonkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban dari Penangan Perkara.

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan konsep Jawaban kepada Kepala Bagian.

16. Penelitian, penelaahan konsep Jawaban oleh Kepala Bagian

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PP atau Per- pres yang dimohonkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban dari Kepala Subbagian;

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan konsep Jawaban kepada Kepala Biro.

(34)

17. Penelitian, penalahaan konsep Jawaban oleh Kepala Biro

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan Jawaban kepada Sekretar- is Jenderal.

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PP atau Per- pres yang dimohonkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban.

18. Penelitian, penalahaan Jawaban oleh Sekretaris Jenderal

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PP atau Per- pres yang dimohonkan untuk diuji;

c. Jawaban.

a. meneliti Jawaban;

b. Menyetujui Jawaban;

c. Menyampaikan Jawaban kepada Menteri Keuangan.

19. Penelitian, penalahaan Jawaban oleh Menteri Keuangan

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PP atau Per- pres yang dimohonkan untuk diuji;

c. Jawaban yang telah ditandatangani.

a. Meneliti Jawaban;

b. Menyetujui dan menandatangani Jawaban;

c. Mendisposisikan kembali Jawaban kepada Penangan Perkara untuk ditindaklanjuti.

(35)

20. Penandatanganan Jawaban oleh Para Penerima Kuasa Khusus Presiden

a. Konsep Jawaban yang telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan;

b. Surat Tugas (apabila diperlukan).

a. Berkoordinasi dengan penerima kuasa sub- stitusi;

b. Meminta tandatangan penerima Kuasa Khusus Presiden.

21. Penyampaian Jawaban a. Surat Tugas;

b. Jawaban yang telah ditandatangani Para Penerima Kuasa;

c. Surat Kuasa Khusus.

Tindak Lanjut Putusan

22. Menerima Relaas Pemberitahuan Putusan Relaas Pemberitahuan Putusan 23. Penyusunan konsep nota dinas tindak lanjut

putusan

Putusan Mahkamah Agung

(36)

24. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Subbagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Bagian.

25. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, tindak lanjut Putusan oleh Kepala Bagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Biro.

(37)

24. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Subbagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Bagian.

25. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, tindak lanjut Putusan oleh Kepala Bagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Biro.

26. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Biro

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan menandatangani nota di- nas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan nota dinas tindak lanjut Putusan kepada Sekretaris Jenderal dan unit eselon I terkait.

(38)

Lampiran 2

Objek

Permohonan:

Peraturan Menteri

Keuangan

(39)

Penerbitan Surat Kuasa Khusus

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

1. Penerimaan Surat Pemberitahuan a. Permohonan uji materiil;

b. PMK yang diuji;

a. mempelajari permohonan;

b. berkoordinasi dengan unit ter- kait (unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diu- jikan);

2. Penyusunan konsep Surat Kuasa Khusus

a. Permohonan uji materiil;

b. PMK yang diuji;

a. mempelajari permohonan;

b. menyusun konsep surat kuasa khusus dengan mengikutser- takan pimpinan unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan sebagai penerima kuasa.

(40)

3. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, Surat Kuasa Khusus oleh Kepala Subbagian

a. Permohonan uji materiil;

b. PMK yang diuji;

c. konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Khusus.

a. meneliti konsep nota dinas, Surat Kuasa Khusus;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas serta Surat Kuasa Khusus;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta Surat Kuasa Khu- sus kepada Kepala Bagian.

4. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, Surat Kuasa Khusus oleh Kepala Bagian

a. Permohonan uji materiil;

b. PMK yang diuji;

c. konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Khusus;

d. konsep nota dinas dan konsep surat kuasa khusus dari Kepala Subbagian.

a. meneliti konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Khu- sus;

(41)

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas serta konsep Surat Kuasa Khusus;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta surat kuasa khu- sus kepada Kepala Biro.

5. Penelitian, penelaahan, serta

penyampaian konsep nota dinas dan Surat Kuasa Khusus oleh Kepala Biro kepada Sekretaris Jenderal

a. Permohonan uji materiil;

b. Konsep nota dinas dan Surat Kuasa Khusus dari Kepala Bagian.

a. meneliti konsep nota dinas dan Surat Kuasa Khusus;

b. menyetujui dan menandatan- gani nota dinas pengantar Su- rat Kuasa Khusus;

c. menandatangani Surat Kuasa Khusus serta menyampaikan- nya kepada Sekretaris Jender- al.

(42)

6. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas dan Surat Kuasa Khusus oleh Sekretaris Jenderal kepada Menteri Keuangan

a. Permohonan uji materiil;

b. Nota Dinas dan Surat Kuasa Khusus dari Kepala Biro.

7. Penandatanganan Surat Kuasa

Khusus oleh Menteri Keuangan

a. Permohonan uji materiil;

b. Nota Dinas dan Konsep Surat Kuasa Khusus dari Sek- retaris Jenderal.

