• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pajak

Pajak termasuk salah satu sumber penerimaan yang cukup besar bagi pemerintah. Oleh karena itu pelaksanaan perpajakan sangat diatur oleh pemerintah untuk mempertahankan penerimaan Negara. Pengertian pajak menurut pasal 1 undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan:

“Pajak adalah iuaran rakyat kepada kas Negara bedasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.”

Sedangkan menurut Djajadiningrat (2003 : 1) pajak didefinisikan sebagai :

“Kewajiban untuk menyerahkan sebagian dari kekayaan kepada negara disebabkan oleh suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan- peraturan yang diterapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum”

Dari bebeparapa pengertian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa pajak memiliki beberapa aspek dasar :

1) Pembayaran pajak harus berdasarkan undang-undang.

2) Sifatnya dapat dipaksakan.

3) Tidak ada kontraprestasi yang langsung dapat dirasakan oleh pembayar pajak.

4) Pemungutan pajak dilakukan olehnegara, baik oleh pemerintah pusat maupu daerah.

(2)

5) Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah (rutin dan bangunan) bagi kepentingan masyarakat umum.

2.2 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Signalling Theory atau teori sinyal didasarkan pada asumsi bahwa informasi yang diterima oleh masing-masing pihak tidak sama. Dengan kata lain, teori sinyal berkaitan dengan asimetri informasi. Asimetri informasi dapat terjadi di antara dua kondisi ekstrem yaitu perbedaan informasi yang kecil sehingga tidak mempengaruhi manajemen, atau perbedaan yang sangat signifikan sehingga dapat berpengaruh terhadap manajemen dan harga saham (Sartono,2012:56)

Teori sinyal menunjukan adanya asimetri informasi antara manajemen perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi. Untuk itu, manajer perlu memberikan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan melalui penerbitan laporan keuangan. Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan lain.

Teori sinyal yang dikembangkan oleh Ross (1977:38) menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan memiliki informasi lebih baik mengenai perusahaanya akan terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada calon investor agar harga saham perusahaanya meningkat. Teori sinyal mengemukakan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan

(3)

keuangan. Perusahaan yang baik akan memeberikan sinyal yang jelas dan sangat bermanfaat bagi keputusan investasi, kredit dan keputusan sejenis. Sinyal yang diberikan dapat berupa good news maupun bad news. Sinyal positif bisa diartikan sebagai peristiwa baik atau kabar baik (good news) sehingga akan memberikan reaksi positif juga terhadap pasar modal yang ditunjukan dengan kenaikan harga saham, sedang sinyal negatif (bad news) dapat berupa penurunan kinerja yang semakin mengalami penurunan.

Pengumuman informasi berupa laporan keuangan dan analisa kondisi keuangan dapat memberikan sinyal bahwa perusahaan manyatakan prospek yang baik dimasa mendatang sehingga investor atau calon investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham. Dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin dalam harga saham.

2.3 Efisiensi Pasar Modal

Perubahan saham erat hubungannya dengan konsep pasar modal yang efisien.

Pasar modal efisien adalah pasar modal yang harga sahamnya terbentuk akibat refleksi dari seluruh informasi yang tersedia. Jika informasi yang terefleksi hanya sebagian, akibat adanya informasi yang bersifat nonpublik atau akibat adanya kesalahan informasi, maka pasar modal tidak menjamin bahwa informasi tersebut telah secara efisien terkandung dalam harga saham, tetapi harga saham akan segera menyesuaikan diri dengan adanya informasi baru tersebut (Scott, 1997)

2.3.1 Syarat dan Ciri Pasar yang Efisien

Menurut Jogiyanto (2015:575) syarat pasar yang efisien adalah sebagai berikut :

(4)

1. Penyingkapan informasi, informasi dapat diperoleh dengan mudah, cepat dan gratis.

2. Harga dapat berubah secara bebas, harga tidak dapat diinvertasi oleh pihak manapun baik pembeli atau penjual saham, dan Undang-Undang melarang adanya manipulasi harga.

