• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA LAPORAN KUNJUNGAN KERJA

BADAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA KE BPK PERWAKILAN PROVINSI MALUKU UTARA,

PEMERINTAH PROVINSI MALUKU UTARA TANGGAL 28 - 31 MARET 2022

MASA PERSIDANGAN III TAHUN SIDANG 2021—2022

I. PENDAHULUAN

Kerangka Acuan Kerja

Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Sedangkan sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan Pertanahan Nasional, BPN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Perolehan opini BPK RI atas Laporan Keuangan (LK) Kementerian ATR/BPN pada TA 2017—2020 adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Walaupun Kementerian ATR/BPN telah memperoleh opini WTP, hasil pemeriksaan BPK RI masih menemukan sejumlah permasalahan. Misalnya pada hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kementerian ATR/BPN TA 2020, BPK RI mengungkapkan terdapat 12 temuan, 17 permasalahan, dan 42 rekomendasi. Dari 17 permasalahan tersebut, terdapat 7 permasalahan yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp2,3 miliar dan 2 permasalahan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan sebesar Rp42,5 juta.

Selain pemeriksaan atas laporan keuangan, BPK RI juga telah melakukan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (DTT) dan Pemeriksaan Kinerja pada Kementerian ATR/BPN. Hasil Pemeriksaan DTT atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Pelayanan Pertanahan PNBP Tahun Anggaran 2017—

semester I tahun 2018 pada Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan Kementerian ATR/BPN menunjukkan adanya permasalahan yang signifikan, antara lain:

permohonan atas pelayanan survei, pengukuran dan pemetaan tidak sesuai dengan luas bidang tanah yang sesungguhnya; dan tarif biaya transportasi, akomodasi dan konsumsi atas pelayanan pengukuran dan pemetaan batas belum diatur dalam peraturan.

Lebih jauh, hasil Pemeriksaan Kinerja atas kegiatan Redistribusi Tanah Objek Landreform (TOL) tahun 2015—semester I tahun 2016 mengungkapkan permasalahan antara lain: peraturan-peraturan terkait Redistribusi TOL ada yang

(2)

tidak relevan dan tidak dapat diimplementasikan dengan kondisi saat ini; sebanyak 382 sertifikat penerima Redistribusi TOL pada Kantah Kab. Banjar dikuasai PT PU sebagai inti plasma dan sebanyak 33 sertifikat penerima Redistribusi TOL pada Kantah Kab. Hulu Sungai Selatan tidak mempunyai warkah tanah; pelaksanaan kegiatan Redistribusi TOL hanya merupakan kegiatan legalisasi aset, dan belum meningkatkan kesejahteraan petani; dan kenaikan pendapatan per personal income masyarakat subjek reforma agraria sebagai Indikator Kinerja Utama sasaran program pada Ditjen Penataan Agraria tidak tepat.

Lebih jauh lagi, hasil pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan ATR/BPN Tahun 2019 mengungkapkan temuan kesalahan pembebanan belanja barang dan belanja modal sebesar Rp32.225.950.900,-. Temuan kesalahan pembebanan itu menimbulkan permasalahan antara lain terdapat selisih antara realisasi Belanja Modal dengan mutasi Aset Tetap Peralatan dan Mesin, Aset Tetap Gedung dan Bangunan, Aset Tetap Jalan, Irigasi, dan Jaringan, Aset Tetap Lainnya, dan Aset Tak Berwujud. Sebagian permasalahan selisih tersebut terjadi di Kanwil Provinsi Papua Barat seperti selisih mutasi akibat penambahan peralatan dan mesin ekstrakomptabel; selisih mutasi gedung dan bangunan akibat penambahan Aset Tetap Lainnya; dan selisih mutasi akibat Belanja Jasa Lainnya.

