• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR PERANCANGAN PERUMAHAN-PERMUKIMAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGANTAR PERANCANGAN PERUMAHAN-PERMUKIMAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Modul Kuliah

PENGANTAR PERANCANGAN PERUMAHAN-PERMUKIMAN

Ismet Belgawan Harun

Kuliah 01: Pengertian dan Konsep Perumahan dan Permukiman

(2)

BAGIAN 1 UMUM

PENDAHULUAN CAKUPAN KULIAH 1

Modul ini adalah salah satu dari empat (4) modul kuliah tentang perumahan dan permukiman.

Keempat modul ini adalah 1) modul berisi pemahaman tentang perumahan-permukiman, proses pembangunan dan perkembangannya, yang termuat di dalam buku modul ini; 2) modul berisi materi tentang proses perencanaan dan perancangan sebagai salah satu tahapan pembangunan/pengadaan perumahan-

permukiman; 3) modul tentang faktor-faktor dan pertimbangan-pertimbangan dalam perencanaan dan perancangan perumahan-permukiman, dan 4) modul yang berisi aspek aspek penting

perencanaan fisik lingkungan perumahan, yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan fisik suatu lingkungan perumahan baru. Keempat modul ini kemudian dipilah lagi menjadi sejumlah materi perkuliahan sesuai dengan jumlah kuliah yang diperlukan untuk keseluruhan kuliah ini.

Secara umum, teks di dalam modul ini bersifat mengantarkan. Terdapat teks narasi yang

langsung menjelaskan. Akan tetapi di dalam suatu narasi terdapat beberapa kata atau frasa yang memiliki konsep yang perlu dijelaskan/dibahas lebih lanjut. Substansi yang perlu dijelasan/dibahas lebih lanjut ini dapat menggunakan rujukan lain yang relevan, atau berdasarkan pengetahuan yang dimiliki instruktur. Kata dan frasa yang demikian ini di dalam teks diberi kotak yang melingkarinya.

cakupan tentang Kuliah 1 berisi sebagai berikut:

 Pemahaman tentang lingkungan perumahan dan lingkungan permukiman sebagai “entitas”, dan mengetahui perbedaan dan keterkaitan di antara keduanya.

 Pemahaman tentang proses pembangunan dan pengadaan lingkungan perumahan/

permukiman, yang (sebenarnya) tidak

“terisolasi” dalam pembangunan/ pengadaan pada suatu lingkup tertentu saja, tetapi seharusnya menjadi bagian dari

pembangunan permukiman dan tata ruangnya yang bersifat terintegrasi dan komprehensif antar berbagai paras (level).

 Pengetahuan tentang proses perencanaan dan perancangan suatu lingkungan

perumahan atau permukiman, yang bersifat bertahap, memiliki beberapa “jenis” tergantung pada skala lingkungan yang menjadi lingkup perencanaan/ perancangannya, serta keterkaitannya dengan proses pembangunan/

pengembangan lingkungan perumahan- permukiman.

 Pengetahuan tentang aspek penting perencanaan fisik suatu lingkungan perumahan terkait dengan pengaturan (ordering) suatu lingkungan yang terdiri dari banyak unit yang berulang.

(3)

BAGIAN 2 : PENGERTIAN, KONSEP, DAN SIFAT-SIFAT BAGIAN 3 PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

Bagian ini berisi uraian dan penjelasan untuk mengantarkan pada pembaca tentang pengertian perumahan dan permukiman: Di sini diberikan catatan tentang apa yang “menyamakan” perumahan dan permukiman dan apa yang membedakannya.

1. Konsep/Pengertian PERUMAHAN (dan PERMUKIMAN) 1.1 Pengertian PERUMAHAN (dan

Permukiman) dalam Arti Umum Perumahan (dan permukiman) adalah tempat manusia tinggal dan hidup di dalamnya. Terdapat sejumlah definisi yang saling memperkuat dan melengkapi tentang perumahan dan permukiman, sehingga perumahan-permukiman secara umum dapat didefinisikan/ dikonsepkan sebagai berikut (Turner, 1972, 1976; Verschure, 1979):

Dari akar katanya, perumahan dapat dilihat sebagai...

a. suatu “benda” (dari a house); dan untuk itu dapat didefinisikan sebagai :

Lingkungan fisik (wadah), yang dalam arti kongkritnya dapat dilihat sebagai hunian beserta infrastruktur dan lingkungannya.