3. Pasar senantiasa dalam keadaan seimbang, pasar yang efisien ketika mendapat informasi baru, maka harga akan secara cepat menyesuaikan dan akan mencapai keseimbangan harga.

Menurut Jogiyanto (2015:575) Pasar disebut efisien jika memiliki ciri – ciri dibawah ini :

1. Harga-harga saham merespon secara cepat dan tepat terhadap informasi baru.

2. Perubahan harga terjadi secara random / acak, yang artinya perubahan harga hari ini tidak ada kaitannya dengan perubahan harga dimasa lalu.

3. Tidak dapat menentukan mana saham yang menguntungkan atau merugikan dimasa depan.

2.3.2 Bentuk Hipotesis Pasar Efisien

Fama dalam Jogiyanto (2015:586) menyajikan tiga macam bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan tiga macam bentuk informasi, yaitu informasi masa lalu, informasi sekarang yang sedang dipublikasikan dan informasi privat sebagai berikut ini :

1. Efisiensi Pasar Bentuk Lemah (weak from)

Pasar dikatakan dalam bentuk lemah, jika harga – harga dari sekuritas tercermin secara penuh (fully reflect) informasi masa lalu. Informasi masa lalu ini merupakan informasi yang sudah terjadi. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini berkaitan dengan dengan teori langkah acal (random walk theory) yang menyatakan bahwa data mas lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang. Jika pasar efisien secara bentuk lemah, maka nilai – nilai masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang. Ini berarti bahwa untuk pasar yang efisien

(5)

bentuk lemah, investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk mendapatkan keuntungan yang tidak normal.

2. Efisiensi Pasar Bentuk Setengah Kuat (semistrong form)

Pasar dikatakan efisien setengah kuat, jika harga – harga sekuritas secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan (all publicly available informastion) termasuk informasi yang berada di laporan – laporan keuangan perusahaan emiten.

3. Efisiensi Pasar Bentuk Kuat (strong form)

Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Jika pasar efisien dalam bentuk ini berhubungan satu dengan yang lain, maka tidak ada individual investor atau grup dari investor yang dapat memperoleh keuntungan tidak normal (abnormal return) karena mempunyai informasi privat.

2.4 Saham

Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang paling diminati investor karena memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyetaan modal seorang atau sepihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak hadir dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).

(6)

Mishkin and Easkins (2009) mendefinisikan saham sebagai berikut : A security that claim on the aerning and assets of corporation. Artinya saham merupakan sekuritas yang menyatakan tentang pendapatan dan aktiva dari sebuah perusahaan.

Menurut Fahmi (2012:81) pengertian saham adalah sebagai berikut :

“Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang paling banyak diminati oleh investor, karena mampu memberikan tingkat pengembalian yang menarik. Saham adalah kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya”.

Sedangkan menurut Weston dan Copeland (1999:166)

“Saham adalah tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas seperti yang telah diketahui bahwa tujuan pemodal membeli saham untuk memperoleh penghasilan dari saham tersebut. Masyarakat pemodal itu dikategorikan sebagai investor dan spekulator. Investor disini adalah masyarakat yang membeli saham untuk memiliki perusahaan dengan harapan medapat dividen dan capital gain dalam jangka panjang, sedangka spekulator adalah masyarakat yang membeli saham untuk segera dijual kembali bila situasi kurs dianggap paling menguntungkan seperti yang telah diketahui bahwa saham memberikan dua macam penghasilan yaitu dividen dan capital gain”.

2.4.1 Harga Saham

Harga saham merupakan harga penutupan pasar saham selama periode pengamatan untuk tiap-tiap jenis saham yang dijadikan sampel dan pergerakannya senantiasa diamati oleh para investor. Rusdin (2008:68) mengemukakan bahwa harga saham adalah :

“Harga saham adalah harga suatu saham pada pasar yang berlangsung, jika bursa sudah tutup maka harga saham tersebut adalah harga saham penutupanya dan pergerakanya senantiasa diamati oleh para investor”.

