• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya pendidikan dianggap sebagai upaya untuk membuat manusia dapat mengembangkan daya nalarnya, pendidikan membuat manusia menjadi dinamis dan berkembang sesuai dengan alur yang dikehendakinya, baik didasari oleh bakat yang telah dimiliki maupun keingintahuan mengenai hal-hal diluar dirinya, sehingga dengan melalui berbagai tahapan pendidikan diharapkan manusia akan menjadi pribadi yang lebih bijak dengan menyesuaikan pada norma dan nilai yang dianut di masyarakat tempat tinggalnya, dikarenakan negara juga memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesuai dengan filsafat bangsa Indonesia.

Generasi penerus bangsa harus memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai bekal menjalankan tampuk kepemimpinan di masa yang akan datang, maka pendidikan merupakan investasi yang sangat penting bagi anak, yang mana hal ini adalah salah satu hak yang bisa didapatkan anak dari orangtuanya, seperti tertuang dalam UU RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Pada Pasal 4 dari Undang-Undang tersebut menyatakan bahwasanya setiap anak memiliki hak untuk dapat hidup secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dengan konsep pendidikan yang merata dan menyeluruh bagi anak-anak di Indonesia maka sudah terpenuhi salah satu kewajiban dari pemerintah sebagai yang memiliki tanggung jawab dalam mengelola daerah, dengan begitu akan bisa menyokong masa depan anak-anak Indonesia dan secara menyeluruh dapat membuat perubahan besar pada masyarakat sendiri, dalam berbagai sektor akan terdampak perubahan kea rah yang lebih baik yang akan membawa Indonesia pada kemajuan.

Diungkapkan dalam pasal 9 ayat 1 dari Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 bahwa, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka

(2)

mengembangkan kepribadiannya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat yang telah dimilikinya, maka dari itu dapat dikatakan setiap anak terlahir dengan berbagai potensi yang masih perlu diasah hal ini bisa didapatkan melalui pendidikan anak usia dini yang salah satunya adalah kelompok bermain.

Pada seorang anak dari sejak dilahirkan ke dunia dianugerahi berbagai potensi dan kelebihan dengan harapan hal tersebut dapat membawanya pada kesuksesan di kemudian hari, berdasarkan hal tersebut pendidikan memegang peranan penting dalam menjembatani seorang anak untuk dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, hal ini merupakan arti pentingnya pendidikan bagi anak usia dini, pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian internasional, seperti dalam sejarah pendidikan anak usia dini di dunia, yang berawal pada tahun 1837 oleh Friedrich Froebel yang juga dikenal sebagai “bapak taman kanak-kanak” beliau mendirikan taman kanak-kanak pertama yang bertempat di Blankenburgh, jerman.

Kemudian semakin bermunculan taman kanak-kanak lain di berbagai negara (Syifauzakiya et al., 2021: hlm 25-26), dan dari perkembangan pendidikan anak usia dini di dunia dengan tokoh-tokoh besar seperti Friedrich Froebel, John Dewey, dan Maria Montessori, perkembangan pendidikan anak usia dini pun memasuki Indonesia melalui pemerintahan Hindia Belanda dengan konsep Kindergarten dan mendirikan taman kanak-kanak Frobel School, sejarah pendidikan anak usia dini di Indonesia dibagi menjadi 3 periode yakni, zaman Belanda, Zaman Jepang, dan zaman setelah kemerdekaan.

Sedangkan diungkapkan oleh Brewer dalam (Irmayanti, 2008: hlm 4) kondisi pemahaman masyarakat Indonesia mengenai pendidikan anak usia dini, yang menganggap bahwa pendidikan anak-anaknya baru bisa dimulai ketika sudah berusia sekolah dasar atau berusia 7 tahun ternyata hal tersebut keliru, bahkan pendidikan yang dimulai pada usia untuk memasuki taman kanak-kanak atau rentang usia antara 4-6 tahun pun dikatakan terlambat Pada orang tua dahulu sesuai data diatas rata-rata anak usia dini dapat mengenyam pendidikan ketika berusia 5 tahun yang mana pada usia tersebut biasanya anak akan disekolahkan di Taman Kanak-Kanak sebagai pendidikan