Aspek-aspeknya adalah susunan/tatanan ruang, material/hardware, komponen konstruksi, dan unsur fisik lainnya.

b. suatu proses (dari to house); dan didefinisikan sebagai :

 Proses pengorganisasian pengadaan lingkungan fisik (yang uraiannya ada dalam butir di atas) :

- Pengorganisasian komponen- komponen pengadaannya (tanah, material, teknologi, tenaga kerja, peralatan, pembiayaan, dll)

- Pelaku dan organisasi membangunnya - Tatanan hukum untuk membangunnya

 Proses pemberian makna, yaitu makna yang diberikan terhadap perumahan dalam bentuk persepsi dan interpretasi bagi:

- Perorangan

- Komunitas/kelompok - “Pemakai tak langsung”

Karenanya…

Menurut Turner:

Perumahan/permukiman merupakan penstruktur lingkungan manusia dan

distrukturkan manusia berdasar suatu tatanan dan ekspresi budaya tertentu.

Terjadi hubungan eksistensial antara manusia dan lingkungannya (perumahan dan

permukiman)

Hubungan eksistensial adalah hubungan timbal balik tentang keberadaan suatu lingkungan perumahan/permukiman yang tidak terlepas dari keberadaan manusia yang terdapat di dalamnya

(4)

1.2 Pengertian dan sifat (suatu lingkungan) PERUMAHAN dalam Arti Khusus

Apabila perumahan sebagai suatu fenomena yang mengandung hubungan antara entitas lingkungan dengan manusia yang terdapat di dalamnya dikonsepkan dan didefinisikan lebih spesifik untuk membedakannya dari permukiman sebagai fenomena lainnya, maka hal hal berikut ini perlu dipahami.

Sebagai suatu lingkungan, perumahan merupakan suatu lingkungan hunian yang tersusun dari sejumlah rumah dan infrastruktur serta fasilitasnya, yang dikembangkan (direncanakan, dirancang dan dibangun) secara terorganisasi dan kolektif oleh suatu organisasi. Oleh sebab itu, suatu lingkungan perumahan dapat diadakan atau diselenggarakan secara serta-merta dan sekaligus (oleh organisasi tersebut).

Sifat Fisik Lingkungan Perumahan.

 Karena dikembangkan secara terorganisasi dan secara kolektif (oleh suatu organisasi), suatu lingkungan perumahan (mudah) memiliki atau diberi pola yang regular. Sering dikatakan perumahan adalah suatu bentuk yang direncanakan.

 Perumahan sebagai suatu lingkungan, lebih berfungsi sebagai tempat tinggal, sedangkan sumber penghidupan warganya dapat berasal dari lingkungan lain.

 Ukuran lingkungan perumahan bervariasi.

Terbesar adalah dalam bentuk new town.

Sifat Non Fisik Perumahan

 Penghuninya adalah “sekumpulan”

warga/penduduk, dan mereka tidak selalu mengelompok sebagai suatu komunitas.

 Aturan-aturan atau norma yang berlaku dalam suatu lingkungan perumahan biasanya dihasilkan karena suatu kesepakatan di antara warganya, bukan hasil proses yang bersifat turun-temurun.

Perumahan seukuran hamparan

Perumahan sukuran kawasan Sumber: Keeble, 1972

https/….