Menurut Jogiyanto (2007: 143) harga saham adalah harga yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan

(7)

oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal. Saham merupakan salah satu bentuk efek atau surat berharga yang diperdagangkan dipasar modal (bursa). Laba bersih per saham adalah Laba bersih setelah bunga pajak di bagi dengan jumlah lembar saham yang beredar. Pengukuran dari variabel harga saham ini yaitu harga penutupan saham (closing price) tiap perusahaan yang diperoleh dari harga saham pada periode akhir tahun.

2.5 Pengampunan Pajak (Tax Amnesty)

Tax amnesty atau pengampunan pajak adalah kebijakan pemerintah di bidang perpajakan yang memberikan penghapusan pajak yang seharusnya terutang dengan membayar tebusan dalam jumlah tertentu yang bertujuan untuk memberikan tambahan penerimaan pajak dan kesempatan bagi Wajib Pajak yang tidak patuh menjadi Wajib Pajak patuh. Penerapan tax amnesty diharapkan akan mendorong peningkatan kepatuhan sukarela Wajib Pajak di masa yang akan datang (Devano, 2006:137).

Sawyer (2006) mengemukakan arti pengampunan pajak adalah "a tax amnesty generally involves providing previously noncompliant taxpayers with the opportunity to pay back-taxes on undisclosed income, without fear of penalities or prosecution". Yang berarti “tax amnesty umumnya melibatkan penyediaan wajib pajak yang tidak patuh sebelumnya dengan kesempatan untuk membayar kembali pajak atas pendapatan yang tidak diungkapkan, tanpa rasa takut akan hukuman atau penuntutan”.

(8)

Pemerintah melalui Direktorat Jendral Pajak kembali mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016, Pengampunan pajak adalah penghapusan yang seharusanya terhutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana dibidang perpajakan dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

2.5.1 Tujuan Tax Amnesty

Tujuan tax amnesty atau pengampunan pajak adalah (Darussalam, 2015) : 1. Meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek. Permasalahan

penerimaan pajak yang stagnan atau cenderung menurun seringkali menjadi alasan pembenar diberikannya tax amnesty. Hal ini akan berdampak pada keinginan pemerintah untuk memberikan tax amnesty dengan harapan pajak yang dibayar oleh wajib pajak selama program tax amnesty akan meningkatkan penerimaan pajak.

2. Meningkatkan kepatuhan pajak dimasa yang akan datang. Kepatuhan pajak merupakan salah satu penyebab pemberian tax amnesty. Para pendukung tax amnesty umumnya berpendapat bahwa kepatuhan sukarela akan meningkat setelah program tax amnesty dilakukan. Hal ini didasari pada harapan bahwa setelah program tax amnesty dilakukan Wajib Pajak yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan, maka Wajib Pajak tersebut tidak akan bisa mengelak dan menghindar dari kewajiban perpajakannya.

(9)

3. Mendorong repatriasi modal atau aset. Kejujuran dalam pelaporan sukarela atas data harta kekayaan setelah program tax amnesty merupakan salah satu tujuan pemberian tax amnety. Dalam konteks pelaporan, data harta kekayaan tersebut, pemberian tax amnesty juga bertujuan untuk mengembalikan modal yang parkir di luar negeri tanpa perlu membayar pajak atas modal yang di parkir di luar negeri tersebut. Pemberian tax amnesty atas pengembalian modal yang di parkir di luar negeri ke bank di dalam negeri dipandang perlu karena akan memudahkan otoritas pajak dalam meminta informasi tentang data kekayaan wajib pajak kepada bank di dalam negeri.

4. Transisi ke sistem perpajakan yang baru. Tax amnesty dapat di justifikasi ketika tax amnesty digunakan sebagai alat transisi menuju sistem perpajakan yang baru.

2.5.2 Jenis-Jenis Tax Amnesty

Sawyer (2006) menyebutkan beberapa tipe pengampunan pajak (Tax Amnesty), yaitu:

1. Filling amnesty. Pengampunan yang diberikan dengan menghapuskan sanksi bagi Wajib Pajak yang terdaftar namun tidak pernah mengisi SPT (non- filers), pengampunan diberikan jika mereka mau mulai untuk mengisi SPT.

