108 BAB VII
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
Pada bab ini dijelaskan hasil dari analisis yaitu konsep peruangan, konsep tata massa dan bangunan, dan konsep struktur dan utilitas.
A. KONSEP PERUANGAN
Peruangan hotel konvensi dibagi sesuai jenis kegiatannya yaitu penghuni hotel, pengguna konvensi, pengelola, dan tamu hotel. Alur dari tiap user menghasilkan kebutuhan ruang dan besaran ruang. Total angka tersebut diproses untuk memperoleh luasan lantai dasar, jumlah lantai, dan luasan area parkir.
1) Konsep Ruang Pada Hotel Konvensi
Penghuni Hotel a) Superior Room
Gambar 62. Alur Peruangan Penghuni Tipe Superior Room Sumber: Analisis Pribadi
b) Deluxe Room
Gambar 63. Alur Peruangan Penghuni Tipe Deluxe Room Sumber: Analisis Pribadi
109 c) Junior Suite
Gambar 64. Alur Peruangan Penghuni Tipe Junior Suite Sumber: Analisis Pribadi
d) Presidential Suite
Gambar 65. Alur Peruangan Penghuni Tipe Presidential Suite Sumber: Analisis Pribadi
Berdasarkan tipe-tipe kamar di atas, diperoleh besaran ruang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebagai berikut:
No Jenis Unit Kebutuhan
Ruang Standar Luas Luas Unit (m²)
Total Unit
Luas
Total(m²) Sumber
1 Superior Room
Kamar tidur Kamar mandi
15-20 m² 5-9 m²
24 m²
6 m² 30 120 3600 DA
2 Deluxe Room
Kamar tidur Kamar mandi
15-20 m² 5-9 m²
32 m²
8 m² 40 40 1600 DA
3 Junior Suite Kamar tidur Kamar mandi
15-20 m² 5-9 m²
48 m²
8 m² 56 20 1120 DA
110 4 Presidential
Suite
Kamar tidur Kamar mandi
Ruang tamu Ruang kerja Ruang makan
Toilet
15-20 m² 5-9 m² 10-16 m²
8-10 m² 6-12 m² 3-4 m²
48 m² 12 m² 24 m² 10 m² 12 m² 4 m²
108 4 432 DA
5 Koridor
1,6/m2 x 5 x (jumlah unit/2)
736 736 P
Jumlah 184 7488
Sirkulasi 30% 2246 Total luas 9734
Tabel 18. Besaran Ruang Pada Unit Kamar Hotel Sumber: Analisis Pribadi
Pengguna Konvensi
Gambar 66. Alur Peruangan Pada Pengguna Konvensi
Sumber: Analisa Pribadi
Berdasarkan kriteria jumlah kapasitas ruang konvensi sebesar 1500 orang, diperoleh besaran ruang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebagai berikut:
No Jenis Ruang Standar Kapasitas Luasan (m²)
Luas total
(m²) Sumber
1 Lobby
Menampung min.
