• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa dan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada abad pengetahuan yaitu abad ke-21 seperti saat ini sangat diperlukan sumber daya manusia berkualitas tinggi dan memiliki keahlian, yaitu mampu bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, mampu berkomunikasi, serta mampu belajar sepanjang hayat (Riastuti & Febrianti, 2021). Dalam dunia pendidikan, perkembangan keterampilan sangat dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tanpa adanya keterampilan, seorang siswa tidak dapat mewujudkan idenya untuk membuat karya.

Selain itu, agar karyanya ingin dihargai maka peserta didik harus memiliki sikap yang dapat diterima oleh orang lain (Nahdiah & Handayani, 2021). Akan tetapi, dalam praktik pemberdayaan kemampuan berpikir tingkat tinggi tersebut terdapat beberapa hambatan yang mengakibatkan rendahnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Dari hambatan tersebut salah satunya berasal dari proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah masih berpusat pada guru (teacher centered), sehingga kurang melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif pada siswa (Nuryanti et al., 2018).

Rendahnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, berdasarkan hasil wawancara di dua sekolah yaitu di SMA Negeri 1 Kauman dan SMA Negeri 1 Tulungagung, bahwa salah satu permasalahan pembelajaran di sekolah tersebut yaitu pembelajaran masih berbasis teacher centered karena metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah sehingga tidak sedikit siswa yang mengalami kejenuhan dalam mengikuti proses pembelajaran, akibatnya banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi yang telah disampaikan oleh guru. Pada pembelajaran biologi banyak materi yang bersifat kontekstual serta terdapat beberapa materi yang kadang dianggap sulit karena masih bersifat abstrak misalnya materi sistem saraf pada manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat (Nuryanti et al., 2018) menyatakan bahwa rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa antara lain dikarenakan proses pembelajaran didominasi oleh guru, pembelajaran cenderung menghafal daripada mengembangkan pola pikir (daya

(2)

pikir) sehingga siswa cenderung lemah dalam menyampaikan gagasan/ide sendiri, lemah dalam menganalisis, terus bergantung kepada orang lain, dan tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa disebabkan, antara lain: (1) selama pembelajaran dalam mengajarkan pemecahan masalah (soal cerita) siswa tidak dilatih secara khusus bagaimana memahami informasi masalah. Guru hanya mengajarkan dengan memberi contoh soal dan menyelesaikannya secara langsung, serta tidak memberi kesempatan siswa menunjukkan ide atau representasinya sendiri, (2) pola pengajaran masih dengan tahapan memberikan informasi tentang materi-materi (termasuk memotivasi secara informatif), memberikan contoh-contoh dan latihan- latihan tetapi jarang soal cerita, (3) dalam merencanakan penyelesaian masalah tidak diajarkan strategi-strategi yang bervariasi yang mendorong kemampuan berpikir kreatif untuk menemukan jawaban masalah (Siswono, 2005).

Memperhatikan akar masalah tersebut, maka upaya penting yang harus dilakukan adalah dengan mengajarkan dan melatih untuk dapat memilikinya.

Kemampuan berpikir kritis harus dilatih pada siswa karena berpikir kritis memungkinkan siswa untuk menganalisis pikirannya dalam menentukan pilihan dan menarik kesimpulan dengan cerdas. Apabila siswa diberi kesempatan untuk menggunakan pemikiran dalam tingkatan yang lebih tinggi di setiap tingkatan kelas, maka siswa akan terbiasa membedakan antara kebenaran dan kebohongan, penampilan dan kenyataan, fakta dan opini, pengetahuan dan keyakinan (Kurniawati et al., 2014). Salah satu cara untuk melatihkan kemampuan berpikir kritis adalah melalui proses pembelajaran. Sedangkan upaya untuk mengajarkan dan melatih kemampuan berpikir kreatif siswa yakni dengan cara menekankan pada proses pembelajarannya, karena proses tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab profesional guru sehari-hari dan akan berdampak pada tugas-tugas di kelas berikutnya. Bila mengacu pada identifikasi penyebab kelemahan tersebut, maka dalam proses pembelajaran diperlukan cara yang mendorong siswa untuk memahami masalah, meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyusun rencana penyelesaian dan melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan sendiri penyelesaian masalah, serta mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator (Siswono, 2005).

