12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori dan Konsep
2.1.1 Teori Legitimasi
Teori legitimasi adalah suatu kondisi yang ada ketika suatu sistem nilai perusahaan sejalan dengan sistem nilai dari sistem sosial yang lebih besar dimana perusahaan merupakan bagiannya (Ghozali dan Cariri, 2007:411). Legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh entitas adalah merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem norma, nilai, kepercayaan dan definisi yang dikembangkan secara sosial (Suchman, 1995). Legitimasi didapatkan jika apa yang dijalankan oleh perusahaan telah selaras dengan apa yang juga diinginkan oleh masyarakat. Jika tidak terjadi keselarasan antara sistem nilai perusahaan dengan nilai masyarakat maka perusahaan akan kehilangan legitimasinya sehingga dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
O’Donovan (2002) berpendapat legitimasi organisasi saling berkaitan dan saling memengaruhi antara masyarakat dan perusahaan. Teori legitimasi bila dikaitkan dengan kepatuhan wajib pajak sangat berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak. Dimana suatu kondisi nilai perusahaan sejalan dengan sistem nilai dari sistem sosial yang lebih besar dimana perusahaan merupakan bagiannya. Dalam kepatuhan wajib pajak, pemerintah telah mengeluarkan
13
kebijakan tax amnesty yang hadir bagi wajib pajak yang masih belum atau kurang melaporkan hartanya diharapkan dapat mengikuti kebijakan tax amnesty karena kebijakan tersebut memberikan pengampunan bagi masyarakat yang belum mengungkapkan hartanya tanpa dibebani sanksi bunga yang tinggi. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut diharapkan wajib pajak dapat mengikuti kebijakan tersebut dan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak yang pada nantinya dapat membantu pemerintah untuk membangun Negara demi kesejahteraan masyarakat bersama.
2.1.2 Pengertian Pajak
Selama ini pengertian pajak menurut para ahli berbeda-beda akan tetapi memiliki inti dan tujuan yang sama. Berikut ini akan disajikan beberapa pengertian pajak menurut Undang-undang dan para ahli :
1) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditujukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2009:1).
2) Sedangkan berdasarkan UU No. 28 Tahun 2007 Perubahan Ketiga atas UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
14
3) Ruyadi (2009), mengatakan pajak merupakan sumber pendanaan bagi Pemerintah untuk melaksanakan tanggung jawab Negara untuk mengatasi masalah sosial, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran serta menjadi kontrak sosial antar warga negara dengan pemerintah.
Berdasarakan beberapa pengertian pajak diatas, dapat disimpulkan bahwa pajak adalah iuran wajib rakyat kepada kas negara yang sifatnya dapat dipaksakan sesuai Undang-Undang dan tidak mendapat timbal balik secara langsung (kontraprestasi) dan digunakan untuk keperluan-keperluan pengeluaran negara guna mengatasi masalah sosial, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
2.1.3 Fungsi Pajak
Bagi Negara pajak merupakan hal yang sangat penting karena pajak salah satu penyumbang pendapatan negara terbesar yang digunakan untuk pembiayaan pengeluaran-pengeluaran negara guna menjalankan pemerintahan. Terdapat dua fungsi pajak (Mardiasmo, 2011:1) yaitu:
1) Fungsi anggaran (budgetair)
Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Misalnya, pajak dimasukan kedalam APBN sebagai penerimaan Negara.
2) Fungsi mengatur (regulerend)
Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Misalnya, pajak yang tinggi dikenakan pemerintah dalam bidang sosial untuk mengurangi konsumsi
15
minuman keras di masyarakat, tarif pajak yang tinggi dikenakan kepada pemilik kendaraan pribadi seperti mobil yang dikenakan tarif pajak progresif untuk mengurangi kepemilikan mobil pribadi dan akan berdampak langsung pada berkurangnya kemacetan. Tarif pajak rendah yang dikenakan pemerintah untuk barang ekspor guna meningkatkan ekspor yang nantinya dapat menambah devisa negara.
