BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran matematika di sekolah tidak pernah luput dari sebuah permasalahan, salah satunya permasalahan yang sering ditemukan yaitu terkait kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika. Matematika adalah ilmu dasar yang penting dimiliki oleh setiap anak. Matematika sangat penting bagi kehidupan sehari-hari sehingga mewajibkan setiap anak memperoleh pendidikan, begitupun untuk anak tunagrahita yang tergolong dalam anak berkebutuhan khusus. Menurut Fikriya, Safana, dan Ningsih (2020) anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.
Berdasarkan data Kementrian Sosial Republik Indonesia pada penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2016) “pada tahun 2011 jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai kurang lebih 7 juta orang atau sekitar 3% dari jumlah total seluruh penduduk Indonesia” (p. 54). Salah satu yang termasuk klasifikasi anak berkebutuhan khsus adalah anak tunagrahita. Menurut Garnida (2016) anak gangguan intelektual (tunagrahita) adalah anak yang secara nyata mengalami keterbelakangan perkembangan mental intelektual di bawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Sesuai yang diungkapkan oleh Saputri, Ningsih, dan Widyawati (2017) anak tunagrahita memiliki kesulitan untuk berinteraksi dan memusatkan perhatiannya sehingga dalam proses pembelajaran tentunya membutuhkan penanganan khusus yang berbeda dengan anak lainnya. Proses belajar yang diterapkan pada anak tunagrahita tidak dapat disamakan dengan anak normal pada umumnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2016) menjelaskan bahwa anak tunagrahita mengalami apa yang disebut dengan cognitive deficite yang tercermin dalam salah satu atau lebih proses kognitif seperti persepsi, daya ingat, mengembangkan ide, evaluasi dan penalaran, maka anak tunagrahita sukar berpikir secara abstrak yang menyebabkan anak tunagrahita kesulitan dalam belajar matematika yang bersifat abstrak. Sehingga seringkali melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika yang diberikan.
Sejalan dengan pernyataan Soedjadi (1996) yang mengatakan bahwa kesulitan yang
dialami siswa akan memungkinkan terjadi kesalahan sewaktu menjawab soal tes (p. 27).
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Suwandari (2018) yang mengatakan bahwa anak tunagrahita mengalami kekurangan kecerdasan atau memiliki kemampuan di bawah rata rata, sehingga dengan keadaan seperti itu mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal, karena kemampuan intelektualnya di bawah rata-rata yang mengakibatkan anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika sehingga seringkali melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika yang diberikan. Adanya kesalahan- kesalahan yang dilakukan anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika tersebut, perlu mendapat perhatian dan perlu dianalisis agar guru mengetahui jenis kesalahan yang dilakukan, serta faktor-faktor penyebabnya. Setelah mengetahui faktor penyebab kesalahan belajar matematika yang dialami anak tunagrahita, diharapkan guru dapat menentukan tindakan serta penanganan/usaha yang tepat untuk untuk meminimalisir kesalahan yang dilakukan anak tunagrahita dalam belajar matematika.
Anak tunagrahita memiliki hak yang sama dengan anak normal dalam memperoleh pendidikan karena pendidikan menjadi hak setiap individu sebagaimana ditegaskan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (1), bahwa: “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan”. Oleh karena itu, pendidikan juga menjadi hak bagi individu yang mengalami kelainan fisik, mental, dan intelektual. Berdasarkan undang-undang tersebut, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus juga memiliki legalitas dan payung hukum yang jelas. Menurut Suprotun dan Suparman (2018) pendidikan didirikan untuk semua orang tanpa membedakan tingkat kesulitan atau kemampuan baik anak normal maupun anak yang berkebutuhan khusus. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa, anak berkebutuhan khusus juga layak mendapatkan pendidikan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru SLB-C, peneliti memperoleh beberapa informasi terkait pembelajaran matematika bagi anak tunagrahita. Salah satunya yaitu tentang kemampuan belajar matematika yang belum memuaskan. Ketika guru memberikan soal matematika, anak tunagrahita masih mengalami kesulitan dalam memahami, mengoprasikan dan memecahkan permasalahann matematika, sehingga seringkali melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika yang diberikan.
Maka dapat dikatakan bahwa anak tunagrahita memiliki kemampuan yang masih rendah dalam menyelesaikan soal matematika.
Di sekolah ini terdapat tiga tingkatan yang dikelompokkan berdasarkan IQ.
Pengelompokkan IQ dilakukan oleh pihak sekolah saat anak tunagrahita menjalani tes masuk sekolah. Ketiga tingkatan tersebut yaitu tingkatan yang setara dengan kelas II SD, tingkatan yang setara dengan kelas IV SD dan tingkatan yang setara dengan kelas V SD.