60% dari jumlah maksimum tamu (900 orang x 0,5)
1 unit 450 450 Asumsi
2 Ruang konvensi Jumlah tamu x 1,55
(1500 orang x 1,55) 1 unit 2325 2325 P
111 3 Ruang Rapat 2 m²/orang
(20 orang x 2) 4 unit 40 160 P
4 Ruang persiapan (0,05% x luas ruang
konvensi) 2 unit 116 232 Asumsi
5 Ruang
administrasi 1 unit 22 22 Asumsi
6 Ruang servis makanan
Min. 20% luas ruang konvensi terbesar (20% x luas ruang konvensi)
1 unit 465 465 P
7 Ruang monitor broadcasting
(0,05% x luas ruang
konvensi) 2 unit 116 232 Asumsi
8 Gudang Perabot (0,1% x luas ruang
konvensi) 1 unit 232 232 Asumsi
9
Lavatory:
a. Pria b. Wanita
0,15 m² x min. 20%
jumlah tamu terbanyak
0,25 m² x min. 20%
jumlah tamu terbanyak
2 unit 22,5 37,5
45
75 TS
Jumlah 4238
Sirkulasi 30% 1271
Total luas 5509
Tabel 19. Besaran Ruang Pada Area Konvensi Sumber: Analisis Pribadi
Pengelola
Gambar 67. Alur Peruangan Pada Pengelola Hotel Konvensi
Sumber: Analisis Pribadi
112 Berdasarkan kebutuhan ruang tersebut, diperoleh besaran ruang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebagai berikut:
No Jenis Ruang Standar Kapasitas Luas total
(m²) Sumber
1 Area Peralihan 1 unit 64 Asumsi
2 Front Office 0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
3
Food and Beverage
0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
4 Akuntansi 0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
5 Marketing 0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
6 Personalia 0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
7 Operasional 0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
8 Housekeeping 0,12m² x jumlah
kamar 1 unit 22 P
9 Ruang rapat 2 m²/orang 100 orang 200 P
10 Pantry 25 m²/unit 1 unit 25 TS
11
Lavatory:
a. Pria b. Wanita
0,15 m² x jumlah karyawan 0,25 m² x jumlah karyawan
1 unit 15
25
TS
Jumlah 483
Sirkulasi 30% 145
Total luas 628
Tabel 20. Besaran Ruang Pada Area Pengelola Sumber: Analisis Pribadi
113
Pengunjung Hotel
Gambar 68. Alur Peruangan Tamu Hotel Sumber: Analisis Pribadi
Berdasarkan kebutuhan ruang tersebut, diperoleh besaran ruang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebagai berikut:
No Jenis Ruang Standar Kapasitas Luasan(m²) Sumber
1 Lobby Hotel 1,1 m² x 12 x jumlah unit 1 unit 2428 P
2 Dining Room 0,5 m² x jumlah kamar 2 kali luas 184 P
3 Dapur Dining Room
Min. 20% luas ruang
(40% x luas dining room) 1 unit 74 P
4 Resto Jawa 0,5 m² x jumlah kamar 1 unit 92 P
5 Dapur Resto Jawa Min. 20% luas ruang
(40% x luas resto jawa) 1 unit 37 P
6 Rooftop Lounge 0,5 m² x jumlah kamar 1 unit 92 P
7 Dapur Lounge Min. 20% luas ruang
(40% x luas lounge) 1 unit 37 P
8
a. Swimming pool -locker, shower b. Kids pool c. Gym
-Spa and Sauna -locker, shower
15 m x 25 m 0,1 x luas kolam
6 m x 6 m 8 m x 12 m 1,9 m²/orang 0,6 m²/orang
1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 20 orang 40 orang
375 37 36 96 38 24
DA DA HPD
DA
9 Kids Club 0,12m² x jumlah kamar 1 unit 22 P
10 Minimarket 0,12m² x jumlah kamar 1 unit 22 P
114
11 Money Changer 0,12m² x jumlah kamar 1 unit 22 P
12 Travel Agent 0,12m² x jumlah kamar 1 unit 22 P
13 Toko Suvenir 0,12m² x jumlah kamar 1 unit 22 P
14 Salon 0,12m² x jumlah kamar 1 unit 22 P
15
Lavatory:
a. Pria b. Wanita
0,15 m² x jumlah unit 0,25 m² x jumlah unit
1 unit 28
46
TS
Jumlah 3756
Sirkulasi 30% 1126
Total luas 4882
Tabel 21. Besaran Ruang Pada Fasilitas Hotel Sumber: Analisis Pribadi
2) Konsep Perhitungan Lahan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Bangunan Gedung, maka didapati koefisien untuk site berlokasi di Jalan Adi Sucipto yang termasuk dalam kategori Jalan Arteri. Koefisien tersebut lalu diperhitungkan menggunakan rumus yang telah ditetapkan untuk memperoleh luas lantai dasar, jumlah lantai untuk ketinggian bangunan, dan luas area parkir.