2.1.4 Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut kamus umum bahasa Indonesia (Jatmiko, 2006), kepatuhan berarti tunduk atau patuh pada ajaran atau aturan. Dalam hal pajak, aturan yang berlaku adalah aturan perpajakan. Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayaran pajak, pemotong pajak, dan pemungutan pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (Mardiasmo, 2011). Dalam hubungannya dengan kepatuhan perpajakan, Rahayu (2011) mengatakan bahwa, pada prinsipnya kepatuhan perpajakan adalah tindakan wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajaknnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku dalam suatu negara.
Teori tentang tax compliance pertama kali dikemukakan oleh Allingham and Sandmo ( Allingham dan Sadmo 1972, dalam Hamonangan dan Mukhlis, 2012).
Teori ini mengasumsikan sedemikian tingginya tingkat ketidakpatuhan dari sisi ekonomi. Teori ini berkeyakinan tidak ada individu bersedia membayar pajak secara sukarela (voluntary compliance). Oleh sebab itu individu akan selalu
16
menentang untuk membayar pajak (risk aversion). Untuk menjelaskan teorinya tersebut, Allingham dan Sadmo merumuskan suatu model :
D = D (I,t,p,f)……… (1) Keterangan :
D : Declared income I : Pendapatan tetap t : Tarif pajak
p : Probabilitas untuk diaudit f : penalty rate
Menurut teori ini , faktor utama yang mempengaruhi kepatuhan pajak antara lain : pendapatan tetap (I), tarif pajak (t), probabilitas dilakukan audit (p), dan besarnya sanksi yang mungkin dikenakan (f). Individu diasumsikan memiliki endowment pendapatan yang tetap yang harus dilaporkan ke pemerintah untuk
menentukan besarnya pajak yang harus dibayarkannya. Declared Income merupakan tingkat pendapatan wajib pajak yang dilaporkan pada tingkat tarif pajak t. Pendapatan yang tidak dilaporkan tidak dikenai pajak, tetapi konsekuensinya individu dimungkinkan untuk di audit dengan denda sanksi sebesar f yang harus di bayar untuk setiap pendapatan yang tidak dikenakan pajak.
Menurut Nurmantu (2010:148) dijelaskan bahwa terdapat dua macam kepatuhan yaitu: (1) Kepatuhan Formal. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Perpajakan. Dalam hal ini kepatuhan formal meliputi: (a) wajib pajak membayar pajak dengan tepat waktu, (b) wajib pajak
17
membayar pajak dengan tepat jumlah, (c) wajib pajak tidak memiliki tunggakan pajak (2) Kepatuhan Material. Kepatuhan material adalah dimana suatu keadaan wajib pajak secara substansi/hakekat memenuhi semua ketentuan perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa undang-undang perpajakan.
2.1.5 Tax Amnesty
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak, menyebutkan bahwa pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkapkan harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur didalam Undang-undang ini.
Kebijakan Tax Amnesty sebenarnya pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1984. Pada hakekatnya implementasi tax amnesty secara psikologis sangat tidak memihak pada wajib pajak yang selama ini taat membayar pajak. Kalaupun kebijakan itu diterapkan di suatu negara, harus ada kajian mendalam mengenai karakteristik wajib pajak yang ada di suatu negara tersebut karena karakteristik wajib pajak tentu saja berbeda-beda. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah karakteristik wajib pajak memang banyak yang tidak patuh, sehingga tax amnesty tidak akan menyinggung para WP yang taat membayar pajak. Selain itu,
pola tax amnesty seperti model sunset policy hanya bisa diterapkan sekali dalam seumur hidup wajib pajak. Pengampunan pajak tersebut diberikan atas pajak- pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun bentuk
18
pengampunannya dikenakan tebusan dengan tarif: (1) 1% (satu persen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal ditetapkannya Keputusan Presiden ini telah memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak Pendapatan/Pajak Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984; (2) 10%
(sepuluh persen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal ditetapkannya Keputusan Presiden ini belum memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak Pendapatan/Pajak Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984.
