• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh pengalaman praktik kerja industri dan informasi dunia kerja terhadap kesiapan mental kerja siswa kelas XII Program Keahlian Penjualan SMK Batik 2

Surakarta tahun ajaran 2008/ 2009 Oleh :

Dewi Nuryanti NIM K 7405043

BAB II

LANDASAN TEORI

Setelah permasalahan penelitian dirumuskan, maka langkah selanjutnya dalam proses penelitian kuantitatif adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk melaksanakan penelitian.

A. Tinjauan Pustaka

Pengkajian variabel-variabel penelitian diperlukan teori-teori yang relevan dan teori-teori tersebut dikaji dalam tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka merupakan pengkajian terhadap pengetahuan tentang konsep-konsep, hukum-hukum, dan prinsip- prinsip yang relevan dengan permasalahan. Dalam permasalahan ini peneliti menggunakan teori-teori sebagai berikut:

1. Tinjauan Tentang Pengalaman Praktik Kerja Industri

a. Pengertian Pengalaman

Pengalaman merupakan sesuatu yang telah dialami dan dirasakan seseorang dan mempunyai pengaruh pada pikiran dan perasaannya. Pengalaman ialah pengetahuan dan ketrampilan tentang sesuatu yang diperoleh lewat keterlibatan atau berkaitan dengannya selama periode tertentu. Secara umum, pengalaman menunjuk kepada mengetahui bagaimana atau pengetahuan prosedural, daripada pengetahuan proposisional.

( http://id.wikipedia.org/wiki/Pengalaman, diakses 30 November 2008 ).

(2)

Sementara itu menurut Nasution yang dikutip oleh Zamtinah et al (2003) menjelaskan pengalaman adalah interaksi antara individu dan lingkungan untuk mencapai tujuan yang mengandung arti bagi individu tersebut. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengalaman adalah sesuatu yang telah dirasakan, diketahui, dan dikerjakan yang menimbulkan bertambahnya pengetahuan dan keahlian individu yang diperoleh dengan melakukan aktivitas.

b. Pengertian Praktik Kerja Industri

Praktik kerja industri merupakan jenis latihan kerja siswa yang menjadi program dari SMK. Depdiknas (2003: 1) menyebutkan pengertian praktik kerja industri menjadi dua definisi yaitu:

1) Praktik kerja industri adalah bagian dari pendidikan system ganda

(PSG) pada SMK. Prakerin merupakan bagian dari program bersama antara SMK dan industri yang dilaksanakan di dunia usaha atau dunia industri.

2) Prakerin merupakan program yang dilaksanakan di industri/perusahaan yang meliputi praktek dasar kejuruan yang dilaksanakan sebagian di sekolah dan sebagian lainnya di industri serta praktek kehlian produktif dalam bentuk on the job training.

Menurut Depdikbud yang dikutip oleh Iwan Dwi Utama (2008) menyatakan bahwa prakerin adalah suatu kegiatan kurikuler yang harus diikuti oleh Siswa Menengah Kejuruan sebagai wahana untuk lebih memantapkan hasil belajar dan sekaligus memberikan kesempatan mendalami dan mengahayati kemampuan hasil belajar tersebut dalam situasi dan kondisi kerja yang sesungguhnya.

Menurut Ardan Sirojuddin (2008) Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda yang merupakan inovasi pada program SMK dimana peserta didik melakukan praktek kerja (magang) di perusahaan atau industri yang merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Praktik Kerja Industri adalah kegiatan praktik yang merupakan bagian dari Pendidikan System Ganda yang dilaksanakan dengan menerjunkan siswa pada dunia usaha atau dunia industri yang wajib ditempuh oleh siswa SMK sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih bermakna.

(3)

Pengalaman yang nyata bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan adalah pengalaman praktik kerja industri di dunia usaha atau industri. Pengalaman praktik kerja industri adalah pengalaman-pengalaman siswa yang diperoleh selama melakukan kegiatan praktik kerja industri baik pengalaman yang berupa ketrampilan maupun sikap serta pengetahuan dengan intensitas selama mengikuti kegiatan praktik kerja industri.

Penerjunan siswa ke tempat praktik kerja industri harus disesuaikan dengan program pendidikan dan praktik di sekolah dengan di dunia usaha atau dunia industri.

Oleh karena itu, sebelum siswa diterjunkan ke tempat praktik pihak sekolah harus menyusun program pendidikan dan latihan yang disetujui bersama sebagai dasar dan pedoman pelaksanaan praktik kerja industri.

Siti Qoyimah (2006) menyatakan, penerjunan siswa ke tempat praktik kerja industri hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

1) Industri relevan dengan program studi siswa

Industri yang dipilih sebagai institusi pasangan adalah industri yang mempunyai jenis pekerjaan yang sesuai dengan program studi yang ada di sekolah.

2) Memiliki sarana dan fasilitas praktik yang sinkron dengan tuntutan kurikulum.

Sarana yang dimiliki institusi pasangan hendaknya berteknologi yang mendukung tuntutan kemampuan yang diinginkan oleh program studi di sekolah. Selain itu, sarana yang ada harus memadai sebab tidak akan bermanfaat bagi siswa jika SMK memaksakan diri bekerjasama dengan dunia usaha atau dunia industri bila sarananya tidak memadai.

3) Memiliki instruktur yang mampu membimbing siswa

Instruktur dalam praktik kerja industri sangat diperlukan. Oleh karena industri hendaknya mempunyai tenaga kerja yang mengurusi praktik kerja industri.