a) Konsep Luas Lantai Dasar
Sesuai perhitungan, KDB atau luas lantai dasar yang diizinkan adalah 19.520 m2. Hal tersebut berkesinambungan dengan total luas area konvensi ditambah area kerja pengelola dan area fasilitas umum dengan perhitungan:
KDB > (area konvensi + area kerja pengelola + area fasilitas umum) 19.520 m2 > (5.509 m2 + 628 m2 + 4.882 m2)
19.520 m2 > 11.019 m2
Melalui perhitungan tersebut, diperoleh perkiraan luas lantai dasar untuk kebutuhan dasar hotel konvensi telah memenuhi kriteria yaitu memiliki luas kurang dari KDB senilai 11.019 m2. Sedangkan selisih lahan tersebut dapat digunakan untuk ruang hijau disekitar bangunan.
115 b) Konsep Ketinggian Bangunan
Dari perhitungan tersebut diperoleh jumlah lantai unit kamar hotel adalah 15 lantai. Kesimpulan yang didapat dari perhitungan di atas adalah hotel konvensi yang dirancang memiliki total 15 lantai ditambah dengan dua lantai basement.
Jumlah lantai tersebut telah sesuai berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Bangunan Gedung yang menetapkan jumlah lantai maksimal 26-30 lapis (108-124 m) pada Jalan Adi Sucipto.
c) Konsep Area Parkir
Transportasi pribadi terdiri dari mobil pribadi dan sepeda motor. Hasil jumlah transportasi pribadi berpengaruh terhadap luas lahan parkir dari jumlah kendaraan oleh pengelola, tamu konvensi, tamu hotel, dan pengunjung hotel.
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh jumlah luas area parkir sebesar 14.847 m2 yaitu 30,42% dari total luas lahan dan memenuhi angka minimum ARP yaitu 20%. Dikarenakan luas area parkir lebih besar daripada luas ARP (14.847 > 9.760), maka penyelesaian parkir berupa basement sebagai area parkir tambahan.
3) Konsep Ruang Pada Hotel Konvensi
PROGRAM RUANG
SINAR MATAHARI CAHAYA BUATAN PENGH
AWAAN VIEW KEBISI
NGAN PRIVASI PAGI SIANG MALAM PAGI SIANG MALAM
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
*
*
*
*
* * + + +
+ + +
Lobby
Dining Room Restoran Jawa Rooftop Lounge Function Room Business Centre Kolam renang Gym
Spa dan Sauna Kids Club
116 Tabel 22. Konsep Ruang Pada Hotel Konvensi
Sumber: Analisis Pribadi Minimarket
Salon
Money Changer Travel Agent Toko Suvenir Lobby konvensi Ruang Konvensi Ruang Rapat Ruang servis makanan Ruang monitor broadcasting Area peralihan kantor
Departemen Front Office
Dep. Food and Beverage Dep. Akuntansi Dep. Marketing Dep. Personalia Dep. Operasional Dep.
Housekeeping Ruang rapat Pantry Kamar tidur Kamar mandi Ruang makan Ruang kerja Dapur
117 4) Konsep Arsitektur Simbiosis Terhadap Hotel Konvensi
a) Mixed Fuction dan Intermediate Space
Kedua prinsip Arsitektur Simbiosis tersebut merupakan poin yang penting dalam objek Hotel Konvensi. Mixed Function yag diterapkan adalah dua objek dengan fungsi yang berbeda lalu dilebur menjadi satu, dan dalam hal ini adalah hotel dan konvensi. Sedangkan intermediate space adalah area yang hadir dalam penyatuan dua elemen berbeda.
Intermediate Space dihadirkan dalam bentuk galeri bertemakan budaya Jawa.
