• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Dian Samudra 1 Universitas Bina Bangsa.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1 Dian Samudra 1 Universitas Bina Bangsa."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 221

BERISTRI LEBIH DARI SATU MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 1 TAHUN

1991 TENTANG KOMPILASI HUKUM ISLAM

1Dian Samudra

1Universitas Bina Bangsa Email : [email protected]

Abstrak

Seorang lelaki dewasa bersikap akan menikah, umumnya hanya satu kali dalam seumur hidup (sehidup semati).

Namun ada juga orang-orang tertentu yang punya banyak pasangan dalam hidup berumah-tangga. Menurut aturan perundang-undangan, berapa banyak dan apa alasannya seorang laki-laki mempunyai istri lebih dari satu tentunya harus mengacu pada aturannya. Seperti Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor: 09 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor: 01 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Instruksi Presiden Nomor: 1 Tahun 1991 Tentang Kompilsai Hukum Islam (bagi Orang Islam). Beristri lebih dari satu harus ada batasan jangan sampai semaunya tanpa aturan, hanya menuruti kencendrungan yang ada dalam diri seorang laki-laki.

Kata Kunci : Beristri; Kompilasi Hukum; Instruksi Presiden;

(2)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 222

Latar belakang

Melihat tayangan di televisi swasta, yang meliput seorang lelaki Dewasa banyak istri- istri yang dinikahi lebih dari seorang. Tetapi pada umumnya seorang lelaki dewasa bersikap akan menikah satu kali dalam seumur hidup (sehidup semati). Namun ada juga orang-orang tertentu yang ingin punya banyak pasangan dalam hidup berumah-tangga. Jika laki-laki yang punya banyak wanita disebut melakukan poligami. Poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan. Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu istri. Sedangkan wanita yang menikah dengan lebih dari satu laki-laki disebut Poliandri. Di Indonesia sendiri, beristri lebih dari satu sering dijumpai dengan 2 sampai 3 istri.

Bahkan, sosmed pernah menyiarkan orang-orang yang punya istri lebih dari satu sebut saja Eyang Subur (beristri 8 orang), Sunaryo (beristri 9 orang), Masyhurat Usman (beristri 10 orang), Deta Raya (beristri 12 orang), Otong Gunawan (37 istri) Lalu Juaini Rahman alias Jon (44 istri), Marsan alias Bewok (94 istri).

Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Undang-Undang Perkawinan) yang menyatakan bahwa asas perkawinan adalah monogami, dan poligami diperbolehkan dengan alasan, syarat, dan prosedur tertentu tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan hak untuk membentuk keluarga, hak untuk bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, dan hak untuk bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif sebagaimana diatur dalam Uundang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana diutarakan dalam sidang pembacaan putusan perkara Nomor: 12/PUU-V/2007 pengujian Undang-Undang Perkawinan yang diajukan M. Insa, seorang wiraswasta asal Bintaro Jaya, Jakarta Selatan pada Rabu (3/10/2007).

M Insa dalam permohonannya beranggapan bahwa Pasal 3 ayat (1) dan (2), Pasal 4 ayat (1) dan (2), Pasal 5 ayat (1), Pasal 9, Pasal 15, dan Pasal 24 Undang-Undang Perkawinan telah mengurangi hak kebebasan untuk beribadah sesuai agamanya, yaitu beribadah Poligami. Selain itu, menurut M Insa, dengan adanya pasal-pasal tersebut yang mengharuskan adanya izin istri maupun pengadilan untuk melakukan beristri lebih dari satu telah merugikan kemerdekaan dan kebebasan beragama dan mengurangi hak prerogatifnya dalam berumah tangga dan merugikan hak asasi manusia serta bersifat diskriminatif.

(3)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 223

Mahkamah Konstitusi dalam sidang terbuka untuk umum tersebut, dan menyatakan menolak permohonan M. Insa karena dalil-dalil yang dikemukakan tidak beralasan. Menurut Mahkamah Konstitusi dalam pertimbangan hukumnya, pasal-pasal yang tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan yang memuat alasan, syarat, dan prosedur beristri lebih dari satu, sesungguhnya semata-mata sebagai upaya untuk menjamin dapat dipenuhinya hak-hak istri dan calon insteri yang menjadi kewajiban suami yang berpoligami dalam rangka mewujudkan tujuan perkawinan.