2. Record-keeping amnesty. Memberikan penghapusan sanksi untuk kegagalan dalam memelihara dokumen perpajakan di masa lalu, pengampunan diberikan jika Wajib Pajak untuk selanjutnya dapat memelihara dokumen perpajakannya.

(10)

3. Revision amnesty. Ini merupakan suatu kesempatan untuk memperbaiki SPT di masa lalu tanpa dikenakan sanksi atau diberikan pengurangan sanksi.

Pengampunan ini memungkinkan Wajib Pajak untuk memperbaiki SPT-nya yang terdahulu (yang menyebabkan adanya pajak yang masih harus dibayar) dan membayar pajak yang tidak (missing) atau belum dibayar (outstanding).

Wajib Pajak tidak akan secara otomatis kebal terhadap tindakan pemeriksaan dan penyidikan.

4. Investigation amnesty. Pengampunan yang menjanjikan tidak akan menyelidiki sumber penghasilan yang dilaporkan pada tahun-tahun tertentu dan terdapat sejumlah uang pengampunan (amnesty fee) yang harus dibayar.

Pengampunan jenis ini juga menjanjikan untuk tidak akan dilakukannya tindakan penyidikan terhadap sumber penghasilan atau jumlah penghasilan yang sebenarnya. Pengampunan ini sering dikenal dengan pengampunan yang erat dengan tindak pencucian (laundering amnesty).

5. Prosecution amnesty. Pengampunan yang memberikan penghapusan tindak pidana bagi Wajib Pajak yang melanggar undang-undang, sanksi dihapuskan dengan membayarkan sejumlah kompensasi.

Menurut Erwin Silitonga (2006), terdapat empat jenis pengampunan pajak, yaitu:

1. Pengampunan hanya diberikan terhadap sanksi pidana perpajakan saja sedangkan kewajiban untuk membayar pokok pajak termasuk pengenaan sanksi administrasi seperti bunga dan denda tetap ada. Tujuan pengampunan ini adalah memungut dan menagih utang pajak tahun – tahun sebelumnya

(11)

yang tidak dibayar atau dibayar tidak sesuai dengan peraturan perundang- undangan, sehingga penerimaan negara meningkat sekaligus jumlah wajib pajak bertambah.

2. Pengampunan pajak yang diberikan tidak hanya berupa penghapusan sanksi pidana, tetapi juga sanksi administrasi berupa denda. Tujuan dari pengampunan ini adalah dasarnya sama dengan jenis 1 (pertama), yang berbeda adalah jenis sanksi administrasi yang dikenakan oleh fiskus hanya sebatas bunga atas kekurangan pajak. Dengan demikian, model ini tetap harus membayar pokok pajak ditambah dengan bunga atas kekurangan pokok tersebut.

3. Pengampunan pajak diberikan atas seluruh sanksi, baik sanksi administrasi maupun sanksi pidana. Konsekuensi dari pengampunan jenis ini adalah wajib pajak hanya dikenakan kewajiban sebatas melunasi utang pokok untuk tahun- tahun sebelumnya tanpa dikenakan pidana. Dengan demikian pengampunan diberikan terhadap semua perbuatan yang dilakukan sebelum pemberian pengampunan pajak baik terhadap pelanggaran, yang bersifat adminitratif maupun pidana.

4. Pengampunan diberikan terhadap seluruh utang pajak untuk tahun-tahun sebelumnya dan juga atas seluruh sanksi baik yang bersifat administratif maupun pidana.

(12)

2.5.3 Aset Pengampunan Pajak

PSAK 70 paragraf 05 menjelaskan bahwa aset pengampunan pajak adalah :

“Aset yang timbul dari pengampunan pajak berdasarkan Surat Keterangan Pengampunan Pajak”

Biaya perolehan yang timbul dari aset pengampunan pajak yaitu berdasarkan Surat Keterangan Pengampunan Pajak yang dilaporkan. Pada paragraf 10 dijelaskan bahwa biaya perolehan aset pengampunan pajak merupakan deemed cost dan menjadi dasar bagi entitas dalam melakukan pengukuran setelah pengakuan awal yang mengacu pada SAK yang relevan. Entitas diperkenankan tetapi tidak diharuskan untuk mengukur kembali aset dan liabilitas pengampunan.