Selain permasalahan pada hasil pemeriksaan BPK tersebut, terungkap beberapa permasalahan agraria dan pertanahan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang telah dilakukan oleh BAKN DPR RI dengan pakar agraria/pertanahan dan tata ruang seperti Masyarakat Adat dan Hak Ulayan (AMAN), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) antara lain:

 adanya potensi kerugian negara dari jutaan tanah terlantar dari kemacetan penuntasan konflik agraria sehingga menurunkan nilai pembelian dan pajak negara;

 konflik agraria yang terjadi di banyak daerah sebagai akibat dari proses pemberian izin, pendaftaran, penerbitan, sampai pengawasan setelah penerbitan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku;

 pungutan liar dalam proses sertifikasi tanah, khususnya program Pendaftaran Tanah Sertifikat Lengkap (PTSL) ATR/BPN;

 tata kelola perizinan usaha perkebunan belum sesuai dengan ketentuan; dan

 rendahnya produktivitas hasil perkebunan.

Terkait permasalahan perizinan perkebunan, BPK juga telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas perizinan, sertifikasi dan implementasi pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Pertanian (Nomor 47/LHP/XVII/09/2019). Hasil pemeriksaan mengungkapkan beberapa permasalahan diantaranya perusahaan perkebunan kelapa sawit belum memenuhi kewajiban perizinan, indikasi 181 Usaha Perkebunan Kelapa Sawit dalam kawasan hutan seluas ±349.634,68 Ha dan tumpang tindih area pelepasan dengan kawasan hutan, serta indikasi tumpang tindih izin pada Usaha Perkebunan Kelapa Sawit.

Berdasarkan uraian pada bagian kerangka acuan kerja ini, BAKN DPR RI memandang perlu meminta penjelasan dan masukan dari BPK Perwakilan Maluku Utara, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan Kementerian ATR/BPN serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait dengan permasalahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang di di Provinsi Maluku Utara. Dengan

(3)

penjelasan dan masukan tersebut, diharapkan BAKN DPR RI mendapatkan informasi yang lengkap dan utuh dalam melakukan penelaahan lebih lanjut.

II. PELAKSANAAN KUNJUNGAN KERJA A. Agenda Kegiatan

Kunjungan kerja ke BPK Perwakilan Maluku Utara ini dimaksudkan untuk mendapatkan penjelasan dan masukan terkait dengan informasi atau gambaran lebih detail tentang permasalahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang di Provinsi Maluku Utara, serta untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dilampirkan pada TOR sebagai bahan penelaahan BAKN DPR RI.

Kegiatan kunjungan kerja BAKN DPR RI ke BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara dilaksanakan pada tanggal 28 – 31 Maret 2022.

B. Susunan Keanggotaan Tim

C. Kegiatan Yang Dilakukan

Pertemuan dengan BPK Perwakilan Provinsi Papua Barat

Pertemuan dengan BPK Perwakilan Provisi Maluku Utara dihadiri oleh:

1. Ir. Hermanto M.Si., CSFA, Kepala Perwakilan BPK Provinsi Maluku Utara;

2. I Wayan Artadana Adi Sudharma SE.Ak., CA., Kepala Subauditorat Maluku Utara II;

3. Adityari Kusumastaji Perwira Negara S.H., Kepala Subbagian Hukum;

4. Hilman Fauzi Mubarok S.E., M.Si., CFE, Pemeriksa Ahli Muda pada BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara;

5. Dr. Reza Hendra Wibowo S.Ikom., M.M., Biro Humas dan KSI

Pada pertemuan dengan BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara, BAKN DPR RI mendapatkan penjelasan dan masukan terkait dengan permasalahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang.

1. Indonesia menganut sistem publikasi negatif. Publikasi negatif berarti Negara tidak menjamin kebenaran data yang disajikan. Kelemahan sistem publikasi

NO NO.