Tujuan perkawinan sebagaimana dikemukakan ahli Muhammad Quraish Shihab dalam sidang sebelumnya yang dikutip dalam pertimbangan hukum putusan, adalah untuk mendapatkan ketenangan hati (sakinah). Sakinah dapat lestari manakala kedua belah pihak yang berpasangan itu memelihara mawaddah, yaitu kasih sayang yang terjalin antara kedua belah pihak tanpa mengharapkan imbalan (pamrih) apapun, melainkan semata-mata karena keinginannya untuk berkorban dengan memberikan kesenangan kepada pasangannya.

Menurut Shihab, sifat egoistik, yaitu hanya ingin mendapatkan segala hal yang menyenangkan bagi diri sendiri, sekalipun akan meyakitkan hati pasangannya akan memutuskan mawaddah. Itulah sebabnya, demi menjaga keluarga sakinah adalah wajar jika seorang suami yang ingin beristri lebih dari satu, terlebih dahulu perlu meminta pendapat dan izin dari istrinya agar tak tersakiti. Di samping itu, izin istri diperlukan karena sangat terkait dengan kedudukan istri sebagai mitra yang sejajar dan sebagai subjek hukum dalam perkawinan yang harus dihormati harkat dan martabatnya.

Muhammad Quraish Shihab menyatakan bahwa asas perkawinan yang dianut oleh ajaran Islam adalah asas monogami. beristri lebih dari satu merupakan kekecualian yang dapat ditempuh dalam keadaan tertentu, baik yang secara objektif terkait dengan waktu dan tempat, maupun secara subjektif terkait dengan pihak-pihak (pelaku) dalam perkawinan tersebut.

Terkait dengan salah satu syarat beristri lebih dari satu yang terpenting, yaitu adil, pendapat Ahli Huzaemah T. Yanggo yang dikutip dalam pertimbangan hukum putusan, menyatakan bahwa kaidah fiqh yang berlaku adalah pemerintah (negara) mengurus rakyatnya sesuai dengan kemaslahatannya. Oleh karena itu, menurut ajaran Islam, negara (ulil amri) berwenang menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh warga negaranya yang ingin melakukan beristri lebih dari satu, demi kemaslahatan umum, khususnya mencapai tujuan perkawinan.

(4)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 224

Mengenai adanya ketentuan yang mengatur tentang beristri lebih dari satu untuk Warga Negara Indonesia yang hukum agamanya memperkenankan perkawinan beristri lebih dari satu, hal ini menurut Mahkamah Konstitusi adalah wajar. Oleh karena sahnya suatu perkawinan menurut Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan apabila dilakukan sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Sebaliknya, akan menjadi tidak wajar jika Undang-Undang Perkawinan mengatur beristri lebih dari satu untuk mereka yang hukum agamanya tidak mengenal beristri lebih dari satu. Jadi pengaturan yang berbeda ini bukan suatu bentuk diskriminasi, karena dalam pengaturan ini tidak ada yang dibedakan, melainkan mengatur sesuai degan apa yang dibutuhkan, sedangkan diskriminasi adalah memberikan perlakuan yang berbeda terhadap dua hal yang sama.

Menurut Agama Islam pada dasarnya berkonsep beristri lebih dari satu dalam aturan pernikahan, tetapi memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu. Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya.

Di dalam Al-Quran surat An-nisa ayat ke-129 juga mengatakan bahwa "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian".

Surat an-nisa ayat ke-129 mengatakan bahwa seorang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya, dan mengatakan bahwa kalau seorang suami tidak bisa berbuat adil kepada isteri-isterinya nanti, sebaiknya tidaklah melakukan beristri lebih dari satu.

beristri lebih dari satu dalam Islam baik dalam hukum maupun praktiknya, diterapkan secara bervariasi di tiap-tiap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Indonesia terdapat hukum yang memperketat aturan beristri lebih dari satu untuk pegawai negeri, dan sedang dalam wacana untuk diberlakukan kepada publik secara umum. Tunisia dan Turki adalah contoh negara Arab yang tidak memperbolehkan beristri lebih dari satu.