2.1.6 Tujuan Tax Amnesty
Menurut Undang-undang No. 11 Tahun 2016 Pasal 2 (butir 2) Tentang Pengampunan Pajak menyebutkan bahwa pengampunan pajak bertujuan untuk:
1) Mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan harta, yang antara lain akan berdampak pada peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar rupiah, perbaikan suku bunga dan peningkatan investasi.
2) Mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komperhensif dan terintegritas.
3) Meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain untuk pembiayaan pembangunan.
19
2.1.7 Subjek dan Objek Pengampunan Pajak
Sesuai Undang-undang No.11 Tahun 2016 Pasal 3 Tentang Pengampunan Pajak menyebutkan bahwa subjek dan objek pengampunan pajak adalah :
1) Setiap wajib pajak berhak mendapatkan pengampunan pajak.
2) Pengampunan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada wajib pajak melalui pengungkapan harta yang dimilikinya dalam surat pernyataan.
3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yaitu wajib pajak yang sedang:
a. Dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan
b. Dalam proses peradilan
c. Menjalani hukuman pidana, atas tindakan pidana di bidang perpajakan.
4) pengampunan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengampunan atas kewajiban perpajakan sampai dengan akhir tahun pajak terakhir, yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan oleh wajib pajak.
5) kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri atas kewajiban:
a. Pajak Penghasilan
b. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
20
2.1.8 Rancangan Tax Amnesty
Tax amnesty diluncurkan tidak semata - mata untuk mencapai penerimaan
pajak jangka pendek, namun tujuan utamanya adalah untuk membangun database wajib pajak yang lebih baik. Besar harapannya dengan database wajib pajak yang telah disusun dari program tax amnesty mampu memunculkan potensi pajak kedepannya (InsideTax Magazine - 36, 2015:75). Tax amnesty yang merupakan rekonsiliasi nasional bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis antara wajib pajak dengan Direktorat Jendral Pajak (InsideTax Magazine -36, 2015:81). Diharapkan pengembalian modal yang tersimpan di bank luar negeri bersifat opsional dalam tax amnesty. Pandangan Misbakhun yang terdapat dalam InsideTax Magazine – 36 ( 2015:85 - 89) beranjak dari turunnya penerimaan pajak yang merupakan penurunan penerimaan pajak terbesar sepanjang sejarah, alternatif kebijakan yang paling sesuai adalah tax amnesty.
Tax amnesty akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan basis pajak dan
meningkatkan tax ratio yang selama ini hanya berada pada angka 12%.
Kekhawatiran pemerintah juga semakin mendorong penerapan tax amnesty untuk menghindari wajib pajak menyimpan uangnya di luar negeri. Besaran tarif tebusan 2% sampai dengan 6% atas pengampunan pajak pelaporan harta bersih, ketentuan ini tidak bisa menerapkan tarif umum karena terminologinya adalah uang tebusan.
Fitur repatriasi modal akan sangat bermanfaat untuk perbaikan basis pajak kedepannya. Berkembang isu melalui UU Pengampunan Nasional segala sanksi yang terkait dengan pengampunan pajak akan diampuni, namun sesuai dengan
21
perkembangan pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sanksi yang diampuni hanya yang terkait pajak saja (InsideTax Magazine - 36, 2015:85).
Bercermin dari berhasilnya kebijakan Sunset Policy pada tahun 2008, namun pemerintah kecolongan dalam membedakan Surat Pemberitahuan (SPT) yang mana dilaporkan secara normal dan yang mana dilaporkan dengan memanfaatkan Sunset Policy. Penyusunan kebijakan tax amnesty diharapkan mampu menutupi
kelemahan sebelumnya.
Wajib pajak yang memanfaatkan tax amnesty, segala aset yang dilaporkan wajib disusun dalam suatu database yang lebih baik. Database tersebut merupakan potensi pajak kedepannya. Menjadi tantangan berikutnya bagaimana menjamin kerahasiaan sumber dari aset yang dilaporkan dalam program tax amnesty, apakah ada jaminan kepada wajib pajak untuk tidak mengusut asal
muasal aset tersebut sesuai dengan Pasal 41 ayat (3) UU KUP. Untuk menjamin semua aset dari wajib pajak telah dilaporkan maka, diupayakan wajib pajak melakukan deklarasi aset secara penuh (full disclosure). Wajib pajak yang memanfaatkan tax amnesty mempunyai hak untuk mengadukan jika terjadi pembocoran rahasia oleh tim pemeriksa atau pegawai Direktorat Jendral Pajak.