ANGGOTA NAMA KETERANGAN

1. A-533 H. WAHYU SANJAYA, SE KETUA BAKN DPR RI / F. PD 2. A-201 PROF. DR. HENDRAWAN SUPRATIKNO WAKIL KETUA BAKN DPR RI / F. PDIP 3. A-423 DR. HJ. ANIS BYARWATI, S.AG., M.SI. WAKIL KETUA BAKN DPR RI / F. PKS 4. A-314 H.MUKHAMAD MISBAKHUN,S.E.,M.H. ANGGOTA BAKN DPR RI /F-GOLKAR 5. A-026 H. BACHRUDIN NASORI, S.SI, M.M. ANGGOTA BAKN DPR RI /F-PKB

6. A-83 r. IRWAN ARDI HASMAN ANGGOTA BAKN DPR RI/F-

GERINDRA

7. A-404 DR.ACHMAD HATARI, SE, MSi ANGGOTA BAKN DPR RI/ F-NASDEM SEKRETARIAT TIM KUNKER

8. -- MARDI HARJO, S.E., M.Si. KABAG SET BAKN

9. -- MURNI ELOK PERTIWI, S.E., M.A.B KASUBBAG SET. BAKN

10. -- GIONANI KASUBBAG SET. BAKN

11. -- WARIJAN, SE, ME. TENAGA AHLI BAKN

12. -- FAJAR NS S.E., M.Ec. TENAGA AHLI BAKN

13. -- PEMBERITAAN

14. -- TV PARLEMEN

(4)

negatif adalah pihak yang namanya tercantum sebagai pemegang hak dalam buku tanah dan sertifikat akan selalu menghadapi kemungkinan gugatan dari pihak lain yang merasa mempunyai tanah itu. Hal ini dimungkinkan untuk diberikan hak kepada pihak yang telah mendiami/menempati tanah tersebut dalam jangka waktu tertentu, meskipun yang bersangkutan bukan pemegang hak yang tercantum dalam sertifikat.

2. Pemerintah Daerah di Provinsi Maluku Utara berperan dalam membantu percepatan reforma agraria dengan bekerja sama dengan GTRA tingkat Provinsi dan Pusat. Selain itu, Pemerintah Daerah di Provinsi Maluku Utara juga memberikan dukungan dalam percepatan pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL), diantaranya dengan melakukan integrasi data BPHTB. Dari 9 Kabupaten/Kota, 8 Kabupaten/Kota sudah mengintegrasi data BHPTB dengan Kementerian ATR/BPN.

3. Reforma agraria secara fundamental memberikan program-program yang dapat menuntaskan masalah kemiskinan masyarakat desa, meningkatkan kesejahteraan dengan kemandirian pangan nasional, meningkatkan produktivitas tanah, memberikan pengakuan hak atas tanah yang dimiliki baik secara pribadi, negara, dan tanah milik umum yang pemanfaatannya untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Reforma agraria dengan sendirinya akan mengurangi konflik pertanahan, khususnya di lahan perkebunan dimana banyak masyarakat penggarap lahan tidak memiliki sertifikat. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya menerbitkan sertifikat untuk masyarakat yang diharapkan dapat memberikan kepastian hukum kepada pemegang hak dan dengan sendirinya meminimalisir adanya potensi konflik pertanahan.

4. Kementerian ATR/BPN sudah membentuk mekanisme penanganan konflik pertanahan lewat Kantah maupun tim GTRA. BPK belum pernah melakukan pemeriksaan atas penanganan konflik di Provinsi Maluku Utara, tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan Kinerja PTSL TA 2021 dengan sampel di DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur salah satu kendala dalam pelaksanaan PTSL adalah tidak memadai tindak lanjut penanganan sengketa dan/atau konflik pasca penerbitan sertipikat PTSL

5. Salah satu tugas tim gugus tugas reforma agraria adalah mengkoordinasikan dan memfasilitasi penanganan sengketa dan konflik agraria. Dalam pelaksanaannya pada Provinsi Maluku Utara seluruh Pemda telah membentuk Tim GTRA tingkat Kabupaten/Kota.

6. Salah satu kendala dalam pelaksanaan PTSL adalah kurangnya komitmen Pemda dalam meringankan dan/atau membebaskan BPHTB. Sampai saat ini belum ada Pemda yang meringankan dan/atau membebaskan BPHTB di Provinsi Maluku Utara

7. Penataan ruang dan cipta kerja yang berkesinambungan mulai dari tingkat pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah diharapkan akan dapat meningkatkan nilai investasi dan menciptakan lapangan kerja.