(3)

awal sebelum memasuki sekolah dasar dan dengan hal tersebut akan dirasa sudah cukup. Hal ini terjadi dikarenakan program pendidikan yang diterapkan seperti bermain, bernyanyi, menari dan melakukan kegiatan belajar sambil bersenang-senang sekarang berubah menjadi lebih formal seperti belajar membaca, menulis, dan juga belajar berhitung.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Bloom pada bidang neurologi, beliau adalah ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, disebutkan bahwa pertumbuhuan sel jaringan anak pada usia 0-4 tahun bisa mencapai 50%, dalam artian apabila pada usia 0-4 tahun otak anak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka dapat dikatakan anak tersebut memiliki perkembangan yang optimal dan begitupun sebaliknya jika dalam rentang usia 0-4 tahun otak anak tidak mendapatkan rangsangan dan stimulasi yang maksimal maka dikatakan anak tersebut tidak berkembang secara optimal (Sudarsana, 2017: hlm 44).

Selaras dengan isi dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 yang menyatakan bahwa “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” Orang tua memiliki tanggung jawab akan pemenuhan hak-hak yang semestinya menjadi milik anak secara mutlak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan tepat sesuai pribadi pada masing- masing anak dan terselenggara nya pendidikan yang efektif untuk pembelajarannya, maka dari itu kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak usia dini di Indonesia harus ditingkatkan.

Menurut (Sudarsana, 2017: hlm 44) pada usia anak-anak sampai usia anak 8 tahun 80% kapasitas kecerdasan dari otak manusia sudah terbentuk yang bermakna kapasitas kecerdasan anak hanya bertambah 30% setelah mencapai usia 4 tahun hingga 8 tahun, dan pada akhirnya kapasitas kecerdasan anak tersebut akan mencapai 100% setelah berusia sekitar 18 tahun, maka dari itu pada usia 0-8 tahun dikatakan masa golden age

(4)

atau masa-masa emas yang hanya isa terjadi satu kali dalam fase hidupnya, sehingga masa golden age tersebut disebut sangat penting untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan otak bagi anak-anak yang bisa diperoleh dari memerhatikan kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup bagi anak, dan pelayanan pendidikan yang berkualitas.

Hak-hak anak usia dini pada dasarnya didapatkan dan dipenuhi oleh orang tua sebagai pendidikan yang pertama dan paling utama di lingkungan yang paling penting yaitu keluarga, berarti sudah menjadi kewajiban orangtua untuk memenuhi kelima hak tersebut untuk anaknya. Namun karena orang tua memiliki keterbatasan seperti waktu, kemampuan, dan keterbatasan fasilitas maka orangtua secara sadar dapat menyerahkan anaknya ke lembaga pendidikan anak usia dini salah satunya adalah kelompok bermain, apalagi dengan memiliki kesibukan orang tua akan kesulitan dalam memperhatikan tumbuh kembang anak, maka solusinya orang tua harus sadar akan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Terutama kesadaran dari seorang wanita yang nantinya akan menjadi ibu sangat penting, dengan memberikan edukasi terkhusus bagi wanita akan menyebabkan perubahan yang besar, peribahasa mendidik seorang pria berarti mendidik seorang manusia sedangkan mendidik satu wanita seperti mendidik satu generasi, hal ini dikarenakan seorang ibu akan menjadi sekolah pertama bagi anaknya dan tentu akan memengaruhi segala aspek yang ada pada diri anak hal ini juga disebabkan karena ibu akan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah untuk mengurus anak dan kebutuhan keluarga sedangkan seorang ayah akan lebih sedikit menghabiskan waktu dirumah karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini oleh seorang ibu juga didasari oleh riset yang dilakukan oleh Bank Dunia mengenai investasi bagi pendidikan untuk para wanita (Marzuki, 2012: hlm 59) adalah hal yang baik dan mendorong pendidikan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya, dan dari sana terjadi perubahan yang signifikan dalam berbagai bidang, karena pendidikan yang rendah pada wanita dapat memengaruhi keputusan pendidikan yang akan diperoleh anak-anaknya dan dengan

(5)

tingkat pendidikan yang sama dengan laki-laki pun seorang wanita lebih banyak memiliki nilai tambah bagi kesejahteraan keluarganya dengan alasan wanita menangani banyak hal dalam keluarga seperti, pendidikan, pengasuhan, kesehatan, dan perawatan rumah, bahkan dalam penelitian oleh Sudarshana 90% wanita di asia dan afrika terlibat dalam urusan keluarga dan rumah tangga.