Pada tingkatan yang setara dengan kelas II SD terdapat 2 orang anak tunagrahita kategori sedang, pada tingkatan yang setara dengan kelas IV SD terdapat 1 orang anak tunagrahita kategori ringan dan pada tingkatan yang setara dengan kelas V SD terdapat 2 orang anak tunagrahita yang terdiri dari 1 kategori berat dan 1 kategori ringan.
Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan maka peneliti melakukan penelitian mengenai “Analisis Kesalahan Belajar Matematika Anak Tunagrahita Di SLB-C Asih Manunggal Kota Bandung”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
(1) Bagaimana kesalahan yang dilakukan anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika?
(2) Apa saja faktor penyebab kesalahan yang dilakukan anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika?
1.3 Definisi Operasional
1.3.1 Kesalahan Belajar Matematika
Kesalahan adalah sebuah kekeliruan dalam mengerjakan sesuatu sehinga terjadi penyimpangan terhadap hal yang benar. Kesalahan sering terjadi dalam sebuah proses pembelajaran salah satunya yaitu pada saat belajar matematika. Kesalahan yang dialami pada saat belajar matematika akan mempengaruhi pada saat siswa menyelesaikan soal matematika.
Kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika pada penelitian ini yaitu kesalahan faktual, kesalahan konseptual, dan kesalahan prosedural. Indikator kesalahan faktual yaitu: a) tidak menuliskan apa yang diketahui dalam soal, b) tidak menuliskan apa yang ditanyakan dalam soal, c) terdapat kesalahan dalam menuliskan apa yang diketahui dalam soal, d) menuliskan apa yang ditanyakan dalam soal tetapi tidak sesuai dengan yang diminta dengan soal, e) tidak lengkap dalam menuliskan apa yang diketahui dalam soal, f) tidak lengkap dalam menuliskan apa yang ditanyakan dalam soal, dan g) kesalahan dalam menuliskan simbol-simbol matematika. Indikator
kesalahan konseptual, yaitu: a) kesalahan dalam menentukan rumus, dan b) tidak dapat menentukan rumus. Indikator kesalahan prosedural, yaitu: a) kesalahan langkah-langkah dalam menyelesaikan soal matematika, dan b) tidak menuliskan langkah-langkah dalam menyelesaikan soal matematika.
1.3.2 Anak Tunagrahita
Anak tunagrahita merupakan mereka yang mengalami hambatan perilaku adaptif dalam masa perkembangan yang secara bersamaan memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Anak tunagrahita diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu ringan (debil), sedang (imbecil) dan berat (idiot). Anak tunagrahita mengalami permasalahan- permasalahan matematika seperti kesulitan dalam menjumlahkan, penjumlahan dua bilangan, karena mereka masih keliru dalam proses perhitungannya, selain itu juga sulit untuk berkomunikasi, sulit mengingat bilangan dalam pembelajaran matematika, kesulitan dalam berfikir abstrak dan kompleks. Kesulitan yang dialami oleh anak tunagrahita menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menjawab soal-soal yang diberikan. Maka dengan adanya kesulitan yang dialami oleh anak tunagrahita berdampak pada kesalahan-kesalahan anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika yang terus berkelanjutan. Pada penelitian ini hanya melakukan penelitian pada anak tunagrahita ringan (debil) dan anak tunagrahita sedang (imbecil), untuk anak tunagrahita berat (idiot) tidak termasuk dalam penelitian ini dikarenakan anak tunagrahita berat (idiot) sulit untuk diajak berkomunikasai sehingga peneliti juga sulit untuk mendapatkan
informasi.
1.3.3 Faktor Kesalahan Belajar
Faktor kesalahan belajar adalah segala hal yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika. Maka dalam penelitian ini faktor penyebab kesalahan anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika yang digunakan diantaranya kurang teliti dalam melakukan operasi hitung, belum menguasai materi, tidak mengerti maksud dari soal yang diberikan, dan kurang berlatih dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
(1) Untuk menganalisis kesalahan apa saja yang dilakukan anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika.
(2) Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan kesalahan belajar anak tunagrahita dalam menyelesaikan soal matematika.
1.5 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka manfaat dari penelitian ini adalah:
1.5.1 Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan, informasi, dan wawasan mengenai kesalahan belajar matematika yang dialami anak tunagrahita serta faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan belajar matematika pada anak tunagrahita.
1.5.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat atau kegunaan dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak, diantaranya:
(1) Bagi pendidik, dapat memperoleh informasi mengenai kesahalan yang dialami anak tunagrahita dalam belajar matematika, sehingga pendidik dapat mempertimbangkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar agar mencapai hasil belajar yang optimal.
(2) Bagi sekolah, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dan referensi untuk mengembangkan dan meningkatkan proses pembelajaran.
(3) Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan, informasi, dan wawasan mengenai kesalahan belajar matematika yang dialami anak tunagrahita serta faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan belajar matematika pada anak tunagrahita.
(4) Bagi peneliti lainnya, yaitu penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi atau sumber untuk melakukan penelitian yang sejenis.