Salah satu pelaksanaan penataan ruang bisa berbentuk pengelolaan pemanfaatan lahan. Tetapi dampak langsung atas penerapan PP 21 Tahun 2021 dan UU No 11 Tahun 2021 Cipta Kerja, dengan konflik pertanahan belum pernah diuji.

8. Sampai dengan semester II Tahun 2021 BPK belum melakukan kajian dampak/hubungan langsung antara investasi dan penciptaan lapangan kerja dengan konflik pertanahan. Untuk mengkaji dampak/hubungan langsung antara

(5)

investasi dan penciptaan lapangan kerja dengan konflik pertanahan di Provinsi Maluku Utara perlu dilakukan pemeriksaan yang melibatkan lintas sektoral, yakni Kementerian Pusat (jika terdapat Kabupaten/kota yang masuk kawasan strategi nasional), Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah.

9. Secara khusus BPK RI selama 3 tahun terakhir belum melakukan pemeriksaan terkait dengan permasalahan Agraria/Pertanahan Dan Tata Ruang di wilayah Provinsi Maluku Utara. Tetapi BPK RI pada saat melakukan pemeriksaan Laporan Keuangan Tahun 2020 menemukan bahwa pengelolaan persediaan di Kementerian ATR/BPN belum sesuai dengan ketentuan. Permasalahan pengelolaan persediaan yang ditemukan pada Kantah-kantah di Provinsi Maluku Utara adalah kesalahan dalam opname fisik persediaan.

10. BPK merekomendasikan Menteri ATR/Kepala BPN melalui Sekretaris Jenderal agar menginstruksikan Kepala Pusdatin untuk melakukan evaluasi dan perbaikan atas ketepatan laporan yang dihasilkan oleh aplikasi blanko dan aplikasi KKP

11. BPK merekomendasikan Menteri ATR/Kepala BPN melalui Sekretaris Jenderal agar menginstruksikan Kepala Pusdatin untuk melakukan sosialisasi penggunaan aplikasi KKP dan aplikasi blanko secara menyeluruh kepada pengguna aplikasi

12. BPK merekomendasikan Menteri ATR/Kepala BPN melalui Sekretaris Jenderal agar menginstruksikan seluruh Kepala Kanwil dan/atau Kantah Kabupaten/Kota agar lebih cermat dalam melakukan pengendalian atas pengamanan administrasi maupun pengamanan fisik atas persediaan yang berada dalam pengelolaannya

13. BPK merekomendasikan Menteri ATR/Kepala BPN melalui Sekretaris Jenderal agar menginstruksikan seluruh Kepala Subbagian Keuangan dan BMN di Kanwil serta Kepala Urusan Keuangan dan BMN masing-masing Kantah agar lebih cermat dalam mengendalikan pengelolaan persediaan yang menjadi tanggung jawabnya

14. BPK merekomendasikan Menteri ATR/Kepala BPN melalui Sekretaris Jenderal agar menginstruksikan seluruh Kepala Subbagian Keuangan dan BMN di Kanwil serta Kepala Urusan Keuangan dan BMN masing-masing Kantah agar lebih cermat dalam mengendalikan pengelolaan persediaan yang menjadi tanggung jawabnya

15. Permasalahan pada LK Kementerian ATR/BPN TA 2019 terjadi dikarenakan kesalahan mekanisme penganggaran belanja modal yang dianggarkan pada belanja barang. Atas temuan tersebut Kementerian ATR/BPN sudah menindaklanjuti tetapi belum sesuai dengan rekomendasi BPK. Beberapa rekomendasi yang belum ditindaklanjuti secara sesuai antara lain:

Sekjen Sudah melakukan instruksi kepada KPA masing-masing sesuai surat No. KU.04.04/1453-100/IX/2020 tgl. 17 September 2020, tetapi masing-masing KPA belum menyampaikan respon atas instruksi Sekjen untuk memastikan komitmen masing-masing KPA agar kesalahan pembebanan belanja barang dan belanja modal tidak kembali terjadi lagi.