(3)

Berdasarkan pemaparan di atas bahwa salah satu model dan strategi pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan psikomotorik siswa dengan berpikir tingkat tinggi dan kreatif salah satunya menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Model pembelajaran Project Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mengarah pada kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa serta mendorong bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata (Mulyani et al., 2020). Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) sangat cocok diterapkan pada materi pembelajaran biologi karena produk yang dihasilkan dapat digunakan sebagai media dan diterapkan pada proses pembelajaran berlangsung. Model pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam merancang, membuat dan menyajikan produk untuk menyelesaikan suatu masalah (Riastuti & Febrianti, 2021). Sistem pembelajaran PjBL, guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator belajar sehingga dalam memecahkan permasalahan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan secara mandiri maupun berkelompok dengan arahan atau bimbingan guru. Hal ini peserta didik dilatih dengan kemampuannya berpikir kritis dan kreatif yang dapat menumbuhkembangkan siswa ke arah optimal, maka perlu diberikan pengalaman belajar otentik serta kemampuan pemecahan masalah (Redhana, 2012).

Project Based Learning (PjBL) merupakan alternatif model pembelajaran yang cocok diberlakukan dalam kurikulum merdeka (prototype), dikarenakan PjBL mampu memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiental learning), mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu, struktur belajar yang fleksibel (Sadewa, 2022). Hal ini sejalan dengan pendapat (Wicaksana & Sanjaya, 2021), yang menyatakan bahwa salah satu upaya yang dapat diterapkan pada era merdeka belajar untuk meningkatkan sikap ilmiah siswa yaitu dengan menerapkan suatu metode pembelajaran. Pemberian kesempatan kepada siswa dalam membangun serta menumbuhkembangkan pengetahuannya sendiri juga perlu dilakukan. Diperlukan suatu model pembelajaran yang terdapat sintaks untuk pemecahan masalah (Safithri et al., 2021; Zeptyani & Wiarta, 2020). Model pembelajaran yang potensial dan efektif dalam mengembangkan domain tersebut adalah Project Based Learning

(4)

(PjBL) (Purwanto et al., 2021; Riska & Dian, 2018). Model tersebut mengacu pada metode instruksional yang berpusat pada siswa sehingga mampu melibatkan siswa dalam mengonstruksi pengetahuan dengan memberikan proyek dan mengembangkan produk dunia nyata (Sukmasari & Rosana, 2017).

Project Based Learning (PjBL) memiliki kelebihan antara lain menumbuhkan kemandirian siswa, meningkatkan sikap tanggung jawab untuk mereka sendiri, mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah, dan memperluas akses untuk belajar (Setiawan et al., 2021). PjBL juga merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai inti pembelajaran. Model berbasis proyek memiliki potensi yang sangat besar untuk membuat pengalaman belajar yang lebih berkesan dan bermanfaat bagi siswa, karena dalam kerja proyek sangatlah diperlukan adanya sikap ilmiah dan kreativitas (Nair & Suryan, 2020).

Akan tetapi, PjBL juga memiliki kelemahan antara lain terbatasnya tahap penjelasan dari guru dan tidak adanya tahap pemberian penghargaan (giving reward) serta kurangnya apresiasi terhadap produk yang telah dikerjakan oleh siswa dengan mengkomunikasikannya kepada yang lain, seperti mempertunjukkan dan memamerkan hasil karya siswa (Hindun & Husamah, 2019; Munandar, 2009). Hal ini sejalan dengan pendapat (Sholekah, 2020), yang menyatakan bahwa kelemahan PjBL antara lain memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan proyek, banyaknya peralatan yang digunakan, ada kemungkinan besar siswa pasif dalam kelompok, serta membutuhkan biaya yang cukup banyak. Sehingga model pembelajaran tersebut masih perlu diintegrasikan dengan pendekatan yang mampu memberikan dorongan maupun apresiasi dari lingkungan masyarakat, seperti orang tua dan guru serta mampu menghasilkan output baru, unik, berguna dan bernilai bagi siswa yakni pendekatan 4P (Person, Press, Process, and Product). Oleh karena itu dengan adanya pendekatan 4P ini diharapkan siswa mampu mengembangkan bakat dan menggugah minat siswa untuk berkreasi serta kreatif (Fauziah, 2013).

Empat (4) P adalah sebuah pendekatan yang dikembangkan oleh Rhodes pada tahun 1961 untuk mengamati atau melihat definisi tentang kreativitas. Empat (4) P sendiri biasa disebut dengan “Four P’s of Creativity : Person, Press, Process, and Product”. Dari keempat definisi kreativitas tersebut, sangat penting di era ini untuk diimplementasikan di dalam pendidikan. Mengingat bahwa kreativitas sangat

(5)

dibutuhkan di dunia pendidikan untuk meningkatkan lulusan SDM yang berkompeten dan memiliki hard skill serta soft skill. Selain itu, tidak hanya kreativitas saja yang dibutuhkan akan tetapi harus diiringi dengan kemampuan berpikir kritis yang mana harus dimiliki oleh semua siswa, karena dengan demikian siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan dengan baik (Munandar, 2009).