2.1.9 Tax Amnesty di Berbagai Negara
Di beberapa negara sebenarnya sudah pernah melaksanakan tax amnesty akan tetapi ada yang berhasil melaksanakan program tersebut dan juga ada yang gagal. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari keseriuan pemerintah untuk melaksakan program tersebut sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Penelitian Togler & Schaltegeer (2001) menyatakan bahwa negara yang berhasil
22
melaksanakan program tax amnesty adalah India dan Afrika Selatan. Dalam Inside Tax Magazine – 37 (2016) mengulas mengenai kebijakan tax amnesty yang merupakan awal dari reformasi perpajakan di Indonesia. Reformasi yang dilakukan di Argentina dan Filipina termasuk dalam penerapan tax amnesty yang tidak berhasil karena seringnya pemberian tax amnesty yang mengakibatkan wajib pajak mengaharapkan program yang sama dikemudian hari sehingga wajib pajak bersifat menunggu, hal ini merupakan salah satu kelemahan kebijakan tax amnesty jika terlalu sering dilakukan sehingga wajib pajak berharap mendapat pengampunan pajak pada program tax amnesty berikutnya.
Hasil penelitian Boniello, Polacco, Florenzano dan Jaret (2003) dan karya Widodo, Djefris dan Wardhani (2010) dalam Bagiada (2016) menjelaskan bahwa program kebijakan tax amnesty berhasil diterapkan di India pada tahun 1997 yang telah mampu menambah pendapatan pajaknya sebesar 8,05% dari keseluruhan pajak di India pada masa itu. Afrika Selatan juga dianggap berhasil melaksanakan kebijakan tax amnesty ini yang dilaksanakan pada tahun 2003-2004 yang berhasil mengumpulkan dana hingga 8000 dollar. Keberhasilan India pada tahun 1997 dan Afrika Selatan tahun 2003-2004 tidak diikuti oleh Rusia. Menurut penelitian Martinez-Vazquez dan Wallace (2009) penerapan kebijakan tax amnesty yang diterapkan oleh Rusia bukan merupakan solusi untuk meningkatkan pendapatan negara secara permanen. Karena penggunaaan fiskal gimmick seperti tax amnesty ini juga akan membebankan biaya tambahan bagi negara untuk mendukung jalannya program ini selain itu belum tepatnya program tax amnesty dengan karakter wajib pajak di Rusia dianggap sebagai penyebab gagalnya tax amnesty.
23
Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan kebijakan tax amnesty seharusnya diikuti dengan reformasi kebijakan perpajakan secara nasional dan harus dapat melihat karakter wajib pajak agar kebijakan tax amnesty ini dapat berhasil dijalankan.
2.1.10 Tax Amnesty di Indonesia
Sebelunya Indonesia sudah pernah menerapkan kebijakan tax amnesty ini yakni pada tahun 1964 melalui Penetapan Presiden No.5 tahun 1964 dan tahun 1984 melalui Keputusan Presiden No. 26 Tahun 1984 Tentang Pengampunan Pajak dan Kepres No.72 Tahun 1984 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1984 Tentang Pengampunan Pajak. Menurut Ragimun (2015) penyebab kedua tax amnesty ini tidak berhasil adalah karena kurangnya sarana prasarana pendukung dan masih belum jelasnya tujuan dari kebijakan tax amnesty ini. Ditambahkan kembali oleh Tambunan (2015) bahwa kegagalan dari kedua tax amnesty tersebut karena kurang tegasnya penegak hukum (law-enforcement)
pasca penerapan kebijakan tersebut.