(6)

Sekjen sudah melakukan instruksi kepada Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama & Kepala Biro Keuangan dan BMN sesuai dengan No. 285/ND- 100.KU.03.04/IX/2020 tgl. 17 September 2020. Tetapi bukti pelaksanaan instruksi atas evaluasi belanja barang dan belanja modal belum disampaikan.

16. BPK merekomendasikan agar Menteri ATR/Kepala BPN mengevaluasi kembali Kegiatan Legalisasi Aset untuk kemudian menentukan strategi dan rencana kerja yang komprehensif untuk mencapai target Kegiatan Legalisasi Aset dalam RPJMN 2015-2019 serta melakukan monitoring atas capaian realisasi legalisasi aset dalam satuan hektar yang mendukung pencapaian target kegiatan legalisasi aset yang ditetapkan dalam RPJMN dan RKP.

Pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kementerian ATR/BPN, dan Kementerian LHK

Pertemuan di rumah dinas gubernur Maluku Utara di Ternate dihadiri oleh:

1) KH. Abdul Gani Kasuba , Gubernur Maluku Utara ;

2)

Drs. Samsuddin Abdul Kadir (Sekretaris daerah Provinsi Maluku Utara);

3) Ir. Dwi Hariyawan S., M.A. (Staf Ahli Menteri ATR/Ka.BPN Bidang Pengembangan Kawasan)

4) Abdul Aziz, SH., M.Kn (Kepala kantor wilayah BPN Provinsi Maluku Utara)

5)

Herban Heryandana, S.Hut, M.Sc (Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan kawasan hutan) KLHK;

6)

Pak Heri Kasubdit Direktorat Pengukuhan dan Penatagunaan kawasan hutan KLHK;

7)

Pak Syafda Kasubdit dari PSKL KLHK;

8)

Pak Hendro Kasubdit dr PHL KLHK;

Pada pertemuan ini, BAKN DPR RI mendapatkan penjelasan dan masukan terkait dengan permasalahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang antara lain.

Tanggapan dari ATR /BPN

1. Data hak guna usaha di maluku utara terdapat pada 5 kabuoaten dengan luas total mencapai 29.700,52 Ha. HGU terluas berada di kabupaten Halmahera selatan seluas 12.355,61 Ha. Sedangkan yang terkecil berada di kabupaten Halmahera barat dengan luas 50,28 Ha.

2. Mekanisme pengawasan yang dilakukan ART/BPN maluku utara terkait kegiatan pertanian, perkebunan kehutanan dan pertambangan dengan kegiatan berdama OPD terkait. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mencegah ketidaksesuaian penggunaan lahan,

(7)

3. Data hasil penyusunan LP2B tahun 2019 menjunjukan luas baku sawah seluas 9.377 h2 yang terbagi menjadi sawah irigasi dan non irigasi.

4. Instansi ATR BPN dalam rangka kegiatan perijinan mempertimbangkan teknis pertanhaan dalam rangka penerbitan izin lokasi sesuai dengan PP no 21 tahun 2021 tentang penataan ruang.

5. Pelaksanaan reforma agrarian telah dibentuk gugus tugas reforma agrarian berdasarkan SK Gubernur dan SK walikota sudah berjalan.

6. Dampak reforma agrarian memberikan pengaruh yang siginifikan pada pendapatan masyarkat pada saat pelaksanaan penataan asset serta penataan akses dalam waktu bersamaan dan berkelanjutan.

7. Kehadiran program PTSL di maluku utara merupqakan suatukeniscayaan karena tidak akan melakukan kegiatan sertifikasi apabila tidak disubsidi pemeirntah. Selain itu juga mengurangi tingkat sengketa, konflik dan kepastia hukum.

8. Kementerian ATR /BPN telah engirimkan srat kepada seluruh gubernur agar mendukung program ini.

9. Terhadap kemungkina adanya pungli, ATR BPN secara tegas akan menindak dengan mengacu pada hukuman disiplin dan peraturan yang berlaku.

Sedangkan terkakit pidana akan di serahkan kepada penegak hukum.

10. Secara yurudis tidak ditemukan hak tanah ulayat, namun faktanya adanyatanah negara yang dikuasai oleh masyrakat bertahun tahun untuk menopang kehidupan yang tidak didukung oleh dokumen yuridis.