Menurut Agama Islam memperbolehkan seorang laki-laki muslim kawin dengan empat orang perempuan dalam satu waktu apabila ia sanggup memelihara dan berlaku adil terhadap istri-istrinya dalam soal nafkah, tempat tinggal dan pembagian waktu. Apabila khawatir tidak akan berlaku adil maka dilarang kawin dengan perempuan lebih dari satu, sama seperti dilarang kawin dengan perempuan lebih dari empat.

(5)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 225

Hal ini menjadi fenomena sosial yang harus kita ketahui, di negara kita pengaturannya seperti apa?. Alasan ini yang menjadi pembahasan dalam tulisan, semoga bermanfaat.

PEMBAHASAN

A. Beristri lebih dari seorang

I. Beristri lebih dari satu menurut Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974

Beristri lebih dari satu di Indonesia juga disahkan Sesuai Ketentuan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yaitu :

Ayat (1) pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

Ketentuan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan tersebut di atas membuka kemungkinan seorang suami dapat melakukan beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh istri pertama tentunya dengan ijin Pengadilan.

Ayat 2a Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh fihak-fihak yang bersangkutan.

Ayat 2b. Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

1. Tata cara dan syarat Beristri lebih dari satu menurut undang-undang perkawinan

Adapun syarat utama yang harus dipenuhi adalah suami mampu berlaku adil terhadap istri istrinya dan anak-anaknya, akan tetapi jika si suami tidak bisa memenuhi maka suami dilarang beristri lebih dari satu. Disamping itu si suami harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Pengadilan Agama, jika tanpa ijin dari Pengadilan Agama maka perkawinan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum. Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pengadilan, sesuai yang tercantum dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu:

(6)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 226

Ayat 1 : Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat 2 Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

Pengadilan Agama, baru dapat memberikan ijin kepada suami untuk berpoligami apabila ada alasan yang tercantum sesuai dengan persyaratan-persyaratan dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu:

Ayat 2 : Pengadilan dimaksud data ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:

a. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri

b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Untuk mendapatkan ijin dari Pengadilan, suami harus pula memenuhi syarat-syarat tertentu disertai dengan alasan yang dapat dibenarkan. Tentang alasan yang dapat dibenarkan ini lebih lanjut diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menentukan:

Ayat 1 : Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri.

b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.

c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak- anak mereka.

Ayat 2 : Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

(7)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 227

2. Peraturan Pemerintah Nomor: 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan beristri lebih dari satu atas Undang-Undang Perkawinan Nomor: 1 tahun 1974.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 9 Tahun 1975 mengatur lebih terperinci tentang Pelaksanaan beristri lebih dari satu atas Undang-Undang Perkawinan Nomor: 1 tahun 1974 tentang Pelaksanaan beristri lebih dari seorang. Menyatakan:

Pasal 40 apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pengadilan.

Pasal 41 Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:

1. ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seorang suami kawin lagi, ialah:

bahwa isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri. bahwa isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan bahwa isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

2. ada atau tidaknya persetujuan dari isteri, baik persetujuan lisan maupun tertulis, apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu harus diucapkan didepan sidang pengadilan.

3. ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:

· surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditanda-tangani oleh bendahara tempat bekerja atau surat keterangan pajak penghasilan atau. surat keterangan lain yang dapat diterima oleh Pengadilan.

4. ada atau tidak adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri- isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang ditetapkan untuk itu.

Pasal 42 A: dalam melakukan pemeriksaan mengenai hal-hal pada Pasal 40 dan 41, Pengadilan harus memanggil dan mendengar isteri yang bersangkutan. Pasal 42 B: pemeriksaan Pengadilan untuk itu dilakukan oleh Hakim selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya, surat permohonan beserta lampiran-lampirannya.

Pasal 43: apabila Pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristeri lebih dari seorang, maka Pengadilan memberikan putusannya yang berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang.