Sama halnya dengan jenjang pendidikan pada umumnya, jenjang pendidikan anak usia dini bukan hanya tanggung jawab dari orang tua, melainkan juga merupakan tanggung jawab pemerintah, dan masyarakat, maka dari itu dalam pelaksanaannya pendidikan anak usia dini dikenal adanya 3 bentuk pelaksanaan pendidikan anak usia dini, yang pertama adalah jalur pendidikan formal seperti taman kanak-kanak untuk anak yang berusia empat tahun sampai enam tahun, adapun raudhatul athfal dan bentuk lain yang sejenis, kemudian dalam jalur pendidikan nonformal yakni pendidikan yang dijalankan fleksibel bagi anak sejak lahir sampai berusia enam tahun seperti taman penitipan anak, dan kelompok bermain, dan ketiga jalur pendidikan informal yang diselenggarakan oleh keluarga ataupun pembinaan oleh lingkungan dari sejak lahir hingga berusia enam tahun.

Secara nasional pemerintah di negara ini telah mengeluarkan peraturan yang mengatur mengenai pendidikan secara keseluruhan (Muhlishottin & Roesminingsih, 2020 :hlm 118), yang mana di dalamnya termasuk membahas pendidikan anak usia dini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan sebagai turunan dari peraturan tersebut pemerintah mengeluarkan PP Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.

Dikutip berdasarkan internasional Seminar on Early Childhood Care and Education and parenting yang dilaksanakan pada tahun 2015 di Bangkok Thailand (Pratiwi et al., 2010: hlm 40), Negara Indonesia jika dibandingkan dengan Negara di Asia lainnya dalam hal tingkat anak usia dini yang memulai pendidikan sejak usia dini dikatakan tertinggal dari negara lain, tidak seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Timor Leste mereka memulai pendidikan anak-anak usia dini sejak mereka berusia 3 tahun, sedangkan yang lainnya seperti Indonesia dan Filipina

(6)

untuk memasuki pendidikan anak usia dini berada dalam rata-rata usia 5 tahun, dan untuk Singapura juga Malaysia usia yang bisa mendapatkan pendidikan anak usia dini dimulai sejak 4 tahun.

Dari Angka Partisipasi Kasar atau biasa disingkat APK pada tahun ajaran 2019 menunjukan bahwa dari beberapa jenjang pendidikan (Safira et al., 2021: 110-112), partisipasi pada pendidikan anak usia dini merupakan yang terendah. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun. Perbandingan capaian pendidikan usia dini di Indonesia ternyata ditargetkan pada angka 77.2% sedangkan angka keter capaian hanya memenuhi di angka 32.53% maka dianggap capaian pada angka partisipasi kasar (APK) yang dicapai oleh pendidikan anak usia dini masih belum optimal.

Besarnya angka yang menyebutkan bahwa capaian angka partisipasi kasar (APK) masih belum optimal, mengisyaratkan bahwa anak usia dini sebagian besar banyak yang belum mendapatkan layanan pendidikan yang semestinya mereka dapatkan sebagai hak yang seharusnya dijamin oleh negara dan menjadi tanggungjawab orang tua dan pemerintah dalam pemenuhan hak tersebut, sangat dipengaruhi oleh persepsi orangtua terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini bagi tumbuh kembang anak agar mereka dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan bakat yang telah ia miliki.