Makna pendekatan 4P bagi guru adalah suatu upaya yang dilakukan untuk tercapainya learning object, materi diterima dengan mudah, meningkatkannya bakat dan minat siswa dalam pembelajaran, terselesaikannya problem yang dihadapi peserta didik, terwujudnya intelektual yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan kepuasan dalam mengajar. Sedangkan makna pendekatan 4P bagi peserta didik adalah dapat meningkatkan aktualisasi diri, berpikir secara kritis, kreatif, percaya diri, kepuasan dalam belajar dan dapat meningkatnya kualitas hidup (Hanip & Fahrudin, 2020). Disamping makna pendekatan 4P bagi guru dan siswa, terdapat keistemewaan tersendiri dari pendekatan 4P yakni pendekatan ini merupakan pendekatan yang patut dimanfaatkan sebaik mungkin demi terlaksananya pendidikan yang harmonis dalam upaya mewujudkan siswa yang memiliki daya saing serta memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif dan maju di tengah perkembangan kehidupan masyarakat yang kian mengglobal. Adanya pendekatan 4P ini juga menjadi sarana positif bagi guru dalam proses kegiatan belajar mengajar yang aktif, inovatif, demokratis, interaktif dan terbuka. Sehingga pada akhirnya dapat terciptanya output siswa yang unggul dalam melakukan pekerjaan (Hanip & Fahrudin, 2020; Mahmud, 2016).

Berpikir kritis dan kreatif merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pentingnya kemampuan berpikir kritis ini ditandai dengan mampu berpikir secara reflektif, dan produktif serta dapat menganalisis situasi yang didasarkan fakta. Menurut (Wahyuni, 2015) dengan berpikir kritis siswa mampu dalam menganalisis situasi yang didasarkan fakta maupun bukti yang real. Kemudian dilakukan penyusunan argumen ataupun hasil data yang didapatkan dan disusun menjadi satu keputusan atau ide yang kompleks. Sedangkan berpikir kreatif merupakan kemampuan membangun ide atau solusi guna untuk menyelesaikan permasalahan dan menciptakan hal yang tidak diduga sebelumnya (Rohana &

Wahyudin, 2016). Berpikir kreatif memiliki empat indikator antara lain yaitu

(6)

berpikir luwes (flexibility), berpikir lancar (fluency), berpikir rinci (elaboration), dan berpikir orisinil (originality) (Abida, 2017). Berpikir kreatif tidak saja bergantung kepada potensi bawaan tiap individu, akan tetapi bisa dibekalkan melalui lingkungan belajar yang merangsang berpikir kreatif siswa. Hal ini siswa perlu diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas dan diberikan fasilitas yang dibutuhkan, sehingga akan muncul kepercayaan diri yang berperan dalam memberikan semangat serta motivasi kepada tiap individu untuk dapat bereaksi secara tepat terhadap tantangan dan kesempatan yang akan datang (Khumaeroh &

Sumarni, 2019).

Berbagai penelitian yang membahas terkait model Project Based Learning sudah banyak, antara lain (Juanengsih et al., 2018; Muskania & Wilujeng, 2017;

Nugroho et al., 2019), hingga Project Based Learning yang dipadukan dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif (Salam & Wahyuni, 2021; Trimawati et al., 2020). Akan tetapi, masih belum ada penelitian yang membahas mengenai pengaruh Project Based Learning melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Kebanyakan dari beberapa penelitian masih membahas mengenai pengaruh pembelajaran STEM berbasis PjBL terhadap keterampilan berpikir kritis dan kreatif, sehingga perlu diteliti lebih lanjut mengenai pengaruh model Project Based Learning melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa.

Beberapa model pembelajaran yang telah dilaporkan bahwa terdapat pengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis dan kreatif salah satunya model Project Based Learning pada penelitian (Ananda et al., 2021). Menurut Bell (2010), menyatakan bahwa model Project Based Learning mampu memberdayakan kompetensi abad ke-21 secara optimal. Project Based Learning merupakan model pembelajaran alternatif yang disarankan bagi peneliti dikarenakan dapat menghasilkan output berupa tugas proyek, sehingga dapat memberdayakan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Hal ini sejalan dengan pernyataan (Pradita et al., 2015), menyatakan bahwa model Project Based Learning mengandung beberapa proses pembelajaran yang berbeda, yang mana model ini sangat baik dan dapat meningkatkan kualitas aktivitas siswa. Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk

(7)

mengetahui pengaruh model Project Based Learning (PjBL) melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa pada pembelajaran biologi SMA di Tulungagung.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Adakah pengaruh model Project Based Learning melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran biologi SMA di Tulungagung ?

2. Adakah pengaruh model Project Based Learning melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada pembelajaran biologi SMA di Tulungagung ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh model Project Based Learning melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran biologi SMA di Tulungagung.