Penerbitan Surat Kuasa Substitusi

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

8. Penerimaan Surat Pemberitahuan dan Surat Kuasa Penanganan Perkara Uji Materiil di MA

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

a. mempelajari permohonan;

b. berkoordinasi dengan unit terkait (Kementerian Hukum dan HAM dan unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan);

(43)

9. Penyusunan konsep Surat Kuasa Substitusi

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

a. mempelajari permohonan;

b. menyusun konsep surat kua- sa subsitusi dengan mengi- kutsertakan pimpinan unit es- elon I di lingkungan Kement- erian Keuangan yang mem- bidangi materi yang diujikan sebagai penerima kuasa.

10. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, Surat Kuasa Substitusi oleh Kepala Subbagian

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

d. konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas, Surat Kuasa Substitusi;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas serta Surat Kuasa Substitusi;

(44)

c. menyampaikan konsep nota dinas serta Surat Kuasa Sub- stitusi kepada Kepala Bagian.

11. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, Surat Kuasa Substitusi oleh Kepala Bagian

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. PP atau Perpres yang diuji;

d. konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Substitusi;

e. konsep nota dinas dan konsep surat kuasa khusus dari Kepala Subbagian.

a. meneliti konsep nota dinas dan konsep Surat Kuasa Sub- stitusi;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas serta konsep Surat Kuasa Substitu- si;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta surat kuasa substi- tusi kepada Kepala Biro.

(45)

12. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian konsep nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi oleh Kepala Biro kepada Sekretaris Jenderal

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Konsep nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi dari Kepa- la Bagian.

a. meneliti konsep nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi;

b. menyetujui dan menandatan- gani nota dinas pengantar Su- rat Kuasa Substitusi;

c. menandatangani Surat Kua- sa Substitusi serta menyam- paikannya kepada Sekretaris Jenderal.

13. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas dan Surat Kuasa Substitusi oleh Sekretaris Jenderal kepada Menteri Keuangan

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Nota Dinas dan Surat Kuasa Substitusi dari Kepala Biro.

(46)

14. Penandatanganan Surat Kuasa Khusus Presiden dan Surat Kuasa Substitusi oleh Menteri Keuangan

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Nota Dinas dan Konsep Surat Kuasa Substitusi dari Sek- retaris Jenderal.

15. Berkoordinasi dengan unit terkait serta meminta tanda tangan Pejabat Eselon I atau II selaku Penerima Kuasa Substitusi

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Presiden;

c. Surat Kuasa Substitusi.

Permintaan Data dan Masukan

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

16. Penyusunan konsep nota dinas permintaan data dan masukan ke unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Surat Kuasa Substitusi.

(47)

17. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas permintaan data oleh Kepala Subbagian

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota di- nas;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Bagian.

18. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas permintaan data oleh Kepala Bagian

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta surat kuasa substi- tusi kepada Kepala Biro.

(48)

19. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas permintaan data oleh Kepala Biro kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan menandatan- gani konsep nota dinas;

c. menyampaikan nota dinas kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan.

(49)

19. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas permintaan data oleh Kepala Biro kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Substitusi.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan menandatan- gani konsep nota dinas;

c. menyampaikan nota dinas kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan.

Penyusunan Jawaban

20. Penyusunan Konsep Jawaban a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi terkait dengan PMK yang diuji;

a. mempelajari permohonan Pemohon;

b. mempelajari data dan infor- masi yang terkait dengan PP atau Perpres yang dimohonk- an untuk diuji;

c. berkoordinasi dengan peneri- ma Surat Kuasa Khusus Pres- iden dan Surat Kuasa Substi- tusi terkait dengan penyusu- nan konsep Jawaban;

d. Menyusun konsep Jawaban dan menyampaikannya kepa- da Kepala Subbagian.

(50)

21. Rapat pembahasan konsep Jawaban dengan unit eselon I terkait selaku Penerima Surat Kuasa Substitusi (apabila diperlukan)

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Undangan kepada unit terkait;

c. Konsep awal Jawaban;

d. Laporan hasil rapat.

a. Mengundang unit eselon I ter- kait untuk merumuskan konsep Jawaban;

b. Menyelenggarakan rapat pem- bahasan konsep awal Jawa- ban.

22. Penelitian, penelaahan konsep Jawaban oleh Kepala Subbagian

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PMK yang dimo- honkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban dari Penangan Perkara.

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan konsep Jawa- ban kepada Kepala Bagian.

(51)

23. Penelitian, penelaahan konsep Jawaban oleh Kepala Bagian

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PMK yang dimo- honkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban dari Kepala Subbagian;

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan konsep Jawa- ban kepada Kepala Biro.