4) Waktu lamanya praktik kerja industri dan daya tampung sudah ditentukan secara bersama-sama antara dunia usaha atau dunia industri dengan pihak sekolah.

Waktu kapan siswa akan melaksanakan praktik kerja industri hendaknya telah disepakati oleh kedua belah pihak serta berapa jumlah siswa yang dapat dikirim karena tidak mungkin dunia usaha atau dunia industri dapat menampung semua siswa.

5) Diadakan seleksi berkaitan dengan jumlah industri dan jumlah siswa.

(4)

Pihak SMK sebelum menerjunkan siswanya ke tempat praktik kerja industri mengadakan seleksi berapa jumlah siswa yang akan diterjunkan dengan melihat jumlah industri yang menjadi institusi pasangannya.

6) Diadakan pembekalan bagi siswa yang akan mengikuti praktik kerja industri

Siswa yang akan diterjunkan ke tempat praktik kerja industri dibekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan praktik kerja serta mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dunia usaha atau dunia industri.

c. Tujuan Praktik Kerja Industri

Menurut Depdikbud yang dikutip A. Muliati (2008: 10) penyelenggaraan praktik kerja industri pada Sekolah Menengah Kejuruan bekerjasama dengan dunia usaha atau dunia industri mempunyai beberapa tujuan antara lain:

1) Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yaitu tenaga kerja memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan serta etos kerja yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

2) Memperkokoh keterkaitan dan keterpaduan antar sekolah dengan dunia usaha/

dunia instansi.

3) Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional.

4) Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai dari proses pendidikan.

5) Membiasakan diri untuk berperilaku jujur dan bertanggung jawab dalam pekerjaan sehari-hari.

6) Membiasakan siswa dengan membekali pengalaman yang terdapat dari luar.

Dari tujuan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa praktik kerja industri terutama bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja yang sesungguhnya agar peserta memiliki keahlian profesional, membiasakan siswa untuk menghadapi dunia kerja secara nyata sehingga dapat menambah pengalaman bagi kehidupannya.

d. Pelaksanaan Praktik Kerja Industri

Praktik Kerja industri dapat dilaksanakan oleh peserta didik setelah materi teori kejuruan dan praktek dasar kejuruan dicapai tuntas pada kelas I dan kelas II. Waktu pelaksanaan praktik kerja industri adalah selama 4 bulan, yaitu 2 bulan di kelas II

(5)

semester IV dan 2 bulan di kelas III semester V atau dapat disesuaikan dengan waktu yang cocok kebutuhan industri. Adapun tahap-tahap pelaksanaan praktik kerja industri adalah sebagai berikut:

1) Tahap pembekalan.

Sebelum siswa diterjunkan untuk belajar di dunia usaha atau dunia industri sekolah bersama institusi pasangan mengadakan pembekalan bagi peserta menyangkut : a) pemahaman tentang program pelatihan yang akan diikuti, b) pemahaman pengaturan ketenagakerjaan secara umum dan tata tertib atau disiplin di tempat mereka akan praktik kerja, c) orientasi tempat kerja termasuk pengenalan keselamatan kerja dan proses produksi. (Depdikbud, 1999: 26)

Dengan adanya pembekalan tersebut diharapkan siswa dapat praktik dengan baik dan tertib sehingga kegiatan praktik kerja industri yang mereka lakukan dapat bermanfaat bagi mereka.

2) Tahap Penerjunan

Setelah mendapatkan pembekalan, siswa melaksanakan upacara pelepasan di sekolah kemudian siswa diantar oleh guru pembimbing ke dunia usaha atau industri tempat mereka melaksanakan praktik kerja industri dengan perlengkapan berkas administrasi berupa format identitas siswa dan perusahaan, jurnal kegiatan siswa, jurnal kemajuan praktik kerja siswa, format penilaian prestasi kerja siswa dan format catatan penting bagi instruktur. Program pendidikan dan latihan di institusi pasangan berisi antara lain : a) standar komptensi yang harus dikuasai, b) jenis-jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan, c) jadwal pekerjaan peserta, rencana pembimbingan, penilaian proses dan hasil pekerjaan siswa. (Depdikbud, 1999: 27)

3) Tahap Monitoring

Selama siswa melakukan praktik kerja industri di dunia usaha atau dunia industri kegiatan mereka merupakan bagian dari PSG secara keseluruhan. Untuk itu diperlukan pedoman penilaian proses dan hasil pekerjaan siswa selama melakukan praktik yaitu evaluasi dan monitoring. Kegiatan monitoring dilakukan oleh guru pembimbing untuk mengetahui sejauh mana keterlaksanaan kegiatan praktik kerja industri dan dilaksanakan secara periodik sedangkan evaluasi dilakukan secara langsung oleh instruktur menggunakan instrumen yang telah disiapkan bersama pada

(6)

tahap penyusunan program. Selanjutnya hasil penilaian dikonversikan oleh pihak sekolah ke dalam mata pelajaran yang terkait. Adapun aspek yang dinilai dari pekerjaan siswa adalah:

a) Aspek teknis adalah tingkat penguasaan keterampilan siswa dalam menyeleseikan pekerjaannya (kemampuan produktif).

b) Aspek non teknis adalah sikap dan perilaku siswa selama di dunia kerja yang menyangkut disiplin, tanggung jawab, kreativitas, kemandirian, kerjasama dan sebagainya.