Perumahan seukuran bagian dari kawasan Gambar 1. Sifat fisik lingkungan perumahan: Ukuran

dapat berbeda beda; berpola terencana

(5)

1.3 Pengertian PERMUKIMAN dalam Arti Khusus

Permukiman adalah/sebagai tempat dengan fungsi dan aktifitas utama sebagai hunian TETAPI terdapat totalitas dengan fungsi dan aktifitas sosial, budaya dan ekonomi. Artinya, suatu “permukiman”

adalah suatu lingkungan tempat kehidupan manusia dan dibentuk oleh kegiatan dan kondisi ekonomi, sosial, dan budaya manusia di dalamnya. Suatu lingkungan permukiman bukan hanya lingkungan tempat tinggal.

Ada beberapa sifat yang dimiliki suatu lingkungan yang merupakan suatu permukiman:

 Memiliki jaringan ekonomi, sosial dan budaya (ke dalam dan keluar)

 Masyarakatnya cenderung berbentuk komunitas

 Norma dan aturan-aturan hidup di dalamnya cenderung sudah mengakar

 Batas-batas (fisik)nya tidak diskret (bersifat kontinu; batas-batasnya tergantung dari sudut mana kita melihatnya)

 Memiliki dinamika yang khas, dilihat dari:

- karakter lingkungannya - fungsi, kegiatannya

- norma, aturan yang dimilikinya - kondisi soial, budaya dan ekonominya

 Dapat tumbuh, berkembang, dan redup Berdasar ciri-ciri di atas, permukiman tidak dapat dibentuk secara serta merta. Diperlukan waktu yang panjang untuk keberadaannya, dan proses

pembentukannya berasal “dari bawah”.

Sifat Fisik Lingkungan PERMUKIMAN Terdapat beberapa sifat fisik dari lingkungan permukiman yaitu :

 Perkembangannya incremental (sedikit demi sedikit, bertahap)

 Karena berkembang secara inkremental, suatu lingkungan permukiman secara keseluruhan cenderung tidak memiliki pola yang terencana

 Ukuran lingkungan permukiman sangat bervariasi: dari seukuran DESA sampai dengan seukuran KOTA

a) Suatu permukiman berukuran 40 m x 60 m di India Sumber: UNCHS, 1982

b) Suatu permukiman berukuran 1 km x 1 km di Yunani Sumber: Doxiadis, 1968

Gambar 2. Dua contoh lingkungan permukiman yang masing masing dengan ukuran yang berbeda jauh

(6)

Seukuran hamlet (dusun) (200 m x 200 m)

Seukuran kota kecil (2 km x 2 km)

Seukuran region (20 km x 20 km)

Sumber: Doxiadis, 1968

Gambar 3. Variasi Ukuran Lingkungan Permukiman: dari seukuran dusun sampai dengan suatu wilayah (region)

(7)

2. Pertumbuhan dan Perkembangan Permukiman

Permukiman dapat mengalami perubahan-perubahan karena proses pertumbuhan (growth) dan/atau perkembangan (development), yang masing-masing dapat didefinisikan sebagai berikut.

Pertumbuhan: Merujuk pada proses perubahan unsur-unsur/aspek-aspek yang bersifat kuantitatif (luas, kepadatan, besaran-besaran kuantitatif lain)

Perkembangan: Merujuk pada proses perubahan unsur-unsur/aspek-aspek yang bersifat kualitatif (perubahan fungsi, kualitas lingkungan, kesejahteraan masyarakatnya, dll)

2.1 Jenis-jenis dasar

pertumbuhan/perkembangan

Di dalam kedua jenis proses perubahan tersebut, terdapat beberapa sub-jenis proses perubahan lebih lanjut dari proses perubahan terhadap suatu lingkungan permukiman. Dua sub jenis dasar dari perubahan suatu permukiman adalah proses densifikasi dan proses ekspansi.

Densifikasi (pemadatan)

Densifikasi adalah proses pemadatan dari suatu lingkungan permukiman, yang bisa berlangsung karena dua kemungkinan: bertambahnya jumlah unsur permukiman (terutama hunian) dan/atau bertambah besarnya ukuran (luas) masing-masing unsur hunian dalam suatu areal lingkungan permu- kiman tertentu, sementara ukuran areal ini relatif tidak berubah. Dengan demikian, oleh proses ini terjadi peningkatan luas bagian areal yang tertutup oleh bangunan atau unsur hunian permukiman tersebut. Atau, dengan desifikasi terjadi

peningkatan ketertu-tupan areal suatu lingkungan permukiman oleh unsur-unsur permukiman

tersebut, terutama oleh unsur bangunan huniannya.