(8)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 228

Pasal 44: Pegawai Pencatat dilarang untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan seperti yang dimaksud dalam Pasal 43.

3. Kewajiban suami terhadap istri ke dua, dan pembagian harta terhadap istri pertama dan istri ke dua

Kewajiban suami terhadap istri ke dua, dan pembagian harta terhadap istri pertama dan istri ke dua ditinjau menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor: 1 Tahun 1974 sebagai berikut :

Pasal 65 Ayat 1 : dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang baik berdasarkan hukum lama maupun berdasarkan Pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini maka berlakulah ketentuan-ketentuan berikut:

a. Suami wajib memberikan jaminan hidup yang sama kepada semua isteri dan anaknya.

b. Isteri yang kedua dan seterusnya tidak mempunyai hak atas harta bersama yang telah ada sebelum perkawinan dengan isteri kedua atau berikutnya itu terjadi.

c. Semua isteri mempunyai hak yang sama atas harta bersama yang terjadi sejak perkawinannya masing-masing.

Ayat 2 : Jika Pengadilan yang memberi izin untuk beristeri lebih dari seorang menurut Undang-undang ini tidak menentukan lain, maka berlakulah ketentuan-ketentuan ayat (1) pasal ini.

II. Beristri lebih dari satu menurut Kompilasi Hukum Islam Instruksi Presiden Nomor: 1 Tahun 1991

Pelaksanaan beristri lebih dari satu diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Buku I tentang Hukum Perkawinan Bab IX Pasal 55 sampai dengan pasal 59, seperti yang sudah disebutkan di atas. Dalam hal ini Pengadilan Agama sangat menentukan mengabsahkan praktik beristri lebih dari satu karena dapat dikatakan satu-satunya lembaga yang memiliki otoritas untuk mengizinkan beristri lebih dari satu. Diperbolehkannya beristri lebih dari satu itupun dengan batas sampai empat orang dan mewajibkan berlaku adil kepada mereka Kebolehan itupun kalau di telusuri sejarahnya tergantung pada situasi dan kondisi masa permulaan Islam. Beristri lebih dari satu boleh dilakukan jika keadaan benar-benar darurat.

(9)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 229

Alasan-alasan yang dipakai Pengadilan Agama memberikan izin kepada suami beristri lebih dari satu adalah:

1) isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri ;

2) isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; 3) isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Ketiga alasan ini hanya ada dalam aturan normatifnya belaka. Sebab, dalam realitas dimasyarakat umumnya beristri lebih dari satu dilakukan bukan karena ketiga alasan tersebut, melainkan hanya alasan syahwat. Ketentuan undang-undang yang membolehkan suami beristri lebih dari satu hanya administratif negara, mereka tidak perlu Akta Nikah.

Pasal 55 Kompilasi Hukum Islam: ayat (1) Beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat orang isteri. Ayat (2) Syarat utama beristeri lebih dari satu orang, suami harus berlaku adil terhadap isteri dan anak-anaknya. Ayat (3) Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristeri lebih dari satu orang.

Pasal 56 KHI : (1) Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapatkan izin dari Pengadilan Agama. (2) Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat (1) dilakukan menurut tatacara sebagaimana diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah Nomor:

9 tahun 1975 (3) Perkawinan yang dilakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pada pasal 57 Kompilasi Hukum Islam, Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila terdapat alasan - alasan sebagaimana disebut dalam pasal 4 Undang-Undang tentang perkawinan. Jadi pada dasarnya Pengadilan dapat memberikan izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Selanjutnya pada pasal 59 juga digambarkan betapa besarnya wewenang Pengadilan Agama dalam memberikan izin. Sehingga bagi isteri yang tidak mau memberikan persetujuan kepada suaminya untuk beristri lebih dari satu, persetujuan itu dapat diambil alih oleh Pengadilan Agama.