2.5.4 Liabilitas Pengampunan Pajak

PSAK 70 paragraf 05 menjelaskan bahwa liabilitas pengampunan pajak adalah “ Liabilitas yang berkaitan langsung dengan perolehan aset pengampunan pajak”. Liabilitas pengampunan pajak diakui sebesar kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau setara kas untuk menyelesaikan kewajiban yang berkaitan langsung dengan perolehan aset pengampunan pajak.

2.6 Nilai Perusahaan

Tujuan utama perusahaan menurut Theory of the firm adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (Salvatore, 2005:8).

Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga memaksimalkan kemakmuran pemegang sahamyang merupakan tujuan utama perusahaan. Matono

(13)

dan Harjito (2010:13) berpendapat memaksimalkan nilai perusahaan disebut sebagai memaksimalkan kemakmuran pemegang saham (stakehoder wealth maximation) yang dapat diartikan juga sebagai memaksimalkan harga saham biasa dari perusahaan (maximazing the price of the firm’s common stock).

Menurut Husnan dalam Reni Guspita Sari (2013) Definisi nilai perusahaan adalah :

“Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual, semakin tinggi nilai perusahaan semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan.”

Wahyuni (2012) menjelaskan bahwa nilai perusahaan sering dikaitkan dengan seberapa besar perusahaan tersebut dengan melihat harga saham yang ada pada waktu itu. Semakin tinggi harga saham, maka nilai perusahaan pun akan ikut tinggi Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat.

Sedangkan Noerirawan (2012) menyatakan bahwa :

“Nilai Perusahaan merupakan kondisi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini”.

2.7 Economic Value Added (EVA) Momentum

Perbedaan mencolok antara EVA Momentum dengan EVA generasi sebelumnya adalah EVA Momentum memakai perubahan EVA dibagi dengan

𝐸𝑉𝐴𝑀 = EVAt – Eva t − 1 Penjualan tahun t – 1

(14)

penjualan dari satu periode sebelumnya. Rasio ini menjelaskan segalanya dengan gamblang mengenai kinerja sebuah bisnis. Stewart menyatakan bahwa semakin besar rasio EVA Momentum maka semakin baik atau apabila EVA Momentum positif artinya kinerjanya tumbuh, apabila negatif artinya kinerjanya mundur.

2.8 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai sumber referensi, bahan perbandingan, dan kajian dalam mengembangkan penelitian ini. Berikut disajikan tabel review penelitian terdahulu yang berkaitan dengan bahasan dalam penelitian ini :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No. Judul Penelitian Penelitian Kesimpulan 1. The Occurance of Tax

Amnesties : Theory and Evidence

Rapl-C. Bayer, Harald

Oberhofer, dan Hannes Winner (2014)

Penelitian ini menemukan bahwa kebijakan tax amnesty berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan wajib pajak setelah kebijakan tax amnesty di terapkan di Amerika Serikat tahun 1981 dan tahun 2001 serta bertambahnya penerimaan negara secara singkat.

2. An Empirical Study of Impact of EVA Momentum on the Shareholders Value Creation as Compared to Traditional Financial Performance Measures – With Special Reference to the UAE

Dr. Ahmed Magdy Fayed dan Dr. Suchi Dubey (2016)

Penelitian ini menemukan bahwa EVA Momentum lebih terkait dengan penciptaan kekayaan pemegang saham di UAE dibandingkan ukuran akuntansi konvensional namun variabel lain seperti MVA dapat digunakan juga sebagai proxy untuk penciptaan kekayaan pemegang saham.