Ekspansi

Ekspansi adalah proses perluasan suatu lingkungan permukiman, yang terjadi karena terjadi

penambahan jumlah satuan-satuan lingkungan permukiman (terutama hunian) pada areal di luar areal lingkungan permukiman awal/sebelumnya.

Ekspansi atau perluasan ini terjadi apabila prosesnya berkesinam-bungan dari areal

permukiman awal, sehingga areal suatu lingkungan permukiman menjadi lebih luas dari sebelumnya.

Sumber: UNCHS, 1982

Gambar 4. Dua conto proses densifikasi (pemadatan) Dalam kenyataannya, proses densifikasi dan ekspansi pada suatu lingkungan permukiman seringkali berjalan bersamaan. Gambar 5 menunjukkan suatu conto dari suatu lingkungan permukiman yang dalam kurun waktu 16 tahun mengalami perubahan melalui proses perluasan ke arah Utara (atas) selain karena adanya densifikasi karena adanya penambahan jumlah hunian dan membesarnya sejumlah hunian di areal awal (di bagian bawah).

(8)

Akresi

Akresi adalah proses pembelahan suatu persil/bidang tanah dari suatu pemilikan ke sejumlah pemilikan berikutnya yang kemudian diikuti dengan pembangunan bangunan hunian di atasnya di atas bidang-bidang persil hasil

pembelahan ini. Pembelah-an persil ini bisa terjadi karena proses transaksi jual beli dari pemilik tanah semula yang menjual sebagian tanahnya (melalui pembelahan) kepada pemilik lain. Kemungkinan lain pembelahan terjadi karena proses waris.

Banyak kampung perkotaan di Indonesia terjadi karena proses akresi terhadap lingkungan yang sebelumnya berupa persawahan atau ladang.

Sejumlah pemilik tanah di atas sawah atau ladang ini (biasanya awalnya dengan ukuran yang cukup luas), membelah pemilikannya masing-masing dan memindahkan pemilikannya pada pembeli atau melalui waris pada keturunannya. Pemilik-pemilik tanah berikutnya ini yang kemudian membangun hunian yang membentuk suatu kampung.

Akresi sebenarnya menghasilkan densifikasi dan/atau ekspansi, tergantung letak dari prosesnya relatif terhadap kumpulan hunian sebelumnya.

Invasi

Proses ini lebih berkaitan dengan pembentukan sua-tu permukiman. Seperti tercermin dari namanya, proses ini menunjukkan bahwa

permukiman yang terbentuk adalah melalui proses invasi (“penyerbuan”). Suatu komunitas mencari dan menduduki tanah pihak lain yang terlantar dan kemudian mem-bangun permukiman di atasnya.

Tentu saja prosesnya illegal, sehingga status permukimannya adalah liar. Pembentukan

permukiman seperti ini di Indonesia dapat dijumpai di bantaran sungai atau di pinggiran rel KA. Dalam skala lebih besar, pembentukan per-mukiman liar semacam ini banyak terjadi di kota-kota besar di beberapa negara Amerika Latin dan negara-negara berkembang lain, seperti Manila, dan Bang-kok (contoh sebelum tahun 2000-an: permukiman liar

Sumber: UNCHS, 1982

Gambar 5. Pertumbuhan permukiman melalui proses densifikasi dan ekspansi dalam kurun waktu

sekitar 20 tahun

(9)

Suksesi

Proses ini lebih terkait dengan proses perkemba- ngan suatu permukiman (ketimbang pertumbuhan- nya). Dalam hal ini, suatu segmen masyarakat yang lebih mampu menggantikan sebagian penghuni suatu permukiman melalui suatu proses pasar yang

“normal”: jual – beli.