4) Tahap Penarikan

Penarikan siswa dilakukan setelah waktu pelaksanaan praktik kerja industri selesei yang dilakukan oleh guru pembimbing yang selanjutnya oleh pihak dunia usaha atau dunia industri diserahkan kembali kepada pihak sekolah beserta berkas- berkasnya.

e. Manfaat Praktik Kerja Industri

Pelaksanaan praktik kerja industri akan membawa manfaat bagi berbagai pihak.

Siti Qoyimah (2006) menyatakan manfaat prakerin adalah sebagai berikut:

1. Bagi peserta didik

a) Hasil belajar peserta didik akan lebih bermakna, setelah tamat mereka memiliki keahlian profesional untuk memasuki dunia kerja.

b) Lead Time untuk mencapai keahlian profesional lebih singkat sehingga setelah lulus tidak perlu latihan lanjut.

c) Keahlian profesional yang diperoleh melalui praktik kerja industri dapat meningkatkan pengetahuan kerja, keterampilan kerja, sikap kerja yang benar serta kreativitas kerjanya.

2. Bagi sekolah

a) Dapat menjamin pencapaian tujuan pendidikan untuk memberikan keahlian profesional bagi peserta didik.

b) Tercapainya konsep Link and Match

c) Memberi kepuasan karena lulusan memperoleh bekal yang bermakna.

(7)

3. Bagi dunia usaha atau dunia industri

a) Dapat mengenal kualitas peserta didik yang melakukan praktik kerja industri di tempatnya sehingga dapat direkrut sebagai karyawan.

b) Memberi keuntungan karena praktikan telah membantu kelancaran usaha atau industri.

2. Tinjauan Tentang Informasi Dunia Kerja a. Pengertian Informasi Dunia Kerja

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (infokom) yang semakin pesat, maka aspek komunikasi dan informasi akan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan pembangunan sesuai dengan yang diharapkan. Perkembangan arus informasi semakin pesat ditandai dengan semakin pentingnya informasi di berbagai aspek kehidupan. Kemajuan teknologi sistem informasi seolah-olah membuat semua pihak dapat mengetahui apa saja yang ingin mereka ketahui dengan segera, baik itu informasi yang bersifat formal maupun non formal.

Saat ini dunia telah memasuki era informasi yang akan berkembang dan terus berkembang. Informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh semua orang, semua kalangan baik itu instansi pemerintah maupun swasta bahkan semua negara.

Informasi merupakan bagian dari komunikasi. Setiap orang melakukan komunikasi agar dapat berhubungan dengan orang lain. Komunikasi tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Semakin sering orang melakukan komunikasi maka informasi yang didapatkan semakin banyak sehingga akan memperbanyak pengetahuan yang diterima seseorang tersebut tentang obyek yang diinformasikan.

Menurut J. B. Wahyudi (1992: 253) mengatakan, ” Informasi adalah sesuatu yang kita dapatkan dari membaca atau mendengar, atau dengan melihat langsung dunia sekitar kita”. Munandir (1996: 165) mengemukakan, ”Informasi adalah segala sesuatu yang membuat orang menjadi tahu tentang sesuatu itu”. Jadi informasi merupakan segala apa yang berasal dari luar itu masuk ke dalam diri untuk diolah dan disimpan di dalam sistem ingatan orang sebagai preposisi. Sedangkan menurut Sasa Djuarsa yang dikutip Helena Olii (2007) mengemukakan informasi menunjukkan fakta atau data yang diperoleh selama tindakan komunikasi berlangsung.

(8)

Sri Mulyono (2007) menyatakan bahwa Informasi adalah “Data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu atau hasil dari pengolahan data yang secara prinsip memiliki nilai atau value yang lebih dibandingkan data mentah”. Dari pendapat tersebut berarti informasi mempunyai ciri nilai lebih dari data yang lain. Berdasarkan berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data, fakta, atau keterangan yang akan bermanfaat bagi penerimanya yaitu meningkatkan pengetahuan penerimanya.

Pengertian dunia kerja menurut Melvin dalam Charles (1986: 152) menyatakan,

”Dunia kerja adalah pembagian jenis pekerjaan menjadi rangking-rangking tertentu dalam kekuasaan”. Sedangkan menurut Jalaludin Rakhmat (1988: 50) adalah “Gambaran orang-orang yang bekerja pada suatu bidang tertentu”. Berdasarkan pendapat tersebut dunia kerja merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dan aktivitas kerja.

Adapun yang dimaksud informasi dunia kerja menurut Dewa Ketut Sukardi (1983: 112) adalah “Suatu fakta-fakta tentang pekerjaan atau jabatan yang pemakaiannya biasa dipergunakan dalam bimbingan karier dan bertujuan untuk dipergunakan sebagai suatu alat untuk membantu individu memperoleh pemahaman tentang dunia kerja”.

Menurut WS. Winkel (1991: 277)

Informasi dunia kerja yang harus diketahui siswa yaitu semua data mengenai jenis- jenis pekerjaan yang ada di masyarakat, mengenai gradasi posisi-posisi dalam jabatan, mengenai persyaratan tahap dan jenis pendidikan, mengenai klasifikasi jabatan, dan mengenai prospek masa depan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan jenis-jenis pekerjaan tertentu.

Djumhur dan Moh. Surya (1988: 180) menyebutkan informasi tentang pekerjaan yang perlu diketahui murid antara lain:

1) Jenis-jenis pekerjaan.

2) Jenis-jenis pekerjaan yang dapat dimasuki oleh tamatan suatu sekolah.

3) Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari setiap pekerjaan.

4) Pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang diperlukan untuk setiap pekerjaan.

5) Kondisi dan masa depan dari suatu pekerjaan.

6) Jenis pendidikan yang tersedia untuk sutu pekerjaan.

7) Beberapa syarat khusus untuk suatu pekerjaan.

(9)

Sedangkan jenis-jenis informasi dunia kerja menurut WS. Winkel (1991: 277) adalah sebagai berikut:

1) Angkatan kerja (labor force): jumlah tenaga kerja aktif di masyarakat; komposisi menurut taraf pendidikan seperti pendidikan tinggi, pendidikan menengah, pendidikan rendah, komposisi menurut jenis pekerjaan atau jabatan yang dipangku sesuai jenis dengan sistem klasifikasi jabatan yang berlaku, komposisi menurut umur dan jenis kelamin.

2) Klasifikasi jabatan-jabatan atas kelompok-kelompok dasar dan kelompok- kelompok cabang.

3) Pergeseran-pergeseran yang kiranya akan terjadi berdasarkan proyeksi tentang penyediaan dan penyerapan tenaga-tenaga kerja serta corak kehidupan masyarakat dimasa mendatang.

4) Perundangan perburuhan yang berlaku serta skala penggajian.

5) Sumber-sumber informasi yang mengikuti perkembangan angkatan kerja dan pergeseran dalam persediaan (supply) dan permintaan (demand) tenaga kerja.

6) Deskripsi-deskripsi jenis-jenis pekerjaan dan jabatan.

7) Program-program pendidikan prajabatan bagi pekerjaan-pekerjaan yang memasyaratkan.

8) Cara melamar pekerjaan secara tertulis dan lisan 9) Makna pekerjaan dalam kehidupan seseorang.

10) Kondisi pekerjaan yang menopang/merugikan kesehatan jasmani.

Dengan demikian informasi dunia kerja dalam penelitian ini adalah suatu informasi yang terdiri atas data dan fakta-fakta mengenai jenis-jenis pekerjaan, jumlah lowongan kerja, jumlah tamatan sekolah pencari kerja, persyaratan memasuki pekerjaan, kondisi kerja, cara melamar pekerjaan, serta imbalan kerja yang diterima siswa yang bertujuan untuk membantu individu memperoleh pandangan, pengertian, dan pemahaman tentang dunia kerja beserta aspek-aspek dunia kerja yang didapat dari sekolah, orang tua, teman, dan masyarakat.

b. Syarat Informasi Dunia kerja

Menurut Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati (1993: 215) informasi dunia kerja yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

1) Obyektif

Informasi hendaknya bukan dibuat-buat, dilebih-lebihkan, ditutup-tutupi, atau dengan kata lain bahwa keberadaan informasi tersebut harus sebagaimana adanya.

2) Sistematis

(10)

Informasi disusun dari global kemudian terperinci dan makin lengkap atau dari hal-hal yang umum ke hal-hal yang khusus dan memiliki klasifikasi yang jelas serta yang mengungkapkan karakteristik suatu obyek dengan jelas.

3) Jelas keterkaitannya.

Informasi pekerjaan yang baik akan mengindikasikan hubungan dengan pekerjaan yang lain serta hubungan antar pekerjaan dalam kelompok tertentu.

4) Mencamtumkan rujukan

Informasi akan lebih bermakna apabila mencantumkan sumber-sumber informasi pekerjaan tersebut.

5) Kebaruannya.

Informasi yang tepat atau masih berlaku sampai saat ini.

6) Akurat

Informasi yang akurat berarti semakin obyektif yang menggunakan ukuran- ukuran yang tepat dan baku.

7) Dapat dipercaya

Informasi akan dapat dipercaya apabila dikeuarkan atau dibuat oleh orang-orang yang berkompeten terlibat dalam bidang pekerjaan atau instansi yang berwenang.

8) Berguna

Informasi akan bermanfaat dalam menyusun perencanaan dan mengambil keputusan karier apabila informasi yang disusun itu diperuntukkan dalam menunjang perencanaan dan pengambilan keputusan.

9) Menyeluruh

Hendaknya informasi pekerjaan mencakup bebrapa aspek yang diperlukan untuk itu, misalnya aspek ekonomi, sosial, psikologis dan kebudayaan.

10) Bukan rahasia

Informasi pekerjaan hendaknya bukanlah merupakan rahasia negara, instansi, rahasia keluarga atau rahasia perorangan.

c. Sifat Informasi Dunia kerja

Menurut Zamtinah et al (2003: 204) Informasi dunia kerja atau informasi karier dibedakan menurut sifatnya, yaitu:

1) Informasi kuantitatif

Informasi kuantitatif adalah data statistik ketenagakerjaan yang berupa angka- angka atau jumlah seperti penyebaran pekerjaan, data banyaknya lowongan kerja, jumlah tamatan sekolah pencari kerja dan lain-lain.

2) Informasi kualitatif

Informasi kualitatif adalah informasi yang bercerita tentang sifat pekerjaan yang dilakukan, persyaratan yang dituntut untuk bisa melakukan pekerjaan itu, imbalan, keadaan dan kondisi kerja.

d. Sumber Informasi Dunia Kerja

(11)

Zamtinah et al (2003) mengemukakan informasi dunia kerja dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Departemen Tenaga Kerja, perusahaan, instansi-instansi tertentu baik Pemerintah maupun swasta, sumber-sumber kepustakaan, dokumen pejabat tertentu, media cetak, media elektronik, sumber iiformasi lainnya seperti pameran, kunjungan industri, pengamatan terhadap orang yang bekerja, orang tua, saudara, keluarga dan teman.