2. Untuk mengetahui pengaruh model Project Based Learning melalui pendekatan 4P terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada pembelajaran biologi SMA di Tulungagung.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam sebuah penelitian tentu mempunyai beberapa manfaat yang dapat kita peroleh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan praktis dalam upaya perbaikan pembelajaran biologi, diantaranya sebagai berikut :

1.4.1 Secara Teoritis

Penelitian ini memberikan informasi bahwa model Project Based Learning (PjBL) melalui pendekatan 4P dapat mempengaruhi terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam pembelajaran biologi, sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi pembelajaran di sekolah terkait efektifitas model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar.

(8)

1.4.2 Secara Praktis a. Bagi Siswa

Penelitian ini dapat menjadikan solusi dalam memahami materi pada pembelajaran biologi, dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, serta dapat melatih untuk bekerja sama dalam kelompok guna memecahkan masalah, sehingga terbentuknya rasa kebersamaan, saling menghargai, dan bertanggung jawab antar siswa.

b. Bagi Guru

Memberikan sumbangan ilmu dan membuka wawasan dalam pembelajaran model Project Based Learning (PjBL) melalui pendekatan 4P dalam kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta memberikan alternatif solusi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa pada pembelajaran biologi.

c. Bagi Instansi

Memberikan saran perbaikan bagi SMA Negeri 1 Kauman dan SMA Negeri 1 Tulungagung dalam mengembangkan kualitas pembelajaran biologi khususnya sebagai acuan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa sehingga dapat menghasilkan output yang berkualitas baik dan mampu bersaing tinggi.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

1. Subjek penelitian ini dilakukan di dua SMA Negeri Tulungagung yaitu seluruh siswa SMA Negeri 1 Kauman kelas XI IPA 2 dan IPA 3 dengan jumlah 60 siswa dan SMA Negeri 1 Tulungagung kelas XI IPA 1 dan IPA 3 dengan jumlah 60 siswa tahun ajaran 2022/2023.

2. Model pembelajaran yang diterapkan di SMA Negeri 1 Kauman dan SMA Negeri 1 Tulungagung adalah Project Based Learning (PjBL) melalui pendekatan 4P.

3. Penelitian ini dilakukan menggunakan dua kelas pada setiap sekolah yang terdiri satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol.

4. Materi yang digunakan adalah materi sistem saraf pada manusia.

5. Jenis penelitian yang digunakan yaitu quasi eksperimen atau eksperimen semu.

(9)

1.6 Definisi Istilah

1. Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang memfokuskan pada ide-ide siswa, yaitu membentuk gambaran tersendiri dari topik ataupun peristiwa yang relevan dan persoalan yang sesuai dengan pengalaman yang dimiliki oleh siswa tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memberikan peluang kepada siswa untuk bekerja secara otonom mengkonstruksi belajar mereka dan nantinya dapat menghasilkan produk karya siswa yang bernilai maupun realistik (Yanti et al., 2013).

2. Pendekatan 4P (Person, Press, Process and Product) merupakan salah satu pendekatan yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas siswa.

Mengingat kreativitas sangat dibutuhkan di dunia pendidikan untuk meningkatkan lulusan SDM yang berkompeten dan memiliki hard skill serta soft skill. Empat (4) P adalah sebuah pendekatan yang dikembangkan oleh Rhodes pada tahun 1961 untuk mengamati atau melihat terkait definisi kreativitas, yaitu dengan menyebutnya sebagai “Four P’s of Creativity : Person, Press, Process, and Product” (Munandar, 2009).

3. Kemampuan berpikir kritis merupakan istilah umum yang diberikan kepada peserta didik dengan berbagai keterampilan kognitif dalam menetapkan suatu keputusan atau kesimpulan berdasarkan alasan yang logis dan disertai bukti yang empiris (Agnafia, 2019).

4. Kemampuan berpikir kreatif merupakan keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan gagasan/ide baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, serta instuisi individu siswa (Handoko, 2017).

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Model PjBL dapat meningkatkan keaktifan peserta didik terbukti dengan nilai afektif kelas eksperimen lebih unggul daripada kelas kontrol.. Nilai psikomotor peserta didik yang

[r]

Layar Sentosa Shipping Corporation sebagai tertanggung, akibat hukum jika terjadi risiko dalam asuransi pengangkutan kapal laut, dan pertimbangan hakim Mahkamah Agung

[r]

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis berusaha mengkaji dan menganalisa masalah tersebut dengan menulisnya dalam bentuk skripsi yang berjudul: “ANALISIS

Pendaftaran dan pengambl{an Dokumen Kualifikasi dapat diwakilkan dengan membawa surat tugas dari direKur utama/pimpinan perusahaan/kepala cabang. dan kaftu

Setelah mengikuti pelatihan, diketahui bahwa: (1) tingkat pengetahuan Guru SMK Teknik Pemesinan mengenai pahat bubuttipe orthogonal dan oblique mencapai skor 3,94 sehingga