Tax amnesty yang dilakukan pada masa itu adalah pengampunan pajak
model investigation amnesty. Melalui pengampunan pajak ini Direktorat Jendral Pajak tidak akan menyelidiki dan menginvestigasi sumber penghasilan yang dilaporkan pada periode historis. Biaya pengampunan yang harus dibayar oleh wajib pajak adalah sebesar 10% dan 5% dari total objek pengampunan.
2.1.11 Sanksi Perpajakan
Terdapat undang-undang yang mengatur tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan. Sanksi adalah suatu hukuman yang diberikan kepada orang-
24
orang yang melanggar peraturan. Sanksi diperuntukan agar peraturan atau undang-undang tidak dilanggar. Agar peraturan pajak dapat dipatuhi maka harus ada sanksi perpajakan bagi para pelanggarnya.
Definisi sanksi perpajakan menurut Mardiasmo (2009:57) adalah sanksi pajak merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati. Atau bisa dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan.
Menurut M. Zain (2007:35) mengatakan bahwa sesungguhnya tidak diperlukan suatu tindakan apapun, apabila dengan rasa takut dan acaman hukuman (sanksi dan pidana) saja wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakannya. Perasaan takut tersebut cukup ampuh untuk mengurangi penggelapan pajak dan kelalaian pajak. Jika ini sudah berkembang dikalangan wajib pajak maka hal ini akan berdampak pada kesadaran dan kepatuhan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.
Dalam Mardiasmo (2009:57) undang-undang perpajakan dikenal ada dua macam sanksi, yaitu sanksi pidana dan sanksi administrasi. Sanksi pidana merupakan siksaan atau penderitaan, suatu alat pencegah atau banteng hukum yang digunakan fiskus agar norma perpajakan dipatuhi. Sedangkan sanksi administrasi merupakan pembayaran kerugian kepada negara khususnya yang berupa bunga dan kenaikan.
Pandangan tentang sanksi perpajakan tersebut diukur dengan indikator (Yadnyana, 2009 dalam Muliari dan Setiawan, 2010) sebagai berikut :
25
1) Sanksi pidana yang dikenakan untuk pelanggar aturan pajak cukup berat.
2) Sanksi administrasi yang dikenakan untuk pelanggar aturan pajak sangat ringan.
3) Pengenaan sanksi yang cukup berat merupakan sarana untuk mendidik wajib pajak.
4) Sanksi pajak harus dikenakan kepada pelanggarnya tanpa toleransi.
5) Pengenaan sanksi atas pelanggaran pajak dapat dinegosiasikan.
Sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2016 Pasal 18 Tentang Pengampunan Pajak pada ayat (1) dan (3) menjelaskan tentang sanksi yang dikenakan, yaitu :
1) Dalam hal wajib pajak telah memperoleh surat keterangan kemudian ditemukan adanya data atau informasi mengenai harta yang belum atau kurang diungkapkan dalam surat pernyataan, atas harta yang dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak.
2) Atas tambahan penghasilan tersebut dikenai Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan dan ditambah dengan sanksi administrasi perpajakan berupa kenaikan sebesar 200 persen dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang bayar.
26
2.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 1013:9). Hipotesis dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu variabel tax amnesty dan sanksi perpajakan.
2.2.1 Pengaruh Penerapan Kebijakan Tax Amnesty Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Menurut (Suchman,1995) menyebutkan bahwa legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh entitas adalah merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem norma, nilai dan kepercayaan. Dalam hal ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Tax Amensty bagi masyarakat, dimana pemerintah melaksanakan kebijakan pengampunan ini dengan harapan kepatuhan wajib pajak dapat ditingkatkan lagi. Tax amnesty adalah pengampunan pajak yang diberikan oleh pemerintah bagi orang pribadi atau badan yang terindikasi melakukan penghindaran pajak dengan cara menyimpan uangnya di luar negeri dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan dengan tarif yang rendah sehingga mereka mau menarik uangnya untuk dibawa kembali ke Indonesia dan sekaligus untuk memudahkan pemerintah dalam hal ini Direktorat Jendral Pajak untuk mendata kembali wajib pajak yang ada. Tujuan dari tax amnesty ini selain untuk menarik kembali dana yang disimpan diluar negeri, tujan dari tax amnesty adalah untuk meningkatkan pendapatan negara dari sektor pajak yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian Indonesia.