Banyak kampung di Jakarta beberapa saat setelah pelaksanaan KIP (Kampung Improvement

Program), yaitu program perbaikan kampung di tahun 1970-an dan 80-an, menjadi lebih baik sehingga nilai propertinya meningkat, dan mendorong penghuni menjual huniannya kepada orang luar (yang secara ekonomi relatif lebih sejahtera dari penduduk setempat). Penduduk setempat yang menjual huniannya kemudian pindah ke wilayah yang lebih pinggir (dan lebih rendah nilai propertinya) sehingga mendapatkan selisih

pendapatan dari penjualan dari huniannya di kampung mereka sebelumnya

Kampung-kampung ini kemudian mengalami

“suksesi” karena sebagian penduduk aslinya telah digantikan oleh penduduk dari luar. Karena secara ekonomi penduduk dari luar ini lebih sejahtera, mereka kemudian memperbaiki huniannya (dan kampungnya) sehingga kampung ini menjadi lebih baik. Kampung-kampung ini kemudian berkembang menjadi “lebih sejahtera” karena adanya penduduk yang lebih sejahtera (yang berasal dari luar) dan kondisi fisik kampungnya menjadi lebih baik.

Gentrifikasi

Gentrifikasi adalah proses lebih lanjut dari proses suksesi, yaitu apabila pergantian penghuni setempat oleh penduduk dari luar terjadi dan bersifat lebih luas dan lebih intensif, bahkan cukup banyak di antara mereka termasuk dalam segmen

berpenghasilan tinggi dari masyarakat kota. Contoh kampung di Jakarta yang mengalami gentrifikasi adalah Kampung Setiabudi atau beberapa lingkungan permukiman di Selatan jalan tol T.B.

Simatupang yang telah berubah menjadi permukiman kelas atas, sementara penduduk aslinya telah “terpinggirkan” ke lingkungan lain.

3. Keberadaan Perumahan dan Permukiman 3.1 Statistik keberadaannya

Dalam lingkup lingkungan perkotaan, perumahan dan permukiman baik secara luasan areal maupun sebagai tempat tinggal atau tempat bermukim manusia merupakan pengunaan tanah yan penting.

Antara 50% sampai dengan 70% areal perkotaan adalah berupa lingkungan perumahan-permukiman.

Demikian pula, dilihat dari jumlah manusia yang berada di dalamnya, mayoritas penduduk perkotaan berada di lingkungan perumahan-permukiman.

Di daerah non-perkotaan atau di daerah perdesaan, selain areal-areal pertanian dan perladangan yang merupakan penggunaan tanah terbesar, lingkungan perdesaan (di luar lingkungan hutan atau

lingkungan alami lainnya) umumnya berupa lingkungan permukiman.

3.2 Keterkaitan-keterkaitan

Pentingnya lingkungan perumahan-permukiman juga dapat dilihat dari keterkaitan-keterkaitannya.

 Perumahan-permukiman merupakan

sumber/tujuan/bagian penting dari mobilitas manusia, baik di lingkungan perkotaan maupun di lingkungan perdesaan.

 Suatu lingkungan perumahan-permukiman memiliki interaksi signifikan dengan lingkung- an sekitarnya, baik secara fisik, ekologis (aliran energi, siklus materi, dan siklus hidrologi), maupun fungsional. Keberadaan- nya juga terkait dengan aktifitas dan memiliki pengaruh-pengaruh ekonomi, sosial, dan budaya.

Oleh karena itu, adanya interaksi-interaksi ini dapat berakibat pada adanya dampak-dampak positip dan negatip yang bersifat timbal balik antara suatu lingkungan perumahan/permukiman dengan lingkungannya.