3. Analisis Reaksi Harga Saham Sebelum dan Sesudah Tax Amnesty Periode Pertama (Studi Kasus Saham

Sutra Manik, Julie J. Sodakh dan Sintje Rondonuwu (2017)

Informasi kebijakan tax amnesty tidak memberikan sinyal kepada investor sehingga informasi ini tidak mempengaruhi keputusan

(15)

Sektor Properti yang Tercatat di BEI)

investor untuk melakukan kegiatan investasi di pasar modal. Salah satu faktor penyebab belum terdapat perbedaan harga saham di sektor properti adalah dana tax amnesti yang ,masih mengendap di perbankan sehingga pasar modal belum menerima aliran dana tax amnesty seperti yang ditargetkan sebelumnya.

4. Analisa Reaksi Pasar Modal Terhadap Kebijakan amnesti Pajak (Studi Kasus Pada Saham - Saham Syariah yang Masuk Daftar JII Periode Juni - November 2016)

Dwi Rahayu (2016)

Hasil penelitian ini menemukan bahwa Tidak terdapat abnormal return yang signifikan pada saham - saham syariah yang masuk daftar Jakarta Islamic Index.

5. Reaksi Investor Dalam Pasar Modal Terhadap Undang - Undang Tax Amnesty (Event Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar Dalam LQ45 di Bursa Efek Indonesia)

I Gusti Agung

A. Densi

Wulandari, Made Arie Wahyuni, Edy Sujana (2017)

Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara abnormal return dan aktivitas volume perdagangan saham sebelum dan sesudah peristiwa berlakunya undang - undang tax amnesty.

6. Pengaruh EVA Momentum dan Dividen Per Share Terhadap Harga Saham (Studi Kasus Perusahaan yang Masuk Indeks LQ45 2005 - 2008)

Salman Abdurrahman (2010)

Secara parsial EVA momentum berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan harga saham.

7. Pengaruh Good

Corporate Governance dan Tax Amnesty terhadap Nilai Perusahaan (Study Kasus Pada

Perusahaan Sektor Properti dan Real Estate yang Terdaftar

Fatoni Imam Wibowo (2018)

Hasil penelitian menemukan bahwa ukuran dewan

komisaris memiliki pengaruh positif terhadap kinerja dan nilai perusahaan, kepemilikan manajerial memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja dan nilai perusahaan, kepemilikan institusional, kepemilikan publik, kepemilikan asing

(16)

di Bursa Efek Indonesia)

tidak berpengaruh dan arahnya negatif terahadap kinerja dan nilai perusahaan, tax amnesty tidak berpengaruh terhadap kinerja dan nilai perusahaan.

8. Analisa Pengaruh Antara EVA dan MVA terhadap Harga Saham Pada

Perusahaan Sektor LQ45 di BEI periode 2007 – 2008

Meita Rosy (2009)

Penggunaan metode EVA dan MVA untuk menilai kinerja keuangan perusahaan indeks LQ45 dapat diterapkan dengan baik, karena kedua metode tersebut dapat menciptakan nilai tambah dan

mensejahterakan investor. Hal ini dibuktikan dengan

berpengaruhnya EVA dan MVA terhadap harga saham.

Dengan melihat hasil penelitian terdahulu, diketahui bahwa terdapat inkonsistensi hasil yang menyimpulkan pengaruh tax amnesty terhadap pasar modal maupun harga saham. Oleh karena itu penulis termotivasi untuk melakukan pengujian kembali terhadap variabel tersebut dengan harapan untuk memperoleh hasil yang konsisten. Untuk penelitian terhadap nilai perusahaan penulis akan mencoba meneliti dengan menggunakan proksi Economic Value Added (EVA) Momentum dan diharapkan mendapatkan hasil yang positif.

Dengan adanya penelitian terdahulu yang dapat menjadi acuan, maka beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah proksi dari penelitian tax amnesty yaitu selisih aset dan liabilitas sebagai penerapan PSAK 70 yang dapat dilihat dari laporan keuangan auditan tahun 2016 dan laporan keuangan triwulan kedua tahun 2017 pada perusahaan- perusahaan yang mengikuti program tax amnesty. Penelitian ini menggunakan

(17)

sampel perusahaan publik di Indonesia (khususnya industri manufaktur) dengan menggunakan data tahun 2016-2017.