Sementara itu, Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati (1993: 217) menyebutkan bahwa sumber informasi tentang dunia kerja dapat diperoleh dari:

1) Penerbitan kependidikan yang secara tetap menerbitkan buku-buku monograph dan lain-lainnya yang menyediakan informasi pekerjaan.

2) Biro Pemerintah yang secara reguler menyiapkan artikel-artikel dan laporan ringkas proyek penelitian yang baru dalam analisis pekerjaan.

3) Majalah, surat kabar, dan pamflet yang diterbitkan oleh asosiasi profsi, perdagangan, bisnis, serikat pekerja, dan peruasahaan juga merupakan informasi yang baik pula.

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan sumber informasi dunia kerja antara lain: media cetak, media elektronik, keluarga, sekolah dan masyarakat.

Pada saat sekarang ini dunia kerja keadaannya sangat kompleks lebih kompleks keadaannya di waktu-waktu sebelumnya. Oleh karena itu informasi dunia kerja yang banyak, akurat, tepat dan benar akan bermanfaat bagi siswa. Untuk membantu para alumni agar tidak merasa kebingungan dalam menentukan pilihannya, lembaga pendidikan bekerja sama dengan Dinas tenaga Kerja dan mobilitas penduduk, lembaga penyedia tenaga kerja, dan lembaga sebagai pengguna tamatan, telah membentuk unit kerja sekolah bernama BKK (Bursa Kerja Khusus) yang ditangani oleh Tim khusus untuk memberikan bimbingan karier sebelum lulusan dan pasca lulusan.

Bentuk bimbingan yang diberikan oleh Tim BKK berupa: (1) penyuluhan strategi memasuki dunia kerja dan efektifitas melamar pekerjaan. (2) penanaman jiwa intrepreniur dan standar etos kerja yang efektif. BKK merupakan unit kerja sekolah yang mempunyai potensi besar dalam memasarkan para lulusan. Keberadaan bursa kerja khusus di sekolah sangat membantu para alumni untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan adanya BKK tersebut diharapkan siswa dapat terbantu dalam memperoleh pemahaman tentang dunia kerja sehingga individu yang bersangkutan akan berhasil dalam pekerjaannya.

(12)

3. Tinjauan Tentang Kesiapan Mental Kerja.

a. Pengertian Kesiapan Mental Kerja.

Kesiapan mental kerja diperlukan untuk mencetak calon tenaga kerja yang tangguh dan berkualitas. Mengingat calon tenaga kerja yang tersedia melebihi jumlah lapangan kerja mengakibatkan persaingan mendapatkan pekerjaan semakin bertambah ketat. Kenyataannya tidak semua tenaga kerja mempunyai kesiapan mental kerja yang baik. Beberapa hal yang menyebabkan tenaga kerja rendah kesiapan kerjanya adalah sedikitnya informasi pekerjaan yang dimiliki, usaha yang dilakukan untuk mencari pekerjaan dan kurang matangnya perencanaan karir. Kesiapan dari tenaga kerja yang bersangkutan merupakan kunci keberhasilan seseorang karena tenaga kerja yang siap berarti mereka dapat bekerja dengan maksimal. Sebagai calon tenaga kerja siswa SMK juga telah dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang terdidik, terlatih, dan terampil dalam segala hal serta mempunyai kesiapan mental kerja yang baik.

Slameto (1995: 113) mengatakan bahwa kesiapan adalah ”Keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban dalam cara tertentu terhadap situasi”.

Zamtinah et al (2003: 203) memberikan pengertian kesiapan atau readiness

”Sebagai sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu”.

C. P. Chaplin (2002) menyatakan bahwa kesiapan merupakan suatu disposisi atau kesiapan berpikir dan memahami menurut pola pikir tertentu. Menurut Drever (1986: 279) dalam kamus psikologi yang dimaksud mental adalah ”Menunjuk pada pikiran atau akal”.

Taliziduhu Ndraha (1999: 1) ”Kerja adalah proses penciptaan atau pembentukan nilai baru suatu unit sumber daya, pengubahan atau penambahan nilai pada suatu unit alat pemenuhan kebutuhan yang ada”. Sedangkan menurut Mohammad Ass’ad (1995: 47) mengatakan bahwa ”Bekerja adalah aktivitas manusia baik itu fisik atau mental yang dasarnya adalah bawaaan dan tujuannya adalah untuk mendapatkan kepuasan”. Dari pendapat tersebut bekerja merupakan aktivitas untuk memperoleh

(13)

kepuasan baik dari segi materi maupun batin untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan yang melibatkan fisik dan mental.

Berdasarkan pengertian kesiapan, pengertian mental, dan pengertian kerja diatas dapat disimpulkan bahwa kesiapan mental kerja merupakan kesiapan seseorang dalam mengolah pikiran untuk melakukan aktivitas pekerjaan dalam usaha mencapai kepuasan materi dan batin.