11. Penyebab sengketa tanah atau lahan yang terjadi di maluku utara terjadi sejak kehadiran perusahaan tambang antara lain: terjadi proses pembelian tanah;penerbitan izin yang tidak clear dan penambagangan di luar lokasi izin.

12. Peran GTRA dalam menyelesaikan konflik pertanahan di maluku utara dengan koordinasi berbagai instansi terkait.

13. Tidak terdapat konflik pertanahan dari munculnya UU cipta kerja. Dengan UU cipta kerja ini mendukung investasi dan kemudahan bisnis di maluku utara.

Tanggapan Pemprov dan Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan 1. Ada kabupaten yang belum memliki kantor pertanahan, yatu di kabupaten

taliabu. Letak kabupaten ini jauh dari kota ternate dan lebih dekat dengan Sulawesi tengah. Transportasi menuju wilayah taliabu hanya menggunakan perahu atau jalur laut saja dengan jarak tempuh yang jauh dan waktu yang lama. Sehingga pertumbuhan ekonomi daerah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain di maluku utara.

2. Konflik agraria di Pulau Taliabu berkaitan dengan tumpang tindihnya penguasaan tanah antara warga dengan perusahaan tambang yang didukung oleh pemerintah daerah Pulau Taliabu.

(8)

III. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Pertemuan dengan BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara Kesimpulan pertemuan dengan BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara sebagai berikut.

1. Untuk memberikan jaminan kepastian hukum (sistem publikasi positif) diperlukan antara lain : (1) pendaftaran tanah sejak awal; (2) pencatatan dan pendataan untuk menghindari data yuridis yang tidak tercatat secara memadai; (3) percepatan dan penyerahan sertifikat dilakukan secara cepat;

(4) penyelesaian pencatatan dan pelaporan BPHTB terhutang; (5) partisipasi warga mengikuti PTSL; (6) meminimalisir dan menyelesaikan konflik dan sengketa pertanahan, terutama konflik adat; (7) pemerintah perlu melakukan pelepasan kawasan hutan untuk dapat ditempati oleh masyarakat dan memperjelas status kawasan hutan termasuk mekanisme pendaftaran tanah untuk menghindari konflik dan tumpang tindih lahan di kemudian hari.

2. Sampai dengan semester II Tahun 2021 BPK belum melakukan kajian dampak/hubungan langsung antara investasi dan penciptaan lapangan kerja dengan konflik pertanahan. Untuk mengkaji dampak/hubungan langsung antara investasi dan penciptaan lapangan kerja dengan konflik pertanahan di Provinsi Maluku Utara perlu dilakukan pemeriksaan yang melibatkan lintas sektoral, yakni Kementerian Pusat (jika terdapat Kabupaten/kota yang masuk kawasan strategi nasional), Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah 3. Diperlukan peran GTRA dalam rangka menyelesaikan berbagai konflik

pertanahan di daerah adalah melaksanakan koordinasi dengan para pemangku kepentingan di daerah. Tim GTRA juga aktif membuat penyelesaian konflik agraria berdasarkan tipologi konflik dengan melibatkan kementerian/lembaga dalam penyelesaiannya.

B. Kesimpulan Pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kementerian ATR/BPN, dan Kementerian LHK

Kesimpulan pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kementerian ATR/BPN, dan Kementerian LHK.

1. Permasalahan persediaan blangko tahun 2020 sudah diselesaikan dengan mengikuti pedoman surat edaran sekretaris jendral kemnterian ATR/BPN.

2. Terkakit mekanisme pengawasan yang dilakukan ART/BPN maluku utara terkait kegiatan pertanian, perkebunan kehutanan dan pertambangan dengan kegiatan berdama OPD terkait. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mencegah ketidaksesuaian penggunaan lahan.

3. Pemerintah kabupaten Taliabu kurang memberikan keberpihakan kepada masyarakat dalam menghadapi konflik pertanahan dengan investor yang mengambil atau masuk ke wilayah taliabu.

(9)

C. Saran/Rekomendasi Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI Saran/rekomendasi BAKN DPR RI sebagai berikut.