2.9 Kerangka Pemikiran

Pasar modal merupakan salah satu tempat yang paling banyak diminati oleh para investor untuk melakukan investasi. “stock market is an integral part of the financial system of economy and it plays an important part to lead the economic grow, saving and invesment in the country” (Raza dan Jawaid,2012:2).

Pasar modal dikatakan efisien jika harga saham mencerminkan dengan cepat dan tepat semua informasi yang diketahui. Seperti yang telah dijabarkan di bagian latar belakang, informasi tersebut dapat berasal dari financial statement atau kebijakan pemerintah. Bermula dari teori efisien pasar yang dikembangkan oleh Fama (1967,1970) bahwa suatu pasar sekuritas dikatakan efisien jika harga-harga saham sekuritas mencerminkan secara penuh informasi yang tersedia. Pasar dikatakan efisien jika dengan menggunakan informasi yang terersedia, investor secara akurat dapat mengekspektasi harga dari sekuritas bersangkutan.

Terhitung 1 Juli 2016 pemerintah indonesia telah melakukan pengesahan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) yang salah satu tujuanya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi di Indonesia melalui pengalihan harta dan pembayaran uang tebusan pajak dari masyarakat. Kebijakan pengampunan pajak ini merupakan suatu peristiwa yang diasumsikan mengandung informasi yang dapat memberikan sentimen positif. Penelitian yang membuktikan bahwa tax amnesty merupakan peristiwa yang mengandung informasi tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Bayer (2014:25) dengan judul “The

(18)

Occurencence of Tax Amnesty : Theory and Evidence” ia menemukan adanya peningkatan kepatuhan pajak setelah kebijakan amnesti pajak di Amerika Serikat tahun 1981 dan tahun 2011, serta bertambahnya penerimaan negara secara cepat. Ia menyarankan pemerintah juga harus membuat undang-undang yang kredibel, untuk mengantisipasi adanya peningkatan anggaran dimasa depan setelah kebijakan amnesi pajak diberlakukan. Untuk mempermudah dalam penyusunan laporan keuangan, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI mengesahkan PSAK 70 Akuntansi Aset dan Liabilitas Pengampunan Pajak.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi harga saham, faktor lain diantaranya yaitu nilai perusahaan. Pada dasarnya investor mengukur nilai perusahaan berdasarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan laba. Kemampuan perusahaan untuk memberikan rasa aman dan kepercayaan dalam menghasilkan laba merupakan fokus utama dalam penilaian perusahaan. Jika perusahaan memiliki nilai perusahaan yang baik, maka investor akan tertarik menanamkan modalnya. Pada penelitian Pamadanu (2011:18) bahwa nilai perusahaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap saham automotive and allied products yang terdaftar di BEI. Sejalan dengan penelitian Ryadi dan Sujana (2014:15) bahwa nilai perusahaan berpengaruh positif pada saham indeks LQ45 di BEI. Sedangkan Rosy (2009:10) meneliti nilai perusahaan tidak mempengaruhi harga saham.

(19)

2.9.1 Pengaruh Tax Amnesty Terhadap Harga Saham

Tax amnesty pada umumnya merupakan sebuah peristiwa yang dapat menjadi faktor internal sekaligus faktor eksternal yang mempengaruhi sebuah keputusan bagi investor dalam berinvestasi. Untuk penyusunan laporan keuangan dan pencatatan transaksi dari tax amnesty yang dipandu oleh PSAK 70. Menurut PSAK 70 pada saat penyajian dan pengungkapan, entitas menyajikan aset dan liabilitas pengampunan pajak secara terpisah dari aset dan liabilitas lainnya. Dalam hal ini, bagi perusahaan yang mengikuti program pengampunan pajak akan memunculkan informasi baru mengenai selisih nilai aset dan liabilitas pengampunan pajak yang diakui dalam laporan keuangan. Ketika suatu perusahaan mempublikasi laporan keuangannya, investor akan menggunakan informasi akuntansi yang terdapat didalamnya untuk menilai kinerja perusahaan.