24. Penelitian, penalahaan konsep Jawaban oleh Kepala Biro

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan Jawaban kepa- da Sekretaris Jenderal.

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PMK yang dimo- honkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban.

18. Penelitian, penalahaan Jawaban oleh Sekretaris Jenderal

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PMK yang dimo- honkan untuk diuji;

c. Jawaban.

a. meneliti Jawaban;

b. Menyetujui Jawaban;

c. Menyampaikan Jawaban kepa- da Menteri Keuangan.

(52)

19. Penelitian, penalahaan Jawaban oleh Menteri Keuangan

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan PMK yang dimo- honkan untuk diuji;

c. Jawaban yang telah ditandatangani.

a. Meneliti Jawaban;

b. Menyetujui dan menandatan- gani Jawaban;

c. Mendisposisikan kembali Jawaban kepada Penangan Perkara untuk ditindaklanjuti.

20. Penandatanganan Jawaban oleh Para Penerima Kuasa Khusus Presiden

a. Konsep Jawaban yang telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan;

b. Surat Tugas (apabila diperlukan).

a. Berkoordinasi dengan peneri- ma kuasa substitusi;

b. Meminta tandatangan peneri- ma Kuasa Khusus Presiden.

21. Penyampaian Jawaban a. Surat Tugas;

b. Jawaban yang telah ditandatangani Para Penerima Kua- sa;

c. Surat Kuasa Khusus.

(53)

Tindak Lanjut Putusan

22. Menerima copy Relaas

Pemberitahuan Putusan

Copy Relaas Pemberitahuan Putusan

23. Penyusunan konsep nota dinas tindak lanjut putusan

Putusan Mahkamah Agung

24. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Subbagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tin- dak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Bagian.

(54)

25. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, tindak lanjut Putusan oleh Kepala Bagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tin- dak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepada Kepala Biro.

26. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Biro

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti nota dinas tindak lan- jut Putusan;

b. menyetujui dan menandatan- gani nota dinas tindak lanjut Putusan;

(55)

c. menyampaikan nota dinas tindak lanjut Putusan kepada Sekretaris Jenderal dan unit eselon I terkait.

(56)

Lampiran 3

Objek

Permohonan:

Peraturan

Direktur Jenderal

(57)

Penerbitan Surat Kuasa Khusus

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

1. Penandatanganan Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal oleh Kepala Biro Advokasi

a. Permohonan uji materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal;

Permintaan Data dan Masukan

Kegiatan Dokumen yang diperlukan

2. Penyusunan konsep nota dinas permintaan data dan masukan ke unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan.

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal

3. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas permintaan data oleh Kepala Subbagian

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepa- da Kepala Bagian.

(58)

4. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas permintaan data oleh Kepala Bagian

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas;

c. menyampaikan konsep nota dinas serta surat kuasa khusus kepada Kepala Biro.

5. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas permintaan data oleh Kepala Biro kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan

a. Konsep nota dinas;

b. Permohonan Uji Materiil;

c. Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal.

a. meneliti konsep nota dinas;

b. menyetujui dan menandatangani konsep nota dinas;

c. menyampaikan nota dinas kepada pimpinan unit terkait di lingkungan Ke- menterian Keuangan yang membidangi materi yang diujikan.

(59)

Penyusunan Jawaban

6. Penyusunan Konsep Jawaban a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi terkait dengan Perdirjen yang diuji;

a. mempelajari permohonan Pemohon;

b. mempelajari data dan informasi yang ter- kait dengan Perdirjen yang dimohonkan untuk diuji;

c. berkoordinasi dengan penerima Surat Kuasa Khusus lainnya terkait dengan penyusunan konsep Jawaban;

d. Menyusun konsep Jawaban dan men- yampaikannya kepada Kepala Subba- gian.

(60)

7. Rapat pembahasan konsep Jawaban dengan unit terkait selaku Penerima Surat Kuasa Khusus Direktur Jenderal (apabila diperlukan)

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Undangan kepada unit terkait;

c. Konsep awal Jawaban;

d. Laporan hasil rapat.

a. Mengundang unit eselon I terkait untuk merumuskan konsep Jawaban;

b. Menyelenggarakan rapat pembahasan konsep awal Jawaban.

8. Penelitian, penelaahan konsep Jawaban oleh Kepala Subbagian

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan Perdirjen yang dimohonkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban dari Penangan Perkara.

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan konsep Jawaban kepada Kepala Bagian.

(61)

9. Penelitian, penelaahan konsep Jawaban oleh Kepala Bagian

d. Permohonan Uji Materiil;

e. Data dan informasi yang terkait dengan Perdirjen yang dimohonkan untuk diuji;

f. Konsep Jawaban dari Kepala Subbagian;

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

c. menyampaikan konsep Jawaban kepada Kepala Biro.