Pengadilan dapat menetapkan pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang bersangkutan di persidangan pengadilan Agama dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi. Menyimpang dari ketentuan tersebut ayat pasal

(10)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 230

ini seorang suami hanya dapat dipertimbangkan untuk diizinkan mempunyai isteri lebih dari seorang apabila hal itu tidak bertentangan dengan ketentuan agama yang dianutnya dan dalam hal Isteri tidak dapat melahirkan keturunan dengan surat keterangan dokter. Dalam hubungan ayat pasal ini, surat permohonannya harus dilengkapi selain dengan lampiran tersebut dalam pasal 14 keputusan ini juga dengan menyertakan:

i. Surat Keterangan Pribadi dari calon isteri yang menyatakan bahwa ia tidak keberatan dan sanggup untuk di madu;

ii. Surat pernyataan / persetujuan dari isteri pertama;

iii. Surat pernyataan suami yang menyatakan adanya kepastian bahwa ia mampu menjamin kebutuhan jasmani dan rohani isteri – isterinya.

KESIMPULAN

Aturan yang mengatur untuk beristri lebih dari satu yaitu di Indonesia secara formal diatur oleh Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Instruksi Presiden Nomor: 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam.

Alasan yang memperbolehkan beristri lebih dari satu secara normatif adalah sebagai berikut: Alasan-alasan yang dipakai Pengadilan Agama memberikan izin kepada suami beristri lebih dari satu adalah:

1) isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri ;

2) isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

3) isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Jumlah istri yang diperbolehkan untuk dijadikan pasangan hidup menurut Kompilasi Hukum Islam Instruksi Presiden Nomor: 1 Tahun 1991, diperbolehkannya beristri lebih dari satu itupun dengan batas sampai empat orang dan mewajibkan berlaku adil dan boleh dilakukan jika keadaan benar-benar darurat.

DAFTAR PUSTAKA

Alhamdi, H.S.A, 1989, Risalah Nikah Hukum Perkawinan Islam, Cetakan III, Pustaka Amani, Jakarta.

Soemiyati, 1997, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, Cetakan III, liberty, Yogyakarta.

(11)

Doi Artikel : 10.46306/rj.v1i2.16 231

Jurnal Universitas Tulungagung Bondowoso Vo.1. No.2 Tahun 2014, Tinjauan Kompilasi Hukum Islam Terhadap Poligami di Indonesia, ditulis oleh Surjanti. Fakultas Hukum.

Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Peraturan Pemerintah Nomor: 09 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Unagng Nomor:

01 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Hukumonline.Com dengan judul Prosedur Poligami yang sah.

Bangkapos.Com dengan judul Deretan pria beristri banyak, Bewok punya 94 istri namun pak Jon target 100.

Jogja Tribunnews.com dengan judul syarat-syarat Poligami syah secara Hukum Negara.

Wikipedia, (http//id.wikipedia.org/wiki/poligami)

Referensi

Dokumen terkait

Tahapan engagement berisi motivasi menggunakan pentingnya kemampuan mengintegrasi mata pelajaran dalam kurikulum terbaru (2013); tahapan exploration berisi aktivitas

Telah dilaporkan hasil penelitian untuk mengetahui aktivitas antidiabetes setiap fraksi dalam ekstrak etil asetat daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) secara in

Butter cookies parut merupakan produk kue kering yang dibuat dari tepung komposit tepung pisang kepok dan tepung umbi garut dengan proporsi berbeda. Penelitian

Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi bertujuan untuk terwujudnya pemanfaatan ruang daerah yang serasi dan optimal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung

Goleman, Daniel, Kecerdasan emosional untuk mencapai puncak prestasi , terj. Alex Tri Kantjono, (Jakarta: P.T Gramedia Pustaka

Kondisi disekitar Desa Ngampel Kec.Kapas Kab Bojonegoro yang berdampingan dengan proyek pemboran sumur produksi tentunya menggunakan alat-alat pemboran yang dapat menimbulkan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, Minat Mahasiswa PJKR terhadap Mata Kuliah Olahraga Pilihan Judo terhadap pelaksanaan mata kuliah olahraga pilihan

Penelitian ini dilakukan terhadap dua buah mobile komputer sebagai user dan sebuah desktop PC sebagai server dengan menggunakan perangkat NSN FexiPacket Radio