Hal ini bisa dilihat dari dengan adanya respon positif yang terus mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHGS) setelah pengesahan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak tersebut diberlakukan.

Hasil Equity Market Review yang dilakukan oleh Commonwealth Bank (2016) mengulas mengenai pergerakan pasar saham dan pasar obligasi selama bulan Juni sampai 15 Juli 2016 ini IHGS naik 6,5% dan net - buy asing di IHGS Rp 19 triliun.

Tingginya aliran dana asing masuk ke pasar modal membuat IHGS menguat. Hal ini menunjukan bahwa investor juga ikut merespon adanya kebijakan ini.

Berdasarkan keadaan tersebut,maka dapat disimpulkan bahwa adanya suatu peristiwa yang terjadi didalam negeri mampu menyebabkan kondisi pasar modal bereaksi (Asmorojati,2017:2)

(20)

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Agung dan Wulandari (2017:8) yang meneliti reaksi investor dalam pasar modal terhadap undang-undang Tax amnesty, menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara abnormal return dan aktivitas volume perdagangan saham sebelum dan sesudah peristiwa berlakunya undang - undang Tax Amnesty.

2.9.2 Pengaruh Nilai Perusahaan Terhadap Harga Saham

Nilai perusahaan merupakan persepsi investor dan calon investor atas kinerja perusahaan yang tercermin dari perubahan harga saham. Kinerja perusahaan yang baik akan dinilai baik oleh pasar sehingga permintaan akan saham akan meningkat diikuti dengan peningkatan harga saham. Dengan kata lain niali perusahaan merupakan ukuran kinerja manajer keuangan. Menurut M. Fuad (2006:23), nilai perusahaan merupakan harga jual perusahaan yang dianggap layak oleh calon investor sehingga, ia mau membayarnya jika suatu saat perusahaan akan dijual.

Hal yang hampir sama juga dinyatakan oleh Suad (2008:7) bahwa nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Nilai parusahaan yang tinggi seharusnya juga memiliki suatu tingkat investasi yang tinggi pula dalam waktu yang lama pada suatu perusahaan.

2.10 Paradigma Pemikiran

Keterkaitan antar variabel tersebut akan dinyatakan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut :

(21)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

2.11 Hipotesis Penelitian

Menurut Sugiyono (2014:63) hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berpikir. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Jawaban atau kesimpulan sementara dari penelitian ini adalah :

H₁ : Tax Amnesty berpengaruh terhadap harga saham H₂ : Nilai perusahaan berpengaruh terhadap harga saham

Tax Amnesty

Nilai Perusahaan

Harga Saham

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan dengan pertumbuhan yang besar akan memperoleh kemudahan untuk memasuki pasar modal karena investor menangkap sinyal yang positif terhadap perusahaan yang

kebijakan tax amnesty yang hadir bagi wajib pajak yang masih belum atau kurang melaporkan hartanya diharapkan dapat mengikuti kebijakan tax amnesty karena kebijakan tersebut

Untuk melihat seberapa besar reaksi pasar modal terhadap kebijakan tax amnesty pada saat sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan tersebut, maka penelitian ini

Peneliti berasumsi bahwa berhasilnya pemerintah dalam menjalankan program tax amnesty memberikan reaksi terhadap pasar modal Indonesia yang ditunjukkan dengan perbedaan

Ventilasi juga memiliki pengaruh terhadap perbedaan hasil belajar siswa dalam kelas seperti yang ditemukan oleh Toftum, dkk (2015), peneliti menemukan adanya

Misalkan undang-undang tentang investasi menjamin bahwa negaranya tidak akan melakukan nasionalisasi pada perusahaan investor asing, pemberian kepastian tentang

Pasar modal adalah pasar atau tempat bertemunya pihak yang menawarkan dan memerlukan dana jangka panjang lebih dari satu tahun (Anoraga dan Pakarti, 2006) mengatakan bahwa pasar

1) Pihak investor. Jika hasil studi menyatakan layak untuk dilaksanakan, maka dapat dimulai dengan mencari investor guna menanamkan modalnya pada usaha ini. Modal