(10)

3.3 Keberadaan permukiman informal

Permukiman informal merupakan suatu fenomena yang banyak terjadi di kota-kota negara-negara berkembang. Permukiman informal adalah suatu permukiman yang perkembangannya melalui proses yang “informal”, yaitu tidak mengikuti rencana formal dan prosesnya berjalan secara informal (kebanyakan tidak mengikuti kelembagaan pembangunan yang bersifat formal). Selain itu, banyak permukiman informal yang dihuni oleh masyarakat yang bekerja

.

pada sektor informal, yang sebagian di antaranya bahkan dilakukan di dalam permukiman yang bersangkutan (kebanyakan dari penghuninya ini berpenghasilan rendah) sehingga perlu menjadi perhatian segala pihak.

Permukiman informal perkotaan merupakan fenomena yang penting karena besarannya (jumlah penduduk dan luas wilayahnya) yang cukup signifikan. Juga merupakan fenomena penting karena isu-isu sosial dan isu-isu ingkungan pemukimannya yang menonjol

a) Jakarta b) Kuala Lumpur

c) Dacca (Pakistan) d) Kingston (Jamaica)

(11)

4. Unsur-unsur Perumahan dan Permukiman Kita dalam beberapa kesempatan mungkin harus mendeskripsikan suatu lingkungan perumahan atau permukiman. Dalam hal ini, diperlukan suatu kerangka yang dapat dipakai untuk

mendeskripsikannya. Kerangka ini dapat berupa kerangka dari unsur-unsur perumahan atau permukiman. Unsur-unsur perumahan-permukiman dapat dirumuskan menurut beberapa definisi. Di dalam modul ini, rumusan kerangka unsur-unsur diambil dari Doxiadis (1968), seorang arsitek yang juga pengamat dan penulis permukiman. Menurut dia, unsur-unsur suatu lingkungan permukiman terdiri dari:

 Manusia : individu, kelompok, masyarakat (karakter, kondisi, aktifitas, dimensi sosio- ekonominya, dsb.)

 Naungan atau struktur (atau disebut oleh Doxiadis “shells”)

 Jejaring atau sistem jaringan, yang terdiri dari:

- Jaringan fisik (terutama infrastruktur) - Jaringan fungsional (hubungan

fungsional/kegiatan antara berbagai tempat/lokasi)

- Jaringan ekonomi (hubungan kegiatan atau fungsi ekonomi antar pelaku) - Jaringan sosial dan budaya antar

anggota masyarakat atau antar kelompok masyarakat

 Unsur-unsur alam, yang didefiniskan sebagai suatu kesatuan dari:

- Unsur materi dan siklusnya - Unsur energi dan alirannya) - Unsur air dan siklus hidrologi yang

berlangsung

(Pembahasan tentang unsur materi dan siklusnya, unsur energi dan alirannya, dan unsur air serta siklus hidrologinya, dapat dirujuk pada buku-buku teks tentang ilmu lingkungan)

Gambar 7. Unsur-unsur Perumahan Permukiman

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 90 Pemeliharaan rumah, perumahan, permukiman, lingkungan hunian, kawasan permukiman dan PSU Pasal 93 Perbaikan umah, perumahan, permukiman, lingkungan hunian,

Proses ini bahkan telah dilakukan peneliti selama mengikuti mata kuliah seminar penulisan karya ilmiah Dalam proses ini, peneliti mengumpulkan banyak buku yang

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang

Jika anda akan pergi untuk waktu yang lama, keluarkan semua makanan, lepaskan kabel listrik dari stopkontak, bersihkan bagian dalam secara seksama, dan biarkan semua pintu

Pola komunikasi dalam interaksi kyai dan santri penghafal Al-Qur’an dalam meningkatkan jumlah hafalan adalah pola komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok. Komunikasi

Melihat adanya keterkaitan antara krisis emosional yang sering dihadapi oleh mahasiswa di usia 20-an karena menghadapi quarter-life crisis yang berdampak buruk

Dota 2 adalah Game yang bergenre Massively Multiplayer Online Role- playing Games (MMORPG). Dimana suatu tim bertujuan untuk menghancurkan ancient miliki tim lawan

Penelitian yang dilakukan ini menggunakantrianggulasi sumber, yaitu melihat sesuatu yang sama (persepsi terhadap objektivitasdata), dari berbagai perspektif yang