Selain Angka Partisipasi Kasar juga terdapat Angka Partisipasi Murni (APM) adalah perbandingan antara siswa usia sekolah tertentu pada jenjang pendidikan dengan penduduk usia yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. APM digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada jenjang yang sesuai. Semakin tinggi APM berarti semakin banyak anak usia sekolah yg bersekolah sesuai usia resmi di jenjang pendidikan tertentu. Nilai ideal dari APM adalah 100%. Jadi APM menunjukkan seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan sesuai pada jenjang

(7)

pendidikannya. Jika APM = 100, berarti seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu (Safina, Nita dan Wibowo, Yudhi Hari 2021: hlm 104).

Masalah yang terjadi adalah minimnya pengetahuan orang tua mengenai pendidikan anak usia dini, lemahnya finansial dalam keluarga, dan keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan anak usia dini merupakan beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak rentang usia balita di Indonesia tidak tersentuh oleh pendidikan. Seperti berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2019-2020 di Kabupaten Garut populasi anak berusia tiga sampai 6 tahun berjumlah 181.640 jiwa dan yang bersekolah pendidikan anak usia dini hanya berjumlah 103.962 jiwa sehingga angka partisipasi kasar (APK) nya hanya mencapai 57,24%.

Sedangkan pendidikan anak usia dini juga merupakan salah satu target pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, juga mengembangkan manusia Indonesia yang unggul serta beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang baik dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap masyarakat juga nusa dan bangsa (Ariyanti, 2007: hlm 52).

Sebagaimana diketahui Gubernur Jawa Barat berkomitmen untuk meningkatkan pendidikan dan partisipasi pendidikan anak usia dini (Hendajany et al., 2021: hlm 477), dikarenakan masyarakat Jawa Barat masih sedikit yang merasakan pelayanan pendidikan anak usia dini, angka partisipasi kasar (APK) untuk pendidikan anak usia dini Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019 adalah sebesar 27,67% (pendidikan anak usia dini di lingkungan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan), sedangkan nilai angka partisipasi kasar (APK) di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama sebesar 36,28%, dan hal ini menjadi masalah karena dibawah rata-rata nasional sebesar 34,29% untuk PAUD dibawah Kementerian pendidikan dan

(8)

kebudayaan, dan sebesar 41,18% bagi PAUD yang dibawah naungan kementerian pendidikan dan kebudayaan dan juga kementerian agama.

Sedangkan manfaat lain dari pendidikan anak usia dini ini pada tahun 2045 (Wiyani, 2015: hlm 1) ketika bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan, bangsa indonesia akan mengalami bonus demografi, yang dimaksud Indonesia akan memiliki banyak generasi muda yang dipenuhi dengan potensi, dengan logika bahwa anak-anak berpotensi tersebut merupakan calon-calon pemimpin masa depan yang saat ini sedang membutuhkan pendidikan anak usia dini, berdasarkan survey BPS (Badan Pusat Statistik tahun 2010 anak usia 0-9 tahun mencapai 45,93 juta jiwa pada tahun 2045, anak-anak tersebut akan berusia 35-44 tahun.

Sehubungan dengan hal tersebut FUNGSI besar masyarakat sebagai agen perubahan yang secara sadar ataupun tidak akan mengalami perubahan dalam lingkungannya, pada kasus perubahan sosial ada FUNGSI besar pemuka pendapat atau opinion leader dalam memengaruhi kesadaran masyarakat dalam hal ini orang tua untuk menyadari bahwa anak-anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak dengan diawali dari menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan anak usia dini, yang mana jika membahas lebih spesifik di penelitian yang di lakukan ini bertempat di Desa Sukamulya Kecamatan Talegong, letak geografis Kecamatan Talegong sendiri memiliki kontur pegunungan dengan tinggi wilayah 978 meter diatas permukaan laut (mdpl), yang daerahnya masih perdesaan dan sangat relevan dengan konsep pengaruh opini atau persepsi masyarakat yang dipengaruhi oleh opinion leader atau pemuka pendapat.