Galeri berada sebagai area penghubung yang terletak diantara hotel dan konvensi. Galeri tersebut memamerkan karya budaya Jawa seperti lukisan maupun patung.
Gambar 69. Konsep Intermediate Space Pada Hotel Konvensi Sumber: Analisis Pribadi
b) Diakronik
Diakronik berperan dalam relativitas waktu terhadap ruang. Rentang waktu yang ditawarkan adalah dari masa lampau dengan penerapan nilai-nilai budaya hingga masa kini dengan penerapan sistem yang fungsional dan efisien.
Penerapan nilai-nilai budaya merupakan salah satu komponen dari Arsitektur Simbiosis. Hal ini menjadi upaya penghargaan terhadap budaya lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut menghasilkan pertimbangan tata ruang, serta pengolahan interior dan corak eksterior.
118 Hotel konvensi yang dirancang mengadopsi prinsip-prinsip arsitektur modern sebagai terapan objek arsitektur masa kini. Arsitektur modern memiliki prinsip fungsional dan efisien. Dari segi bentuk, bangunan arsitektur modern menghasilkan bentuk-bentuk baru dengan perkembangan teknologi bahan dan struktur. Dari segi ruang, bangunan arsitektur modern bersifat mengalir berdasarkan alur kegiatan.
c) Teknologi dalam Pemilihan Material
Gambar 70. Pemilihan Material pada Bangunan Sumber: Analisis Pribadi
Salah satu prinsip Arsitektur Simbiosis adalah peran teknologi pada objek arsitektur berupa pemilihan material. Dikarenakan objek arsitektur yang dirancang adalah bangunan yang bersentuhan dengan konsep tradisional, material yang identik dengan konsep tersebut adalah kayu dan material alami lainnya. Namun material tersebut berumur tidak panjang dan memiliki kerapuhan yang tinggi. Disinilah peran teknologi dibutuhkan, yaitu memilih material yang sesuai dengan kriteria bangunan, berumur panjang, memiliki ketahanan tinggi, namun tetap indah pada estetikanya.
119 B. KONSEP SITE DAN TATA MASSA BANGUNAN
1) Lokasi Site
Gambar 71. Lokasi Site Terpilih Sumber: Google Maps, 2018
Lokasi site terpilih untuk Hotel Konvensi terletak di Jalan Adi Sucipto No.110-140, Jajar, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Penentuan site terpilih yaitu melalui pertimbangan aksesibilitas yang baik. Site terpilih terletak di area strategis yaitu berada di jalan protokol yaitu Jalan Adi Sucipto serta berjarak hanya 1.1 menuju jalan raya Solo-Semarang. Jarak site terpilih menuju berbagai moda transportasi umum yaitu berjarak 8.7 km menuju Adi Soemarmo International Airport, 3.9 km menuju Terminal Tirtonadi, dan 4.1 km menuju Stasiun Solo Balapan.
Site yang berada di Kecamatan Laweyan yang merupakan area strategis untuk pengembangan sektor pariwisata. Hal ini dikarenakan area tersebut memiliki cita rasa budaya Jawa yang kuat dengan adanya Kampung Batik Laweyan, serta hanya berjarak 5 km dari Pura Mangkunegaran. Hal ini mendukung konsep hotel konvensi untuk menerapkan nilai dan corak budaya Jawa sebagai bagian dari perencanaan dan perancangannya.
120 Kondisi tapak terpilih sebagai berikut:
Memiliki luas lahan sebesar ±48.880 m² atau 4,88 ha.
Orientasi utama menghadap Selatan.
Diakses melalui jalan protokol, yaitu Jalan Adi Sucipto.