10. Penelitian, penalahaan konsep Jawaban oleh Kepala Biro

a. meneliti konsep Jawaban;

b. menyetujui konsep Jawaban;

a. Permohonan Uji Materiil;

b. Data dan informasi yang terkait dengan Perdirjen yang dimohonkan untuk diuji;

c. Konsep Jawaban.

11. Penandatanganan Jawaban oleh Para Penerima Kuasa Khusus Direktur Jenderal

a. Konsep Jawaban yang akan ditandatangani oleh Direk- tur Jenderal terkait;

b. Surat Tugas (apabila diperlukan).

a. Berkoordinasi dengan penerima kuasa khusus;

b. Meminta tandatangan penerima Kuasa Khusus Khusus.

(62)

12. Penyampaian Jawaban a. Surat Tugas;

b. Jawaban yang telah ditandatangani Para Penerima Kuasa;

c. Surat Kuasa Khusus.

Tindak Lanjut Putusan

13. Menerima Copy Relaas Pemberitahuan Putusan

Copy Relaas Pemberitahuan Putusan

14. Penyusunan konsep nota dinas tindak lanjut putusan

Putusan Mahkamah Agung

15. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Subbagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada kon- sep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepa- da Kepala Bagian.

(63)

16. Penelitian, penelaahan konsep nota dinas, tindak lanjut Putusan oleh Kepala Bagian

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

b. menyetujui dan memberi paraf pada konsep nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan konsep nota dinas kepa- da Kepala Biro.

17. Penelitian, penelaahan, serta penyampaian nota dinas tindak lanjut Putusan oleh Kepala Biro

a. Putusan Mahkamah Agung;

b. Konsep nota dinas tindak lanjut Putusan.

a. meneliti nota dinas tindak lanjut Putu- san;

b. menyetujui dan menandatangani nota dinas tindak lanjut Putusan;

c. menyampaikan nota dinas tindak lanjut Putusan kepada Sekretaris Jenderal dan unit eselon I terkait.

(64)

Daftar

Pustaka

(65)

Jimly Asshiddiqqie, Hukum Acara Pengujian Undang-Undang, (Jakarta: Konstitusi Press, 2006).

Henrry P. Panggabean, “Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. Upaya Penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi pengawasan Mahkamah Agung” (Jakarta : PT.

Pustaka Sinar Harapan, 2001).

Andryan, “Implikasi Putusan Hak Uji Materil Di Mahkamah Agung Terhadap Legalitas Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia”

Jurnal Penelitian Hukum, (Medan: 2018).

Sudikno Mertokusumo, “Hukum Acara Perdata”

(Yogyakarta: Liberty,1982).

Indonesia, Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 48 Tahun 2009, LN. No. 157 Tahun 2009, TLN. No. 5076.

Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas Undang - Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung, UU No. 3 Tahun 2009, LN. No. 3 Tahun 2009, TLN. No. 4958.

Indonesia, Undang-Undang tentang Mahkamah Agung, UU No. 14 Tahun 1985, LN. No. 73 Tahun 1985, TLN. No. 3316.

Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang - Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung, UU No. 5 Tahun 2004, LN. No. 9 Tahun 2004, TLN. No. 4359.

Mahkamah Agung, Peraturan Mahkamah Agung tentang Hak Uji Materiil, PERMA No. 1 Tahun 2011.

Daftar Pustaka

(66)

Halaman Ini Sengaja Dikosongkan

(67)
(68)

Referensi

Dokumen terkait

dikembangkan mengingat mayoritas daerah di Kabupaten ini adalah pertanian, perkebunan dan hutan. Kemitraan usaha untuk melakukan kerjasama dengan dunia usaha dan industri

menyiapkan dan menyampaikan permintaan data usulan standar harga satuan barang/jasa dari Kepala Biro Perencanaan kepada unit kerja yang terkait dengan pengadaan barang/jasa di

Metodologi dalam penelitian ini adalah melakukan serangkaian pengujian karakteristik berupa agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal lalu merancang komposisi campuran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi Chironomidae (Diptera) memilih jenis media air untuk tempat bertelur, yang meliputi air kolam ikan lele dumbo,

Perpustakaan juga menyediakan sejumlah komputer yang dilengkapi dengan fasilitas internet serta wifi sehingga dapat digunakan oleh pengunjung untuk melakukan

Buku pedoman ini memberikan panduan utama bagi pimpinan tertinggi USD, fakultas, departemen/jurusan, program studi, kepala biro, kepala bagian, dan kepala unit

Menyiapkan dan menyampaikan permintaan data usulan standar harga satuan barang/jasa dari Kepala Biro Perencanaan kepada unit kerja yang terkait dengan pengadaan barang/jasa

 Pengukuran dilakukan dengan cara melakukan identifikasi batas bidang-bidang tanah dengan menggunakan peta foto atau peta garis hasil fotogrametris dan menarik