Herminanto Sofyan (1998: 10) ”Kesiapan mental kerja adalah suatu kemampuan seseorang untuk menyeleseikan suatu pekerjaan tertentu tanpa mengalami suatu hambatan dan kesulitan dengan hasil yang baik”. Dari pendapat tersebut kesiapan mental kerja berarti merupakan kemampuan seseorang mengatasi masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

Sementara itu Sugihartono (1991: 15) berpendapat bahwa ”Kesiapan mental kerja adalah kondisi yang menunjukkan adanya keserasian antara kematangan fisik, kematangan mental, serta pengalaman belajar individu mempunyai kemampuan atau kompetensi untuk melaksanakan suatu kegiatan atau tingkah laku tertentu dalam hubungannya dengan pekerjaan”. Menurut Herlianan Suryani A (2007: 1) mendefinisikan kesiapan kerja yaitu ”Kesiapan kerja adalah suatu keadaan yang menunjukkan seseorang itu telah siap untuk menggunakan tenaga dan kemampuannya dalam melaksanakan sesuatu”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kesiapan mental kerja adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya keserasian antara kematangan fisik dan mental serta pengalaman belajar sehingga individu mempunyai kemampuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam hubungannya dengan pekerjaan tanpa mengalami kesulitan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kesiapan Mental Kerja

Zamtinah et al (2003: 202) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan mental kerja adalah:

1) Faktor dari proses pendidikan di sekolah.

Faktor dar dalam sekolah yang mempengaruhi kesiapan mental kerja yang sering dianggap sebagai permasalahan yang berpengaruh terhadap kesiapan kerja siswa lulusan SMK adalah lingkungan sekolah yang termasuk didalamnya faktor peserta

(14)

didik, tenaga pengajar, sarana dan prasarana, proses belajar mengajar, dan kurikulum.

2) Faktor dari proses pendidikan di luar sekolah.

Faktor dari luar sekolah misalnya kondisi ekonomi orang tua, lingkungan pergaulan, lingkungan tempat tinggal dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling terkait satu dengan yang lain.

c. Ciri-Ciri Kesiapan Mental Kerja

Zamtinah et al (2003: 204) menyatakan:

Kesiapan mental kerja adalah suatu kondisi keadaan mental dan emosi yang serasi dalam individu calon tenaga kerja yang ditunjukkan adanya ciri-ciri yaitu: (1) mempunyai pertimbangan logis dan obyektif, (2) mempunyai kemampuan dan kemauan bekerja sama dengan orang lain serta mampu mengendalikan emosi, (3) mempunyai sikap kritis, (4) bertanggung jawab, serta (5) berambisi untuk maju dan berusaha mengikuti perkembangan bidang keahlian yang ditekuni.

Sri Pangestuti yang dikutip oleh Iwan Dwi Utama (2008) menyatakan bahwa individu yang mempunyai kesiapan kerja menunjukkan ciri-ciri: bersikap optimis, berpikir logis, tanggung jawab secara individu, ambisi untuk maju, mempuyai kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang sedang penulis lakukan yaitu penelitian yang dilakukan oleh:

1. Zamtinah et al (2003) dengan judul ”Pengaruh Informasi Kerja dan Pengalaman Praktik Industri Terhadap Kesiapan Mental Kerja Siswa SMK 3 Yogyakarta Tahun ajaran 2001/2002. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara informasi dunia kerja dan pengalaman praktik kerja industri secara bersama-sama terhadap kesiapan mental kerja siswa kelas III bidang keahlian Elektro SMK Negeri 3 Yogyakarta, dengan koefisien determinasi ( R2)= 0, 427. Ini berarti bahwa 42,7 % variasi kesiapan mental kerja dapat

(15)

dijelaskan oleh variabel informasi dunia kerja dan pengalaman praktik kerja industri secara bersama-sama.

2. Agus Waluyo (2007) dengan judul ”Pengaruh Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda dan Informasi Dunia Kerja Terhadap Kesiapan Mental Kerja Siswa Kelas III Program Keahlian Penjualan SMK Negeri 1 Pedan Tahun Ajaran 2006/2007”.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara informasi dunia kerja dan pengalaman praktik kerja industri secara bersama-sama terhadap kesiapan mental kerja siswa kelas III bidang keahlian Penjualan SMK Negeri Pedan dengan koefisien determinasi ( R2)= 0, 3102. Ini berarti bahwa 31,02 % variasi kesiapan mental kerja dapat dijelaskan oleh variabel informasi dunia kerja dan pelaksanaan Pendidikan sistem Ganda secara bersama-sama.

C. Kerangka Berpikir

1. Pengaruh Pengalaman Praktik Kerja Industri Terhadap Kesiapan Mental Kerja Praktik Kerja Industri merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda yang dilakukan dengan menerjunkan siswa SMK pada dunia usaha atau dunia industri sehingga siswa secara langsung menghadapi pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Siswa dapat langsung merasakan kondisi kerja dan pengalaman-pengalaman baru yang ada di lapangan, sehingga dapat memberikan tambahan pengetahuan.

Efektivitas pelaksanaan kegiatan praktik kerja industri dapat dilihat dari tambahan pengetahuan kerja, sikap kerja yang benar, keterampilan kerja, dan kreativitas kerja serta disiplin kerja setelah siswa melaksanakan praktik kerja industri. Siswa yang telah melaksanakan praktik kerja industri akan mendapatkan pengalaman kerja yang banyak sehingga siswa akan lebih cepat menyesuaikan diri terhadap pekerjaan yang dihadapinya, maka siswa tersebut akan lebih produktif dalam bekerjanya. Pelaksanaan praktik kerja industri yang berkualitas akan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap kerja yang benar, serta kreativitas kerja kepada siswa sehingga setelah melaksanakan kegiatan tersebut kesiapan mental kerja siswa secara sadar maupun tidak sadar akan meningkat.