Gambar 72. Pencapaian Terdekat Dari Site Sumber: Google Maps, 2018
Dalam radius 4 km, terdapat beberapa institusi dan atraksi dari lokasi site yaitu:
800 meter menuju Universitas Sahid Surakarta
2.400 meter menuju Stadion Manahan
2.900 meter menuju Solo Square
3.200 meter menuju Stasiun Purwosari
3.200 meter menuju Taman Balekambang
3.800 meter menuju Universitas Muhammadiyah Surakarta
2) Potensi dan Kendala Tapak a) Potensi Site
o Berlokasi strategis di kota Surakarta
o Akses menuju moda transportasi jarak jauh seperti Bandar udara, stasiun kereta api, dan terminal bus cukup mudah.
o Pemanfaatan lahan sesuai RTRW Kota Surakarta tahun 2011-2031.
121 b) Kendala Site
o Dikarenakan berada di area yang ramai dan terletak di depan jalan protokol, kemungkinan adanya kebisingan cukup besar.
3) Konsep Pencapaian Site
Gambar 73. Pencapaian Dari dan Menuju Site Sumber: Google Maps, 2018
Di sisi Selatan, site terhubung melalui Jalan Adi Sucipto. Jalan tersebut merupakan salah satu jalan protokol di kota Surakarta yang menghubungkan Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo menuju pusat kota. Jalan tersebut dalam kondisi fisik jalan yang baik dan terdiri dari dua sisi jalan terpisah.
Situasi tersebut mendukung Jalan Adi Sucipto menjadi Main Entrance sekaligus Main Exit yang terletak terpisah untuk menghindari penumpukan kendaraan. Selain itu, posisi tersebut sesuai dengan arah menuju basement.
Sedangkan Jalan Raya Baturan difungsikan sebagai Side Entrance dan Exit untuk alur keluar kendaraan dari area parkir utama, jalur keluar dari basement, serta alur masuk dan keluar kendaraan servis.
122 Objek arsitektur berupa mixed function oleh area konvensi dan hotel yang terdiri dari massa terpisah membutuhkan pencapaian yang baik. Main entrance terletak pada sisi Selatan site yang terlihat baik dari jalan. Pencapaian pertama menuju area parkir utama, massa konvensi, dan pintu basement yang terletak di bawah massa konvensi. Tamu yang akan menuju hotel memiliki alur dari main entrance dan berbelok ke kanan untuk perpecahan alur menuju massa hotel. Main exit berada di sisi Selatan site menuju Jalan Adi Sucipto. Sedangkan kendaraan yang keluar dari area parkir utama dan basement menuju side exit yang berada di Jalan Raya Baturan.
4) Konsep Kebisingan
Gambar 74. Konsep Kebisingan Pada Site Terpilih Sumber: Google Maps, 2018
Jalan Adi Sucipto sebagai jalan protokol berpotensi sebagai penyumbang kebisingan tertinggi pada site. Hal ini disebabkan oleh ramainya kendaraan di jalan tersebut. Jalan Raya Baturan terletak pada sisi Barat berpotensi sebagai area dengan kebisingan sedang. Hal ini disebabkan karena jalan tersebut merupakan akses menuju area perumahan Fajar Indah serta area ini digunakan sebagai area parkir utama untuk tamu konvensi. Sedangkan pada sisi Utara dengan Jalan Fajar Indah I dan sisi Timur dengan Gang Nanas V menjadi area dengan kebisingan terendah pada site. Hal ini ditandai dengan kondisi fisik jalan yang kecil dan tidak banyak dilewati oleh kendaraan.
123 Mixed Function oleh hotel konvensi terdiri dari massa berbeda dan diletakkan pada area sesuai dengan kondisi kebisingannya. Massa area konvensi yang dilengkapi dengan ruangan kedap suara dapat diletakkan di area yang memiliki tingkat kebisingan sedang hingga tinggi. Sedangkan massa hotel diletakkan di area dengan tingkat kebisingan sedang hingga rendah untuk kenyamanan dan ketenangan tamu hotel.