Terlepas dari hal tersebut karena kultur atau budaya di Desa Sukamulya Kecamatan Talegong masih tradisional dan berada di pedesaan maka FUNGSI pemuka pendapat masih sangat relevan dalam mensosialisasikan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak usia dini, pemuka pendapat disini bukan hanya dari kalangan pemerintahan ataupun dari instansi terkait, namun juga termasuk di dalamnya tokoh- tokoh masyarakat untuk turut serta menyadarkan orang tua agar memberikan hak atas pendidikan yang layak bagi anaknya yakni hak untuk mendapatkan pendidikan pendidikan yang layak yang diawali dari pendidikan sejak usia dini.

(9)

Pemuka pendapat sendiri atau opinion leader menurut (Siagian et al., 2013: hlm 56) adalah konsep yang timbul dari teori aliran dua langkah komunikasi yang dibawa oleh Paul Lazarsfeld dan Elihu Katz, teori ini juga membahas mengenai difusi inovasi, ide, dan juga produk komersial. Opinion leader atau pemuka pendapat merupakan agen dan pengguna aktif dari media yang dapat menafsirkan makna pesan atau makna konten yang lebih diterjemahkan lebih mudah dan diteruskan ke penerima pendapat. Dari informasi pemuka pendapat terkadang perkembangan terkini baik dari lingkungan sekitar dan dunia pada umumnya bisa diketahui masyarakat, hal ini bermakna mereka menjadi perantara pesan dan berbagai informasi yang diteruskan kepada masyarakat, disamping itu para pemuka pendapat sangat dipercaya oleh masyarakat desa dan menjadi panutan, tempat bertanya, juga meminta nasihat.

Selaras dengan hal tersebut di Desa Sukamulya kecamatan Talegong Kabupaten Garut dengan banyaknya informasi yang terus diterima masyarakat dari pemuka pendapat maka selaras dengan teori perubahan masyarakat, sadar ataupun tidak akan ada perubahan persepsi dalam berbagai hal salah satunya mengenai kesadaran akan pentingnya pendidikan yang lebih spesifik mengarah pada dimulainya pendidikan yang lebih awal bagi anak-anak di daerah. Perubahan masyarakat didasari salah satunya karena informasi dan komunikasi yang mana hal itu bisa menyebabkan masyarakat berubah salah satunya persepsi masyarakat berubah mengenai pentingnya pendidikan anak usai dini.

Cara dari opinion leader atau pemuka pendapat sendiri dalam menyampaikan gagasan di Desa Sukamulya adalah dengan menerapkan pendidikan informal, seperti yang diketahui bahwa pendidikan dibagi menjadi tiga jalur berdasarkan Undang- Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pendidikan terbagi menjadi tiga jalur yakni pendidikan formal, non formal, dan pendidikan in formal, dengan definisi pendidikan informal merupakan suatu pembelajaran yang tidak melibatkan lembaga pendidikan, tidak melibatkan instruktur ataupun guru yang mempunyai otoritas secara institusional dan juga tidak memiliki kurikulum yang direncanakan, dalam beberapa kajian akademik indikator dari pendidikan informal

(10)

selalu berhubungan dengan kemandirian belajar dan tidak ada pihak manapun yang secara sengaja membangun intervensi dan interaksi, melalui pendekatan atas kesadaran dari pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran, pendidikan informal sendiri berada pada situasi dimana salah satu pihak baik pendidik ataupun warga belajarnya tidak menyadari akan tujuan dari pendidikan yang dilangsungkan.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat ditentukan permasalahan sebagai berikut:

a. Rendahnya angka partisipasi dalam pendidikan anak usia dini di indonesia bahkan di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat.

b. Masyarakat akan lebih percaya jika opinion leader yang mengemukakan informasi tentang pendidikan anak usia dini.

c. Masyarakat pedesaan masih menaruh perhatian yang besar terhadap gagasan yang dikemukakan oleh opinion leader.

d. Masyarakat dalam hal ini orangtua mendapatkan edukasi, motivasi, dan dorongan secara informal untuk menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan anak usia dini di lingkungannya.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penelitian ini dirumuskan menjadi

“bagaimana fungsi opinion leader dalam meningkatkan angka partisipasi kasar pada pendidikan anak usia dini?”.

1.4 Tujuan Penelitian

(11)

Selaras dengan beberapa hal yang telah dijabarkan dalam rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui fungsi opinion leader dalam meningkatkan angka partisipasi kasar pada pendidikan anak usai dini.