2. Pengaruh Informasi Dunia Kerja Terhadap Kesiapan Mental Kerja

(16)

Informasi dunia kerja merupakan data, fakta, dan keterangan mengenai jenis pekerjaan, jumlah angkatan kerja, klasifikasi jabatan serta cara melamar pekerjaan yang bertujuan untuk membantu individu memperoleh pandangan, pengertian, dan pemahaman tentang dunia kerja yang didapat dari sekolah maupun luar sekolah melalui keluarga, sekolah, media cetak maupun media elektronik. Dengan informasi yang baik maka siswa akan mengetahui berbagai kondisi tentang dunia kerja. Siswa yang mendapat pengetahuan tentang dunia kerja maka siswa tersebut akan mudah dalam menentukan jenis pekerjaan yang sesuai dengan dirinya.

Informasi dunia kerja juga membantu siswa dalam menentukan sikap. Siswa yang mengetahui informasi pekerjaan yang lebih banyak maka keraguan terhadap pemilihan suatu pekerjaan dapat dihilangkan sehingga alternatif pilihan dapat diperkecil.

Dalam hal ini informasi dunia kerja dapat mengarahkan siswa dalam mengambil keputusan, bersikap terhadap suatu keadaan dan ide. Semakin lengkap dan akurat informasi yang diterima siswa tentang dunia kerja maka akan semakin mudah bagi siswa dalam mengambil keputusan tentang pekerjaannya sehingga akan mempengaruhi kesiapan mental kerjanya.

3. Pengaruh Pengalaman Praktik Kerja Industri dan Informasi Dunia Kerja Terhadap Kesiapan Mental Kerja

Telah dijelaskan diatas, bahwa siswa yang mempunyai pengalaman praktik kerja yang tinggi maka dapat diartikan bahwa siswa tersebut telah mendapatkan tambahan pengetahuan kerja, keterampilan kerja, sikap kerja yang benar, serta kreativitas kerja. Dengan semakin banyak pengalaman yang diperoleh maka akan menimbulkan kesiapan mental kerja pada diri siswa yang bersangkutan. Kesiapan mental kerja semakin tinggi apabila didukung oleh banyaknya kemampuan siswa dalam menyerap infomasi dunia kerja. Jadi pengalaman praktik kerja industri yang tinggi yang didukung oleh informasi dunia kerja yang banyak akan menimbulkan kesiapan mental kerja yang tinggi.

Untuk memperjelas pemikiran tersebut, dapat digambarkan sebagai berikut:

Pengalaman Praktik Kerja Industri(X1)

Pengetahuan kerja Sikap kerja yang benar Ketrampilan kerja Kreativitas kerja Disiplin kerja

1

(17)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran.

Keterangan :

X1 = Pengalaman Praktik Kerja Industri X2 = Informasi Dunia Kerja

Y = Kesiapan Mental Kerja 1 = Pengaruh X1 Terhadap Y 2 = Pengaruh X2 Terhadap Y

3 = Pengaruh X1 dan X2 Terhadap Y

Berdasarkan kerangka berpikir di atas dapat disimpulkan variabel dan definisi operasional variabel. Variabel dalam penelitian ini terdiri dua variabel bebas (X1 dan X2) dan satu variabel terikat (Y), yang dikategorikan sebagai berikut:

1. Variabel bebas:

X1 = pengalaman praktik kerja industri X2 = informasi dunia kerja.

2. Variabel terikat:

Y = kesiapan mental kerja.

Dari variabel di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Variabel pengalaman praktik kerja industri 1) Pengetahuan kerja

Informasi Dunia Kerja (X2)

Jenis-jenis pekerjaan Jumlah lowongan kerja Jumlah tamatan sekolah pencari kerja

Persyaratan memasuki pekerjaan

Kondisi kerja

Cara melamar pekerjaan Imbalan kerja

Kesiapan Mental Kerja(Y) Berpikir logis

Bersikap kritis Tanggung jawab Ambisi untuk maju Pengendalian emosi 3

2

(18)

Siswa yang melakukan praktik kerja industri akan memperoleh kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran, dan pemahaman tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan pekerjaan.

Indikator empirik dari variabel pengetahuan kerja:

a) Kemampuan siswa dalam melaksanakan Sistem Operasinal Prosedur (SOP) di tempat prakerin.

b) Kemampuan siswa dalam memahami pengetahuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja.

c) Kemampuan siswa membuat rencana kerja (seperti absensi, jadwal kerja).

2) Sikap kerja yang benar

Siswa yang melaksanakan praktik kerja industri akan memperoleh pengalaman yang berupa sikap kerja yang benar yaitu segala sesuatu yang mencakup kemampuan emosional dalam mengahayati suatu hal yang ditunjukkan siswa saat melaksanakan prakerin.

Indikator empirik dari sikap kerja yang benar adalah:

a) Kemampuan bekerja sama dalam tim.

b) Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja.

c) Kemampuan bekomitmen dengan pekerjaan.

3) Keterampilan kerja

Keterampilan kerja adalah kemampuan motorik yang menggiatkan dan mengkoordinasikan gerakan yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan.

Indikator empirik dari keterampilan kerja adalah:

a) Kemampuan menyeleseikan pekerjaan.

b) Kemampuan menggunakan alat-alat kerja.

4) Kreativitas kerja

Kreativitas kerja adalah kemampuan siswa dalam menciptakan sesuatu hal yang baru yang berhubungan dengan pekerjaan.