5) Konsep View dan Orientasi
Gambar 75 . View From Site Sumber: Google Maps, 2018
View terbaik menuju tapak yaitu dari arah Jalan Adi Sucipto dikarenakan tapak terlihat jelas dan memiliki rentang lahan yang luas dari jalan protokol. Hal ini juga menentukan orientasi bangunan menuju arah tersebut dikarenakan memiliki akses terbaik dari Jalan Adi Sucipto.
124 Gambar 76. View Dari Unit Kamar Hotel
Sumber: Google Maps, 2018
Konfigurasi kamar hotel yang saling berhadapan menyuguhkan view yang berbeda-beda dari tiap sisi unit kamar. Sisi kamar yang menghadap Barat dan Selatan memiliki view kota Surakarta. Sedangkan untuk sisi kamar yang menghadap ke arah dalam yaitu arah Utara dan Timur, disiasati dengan memuat view tambahan yaitu berupa fasilitas hotel seperti kolam renang dan area hijau.
6) Konsep Penzoningan
Gambar 77. Penzoningan Pada Hotel Konvensi Sumber: Analisis Pribadi
125 Area yang dekat dengan entrance berupa zona publik digunakan sebagai front area hotel untuk pencapaian baik. Zona semi-publik digunakan untuk fasilitas dengan akses terbatas seperti kolam renang, gym, spa dan sauna, dan fasilitas lainnya. Sedangkan area dengan tingkat kebisingan yang paling rendah yaitu pada sudut tapak digunakan untuk zona privat dan dimanfaatkan untuk unit kamar hotel.
Hotel konvensi berikut mengadopsi konsep intermediary space dari Arsitektur Simbiosis, yaitu sebagai area perantara yang netral untuk menghubungkan hotel dan konvensi. Ruang perantara tersebut akan dikemas dalam bentuk galeri yang bertemakan karya seni budaya Jawa seperti lukisan dan patung.
7) Konsep Massa Bangunan
Gambar 78. Penataan Massa Bangunan Hotel Konvensi Sumber: Analisis Pribadi
Secara garis besar, hotel konvensi terbagi atas massa untuk hotel, massa konvensi, dan massa penghubung keduanya. Massa A difungsikan untuk area fasilitas hotel dan dining area, massa B sebagai area konvensi, dan massa C berupa terapan intermediate space yaitu galeri batik dan restoran masakan Jawa Tengah.
126 8) Konsep Tampilan Bangunan
Gambar 79 . Pemilihan Material Pada Bangunan Sumber: Google Maps, 2018
Tampilan bangunan mengaplikasikan konsep Arsitektur Simbiosis yaitu penerapan teknologi dalam material. Hotel konvensi ini dirancang dengan penggunaan material yang memiliki tampilan material alami sebagai pembentuk suasana serta menjadi poin estetika.
C. KONSEP STRUKTUR DAN UTILITAS 1) Analisis Sistem Struktur
Gambar 80. Pembagian Massa Pada Sistem Struktur Sumber: Analisis Pribadi
127 a) Sub Struktur
Massa A yang dimanfaatkan untuk unit kamar hotel berupa bangunan tingkat tinggi dengan 12 lantai. Sub struktur yang digunakan untuk bangunan ini adalah tiang pancang. Hal ini didasari oleh kemampuan untuk mengalirkan beban pada bangunan berlantai banyak.
Pada massa B yang merupakan area konvensi terdiri dari 2 lantai namun memiliki ketinggian hingga 14-16 meter, maka sub struktur yang dipilih adalah bore pile. Pemilihan ini dipertimbangkan oleh kekokohan pondasi tersebut mengalirkan aliran beban dari atap bangunan yang diteruskan ke pondasi.
Pada massa C, bangunan terdiri dari 2 lantai dengan ketinggian 10-12 meter. Jenis pondasi yang digunakan pada massa ini adalah pondasi bore pile.