27
Tax amnesty pada kesempatan ini diharapkan dapat digunakan sebagai
kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat baik yang masih menahan uang diluar negeri untuk ditarik kembali ke Indonesia tanpa rasa takut dikenakan tarif pajak yang tinggi. Pengampunan ini tidak saja bagi warga negara yang masih menahan uangnya diluar negeri tetapi meliputi pengampunan atas kewajiban perpajakan sampai akhir tahun pajak terakhir, yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan wajib pajak.
Sampai saat ini pemerintah masih terus mengajak bagi para pengusaha yang masih melakukan penghindaran pajak dengan menyimpan dana mereka diluar negeri akan tetapi pada tahun 2018 nanti akan diberlakukannya kesepakatan bersama tentang pertukaran data dan informasi (automatic exchange of information) di berbagai negara sehingga pemerintah akan mudah melacak
informasi warga negara yang masih melakukan pengindaran pajak dengan menyembunyikan hartanya diluar negeri. Masyarakat diharapkan dapat mengambil momentum ini sebagai kesempatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang normal dari 20% untuk badan dan 30% untuk orang pribadi.
Selain itu dengan berbagai keuntungan mengikuti tax amnesty yang ditawarkan oleh pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan warga negara terhadap kewajiban perpajaknnya.
Hasil dari tax amnesty diharapkan akan membawa dampak yang positif bagi dunia perpajakan di Indonesia khususnya dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak di Indonesia. Pada penelitian Jacques (2009) yang menunjukan bahwa tax amnesty secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat
28
kepatuhan wajib pajak dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Junpath (2013) meneliti mengenai multi tax amnesty dan kepatuhan pajak di Afrika Selatan. Penelitian kuantitatif menggunakan metode kuesioner ini menyimpulkan bahwa tax amnesty meningkatkan penerimaan pajak dan kepatuhan di Afrika Selatan, sejalan dengan penelitian Ngadiman dan Huslin (2015) yang meneliti tentang pengaruh sunset policy dan tax amnesty terhadap kepatuhan wajib pajak mendapatkan hasil bahwa tax amnesty berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Penerapan kebijakan tax amnesty berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
2.2.2 Pengaruh Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Dalam teori legitimasi dijelaskan bahwa legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan entitas adalah tindakan yang diinginkan yang artinya pemerintah dalam mengeluarkan sebuah sanksi perpajakan haruslah sesuai peraturan dan juga tidak terlalu memberatkan wajib pajak sehingga tujuan bersama bisa tercapai baik tujuan wajib pajak untuk bisa membayar kewajiban perpajakannya maupun tujuan pemerintah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Di Indonesia sudah terdapat undang-undang yang berisikan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi. Pada bidang perpajakan sudah terdapat undang-undang yang mengatur ketetentuan umum dan tata cara perpajakan sehingga setiap wajib pajak harus dapat melaksanakan peraturan-
29
peraturan tersebut. Ketika suatu peraturan tidak dilaksanakan dengan baik atau dilanggar maka haruslah ada sebuah sanksi yang dapat dikenakan sehingga dapat menimbulkan efek jera.
Pada penerapan kebijakan tax amnesty kali ini sanksi denda yang akan dikeluarkan oleh pemerintah hingga 200 persen untuk pajak penghasilan (PPh) jika dengan atau tanpa sengaja tidak mengungkapkan keseluruhan asetnya. Sanksi ini diahrapkan akan cukup efektif untuk dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Menurut Nugroho (2006), wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya apabila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya. Di samping itu, menurut Faisal (2009: 37) menyatakan bahwa walaupun ada potensi penerimaan negara pada setiap sanksi, namun motivasi penerapan sanksi adalah agar wajib pajak patuh melaksanakan kewajiban perpajakannya. Hasil penelitian Muliari dan Ery (2010), dan Arabella (2013) mengungkapkan bahwa sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H2 : Penerapan kebijakan sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.