Indikator empirik kreativitas kerja adalah:

(19)

a) Kemampuan dalam menciptakan cara penyeleseian pekerjaan dengan cepat.

b) Kemampuan siswa untuk menumbuhkan ide atau pendapat terhadap pemecahan masalah kerja.

c) Kemampuan siswa untuk selalu bertanya tentang sesuatu hal yang belum diketahui.

5) Disiplin kerja

Disiplin kerja adalah kemampuan siswa dalam mentaati peraturan yang berlaku di tempat praktik kerja industri.

Indikator empirik dari disiplin kerja adalah:

a) Kemampuan siswa untuk mentaati jam kerja.

b) Kemampuan siswa untuk melaksanakan tata tertib di tempat prakerin.

c) Kemampuan siswa dalam menyeleseikan pekerjaan tepat waktu.

b. Variabel informasi dunia kerja a) Jenis-jenis pekerjaan

Jenis-jenis pekerjaan adalah jenis-jenis pekerjaan yang ada dalam masyarakat seperti Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Swasta, karyawan, mandor dan lain sebagainya.

b) Jumlah lowongan kerja

Jumlah lowongan kerja adalah angka yang menunjukkan perusahaan/instansi yang membuka lowongan kerja untuk setiap periode tertentu.

c) Jumlah tamatan sekolah pencari kerja

Jumlah tamatan sekolah pencari kerja adalah angka yang menunjukkan jumlah lulusan sekolah yang sedang mencari kerja.

d) Persyaratan memasuki pekerjaan

Persyaratan memasuki pekerjaan adalah syarat-syarat untuk melamar kerja.

e) Kondisi kerja

(20)

Kondisi kerja adalah kondisi nyata setiap pekerjaan seperti kondisi kerja yang menunjang atau merugikan kesehatan.

f) Cara melamar pekerjaan yaitu cara melamar kerja baik secara tertulis dan lisan.

g) Imbalan kerja adalah angka yang menunjukkan gaji yang diterima untuk tiap-tiap pekerjaan.

c. Variabel kesiapan mental kerja a) Berpikir logis

Siswa yang telah mempunyai kesiapan mental kerja tinggi apabila bertindak selalu berdasarkan akal sehat dan penalaran yang matang seperti kesiapan siswa apabila mendapat pekerjaan dan gaji yang tidak sesuai dengan keinginan.

b) Bersikap kritis.

Siswa yang telah mempunyai kesiapan mental kerja tinggi akan mempunyai kemampuan dalam mengembangkan ide-ide untuk mempertinggi kualitas kerjanya seperti kemauan siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami kepada instruktur atau pembimbing praktik.

c) Tanggung jawab.

Tanggung jawab adalah kemampaun siswa dalam melaksanakan hak dan kewajiban sebagai praktikan seperti bertanggungjawab terhadap hasil pekerjaan, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta bekerja dengan teliti.

d) Ambisi untuk maju

Siswa yang mempunyai kesiapan mental kerja menunjukkan siswa tersebut mempunyai keinginan untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan bidang keahlian yang ditekuni seperti kemauan siswa untuk mengikuti pelatihan.

e) Pengendalian emosi

Pengendalaian emosi adalah kemampuan individu untuk mengendalikan emosinya saat melaksanakan pekerjaan seperti kemampuan dalam bertoleransi dan menghargai orang lain.

(21)

D. Perumusan Hipotesis

Penelitian kuantitatif berfokus pada hipotesis yang akan diuji kebenarannya.

Sutrisno Hadi (2000: 257) “Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kebenarannya.” Sedangkan menurut Winarno Surakhmad (1998: 68) “ Hipotesa adalah suatu jawaban duga yang dianggap besar kemungkinannya untuk menjadi jawaban yang benar.”

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Ada pengaruh yang signifikan antara pengalaman praktik kerja industri terhadap kesiapan mental kerja siswa kelas XI program keahlian Penjualan SMK Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009.

2. Ada pengaruh yang signifikan antara informasi dunia kerja terhadap kesiapan mental kerja siswa kelas XI program keahlian Penjualan SMK Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009.

3. Ada pengaruh yang signifikan antara pengalaman praktik kerja industri dan informasi dunia kerja terhadap kesiapan mental kerja siswa kelas XI program keahlian Penjualan SMK Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009.

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran.

Referensi

Dokumen terkait

Pada praktikum kali ini dapat mengetahui cara identifikasi senyawa golongan obat alkohol, fenol, asam karboksilat, alkaloid dan basa nitrogen, sulfonamida dan barbiturat,

Penyebab utama dari hemothoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah intercostal atau arteri mammaria internal yang disebabkan oleh trauma tajam

Perubahan jam operasi bandar udara yang bersifat sementara harus 1 (satu) jam diNOTAMkan sebelum keberangkatan pesawat udara dari bandar udara asal oleh Kepala Badan Usaha Bandar

Selain itu, pegmatit juga dapat terbentuk dari aktifitas magma, yaitu ketika magma terbentuk sehingga terjadi diferensiasi yang mengakibatkan kandungan volatile tinggi dan

Uji beda rata-rata ini dilakukan untuk menyelidiki apakah ada pengaruh dalam pemberian latihan ballhandling terhadap keterampilan menggiring bola dalam permainan

Komunikasi Politik menjadi sasaran dalam penelitian ini, hal tersebut sebagaimana tujuan dari penelitian penulis yang mengulas tentang bagaimana komunikasi politik

Dari penelitian di atas maka saran yang dapat penulis berikan adalah untuk investor yang berminat untuk melakukan investasi dengan menanam modalnya di bursa