Pemilihan tersebut didasari oleh kemampuan dalam menyalurkan aliran beban dari atap bangunan yang diteruskan ke pondasi.
b) Struktur Atas (Upper Structure)
Gambar 81. Struktur Core dan Kolom Sumber: Analisis Pribadi
128 Sistem struktur yang digunakan pada massa A sebagai unit hunian hotel mengaplikasikan struktur bangunan high-rise berupa perpaduan dari struktur inti (core) dan struktur dinding pemikul (bearing wall). Struktur core difungsikan sebagai struktur pengaku utama yang dimanfaatkan sebagai area utilitas terpadu untuk shaft elevator serta kebutuhan tambahan lainnya.
Gambar 82. Aplikasi Bearing Wall Pada Massa Hotel Sumber: Analisis Pribadi
Sistem struktur dinding pemikul dipilih sebagai pengaku dan penyalur beban vertikal. Kelebihan dari struktur ini yaitu mampu menahan beban dengan bentang cukup lebar untuk bangunan hotel, yaitu diletakkan pada tiap 10-12 meter atau terletak tiap dua kamar. Dinding pemikul sesuai untuk bangunan hotel karena menahan kebisingan lebih baik daripada dinding beton biasa.
Gambar 83. Rencana Pembalokkan Pada Massa Hotel Sumber: Analisis Pribadi
129 Sistem struktur penunjang lain berupa kolom dan dinding yang terbuat dari batu bata, celcon, beton, maupun material lainnya. Sistem struktur tersebut dapat dilapisi oleh material lain seperti kaca dan kayu sebagai kulit bangunan atau dibiarkan terekspos dan dibalut cat berwana.
Untuk struktur penutup atap, massa A dan B mengaplikasikan struktur penutup atap berupa struktur rangka (truss frame). Pemilihan ini didasari oleh kemampuan struktur tersebut dalam menciptakan ruang luas sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan untuk massa C menggunakan atap datar (flat roof) untuk efisiensi serta dimanfaatkan untuk outdoor deck sebagai area bersantai.
2) Analisa Pemilihan Material
Sebagai penerapan dari prinsip Arsitektur Simbiosis, hotel konvensi ini dirancang dengan penggunaan material alami sebagai pembentuk suasana serta menjadi poin estetika. Namun, material alami pada umumnya tidak berumur panjang, memiliki kerapuhan yang tinggi, dan sulit dalam perawatannya. Solusi yang diperoleh adalah memadukan teknologi material dengan menggunakan material modern berupa baja atau beton yang dilapisi atau memiliki finish menyerupai material alami.
3) Analisa Sistem Utilitas dan Pencegah Kebakaran
Utilitas bangunan merupakan kelengkapan bangunan untuk menunjang unsur kenyamanan, keselamatan, serta mobilisasi dalam bangunan.
a) Sistem Penyaluran Air
Sistem penyaluran air pada bangunan bertingkat tinggi dibagi dalam beberapa bagian, yaitu:
130 o Air bersih
Gambar 84. Sistem Penyaluran Air Bersih Pada Massa Hotel Sumber: Analisis Pribadi
Jumlah kebutuhan air ditampung dalam tangki air bawah (ground tank). Air bersih pada tangki air atas (upper tank) untuk berlantai banyak memiliki kapasitas minimal 30% dari jumlah kebutuhan air bersih keseluruhan.
Sistem penyaluran air yaitu air yang berasal dari PDAM dialirkan menuju tangki penampungan yang berada di basement dan diproses untuk penjernihan air dengan flokulasi dan koagulasi yang hasilnya akan dialirkan ke tangki air bawah (ground tank) menuju ruang pompa.
Setelah itu air dipompa menuju tangki atas (upper tank) melalui shaft yang terletak pada area struktur inti (core) bangunan, dan dialirkan ke bawah untuk distribusi pada tiap lantai menuju ruang-ruang.
131 o Air limbah
Gambar 85. Instalasi Penyaluran Air Limbah Pada Massa Hotel Sumber: Analisis Pribadi
Air limbah mengalami proses mandiri melalui Instalasi Penyaluran Air Limbah agar air limbah yang dihasilkan tidak tercemar serta bebas dari bakteri dan logam saat dilepas ke lingkungan sekitar.