1.5 Kegunaan Penelitian

Besar harapan peneliti diharapkan agar penelitian ini memiliki nilai kegunaan dan bermanfaat, adapun kegunaan penelitian yang dapat diperoleh dari penelitian ini diantaranya.

a. Kegunaan Teoritis

1) Untuk menambah wawasan dalam hal pendidikan anak usia dini melalui pemuka pendapat pada dunia pendidikan masyarakat, khususnya dalam pengetahuan mengenai pengaruh dan hubungan pemuka pendapat terhadap persepsi dan motivasi orang tua untuk menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini.

2) Penelitian ini menggunakan berbagai sumber dan diharapkan bisa dijadikan bahan pertimbangan, perbandingan serta pengembangan pada penelitian dimasa mendatang.

b. Kegunaan Praktis

1) Bagi Masyarakat Desa Sukamulya.

Penelitian ini dapat dijadikan acuan juga referensi sejauh apa pengetahuan orang tua, darimana dan bagaimana orang tua mendapatkan motivasi untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan anak usia dini, sehingga angka partisipasi kasar pendidikan anak usia dini dapat meningkat melalui fungsi opinion leader.

2) Bagi Lembaga Pendidikan Masyarakat

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi dalam hal peningkatan angka partisipasi kasar pendidikan anak usia dini melalui FUNGSI opinion leader.

3) Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini dapat memberikan wawasan dan referensi mengenai FUNGSI opinion leader untuk meningkatkan angka partisipasi kasar pendidikan anak usai dini.

(12)

1.6 Definisi Operasional 1.6.1 Opinion Leader

Opinion leader memiliki peran serta di masyarakat adalah salah satunya dengan memberikan edukasi mengenai gerakan pendidikan anak usia dini, seberapa urgensinya bagi anak-anak karena anak merupakan individu yang sedang gencar berkembang dikarenakan mereka berada pada fase golden age, seperti yang harus di lakukan di Desa Sukamulya yakni opinion leader diharapkan memberikan edukasi mengenai gerakan pendidikan anak usia dini dengan metode-metode yang mudah diterima oleh masyarakat, terutama orang tua yang memiliki anak usia tiga sampai enam tahun.

1.6.2 Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini dilakukan berdasarkan pemberian rangsangan pendidikan dengan tujuan membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, pendidikan yang diberikan oleh kelompok bermain di Desa Sukamulya merupakan pendidikan yang dirancang sesuai dengan usia anak, dengan begitu tumbuh kembang dari anak-anak tersebut akan optimal, dan hal tersebut tidak terlepas dari kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Referensi

Dokumen terkait

Satu dari tiga tim perwakilan Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya (FT UB) menjadi juara 1 dalam Lomba Cipta Elektroteknik Nasional XVI pada 18- 20

mengapa perilaku tersebut dipilihnya sebagai perilaku positif dan perilaku negatif Siswa memahami feedback yang diberikan oleh peneliti Peneliti memberikan feedback

pemasungan pada klien gangguan jiwa di Desa Sungai Arpat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar berdasarkan karakteristik pekerjaan pada masyarakat yang tidak bekerja

Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai program diklat ini, maka metode diklat yang akan digunakan adalah proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran untuk orang dewasa

Dalam mendidik anak, hal yang sebaiknya diajarkan orang tua pertama kali adalah kebaikan dengan memberikannya kasih sayang serta mengajarinya berhubungan baik terhadap

Sripsi Revisi Skripsi Wisuda.. Yudisium dilaksanakan segera setelah sidang skripsi dilaksanakan. Ketentuan dewan penguji skripsi. Dewan penguji skripsi terdiri dari 3

Baik menunjuk kepada arti etnis ataupun kepada arti geografis, Istilah Sunda sangat mungkin bisa digunakan untuk melengkapi nama pusat studi ini, paling

Tujuan dari penulisn karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui tujuan dan manfaat dari gugatan perwakilan kelompok (class action) serta mengetahui kritik yang timbul dari