1. Dalam rangka jaminan kepastian hukum (sistem publikasi positif) di Indonesia, BAKN merekomendasikan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) pendaftaran tanah sejak awal; (2) pencatatan dan pendataan untuk menghindari data yuridis yang tidak tercatat secara memadai; (3) percepatan dan penyerahan sertifikat dilakukan secara cepat; (4) penyelesaian pencatatan dan pelaporan BPHTB terhutang; (5) partisipasi warga mengikuti PTSL; (6) meminimalisir dan menyelesaikan konflik dan sengketa pertanahan, terutama konflik adat pemerintah perlu melakukan pelepasan kawasan hutan untuk dapat ditempati oleh masyarakat dan memperjelas status kawasan hutan termasuk mekanisme pendaftaran tanah untuk menghindari konflik dan tumpang tindih lahan di kemudian hari

2. BAKN menyarankan agar pemerintah pusat memperhatikan peningkatan program afirmasi dengan mempertimbangkan kekhasan daerah dan dengan aneka ragam faktor produksi yang dimiliki seperti lahan yang sangat luas dan kekayaan alam khususnya wilayah adat dan kelautan.

3. Untuk mendorong investasi, BAKN mendorong pemerintah pusat khususnya ATR/BPN perlu memastikan jaminan penataan dan legalitas pertanahan guna mendukung iklim usaha yang ondusif dan berkelanjutan.

4. Penyelesaian permasalahan pertanahan yang tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan UUPA Tahun 1960, BAKN DPR RI mendorong adanya UU yang bersifat lex specialist di bidang pertanahan baik dengan perubahan maupun UU yang dapat melengkapi UUPA itu, dalam rangka menyesuaikan kebutuhan hukum masyarakat pada bidang pertanahan dan tata ruang.

5. BAKN DPR RI merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan evaluasi dan perbaikan PTSL dan melakukan evaluasi dan perencanaan pangkatan data (database) pertanahan. Penerbitan e-sertifikat yang masih banyak permasalahan, BAKN DPR RI lebih menyarankan pencetakan sertifikat.

IV. PENUTUP

Dari kunjungan kerja ini, BAKN DPR RI dapat memperoleh secara langsung penjelasan, masukan dan pandangan dari BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara terkait permasalahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang. Dengan sejumlah pertemuan itu, dapat menjadi sarana bagi BAKN DPR RI dalam rangka melaksanakan fungsi Dewan, khususnya dalam fungsi pengawasan keuangan Negara, menyerap aspirasi dan solusi bersama dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota atas kebijakan pemerintah pusat terkait agraria/pertanahan dan tata ruang.

***

Referensi

Dokumen terkait

Jadi sistem pakar Æ kepakaran ditransfer dari seorang pakar (atau sumber kepakaran yang lain) ke komputer, pengetahuan yang ada disimpan dalam komputer, dan pengguna

Penyusunan Karya Tulis ini penulis ajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Diploma 3 pada Program Diploma 3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu

Interaksi an- tara konsentrasi asap cair batang tembakau de- ngan lama perendaman tidak berpengaruh pada kekerasan, warna, aroma, dan total bakteri daging ikan gurami

Tidak boleh melakukan tindakan yang menyangkut risiko pribadi atau tanpa pelatihan yang sesuai.. Evakuasi

Dari populasi target tersebut didapatkan populasi yang dapat dijangkau oleh peneliti (populasi terjangkau) adalah remaja obesitas di SMK Negeri 2 Tondano dan SMK Negeri 3

Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakra tali, puli sabuk mesin, piringan kabel, tromol kabel, roda jalan, dan roda gigi, dipasang berputar terhadap poros dukung yang

Akan tetapi, penemuan tersebut bukan merupakan tanda pasti faringitis Streptokokus, karena dapat juga ditemukan pada penyebab tonsilofaringitis yang lain.. Sedangkan

Sebagai mana dalam pasal 1.4 redaman dalam struktur sebenarnya biasanya dianggap sama dengan redaman viskos. Definisi sederhana dari persamaan redaman viskos