Proses pengolahan dimulai dari penyaluran air limah melalui pipa pada shaft yang bermuara ke tangki penampungan lalu dipompa ke area pengolahan. Area tersebut dapat berupa sebuah ruangan maupun area yang ditanam di bawah tanah.
Proses yang berlangsung adalah air limbah masuk melalui inlet dan menuju bak sedimentasi sebagai pengendapan awal lalu menuju penyaringan anaerob oleh bakteri. Tahap selanjutnya adalah pemberian
132 aerasi yaitu penambahan udara dalam air dengan cara menyemprotkan air ke udara (air ke dalam udara) atau dengan memberikan gelembung- gelembung udara dan membiarkannya naik melalui air (udara ke dalam air). Setelah itu air mengalami pengendapan akhir sebelum akhirnya dinyatakan telah bebas bakteri, tidak berbau, dan tidak berwarna untuk dapat dilepaskan ke lingkungan sekitar.
o Air hujan
Gambar 86. Instalasi Penyaluran Air Hujan Sumber: Analisis Pribadi
Air hujan disalurkan melalui talang atau partisi penyalur lainnya menuju bak saringan. Pada bak saringan air hujan disaring dari pasir dan kerikil menuju tangki penampung. Air hujan pada tangki penampung dapat dimanfaatkan untuk keperluan air tambahan seperti menyiram tanaman. Volume berlebih yang tidak masuk dalam tangki penampung akan masuk ke bak resapan untuk diserap ke tanah.
b) Pemadam Kebakaran
Peralatan pemadam kebakaran terdiri dari:
o Pemadam kebakaran pasif: hidran.
o Pemadam kebakaran aktif: sprinkler.
133
Pencegahan Penanggulangan
Memasang smoke detector pada unit kamar dan area rawan kebakaran akibat konslet dan semacamnya seperti area genset dan area server sistem komunikasi.
Pengadaan tangga darurat.
Penyediaan hydrant.
Penyediaan fire exthinguisher di tempat yang mudah di temukan dan rawan bencana kebakaran.
Pemasangan sprinkler di tiap-tiap unit kamar pada area-area rawan dan strategis.
Tabel 23. Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Pada Gedung Sumber: Analisis Pribadi
c) Penghawaan buatan
Gambar 87. Instalasi Penghawaan Buatan Pada Massa Hotel Sumber: Analisis Pribadi
Sistem penghawaan buatan tidak langsung (Indirect Cooling) memproses penghawaan buatan dengan pendingin (refrigerant) berupa air es (chilled water) dengan suhu sekitar 5oC yang dihasilkan oleh chiller. Sistem ini dikenal dengan sistem penghawaan buatan terpusat (Central Air Conditioning System).
134 Komponen utama sistem penghawaan buatan terpusat (Central Air Conditioning System) berupa AHU utama yang berada di basement menuju pendingin berupa chiller, dialirkan ke kondensor untuk membuang uap panas dan menuju cooling tower untuk menurunkan suhu tinggi dari hasil kondensor, dan disalurkan menuju AHU ada tiap lantai di area utilitas pada struktur inti (core) dan didistribusikan menuju ruang-ruang.
d) Transportasi dalam bangunan
Elevator/Lift adalah alat angkut manusia maupun barang pada suatu bangunan bertingkat. Elevator terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:
o Elevator penumpang (Passenger Elevator) yang terletak pada tower hotel dan bangunan konvensi untuk kenyamanan tamu.
o Elevator barang (Freight Elevators) yang terletak pada area konvensi untuk kemudahan logistik.
o Elevator makanan (Dumb Waiters) yang terletak pada tower hotel dan area konvensi untuk proses penyaluran makanan yang baik dari dapur menuju area hidangan.